Sunday, February 03, 2013

Sejarah Sastra dalam Coretan Tangan

-- Iwan Kurniawan

DENGAN berkaca pada pengalaman sastrawan besar Indonesia, Iwan Simatupang hingga penyair Chairil Anwar, ada sebuah kreativitas yang terbungkus rapi.

Lewat secarik kertas yang mereka tanggalkan, di situ dijumpai napas yang akan terus berhembus. Meski tubuh mereka sudah terpisah dari roh, harum nama mereka akan tetap abadi di jagat kesusastraan di Tanah Air.

Melihat proses kreativitas seorang Iwan pada novel Merahnya Merah (1968) sangat menggugah. Pasalnya, tulisan asli dia masih tersimpan rapi di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Di dalam sebuah kotak kaca, tulisan tangan Iwan itu terlihat menarik dan muncul coraknya yang khas.

Di sebelahnya, ada pula tulisan tangan Achdiat Karta Mihardja berupa novel Atheis. Tulisan-tulisan tangan itu tentu memiliki nilai historis yang tinggi bagi pengarangnya sendiri atau keautentikan karya sastra. Itu bisa juga dijadikan data penting, terutama bagi peneliti atau sastrawan muda yang ingin mengkaji lebih dalam tentang arti sebuah proses kreatif.

Tidak hanya itu, ada juga duplikat surat-surat cinta Motinggo Busye di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Di halaman depan map yang sudah sedikit kusam tertulis ‘Muda kembali seperti mau hidup seribu tahun lagi’.

Surat cinta Busye itu ditujukan kepada seorang kekasih, Justine Endah Rahayu. Dalam segepok dokumen berbendel kertas merah hati, tertulis 'Pak Jassin via Aswinar, saya titipkan fotokopi surat-surat cinta saya dengan Justine Endah Rahayu. Aslinya untuk PDS (Pusat Dokumentasi Sastra). Siapa tahu Pak Jassin merasa muda kembali. Salam Motinggo Busye. 7 Juli 1988'.

Surat-surat cinta milik Busye itu cukup menebarkan nuansa romantis. Mungkin, ia sengaja mengumpulkan tulisan itu agar orang lain bisa menikmati romantisme yang ia rasakan saat jatuh cinta. Itu hanya tebakan. Hanya Busye yang mengetahuinya.

Memang, berat sekali perjuangan Jassin dalam mengumpulkan surat, naskah tulisan tangan, hingga novel yang sudah diterbitkan. Tak salah jika Jassin dianggap sebagai sastrawan yang sangat berjasa bagi perkembangan dunia kesusastraan di Tanah Air.

Berarti

Sepenggal kalimat ‘Sekali berarti sesudah itu mati’ tertulis di selembar kertas yang sudah koyak dan kekuning-kuningan. Tulisan itu hasil coretan tangan Chairil Anwar. Ada beberapa sajak utuh yang masih bisa ditemukan dan telah dilaminasi sehingga terjaga.

Beberapa sajak tulisan tangan Chairil yang masih terjaga di PDS yaitu Seboeah Kamar, Nocturna (fragmen), Persetujuan dengan Bung Karno, Djakarta Th 1946: Ada Tangankoe, Akan Terkoela Djaman, Angkatan 45, dan Kepada Penyair Bohong.

Tak sekadar menulis sajak, Chairil juga menulis sebuah surat kepada Jassin. Isinya ‘Jassin. Tidak Jassin aku tidak akan kembali ke prosa seperti aku pidato di depan angkatan baru dulu’.

Repro tulisan tangan Chairil Anwar itu seperti menegaskan posisi penting Jassin dalam dunia kesusastraan Indonesia.

Beberapa karya Chairil yang direpro ditempel di lembaran kertas cokelat plus tanggal gubahan. Misalnya, surat Chairil kepada Jasin tertanggal 10/3 1994. Direpro pada 3 Mei 1993.

Melihat naskah tulisan asli para sastrawan tersebut semakin menjadi penting. Namun, sayang pusat dokumentasi yang ada di Ibu Kota tak semegah pusat dokumentasi di Singapura atau Jepang.

Kepala Pelaksana PDS HB Jassin Ariany Isnamurti mengaku umur kertas, terutama tulisan tangan sastrawan, yang ada sangat pendek. Dibutuhkan repro sehingga dapat bertahan lebih lama lagi. Bahkan, Ariany mengaku harus membeli kertas khusus dari Jepang untuk melakukan proses ‘pendewasaan’.

Keberadaan tulisan tangan Iwan, Achdiat, Busye, hingga Chairil terasa menyejukkan dan sangat berarti untuk memotret perkembangan dunia kesusastraan di Tanah Air. Onggokan kertas itu memang memiliki nilai yang sangat tinggi. (M-1)

Sumber: Media Indonesia, Minggu, 3 Februari 2013

No comments: