Saturday, July 02, 2011

Pendidikan (Anti)korupsi

-- Reni Permatasari

HAKIKAT pendidikan adalah penanaman nilai-nilai ideal dan luhur bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara-bangsa. Dulu, ada yang merumuskan tujuan pendidikan sebagai upaya pembentukan manusia Indonesia seutuhnya. Ada juga yang menyebutkan pendidikan bertujuan untuk membangun sumber daya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) dan sekaligus beriman dan bertakwa (imtak).

Kalau melihat tujuan pendidikan yang demikian, setidaknya setelah hampir 66 tahun Indonesia merdeka, pendidikan kita telah menampakkan hasil gilang-gemilang dalam menandai perjalanan negara-bangsa ini. Tapi, apa lacur. Wajah Indonesia hari ini masih memperlihat sosok yang compang-camping di sana-sini. Korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) masih betah bercokol di negeri ini. Penegakan hukum jauh panggang dari api. Angka kemiskinan, pengangguran, dan putus sekolah masih tinggi. Dst.

Kondisi ini paling tidak menunjukkan bagaimana pendidikan Indonesia belum mampu meningkatkan harkat dan martabat manusia Indonesia. Alih-alih pendidikan yang membebaskan dan mencerahkan, yang terjadi justru pendidikan justru makin membelenggu dan menyengsarakan rakyat banyak.

Dalam minggu-minggu ini misalnya, bagaimana kehebohan yang terjadi di dunia pendidikan terkait dua peristiwa: ujian nasional (UN) dan penerimaan siswa baru (PSB).

Pengungkapan dugaan kecurangan dalam pelaksanaan UN SD di SD Gudel 2 Surabaya oleh salah seorang orang tua siswa, Siami, dan SD 06 Petang, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, boleh dibilang gunung es dari berbagai kecurangan UN di berbagai belahan Tanah Air. Begitu juga, seperti diberitakan harian ini bagaimana penerimaan siswa baru SMA di Bandar Lampung diwarnai jual beli kursi antara Rp2,5 juta dan Rp20 juta. Beberapa wali murid mengaku menyetor sejumlah uang kepada oknum di sekolah favorit agar anaknya mendapatkan bangku (Lampung Post, 27 Juni 2011) menunjukkan betapa dunia pendidikan kita pun telah dirasuki oleh jiwa-jiwa koruptif. Mental korup ini paling tidak dimulai dari kecurangan, ketidakjujuran, dan sogok-menyogok dalam mendapatkan bangkus sekolah.

Padahal—meminjam pandangan pakar pendidikan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Arief Rachman—tidak boleh ada kompromi terhadap kecurangan. Dalam pendidikan, kejujuran adalah segalanya. "Ketika anak tidak lulus, tidak akan hancur harkat dan martabatnya. Tapi ketika tidak jujur, harkat pun hancur," kata dia.

Kalau melihat kondisi dunia pendidikan kita dan kehidupan negeri ini saat agaknya masih relevan yang ditudingkan sastrawan-wartawan legendaris Mochtar Lubis sekian tahun lalu. Mochtar Lubis bikin geger ketika menyampaikan Pidato Kebudayaan di Taman Ismail Marzuki (TIM), 6 April 1997. Dalam pidatonya yang kemudian dibukukan dengan judul Manusia Indonesia, Mochtar Lubis menyebut ciri-ciri manusia Indonesia: hipokrit atau munafik, segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, berjiwa feodal, percaya takhayul, dan hidup lebih banyak dengan naluri. Ciri lainnya, manusia Indonesia tidak hemat, boros, serta senang berpakaian bagus dan berpesta. Dia lebih suka tidak bekerja keras, kecuali terpaksa. Ia ingin menjadi miliuner seketika, bila perlu dengan memalsukan atau membeli gelar sarjana supaya dapat pangkat. Manusia Indonesia cenderung kurang sabar, tukang menggerutu, dan cepat dengki. Gampang senang dan bangga pada hal-hal yang hampa.

Mochtar Lubis tidak sendiri karena Koentjaraningrat pun menyebutkan kelemahan-kelemahan mentalitas pada kebanyakan orang Indonesia, yaitu (a) Mentalitas meremehkan mutu, yakni tidak memikirkan kualitas pekerjaan yang dihasilkan dan mutu barang atau jasa yang dikonsumsi; (b) Mentalitas suka menerabas, yakni bernafsu mencapai tujuan secepat-cepatnya tanpa mau berjerih payah dari permulaan, selangkah demi selangkah; (c) sikap tidak percaya diri, ragu mengambil prakarsa dan bersikap pengekor; (d) Tidak berdisiplin murni; (e) Kurang bertanggung jawab sendiri, cenderung melempar tanggung jawabnya ke atasan atau membagi tanggung jawab kepada orang lain supaya tanggung jawab sendiri menjadi kecil.

Maka, lihatlah bagaimana orang mengutuk dan memaki-maki korupsi, tetapi dia sendiri seorang koruptor. Kemunafikan manusia Indonesia juga terlihat dari sikap asal bapak senang (ABS) dengan tujuan untuk bertahan. Keadaan ini diperparah dengan "didikan" sekolah yang mengajarkan berbuat curang, tidak jujur, menyogok agar lulus atau masuk sekolah favorit, dan sebagainya.

Tentu, kita tidak berharap kondisi semacam ini akan tetap berlangsung. Tidak bisa tidak untuk membangun manusia Indonesia yang unggul, baik di bidang iptek maupun imtak; pendidikan harus dimajukan sebagai bentuk pembudayaan dan pemartabatan. Bukan malah sebaliknya, menanamkan nilai-nilai yang jauh hakikat pendidikan. Kalau tidak, pendidikan ini justru menyuburkan mentalitas buruk manusia Indonesia. Semoga tidak.


Reni Permatasari
, Praktisi pendidikan, Bandar Lampung

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 2 Juli 2011

Sastra Anak yang Dianaktirikan

-- Heru Kurniawan

SETIAP minggunya hampir setiap media massa memuat rubrik sastra: sastra serius (yang diperuntukan remaja hingga dewasa) dan sastra anak (diperuntukan dunia anak-anak). Tapi persoalannya, apakah sastra anak sudah mendapat apresiasi yang baik, baik dari aspek penulis, estetika-edukatif, sampai pada resepsi pembacanya?

Jawaban yang berani saya nyatakan adalah "tidak".

Sastra anak kita masih dianaktirikan. Tidak mendapat apresiasi yang serius penulisnya. Lihat saja, siapa sekarang penulis-penulis (sastrawan) yang masih menulis cerita-cerita anak. Hal ini menunjukkan sikap yang tidak apresiatif sastrawan (penulis) sekarang terhadap sastra anak. Penulis cerita anak saat ini didominasi oleh remaja, mahasiswa, guru, dan ibu-ibu rumah tangga yang punya kecenderungan klangenan, tidak intens menggeluti estetika-edukatif sastra anak. Hampir setiap minggu cerita-cerita anak muncul di berbagai media massa, tetapi penulisnya hilang tumbuh silih berganti. Sastra anak pun hanya sebagai bahan kompensasi terhadap rubrik hiburan untuk anak-anak saja. Tidak peduli terhadap estetika-edukatif cerita-cerita di dalamnya, apakah baik untuk anak-anak atau tidak.

Padahal, menurut Lukens (2005), sastra anak harus bisa memberi hiburan dan pemahaman. Sastra anak, selain harus menghibur juga harus memberi nilai moralitas. Menghibur bersifat estetis-personal, sedangkan pemahaman berkaitan nilai estetis-edukatif. Maka, kontrol atau kritik terhadap sastra anak juga harus dilakukan secara intens. Tapi, lagi-lagi muncul persoalan, tidak ada yang aktif menulis kritik seputar sastra anak kita. Bahkan, di dunia akademis, penelitian-penelitian dan buku-buku yang membahas sastra anak masih sangat minim.

Ironisitas ini menjadikan sastra anak semakin jauh dari harapan. Terasing dan tanpa terkontrol. Efeknya, tidak ada kemajuan dunia sastra anak, baik dari aspek estetis dan nilai edukatifnya. Hal ini, jika diteruskan, bacaan-bacaan anak (sastra anak) akan jauh dari dunia anak yang sesungguhnya sehingga sastra sebagai medium nilai moralitas bisa hanya sebagai impian belaka. Implikasinya, budaya literasi dan moralitas anak pun semakin rendah, seperti yang saat ini diprihatinkan banyak orang. Bahkan, keprihatinan ini sampai pada institusi pendidikan, pembelajaran sastra anak di sekolah-sekolah semakin memprihatinkan. Semuanya akan berujung pada sikap baca sastra dan nilai karakter anak-anak yang rendah karena, bagaimanapun, sastra anak bisa jadi media paling efektif dalam distribusi dan internalisasi nlai moralitas.

Revitalisasi Kesadaran Kolektif terhadap Sastra Anak

Dengan kenyataan di atas, dunia sastra (yang mengganggap dirinya serius) harus bertanggung jawab. Ingat, internalisasi nilai yang paling baik adalah sejak dari anak-anak. Maka, tanggung jawab kolektif terhadap persoalan sastra anak yang terlanjur dianaktirikan ini menjadi milik kita semua: sastrawan, penulis, guru, kritikus, dan orang tua untuk aktif mengapresiasi sastra anak sesuai dengan ranah dan bidangnya masing-masing. Penulis harus care dan menulis cerita anak yang baik aspek estetik-edukatifnya. Guru harus mampu mengkritisi dan mengajarkan sastra anak dengan baik. Kritikus dan peneliti tidak merasa terendahkan dengan meneliti dan mengkritis sastra anak. Orang tua harus selalu aktif menyosialisasikan sastra anak kepada anak-anak mereka. Bahkan, redaktur dan penerbit juga harus benar-benar selektif dalam memilih cerita-cerita anak yang akan dipublikasikan dan diterbitkan.

Bisa jadi, persoalan ketertarikan anak-anak kita terhadap dunia audio-visual daripada dunia literal-imaginal saat ini disebabkan oleh kesalahan kolektif kita yang tidak pernah serius terhadap sastra anak. Padahal, pada perkembangan anak, kebutuhan primer fantasi, imajinasi, dan literasi wajib untuk dipenuhi, tetapi kita melalaikannya sehingga anak-anak kita mencari dan mendapatkannya lewat televisi dan internet, misalnya. Jadi budaya game dan menonton televisi pun lebih digemari daripada budaya baca sastra.

Oleh karena itu, sudah saatnya kita membangun kesadaran kolektif untuk merevitalisasi sastra anak yang sudah lama dianak tirikan, dan tanggung jawab itu ada pada kita semua, sebagai penulis, pendidik, dan orang tua untuk selalu care terhadap perkembangan penulisan, nilai, media, dan eksistensi sastra anak.

Siapa yang akan peduli terhadap anak-anak kita kalau bukan kita sendiri, dan dengan memajukan sastra anak, maka kita berarti sudah menyayangi anak-anak kita karena lewat sastralah anak belajar berimajinasi, berasosiasi, dan mengidentifikasi diri untuk menjadk anak yang baik literasi dan karakternya.

Heru Kurniawan, Penulis cerita anak dan dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto.

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 2 Juli 2011

Saat Menjadi (Orang) Tua

-- Beni Setia

KESAN sastrawi yang spontan muncul saat membaca 269 puisi Aspar Paturusi (AP) yang dikumpulkan dalam Badik (Garis Warna Indonesia, Jakarta, 2011)-dan 5 puisi antaranya dimuat di Suara Karya (Sabtu, 18/6/ 2011)-adalah pola berkreasi dan berkesenian yang penuh liukan dan lonjakan, yang dirumuskan Taufik Ismail sebagai "menggenggam semuanya ... yang tak perlu ditanyakan lagi lakekomaE." Setidaknya di paruh kedua dekade 1970-an-lebih terpatnya: 1976 dan 1977-, AP menggebrak dan membuat khazanah sastra Indonesia terperangah dengan kehadiran dua novelnya, Arus dan Pulau.

Kehadiran berturut turut dari novel yang di rumuskan Maman S Mahayana sebagai novel yang bersemangat keterpencilan dan kesadaran eksotik dari lingkungan pulau terpencil. Tapi ketika saya berharap muncul novel lain, AP malahan bersuntuk dengan teater, dan menggebrak Jakarta cq TIM dengan pementasan "Samindara" (1982), "Perahu Nuh II" (1985-dan kemudian repertoar ini dipentaskan lagi di acara Festival Istiqlal, 1995). Kemudian "Jihadunafsi" dipentaskan di Makasar 1986.

Dan, dalam rangka mengisi kegiatan ulangtahunnya di Makassar bulan April lalu, penyair kelahiran Bulukumba 1943 ini me-launching kumpulan puisi Badik, yang terdiri dari 269 puisi.

KEMUNCULAN puisi yang kemudian dikumpulkan dalam Badik ini tergolong unik, karena bersimula dari kesibukan AP menghiasai akun FB-nya dengan sepasang puisi: yang lama di sisi yang baru. Terus rutin dikerjakan, sehingga terus diikuti serta diapresiasi-Helmi D. Acmad mendokumentasikannya dalam versi printed terbatas, yang mendorong AP untuk membukukannya. Bahkan apresiasi Maman S. Mahayana, dan jadi kata pengantar dalam Badik pun bersipat fana khas FB, hanya menjangkau di tampilan ke-100 dari sepasang puisi AP. Meski dalam Badik itu puisi ke-204, dengan 65 lagi puisi baru. Mungkin pola penampilan sepasang puisi: baru dan lama, membuat kita kehilangan orientasi waktu akan momen penciptaan puisi AP. Meski, sebenarnya, bisa ditelusuri kalau kita melakukan penelitian yang lebih cermat.

Ada dua tema besar dalam Badik, yakni kesadaran telah berumur dan mengalami banyak peristiwa-dan peristiwa itu dicatatnya dengan puisi, baik yang fisikal macam "Makassar", "Pak Tua dan Jam Tua", "Tanjung Bira", dan banyak lagi; ataupun yang subtil mengabadikan penerusan nilai religius secara budaya dan merasakan bagaimana nilai-nilai berganti atau ambruk seperti yang ditunjukkan puisi-puisi "Tidurlah Tidur", "Gedung Pengadilan", dan terutama "Badik". Puisi bernas yang dijadikan judul buku kumpulan puisinya, karena itu saya akan mengapresiasinya sebagai titik tolak untuk menandai keistimewaan Badik. Dan titik tolak untuk memahami itu adalah stereotype diksi "badik". Tema yang mengandaikan dua hal. Pertama, jenis dan komunitas etnik tertentu, yang sangat mempertahankan dan membela kehormatan (sirri) dengan tidak segan bertindak keras dengan memakai badik. Kedua, eksistensi alat bersitarung yang merupakan perpanjangan keinginan menegakkan kehormatan.

Dan justru dari asumsi itulah AP tergerak untuk menulis puisi "Badik", sebuah kesadaran untuk tak lagi bersikukuh dengan ikon yang bersipat lahiriah serta teramat memancarkan aura keras itu, dan berbalik reflektif ke dalam diri hingga menemukan hakekat dari ada dan bagaimana memanifestasikan ada dengan acuan nilai nan Islami, rachmatan lil alamin. Kita simak rumusan reorientasi AP setelah varian lahiriah dan aura keras tersebut dieliminasinya: " ... kukuh tegak di hati / ... bernama badik iman / pamornya berukir takwa // ... / tak ada darah di tajam ujungnya / hanya berhias cinta kasih / senyum buat saudara seiman // ... berpamor takwa / .../// Sebuah reorientasi yang membuat saya mengidentifikasinya sebagai cara memaknai gejala hidup dengan kemahfuman, saat semua hal ditinjau oleh "kesadaran telah berlalu", hanya kuasa buat direfleksi serta terbukti ada beberapa yang merupakan tindakan menggelikan-hanya impuls kemudaan. Respons yang tak lagi berpusat pada ego, tak lagi pada cara orang lain mengakui, menghormati kedirian, dan lebih mengandaikan pada "sisa waktu yang ada dan bagaimana bertindak idealis di sisa waktu yang tak banyak itu".

Orang Jawa menyebut itu sebagai Ilmu (orang) Tua, kesadaran bahwa tujuan ada (hidup) di dunia ini bukan di segala sesuatu yang bersipat duniawi tapi bersipat ilahiah sesudah mati-dengan "punya bekal saat melakoni mati". Formulasi itu kekuatan puisi "Gedung Pengadilan", yang menguraikan kesan seorang tua yang resah mengunjungi gedung pengadilan, karena ingin melihat bagaimana kebenaran ditegakkan dan segala kesalahan diperbaiki dengan penghukuman, dan bersitemu dengan debat kusir hukum: di mana asumsi "kesalahan diluruskan kebenaran" itu tidak ditegakkan, malah hanya dijadikan obyek debat kusir-sebagai persoalan yang kelabu dan tidak dipertahankan hitam dan putih. Karena itu hukum manusia selalu bertahan di wilayah abu-abu, dan AP memilih ke luar dari hal duniawi, memasuki hakekat agamawi yang membedakan yang benar dan yang salah dengan tegas-sekaligus berduka karena kebenaran itu tak mungkin ditegakkan di dunia.

Menjadi orang ikhlas, yang menikmati ketakberdayaannya dan menjadi si yang dimulyakan Allah SWT karena bisa "menggaji" orang yang berkuasa serta sok amat bersikuasa dengan kekuatan otot, jabatan, dan uang-seperti yang diperlihatkan dalam puisi "Warung Daeng Kanang". Itu puisi nan berterang-dan ciri puisi AP adalah diksi berterang meski tak terang-terangan-tentang jagat rohani orang kecil yang menikmati kekecilannya dengan keikhlasan, dan karenanya menjadi lebih besar dari orang yang punya posisi, jabatan serta kekuasan. Ada ironi dalam bait terakhir puisi itu: "warung kecil daeng kanang / saat bayar utang pungutan / ia ikut menggaji pemimpin". Meski warung itu cuma ikon: "... bermodalkan utang demi utang // ... tetap tangguh / dalam rengkuhan kemiskinan".

KALAU selama ini kita selalu mengaitkan sastra yang memotret realisme sosial dengan diskriminatif menunjuk siapa yang brengsek, siapa yang menjadi korban, dan ajakan untuk melawan kesiberengsekan itu dengan advokasi hukum serta penyadaran politik, AP justru bersigerak dari sisi religius agamawi.

Dalam puisi "Warung Daeng Kanang" AP membuat penekanan rohani dengan penggarisan di cara menerima takdir dan bagaimana usaha mengatasi takdir itu dengan iktiar, dan kalau Allah SWT tidak memperkenankan perubahan takdir maka kita harus menerimanya dengan ikhlas, dan berbahagia dalam ulakan coba derita sambil berpegang pada tali Allah. Itu inti hidup, dan karenanya AP melakukan pilihan: hukum Allah dan bukan hukum dunia-seperti yang tegas diungkapkannya dalam puisi "Gedung Pengadilan".

Karena itu AP mengajak menempuh kehidupan istiqomah, memilih tabah dalam kesengsaraaan dan ketaknyaman asal tetap berpegang pada tali Allah, serta biar orang bersipongang membanggakan kejayaannya di masa kini, karena hakekat kemuliaan kesejarahan kemanusiaan seorang insan itu berada di alam setelah hidup, alam akhirat yang menunjukkan macam mana kemuliaan kesejarahan manusia yang hakiki-seperti yang diungkapkan dalam puisi lirih yang intuitif, "Biarlah Sejarah Bicara". Hidup itu harus istiqomah, reflektif tertuju ke alam setelah mati dengan momen kematian yang kian merapat, karenanya intens dengan keberadaan tali Allah dan selalu mengikatkan tali Allah itu pada seluruh anggota keluarga. Dimensi itulah yang membuat romantika sentimentil piknik keluarga di Pantai Losari (Makasar) dalam puisi "Pada Suatu Sore" tidak sekedar nostalgia remaja-bersiduaan di dekade 1960-an atau 1970-an.

Sebuah varian puisi religius yang unik-dan sekaligus pencapaian itu membuat saya agak takut: tiba-tiba ekplorasi seni AP berubah lagi. Atau harus membiarkan AP melakukan eksplorasi serta menampilkan hasil eksploitasi seni yang lain? Apaan tuh? Walahualam-cuma Allah SWT yang tahu. Insya Allah.

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 2 Juli 2011