Sunday, March 22, 2009

Pustaka: Syair Aceh

-- Sjifa Amori

PENDEKATAN konflik dan bencana tsunami di Aceh yang kaya akan unsur kemanusiaan dan kegelisahan personal
-------

Membicarakan Aceh seperti tak ada habisnya. Saking panjangnya, sampai-sampai penulis Sunardian Wirodono menjuduli novelnya Syair Panjang Aceh (Syahie Panjang Aceh). Dalam pengantarnya, Sunardian mengungkapkan bahwa novelnya semula adalah skenario Syahie Panjang Aceh yang disertakan dalam lomba penulisan skenario film cerita Departemen Seni Budaya dan Pariwisata pada 2005.

Sunardian lalu memutuskan menuliskannya juga dalam bentuk novel, meski harus melakukan perombakan besar. Tak sia-sia, Syair Panjang Aceh menjadi novel cerdas yang sangat menyentuh. Pengalaman emosional sekaligus pengetahuan sejarah merupakan dua manfaat yang didapat pembacanya.

Sunardian bukanlah putra Aceh, namun baginya, tak jadi masalah seorang pria asal Yogyakarta menghasilkan karya mengenai bumi Aceh. Dalam dunia kreatif, katanya, hal itu bukanlah masalah.

Entah didasari atas sentimen yang sama atau tidak, tokoh utama dalam Syair Panjang Aceh, Fikri, ternyata juga bukanlah seorang anak Aceh, akan tetapi, kegelisahan, dendam, dan derita yang berkecamuk di dalam batin Fikri toh jelas-jelas menggambarkan betapa acehnya anak petinggi GAM ini.

Syair Panjang Aceh sangat kaya emosi. Pembaca diajak melihat ke sudut hati terdalam tiap tokoh yang posisinya berbeda, bahkan berseberangan. Fikri, mewakili pribadi-pribadi GAM yang "mementahkan" tipikal pemberontak yang selama ini mungkin disangkakan orang. Melalui Fikri dan interaksinya dengan pimpinan GAM lainnya, penulis memetakan GAM yang merupakan organisasi dengan berbagai karakter dan kepentingan masing-masing.

Hati Fikri yang gundah semakin berantakan setelah tsunami melanda Aceh. Ia sering melamun dan mudah marah. Pernah suatu kali, seorang GAM muda dibentaknya, tapi segera ia sesali sambil merenung; Apakah ia sedang putus asa, dan pada akhirnya menyalahkan Sang Pencipta Seru Sekalian Alam yang telah menghancurleburkan Aceh seperti itu? Adakah Tuhan tengah menghukum semua orang untuk menghentikan semuanya ini? Salahkah manusia memimpikan, memperjuangkan, dan mendapatkan kemerdekannya? Salahkan kita menuntut keadilan ketika Allah juga yang mengajarkan pada manusia untuk berlaku adil kepada semua makhluk di muka bumi ini?

Ketidaktenangan Fikri menjadi potret apa yang sesungguhnya "diderita" anggota GAM sendiri. Meski ada juga anak-anak muda di dalamnya yang tak pernah mengerti maksud perjuangannya kecuali hanya jadi korban orang tua mereka yang telah menyeret para pemuda itu dalam mimpi besar mereka.

"Mereka mendorong kita masuk ke kubangan. Sementara, para orang tua itu menikmati lezatnya konsesi-konsesi politik, kita tetap saja menjadi bangsa terjajah di tanah kelahiran kita sendiri...," Kata Fikri yang masih memegang komando, meski sebagian besar GAM sudah turun gunung dan menerima hasil perundingan damai Helsinki antara RI-GAM.

Dalam Syair Panjang Aceh, penulis dengan sangat cermat menyentuh hati pembaca dengan menghadirkan semua sisi. Keberadaan tokoh Dr Guritno, dokter senior yang sebatang kara setelah anaknya diculik dan istrinya meninggal, mewakili suara hati relawan yang tulus mengabdikan hidupnya menolong sesama. Lewat kisahnya bersama doktor psikologi Dara Arivia dan Ustadz muda Tengku Bulaqaini dari Dayah Markaz Al-Ishlah Al-Aziziyahdi, pembaca diingatkan akan pentingnya kepedulian terhadap sesama.

Lewat interaksi dan obrolan ketiga tokoh ini pulalah diantarkan sudut pandang "intelektual" dalam membaca persoalan Aceh yang sebenarnya adalah persoalan bangsa Indonesia. Misalnya ketika Guritno berdiskusi soal kejahatan Orde Baru yang lebih sadis dan kejam.

"Dibandingkan kejahatan ekonomi, kejahatan kemanusiaan, maka kejahatan kebudayaan yang diciptakan oleh Orde Baru secara sistematis dan masif jauh lebih jahat dan memakan korban hingga beberapa keturunan kita ke depan. Bayangkan, sistem pendidikan kita, baik di sekolah formal, di masyarakat, di rumah tangga, lebih mengedepankan asas formalisme.

"Berpikir secara formal membuat bangsa ini macet. Segala yang formal, seolah membuat kita menjadi bangsa yang maju dan pintar. Padahal berpikir formal membuat bangsa kita stagnan, mendek, dan tidak kreatif. Hingga akhirnya, beragama pun formalitasnya jauh lebih penting daripada substansinya. Berdemokrasi pun lebih penting formalitasnya daripada substansinya. Bermasyarakat pun, kita lebih banyak dipenuhi oleh jargon-jargon formal daripada pengertian sejatinya."

Jelas dalam karyanya ini Sunardian menumpahkan segala pandangannya mengenai Aceh sebagai simbol permasalahan bangsa. Dengan pendekatan budaya, Sunardian menjadikan ketiga tokoh yang bisa dibilang berada di luar pihak yang berkonflik tersebut untuk menjelaskan hubungan kausalitas yang dicakupi permasalahan Aceh.

Dr Guritno, Dara, dan Tengku Bulqaini tak cuma jual omongan. Mereka memeras pikiran dan tenaga untuk membantu meringankan dampak konflik dan tsunami, khususnya pada anak-anak Aceh. Menurut Tengku Bulqaini, nasib anak-anak korban konflik Aceh tidak bisa dibiarkan. Ia bergerak merehabilitasi anak agar dendam mereka bisa hilang. Jika tidak, Aceh akan penuh dendam di masa depan, baik dari anak yang membenci TNI karena orang tua atau saudaranya dibunuh militer Indonesia, juga sebaliknya.

Di tengah kenyataan yang terjadi di Tanah Rencong dan kesibukan berbagai pihak yang turut terlibat di dalamnya, penulis menghadirkan juga emosi personal. Mulai dari pencarian makna hidup, ikatan ayah dan anak, relasi laki-laki dan perempuan, hingga kehilangan orang-orang tercinta yang telah menjelma sebagai sumber harapan baru setelah berbagai kehancuran dan penderitaan.

Sunardian menghadirkan sosok perempuan Aceh yang terjebak kondisi di tanah kelahirannya. Suka duka perempuan bernama Cut Meuthia begitu menggugah perasaan hingga menyesakkan dada. Ketika GAM dan TNI menjadi makhluk asing bagi korban tsunami, Cut Meuthia dan anggota TNI Prada Susilo saling mengenal tanpa menghakimi identitas masing-masing. Cut Meuthia, yang merupakan adik seorang petinggi GAM, adalah relawan yang membantu korban tsunami di kamp pengungsi. Prada Susilo adalah TNI yang bertugas menjaga keamanan di wilayah kamp pengungsi. Dengan sangat lentur, bab yang dijuduli Berkah Tsunami: Gencatan Senjata mengisahkan pula bagaimana benih-benih asmara mulai memadati ruang hati keduanya.

Mampukah perundingan Helsinki menyatukan juga Cut Meuthia dan Prada Susilo? Bagaimana pula nasib para tokoh, yang atas berbagai alasan, berada di Aceh dengan persoalannya masing-masing? Apakah mereka bisa mencapai tujuannya, yaitu mengecap apa yang mereka anggap membahagiakan?

Meski terkesan terlalu penuh karena alur yang maju-mundur dan terlalu padatnya fakta sejarah dan politik yang ingin diungkap, Syair Panjang Aceh cukup bisa menggambarkan rumitnya permasalahan Aceh. Meski tidak linier dan meloncat-loncat (mungkin karena awalnya skenario film), Sunardian berhasil menyampaikan dan menegaskan kembali bahwa dalam sebuah konflik dan bencana, tidak cuma ada kehancuran fisik, tapi juga melibatkan manusia di dalamnya. Manusia-manusia yang ingin dimanusiakan. Begitulah, syair yang panjang ini juga menimbulkan rasa cinta dan simpati saudara sebangsa akan Serambi Makkah yang selalu menginginkan kejayaan bangsa Indonesia.

Sumber: Jurnal Nasional, Minggu, 22 Maret 2009

Buku: Kitab Presiden Penggeli Hati

Judul Buku: Presiden Guyonan
Penulis: Butet Kartaredjasa
Penerbit: Kitab Sarimin-Jogjakarta
Cetakan: I, November 2008
Tebal: xxiv + 285 halaman

PADA suatu pagi yang hening, di tengah suasana tafakur doa, para murid tersentak dikegetkan suara guru meditasi mereka bergegar-gegaran meledak dalam tawa. Saat sore tiba, pada upacara pemakaman seorang petinggi kerajaan, para murid dibikin sontak pula oleh derai tawa lepas guru mereka. Malam hari, saat seluruh penghuni perguruan Zen harus silentio stampa (puasa omong), sekali lagi sang guru terpingkal-pingkal ketawa. Para murid masygul mendapati ketidaklaziman itu. Guru pun berkata, ''Manakala surga menyentuh hatiku masakan aku diam saja. Hatiku melonjak girang bagaikan saut riuh kicau burung di waktu fajar.''

Sang guru Zen telanjur dipandang sebagai manusia bijaksana. Sepanjang hidup, ia mencari, mendalami, dan merenungkan kebijaksanaan. Ia merasa belum sampai pada kebajikan hidup. Kesadaran itu ia alami saat tertawa. Kebijaksanaan justru terjadi saat sang guru tertawa karena menemukan persepsi kontradiktif atas realitas hidupnya.

''Abundant living: think deeply, speak gently, laugh often, work hard, give freely, pay promptly, pray earnestly, be kind.'' Aforisma John Kanary, spiritualis Kanada ini, pas banget buat meringkas sepak terjang Butet Kartaredjasa. Pengasong jasa akting itu hidup berkelimpahan berkat kegemarannya berpikir mendalam, bicara gagah, selalu bikin siapa pun tertawa lepas, suka bekerja keras, ikhlas memberi, tidak menunda pembayaran, doa bersungguh-sungguh, dan ramah.

Butet Kartaredjasa punya banyak predikat: raja monolog, tukang tonil (pemain sandiwara), pemangsa makanan enak, panglima Front Pemuja Guyonan, dan kolomnis. Buku Presiden Guyonan bukti Butet piawai bertutur dalam bentuk esai. Buku ini merupakan antologi ''Kolom CELATHU'' di harian Suara Merdeka Semarang.

Celathu merupakan sketsa sosial ganjil dibingkai spirit kejenakaan. Mas Celathu, tokoh alter-ego Butet, manusia waton njeplak yang penuh sense of irony. Gerundelan perihal kepahitan hidup senantiasa dibungkus gurau. Celathu, dalam percakapan lumrah orang Jogja dan Jawa Tengah, artinya berujar, menyambar omongan, dan nyeletuk. Butet menyambar fenomena-fenomena aktual. Pun peristiwa yang sedang menghajar dirinya.

Lomba makan kerupuk dan panjat pinang, bagi Butet, tak lain sindiran rakyat terhadap makna hari kemerdekaan. Para pemimpin yang dipercaya sebagai bangsa konsisten menyelenggarakan kemiskinan. Demi sepotong kerupuk rakyat harus berjuang keras dan berebut mengunyah. Makna 64 tahun kemerdekaan masih seperti panjat pinang. Mereka yang di bawah diminta menjadi tumbal kemakmuran segelintir manusia yang bertengger nun di atas singgasana kekuasaan.

''Dunia ini memang aneh,'' gerutu Butet. Sementara banyak orang bernafsu menjadi raja semu, eh, malah ada raja beneran mendiskon derajat dengan mencalonkan diri sebagai presiden. Pemangku budaya adiluhung itu dinilai Butet silau dengan jabatan politik yang umurnya cuma lima tahun. Kursinya pun penuh ketonggeng, kalajengking, bangsat, lipan, kelabang, dan tikus. Ketimbang jadi presiden beneran tapi mendukung eksperimen guyunan semacam proyek Blue Energi dan Padi Super Toy HL2, Butet memiilih jadi presiden guyonan.

Multimedia di zaman digital cenderung meringkas, memoles, dan memanipulasi informasi dalam bentuk iklan politik. Busuk dibikin segar. Kasar dicitrakan lembut. Jahat dikemas alim. Koruptor dipoles suci. Pembunuh disugestikan dermawan. Kriminal dibesut jadi agamis. Iklan politik bagian dari mata rantai industri dan perdagangan. Hakikatnya jual beli. Modal ditanam agar laba lekas dipanen. Investasi yang tak murah itu jelas bukan pengabdian. Butet menganjurkan khalayak mewaspadai reklame calon anggota legislatif, bupati, wali kota, gubernur, dan presiden. Kepemimpinan tokoh yang mendadak kondang berkat iklan politik punya kecenderungan absurd. Dua tahun pertama ia bakal sibuk sebrak saut mengembalikan modal investasi. Dua tahun berikutnya aji mumpung buat memetik laba. Tahun terakhir sang memimpin sibuk cari modal buat beriklan pada pemilu berikutnya.

Butet mengusulkan merger Departemen Perhubungan dengan Departemen Agama. Departemen Perhubungan sukses meningkatkan keimanan dan ketakwaan manusia Indonesia. Para penumpang pesawat terbang, kereta api, bus, dan kapal laut menjadi religius dadakan. Mereka yang biasanya mengabaikan Tuhan langsung berdoa mohon keselamatan selama perjalanan. Soalnya, pesawat acap nyungsep, kapal karam, bus masuk jurang, dan kereta terguling. Kantor BKKBN sebaiknya ditutup. Peran mengendalikan jumlah penduduk telah diambil alih Departemen Perhubungan. Departemen Agama kelak tugasnya hanya membangun tempat ibadah di bandara, stasiun, pelabuhan, dan terminal. Kelak urusan agama tidak lagi diatur negara. Agama dikembalikan ke wilayah privat seperti halnya mandi, gosok gisi, makan, dan tidur.

Derai tawa Butet berlumuran satir sarkasme yang menggebuk ulu hati. Kemampuan Butet melucuti pelbagai paradoks lalu mengubahnya menjadi ironi bergelimang sikap mencemooh dan menertawakan, meminjam kerangka berpikir antropolog James Scott, boleh disebut sebagai weapon of the weak (senjata kebajikan kaum keserakat).

Butet memang membiasakan diri hidup rileks dan tidak gampang disulut amarah. Serumit apa pun persoalan tidak dibawanya dalam kepanikan. Masalah yang gawat tidak membuatnya kapok ketawa. Selalu ditemukan akal buat mengubah yang pahit menjadi segar. Bercanda membuat syarafnya kendor dan pembuluh jadi longgar. Butet telah menemukan sari pati kehidupan: perasaan syukur. Ia menerima dengan ikhlas diabetes mellitus akut yang bergentayangan di sekujur tubuhnya.

Esai-esai Presiden Guyonan mengalir tak ubahnya kolom Mangan Ora Mangan Kumpul milik almarhum Umar Kayam. Butet memang mewarisi ketangkasan menulis dari mentornya itu. Spontanitas Butet dalam mengironikan tragedi setali tiga uang almarhum Basiyo, komedian masyur Jogja era 70-an. Gaya berkisahnya yang menyengat laksana lebah membangunkan kerbau tidur mengingatkan orang ramai akan obrolan Pak Besut di RRI Jogja dekade 70-an.

Novelis Ashadi Siregar berkomentar, sulit mencari orang Jogja asli yang rileks penuh canda dalam mengurai perkara ruwet. Orang Jogja, tak beda dengan manusia Indonesia umumnya, ngrenggiyek (tegang) menghadapi persoalan pelik semisal status keistimewaan Jogja. Dan, Celathu dibikin asyik dengan goresan jenaka kartunis Dwi Koendoro.

Humor memang siasat menjaga keselarasan semesta hikmah. Celathu menghidupkan kembali semangat ugahari Basiyo dan Pak Besut. (*)

J. Sumardianta, guru SMA de Britto Jogjakarta, penulis buku Simply Amazing: Inspirasi Menyentuh Bergelimang Makna

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 22 Maret 2009

Apresiasi: Politisi Perlu Sastra

-- Agus Wibowo*

SELAIN politik, politisi dan pemimpin juga perlu mendalami sastra. Politisi akan memiliki imajinasi dan ketajaman visi yang dibutuhkan untuk merancang masa depan bangsa.

Kemenangan Andre Carson, senator AS dari Partai Demokrat belum lama ini, mengundang decak kagum banyak pihak. Politisi dengan rekam jejak santun dan beretika itu ternyata penggemar berat sastra, khususnya puisi. Konon, kecintaan Carson pada sastra berawal ketika neneknya memberikan antologi puisi karya Jalaludin Rumi, ulama Sufi abad 13 dari Persia. Carson juga sejak kecil membaca kitab Injil, Talmud, dan Bhagavad Gita.

Beberapa presiden AS sebelumnya juga merupakan penulis puisi, penyair, atau setidaknya apresiator sastra ulung. Misalnya, mantan Presiden Abraham Lincoln yang dijuluki "sang penyair ulung". Persahabatan sang presiden dengan penyair Walt Whitman memberi nuansa antiperbudakan dan semangat demokrasi selama kepemimpinannya. Demikian halnya Bill Clinton dan mantan Menhan Donald Rumsfeld; di sela-sela tugas kenegaraan, mereka masih menyisakan waktu menulis puisi.

Di Cile, kita tidak asing dengan Pablo Neruda, politisi ulung, kandidat presiden sekaligus penerima hadian Nobel. Neruda merupakan apresiator sastra ulung dan menjadikannya sebagai penyeimbang hidup. Ada juga Leopold Sedar Senghor, penyair dan pejuang Senegal yang menjadi presiden setelah merebut kemerdekaan dari Prancis. Politisi yang gigih memperjuangkan demokrasi dan kebebasan pers itu, memilih "lengser" dengan terhormat dan memberikan kekuasaan kepada perdana menterinya.

Kearifan dan jiwa besar yang ditunjukkan Senghor menimbulkan kekaguman bukan hanya rekan-rekannya bahkan Jacques Chirac, pemuka Prancis, bangsa yang pernah menjajahnya. Chirac menulis catatan saat kematian Senghor yang berbunyi: Poetry has lost a master, Senegal stateman, Africa a visionary and France a friend.

Menjadi Terapi

Ilustrasi yang saya sampaikan menunjukkan betapa pentingnya apresiasi sastra bagi para politisi dan pemimpin bangsa. Itu karena politisi dan pemimpin layaknya "penggembala", yang dituntut memiliki kepekaan menbaca keluh-kesah atau mendengar jeritan rakyat. Politisi, meminjam istilah Herry Thruman, adalah pelayan rakyat yang telah memberi mandat dan kedaulatan kepadanya.

Apresiasi terhadap sastra menjadi sebuah keniscayaan tatkala para politisi negeri ini tengah gemar membudayakan ketidakjujuran, kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN). Banyaknya kasus yang berhasil diungkap memperlihatkan betapa para politisi membungkus tugas dan pekerjaan kenegaraan dengan kelicikan dan kemunafikan. Akibatnya, ketidakadilan menjelma dalam seluruh aspek kehidupan.

Sastra, kata Schiller (2004), mampu membentuk kepribadian seseorang, melalui penghalusan adab dan budi, kreativitas, perasaan, kepekaan, dan sensitivitas kemanusiaan sehingga terhindar dari tindakan-tindakan destruktif, sempit, kerdil, dan picik. Sastra juga menjadi semacam permainan penyeimbang (balance) segenap kemampuan mental manusia, berhubung dengan adanya kelebihan energi yang harus disalurkan.

Keajaiban sastra itu sudah diakui banyak klub dan organisasi terapi di dunia. Seperti yang dipopulerkan The International Association for Poetry Therapy, atau organisasi terapi internasional yang menggunakan sastra sebagai mediumnya. Organisasi itu berhasil membuktikan puisi dan sastra pada umumnya mampu menjadi pengobat stres lantaran efek relaksasi yang ditimbulkannya.

Konon, puisi juga mampu mencegah penyakit jantung dan gangguan pernapasan karena efeknya yang dapat mengendurkan denyut jantung dan irama napas menjadi harmoni. Pada konteks politik, puisi mampu membuat temperamen para politisi menjadi jinak dan santun.

Tidak salah kiranya jika saya mengusulkan agar semua politisi--selain mendalami ilmu politik--mendalami sastra. Melalui apresiasi sastra itu, politisi akan memiliki imajinasi dan ketajaman visi yang sangat dibutuhkan dalam merancang masa depan bangsa. Lebih dari itu, ketajaman visi dan imajinasi akan membuat politisi mampu membaca tantangan bangsa secara jelas, dan merumuskan solusi untuk mengatasinya.

Belajar dari sejarah, para raja dahulu meminta sastrawan atau pujangga untuk menjadi penasihatnya. Boleh jadi karena sang pujangga lebih arif memaknai persoalan lewat kehalusan sastra yang berujung pada visioner yang tajam dan kepekaan sosial yang luar biasa (linuwih), yang tidak ditangkap orang awam.

Pendek kata, kemampuan pujangga weruh sak durunge winarah atau mengetahui apa-apa sebelum terjadi, pada dasarnya karena sentuhan kehalusan dunia sastra yang dimiliki sang pujangga, bukan karena ilmu gaib atau klenik.

Pertanyaanya kemudian, bagaimana melakukan apresiasi sastra yang baik? Menurut Effendi (1994), apresiasi sastra itu bisa dilakukan dengan menggauli cipta sastra secara sungguh-sungguh, sehingga tumbuh pengertian, kepekaan pikiran kritis, dan kepekaan perasaan yang baik terhadap sastra.

Karena dunia sastra selalu dikitari konvensi, tradisi, sistem sastra dan sebagainya, maka dalam membaca sastra juga mesti menghayati proses dan seperangkat aturan tersebut. Pemahaman demikian, memerlukan metodologi yang diajarkan dalam bangku pendidikan.

Sayangnya, pengajaran sastra masih tetap stagnan meski beragam hujatan dan kritikan dialamatkan padanya. Pengajaran sastra kita masih beringsut pada era Orde Baru yang serba sentralistik. Hadirnya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), tidak mengubah praktek metodologis pembelajaran di kelas. Pada gilirannya, pemahaman peserta didik terhadap metodologi pengungkapan makna sastra sangat rapuh. Kerapuhan metodologis ini pula yang menyababkan apresiasi mereka terhadap karya sastra sangat lemah--untuk mengatakan tidak ada. Jangankan untuk mengapresiasikan, mengetahui maknanya saja terlampau sulit.

Terlepas dari problem tersebut, agar para politisi itu semakin dekat dengan sastra, maka mereka harus membiasakan membaca karya sastra seperti novel, puisi, cerpen, cerbung, dan sebagainya. Mereka perlu membaca novel Pramoedya Ananta Toer, William Shakespeare, atau membaca puisi-puisi Hamka, Chairil Anwar, Amir Hamzah, dan sastrawan-sastrawan besar lainnya. Selain menghadiri kampanye politik, politisi juga perlu mendatangi orasi-orasi budaya, pembacaan puisi dan bergaul dengan para sastrawan. Kedekatan politisi dengan sastrawan, tentu saja memiliki pengaruh signifikan atau setidaknya akan memberi nuansa lain dalam sepak terjang politiknya. Semoga!

* Agus Wibowo, Esais Sastra, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta

Sumber: Lampung Post, Minggu, 22 Maret 2009