Sunday, February 17, 2013

Bercermin di Buak Air

-- Dantje S Moeis

KETIKA seseorang manusia berlanglang buana, atau bermigrasi, melakukan perjalanan kemudian singgah menetap ataupun tak menetap. Banyak hal yang boleh ia tinggalkan di tempat asal, baik harta-benda maupun saudara-mara. Namun yang lazim terbawa dan tak tertanggalkan adalah perilaku budaya serta kecenderungan yang selalu melekat pada setiap perantau.

Bahkan ketika menjadi warga tumpangan atau setelah dilegitimasi menjadi warga negara di tempat baru, seseorang akan membawa serta adat budaya negeri asal, kultur, sub kultur atau ceruk kampung yang telah sekian lama memberi warna pada kehidupannya bathinnya, yang membuat ia memberikan nilai tersendiri atas pandang matanya, penciumannya, pendengarannya dan pada perilakunya.

Dampak bagi tempat kedatangan, tidaklah begitu berarti ketika budaya yang melekat pada para pendatang, masih sebatas pada diri individu-individu berjumlah kecil, namun ketika individu-individu tersebut tumbuh dan berkembang, bahkan membuat daerah kantong kelompok mukim tersendiri (enclave), maka keadaan akan menjadi lain. Terjadilah tarik-ulur pengaruh dan berproses, yang hasilnya lazim disebut dengan akulturasi budaya (termasuk bentuk kesenian yang ada di dalamnya). Secara sederhana makna akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Sebagai contoh kongkrit, banyak etnis masyarakat Indonesia yang bermukim di Malaysia dan menjadi warga negara Malaysia. Mereka mempertahankan budaya yang mereka bawa di tempatnya yang baru dan akhirnya menjadi sebuah budaya yang memperkaya khasanah budaya tempatan.

Kebudayaan hasil akulturasi, idealnya terjadi bukan dengan cara paksaan atau berpola imperialistik, itu pasti. Pola-pola imperialistik inilah yang banyak berlaku pada suatu negara atau suatu daerah (provinsi) dengan berbagai sub-kultur budaya yang kemudian, kebudayaan dari satu sub kultur menjadi dominan ketika sebahagian besar mereka berada pada ruang strategis di berbagai lini kebijakan dan kekuasaan, lalu cepat atau lambat mematikan kebudayaan dari sub kultur lainnya.

Seyogianya akulturasi budaya (kesenian) dari berbagai kelompok budaya, yang kemudian memperkaya budaya sebuah wilayah, lalu diakui dan diterima dengan manis dan senyum ramah sebagai bahagian dari budaya sebuah bangsa.

Akibat dari keterkaguman yang luar biasa, bahkan ada karya budaya pendatang diterima bulat-bulat tak sejenakpun singgah pada wilayah penyesuaian atau akulturasi dengan wilayah atau negeri kedatangan.

Dalam konteks senirupa yang menjadi bahagian dari budaya. Pengaruh akulturasi pada tatanan roh atau jiwa dari karya-karya para perupa, hingga setakat ini tidaklah tampak terlalu kental mempengaruhi para kreator kita, namun disebalik itu, modernisasi yang mereka buat dari aspek ‘tampakkan’ terlihat sangat jelas keterpengaruhan dari luar sana terutama barat yang menghasilkan karya dengan pijakan tak jelas (mengambang).

Keterpengaruhan ‘tampakkan’ (yang mereka katakan modern) ini, nyata tak lepas dari persekutuan yang kental di kalangan institusi pendidikan seni yang memilah-milah genre, era-era perubahan (periodisasi) dan lain sebagainya, yang nota-bene dominan berkiblat ke barat sana dan kemudian dijadikan  acuan, lalu ditelan bulat-bulat oleh siswa-siswa patuh yang kemudian menjadi seniman prolific namun malas mengkaji dan merealisasikan identitas diri berdasarkan kultur budaya asal menjadi karya baru, atau budaya baru (modern) berpijakan jelas.

Berpijakan jelas. Kalimat yang hanya terdiri dari dua suku kata ini, sangat penting sekali artinya bagi seorang kreator seni tentu saja. Agar tak masuk pada kategori karya seni rupa yang terbuang (tak masuk hitungan), mengutip definisi seni yang tercantum dalam Kamus Jawa Tinggi, Baoesastra Jawa (kamus ini disusun oleh WJS Poerwadarminta, penyusun Kamus Umum Bahasa Indonesia). Karya apa saja termasuk seni didalamnya, tercatat sebagai sebagai unsur dominan adalah kagunan. Istilah ini disebutkan berasal dari akar kata guna yang dasar pengertiannya adalah: faedah, kelebihan, kepandaian, kemampuan mencipta yang berkaitan dengan watak.

Kagunan didefinisikan sebagai Kapinteran. Jejasan ingkang adipeni. Wudaring pambudi, nganakake keendahan gagambaran, kidung, ngukir-ukir (Kepandaian. Hasil pekerjaan yang berfaedah. Ungkapan budi pekerti melalui keindahan pada gambar, gubahan dan ukiran).

Konsepsi itu kemungkinan besar berangkat dari premis Plato, karena dalam kebudayaan tradisional Indonesia sangat jarang ditemukan pendefinisian seni. Namun keistimewaan kagunan adalah: definisi ini mempertahankan persepsi lokal.

Dalam tata acuan kagunan, budi pekerti (pemikiran) rasa keindahan dan watak (ekspresi) adalah gubahan yang tidak mengenal hirakhi pengungkapan. Bisa tampil pada berbagai produk, fungsional mau pun non-fungsional. Kadar nilainya yang tampil pada gambaran dan hiasan terletak pada perenungan, pekerti dan kepandaian penciptanya. Bukan pada peniscayaan jenis idiomnya.

Dengan memasukkan pengertian kagunan, istilah seni rupa bukan lagi sekadar penerjemahan. Istilah ini menjadi mempunyai makna, konsepsi dan landasan estetik. Dari pengertiannya bisa disusun sebuah terminologi yang berakar pada satu dasar estetik seni rupa yaitu local content sebagai unsur unique, khas yang memberi nilai plus, plus, plus... pada sebuah karya seni, seperti ‘’Berburu Celeng’’ sebuah karya super modern dengan roh tradisi dan filosofi Jawa yang menjadi sebuah mahakarya berskala dunia, dengan penilaian yang sangat tinggi pada sebuah balai lelang yang juga berskala dunia. Nilai plus, yang menghasilkan ‘fulus’ telah diraih oleh Joko Pekik, karena ia telah berhasil membuat makhluk dunia dunia kesurupan roh tradisional Jawa yang bermakna pada kekinian. n

Dantje S Moeis, sastrawan dan perupa Riau yang eksis dalam dua bidang sekaligus. Selain melukis dan menulis dia juga ikut mengasuh Majalah Sagang serta dosen di Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR).

Sumber: Riau Pos, Minggu, 17 Februari 2013
 

No comments: