Sunday, February 03, 2008

Horison: Geliat Seni di Pinggiran Jakarta

Kegiatan apresiasi seni dan sastra cukup semarak di pinggiran Jakarta

MENJADI ibukota negara, Jakarta merupakan pusat segala aktivitas. Tak terkecuali aktivitas pengembangan kegiatan ekonomi, pendidikan, hingga kebudayaan. Meski begitu, tak semua pelakunya tinggal di Jakarta. Dengan berbagai alasan, daerah penyokong macam Tangerang, Bekasi, dan Depok banyak dipilih mereka sebagai daerah hunian.

Kesamaan kawasan tempat tinggal lantas membuat orang-orang yang memiliki minat serupa untuk mengkutub. Seperti yang dilakukan sastrawan penghuni kota Depok, Jawa Barat. Mereka bahkan tak sekadar berkerumun. Rabu (30/1) lalu, mereka meluncurkan Gong Bolong, antologi para penyair Depok.

Buku tersebut memuat puisi karya sederet penyair yang tinggal di Depok, seperti A Badri AQT, Adri Darmadji Woko, Asrizal Nur, Diah Hadaning, Dianing Widya Yudhistira, Endang Supriadi, Jimmy S Johansyah, Rieke Dyah Pitaloka, Rita Zahara, dan Sihar Ramses Simatupang. Gong Bolong diterbitkan oleh Yayasan Panggung Melayu bekerjasama dengan Saung Budaya.

Terkait peluncuran Gong Bolong, kritikus sastra Maman S Mahayana punya komentar menarik tentang kiprah penyair Depok. Ia berpendapat buku tersebut dapat dipandang sebagai alat perkenalan kepada penikmat sastra tentang keberadaan penyair Depok. ''Perkenalan ini diharapkan memberi penyadaran serba-sedikit betapa sesungguhnya para penyair ini termasuk sastrawan Indonesia garda depan,'' kata dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) itu.

Maman melihat Depok bukan sekadar wilayah penyangga Jakarta. Depok adalah wilayah yang secara kultural dapat memberi kontribusi penting bagi Jakarta, bahkan juga bagi Indonesia. ''Lewat karya-karya para seniman, tentunya.''

Tentang penerbitan Gong Bolong, Asrizal Nur selaku ketua Yayasan Panggung Melayu, angkat bicara. Tak ada polemik pusat-tepi yang coba ditimbulkannya. ''Sejumlah penyair nasional yang tinggal di Depok merasa sayang jika melulu tampil di kancah nasional maupun internasional namun tidak berkiprah di tempat tinggal sendiri,'' katanya Asrizal.

Bagi Asrizal, buku itu penting untuk menggugah kesadaran budaya pemerintah kota Depok. Apalagi, selama ini pembangunan Depok dinilai teralalu berkutat pada fisik. ''Pemerintah Depok melupakan pengembangan budaya yang bernilai hingga merusak kesempatan apresiasi sastra anak muda,'' kata penulis Surat Cinta kepada Marsinah (1995) yang sempat membuatnya mendekam di penjara semasa Orde Baru.

Sebanyak 20 orang muda yang mencoba konsisten di jalur sastra dan tak kurang dari 40 sastrawan kenamaan, satu barisan dengan Asrizal. Mereka punya harapan besar tentang Depok. ''Kalau saja geliat kebudayaan di Depok disokong pemerintah, dunia akan mempunyai alternatif dalam memandang Indonesia, tak cuma Bali, Yogyakarta, dan Jakarta,'' kata juga Asrizal yang prihatin dengan nasib kesenian tradisional Depok.

Agar harapan besar tadi tak sebatas angan, Asrizal dkk membuka lebar pintu masuk bagi siapa saja yang berminat menggeluti sastra --dan ke depannya, kesenian lain. Saat ini saja 70 persen anggota komunitas sastrawan Depok berasal dari generasi muda. ''Tema karyanya universal. Mulai dari religi hingga dunia perburuhan,'' ungkap Asrizal, peraih Anugrah Budaya Sagang, Pekan Baru (2007).

Itu tadi Depok. Bagaimana dengan Tangerang dan Bekasi yang juga wilayah buffer? Tangerang --yang dipadati oleh sekian banyak pabrik-- terpantau lebih dulu menggeliat. Kini, ada Dewan Kesenian Tangerang (DKT) yang menggerakkan perkembangan kebudayaan -- tanpa menutup mata peran komunitas-komunitas seni yang ada.

Sebagai pelaku sekaligus saksi sejarah budaya di Tangerang, Wowok Hesti Prabowo menuturkan perjalanan panjang hingga terbentuknya DKT. Awalnya, kegiatan berkesenian dilakukan dari rumah ke rumah berupa pembacaan puisi dan pelatihan yang dilakukan secara swadaya. Dari situ, dikenallah istilah 'sastra buruh'. ''Kami memulainya sejak tahun 1995 dan marak di kalangan buruh peminat sastra,'' jelasnya.

Dalam dua tahun, kegiatan berkesenian Wowok dan buruh pabrik Tangerang peminat sastra makin membesar. Sastrawan yang sudah punya nama pun bergandengan tangan dan membentuk Komunitas Sastra Indonesia (KSI) yang bermarkas di Kebun Nanas, Tangerang. ''Bersama teman-teman lainnya, kami lantas membentuk DKT pada 2002,'' kenang Wowok yang sempat dua periode memimpin DKT.

Untuk bisa memiliki DKT dan mengantongi anggaran sekitar Rp 100 juta, warga Tangerang pecinta seni melakukan pendekatan ke pemerintah daerah. Wakil rakyat pun dilobi. ''Itu kami lakukan hampir satu tahun,'' ungkap Wowok yang tinggal di Tangerang bersama sekitar 50 sastrawan penghias kolom budaya di media massa.

Di Bekasi sebenarnya juga ada Dewan Kesenian. Namun, dibanding Depok dan Tangerang, kegiatan seni di Bekasi sepi-sepi saja. Ironisnya, cerpenis Arie MP Tamba cuma pernah mendengar keberadaan Dewan Kesenian Bekasi (DKB) dan mendapatkan nomor telepon pengurusnya dari seorang sastrawan yang juga wartawan. ''Dulu saya sempat kontak pengurusnya dan mereka berjanji akan menghubungi jika ada acara. Tapi, sampai sekarang tak ada kabarnya,'' tutur Arie.

Di Bekasi, Arie mengaku hanya numpang tidur. Sehari-hari, ia lebih banyak berjibaku di Jakarta. ''Setahu saya, DKB pengurusnya campuran dari pemerintah dan seniman. Mereka diberi anggaran untuk menjalankan kegiatannya.'' Jadi, apa kabar, DKB? (reiny dwinanda)

Sumber: Republika, Minggu, 03 Februari 2008

Wacana: Perjalanan Sastra tanpa Jejak Bahasa

-- Edy A Effendi*

PERJALANAN sastra Indonesia dalam kurun waktu 2007 tidak mampu meninggalkan jejak kebahasaan yang cukup berarti bagi pertumbuhan sastra Indonesia. Jejak kebahasaan ini menjadi penting karena fakta-fakta sejarah yang lurus harus dibangun atas keselarasan antara bahasa dan pikiran. Seperti kata Roger Trigg, berpikir tidak mungkin dipisahkan dari bahasa, dan adanya perbedaan bahasa akan melahirkan perbedaan produk pemikiran.

Untuk membangun keselarasan antara bahasa dan produk pemikiran, para sastrawan harus bergumul secara intens dengan dunia bahasa dan tidak serta merta melahirkan karya tanpa mau menjenguk ceruk-ceruk kebahasaan yang paling dalam. Hanya beberapa buku sastra yang bisa dijenguk keseriusannya mencari bahasa sebagai jangkar kreativitasnya. Sebutlah kumpulan cerita pendek Gus tf Sakai, Perantau (GPU, 2007), dan antologi puisi Zen Hae, Paus Merah Jambu (Akar, 2007).

Pergumulan secara intens dengan hutan rimba bahasa itulah, yang seringkali dipinggirkan sebagian kalangan sastra. Dalam wilayah sastra, khususnya puisi, bahasa menjadi satu kekuatan sentral dan menjadi satu gema untuk menciptakan kembali keberadaan dan kesadaran yang lebih tinggi dalam diri manusia.

Dari sudut pandang yang lain, maraknya antologi puisi yang bertebaran, tidak mampu membangun semangat kerja baru dalam wilayah puisi, terutama dalam menerapkan konsep estetika kata sebagai bagian dari proses kerja kreatif kepenyairan seseorang. Maka, ketika sebuah antologi terjebak dalam lingkaran wilayah kata yang dekaden, tradisi penulisan puisi yang dihibahkan dalam sebuah antologi, tidak lagi bersandar pada kekuatan kata dan berbagai varian yang berdiri di balik rimba kata.

Pada dataran itu, puisi kehilangan ruh, sugesti dan daya pikat sebagai wacana fiksi yang berfungsi memperkaya kata. Dan, akhirnya menjadi benar, sindiran yang pernah dilempar ke kubu penyair, bahwa bahasa yang ada masih seperti sebuah dusun datar yang baru saja dihuni para transmigran -- lokasi yang diancam wabah, perdu yang dihampiri hama.

Situasi serupa juga menimpa tradisi penulisan cerita pendek. Cerita-cerita yang berhamburan di berbagai sudut media massa atau di berbagai ranah toko buku sepajang 2007 tak ubahnya jajaran cerita yang bisa disantap dengan sekejap. Ia tak mampu membangun monumen kebahasaan secara ajeg, utuh dan runut. Sebuah monumen kebahasaan yang sejatinya menghadirkan bahasa ibarat ruh atau inspirasi yang hidup dan bergerak dalam tubuh sang kreator.

Saya menemukan beberapa karya prosa pada kurun 2006-2007, jika dilacak dari sisi tapak kebahasaan, tidak cukup kuat membangun keselarasan teks dan konteks, bahkan tak cukup cermat memainkan kata-kata atau substansi bahasa dalam wilayah teks. Lihatlah prosa Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (Akmal Nasery Basral, Ufuk, 2006), Dunia di Kepala Alice (Ucu Agustin, GPU, 2006), Edensor (Andrea Hirata, Bentang Pustaka, 2007), Galigi (Gunawan Maryanto, Koekoesan, 2007), Janda dari Jirah (Cok Sawitri, GPU, 2007), Linguae (Seno Gumira Ajidarma, GPU, Maret 2007), Mahasati (Qaris Tajudin, Akoer, 2007), Bulan Jingga dalam Kepala (M Fadjroel Rahman, RPU, 2007), September (Noorca M Massardi, Tiga Serangkai, 2006), dan Sintren (Dianing Widya, Grasindo, 2007).

Di tepi lain, saya menemukan karya-karya puisi yang terbit pada kurun 2006-2007, di mana penyair seringkali membiarkan sajak dengan tidak terlampau urut, terang dan padu, sehingga tidak mampu memberi vibrasi yang besar terhadap perkembangan bahasa. Lihat saja buku puisi Angsana (Soni Farid Maulana, Ultimus, 2007), Bau Betina (Binhad Nurrohmat, I:BOEKOE, 2007), Dongeng untuk Poppy (M Fadjroel Rahman, Bentang, 2007), Jam-Jam Gelisah (Todung Mulya Lubis, GPU, 2006), Kepada Cium (Joko Pinurbo, 2007), Laut Akhir (Isbedy Stiawan ZS, Bukupop, 2007), Menjadi Penyair Lagi (Acep Zamzam Noor, Pustaka Azan, 2007), Notasi Pendosa (Acep Iwan Saidi, LKiS, 2007), dan Tamsil Tubuh yang Terbelah (Amien Kamil, MataAngin, 2007).

Kultur lokal


Pada prosa Perantau Gus tf Sakai, misalnya, pengarang seharusnya bisa lebih menstimulir persoalan kelokalan dengan berpijak pada kultur Melayu sebagai akar bahasa Indonesia. Sayangnya, Gus tf tidak sepenuhnya mengambil setting lokal sebagai kosmologi penceritaan yang utuh.

Kasus serupa juga menimpa Zen Hae dengan kumpulan puisi Paus Merah Jambu. Penyair yang lahir dari kultur Betawi ini mengambil isu lokalitas hanya pada ruang penceritaan dan dialog yang dikembangkan oleh tokoh-tokoh dalam puisinya. Ia tidak menggarap secara lengkap potret lokalitas dari termin kebahasaan.

Pada titik ini, Sakai dan Hae, berhasil pada kemampuan memainkan irama kata pada teks yang disebar ke publik, tapi gagal mengambil lokalitas dari traktat kebahasaan. Saya menangkap upaya pencarian kebahasaan dengan bersandar pada kekuatan lokal adalah upaya ekstrim yang seharusnya dikembangkan pengarang, agar mampu mengambil identitas kebahasaan yang jelas.

Di tempat yang berbeda, kumpulan puisi Bau Betina Binhad Nurrohmat pun hanya terampil memainkan kata dengan melakukan penggemparan makna di berbagi sudut puisinya. Ia, dengan kredo penulisannya, berupaya mengolah diri dengan mencari kemungkinan-kemungkinan bentuk, cara, atau teknik alternatif untuk mengucapkan kenyataan.

Sedangkan bergerak untuk merambah wilayah baru adalah upaya menjamah realitas yang sebelumnya tak tergarap atau masih tergarap sepintas lalu, misalnya kekotaan, mitos lokal, seks dan tubuh. Sastra Indonesia mutakhir tampaknya cenderung memasuki wilayah-wilayah mikro dengan cara ucap yang masih terus bergulat mencari bentuk.

Binhad masih terjebak pada kubangan wilayah mikro dengan cara ucap yang masih melingkar-lingkar pada upaya pencarian bentuk, bukan pencarian dari ranah kebahasaan. Semestinya pengarang harus mampu mengambil setting lokal sebagai basis reproduksi penciptaan. Sebuah problem untuk melakukan sinergi dengan peristiwa di luar teks.

Jika sinergi itu tidak dikerjakan dengan tepat, penulisan setting lokal atau kultur lokal, akan terjebak pada penulisan fiksi yang ber-kiblat pada sejarah. Penulisan fiksi, penulisan sejarah dan peristiwa sejarah adalah beberapa hal yang memiliki kaidah penceritaan yang berbeda.

Selama ini, penulisan sejarah di bangku-bangku pendidikan menjadi terdistori dan cenderung menyesatkan. Atau mungkin benar apa yang pernah dipaparkan Clifford Geertz, bahwa kehidupan sosial manusia tidak bisa keluar dari jaringan nilai dan makna yang mereka rajut sendiri yang kemudian terabaikan dalam kultur.

Pada akhirnya, bahasa bukan sekadar alat ucap para kreator dalam memproduksi kata-kata di dalam teks. Ia tak ubahnya jembatan pengarang dalam melakukan pencarian identitas kebahasaan. Di ranah ini, para pengarang yang melahirkan karya pada kurun 2007 tak memperlihatkan keseriusannya dalam mengelola bahasa.

* Edy A Effendi, Dosen sastra UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Sumber: Republika, Minggu, 3 Februari 2008

Friday, February 01, 2008

Sosok: 70 Tahun Ajip Rosidi Mengabdi kepada Sastra

JAKARTA (MI): ''SETELAH 18 tahun, akhirnya perhatian pemerintah datang juga. Bentuknya, selembar tagihan pajak,'' tutur Ajip Rosidi.

Sastrawan Sunda ternama ini sepertinya sengaja melontarkan olokan. Ia hanya tersenyum sedikit dan membiarkan orang lain tertawa lebar dengan ungkapannya.

Kejadian itu bermula pada 1989 silam. Dengan uang dari kantongnya sendiri, pria kelahiran Majalengka, Jawa Barat, ini memberikan hadiah sastra tahunan untuk pengarang sastra Sunda. Perhatiannya berlanjut dengan mendirikan Yayasan Kebudayaan Rancage.

Hadiah Rancage pun terus bergulir setiap tahun, dan mulai meluas pada 1994, dengan memberikan hadiah untuk pengarang sastra Jawa. Empat tahun kemudian, Rancage mengembangkannya lagi untuk para pengarang sastra Bali.

''Para sastrawan di Lampung dan Madura meminta Yayasan Kebudayaan Rancage juga memberikan hadiah serupa untuk mereka. Tapi, kami masih pikir-pikir, karena kemampuan Rancage sangat terbatas,'' tutur bapak enam orang anak ini.

Maklum saja, Rancage bisa memberikan hadiah secara rutin setiap tahun dengan dana swadaya dan sumbangan donatur. Dari pemerintah, baik pemerintah daerah, provinsi maupun pusat, bantuan belum pernah mengalir sedikit pun.

Setiap tahun, Rancage memang harus bekerja keras menyediakan dana untuk enam penerima hadiah, yakni Hadiah Rancage untuk karya serta mereka yang berjasa untuk sastra Sunda, Jawa, dan Bali. Mulai 2008 ini, Rancage menggelar penghargaan baru, berupa Hadiah Hardjapamekas, untuk guru bahasa Sunda di tingkat SD, SMP, dan SMA.

Tekad Ajip untuk menghargai dan memerhatikan pelestarian kebudayaan di daerah membuatnya sangat berbeda dengan sastrawan lain. Hasilnya memang tidak sia-sia.

Terbukti, Rancage mampu meningkatkan penerbitan dan kualitas pengarang buku berbahasa ibu untuk tiga kebudayaan itu. Catatan pada 2006 memperlihatkan ada 30 judul buku berbahasa diterbitkan, meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya 19 judul. Begitu juga buku sastra Jawa dari 6 judul menjadi 16 judul dan sastra Bali dari 5 judul menjadi 17 judul.

Sebagai sastrawan, nama Ajip tidak perlu diragukan lagi. Ia sudah mulai menulis buku sastra sejak usia 17 tahun, dengan judul Tahun-Tahun Kematian.

Sampai saat ini, sudah lebih dari 50 judul buku yang ditulisnya. Begitu juga sajak dan cerita pendek, yang hingga 1983 lalu, sudah 326 judul karyanya dimuat di 22 majalah.

Sebagai sastrawan, Ajip pun tercatat sebagai penerima penghargaan, di antaranya Hadiah Sastra Nasional (1957), Hadiah Prosa (1960), Hadiah Seni (1993), dan anugerah Kun Santo Zui Ho Sho dari pemerintah Jepang atas jasanya bagi hubungan Indonesia-Jepang (1996).

Ajip pun pernah menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta pada 1972-1981. Setelah itu, Ajip pindah ke Jepang untuk mengajar bahasa, sastra, budaya Indonesia, dan agama Islam di beberapa universitas serta pusat kebudayaan hingga 2003.

Kiprah Ajip yang luar biasa di dunia kebudayaan membuat Universitas Padjadjaran Bandung menggelar peringatan 70 Tahun Ajip Rosidi, 31 Januari lalu. Kegiatan sastra dan pelestarian budaya memenuhi acara peringatan tersebut. Bahkan, Rektor Unpad Ganjar Kurnia menyebut Ajip sebagai sosok sastrawan yang lengkap. (Sugeng Sumariyadi/H-3)

Sumber: Media Indonesia, Sabtu, 2 Februari 2008