Sunday, March 17, 2013

[Tifa] Mengutuk Koruptor lewat Simbol Celeng

-- Iwan Kurniawan

Permainan tekstur dan gaya lukisan menjadikan karya-karya Aris kaya akan estetika. Ia mampu mengabadikan celeng sebagai simbol koruptor, bukan tikus.


ALUNAN sebuah instrumen mengiringi langkah tiga perempuan setengah baya untuk melihat-lihat ke sederet karya Aris Budiono Sadjad, malam itu.

Salah satu perempuan berkebaya terlihat serius. Dia tampak mengarahkan pandangan ke sebuah karya berjudul Wayang Dewi Themis. Sejurus, sang perempuan itu pun melangkah ke deretan lukisan lainnya.

Seakan ada sebuah kegelisahan dalam melihat berbagai kasus korupsi yang kian meriap di negeri ini. Lewat pameran tunggal Perang Suci Melawan Korupsi di Bentara Budaya Jakarta, 15-23 Maret, Aris mencoba menghadirkan puluhan karya lukis terbaru yang ia kerjakan dalam dua tahun terakhir ini.

Ada ciri khas dalam setiap karya. Sang pelukis menghadirkan idiom wayang, idiom babi, dan mitologi klasik yang berpaku pada kisah Mahabharata, Ramayana, dan pekeliran Jawa.

Karya-karya yang begitu kuat dengan dunia pewayangan Jawa terlihat pada karya Punakawan Menggotong Celeng (145x145 cm). Aris memvisualisasikan Petruk, Gareng, Semar, dan Bagong yang sedang mengarak seekor celeng--babi hutan berwarna hitam dan bertaring tajam--secara jenaka.

Petruk, Gareng, dan Bagong menggotong, sedangkan Semar terlihat tengah memukul kendang. Ada pula dua perempuan lainnya sedang meniup suling dan memainkan kecrek-kecrek.

Sentuhan kelucuan tergambar jelas. Aris juga menghadirkan gradasi warna keemasan pada latar belakang objek utama (celeng). Ada gedung-gedung pencakar langit yang megah.

Bila dicermati, bayangan Punakawan dibuat tidak sesuai. Bayangan objek celeng adalah seorang manusia. Tak mengherankan, pembiasan yang sengaja disamarkan itu sebenarnya mengandung kritikan lewat permainan simbol.

Pemilihan idiom celeng sebagai bentuk untuk menggambarkan para koruptor yang sudah tidak bermoral lagi.

“Simbol babi sebagai tafsiran akan kerakusan yang paling tinggi,” ujar Aris di sela-sela pembukaan pameran, pertengahan pekan ini. Dia sepertinya sengaja menggantikan simbol koruptor yang biasa disimbolkan tikus dengan babi hutan. "Koruptor bukan tikus lagi, melainkan sudah menjadi babi liar dan ganas," jelas lelaki kelahiran Brebes, Jawa Tengah, 13 September 1960, itu.

Peralihan gaya

Kehadiran celeng sebagai simbol menjadikan karya-karya Aris semakin kuat dengan tema yang ia usung. Ada pertarungan antara kejahatan dan kebaikan yang sangat ditonjolkan dalam pameran tersebut.

Karya Hanoman Storm Fury (145x145) menghadirkan seekor kera putih, Hanoman, sedang bertarung melawan tiga ekor celeng. Hanoman dengan gesit mencekik leher salah satu celeng.

Ada yang menarik karena salah satu celeng (semacam si Togog) berkemeja, berdasi, dan bersepatu necis sedang bersembunyi di atas pohon dengan menggenggam segepok uang.

Itu seperti mengingatkan perjuangan melawan koruptor tak bisa dilakukan seketika mungkin. Butuh banyak orang jujur untuk menindak koruptor secara tegas dan adil.

Pada karya Hanoman Samurai (145x145), Aris menghadirkan gaya sadis. Dia menghadirkan tokoh Hanoman yang sedang marah dan merobek perut seekor celeng. Darah-darah mengucur lewat pedang samurai yang ia gunakan.

Karya lain yang menggelitik juga terdapat pada karya seperti Bhatara Guru Mengusir Hama Celeng (145x250 cm), Over Populasi (145x145), dan Kelompok Ronggeng Celeng ((145x250 cm).

Dalam pameran itu, terdapat dua karya timbul berupa permainan tekstur. Itu menjadi salah satu peralihan dari gaya lama Aris berupa ‘gua-gua’ yang abstrak ke gaya sekarang--mendekati ekspresionis--penuh dengan simbol.

Karya berupa tekstur itu terlihat jelas pada karya Celeng Whisperer (145x145) dan Bima Jagal Abilawa (145x145).

Kritikus seni Agus Dermawan T, dalam komentarnya, menyatakan menatap celeng-celeng dalam karya Aris bisa membuat emosi, tetapi juga bisa membuat akrab. Pasalnya, di balik ‘makian’ visual, sesungguhnya tersembunyi simbol yang umum dan dekat dengan kita.

“Celeng mengingatkan orang Indonesia kepada celengan, wadah uang untuk menyimpan receh tabungan. Di dunia Barat dikonotasikan imut-imut (piggy bank). Jadi, hubungan celengan dengan para maling berdasi memang begitu dekat,” ungkap Agus.

Keberanian Aris dalam menyimbolkan koruptor dalam bentuk celeng patut mendapatkan apresiasi. Dia seakan mau mengingatkan agar koruptor diberangus, digantung, bahkan dihukum mati.

Terlepas dari tema yang mampu menarik pengunjung karena kejenakaannya, gaya lukisan pada beberapa karya Aris masih datar, terutama permainan pada hampir setiap tarikan garis-garis yang begitu tebal dan sama. Itu membuat karya-karya tersebut terlihat sedikit membosankan. (M-1)

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 17 Maret 2013
 

No comments: