-- Dody Kriswaloejo*
ketika hujan aku tak pernah membayangkan
bagaimana keajaiban tercipta
tapi tidak melalui got yang kau angankan
betapa sajakmu membuat hantu hantu bangkit tidur
persis tanah Surabaya dengan keinginan lembab Samun
betapa aku inginkan melukis sajakmu sebagai bukit dan kau arung melebihi bayangan kota bodoh dengan anjing menyalak
tapi aku tak ingin lahir serupa puisimu
aku ingin meledakkan rumah rumah utara
yang kau kira berubah hitam sejak sungai tak lagi kau alirkan di lenganmu
seperti barisan tanah yang lebih sakit hati dari elang elang hujan
gerimis yang kupajang melebihi bentang gaun pelacur
selebihnya sungai dengan hantu hantumu yang
tak perawan
inilah keinginan kota kota selatan
bagaimana sajakku membaca sejarah sebagai dunia tanpa ketololan
sebab kau lebih layak
terpotong sebagai penyair simbolis
yang sudah terbantai sejak
patung patung bermimpi mengelupas di kulitmu
Surabaya, Juni 2007
* Dody Kristianto, lahir 3 April 1986. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya. Penikmat Kajian Sastra, Seni dan Budaya. Bergiat pada kelompok Jeda Interlude dan Komunitas Penulis lepas (www.penulislepas.com). Beberapa sajaknya pernah muncul di beberapa media.
Sumber: Puitika.net, Sabtu, 30/06/2007 - 11:40.
Sunday, July 01, 2007
Wacana: 'Ruang Kebebasan' Dalam Novel Kontemporer
-- Hudan Hidayat*
NOVEL, sebagai karya sastra, harus diletakkan dalam hubungan antara Tuhan, alam dan manusia. Tuhan, sebagai Maha Kesadaran yang tak berbentuk, memerlukan semesta untuk menampakkan kehadiran-Nya. Kita bisa menandai kehadiran Tuhan melalui bentuk ciptaan-Nya. Yakni dunia dan manusia.
Tuhan memang bisa membuat apa saja, tetapi bentuk yang dibuat-Nya itu tetap mengandaikan waktu. Waktu yang memuat tahapan dalam proses yang kita nikmati atau sesali. Begitulah manusia menikmati proses terbentuknya alam dengan mengeluarkan teori Big Bang atau Statemen Evolusi. Proses dan bentuk yang terikat dalam hukum-hukumnya sendiri. Proses dan bentuk yang menimbulkan keindahan dan kecemasan, ketakutan dan harapan -- seperti bentuk janin dalam perut ibu. Bentuk yang menginginkan kekekalan dalam nilai-nilainya. Proses dan bentuk adalah novel itu sendiri. Proses dan bentuk adalah penceritaan itu sendiri.
Seperti Tuhan mencipta semesta yang menjadi latar bagi manusia, demikian juga manusia mencipta karya sastra yang menjadikan alam sebagai latar bagi tokohnya. Kehadiran tokoh dalam karya sastra adalah turunan langsung dari kehadiran manusia di tengah semesta. Tanpa manusia yang mengalami peristiwa, semesta tak mempunyai arti. Hanya alam yang membisu: ada, tapi tak bisa dimaknai. Karena hanya manusialah yang bisa membuat makna dengan kesadarannya.
Demikian juga dengan tokoh dalam karya sastra. Latar, alur, tema, ada dalam sebuah novel. Tanpa tokoh yang bermain di latar, alur dan tema, maka novel itu hanya membisu bagi pembaca. Dengan hadirnya tokoh, maka segenap unsur 'semesta' dalam novel tiba-tiba membentuk jalinan makna bagi pembaca.
Itulah gejala 'kesadaran' yang memerlukan 'tubuh'nya. Seperti Tuhan memerlukan semesta untuk memperlihatkan kebesaran-Nya. Begitu juga manusia memerlukan tubuhnya untuk menampakkan roh kesadarannya. Maka prinsip penciptaan adalah bagaimana mengkonkretkan dunia yang abstrak. Konkretisasi inilah kerja sang pengarang. Maka novel adalah tubuh pengarang, tempat gejala kesadarannya mewujud. Dalam wujud novel.
Dalam elemen-elemen novel, sang pengarang berdiam. Masa lalunya mengendap di situ. Tokoh dalam novel menjadi alter-ego sang pengarang. Dengan tokoh-nya, sang pengarang memberantakkan dirinya. Membongkar gudang jiwanya. Gudang jiwanya yang terhubung dengan alam dan Tuhan. Sang pengarang membuat semacam terowongan untuk sampai ke alam dan Tuhan. Terowongan yang bercabang di mana di dalamnya sang pengarang berjalan bolak balik antara manusia, alam dan Tuhan.
Tentu saja sang pengarang boleh membuat terowongan jiwanya sendiri, tanpa terhubung dengan alam dan Tuhan. Tekanan diberikan pengarang kepada relasi antara tokohnya dengan manusia lain. Sesekali saja dia menyentuh alam dan Tuhan. Sikap seperti ini sikap yang sah. Sebab novel sebagai bagian bentuk seni tidak bisa dibakukan. Membakukan novel sama dengan menindas sang pengarang untuk menghayati alam dan Tuhan, sementara sang pengarang ogah menyentuh kedua bidang ini.
Tetapi, bila sikap ini yang ditempuh, maka dunia yang dibangun pengarang dalam novelnya akan kekurangan bahan renungan. Sebab hidup ibarat jalannya mobil: seseorang tertarik pada rodanya atau pintilnya, orang lain tertarik pada warna dan bentuknya. Baik roda atau pintil ban bukanlah mobil itu sendiri. Juga warna dan bentuk mobil. Mereka hanya elemen mobil. Elemen yang penting, tapi bukan mobil itu sendiri. Maka datang orang lain lagi yang terpikat dengan keseluruhan mobil, sambil kemudian mulai menanyakan hakekat mobil: darimana mobil itu memperoleh tenaganya. Hendak kemanakah mobil itu dibawa oleh pengemudinya. Singkat kata, kenyataan mobil ditransenden ke dalam makna yang lebih luas.
Tanpa terowongan yang menghubungkan dengan alam dan Tuhan, maka sebuah novel akan bertaruh dengan kedalaman jiwa sang tokoh. Tentu, tokoh yang ditempatkan dalam bingkai relasi dengan manusia lain. Tokoh yang karena lakunya atau laku orang lain pada dirinya, telah membuat manusia fiksi itu menembus kedalaman dirinya sendiri. Ia memamerkan lukanya, ke dalam suatu kengerian psikologis karena luka jiwanya. Ia memburaikan jiwanya. Ia meninggi. Ia menjauh dari dunia sehari-hari.
Tokoh seperti ini biasanya memiliki keunikan dan ketinggian baik pikiran maupun lakunya. Sebuah penceritaan yang penuh talenta, akan menghidupkan tokoh yang unik ini ke dalam simbol dan metapor. Ia bukan penceritaan yang hanya memusat pada hasrat tubuh. Penceritaan yang hanya tubuh, akan meringkus novel ke dalam kekeringan makna. Novel menjadi dunia yang sempit. Tak bisa menjadi kaca banding bagi pembaca.
Sebab hidup penuh lapisan dan tarikan. Seolah lapisan dan tarikan hati. Seolah lapisan dan tarikan bumi. Tarikan Tuhan juga. Lapisan dan tarikan yang seolah arus sungai menarik diri-diri pembaca. Diri pengarang juga.
Sering dikatakan orang, dunia yang begitu kompleks ini telah membuat seluruh relasi menjadi nisbi. Hidup menjadi serba permisif. Dan dalam kenisbian itu relasi lelaki dan perempuan menjadi medan yang penuh ujian: nilai-nilai terguncang. Manusia kini boleh melakukan apa saja. Bahkan seorang perempuan boleh meniru lebah. Di mana sang ratu lebah dikelilingi dan dicicipi banyak lelaki.
Sudah demikian jauh hidup berjalan, meninggalkan jaman Siti Nurbaya. Tetapi soalnya, "kebebasan tubuh", harusnya hanya menjadi sampiran, bukan isi, dari perjuangan memuliakan manusia. Manusia (tokoh novel) boleh terjatuh, tetapi sang pengarang menariknya untuk tegak kembali. Memberinya sayap pikiran untuk menjangkau dunia.
Ledakan kehidupan, tarikan kematian, lintasan hati, dalam bentuk varian keanehan dan ketinggian pikiran dan perasaan, yang memendar dalam sekian banyak tindakan aneh dan gila, harusnya menjadi harga yang pantas bagi novel yang mengusung kebebasan. Bukan hanya berhenti pada tubuh. Mengerucut hanya hasrat pada tubuh. Tetapi ia bergerak liar menjangkau dunia. Novel menjadi tandingan dunia dalam bingkai kata-kata. Tempat di mana manusia dapat menyimak dan memetik kabajikan darinya.
Sejak Iwan Simatupang, Budi Darma, Mangunwijaya, Kuntowijaya atau Putu Wijaya misalnya, berhenti menulis, saya merasa dunia novel sudah lama mengusir alam dan Tuhan dari kisahnya. Juga mengusir disiplin psikologi.
Novelis kita (terutama perempuan), banyak yang hanya bertumpu pada kisah tubuh. Seolah patriarki benar-benar mengungkung dan hendak mereka rubuhkan. Tak ada salahnya. Tapi kebebasan itu, tak menjadikan tubuh terangkat, atau tubuh dipandang, sebagai sesuatu yang lebih tinggi. Tubuh tak menjadi keping alam dan Tuhan. Tempat dimana renungan dunia ditegakkan.
Tubuh adalah segala-galanya, membuat novel seolah dunia tak lengkap. Kalaupun ada luka, kesakitan, kegilaan, aspirasi, maka luka, kesakitan, kegilaan, dan aspirasi itu tidak bisa naik. Karena tubuh bukan sampiran tapi isi. Sastra kehilangan nilai transendennya.
Fasilitas yang diberikan oleh novel, semangat kebaruan yang hendak diusung dalam fasilitas itu, tak mengangkat novel. Kecuali pameran hasrat akan tubuh. Pembaruan yang menyempit pada tubuh, bukan membuka pada dunia, tapi tak akan sampai kemana-mana.
* Hudan Hidayat, Cerpenis dan pekerja sastra
Sumber: Republika, Minggu, 24 Juni 2007
NOVEL, sebagai karya sastra, harus diletakkan dalam hubungan antara Tuhan, alam dan manusia. Tuhan, sebagai Maha Kesadaran yang tak berbentuk, memerlukan semesta untuk menampakkan kehadiran-Nya. Kita bisa menandai kehadiran Tuhan melalui bentuk ciptaan-Nya. Yakni dunia dan manusia.
Tuhan memang bisa membuat apa saja, tetapi bentuk yang dibuat-Nya itu tetap mengandaikan waktu. Waktu yang memuat tahapan dalam proses yang kita nikmati atau sesali. Begitulah manusia menikmati proses terbentuknya alam dengan mengeluarkan teori Big Bang atau Statemen Evolusi. Proses dan bentuk yang terikat dalam hukum-hukumnya sendiri. Proses dan bentuk yang menimbulkan keindahan dan kecemasan, ketakutan dan harapan -- seperti bentuk janin dalam perut ibu. Bentuk yang menginginkan kekekalan dalam nilai-nilainya. Proses dan bentuk adalah novel itu sendiri. Proses dan bentuk adalah penceritaan itu sendiri.
Seperti Tuhan mencipta semesta yang menjadi latar bagi manusia, demikian juga manusia mencipta karya sastra yang menjadikan alam sebagai latar bagi tokohnya. Kehadiran tokoh dalam karya sastra adalah turunan langsung dari kehadiran manusia di tengah semesta. Tanpa manusia yang mengalami peristiwa, semesta tak mempunyai arti. Hanya alam yang membisu: ada, tapi tak bisa dimaknai. Karena hanya manusialah yang bisa membuat makna dengan kesadarannya.
Demikian juga dengan tokoh dalam karya sastra. Latar, alur, tema, ada dalam sebuah novel. Tanpa tokoh yang bermain di latar, alur dan tema, maka novel itu hanya membisu bagi pembaca. Dengan hadirnya tokoh, maka segenap unsur 'semesta' dalam novel tiba-tiba membentuk jalinan makna bagi pembaca.
Itulah gejala 'kesadaran' yang memerlukan 'tubuh'nya. Seperti Tuhan memerlukan semesta untuk memperlihatkan kebesaran-Nya. Begitu juga manusia memerlukan tubuhnya untuk menampakkan roh kesadarannya. Maka prinsip penciptaan adalah bagaimana mengkonkretkan dunia yang abstrak. Konkretisasi inilah kerja sang pengarang. Maka novel adalah tubuh pengarang, tempat gejala kesadarannya mewujud. Dalam wujud novel.
Dalam elemen-elemen novel, sang pengarang berdiam. Masa lalunya mengendap di situ. Tokoh dalam novel menjadi alter-ego sang pengarang. Dengan tokoh-nya, sang pengarang memberantakkan dirinya. Membongkar gudang jiwanya. Gudang jiwanya yang terhubung dengan alam dan Tuhan. Sang pengarang membuat semacam terowongan untuk sampai ke alam dan Tuhan. Terowongan yang bercabang di mana di dalamnya sang pengarang berjalan bolak balik antara manusia, alam dan Tuhan.
Tentu saja sang pengarang boleh membuat terowongan jiwanya sendiri, tanpa terhubung dengan alam dan Tuhan. Tekanan diberikan pengarang kepada relasi antara tokohnya dengan manusia lain. Sesekali saja dia menyentuh alam dan Tuhan. Sikap seperti ini sikap yang sah. Sebab novel sebagai bagian bentuk seni tidak bisa dibakukan. Membakukan novel sama dengan menindas sang pengarang untuk menghayati alam dan Tuhan, sementara sang pengarang ogah menyentuh kedua bidang ini.
Tetapi, bila sikap ini yang ditempuh, maka dunia yang dibangun pengarang dalam novelnya akan kekurangan bahan renungan. Sebab hidup ibarat jalannya mobil: seseorang tertarik pada rodanya atau pintilnya, orang lain tertarik pada warna dan bentuknya. Baik roda atau pintil ban bukanlah mobil itu sendiri. Juga warna dan bentuk mobil. Mereka hanya elemen mobil. Elemen yang penting, tapi bukan mobil itu sendiri. Maka datang orang lain lagi yang terpikat dengan keseluruhan mobil, sambil kemudian mulai menanyakan hakekat mobil: darimana mobil itu memperoleh tenaganya. Hendak kemanakah mobil itu dibawa oleh pengemudinya. Singkat kata, kenyataan mobil ditransenden ke dalam makna yang lebih luas.
Tanpa terowongan yang menghubungkan dengan alam dan Tuhan, maka sebuah novel akan bertaruh dengan kedalaman jiwa sang tokoh. Tentu, tokoh yang ditempatkan dalam bingkai relasi dengan manusia lain. Tokoh yang karena lakunya atau laku orang lain pada dirinya, telah membuat manusia fiksi itu menembus kedalaman dirinya sendiri. Ia memamerkan lukanya, ke dalam suatu kengerian psikologis karena luka jiwanya. Ia memburaikan jiwanya. Ia meninggi. Ia menjauh dari dunia sehari-hari.
Tokoh seperti ini biasanya memiliki keunikan dan ketinggian baik pikiran maupun lakunya. Sebuah penceritaan yang penuh talenta, akan menghidupkan tokoh yang unik ini ke dalam simbol dan metapor. Ia bukan penceritaan yang hanya memusat pada hasrat tubuh. Penceritaan yang hanya tubuh, akan meringkus novel ke dalam kekeringan makna. Novel menjadi dunia yang sempit. Tak bisa menjadi kaca banding bagi pembaca.
Sebab hidup penuh lapisan dan tarikan. Seolah lapisan dan tarikan hati. Seolah lapisan dan tarikan bumi. Tarikan Tuhan juga. Lapisan dan tarikan yang seolah arus sungai menarik diri-diri pembaca. Diri pengarang juga.
Sering dikatakan orang, dunia yang begitu kompleks ini telah membuat seluruh relasi menjadi nisbi. Hidup menjadi serba permisif. Dan dalam kenisbian itu relasi lelaki dan perempuan menjadi medan yang penuh ujian: nilai-nilai terguncang. Manusia kini boleh melakukan apa saja. Bahkan seorang perempuan boleh meniru lebah. Di mana sang ratu lebah dikelilingi dan dicicipi banyak lelaki.
Sudah demikian jauh hidup berjalan, meninggalkan jaman Siti Nurbaya. Tetapi soalnya, "kebebasan tubuh", harusnya hanya menjadi sampiran, bukan isi, dari perjuangan memuliakan manusia. Manusia (tokoh novel) boleh terjatuh, tetapi sang pengarang menariknya untuk tegak kembali. Memberinya sayap pikiran untuk menjangkau dunia.
Ledakan kehidupan, tarikan kematian, lintasan hati, dalam bentuk varian keanehan dan ketinggian pikiran dan perasaan, yang memendar dalam sekian banyak tindakan aneh dan gila, harusnya menjadi harga yang pantas bagi novel yang mengusung kebebasan. Bukan hanya berhenti pada tubuh. Mengerucut hanya hasrat pada tubuh. Tetapi ia bergerak liar menjangkau dunia. Novel menjadi tandingan dunia dalam bingkai kata-kata. Tempat di mana manusia dapat menyimak dan memetik kabajikan darinya.
Sejak Iwan Simatupang, Budi Darma, Mangunwijaya, Kuntowijaya atau Putu Wijaya misalnya, berhenti menulis, saya merasa dunia novel sudah lama mengusir alam dan Tuhan dari kisahnya. Juga mengusir disiplin psikologi.
Novelis kita (terutama perempuan), banyak yang hanya bertumpu pada kisah tubuh. Seolah patriarki benar-benar mengungkung dan hendak mereka rubuhkan. Tak ada salahnya. Tapi kebebasan itu, tak menjadikan tubuh terangkat, atau tubuh dipandang, sebagai sesuatu yang lebih tinggi. Tubuh tak menjadi keping alam dan Tuhan. Tempat dimana renungan dunia ditegakkan.
Tubuh adalah segala-galanya, membuat novel seolah dunia tak lengkap. Kalaupun ada luka, kesakitan, kegilaan, aspirasi, maka luka, kesakitan, kegilaan, dan aspirasi itu tidak bisa naik. Karena tubuh bukan sampiran tapi isi. Sastra kehilangan nilai transendennya.
Fasilitas yang diberikan oleh novel, semangat kebaruan yang hendak diusung dalam fasilitas itu, tak mengangkat novel. Kecuali pameran hasrat akan tubuh. Pembaruan yang menyempit pada tubuh, bukan membuka pada dunia, tapi tak akan sampai kemana-mana.
* Hudan Hidayat, Cerpenis dan pekerja sastra
Sumber: Republika, Minggu, 24 Juni 2007
Monolog: Energi Putu Wijaya
-- Ilham Khoiri
DALAM usia 64 tahun, gelora Putu Wijaya seperti tak habis-habisnya. Pentas Seratus Menit—yang ternyata molor hingga lebih dari 140 menit—di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu dan Kamis (27-28/6) malam, menjadi ajang pemendaran energinya.
Monolog itu tampil kuat sebagai karya baru yang lebih "provokatif", yang menerabas kungkungan teks cerita.
Didukung kru Teater Mandiri, Putu membawakan lima cerpen karya sendiri, masing-masing berjudul Merdeka (ditulis tahun 1995), Poligami (2003), Raksasa (2006), Memek (2005), dan Setan (2005). Energi dan pendekatannya dalam menghidupkan kisah-kisah itu masih menarik dikomentari.
Di depan penonton yang tak lebih dari separuh kapasitas Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), panggung ditata bersahaja. Ada kursi kayu di tengah dan semacam sangkar burung bulat yang tergantung. Latar kain putih bergerak dinamis karena dipermainkan dan disorot lampu warna-warni. Putu tampil mengenakan setelan hitam-hitam dan berikat kepala.
Pentas dibuka dengan cerpen berjudul Merdeka. Diceritakan, seorang juragan tua yang menghadiahi burung-burung perkututnya dengan melepaskannya ke alam bebas. Makna kemerdekaan pun dipertanyakan dalam konteks kekinian.
Cerpen kedua, Poligami, mengisahkan perempuan yang ingin menjadi laki-laki yang dianggap menggenggam otoritas sosial lebih kuat. Namun, saat keinginan itu sempat terwujud dalam mimpi, perempuan itu justru menemukan fakta laki-laki pun kerap jadi korban perempuan, terutama saat dimabuk cinta.
Raksasa menuturkan gerombolan orang-orang yang merasa lebih kuat sehingga mau memangsa manusia lain. Memek menceritakan bocah yang penasaran untuk mengetahui kelamin perempuan. Orangtuanya kebingungan menjelaskan, sampai seorang ibu guru menunjukkannya di depan kelas. Guru itu malah dinistakan dan dibunuh. Setan mengisahkan setan yang berguru menjadi pahlawan.
Kelima cerpen itu bukanlah cerita baru, malah sebagian sudah kerap ditampilkan dalam sejumlah pertunjukan. Kisah-kisah itu kembali mempertanyakan hakikat kemerdekaan, persoalan jender, dan moralitas. Tanpa menitipkan pesan tunggal yang mutlak, monolog lebih merangsang penonton memikirkan ulang kenyataan sosial dengan kaca mata berbeda.
Sebelum di Jakarta, Seratus Menit sudah dipentaskan di Universitas Parahyangan Bandung, Universitas Petra Surabaya, dan Universitas Islam Negeri Makassar. Karya ini bakal ditampilkan lagi di Roma, Italia, dan Praha, Ceko, pada pertengahan dan akhir Juli ini.
Energi
Menonton Seratus Menit, kita lagi-lagi dihadapkan pada energi Putu Wijaya yang masih menggelora. Untuk orang seusianya, bermonolog selama sekitar 2,5 jam dengan lima cerita beruntun jelas memamerkan kekuatan fisik yang prima, apalagi dia hanya mengambil jeda sejenak antarcerita, tanpa minum.
Sebelumnya, Putu pernah tampil sekitar dua jam dalam monolog Demokrasi, Kemerdekaan, Memek, dan Setan di Goethe Haus Jakarta, tahun 2004. Pentas Zetan di Taman Ismail Marzuki (TIM), tahun 2003, memakan waktu sekitar satu jam. Begitu juga monolog Protes di GKJ, tahun 1996, berdurasi sekitar 1,5 jam.
Bagaimana Putu mengelola energi itu hingga terjaga hingga akhir pentas yang panjang? "Saya berbagi dengan penonton. Saya mengeluarkan energi kepada mereka, setelah itu saya yang menyerap balik energi dari mereka," katanya.
Serap-menyerap energi itu dalam Seratus Menit terjadi terutama saat Putu menempatkan penonton tak hanya sebagai pendengar, tetapi juga bagian dari penutur. Dia bisa sesekali melemparkan lelucon, meminta respons dari penonton, atau bercakap-cakap dengan kru panggung. Penutur, penonton, dan kru panggung tidak berjarak lagi karena semuanya dilibatkan dalam satu ruang pentas.
Provokasi
Energi Putu diandalkan untuk membangun monolog yang dramatis, yang disebutnya sebagai provokasi. Itu memang diniatkan sejak awal ketika dia memilih keluar dari kungkungan membaca atau menghafal teks cerita. Teks hanya menuntun inti cerita. Soal bagaimana kisah itu disuarakan, semuanya bertumpu pada improvisasi dalam momen yang spontan.
Monolog diolah dengan memainkan suara, bahasa, mimik wajah, gerak tubuh, dan penguasaan panggung. Dia leluasa menghidupkan suasana dan tokoh, juga membelokkan alur sehingga sedikit mengejutkan. Benda-benda di atas panggung, seperti kursi, sangkar, handuk, atau pecut, dimanfaatkan menjadi obyek atau subyek secara bergantian.
Putu membangun ketegangan cerita dengan rentetan dialog dan deskripsi yang serasa ditembakkan bertubi-tubi kepada penonton. Imajinasi dan realitas diaduk-aduk, demikian juga nama tokoh, tempat, atau rinci alur cerita. Putu lihai bergulat di situ karena dia adalah penulis cerita, dramawan, sutradara, sekaligus aktor teater.
Segala sesuatunya memang berpusat pada dirinya sendiri dan dia bisa bermain dengan asyik. Inilah pertunjukan teater satu orang.
Monolog Putu dimulai sejak dia membacakan cerpen berjudul Bom di TIM, tahun 1978, dan cerpen "S" tahun 1979. Pembacaan cerpen dengan keharusan mengikuti teks dirasa membatasi akting. Tahun 1979, dia mulai menuturkan cerpen tanpa membaca teks.
Putu mengembangkan diri sebagai aktor monolog tanpa teks dengan pendekatan drama. Produktivitasnya menulis cerpen juga diikuti kerapnya tampil bermonolog. Akhirnya itu memunculkan warna berbeda di tengah kecenderungan monolog yang lazim mengacu teks cerita.
Gairah dan ketekunan Putu pada pilihannya terasa berharga di tengah turun-naiknya semangat sebagian seniman di Tanah Air. Energinya yang besar sebenarnya bisa terus mendorongnya terus menyegarkan gaya bertutur itu. Jika tidak, energi itu bisa terjebak dalam kegetolan untuk memanjangkan durasi pentas, tetapi dengan menu cerita dan gaya bertutur yang cenderung mengulang pentas-pentas sebelumnya.
Sumber: Kompas, Minggu, 01 Juli 2007
DALAM usia 64 tahun, gelora Putu Wijaya seperti tak habis-habisnya. Pentas Seratus Menit—yang ternyata molor hingga lebih dari 140 menit—di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu dan Kamis (27-28/6) malam, menjadi ajang pemendaran energinya.
Monolog itu tampil kuat sebagai karya baru yang lebih "provokatif", yang menerabas kungkungan teks cerita.
Didukung kru Teater Mandiri, Putu membawakan lima cerpen karya sendiri, masing-masing berjudul Merdeka (ditulis tahun 1995), Poligami (2003), Raksasa (2006), Memek (2005), dan Setan (2005). Energi dan pendekatannya dalam menghidupkan kisah-kisah itu masih menarik dikomentari.
Di depan penonton yang tak lebih dari separuh kapasitas Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), panggung ditata bersahaja. Ada kursi kayu di tengah dan semacam sangkar burung bulat yang tergantung. Latar kain putih bergerak dinamis karena dipermainkan dan disorot lampu warna-warni. Putu tampil mengenakan setelan hitam-hitam dan berikat kepala.
Pentas dibuka dengan cerpen berjudul Merdeka. Diceritakan, seorang juragan tua yang menghadiahi burung-burung perkututnya dengan melepaskannya ke alam bebas. Makna kemerdekaan pun dipertanyakan dalam konteks kekinian.
Cerpen kedua, Poligami, mengisahkan perempuan yang ingin menjadi laki-laki yang dianggap menggenggam otoritas sosial lebih kuat. Namun, saat keinginan itu sempat terwujud dalam mimpi, perempuan itu justru menemukan fakta laki-laki pun kerap jadi korban perempuan, terutama saat dimabuk cinta.
Raksasa menuturkan gerombolan orang-orang yang merasa lebih kuat sehingga mau memangsa manusia lain. Memek menceritakan bocah yang penasaran untuk mengetahui kelamin perempuan. Orangtuanya kebingungan menjelaskan, sampai seorang ibu guru menunjukkannya di depan kelas. Guru itu malah dinistakan dan dibunuh. Setan mengisahkan setan yang berguru menjadi pahlawan.
Kelima cerpen itu bukanlah cerita baru, malah sebagian sudah kerap ditampilkan dalam sejumlah pertunjukan. Kisah-kisah itu kembali mempertanyakan hakikat kemerdekaan, persoalan jender, dan moralitas. Tanpa menitipkan pesan tunggal yang mutlak, monolog lebih merangsang penonton memikirkan ulang kenyataan sosial dengan kaca mata berbeda.
Sebelum di Jakarta, Seratus Menit sudah dipentaskan di Universitas Parahyangan Bandung, Universitas Petra Surabaya, dan Universitas Islam Negeri Makassar. Karya ini bakal ditampilkan lagi di Roma, Italia, dan Praha, Ceko, pada pertengahan dan akhir Juli ini.
Energi
Menonton Seratus Menit, kita lagi-lagi dihadapkan pada energi Putu Wijaya yang masih menggelora. Untuk orang seusianya, bermonolog selama sekitar 2,5 jam dengan lima cerita beruntun jelas memamerkan kekuatan fisik yang prima, apalagi dia hanya mengambil jeda sejenak antarcerita, tanpa minum.
Sebelumnya, Putu pernah tampil sekitar dua jam dalam monolog Demokrasi, Kemerdekaan, Memek, dan Setan di Goethe Haus Jakarta, tahun 2004. Pentas Zetan di Taman Ismail Marzuki (TIM), tahun 2003, memakan waktu sekitar satu jam. Begitu juga monolog Protes di GKJ, tahun 1996, berdurasi sekitar 1,5 jam.
Bagaimana Putu mengelola energi itu hingga terjaga hingga akhir pentas yang panjang? "Saya berbagi dengan penonton. Saya mengeluarkan energi kepada mereka, setelah itu saya yang menyerap balik energi dari mereka," katanya.
Serap-menyerap energi itu dalam Seratus Menit terjadi terutama saat Putu menempatkan penonton tak hanya sebagai pendengar, tetapi juga bagian dari penutur. Dia bisa sesekali melemparkan lelucon, meminta respons dari penonton, atau bercakap-cakap dengan kru panggung. Penutur, penonton, dan kru panggung tidak berjarak lagi karena semuanya dilibatkan dalam satu ruang pentas.
Provokasi
Energi Putu diandalkan untuk membangun monolog yang dramatis, yang disebutnya sebagai provokasi. Itu memang diniatkan sejak awal ketika dia memilih keluar dari kungkungan membaca atau menghafal teks cerita. Teks hanya menuntun inti cerita. Soal bagaimana kisah itu disuarakan, semuanya bertumpu pada improvisasi dalam momen yang spontan.
Monolog diolah dengan memainkan suara, bahasa, mimik wajah, gerak tubuh, dan penguasaan panggung. Dia leluasa menghidupkan suasana dan tokoh, juga membelokkan alur sehingga sedikit mengejutkan. Benda-benda di atas panggung, seperti kursi, sangkar, handuk, atau pecut, dimanfaatkan menjadi obyek atau subyek secara bergantian.
Putu membangun ketegangan cerita dengan rentetan dialog dan deskripsi yang serasa ditembakkan bertubi-tubi kepada penonton. Imajinasi dan realitas diaduk-aduk, demikian juga nama tokoh, tempat, atau rinci alur cerita. Putu lihai bergulat di situ karena dia adalah penulis cerita, dramawan, sutradara, sekaligus aktor teater.
Segala sesuatunya memang berpusat pada dirinya sendiri dan dia bisa bermain dengan asyik. Inilah pertunjukan teater satu orang.
Monolog Putu dimulai sejak dia membacakan cerpen berjudul Bom di TIM, tahun 1978, dan cerpen "S" tahun 1979. Pembacaan cerpen dengan keharusan mengikuti teks dirasa membatasi akting. Tahun 1979, dia mulai menuturkan cerpen tanpa membaca teks.
Putu mengembangkan diri sebagai aktor monolog tanpa teks dengan pendekatan drama. Produktivitasnya menulis cerpen juga diikuti kerapnya tampil bermonolog. Akhirnya itu memunculkan warna berbeda di tengah kecenderungan monolog yang lazim mengacu teks cerita.
Gairah dan ketekunan Putu pada pilihannya terasa berharga di tengah turun-naiknya semangat sebagian seniman di Tanah Air. Energinya yang besar sebenarnya bisa terus mendorongnya terus menyegarkan gaya bertutur itu. Jika tidak, energi itu bisa terjebak dalam kegetolan untuk memanjangkan durasi pentas, tetapi dengan menu cerita dan gaya bertutur yang cenderung mengulang pentas-pentas sebelumnya.
Sumber: Kompas, Minggu, 01 Juli 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)