Sunday, February 03, 2013

[Jejak] Shariff bin Awang, The Malaysian Fenderman

ALLAHYARHAM Shariff bin Awang atau lebih dikenal dengan panggilan M Shariff. Dia merupakan salah seorang penyanyi irama pop yeh yeh yang mula berkecimpung dalam bidang musik sekitar akhir 1960-an.

Shariff dilahirkan di Ipoh, Perak. Dia berkecimpung dalam bidang musik sejak di bangku sekolah. Di antara konser terawalnya bermula di Singapura sekitar akhir 1960-an, selain muncul dalam acara hiburan terbitan TV Malaysia ketika itu. Pada 1970, dia merekam buat pertama kalinya dengan kumpulan The Zurah untuk empat lagu Inggeris dalam satu EP. Kemudian, dia merekam dalam bahasa Melayu dengan lagu “Keindahan Pantai” (lagu asal: “Suddenly She Loves Me” persembahan The Tremeloes) keluaran M Shariff’s Scope miliknya sendiri pada tahun yang sama. M Shariff juga banyak merekam dengan kumpulan MMI/Royal, kebanyakannya lagu-lagu saduran Hindi. Untuk tujuan ini, dia juga sempat ke India dan berguru dengan komposer terkenal Shankar Jaikishan untuk memantapkan persembahannya.

M Shariff menyepi seketika karena memberi tumpuan terhadap perniagaan menjual/menyewa peralatan musik. Namanya muncul kembali dengan usahanya, konser irama pop yeh yeh 60-an yang mengembalikan kegilaan terhadap musik pop yeh yeh diadakan di Stadium Merdeka, Kuala Lumpur di mana ramai artis-artis 60an dikumpulkan dalam satu persembahan amal untuk membantu bencana kelaparan di Afrika pada 1985.

Sejak itu, dia aktif ersama kumpulan The Zurah II yang ditubuhkannya sendiri dengan ahli-ahli baru, sama ada merekam suara mereka sendiri maupun sebagai pengiring kepada artis-artis seangkatannya yang membuat rekaman lagu masing-masing. Pada 1996, sekali lagi dia mengusahakan persembahan artis-artis 60-an di bawah konser “Masih Ada Yang Sayang” di Stadium Merdeka untuk membantu pengobatan untuk Allahyarham A Ramlie yang ketika itu menderita penyakit parkinson.

Pada masa ini, dia terus merekam album-album baru misalnya Untukmu Hijau Kuning dan M Shariff Goes International. Kehebatannya bermain gitar elektrik mendapat pengakuan antarabangsa dan dia dinobatkan sebagai The Malaysian Fenderman oleh syarikat pembuat gitar elektrik dari Amerika Syarikat.

Dia juga merupakan ahli Klub Irama 60-an Zon Selatan yang bermarkas di Melaka dan juga berkhidmat di Balai Rakyat Woodlands dalam Jawatankuasa Eksekutif Kegiatan Melayu (MAEC). Kumpulan Zurah II, Almarhum M Shariff juga merupakan seorang penerbit album, antara artis artis bawah kelolaannya ialah Jefry Din, M Shariff, S Jibeng, Datuk M Daud Kilau, Rocky Din, Pak Man Telo dan Cik dan beberapa kumpulan rock, antaranya album Battle of the Bands 1 dan 2 adalah hasil terbitannya seperti kumpulan Lefthanded, Ella and The Boys, Rahim Maarof, SYJ (Sofea), May, Metallian, Burnmarks and Bloodshed (album sulung mereka juga di terbitkan oleh M Shariff) pada sekitar 1986/87.

M Shariff meninggal dunia pada usia 48 tahun akibat komplikasi penyakit kencing manis yang dihidapinya selama 15 tahun - meninggalkan seorang istri yakni Farida Mohd Salleh dan tiga orang anak. Dua orang anaknya terlibat secara langsung di bidang seni. Anak lelakinya pernah menyertai kumpulan rap kanak-kanak City Kids manakala anak perempuannya Syafiza menjadi pengacara di TV3.(fed)


Sumber: Riau Pos, Minggu, 3 Februari 2013


Saturday, February 02, 2013

Sastra Anak dan Pemberantasan Korupsi

 -- Ferry Fauzi Hermawan 

DALAM perangkat kebudayaan, sastra menempati posisi yang cukup penting pada proses pembentukan karakter masyarakat. Lebih jauh, Pantaelo dan Johnston (2009) pernah mengemukakan bahwa karya sastra merupakan medium utama untuk menegoisasikan identitas suatu bangsa. Nilai-nilai nasionalisme dan cinta tanah air dapat ditanamkan secara halus lewat pembacaan karya sastra, terutama sastra anak.

Sastra anak dianggap mampu mengembangkan kerangka berpikir kritis bagi anak-anak. Selain itu, sastra anak juga dapat membantu memberi peran yang positif bagi perkembangan kognitif dan sosial serta tingkat intelektualitas anak-anak.

Lewat sastra, anak dapat melihat seorang tokoh berperilaku dalam hidupnya serta melihat bagaimana cara mereka mengatasi suatu permasalahan. Hal itu dikenal dengan proses identifikasi. Melalui proses identifikasi inilah, anak secara otomatis dapat mengatasi permasalahan sendiri dalam kehidupan sebenarnya. Sastra anak dapat dijadikan sebagai suatu proses dialektika antara diri seorang anak dan lingkungan sosialnya.

Seperti halnya soal korupsi yang menjadi masalah akut bangsa kita. Sastra anak dapat dijadikan sebagai salah satu upaya alternatif untuk melakukan pemberantasan korupsi. Sejak dini, anak diajarkan untuk sadar bagaimana korupsi telah merusak kehidupan berbangsa dan bernegara.

Beberapa waktu lalu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan Forum Penulis Bacaan Anak (FPBA) telah meluncurkan karya sastra anak yang khusus bertemakan perlawanan terhadap korupsi. Buku yang berlabel Tunas Integritas ini setidaknya menawarkan beberapa sikap luhur, yaitu jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani, dan adil. Semua itu dibalut dengan berbagai genre penulisan, seperti fabel, realistis kontemporer, dongeng, cerita fantasi, dan lain-lain.

Salah satu hal yang menarik dari buku ini adalah upaya para pengarang untuk meninggalkan gaya penulisan didaktis yang selama ini menjadi momok dalam perkembangan sastra anak Indonesia. Alur cerita, tokoh, dan konflik yang dibangun memberikan banyak kebebasan kepada anak untuk berpikir dan merenung.

Hal ini tentu saja suatu kemajuan yang patut diapresiasi. Apa yang dikatakan oleh Lehman dan Freeman (2009) tentang tren sastra anak di abad 21 soal isu yang berfokus pada tema, struktur, keindahan dan kekuatan bahasa, konektisitas isi, genre, serta keterbacaan visual ternyata juga dihadapi oleh para penulis buku ini.

Buku KPK dan FPBA yang masing-masing berjudul Ungu di Mana Kamu?, Ini, Itu? Hujan Warna-warni, Byuur, Ya Ampun!, dan Wuush ini setidaknya telah menegaskan bahwa keberadaan sastra anak Indonesia tidak pernah lepas dari lingkungan sosialnya.

Seperti halnya genre sastra dewasa, ia hadir untuk menjadi cermin bagi pembacanya masing-masing, terutama sebagai pengingat dan bentuk perlawanan terhadap korupsi yang menjadi permasalahan akut bangsa ini. Semoga ini menjadi ikhtiar kita bersama, menciptakan generasi antikorupsi lewat karya sastra. Semoga!

Ferry Fauzi Hermawan, Mahasiswa Jurusan Sastra Kontemporer Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Bandung

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 2 Februari 2013

Gerson Poyk Terima NTT Academia Award

-- Fanny J Poyk

Gerson Poyk yang lahir di Namodale, Baa, Rote, Nusa Tnggara Timur, 16 Juni 1931, terpilih sebagai pemenang kategori sastra dan humaniora di ajang Nusa Tenggara Timur (NTT) Academia Award. Penyerahan hadiah berlangsung di Rektorat Universitas Kristen Artha Wacana Kupang, NTT 19 Januari lalu. Penghargaan ini hampir bisa di sebut sebagai 'nobel' khas NTT, di mana para pemenangnya merupakan mereka yang telah dan mampu berkarya secara konsisten di bidangnya, memiliki reputasi karya melalui bukti-bukti media, hasil penelitian, dan buku yang dapat dipertanggungjawabkan.

    Selain sastra dan humaniora, juga diberikan penghargaan bidang Science and Engineering kepada Dr. I Wayan Mudita, Lifetime Achievement Dr. Aloysius Benedictus Mboi Mph, dan Social & Policy Entrepreneur kepada Maria Mediatrix Mali.

    NTT Academia Award merupakan forum Academia NTT (FAN) yang beranggotakan 543 anak NTT yang tersebar di berbagai belahan dunia. Kegiatan ini memasuki usia yang keempat dan hadiah yang diberikan kepada pemenangnya merupakan bakti kepedulian terhadap para inovator yang sudah menyumbangkan segala bentuk perhatian dan kepeduliannya pada NTT.

    Gerson Poyk juga pernah memeroleh penghargaan bidang jurnalistik seperti Adinegoro pada tahun 1985 dan 1986 dari PWI Pusat, South East Asian Writers (SEA) tahun 1989, Lifetime Achievement Award Kompas, dan anugerah kebudayaan sebagai maestro seni dan budaya dari pemerintah.

    Kini Gerson lebh banyak meluangkan waktunya untuk menulis novel, cerpen dan drama. Untuk bidang sastra, ratusan cerpen dan novel, essay, laporan jurnalistik, telah dihasilkannya. Novel dan kumpulan cerpennya yang memberi warna khazanah sastra Indonesia antara lain, Hari-Hari Pertama (1964), Sang Guru (1971), Jerat (1978), Cumbuan Sabana (1979), Giring-Giring (1982), Doa Perkabungan (1987), Poti Wolo (1988), Oleng-Kemoleng dan Surat-Surat Cinta Alexander Rajaguguk (1975), Nostalgia Nusa Tenggara (1976), Di Bawah Matahari Bali (1982), Requeiem untuk Seorang Perempuan (1983), Mutiara di Tengah Sawah (1984) Impian Nyoman Sulastri dan Hanibal (1988), Negeri Lintasan Petir (2009) dan Eno Molas di Lembah Lingko (2009).

    Pada kuliah umumnya di hadapan para mahasiswa/i Universitas Kristen Arthe Wacana, Kupang, NTT, Gerson bertutur, kita hidup di dunia ini menghadapi kendala absurd. Absurd berarti kontradiktif dan imposible (ketidakmungkinan/mustahil). Yang absurd di dunia ini beragam dan yang paling mutlak adalah ajal. Manusia itu sebenarnya lebih sengsara dari ayam, seekor ayam akan terus makan dan dia tidak sadar perlahan-lahan akan mati.Tapi manusia, meski dia hidup kemudian beranak cucu, lalu mencari pekerjaan dan mencari kekayaan, di otaknya tetap terbayang akan datangnya "ajal".

    Selain kematian, alam juga absurd. Manusia mengatakan kembali ke alam akan senang, akan tetapi sebenarnya alam itu liar, di dalamnya sangat berbahaya, dan ini kontradiktif dengan gaung yang sekarang terus bergema untuk kembali kepada alam.

    Selain alam, manusia memiliki ambang batas kebaikan, sekali kita ajak bercanda dia akan senang, namun kalau keterlaluan dia marah. Jadi di satu sisi manusia memiliki segi-segi kebinatangan (inhuman). Jadi waspadalah dengan manusia.

    Gerson juga melihat kondisi urbanisasi yang memprihatinkankeadaan di Indonesia. Urbanisasi itu sama dengan keterasingan dari firdaus. Sangat ironis. Manusia Indonesia terasing dari bumi subur dan laut yang kaya, datang ke kota yang penuh dengan bangunan batu, sehingga terjadi pengangguran. Kalau di desa, hidup bisa diperoleh dari padi dan sawah.

    Namun di desa pun saat ini petani mulai terasing dari sawah-sawahnya, karena tanah mereka banyak yang dikuasai tuan tanah, sehingga lambat laun mereka kota, mencari pekerjaan dan berhadapan dengan belantara beton. Mereka akhirnya terasing dari bumi subur dan para nelayan terasing dari laut kaya karena bahan bakar untuk melaut sangat mencekik leher. Ini adalah kekuasaan kapitalis yang tanpa batas. Kaum kapitalis memeras tenaga buruh untuk kepentingan mereka.

    Solusi untuk terlepas dari keterasingan, dalam pandangan Gerson, adalah melalui program pemerintah yaitu transmigrasi modern. Transmigrasi model ini juga harus punya perhitungan, para cendekiawan dikumpulkan untuk dimintai ide-ide mereka, ahli-ahli matematika harus membuat perhitungan kebutuhan maksimal seorang individu untuk bertransmigrasi.

    Gerson juga menyarankan untuk membuat sebuah kelompok PR group, di mana di sana berkumpul teman-teman se ide, sebaya yang saling memberikan masukan dengan berdiskusi dan belajar. Melalui kelompok ini akan tercipta sebuah kampung modern, yang berasal dari beragam ide. Ide itu erat kaitannya dengan industri informasi. Di situ ada event organizer, ada panggung teater, ada kursus menulis, ada pelatihan tari, ada penyuluhan pertanian, ada IT yang bisa mengakses seluruh informasi yang ada di dunia ini. Melalui peer group teman sebaya dan sebakat, kita saling belajar, itulah yang dinamakan pendidikan modern.

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 2 Februari 2013