Sunday, July 07, 2013

Yang Menunggu dengan Payung: Membincangkan Perempuan dari Kaca Mata Lelaki

-- Desi Sommalia Gustina

SEBAGIAN orang bilang, perempuan merupakan objek yang kerap menggoda untuk diperbincangkan, termasuk menjadikannya tema yang diracik ke dalam karya sastra. Lihatlah misalnya buku kumpulan cerpen Yang Menunggu dengan Payung karya Zelfeni Wimra yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama (Jakarta, Maret 2013) ini.

Bahkan pada lembar pembuka buku ini Zelfeni Wimra menulis pernyataan yang setidak-tidaknya dapat menggugah perasaan perempuan, seperti kalimat berikut; ‘’Demi perempuan dan segala makhluk yang telah atau akan menjadi ibu.’’ Jika menilik kalimat ini seolah menegaskan kepada pembaca bahwa buku ini merupakan kumpulan yang mengusung tema perempuan. Ditambah lagi dengan pilihan cover yang juga bergambar perempuan.

Buku ini membincangkan perempuan dengan segala serba-serbinya; cinta, persahabatan, pengorbanan, dan juga luka. Namun apabila dikelompokkan, terdapat beberapa cerpen dalam kumpulan ini yang ‘didesain’ sebagai cerpen yang mengusung tema perempuan dengan wajah yang muram. Misalnya cerpen yang berjudul ‘’Toga buat Su’aidi’’, ‘’Lesung Pipi Pauh’’, ‘’Bini Perantau’’, dan ‘’Tali Jantung Tuti’’. Saya katakan demikian karena cerpen-cerpen tersebut berbicara tentang perempuan yang menyimpan kegetiran terhadap lelaki. Membaca cerpen-cerpen ini pembaca seolah menyelam pada kedalaman perasaan perempuan meski ia ditulis oleh laki-laki. Hal ini tentu saja menarik, karena beragam persoalan perempuan yang muaranya memeram kegetiran terhadap kaum Adam rupanya saat ini tidak saja diperbincangkan oleh para aktifis feminisme yang selama ini kebanyakan adalah kaum perempuan.

Tidak hanya itu, dalam kumpulan cerpen berkaver perempuan yang mengenakan gaun berwarna hitam ini ada pula cerpen yang seolah berupaya mematahkan mitos atau kepercayaan terhadap tradisi yang telah diyakini secara turun temurun oleh kelompok masyarakat. Cerpen tersebut berjudul ‘’Sunat’’. Cerpen ini mengisahkan tentang tradisi atau kebudayaan yang berkembang pada (sebagian) masyarakat di Minangkabau -yang tidak menutup kemungkinan tradisi tersebut juga berlaku pada masyarakat di daerah lain, melakukan sunat terhadap anak perempuan tatkala usia si anak masih belia. Dalam cerpen ini diterangkan bahwa tradisi sunat terhadap anak perempuan lazim dilakukan oleh dukun beranak atau bidan yang biasa membantu proses persalinan.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, tradisi sunat terhadap anak perempuan ini dipandang perlu dilakukan. Tujuannya adalah agar kelak si anak tumbuh sebagai perempuan yang memiliki kepribadian dan diharapkan bisa menjaga kehormatannya sebagai wanita. Seperti yang tergambar dalam nukilan cerpen ‘’Sunat’’ berikut ini:

Kalau tidak disunat dulu, perempuan bisa menjadi seorang yang gatal, selalu gelisah, dan sulit merasakan kepuasan, terutama dalam hal-hal yang berhubungan dengan laki-laki,’’ napas Nenek agak tercekik (halaman 11).

‘’Kamu boleh membuktikan sendiri. Setelah dewasa, perempuan yang sudah disunat dengan yang tidak disunat itu ada bedanya. Yang disunat akan memiliki mental yang setara dengan laki-laki. Mandiri, tidak cengeng, dan tidak sepenuhnya menggantungkan hidup pada laki-laki...’’ (halaman 13).

Jika kita tilik kalimat tersebut akan terlihat betapa tokoh Nenek dalam cerpen ini sangat mempercayai pentingnya tradisi sunat yang dilakukan terhadap anak perempuan. Sebab tradisi sunat tersebut, sebagaimana diyakini oleh tokoh Nenek dalam cerpen ini akan mempunyai pengaruh yang besar terhadap anak perempuan ketika ia telah tumbuh dewasa. Terutama dalam hal membentengi diri agar si anak kelak bisa menjadi perempuan yang memiliki harga diri dan bisa menjaga mahkotanya sebagai perempuan.

Namun, melalui ending cerita yang cukup mengejutkan, Zelfeni Wimra kemudian mematahkan kepercayaan (mitos) akan tradisi sunat terhadap anak perempuan yang dalam cerpen ini diyakini sebagai ‘tangkal’ untuk menentukan baik-buruknya tingkah laku perempuan. Karena ternyata, meskipun si ‘Aku’ yang berperan sebagai tokoh utama dalam cerpen ini juga tak luput mengecap tradisi sunat tersebut ketika ia masih kanak-kanak, namun toh tradisi sunat itu tak mampu menjadikan tokoh ‘Aku’ sebagai perempuan yang tidak ‘gatal’, dan memiliki akhlak terpuji. 

Kontradiksi terhadap tradisi sunat bagi anak perempuan dalam cerpen ini dapat kita lihat pada kutipan kalimat berikut:

‘’Dalam kamar, aku terenyak. Menatap gamang ke bentangan sawah di luar jendela. Dalam kepalaku, tumpukan rahasia makin tebal saja.’’
‘’Nek, katanya aku juga sudah disunat. Tapi...’’
‘’Syg, brp lm lg d sn? Jgn lm-lm, y. Abg rndu ggitanmu...’’ (halaman 16).

Membaca akhir dari cerpen ini pembaca akan menemukan pesan kritis yang hendak disampaikan Zelfeni selaku pengarang kepada pembaca terhadap tradisi yang telah berkembang pada sebuah masyarakat dengan berupaya membuka pandangan pembaca melalui tokoh ‘Aku’. Bahwasanya tradisi sunat yang begitu digadang-gadang dalam cerpen ini tidak bisa dijadikan satu-satunya tolak ukur ataupun ‘tangkal’ untuk mengantarkan anak perempuan dengan predikat terhormat tatkala ia telah beranjak dewasa.

Sementara itu, cerpen lainnya dalam kumpulan dengan kaver yang didominasi warna hijau ini Zelfeni Wimra berupaya menghadirkan cerita mengenai potret masyarakat yang tersingkirkan akibat dampak sebuah kata sederhana bernama pembangunan. Adapun cerita yang saya maksudkan yaitu cerpen yang berjudul ‘’Tabung Cahaya’’. Cerpen ini mengisahkan mengenai perkampungan yang tenggelam dalam sebuah danau akibat pembangunan proyek pembangkit listrik bertenaga air. Kampung yang tenggelam di dasar danau itu menyisakan kegetiran bagi tokoh ‘Aku’ dalam cerpen ini.

Dalam cerpen ‘’Tabung Cahaya’’ ini dikisahkan, pada suatu kesempatan, tokoh ‘Aku’ bersama wisatawan air melakukan wisata menyelam di kedalaman danau. Namun, tujuan kedatangan tokoh ‘Aku’ ke daerah tersebut berbeda dengan wisatawan air lainnya, yakni menziarahi makam Ayah dan Ibunya yang memang terkubur di dasar danau buatan tersebut. Karena memang, pada kedalaman danau merupakan kampung halaman tokoh ‘Aku’ yang telah tenggelam. Namun, yang menjadi daya tarik cerpen ini adalah tatkala kedatangan si ‘Aku’ ke dasar danau seolah-olah mendapatkan sambutan suka cita oleh kedua orang tuanya yang diiringi lambaian tangan. Gambaran akan hal ini terlihat dalam kutipan berikut:

‘’Pulang juga kau akhirnya, Nak?’’ (halaman 8).

Ending cerpen ‘’Tabung Cahaya’’ ini selain unik juga memukau karena Zelfeni Wimra sebagai pengarang berhasil menciptakan akhir cerita yang tidak mudah diterka oleh pembaca, yang kemudian menciptakan perenungan-perenungan terhadap pesan yang hendak disampaikan pengarang dalam memandang realitas kehidupan. Karena sebagaimana yang kita ketahui, pada hakekatnya karya sastra merupakan cermin dari realitas suatu masyarakat. Begitupun dengan cerpen ‘’Tabung Cahaya’’ ini bisa jadi merupakan salah satu potret kelompok masyarakat yang ‘ditenggelamkan’ akibat tak mampu melawan laju pembangunan.

Cerpen lainnya dalam kumpulan ini berjudul ‘’Tiga Episode Bangkai’’. Cerpen ‘’Tiga Episode Bangkai’’ ini juga menyuguhkan serangkaian pesan mendalam kepada pembaca untuk memahami hakekat hidup. Ditambah lagi muatan tragedi dalam cerpen ‘’Tiga Episode Bangkai’’ ini berusaha memberikan pesan kepada pembaca agar setiap orang bisa menjadi manusia yang bijak dalam menghadapi peliknya persoalan hidup. Disamping juga menuntun pembaca agar tidak terjebak dalam suratan nasib yang kelak mengantarkan menjadi ‘bangkai’ kehidupan.

Membaca kumpulan cerpen Zelfeni Wimra ini pembaca akan menemukan ‘rasa’ Minangkabau yang sangat kental, baik terkait dengan latar belakang tempat yang digunakan, seperti: Tanjung Pauah, Padang-Bukittinggi, Sungai Pagu. Begitu juga terhadap panggilan tokoh rekaan dalam kumpulan ini, misalnya: Mak, Ngulu Sutan, Uda, Mak Dang, Andeh. Pun terhadap idiom-idiom lokal yang digunakan seperti: cigak baruak, limbubu, pasak guying, urang sumando dan lain sebagainya. Di samping juga tradisi Minang yang dibahas dalam sejumlah cerpen dalam kumpulan setebal 148 halaman ini semakin menambah ‘rasa’ Minangkabau yang dihadirkan Zelfeni selaku pengarang.

Mengingat kuatnya ‘rasa’ Minangkabau yang terdapat dalam kumpulan ini, sebagai pembaca saya merasa terganggu dengan gambar perempuan bergaun hitam yang berjalan membelakangi pembaca dengan payung hitam yang terkembang di tangannya yang dijadikan kaver kumpulan ini. Karena apabila dicermati gambar perempuan bergaun hitam dengan bagian punggung terbuka tersebut sama sekali tidak menunjukkan identitas Minang dan tak mampu mewakili isi kumpulan ini. Begitu. n

Desi Sommalia Gustina, alumnus Pascasarjana Universitas Andalas, Padang  n

Sumber: Riau Pos, Minggu, 7 Juli 2013

Perselingkuhan Berdarah di Kampung Petalangan

-- Ahmad Ijazi H

SEBUAH cerita pendek (Cerpen) akan tampak berpenampilan lebih feminin dan melankolis ketika seorang sastrawan mampu menyuarakan suasana yang romantik dan puitis dalam karya sastra yang digagasnya. Hal tersebut dapat dicermati dari pilihan diksi yang unik serta aneh (yang di luar dari kebiasaan), selain karena kepiawaian penulisnya yang mampu mengakrobatik kata-kata sehingga kalimat-kalimat yang ia tuangkan menjadi kemasan yang menakjubkan. Kiranya, seperti itulah kesan pertama yang membekas saat membaca paragraf awal sebuah Cerpen apik karya M Raudah Jambak (MRJ) bertajuk Cerita dari Kampung Petalangan (CDKP), yang terangkum dalam Dari Seberang Perbatasan, kumpulan Cerpen pilihan Riau Pos tahun 2012.  

Membaca paragraf-paragraf selanjutnya, diksi-diksi yang dilemparkan MRJ dalam Cerpen tersebut semakin terasa tajam dan meruncing. Simak saja penggalan Cerpen berikut: hatinya gulana. Semacam beliung yang tak henti-henti menderes batang padi. Mengoyak bilah-bilah dada. Lalu simak pula: sehingga ia tak lagi sanggup mengunyah defenisi-defenisi setia. Tak sanggup meneguk tuak-tuak nisbi, Mardiah, istrinya. Dilihat sekilas, kalimat-kalimat tersebut lebih mirip dengan penggalan-penggalan sajak yang berserakan, yang sengaja disisipkan penulisnya dalam tubuh Cerpen, sehingga fragmen-fragmen yang terangkum di dalamanya menjadi tampak tidak biasa (berbeda) dari Cerpen-Cerpen kebanyakan.

Tema yang digagas MRJ dalam Cerpen ini cukup menarik. Berbicara tentang perselingkuhan. Sebuah tema yang sejatinya sangat rentan terjadi dalam wilayah internal keluarga. Banyak hal yang melatarbelakangi terjadinya perselingkuhan, diantaranya; tidak adanya kecocokan satu sama lain hingga hubungan yang terjalin menjadi terasa membeku dan hambar, pertengkaran yang kerap terjadi yang bersumber dari keegoisan masing-masing, masalah finansial yang tidak stabil dalam keluarga, atau hal-hal intim lainnya seperti penyakit yang diderita (mandul, impotensi, cacat fisik, dll). Hal itu pula yang agaknya mematik konflik dalam Cerpen CDKP ini. Akibat perselingkuhan, tragedi berdarah pun terjadi di sebuah kampung petalangan.

Dikisahkan (sejak pada bagian awal cerita), aroma perselingkuhan itu tercium amat kental di hidung ‘Abangda’ (panggilan sayang sang istri, Mardiah, kepada si lelaki, suaminya). Usai Mardiah berpamitan untuk berjualan jamu, Abangda menguntit kepergian sang istri dari belakang. Sudah menjadi kebiasan, Mardiah akan pulang ketika hari beranjak maghrib. Pulang dengan senyuman yang paling hangat, kendati otak-otak yang ia jajakan hari itu hanya sedikit yang terjual.

Namun kemesraan di antara keduanya seperti tak pernah memudar. Satu sama lain saling memperlihatkan rasa cintanya yang begitu besar. Kecupan sayang tak pernah terlupakan, selalu seperti pengantin baru, kendati usia pernikahan mereka telah terbilang cukup lama. Tetapi, pada suatu ketika, Abangda tak mampu menahan untuk tidak melontarkan sebuah pertanyaan yang begitu menohok jantung Mardiah, bahwa: ia kerap menyaksikan istri yang teramat ia cintai itu dipeluk seorang bujang dari belakang -di sebuah pelabuhan. Tanpa bisa menyembunyikan rasa keterkejutannya, Mardiah berusaha berkilah. ‘’Lelaki itu hanya pelanggan,’’ begitu Mardiah menjawab. Tetapi Abangda terus mengejarnya dengan rentetan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan. Hingga pertengkaran sengit pun tak dapat dihindari. Keduanya sama-sama keras mempertahankan argumen mereka masing-masing.

Mardiah yang kian tersudut akhirnya mengeluarkan senjata pamungkasnya: ‘’Abangda, dengar, seburuk apa pun aku di pikiranmu, aku tidak akan menodai mahligai perkawinan kita.’’ Begitulah cara Mardiah mengeksekusi keadaan. Telak. Mendengar perkataan Mardiah itu, letupan amarah di jantung Abangda pun seketika meleleh. Mereka kemudian larut dalam irama desah, lumatan, pagutan, serta gairah yang semakin memuncak. Sementara hujan bermain dengan suasana beku yang kian intim mewarnai malam-malam keduanya yang semakin panjang.

Tetapi Abangda tetap tak mampu menepis rasa gamang yang sejak lama telah merasuk dalam lingkar kepalanya. Sebagai seorang pengangguran, Abangda sering merasa rendah diri di hadapan istrinya. Ia begitu mengimpikan memperoleh pekerjaan tetap serta menjalani kehidupan dengan penghasilan yang cukup, tetapi semua harapannya itu seperti enggan menghampirinya. Abangda sungguh merasa amat sedih dan kecewa. Ia terlampau jemu menyaksikan sang istri bekerja menjajakan otak-otak kepada setiap pelanggannya setiap hari, sementara ia hanya meringkuk dalam peraduan tanpa bisa melakukan apa-apa.

Terlebih saat kenyaatan pelik tentang buah hati yang tak kunjung datang. ‘’Kita belum punya anak,’’ begitu Abangda melontarkan risau yang berkecamuk di hatinya. Tetapi Mardiah hanya menanggapinya dingin. Ia tak ingin kesedihan itu kembali menggerayangi rongga dadanya. Ia tak ingin hari-harinya kembali diwarnai dengan pertengkaran-pertengkaran yang tak kunjung terselesaikan.

‘’Abangda, dengarkan aku. Tidak ada setitik pun dalam pikiranku untuk merendahkanmu. Kau adalah pahlawanku. Sebagai seorang pahlawan, aku ingin berbuat sesuatu untukmu. Dan aku hanya bisa melakukan itu. Aku hanya bisa sebagai penjual otak-otak. Aku tidak bisa lebih dari itu. Percayalah.’’ Kembali Mardiah mampu mendinginkan suasana dengan kata-katanya yang meluluhkan.
Bila dicermati, kata-kata tersebut seperti terkesan berlebihan. Tetapi itulah senjata yang digunakan Mardiah agar suaminya tetap mempercayainya. Sejatinya, setiap orang yang merasa terancam, (karena telah ketahuan selingkuh) akan berperilaku sedikit tak wajar, di luar dari kebiasaan. Seperti halnya Mardiah yang memperlihatkan perhatian lebih dari biasanya. Tujuannya tidak lain adalah agar ia tak dipandang tercela di mata sang suami, kendati perbuatan hina (selingkuh) itu benar-benar telah ia lakukan.

Kata maaf terkadang terlalu murah untuk diucapkan. Apalagi jika kesalahan yang sama kembali dilakukan, bahkan sampai berulang-ulang. Dan situasi itulah yang agaknya dihadapi Abangda. Hari itu, Mardiah tak bisa bekerja seperti biasanya lantaran sakit. Abangda tak menaruh curiga sedikit pun. Ia percaya saja jika istrinya itu memang benar-benar sedang sakit. Abangda pun pergi, bekerja menyusuri kampung Petalangan, menggantikan sang istri. Seperti yang dilakukan Mardiah, Abangda pulang sebelum maghrib menjelang. Langkahnya yang jenjang menapaki jalan pulang dengan penuh kerinduan. Ia ingin memberi kebahagian pada Mardiah yang sedang tebaring lemah dalam peraduan.

Namun harapan itu kemudian lebur menjadi malapetaka yang begitu mengerikan. Tepat saat Abangda telah menjejak pintu rumahnya, ia dikejutkan oleh sebuah pemandangan yang sangat menjijikkan. Ranjang di rumahnya kini dipenuhi desah, peluh, serta birahi, tetapi bukan desah, peluh, serta birahi miliknya, melainkan milik laki-laki lain. Sesak di jantung Abangda sungguh tak dapat tertahankan lagi. Perbuatan hina yang dilakukan Mardiah dengan laki-laki selingkuhannya itu membuat amarahnya meledak. Seperti kerasukan iblis, Abangda menikamkan belati di tangannya, hingga ranjang itu seketika memerah dibanjiri darah.

Begitulah kisah diakhiri, tanpa ada penjelasan bagaimana nasib para tokoh selanjutnya. Belati yang ditikamkan pun masih terkesan samar, tak jelas siapa yang tertikam belati; apakah Mardiah, laki-laki selingkuhannya, atau Abangda justru menikamkan belati di tangannya itu ke tubuhnya sendiri. Tetapi jika dicermati dari paparan di ending cerita, tikaman belati itu merujuk pada tubuh Mardiah atau laki-laki yang menjadi selingkuhannya. Gambaran itulah kiranya yang paling logis setelah merunut konflik, serta sebab-akibat yang terjadi dalam Cerpen ini.

Melalui Cerpen CDKP ini, MRJ mencoba membidik ranah sensitif keluarga miskin yang tidak harmonis. Perselingkuhan adalah kebiasaan buruk yang menjadi faktor terbesar pemicu kehancuran dalam rumah tangga. Ikatan suci pernikahan yang direkatkan dengan ijab kabul yang sakral seketika akan menjadi tak bernilai lagi bila kesetiaan telah dinodai oleh sebuah pengkhianatan. Kendati rentetan-rentetan masalah kerap mewarnai dalam kehidupan berumah tangga, tidak lantas melunturkan perasaan cinta kita terhadap pasangan, tetapi justru menjadikannya semakin kokoh dan kuat. n

Ahmad Ijazi H, menulis esai, puisi, Cerpen dan novel. Bergiat di FLP Riau, serta mengajar di Ponpes Al-Uswah Pekanbaru.

Sumber: Riau Pos, Minggu, 7 Juli 2013

[Pertunjukan] Dari Pernikahan Darah sampai Atlantik Utara

-- Arie MP Tamba

Catatan untuk Festival Teater ke-11 LSPR Jakarta. (Barangkali karena mengacu pada minimalisme kosmos panggung teater Butoh dan teater Absurd, arah tulisan jadi begini).

UNTUK ke-11 kalinya, pada 26 Juni ‘“ 3 Juli 2013, London School of Public Relations (LSPR) Jakarta menyelenggarakan festival teater sebagai bagian dari pemenuhan kelulusan mata kuliah (kali ini) semester kedua di jurusan Performing Art Communications, yang menyiapkan mahasiswanya untuk memahami penyutradaraan, penulisan, akting, musik dan lampu, kostum dan panggung, juga manajemen pertunjukan, sejak perencanaan sampai produksi.

Begitulah, 12 kelas telah memanggungkan 12 pertunjukan akhir bulan Juni sampai awal Juli, dua kali sehari. Sampai 2013 ini LSPR telah menampilkan 101 judul naskah yang tak pernah sama. Hingga tak salah bila pada 2008 saja gelaran rutin LSPR ini sudah diganjar rekor MURI sebagai ‘produksi teater terlama‘ di kampus.

Kali ini dipentaskan 12 naskah, masing-masing: Over My Dead Body, Blood Wedding (Pernikahan Darah), A Walk to Remember, El Rancho Cheapo, Carrying The Calf, Blue Gold, Don‘t Weep for Mother, Power Play, The Ballad of the Real Me, Artist Anonymous, North Atlantic (Atlantik Utara), The Pregnancy Project, Awarding Ceremony. Pertunjukan di nilai oleh para juri yang diketuai oleh Arswendo Atmowiloto.

Secara umum, pementasan berbahasa Inggris ini jadi persoalan tersendiri yang dalam beberapa bagian tidak muncul sebagai tantangan ‘teater‘, tapi ‘bahasa‘. Dalam beberapa pertunjukan para aktor dan aktis masih terlihat berkutat pada penguasaan alat ungkap (baca: bahasa) dengan menghapalkan (bahkan ada yang meneriakkan) dialog yang belum menyatu dengan pemeran, hingga menyulitkan sang karakter terekspresikan secara utuh.

Pada beberapa adegan (hampir di ke-12 pertunjukan), para pemeran tidak ketat menjaga ritme, lagi-lagi karena harus menyampaikan dialog secara benar, namun bukan sebagai ekspresi peran. Ini bisa dilihat sebagai ketidaksiapan atau kurang berlatihnya aktor/akrtis dalam proses reading, memahami dan menghayati peran, dan boleh jadi pula karena ketidaksampaikan wawasan teater sang sutradara dan juga para pemainnya.

Catatan seperti ini patut disampaikan karena kegiatan LSPR sungguh ‘serius‘ bila disejajarkan dengan acara yang tak jauh beda di gelanggang-gelanggang remaja kita yang juga serius namun terkendala ‘material‘. Pada Festival Teater Jakarta misalnya, pementasan demi pementasan telah berlangsung dengan fokus pada naskah dan pemeranan; tanpa terlalu diperkaya oleh properti dan artistik yang lebih sering disiasasi dengan ‘ilustrasi‘ imajinatif di atas panggung. Ini coba dilakukan oleh A Walk to Remember.

Sedangkan pentas demi pentas di LSPR tersuguh sebagai teater realisme yang ‘kaya‘, dengan properti lengkap, artistik, kostum sesuai latar cerita (dan di antaranya cukup mahal), namun tak selalu diefektifkan mendukung pemeranan dan perkembangan adegan untuk memperlihatkan cakrawala pertunjukan (dan seluruh ruang kemungkinan nilai dan filosofi) yang disodorkan naskah.

Beberapa naskah yang potensial menawarkan renungan (terbuka), seperti A Walk to Remember, Don‘t weep for Mother, dan Blood Wedding justru dibiarkan usai tanpa menggoreskan pesan yang semestinya memperkaya benak penonton ketika meninggalkan gedung pertunjukan. Apalagi dari ketiga pertunjukan para aktor/aktris tampak cukup menguasai ‘bahasa‘ dan ‘peran‘-nya. Namun yang raib adalah jeda, keheningan, sebagai wadah untuk menyeruakkan pemikiran yang terpendam di dalam naskah.

Hingga dalam pertunjukan LSPR kali ini, meski panggung demi panggung begitu variatif dengan properti dan kostum, namun persoalannya sama: belum digarap seefisien dan seektif mungkin. Beberapa properti hanya meramaikan pentas, dan boleh jadi tak sempat terlihat penonton karena cerita menderas sebagai dialog-dialog yang disampaikan secara berlomba. Lagi-lagi, ini boleh jadi karena kekurangwaspadaan sutradara dan juga para aktor/aktris.

Namun secara keseluruhan, acungan jempol harus disampaikan kepada semua kelas yang telah berhasil menyuguhkan sebuah ‘proyek‘ pertunjukan secara maksimal. Gedung pertunjukan selalu penuh, dengan penonton berbayar. Terlepas apakah itu dukungan teman-teman atau keluarga.

"Bagaimanapun mereka harus dilihat sebagai para mahasiswa semester dua yang sedang berlatih ‘bermasyarakat‘, bekerja dan membangun prestasi sebagai komunikator yang menempa diri lewat teater," kata Renata Tirta, seorang penyelenggara dan juga pengajar di LSPR.

Ya, para anak muda itu bekerja sendiri menjual tiket, mengusahakan properti/kostum, dan berbagai prasarana lainnya. Dari berbagai latar sosial, sebagai individu-individu yang biasanya bekerja sendiri, kini mereka harus bekerja sama membujuk penonton agar mau datang ke gedung pertunjukan LSPR. Tentu saja hasilnya tak selalu maksimal. Namun mereka sudah berupaya memenuhi kewajiban kurikulum, dan menunjukkan kemampuan menyiapkan pertunjukan.

Mereka memang tidak sengaja mempersiapkan diri sebagai seorang teaterawan profesional, sebagaimana teman-teman mereka di Institut Kesenian Jakarta atau Taman Ismail Marzuki. Sebab, mereka adalah para komunikator yang hendak memasuki dunia kerja (industri dan bisnis khususnya), dan membekali diri dengan teater. Karena mereka diajarkan mempercayai ‘kekuatan‘ teater! n

Sumber: Jurnal Nasional, Minggu, 7 Juli 2013