Sunday, May 05, 2013

[Alinea] Perez, Oh Perez

-- Yeni Maulina

JUDUL tulisan ini, bagi banyak orang, mungkin akan menggiring ingatannya pada nama tokoh tertentu. Orang yang senang ngegosip akan ingat Julia Perez, artis fenomenal yang selalu blak-blakan  dalam bertutur kata itu. Lain halnya penggila bola, mungkin yang diingatnya Miguel Perez Cuesta, atau lebih dikenal dengan nama Michu (pemain gelandang  Swansea, Inggris) atau Diego Perez (pemain gelandang Bologna, Italia).  Begitu pun bagi yang lain, judul tulisan ini dapat saja mengingatkannya pada Shimon Peres (Presiden Israel), Otto Perez Molina (Presiden Guatemala), atau Alan Garcia Perez (Presiden Peru).

Tulisan ini tidak membicarakan tokoh-tokoh itu. Yang akan dibicarakan dalam tulisan ini adalah ihwal kata perez  dan teman-temannya (seperti gengges, kepo, rempong, sekong, sindang, lambreta, dan sapose). Kata-kata jenis itu menarik untuk dibicarakan karena ajaib, dominasinya telah merambah hingga ranah media massa eletronik.

Entah dari mana asal muasal kata-kata ajaib itu. Yang pasti, beberapa kata ajaib itu dipakai sebagai judul program tayangan beberapa stasiun televisi: “Kepo Quiz” (Trans7), “Gengges” (Trans), dan “Chit Chat Cuzz” (Trans Tv). Konon, program-program itu juga menempati posisi (rating) atas. Hal ini bisa dibuktikan dengan melihat animo peminat yang mengantre untuk menjadi peserta program. Ajaib bukan? Padahal, dalam UU No.32 Tahun 2002 tentang penyiaran (termaktub pada Bab IV, Pasal 37 tentang Bahasa Siaran) disebutkan bahwa bahasa pengantar utama dalam penyelenggaraan program siaran adalah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Pada kenyataannya, di samping menggunakan kata-kata ajaib tadi, program-program tayangan televisi juga menggunakan bahasa asing: misalnya  “Ring of Fire” (Metro Tv), “Eat Bulaga” (SCTV), dan “Mels Update” (Anteve).

Usut punya usut, ternyata kata-kata ajaib itu lahir dari bahasa gaul yang sejak tahun 70-an sudah dipakai oleh kalangan/kelompok tertentu. Dalam perkembangannya, karena terus “dimanipulasi”, bahasa gaul pun selalu berubah, seolah-olah melahirkan “jenis bahasa baru” yang lain, seperti bahasa alay dan/atau baby talk ‘celoteh bayi’ yang belakangan ini marak.

Bagi sebagian orang (terutama yang bukan pengguna), keberadaan bahasa ini tentu sangat menjengkelkan. Bagaimana tidak? Pemanipulasian terhadapnya dilakukan secara semena-mena. Dalam tulisan, misalnya, bahasa ini mengacaukan penggunaan angka dan huruf: 3=E, 7=T, 5=S, 13=B, 12=R. Begitu pun dalam pembentukan dan pemilihan kata. Di samping  yang dipleset-plesetkan (seperti kata ciyus ‘serius’, mi apah ‘demi apa’, cemungud ‘semangat’, dan cungguh ‘sungguh’), kosakata bahasa ini juga penuh dengan ketidaklaziman (seperti ala-ala ‘pura-pura’, kepo ‘ingin tahu’, dan unyu-unyu ‘lucu’). Artinya, sekalipun kata kepo, misalnya, dapat diduga merupakan singkatan dari knowing every particular object (Inggris) atau merupakan serapan dari kaypoh (Hokkian), kosakata itu tetap membingungkan karena tidak mengikuti kaidah/aturan yang tetap.

Bagaimana dengan kata perez, gengges, kepo, rempong, sekong, sindang, lambreta, dan sapose? Setali tiga uang, sama saja: membingungkan!

Menurut sebagian orang, kata perez diartikan ‘pura-pura, bohong, atau palsu’, sebagian yang lain mengartikannya ‘tidak tulus’. Gengges masih dapat diduga-duga, berasal dari kata ganggu dengan tambahan –es (agar terkesan keinggris-inggrisan). Sementara itu, rempong ‘repot, ribet’, sekong ‘sakit, kelainan seksual’, sindang ‘(ke) sini, ajakan’, lambreta ‘lama’, dan sapose ‘siapa’ sulit dijelaskan proses pembentukannya.

Fenomena  bahasa gaul, alay, dan/atau baby talk, karena oleh sebagian orang selalu dicurigai dapat merusak tatanan baku bahasa Indonesia, perlu disikapi secara arif. Dalam batas-batas tertentu (tidak digunakan secara membabi-buta), fenomena itu justru harus dianggap sebagai sebuah kreativitas berbahasa. Artinya, bahasa jenis ini tidak perlu terlalu dirisaukan selama digunakan secara baik, sesuai dengan situasi pemakaiannya. Dalam kenyataannya, meskipun sudah terjadi sejak lama, fenomena bahasa itu tidak pernah mengancam eksistensi bahasa Indonesia dalam ragam-ragam tertentu (seperti jurnalistik, ilmiah, dan sastra sekalipun).

Mengapa fenomena  bahasa gaul, alay, dan/atau baby talk tidak perlu dikhawatirkan? Ya jawabannya sederhana saja, karena berbahasa sesungguhnya sama dengan berekspresi diri. “Bahasa menunjukkan bangsa,” begitu kata pepatah dalam konteks (ber)bangsa. Dalam korteks pribadi, pepatah itu tentu dapat diubah menjadi, “Bahasa menunjukkan diri.” Nah, kata kuncinya ada pada (menunjukkan) diri. Ilmuwan misalnya, dengan demikian, hanya akan terlihat tingkat keilmuannya ketika berbahasa ilmiah, bukan ketika berbahasa alay. Kalaupun sesekali menggunakan kosakata bahasa alay, bisa jadi, ilmuwan itu hanya bermaksud agar dirinya dianggap “gaul”.  Begitu  pula sastrawan, agar terlihat tingkat kesastrawanannya, tentu harus berbahasa sastra dalam berkarya.

Lalu, bagaimana dengan beberapa judul program tayangan televisi yang berbahasa alay dan asing? Mungkin, judul-judul itu pun hanya dimaksudkan agar dirinya (stasiun televisi) dianggap “gaul” sekaligus bermaksud menarik penonton dari kalangan yang senang berbahasa gaul atau asing.Yang pasti, perlu dilakukan penelitian keterkaitan antara judul program dan tingkat/rating-nya agar ada kejelasan.  Selama ini pihak stasiun televisi selalu mengklaim bahwa judul program (berbahasa alay dan asing) itulah yang mendongkrak rating-nya. Sungguh mengherankan! Padahal, animo masyarakat pada program-program tayangan televisi dapat saja disebabkan oleh ketertarikan pada isi dan/atau pengelolaannya yang baik, bukan pada judulnya.

Kasus yang sama dapat dilihat pada penamaan rupa bumi, terutama perumahan. Nama-nama yang berasal dari bahasa asing terutama bahasa Inggris  seolah menjadi pesona kemahalan dan kemewahan, sebut saja:  Kedoya Garden, Agung Podomoro Land, Casajardin – The Garden Residence. Di Pekanbaru misalnya, ada Citra Land, Maton House, Nirvana Residence, Citra Garden, dan lain-lain. Padahal, belum tentu  penamaan dengan bahasa Indonesia menunjukkan hal sebaliknya.  Pondok Indah atau Pantai Indah Kapuk misalnya, tetap merupakan permukiman bergengsi di Jakarta meskipun berbahasa Indonesia. Hal itu membuktikan bahwa Pondok Indah atau Pantai Indah Kapuk bukanlah perumahan yang perez atau palsu. Salam. n

Yeni Maulina, Pegawai Balai Bahasa Provinsi Riau

Sumber: Riau Pos, Minggu, 5 Mei 2013

Saturday, May 04, 2013

Sastra, Sungai dan Peradaban

-- Bandung Mawardi

SUNGAI adalah referensi dan representasi lakon peradaban manusia. Sungai sering menjadi pusat lakon-lakon manusia. Sungai pun menjadi jejak peradaban dan saksi ulah manusia untuk merumuskan nasib.

Herman Hesse dalam novel Siddharta mengisahkan sungai sebagai imaji spiritualitas dan biografi manusia. Sungai menentukan kesadaran, pencerahan, keajaiban untuk manusia melakukan refleksi, koreksi, evaluasi, dan autokritik. Sungai menjadi aliran ajaran hidup.

Manusia patut belajar pada sungai untuk menemukan hikmah dan melakoni khalwat sebagai internalisasi nilai-nilai spiritualitas. Imaji sungai dalam novel Siddharta menguatkan nostalgia tradisi kuno dan kearifan lokal. Sungai adalah lakon hidup dan mati.

Siddharta dalam pertobatan dari hedonisme menemukan peristiwa pencerahan ketika menekuni sungai. Sungai itu memberi suara gaib pada Siddharta untuk merenung dan tafakur atas alur hidup. Arus sungai adalah arus hidup manusia. Keheningan dan kelembutan sungai menjadi simbol transendensi batin alam dan manusia.

Siddharta mengalami ketakjuban pada sungai. Sungai menentukan keterbukaan tabir dan misteri hidup. Siddharta ingin tafakur dalam gaib sungai.

Sungai sebagai referensi kesadaran spiritualitas memang identik dengan tradisi kuno dan manifestasi ibadah manusia untuk intim dengan Tuhan. Sungai menjadi representasi dimensi transendensi dan imanensi. Manusia menekuni pengalaman sebagai manusia dengan mencari dan menemukan hikmah-hikmah di sungai. Sungai memberi dan menerima lakon manusia untuk kondisi spiritualitas: hening dan bening.

Ketakjuban Siddharta pada sungai melahirkan pertanyaan-pertanyaan tentang hidup, maut, keabadian, jalan spiritual, biografi, dan sejarah. Optimisme Siddharta tampak dalam sebuah proses pembelajaran dan penemuan, ?Dia belajar dari sungai itu terus-menerus. Dia belajar dari sungai cara mendengarkan, mendengarkan dengan hati bening, dengan jiwa terbuka, tanpa nafsu, tanpa keinginan, tanpa penilaian, dan tanpa pendapat.? Sungai menjadi penentu perubahan arus hidup Siddharta untuk menekuni jalan spiritual.

Imaji sungai pun menemukan kedalaman spiritualitas dalam novel Paulo Coelho berjudul Di Tepi Sungai Lakon Piedra: Aku Duduk dan Tersedu. Novel Paulo Coelho memiliki awal dan akhir di Sungai Piedra. Sungai sebagai duka, sunyi, hening, pencerahan, hasrat, rindu, impian, luka, dan pedih.

Novel liris itu menghadirkan imaji-imaji puitis tentang lakon manusia dan sungai. Sungai Piedra adalah tanda iman, cinta, dan peradaban manusia. Sungai memberi rangsang agar manusia merumuskan diri dan mengurusi nasib.

Paulo Coelho mengusung legenda dan nalar puitis atas kegaiban dan keajaiban sungai. Sungai adalah inspirasi, simbol, saksi, dan tempat untuk peristiwa-peristiwa fenomenal. Paulo Coelho merepresentasikan kisah sungai dalam selubung misteri dan magis. Nostalgia dan utopia ada di tepi Sungai Piedra.

Kisah biografi masa kecil dan kemungkinan perubahan nasib tenggelam dan mengalir dalam sungai. Keinginan atas cinta dan pengabdian diri dalam jalan spiritualitas menjadi kisah haru. Pilihan hidup memberi konsekuensi berat. Sungai Piedra menerima sesal dan impian manusia dalam pilihan-pilihan dilematis untuk cinta dan spiritualitas. Sungai Piedra adalah kisah haru dalam biografi iman manusia atas lakon hidup menuju Tuhan.

Sungai sebagai saksi peradaban dan kisah keluarga China yang hadir dalam novel Bunga Putih di Sungai Kuning garapan Carolin Philips. Novel itu mengisahkan hasrat Lea untuk menelusuri masa lalu dan mencari sosok ibu.

Lea lahir di China di masa penerapan Undang-Undang Keluarga Satu Anak sejak tahun 1979 sampai akhir 1980-an. Tradisi keluarga China juga menginginkan anak pertama itu lelaki. Anak pertama perempuan menjadi perkara genting.

Lea merupakan korban undang-undang dan tradisi. Lea diserahkan si ibu pada pasangan Jerman. Ibu melakukan penyelamatan ketimbang tindakan membunuh atau membuang ke sungai.

Sungai Kuning menjadi saksi dari konsekuensi-konsekuensi peradaban China modern. Lea saat beranjak besar mendapatkan informasi mengenai asal-usul dan kisah-kisah gelap di China. Lea memutuskan melakukan pencarian untuk menemukan ibu dalam rindu dendam.

Penelusuran itu sampai di tepi Sungai Kuning. Rindu dendam Lea luluh. Ibu membeberkan aib atau kisah gelap. Pengakuan ibu membuat Lea sadar dengan masa lalu dan arti kehadiran sebagai seorang China di Jerman. Sungai Kuning adalah ruang pertemuan lahir-batin Lea dengan ibu dalam sendu, cinta, dan kasih.

Sungai dalam misteri dan magis memberi sekian imaji untuk membaca dan menafsirkan hidup. Sungai sebagai imaji memang melahirkan jejaring kisah dari spiritualitas sampai hedonisme. Sungai dalam pengisahan Herman Hesse, Paulo Coelho, dan Carolin Philips adalah imajinasi tentang manusia dan peradaban. Begitu.

Bandung Mawardi, Pengelola Jagat Abjad Solo

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 4 Mei 2013

Mengukur Kualitas Sastrawan Indonesia

-- Nurman Hartono

SEPENINGGAL Pramoedya Ananta Toer pada 30 April 2006 silam, kegalauan banyak sastrawan negeri ini hingga sekarang adalah belum adanya sastrawan Indonesia yang menerima hadiah nobel. Meski setiap tahun ada ratusan sastrawan dari seluruh dunia yang diunggulkan mendapatkan Nobel untuk Sastra meski akhirnya yang terpilih hanya satu orang, tetapi tak satupun sastrawan Indonesia yang disebut-sebut sebagai calon kandidat.

    Semasa Pramoedya Ananta Toer masih hidup, Indonesia boleh berbangga. Sebab dialah satu-satunya sastrawan Indonesia yang berkali-kali dicalonkan untuk mendapatkan hadiah bergengsi dibidang sastra itu. Tapi Pram keburu meninggal. Dan kesempatan seorang putra Indonesia untuk mendapatkan hadih Nobel pun lewat.

    Pertanyaan mendasar adalah benarkah ini petunjuk bahwa kualitas manusia Indonesia, terutama yang menjadi sastrawan, atau setidaknya karya-karya mereka masih rendah? Mengapa hanya Pramoedya Ananta Toer yang selalu mewakili Indonesia dalam kandidat peraih Nobel Sastra? Adalah HB Jassin, Paus Sastra Indonesia, yang mengakui bahwa sastrawan kita harus merasa "rendah" diri dihadapan "sastra(wan)" dunia. Kita masih kekurangan makanan bergizi untuk dapat bersaing dalam perebutan hadiah Nobel itu. Apa makanan bergizi itu? Budaya.

    Hingga kini masih sedikit sastrawan Indonesia yang menggarap keunikan budaya sebagai bahan dasar karya-karya mereka. Budaya yang dimaksud adalah keragaman berbagai kebudayaan nusantara yang jumlahnya mencapai ribuan kebudayaan itu yang melebur menjadi satu sebagai budaya Indonesia. Dalam peleburan itu sejatinya budaya Indonesia mampu melahirkan sastra tinggi, mampu menegosiasikan beragam budaya di masyarakat. Sastra yang demikian adalah sastra yang mampu mendongrak hegemoni dan menjadi corong bagi masyarakat yang terpinggirkan.

    Namun yang terjadi sebaliknya. Kebudayaan Indonesia yang unik dimarjinalkan. Para sastrawan dan budayawan justru memilih budaya eropa sebagai bahan dasar kesusastraan Indonesia. Sastra Indonesia diarahkan untuk publik kelas menengah. Jika ditarik ke belakang akar semua itu adalah pengaruh politik kolonial yang berhasil menumpas kesusastraan nasional yang berbicara tentang kemerdekaan bangsa pada saat itu.

    Sebagai gantinya, ditumbuhkan kesusastraan berorientasi barat, yang menghembuskan keuniversalan nilai sastra, sehingga sastra alpa untuk berbicara tentang kemerdekaan dan pembebasan. Pada saat itulah muncul sastra Angkatan Balai Pustaka, cikal bakal kesusastraan Indonesia sekarang (Arif Budiman, 1985;104)

    Padahal berdasarkan pantauan Ajip Rosidi, setiap pengarang dengan latar budaya yang besar pada waktunya secara bergiliran mendapat hadiah Nobel.

    Demikianlah kita lihat pengarang dengan latar budaya Jepang (Kawabata Yasunari, 1968; Oe Kenzaburo, 1994), dengan latar belakang Arab Islam (Nadjib Mahfudz, 1988), dengan latar belakang budaya Hitam Afrika (Wole Soyinka, 1986), latar belakang budaya Cina (Gao Xingjian), sedangkan latar belakang budaya India adalah sastrawan Asia pertama yang memperoleh hadiah Nobel (Rabindranath Tagore, 1913).(Horison XXXXI, 2006;16)

    Memang pengarang dari latar belakang budaya Melayu belum ada yang dapat hadiah itu. Tapi sastrawan berlatar budaya kerap jadi kandidat. Pertama, Pram menulis dengan bahasa nasionalnya, Indonesia. Kemudian, Frankie Sionik Jose (Filipina) menulis dalam bahasa Inggris.

    Mengapa Pram? Karena Pram mampu membebaskan diri dari hegemoni kuasa dalam teks sastra. Yakni sastra yang mengagungkan kasta satria, sedang kasta dibawahnya tidak punya peran.

    Dalam pidato menerima penghargaan Magsaysay, di Manila, Pram mengatakan sastra yang dilahirkan dalam pangkuan kekuasaan, menggiring pembaca pada sastra hiburan, memberikan umpan pada impian naluri purba pembacanya. Sejalan dengan Machiavelli, sastra demikian menjadi bagian alat kekuasaan agar masyarakat tak punya perhatian pada penguasa.

    Singkatnya, agar masyarakat tidak berpolitik, tidak mengindahkan politik. Sastra dari kelompok kedua ini membawa pembacanya berhenti di tempat. Dan Pram memilih untuk tidak berpihak pada sastra seamcam itu. Sehingga tak heran jika Pram meski sarat kritik terutama terhadap budaya Jawa yang dominan tapi nuansa humanisme menjalar disetiap halaman-halamannya lengkap dengan berbagai kompeksitas nation pada zamannya.

    Dengan kata lain, sastra Pram adalah sastra yang menghadirkan kenyataan sejarah. Dan apa yang disebut kenyataan di Indonesia, memang cukup memojokkan kelas menengah. Sebab mereka mapan diatas penderitaan.(Seno Gumira Adjidarma, 2005;24). Makanya jangan heran jika karya Pram di Indonesia justru dilarang dibaca khalayak.

    Karenanya selama sastra Indonesia masih mengelus-elus pantat kelas menengah dan kaum mapan, Sehingga karya yang lahir bagaikan operasi sabun dan hiruk pikuk cinta yang tidak masuk akal, jangan harap Sastra(wan) Indonesia mampu meraih Nobel.
   
Sumber: Suara Karya, Sabtu, 4 Mei 2013