Sunday, July 07, 2013

[Pustaka] Serunya “Nostagila‘

-- Dodiek Adyttya Dwiwanto

Mari mengingat masa muda dan mengenang semua momennya. Dua buku mengenang era 1990-an dirilis pada tahun 2013 ini.

Judul buku: Generasi 90an
Penulis: Marchella FP
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan: Ketiga, April 2013
Tebal: 144 halaman
PING. Sebuah pesan Blackberry Messenger (BBM) berupa foto masuk ke smartphone saya. Sebuah gambar atau ilustrasi laki-laki dengan gaya rambut belah tengah alias belteng. Ada tulisan di bawah gambar ini, “Dulu, ada temen kita yang kaffah dengan potongan rambut seperti ini.‘

Semua anggota grup BBM yang kebetulan alumnus Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta angkatan 1995 saling sahut menyahut soal siapa yang bergaya rambut seperti itu.

Judul buku: Memory 90an
Penulis: Syahril Anwar
Penerbit: CLEO Media
Cetakan: April 2013
Tebal: 144 halaman
Jelas bukan saya, lantaran saya ketika itu memilih gaya rambut di sebelah gaya “belteng‘ tadi yaitu gaya rambut Tintin, waktu itu masih memiliki rambut tebal lantaran masih muda.

Semua rekan mencoba mengingat-ingat siapa yang memilih gaya rambut yang kalau sekarang sudah pasti jadul banget. Akhirnya ada yang berhasil mengingatnya. Banyak yang tertawa atau sekedar nyengir mengenang gaya rambut belah tengah yang ngetop di eranya.

Hayo, mau tahu gaya rambut siapa? Itu gaya rambut Andy Lau, seorang bintang film Mandarin dan juga Nick Carter, salah satu pentolan Backstreet Boys. Kalau ABG (anak baru gede) sekarang belum tentu tahu siapa Andy Lau atau Nick Carter, melainkan lebih paham gaya rambut para personil boyband K-Pop SuJu atau si vampire ganteng Robert Pattinson.

Gambar gaya rambut Andy Lau hanyalah sekelumit cerita tentang era 1990-an dalam buku Generasi 90-an pada halaman 13. Inilah buku nostalgia yang mengulas dunia hiburan era tersebut mulai dari musik, tontonan (film dan televisi), mainan, busana, jajanan, bacaan, mitos-mitos, hingga hal lainnya yang remeh temeh tetapi khas 90-an.

Sebagai salah satu eksponen generasi 90-an lantaran saya menghabiskan waktu SMP, SMU, dan Universitas di era ini, sudah pasti saya tertawa-tawa, nyengir, terharu, takjub, kangen, sebal, dan lainnya terhadap buku ini. Ya, namanya nostalgia akan masa lalu yang campur aduk dong.

Inilah generasi ketika saat itu Apple dan Blackberry masih berupa buah dan belum diasosiasikan menjadi telepon pintar (smartphone). Mana ada jaman itu ABG punya hape (telepon genggam). Kalau pun ada telepon seluler, masih gede banget. Lantaran itu juga kalau mau janjian, tidak ada orang yang selalu membalas pesan BBM, SMS (short message services), WhatsApp, “Lagi OTW (on the way) neh.‘ Yang ada adalah mencoba menepati janji sebisa mungkin meski orang Indonesia terkenal dengan jam karet.

Generasi yang hanya punya tontonan televisi doang, belum ada sederetan media sosial seperti Twitter, Facebook, dan lainnya. Kalau pun curhat ya, sama teman atau lewat diary, bukan pasang status galau! Generasi yang belum mengenal kehebatan internet dan teknologi lainnya. Juga belum ada iPod, iPad, iPhone, dan lainnya.Kalau lagi ngumpul ya ngerumpi atau gosip, bukan sibuk cari sambungan Wi-fi untuk laptop, tablet, atau pun sibuk BBM-an, SMS-an, WhatsApp, dan sejenisnya.

Saat itu, teknologi belum berkembang seperti era 2000-an. Televisi swasta masih banyak menayangkan sinetron, televisi kabel belum booming, internet pun demikian dan belum maju pesat. Juga belum ada YouTube yang banyak memunculkan selebritas seperti Sinta dan Jojo atau Arya Wiguna “Demi Tuhan‘. Selain itu, semuanya belum berkembang pesat seperti tempat nongkrong. Belum ada 7-11 (Seven Eleven), Lawson, Starbucks, dan sejenisnya. Belum banyak merek-merek luar yang masuk ke Indonesia.

Lantaran itu juga banyak kesamaan hal yang dialami orang-orang yang mengalami masa 1990-an, tidak hanya generasi muda tentunya, tetapi juga orang-orang tuanya. Sinetron merajai serta sejumlah bintang lelaki dan perempuan ngetop sebagai pemeran utamanya. Masih ingat sinetron Tersanjung yang tidak habis-habis meski berganti musim dan pemeran.

Tidak hanya sinetron, tetapi juga ada kartun, tayangan musik, atau kuis yang menjadi santapan sehari-hari. Ya, hiburannya itu saja dan belum banyak pilihan. Yang paling nyebelin adalah masih adanya kewajiban relay siaran berita malam dari stasiun televisi pemerintah TVRI.

Hiburan lainnya masih menggunakan laser disc, belum eranya DVD player. Game console juga belum berkembang gila-gilaan seperti sekarang ini. Untuk musik ya hanya radio dan walkman, tidak ada Ipod!

Untuk saling berkomunikasi saat itu menggunakan telepon umum dan pager, nah generasi saat ini tentu tidak tahu apa itu pager. Komputer masih begitu besar dan masih menggunakan disket (nah loh masih ingat dengan disket), belum ada flash disk dan media penyimpanan lain seperti hard disk portable atau pun virtual.

Begitu banyak hal yang diulas oleh Marchella FP dalam bukunya ini, Generasi 90-an yang sudah beredar di sejak awal tahun 2013. Belakangan juga muncul buku serupa yaitu Memory 90-an untuk Koleksi karya Syahril Anwar yang baru dirilis pada pertengahan tahun.

Serupa tapi tak sama. Generasi 90-an terlihat lebih serius dipersiapkan, sementara Memory 90-an untuk Koleksi seperti dikejar tenggat untuk bisa berkompetisi dengan buku sebelumnya. Ada beberapa kesalahan ketik yang cukup serius pada bagian pembuka. Buku Memory 90-an untuk Koleksi lebih banyak berisi foto dan gambar sementara buku Generasi 90-an kaya dengan ilustrasi. Ada sejumlah hal yang mungkin terluput pada Generasi 90-an dan terdapat di Memory 90-an untuk Koleksi. Ya, tapi kedua buku ini memang patut dikoleksi oleh mereka yang menghabiskan masa mudanya di era 90-an.

Ya, seperti mesin waktu, para generasi 90-an diajak untuk kembali ke masa silam untuk bernostalgia lagi masa-masa remaja yang penuh warna, yang pastinya menyenangkan atau menyebalkan. Pasti selalu ada dua sisi. Tapi itulah indahnya “nostalgila‘ eh nostalgia. n

Sumber: Jurnal Nasional, Minggu, 7 Juli 2013

Ibu Ani Luncurkan Buku Ensiklopedia Tanaman

-- Melati Hasanah Elandis

IBU NEGARA Ani Bambang Yudhoyono kembali berkarya melalui buku. Kali ini Ibu Negara meluncurkan dua buku sekaligus berjudul: "3.500 Plant Spesies of The Botanic Gardens of Indonesia" dan "Koleksi Tanaman Herbalia Istana Cipanas".

Dua buku baru Ibu Ani membahas tentang kekayaan flora di Indonesia. Ibu Ani mengungkapkan bahwa kecintaannya pada tanaman memotivasinya untuk meluncurkan kedua buku tersebut. "Saya memang cinta bunga dan tanaman, sehingga saudara saya pernah menjuluki saya menteri pertanaman. Perilaku ini saya contoh dari ibunda saya tercinta, Sunarti Sarwo Edhie Wibowo yang sangat mencintai bunga dan tanaman hingga sekarang," kata Ibu Ani dalam acara peluncuran buku bertajuk: Hayati Indonesiaku di Istana Kepresidenan, Cipanas, Jawa Barat, Sabtu (6/7).

Peluncuran kedua buku tersebut juga dilatarbelakangi kekhawatiran Ibu Negara dengan minimnya referensi mengenai jenis tanaman di Indonesia. Padahal, Indonesia tercatat sebagai negara kedua dengan kekayaan hayati terbesar (megabio-diversity) di dunia setelah Brazil. Keinginan Ibu Ani untuk membuat buku ulasan jenis tanaman di Indonesia muncul setelah membaca buku tentang flora yang ada di Singapura.

Buku yang membahas 1.100 jenis pohon di Singapura itu pemberian dari Komandan Paspampres Mayor Jenderal TNI Doni Monardo. "Terinspirasi oleh buku itu, saya dan Pak Deniek berpikir mengapa kita tidak melakukan buku serupa, namun dengan jumlah yang lebih banyak," papar Ibu Ani dalam acara peluncuran buku yang dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Setelah mengantongi restu dari Presiden SBY, Ibu Ani berkolaborasi dengan fotografer papan atas, Deniek G Sukarya untuk menyusun buku 3.500 Plant Spesies of The Botanic Gardens of Indonesia. Buku yang dikerjakan selama 22 bulan tersebut menyajikan informasi yang menyeluruh mengenai jenis-jenis tanaman yang tumbuh di empat kebun raya di Tanah Air.

Antara lain Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibodas, Kebun Raya Purwodadi, dan Kebun Raya Eka Karya Bali. Ibu Ani berharap, buku jenis ensiklopedia setebal 1.216 halaman tersebut bisa dijadikan panduan utama bagi mahasiswa dan akademisi dalam mempelajari jenis tumbuhan yang ada di Indonesia. Harapan yang sama ditujukan Ibu Negara atas peluncuran buku Koleksi Tanaman Herbalia Istana Cipanas.

Buku tentang jenis tanaman herbal yang tumbuh di Istana Cipanas tersebut diharapkan bisa menggugah kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi obat dari tanaman herbal. "Sampai sekarang saya masih minum air redaman daun salam dan daun sukun. Menyadari bahwa tidak semua masyarakat Indonesia membeli obat-obat kimia, saya menggencarkan kembali kearifan lokal itu," ujar Ibu Negara yang menggeluti hobi fotografi ini.

Menurut Deniek G Sukarya, buku 3.500 Plant Spesies of The Botanic Gardens of Indonesia adalah buku pertama yang mendeskripsikan jenis tanaman di kebun raya Indonesia secara lengkap. Buku yang juga memuat beberapa foto tanaman hasil karya Ibu Negara tersebut diyakini akan bermanfaat bagi penelitian tanaman di Indonesia. "Saya percaya buku ini buku pintar tumbuhan pertama di Indonesia," ucap Deniek.

Berbeda dengan peluncuran empat buku Ibu Ani sebelumnya, peluncuran dua buku tentang flora ini terasa begitu spesial. Pasalnya, hari peluncuran buku bertepatan dengan hari ulang tahun Ibu Ani ke-61. Ibu Ani juga menerima ucapan selamat ulang tahun dari Presiden SBY, keluarga serta tamu undangan yang menghadiri acara. Selamat ulang tahun Ibu Ani. Teruslah berkarya! n

Sumber: Jurnal Nasional,  Minggu, 7 Juli 2013

Saturday, July 06, 2013

Jepang dari Syibumi, Tsunami, dan Teks Sastra

-- Tjahjono Widijanto

JEPANG adalah sebuah dunia yang penuh paradoksal. Di Jepang, teknologi yang demikan canggih bersilang sengkarut dengan kesemestaan, dimana mesin bersanding mesra dengan laut dan danau. Nun di sana pula kekerasan dan kelembutan berkelindan, kesunyian dan keramian dapat bersintesa, alam suatu saat dapat dikendalikan teknolgi sekaligus kesadaran persatuan manusia dengan alam yang tak kikis oleh zaman. Di Jepang wujud keindahan tertinggi adalah syibumi, sesuatu yang menyimpan amanat alam yakni kesejatian sifat alam itu sendiri. Syibumi menjadi citra keindahan tertinggi.

    Syibumi dalam usia paling tua terejawantah dalam haiku pusi klasik Jepang yang terdiri atas tujuh belas suku kata dengan susunan baris pertama lima suku kata, baris kedua tujuh suku kata dan baris ketiga lima suku kata. Dengan bentuknya yang alit ini, penyair-penyair klasik Jepang seakan-akan menghadirkan misteri alam yang sederhana namun juga dalam tak terduga. Dalam haiku seperti halnya kesejatian alam tidak ada tempat bagi permainan retorika dan pemuatan beban pesan dan filsafat dalam sebuah puisi. Dalam bentuknya yang serba alit itu, alam dijunjung dalam tempat yang begitu terhormat yang sekaligus dapat menyampaikan dimensi emosional yang melampui batas rasional.

    Haiku merupakan eskpresi dari ajaran Zen yang mengajarkan kesederhananaan. Ajaran Zen ini.berawal dari ndia melalui Cina dan masuk ke Jepang sejak abad XII dalam periode Kamakura dan hingga kini mengambil tempat penting dalam kepercayaan masyarakat Jepang.

    Zen adalah cara memandang sebuah keberadaan atau hakekat diri seseorang yang membebaskan diri dari keterkungkungan. Kehadiran Zen ini dijelaskan dalam syair klasik dari masa dinasti Tang di Cina sebagai "sebuah warisan di luar kitab-kitab suci/ tidak bergantung pada aksara dan kata-kata/ langsung mengarah pada pikiran/ tentang hakekat diri sendiri dan menyadari ke-Budhaan. Hubungan manusia dengan alam dalam Zen di Jepang dungkpkan oleh D. T Suzuki (1956) sebagai jika manusia sementara memisahkan dirinya dari alam, dia tetap tergantung dan menjadi bagian dari alam karena merupakan simbol pemisahan itu sendiri menunjukan ketergantungannya pada alam. Alam menghasilkan manusia di luar dan di dalam dirinya namun manusia melihat alam demi dirinya sendiri karena itu sebenarnya tidak ada pemberintakan bagi mereka. Kedekatan dengan alam ini juga memberikan kecenderungan yang kuat untuk membuat symbol dan cara berpikir dengan symbol, sesuai dengan Zen yang mengatakan "Zen tidak bergantung pada kata-kata dan aksara". Begitu substansialnya alam bagi Jepang juga nampak dengan konsep pergantian waktu atau perayaan akhir tahun.

    Temuan dari Dr. Masoa Oka seorang ahli etnografi menyebutkan bahwa dalam masyarakat tradisi Jepang yang lebih tua sebelum masuknya Zen sudah begitu menghormati alam dan diwjudkan pada perayaan ritual yang disebut tama. Tama merupakan substansi spiritual yang ditemukan pada manusia, di dalam roh orang mati dan di dalam orang suci yang ketika musim gugur akan berganti dengan musim semi bergerak dan berusaha meninggalkan jasad.

    Peralihan musim dari musim gugur ke musim semi ini merupakan symbol reaktualisasi chaos menuju kosmos, keruskan menuju keteraturan. Tama merupakan penanda tidak dapat dihindarinya kekacauan yang harus diakhiri pada satu epos historis tertentu dalam rangka pembaharuan dan regenerasi, memulai kembali sejarah pada awalnya.

    Kesadaran sekaligus kekaguman dan penghayatan pada alam ini pada gilirannya melahirkan mentalitas manusia Jepang yang setia, loyal, ulet, tabah, tegar dan cenderung tenang.

    Di dalam teks-teks sastra Jepang terekam bagaimana keuletan, ketabahan, ketegaran dan ketenangan ini bersanding dengan kesendirian dan kesunyian.

    Di dalam teks-teks sastra Jepang dimulai dari haiku hingga novel-novel seperti Shiosai (senandung Ombak) karya Yukio Mishama, keindahan dan Kepiluan kaeya Yasunari Kawabata, Sunkinsho (Wajah Sunkin) karya Tazaki Junichiro hingga novel Jeritan Lirih karya Kenzaburo Oe semua menunjukan kesendirian, kesunyian dan bicara adalah satu.

    Kesendirian dan kesunyian adalah manifestasi alam yang dapat menumbuhkan kehendak yang kuat dan pantang menyerah, karena itu pula symbol-simbol dalam haiku dan novel-novel Jepang sarat dengan symbol yang bernuansa kesendirian dalam konsep Zen seperti burung hotogitsu, kuil, ranting kering,dan musim gugur Majas dalam haiku juga bertema kesendirian seperti majas chokuyu (simile), inyu (metafora) dan gijinho.

    Dari karya-karya sastra Jepang ini nampak kecenderungan cara berpikir intuitif dalam menyikapi alam beserta segala gejalanya. Bagi masyarakat Jepang segala kejadian sudah menjadi kehendak alam sehingga mereka mengalaminya dengan intuisi kebenaran, pengalaman adalah kenyataan itu sendiri. Dalam Zen itu dilukiskan dengan kalimat penuh metaphor "bambu-bambu itu lurus dan cemara bercabang-cabang".

    Dengan konsep itu gambaran sosok manusia Jepang selalu tampil dengan ketenangan, ketabahan dan ketegaran meski menyimpan konflik-konflik di dalam dirinya.

    Hal ini pula yang nampak pada realitas nyata saat mereka diterjang tsunami berapa waktu lalu, mereka tetap cenderung tenang, tabah, dan tegar seperti danau di tengah hutan, seperti temaram puncak gunung di gugusan salju, seperti bayangan kuil tercermin di kilau sungai, seperti musim gugur yang selalu berganti musim semi. n

Tjahjono Widijanto, penyair dan esais, tinggal di Ngawi, Jawa Timur.

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 29 Juni 2013