<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674</id><updated>2012-02-12T19:56:16.801-08:00</updated><category term='sejarah'/><category term='sains'/><category term='adat'/><category term='lampung'/><category term='pendidikan'/><category term='puisi'/><category term='komunitas'/><category term='udo z karzi'/><category term='bahasa'/><category term='religi'/><category term='patologi sosial'/><category term='budaya'/><category term='pers'/><category term='buku'/><category term='wisata'/><category term='lokalitas'/><category term='sosok'/><category term='polemik'/><category term='daerah'/><category term='seni'/><category term='musik'/><category term='siswa'/><category term='hak cipta'/><category term='kemanusiaan'/><category term='nuansa'/><category term='lingkungan'/><category term='seni tradisi'/><category term='sastra'/><title type='text'>cabik lunik</title><subtitle type='html'>Sekadar Mencatat Manusia dan Kemanusiaan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5249</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-7771201160907636448</id><published>2012-02-12T04:38:00.000-08:00</published><updated>2012-02-12T04:39:17.153-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Matajaman cs Sakaratol Cinta</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Tandi Skober&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM ruang awang-uwung, linglang linglung di titik terjauh peradaban yang redup maka yang tersisa adalah realitas ketuhanan dan selarik puisi layang kalimasada. Selarik puisi itu adalah ageman sekaligus jimat milik Prabu Yudhistira usai amarah Bratayudha mematikan sedulur papat kelima pancer. Yudhistira ditemani seekor anjing—beberapa mitos meyebutkan juga ditemani Sabda Palon dan Nayagenggong— meninting roh, mendaki perbukitan ketuhanan di Gunung Tengger. Gunung yang kerap ditabalkan sebagai tetenger pertanda sebuah peradaban alih warna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, dalam heneng hening dan eling Yudhistira selalu saja gagal memaknai kandungan puisi Layang Kalimasada itu. Hingga ketika pelangi melengkung jauh ke lipatan ombak laut pesisir utara Jawa, ada sosok darwis berbaju gamis ajarkan makna yang terkandung dalam surah layang kalimasada itu. Puisi itu adalah dua kalimat syahadat. Yudhistira sumringah. Selembar surga menjadi perahu langit, roh Yudhistira kembali ke pangkuan Ilahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Era abad ke-13 hingga 17, ditengarai jiwa manusia Jawa sedang bertawaf pada pusaran peradaban sinkretisme tanpa jenis kelamin. Jimat layang kalimasada itu ditakwil para pengembara ibad ar rahman—kerap juga disebut darwis atau fakir dari Turki, Yaman, Syria, Iran, dan India—bahwa hakikat berketuhanan ialah pada saat duduk tasyahdu salat yang diarahkan ke kiblat. Saat itu ada konsistensi riligi terhadap keesaan Allah swt. dan pengakuan Muhammad saw. sebagai rasul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi Layang Kalimahsada itu berputar-putar di ruang nalar saya, saat saya menghadiri Perang Puisi: Sakarotul Cinta vs Matajaman di Rumah Dunia Gol A Gong, Banten,  Sabtu, 21 Januari 2012. Pembicara yang hadir, yakni Toto S.T. Radik dan dosen Filsafat dan Teologi UIN SGD Bandung, Bambang Q Anees dengan moderator Rahmat Heldi. Dimulai sejak pukul 20.30 sampai 23.00. Sakarotul Cinta karya Matdon berhadapan dengan antologi puisi Matajaman karya Budhi Setyawan, Jumari H.S., dan Sosiawan Leak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat penyair kelahiran Solo Sosiawan Leak alirliarkan sajak-sajak kesaksian sejarah 2004-2009, yang menyelinap di lipatan nalarku adalah fatwa mata tajam ketika jaman terperangkap sakaratol cinta. Luar biasa, luar dalam! Leak mendaur ulang sastra sufistik kuno dalam kemasan yang aduhai. Ia terperangkap realitas yang diciptakan ruang waktu kekinian dan membenturkan dirinya dalam ruang mangmung yang murung. Perih keprihatinan berputar-putar di bawah cahaya cinta yang kehilangan jejak. Ia menakwil imajinasi dengan cerdas dan memosisikannya sebagai  realitas itu sendiri. "Di negeri tahi, para tahi berjubel tanpa peduli," ungkap Leak, "Mereka lahir dari lubang yang mana, entah dari pantat raja, perdana menteri, pengusaha, buruh, atau tunawisma dan psk, tak ragu bertemu dan bercengkrama dengan tahi dari dubur seniman dan mahasiswa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, saya tepuk tangan dua kali! Dua-duanya untuk Albert Einstein yang memosisikan harta paling steril yang dimiliki manusia adalah imajinasi. Dan itu hanya dimiliki para penyair. Kenapa?, "Logic will get you A to B, imagination will take you everything."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak aneh, manakala penyair Budhi Setyawan tidak hanya menjadi sesuatu juga diam-diam membiarkan imajinasi  berhembus bagai angin, memasuki ruang-ruang sunyi dan Toto S.T. Radik menengarai ia terkunci di dalam. Dalam gelap, "Ke mana mesti kutawarkan kalut, kepada siapa  bisa kuberikan pengap, di mana mesti kulepaskan hampa," ungkap Budhi dalam Di Matahari Kutemukan Gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, kali ini saya tidak tepuk tangan. Tapi saya menangis. Kenapa? Budhi telah alirkan air mata dari mata air sejarah lama ketika sastra tarekat terikat idiom-idiom lokal yang jenius. Wajah istikamah sang penyair yang merangkap menjadi pegawai Kementerian Keuangan RI ini merenda luka kultural bersifat holistik dan tidak final! Persis sama ketika para Wali Sembilan memompakan akidah di ruang sinkretisme yang tak berbentuk. Ini ndak salah lo Mas Budhi Setyawan, sebab "form in poetry is itself a trope," tulis Harold Bloom, "A figurative substitution of the as-it-were outside of a poem for what the poem is supposed to represent or be."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Leak dan Budhi bertawaf pada ruang kalbu sastrawi kejawen maka Rois 'Am Majelis Sastra Bandung K.H. Matdon sudah pun memasuki tahapan sastra ukhrawi yang memukau. Ia mengukir humanisme kinasih dalam teks-teks cinta yang teduh. Tak aneh manakala Bambang Q Anees terkesima, "Matdon lari dari realitas dengan mengarahkan kesadarannya dan kemarahannya pada perempuan. Matdon seperti mengajak untuk melarikan diri dari situasi ini kepada cinta. Tidak semua orang sanggup mencatatkan kemarahannya. Namun, seorang penyair mampu mencatatkannya dengan indah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah K.H. Matdon! Inilah yang membuat saya kerap bermimpi entah kapan bisa diterima sebagai santri sastrawi di Majelis Sastra Bandung. Jujur, K.H. Matdon mengingatkan saya pada sebuah zaman era 1970-an dan awal 1980-an. Era itu sastra ukhrawi sufistik bertebaran. Era itu risau penyair menggiring kita pada keteduhan surau. Karya sastra menjadi kenderaan dunia untuk meraih rida Allah. Kita bisa catat Malam Rumi (1982), Malam Hamzah Fansuri (1984), Malam Iqbal (1987) yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, langkah K.H. Matdon bertasbih ke arah itu. Simak, sajak-sajak K.H. Matdon merupakan proses cendekia yang cerdas. "Adalah langkah nalar di belantara kemajemukan hasrat masyarakat, sekaligus—mengutip Edward T. Hall, Beyond Culture, 1977—sejenis pergulatan “kultur tersembunyi” yang sukar ditangkap oleh orang lain, tapi mampu ternikmati hingga titik teks terakhir."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kultur tersembunyi inilah kekuatan Matdon! Ini pula yang membuat saya berdiri dan tepuk tangan berkali-kali saat K.H. Matdon membacakan puisi sambil makan durian. Sajak-sajak Matdon memiliki substansi revitalisasi estetika yang berbasis pada imajinasi cendekia. Tak pelak, Matdon layak terposisikan sebagai pilar pemberdayaan sekaligus abstraksi kontesia pemikiran yang memiliki validitas tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah ini eskapisme kepenyairan Matdon? Saya jadi ingat tuturan Abdul Hadi W.M. di sebuah koran, "Dunia tempat kita menjalani hidup ini adalah rumah bagi kita, sekaligus kuburan. Masalahnya, bagaimana kita memberikan makna, tujuan, dan dimensi spiritual terhadap hidup kita sebelum akhirnya menyongsong kematian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu, Ahad 21 Januari 2012, semut di musala Gol A. Gong, saya pijit usai salat isya. Selembar surga menjadi perahu langit membawa roh semut. Hmm, saya tertinggal di altar Sakaratol Cinta. Di sudut musala, saya baca sajak ukhrawi K.H. Matdon, "Assalamualikum, wainna insya Allah bikum lahikuun. Sedang apa kalian di ujung nisan? Di sini aku lelah mencari Indonesia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tandi Skober&lt;/span&gt;, pengarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lampung Post&lt;/span&gt;, Minggu, 12 Februari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-7771201160907636448?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/7771201160907636448/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=7771201160907636448' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/7771201160907636448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/7771201160907636448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/02/matajaman-cs-sakaratol-cinta.html' title='Matajaman cs Sakaratol Cinta'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-3466143249673000740</id><published>2012-02-12T04:28:00.001-08:00</published><updated>2012-02-12T04:35:52.653-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><title type='text'>[Buku] Tulisan Acep pada Tembok</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-GTL2vygAnD8/TzeyBe5dU2I/AAAAAAAAGdE/fHn1nxzzYO4/s1600/tulisanpadatembok.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 102px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-GTL2vygAnD8/TzeyBe5dU2I/AAAAAAAAGdE/fHn1nxzzYO4/s400/tulisanpadatembok.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5708226791259067234" /&gt;&lt;/a&gt;Judul : Tulisan pada Tembok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Acep Zamzam Noor&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit: Komodo Books&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun : Oktober 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEIRING bergulirnya waktu, bagi penyair bukan tidak mungkin, ia mengalami perubahan selera dalam menciptakan puisi. Ia seakan-akan melihat puisi—ciptaannya itu, sesuatu yang menggemaskan untuk diperlakukan kembali sebagai "anak hilang" yang telah pulang. Tulisan pada Tembok misalnya, buku kumpulan puisi yang ditulis oleh Acep Zamzam Noor di rentang tahun 1979-1989. Sebagai penyair, Acep telah mengalami situasi di mana ia kedatangan kembali "anak hilang" yang sudah lama dilepaskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal yang menarik bila kita mau mangamati apa yang menghampar di buku Tulisan pada Tembok. Hal itu menjadi terasa menonjol karena penyair sendiri seakan telah mengisyaratkan, di halaman pengantar, bahwa puisi yang akan dihadapi di antara lembar-lembar bukunya telah mengalami perubahan-perubahan. Mari sedikit kita cermati, perubahan-perubahan apa saja yang ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan judul, misalnya pada puisi Tamparlah Mukaku halaman 26, yang oleh penulis bandingkan dengan puisi yang terdapat pada buku Tamparlah Mukaku! (1982).  Puisi itu awalnya berjudul Aku MencintaiMu, Kekasih Tamparlah Mukaku! halaman 14. Bagi Acep, frasa pada judul sebelumnya adalah bentuk konfrontasi, yang dengan sengaja membawa pembaca untuk menelan puisi pada dua sikap yang satu sama lain berbeda, yakni hubungan subjek pemberi dan objek yang diberi. Subjek pemberi meletakkan diri sebagai hamba yang senantiasa lemah, mahluk ciptaan dan hakikatnya wajib mencintai, objek kedua merupakan makhluk agung, perkasa dengan segala kekuasaanya. Namun akhirnya, Acep memutuskan lebih percaya efisiensi kata, cukup hanya Tamparlah Mukaku saja, bahkan tanda seru dihilangkan. Ini merupakan pertimbangan terhadap pengolahan kata yang mulai diimami penyair.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan dalam perlakuannya, di bait-bait puisi tersebut penyair sudah tidak dibebani lagi dengan penggunaan huruf kapital dalam menunjukkan identitas Tuhan. Larik dalam bait kedua puisi tersebut penulis dapati yang asalnya jangan pergi, jangan perjelas sepi/berubah menjadi jangan pergi, jangan pertegas sepi/. Kemudian hilangnya frasa aku bego dan hadirnya kata kekasih, perubahan dari lariktunjukan padaku sebuah tempat/di mana seharusnya aku mesti Kaududukan/menjadi Tunjukan padaku sebuat rambu/ Ke mana seharusnya aku mesti menuju/. kemudian perubahan, lemparkan aku ke sebuah tempat/ di mana seharusnya aku mesti berbaring/ menjadi Ingatkan aku bahwa ada sebuah ruang/ Di mana kelak mesti berkubang/.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis sendiri merasakan adanya keinginan mempertahankan pengolahan bahasa sebagai bagian dari keketatkan penyair untuk menjadikan puisinya lebih memiliki irama dan kejernihan ungkapan. Frasa perjelas sepi memerlukan daya rasa dalam memahami, tetapi frasa pertegas sepi tidak hanya memiliki daya rasa tapi juga mengena dalam logika bahasa. Juga sama halnya terjadi pada frasa aku bego dan kata kekasih yang asalnya menghuni ujung larik terlalu banyak jalan bersimpangan di sini//aku bego. Tamparlah mukaku/menjadi Terlalu banyak jalan bersimpangan di sini//Tamparlah mukaku, kekasih/. Kehadiran penambahan kata merupakan bagian bentuk dari keniscayaan penyair untuk menjaga konsistensi suasana dalam sajak tersebut, karena kata kekasih merupakan bagian penting untuk menunjukan siapa objek dan penghilang frasa aku bego adalah hasil pertimbangan yang cermat akan efisiensi seperti yang sudah disinggung tadi. Juga kata kekasih ini kerap sekali ditambahkan Acep pada puisi-puisi lainnya, sebagai dorongan pentingnya memperjelas objek rupanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada puisi Malam Ini Ingin Kutulis Sajak juga penulis dapatkan perubahan, awalnya penyair memberi judul Malam Ini Ingin Kubangun Sajak. Kata kubangun cukup mendesak kita bila harus disandingkan dengan kata sajak, sehingga Acep kembali mempertimbangkan. Lariknya mengalami perombakan yang bila dicermati, pada dasarnya, Acep menggunakan kemampuan menyusun kembali ke suasana teratur  dan rapi dalam meletakan kata-kata. Adanya penggantian padanan, perubahan citraan bahkan penambahan yang terkesan “menambal” atas lubang di masa awal penciptaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi tidak semua puisi mengalami perubahan, pada puisi-puisi dari buku Jalan Menuju Rumahmu, misalkan puisi Manila Bay, Senja ; In Memoriam Kriapur dan Romantic Agony juga lainnya lagi sama sekali tidak “disentuh”. Acep sepertinya sudah memercayainya sebagai kodrat kelahirannya, satu sisi tidak mau ia ganggu-gugat, hingga puisi-puisi tersebut tidak mengalami perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya masih ada perubahan-perubahan yang bisa didapati dalam puisi di buku Tulisan pada Tembok yang bisa jadi merupakan bagian dari hasil jurus-jurus berpuisi sang penyair. Bahkan akan menjadi menarik bila kita bisa langsung mengecek dan mengamati buku ini baik dengan cara membandingkan dengan puisi-puisi Acep yang terdahulu atau menikmatinya utuh sebagai buku antologi tunggal—seperti umumnya. Sedangkan jika penulis harus berbicara dalam hal tema, puisi-puisi yang terhampar dalam lembar-lembar buku tersebut, dalam klaim kata pengantarnya, bahwa puisi tersebut mengusung tema religius, meskipun Acep sendiri percaya pada dasarnya semua puisi itu religius. Penulis juga mengamini hal tersebut, di samping itu kemudian mengetahui, lagi-lagi ketika Acep berpuisi–baik dalam bentuk teks maupun di luar teks, penulis rasa, Acep seorang yang gemar mempertanyakan persoalan kekekalan kenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangan yang banyak orang percayai bisa menjadi kekal, bila saja kenangan tersebut tidak dirusak dengan ingatan lain sebagai negasinya. Sebaliknya Acep mempertanyakan kembali, bagaimana kenangan bisa kekal bila harus ada ingatan lain yang dilupakan, hanya karena pertistiwa itu berlawanan. Sungguh Tulisan pada Tembok milik Acep, ketika dinikmati akan menjadi tulisan yang lain dalam hati dan pikiran pembaca. Tidak percaya? Buktikan saja! Selamat mencoba dan membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mugya Syahreza Santosa&lt;/span&gt;, penyair&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lampung Post&lt;/span&gt;, Minggu, 12 Februari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-3466143249673000740?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/3466143249673000740/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=3466143249673000740' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/3466143249673000740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/3466143249673000740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/02/buku-tulisan-acep-pada-tembok.html' title='[Buku] Tulisan Acep pada Tembok'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-GTL2vygAnD8/TzeyBe5dU2I/AAAAAAAAGdE/fHn1nxzzYO4/s72-c/tulisanpadatembok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-4589264499687831143</id><published>2012-02-12T04:15:00.000-08:00</published><updated>2012-02-12T04:18:52.204-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seni'/><title type='text'>Seniman dan Kenyataan di Depan Mata</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Hang Kafrawi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERISTIWA yang terhampar di alam ini merupakan ruh karya seni. Bukankah seniman "pembajak" yang handal menjadikan hamparan peristiwa "taman bunga" tempat pikiran manusia lainnya bermain? Di "taman bunga" itulah manusia diharapkan menafsirkan peristiwa yang terjadi dengan hati nurani, sehingga bermunculan "bunga kesadaran" untuk mengenal diri lebih dekat lagi. Inilah hakikat karya seni; dapat menjadi penyuluh bagi manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ini, seniman seakan kehilangan "ruh" untuk menukangi karya seni dengan realitas yang terjadi di sekitarnya. Maka bermunculanlah karya seni yang "menjauh" dari keadaan masyarakat. Dalam karya seni, seniman hanya bercerita tentang keluh-kesah pribadi; tersebab putus cinta (sebagai salah satu contoh). Karya seni bukan menjadi keluh kesah universal, tapi lebih banyak kegelisahan individu sang seniman. Karya seni tak menyentuh hati orang banyak, dia berjalan sendiri dengan "kelukaan" yang maha sunyi.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah peristiwa yang terjadi di negeri kita pada hari ini melebihi perasaan sensitif para seniman? Kita setiap hari disuguhi peristiwa yang mengiris hati nurani; seorang nenek mencuri kakau diganjar hukuman lima tahun penjara. Seorang anak mengambil sandal jepit "dipelasah" dengan hukum penjara. Penegak hukum dengan perkasanya menghabisi nyawa tahanan yang tergolong muda. Pihak keamanan yang tidak berpihak kepada rakyat dengan leluasa melepaskan tembakan ke rakyat kecil. Seorang ibu dituduh mencuri enam buah piring majikannya dan dihukum penjara selama 140 hari. Peristiwa perih ini, nyata adanya dan orang banyak tidak memerlukan tafsiran seperti menafsirkan karya seni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati nurani manusia mendiami negeri ini senantiasa diusik dengan peristiwa-peristiwa perih yang terus menikam keibaan. Gelombang kelukaan semakin besar menghempas ke tebing hati, namun kita tetap berdiri dengan kesedihan yang datang sesaat saja. Semakin jauh peristiwa perih itu berlalu, semakin lupa kita dengan peristiwa itu. Kita pun dihadapkan dengan peristiwa nyata yang lain pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seniman, yang katanya diberi perasaan lebih dibandingkan dengan manusia lainnya, seharusnya peristiwa nyata itu diabadikan dalam karya seni. Karya seni yang mampu terus menggoyang hati nurani manusia negeri ini untuk selalu ingat dengan peristiwa nyata itu. Dengan demikian, rasa kasih sayang sesama manusia negeri ini terus menyala, sehingga sedikit banyak karya seni dapat membakar perasaan manusia untuk mengenal akan dirinya. Punca dari segala peristiwa di muka bumi ini, berawal dari diri manusia itu sendiri. Raja Ali Haji dalam Gurindam 12, Pasal 1, bait 4 mengatakan, "Barang siapa mengenal diri, maka telah mengenal Tuhan yang bahari." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seniman melalui karya seninya, membawa kebenaran-kebenaran untuk kepentingan orang banyak. Karya seni tidak berpihak kepada siapapun, tetapi karya seni berpihak kepada kesadaran akan pentingnya kemaslahatan manusia. Dengan kesadaran bahwa manusia saling mengerti satu dengan lainnya, maka terciptalah keharmonisan, keseimbangan hidup manusia. Nilai keindahan dalam karya seni adalah ketika karya seni itu memiliki faedah atau manfaat bagi setiap manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, karya seni mengambil posisi sebagai penetral keadaan. Karya seni tidak berpihak pada kaum tertindas dan tidak juga menyebelah kepada yang menindas. Bagi kaum tertindas, karya seni menjadi pembangkit semangat untuk tetap berusaha lepas dari penindasan. Menyadarkan diri bahwa ketertindasan harus tetap dilawan; hidup adalah perjuangan yang tak pernah usai. Karya seni memberikan cahaya ke hati tertindas sementara bagi kaum penindas karya seni dapat dijadikan penunjuk jalan untuk tidak melakukan penindasan. Bukankah manusia diciptakan oleh Sang Maha Pencipta sama di mata-Nya? Karya sastra membongkar kesadaran kebersamaan itu.       &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, realitas yang terjadi di negeri ini, sepahit apapun, sepilu bagaimanapun, tetap menjadi sumber seniman untuk ikut andil menciptakan "kebahagiaan" bersama melalui karya seni. Seniman tidak harus lari dari kenyataan yang sedang melanda negeri ini. Seniman ikut bertanggung jawab mengubah keburukan menjadi kebaikan, bukan sebaliknya, seniman menambah "kekacuan" dengan menanam kebencian antar manusia yang mendiami negeri ini. Di tangan seniman diharapkan realitas yang melanda negeri ini menjadi pelajaran berharga bagi kelangsungan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan zamannya seniman berlagak dengan karya yang hanya mempopulerkan dirinya sendiri; menjauhkan karya mereka dengan keadaan yang terjadi di negeri ini. Agar mereka (seniman) terlihat hebat, beramai-ramailah seniman mengokah realitas negeri asing menjadi sumber mereka. Para seniman pun membusungkan dada bahwa mereka pengusung globalisasi dengan menyerap kebudayaan asing. Mereka merasa tidak modern apabila gagasan datang dari kenyataan yang terjadi di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah permasalahan yang dihadapi dunia seni di negeri ini. Selalu menganggap kehidupan nyata yang berhubungan dengan orang banyak tidak penting lagi dirangkai menjadi karya seni yang berkualitas. Padahal seniman selalu ditunggu untuk menghasilkan karya yang mampu "membaca" peristiwa yang terjadi dengan mengedepankan kejernihan. Dari kejernihan inilah, manusia meneguk kesegaran untuk berbuat lebih baik lagi. Kalaulah dapat diibaratkan, karya seni itu seperti baut penting di sebuah mesin, tanpa baut tersebut, mesin tidak bisa dihidupkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja disebabkan faktor globalisasi membuat seniman "membanting setir"; seniman harus menghasilkan karya seni yang instan dan berbau pop. Mereka tak mampu bertahan dari godaan kaum kapitalisme yang hanya mengedepankan keuntungan. Seniman juga dipaksa untuk menghasilkan karya seni hanya untuk hiburan, tanpa memikirkan makna yang lebih dalam. Karya seni diukur seberapa banyak orang senang dan berapa duit yang didapatkan dari karya seni itu. Masalah sosial dikesampingkan karena tidak menarik untuk dijual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan "mengharamkan" budaya populer, tetapi kemaslahatan orang ramai perlu dikedepankan. Apalah arti sebuah karya seni apabila hanya sesaat karya seni itu berarti. Seharusnya karya seni itu bertahan dari segala waktu, berbuah di sembarang musim, bermanfaat kapan saja. Inilah karya seni seharusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali pada peristiwa yang terjadi di negeri ini, memang terasa berat rasanya seniman mengokah realitas tersebut menjadi karya seni yang mampu melantas ke hati setiap orang. Namun demikian, bukan berarti seniman harus menyerah dan menyelewengkan hati nurani dengan membiarkan realitas itu terkapar tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang perlu kerja keras bagi seniman membungkus peristiwa pilu hari ini menjadi karya seni. Mari kita lawan godaan kapitalisme dengan mengajak mereka berpikir bahwa kesenian bukan hanya mementingkan hiburan, tapi lebih dari itu, kesenian menjadi kekuatan menjunjung kemanusiaan lebih tinggi lagi. Peristiwa yang terjadi di negeri ini, memang memilukan, kita perlu meresponnya dengan karya seni, sehingga perasaan halus setiap orang tersentuh untuk tidak berbuat semena-mena lagi. Maju terus untuk berkarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hang Kafrawi,&lt;/span&gt; nama pena dari Muhammad Kafrawi seorang sastrawan Riau. Selain bergelut di dunia sastra, ia juga aktif membina teater di Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR). Bermastautin di Pekanbaru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Riau Pos&lt;/span&gt;, Minggu, 12 Februari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-4589264499687831143?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/4589264499687831143/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=4589264499687831143' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/4589264499687831143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/4589264499687831143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/02/seniman-dan-kenyataan-di-depan-mata.html' title='Seniman dan Kenyataan di Depan Mata'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-3689845821224312236</id><published>2012-02-12T04:10:00.001-08:00</published><updated>2012-02-12T04:10:51.842-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Memahami Sastra Islam</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;--Jumardi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SASTRA dalam Islam (Arab) disebut dengan adab. Dalam keseharian, kita bisa mengaitkannya dengan kesopanan, kesantunan, atau dengan istilah kelembutan kata. Sudah tentu untuk menilai sikap dan tingkah laku seseorang kita melihatnya dengan adab. Baik dengan melihat kesopanannya, kesantunannya, atau dengan kelembutan tutur katanya saat bicara. Namun defenisi adab di dalam sastra jauh lebih besar daripada itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Shauqi Dhaif, adab (sastra) adalah karya yang dapat membentuk ke arah kesempurnaan kemanusiaan, yang di dalamnya terkandung ciri estetika dan kebenaran. Dalam Islam, sastra haruslah mendorong hasrat masyarakat untuk menjadi pembaca yang baik. Masyarakatlah yang menjadi target utama pemahaman kesusastraan. Jadi sastra Islam lebih mengarah pada pembentukan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi seni dan sastra Islam menurut Said Hawa dalam bukunya Al Islam, adalah seni/sastra yang berlandaskan kepada akhlak Islam. Senada dengan Said Hawa, menurut Ismail Raja Al Faruqi, seni Islam adalah seni infiniti (seni ketakterhinggaan), di mana semua bentuk kesenian diakomodir pada keyakinan akan Allah. Ia juga menyatakan bahwa ekspresi dan ajaran Alquran merupakan bahan materi terpenting bagi ikonografi seni/sastra Islam. Dengan demikian seni Islam dapat dikatakan sebagai seni Qurani atau seni Rabbani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harun Daud berkata, “Tujuan kesusastraan adalah untuk mendidik dan membantu manusia ke arah pencapaian ilmu yang menyelamatkan. Bukan untuk membentuk makna spekulatif. Sebuah karya sastra atau karya seni dalam Islam adalah alat atau bantuan dan bukannya pengakhiran realita itu sendiri.” Sementara menurut Shanon Ahmad bersastra dalam Islam haruslah bertonggakkan Islam, yaitu sama seperti beribadah untuk dan karena Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Manifes Kebudayaan dan Kesenian Islam 13 Desember 1963 di Jakarta —yang dideklarasikan untuk merespon Lekra dan Manifes Kebudayaan 17 Agustus 1963— para seniman, budayawan muslim beserta para ulama yang dimotori Djamaludin Malik, menyatakan bahwa yang disebut dengan kebudayaan, kesenian (kesusastraan) Islam ialah manifestasi dari rasa, karsa cipta dan karya manusia muslim dalam mengabdi kepada Allah untuk kehidupan umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seni Islam adalah seni karena Allah untuk umat manusia yang dihasilkan oleh para seniman muslim bertolak dari ajaran wahyu Illahi dan fitrah insani.&lt;br /&gt;Setelah kita memahami definisi maupun tujuan dari sastra Islam, ada hal yang perlu kita jawab yaitu apakah yang akan menciptakan karya sastra Islam harus orang Islam? Atau bisa saja orang non muslim berkarya yang karya sastra mereka berdasarkan adab Islam, lalu apakah sastra mereka dapat dikatakan sebagai sastra Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu memahami maksud dari definisi di atas, bahwa yang dikatakan sastra Islam adalah sebuah karya yang berlandaskan adab islami yang orang yang membuat karya sastra itupun harus orang Islam. Jadi jika orang non muslim berkarya dengan ciri karya sastra Islam bukanlah disebut sastra Islam. Sastra itu bisa disebut dengan sastra yang bersumberkan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk memudahkan kita untuk memahami maksud sebenarnya dari sastra Islam. Berikut beberapa ciri sastra Islam. Yaitu: (1) Jika sebuah cerpen, puisi atau novel Islam, misalnya, tidak melalaikan pembaca atau penulisnya untuk mengingat Allah. (2) ketika membacanya akan diingatkan kepada ayat-ayat kauliyah maupun kauniyah-Nya. (3) Ada unsur amar maruf nahi munkar dengan tidak menggurui. (4) Penuh dengan ibrah dan hikmah. (5) Ia kerap bercerita tentang cinta; baik cinta kepada Allah, Rasulullah, kedua orangtua, perjuangan di jalan-Nya. Cinta pada kaum muslimin dan semua mahluk Allah: sesama manusia, hewan, tumbuhan, alam raya dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri lainnya, karya sastra Islam tidak akan pernah mendeskripsikan hubungan badani, kemolekan tubuh perempuan atau betapa ‘indahnya’ kemaksiatan, secara vulgar dengan mengatasnamakan seni atau aliran sastra apapun. Ia juga tak membawa kita pada tasyabbuh bi’l kuffar, apalagi jenjang kemusyrikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra Islam akan lahir dari mereka yang memiliki ruhiyah Islam yang kuat dan wawasan keislaman yang luas. Penilaian apakah karya tersebut dapat disebut sastra Islam atau tidak bukan dilihat pada karya semata, namun juga dari pribadi pengarang, proses pembuatannya hingga dampaknya pada masyarakat. Sastra Islam bagi pengarangnya adalah suatu pengabdian yang harus dipertanggungjawabkan pada Allah dan umat. Sastra dalam kehidupan seorang muslim atau muslimah pengarang adalah bagian dari ibadah. Artinya tidak ada dari hasil karya mereka diniatkan selain untuk ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah karya tak bisa dikatakan sebagai sastra Islam hanya karena mengambil setting (latar belakang) pesantren, masjid, mengetengahkan tokoh ulama dan menampilkan ritual-ritual keagamaan atau unsur sufistik. Sastra Islam lebih dari sekadar slogan atau simbol. Sang pengarang, kehidupan, Islam dan karyanya menjelma satu kesatuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sastrawan Islam, berkarya tidak hanya sekadar berkarya, untuk menghasilkan sebuah kesenian yang indah, kata-kata yang mengagumkan. Tetapi mereka jauh lebih besar dari itu. Mereka berkarya atas dasar iman kepada Allah dengan tujuan dari karyanya itu dapat menjadikan dirinya dekat kepada Allah dan orang yang membaca karya-karyanya bisa ikut juga menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mewujudkan itu semua tentunya sebelum berkarya haruslah memperbaiki pribadi terlebih dahulu secara matang sampai benar-benar memahami agama Islam secara kaffah. Sehingga apapun yang tertulis atau hasil karyanya benar-benar membawa kebaikan dunia dan akhirat.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Jumardi&lt;/span&gt;, Mahasiswa Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadits UIN Suska Riau Co Kaderisasi FLP Pekanbaru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Riau Pos&lt;/span&gt;, Minggu, 12 Februari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-3689845821224312236?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/3689845821224312236/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=3689845821224312236' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/3689845821224312236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/3689845821224312236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/02/memahami-sastra-islam.html' title='Memahami Sastra Islam'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-3531036613921517522</id><published>2012-02-12T04:06:00.000-08:00</published><updated>2012-02-12T04:08:17.669-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosok'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Jejak: Soeman Hs, Bapak Cerpen Indonesia</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Penulis? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;SOEMAN Hs atau Soeman Hasibuan adalah Sastrawan Melayu Riau asal Tapanuli yang digolongkan sebagai sastrawan dari Angkatan Balai Pustaka. Beliau dilahirkan di Desa Bantantua, Bengkalis, Riau, pada 4 April 1904 dari pasangan Wahid atau dikenal Lebai Wahid Hasibuan dan Tarumun Pulungan, yang berasal dari Desa Hutanopan, Kecamatan Barumun, Tapanuli Selatan. Dalam usia tujuh tahun tepatnya pada 1912, Soeman Hs memulai pelajarannya di Sekolah Melayu Gouevernement Inlandsch School (GIS) yaitu sekolah sederajat SD (Sekolah Dasar) dan menamatkannya pada 1918.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, beliau mengikuti ujian masuk Normal Cursus (Sekolah Calon Guru) di Medan. Dari 24 peserta, Soeman Hs yang menempati juara ke-4 dari 6 orang yang diterima. Beliau dapat bantuan beasiswa dari pemerintah Belanda sebesar Rp4 perbulan selama menempuh pendidikan di Sekolah Calon Guru tersebut. Pada 1920, menyelesaikan pendidikannya di Normal Cursus, kemudian melanjutkan ke Normal School (sekolah guru yang sebenarnya) di Langsa, Aceh Timur dan tamat pada 1923.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soeman Hs kembali ke Bantantua begitu menyelesaikan pendidikannya di Normal School Langsa. Kemudian setelah tiga bulan di Batantua, ia diangkat menjadi guru Bahasa Indonesia di HIS (Holland Inlandsch School yaitu Sekolah Belanda) di Siak Sri Indrapura. Setelah 7 tahun mengabdi menjadi guru, pada 1930, diangkat menjadi Kepala Sekolah Melayu dan Penilik Sekolah di Pasir Pengaraian. Menjelang Kemerdekaan RI 1945, beliau kemudian ditunjuk menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) di Pasir Pengaraian. Pada 1946 semasa masih menjabat Ketua KNIP, beliau diangkat menjadi anggota DPR di Pekanbaru Riau. Kemudian 1948, ketika Jogjakarta diduduki Belanda, ia diangkat menjadi KPG yaitu Komandan Pangkalan Gurilla Rokan Kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala Jawatan Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan Kabupaten Kampar, Pekanbaru dijabat beliau sejak 1950 yang berakhir 1960. Baru saja memasuki masa pensiun, 1961, Soeman Hs diangkat menjadi anggota Badan Pemerintahan Harian (BPH) merangkap kepala Bagian Keuangan di Kantor Gubernur Riau yang semasa itu dijabat Gubernur Riau, Kaharuddin Nasution. Soeman masih menjabat Ketua Umum Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Daerah Riau dan Ketua Yayasan Setia Dharma sampai 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika masih belajar di Sekolah Melayu, Soeman Hs mulai menggemari sastra. Sebagai usaha mengembangkan bakatnya dalam bidang sastra, beliau sering mengikuti pembicaraan ayahnya dengan para saudagar yang datang ke rumahnya tentang kehidupan di Singapura. Dari pembicaraan tersebut, ia kemudian banyak berkhayal dan memperoleh banyak inspirasi, serta beberapa bahan cerita. Selain itu, ia juga banyak memperoleh inspirasi dengan banyak membaca buku di perpustakaan. Dua buku yang diminati ketika itu, Siti Nurbaya karya Marah Rusli dan Teman Duduk karya M Kasim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepengarangan Soeman Hs juga muncul berkat dorongan dari gurunya, M Kasim, yang sering menceritakan pengalamannya menulis. Tulisan-tulisan Soeman telah dimuat dalam majalah ibukota maupun di beberapa harian lainnya. Di harian Indonesia Raya, ia tercatat sebagai penulis tetap, dan di majalah Harmonis, Jakarta (1977-1978) ia khusus mengisi kolom ‘’Menyelami Bahasa Indonesia’’. Di antara tulisannya yang pernah dimuat dalam kolom tersebut, yaitu: ‘’Senyum dan Tawa’’, ‘’Kalau Hari Panas Lupa Kacang Akan Kulitnya’’, ‘’Marilah Kita Bersikap Hidup Sederhana’’ dan lain-lain. Selain itu, ia juga pernah menjadi pengasuh ruang siaran ‘’Pembinaan Bahasa Indonesia’’ di Stasiun RRI Pekanbaru yang ditayangkan dua kali seminggu. Pada 1972, ia sempat menerbitkan sebuah majalah anak-anak bernama Nenek Moyang, meski hanya beberapa kali terbit karena kesulitan dana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soeman Hs wafat pada Sabtu 8 Mei 1999 di rumahnya, Jalan Tangkubanperahu, Pekanbaru dalam usia 95 tahun. Ia meninggalkan seorang istri bernama Siti Hasnah dan 9 anak serta sejumlah cucu dan cicit. Pemikiran Soeman HS, berkaitan dengan dunia kesusastraan yakni hakikat kesusastraan adalah untuk masyarakat. Karena bagaimanapun baiknya sebuah karya puisi, kalau sukar dimengerti akan menjadikan karya tersebut tidak dekat dengan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam menulis sebuah novel, ia selalu memakai nama-nama asing dalam setiap novelnya, karena ia ingin mendobrak adat yang kaku. Untuk menggambarkan hal ini, sengaja ia pilih tokoh orang asing agar lebih mudah diterima jika melawan adat. Ini adalah salah satu strategi kepengarangan, agar cerita dalam roman tersebut bisa diterima. Selain itu, judul pada setiap karya juga harus menarik. Sebagai contoh, ‘’Percobaan Setia’’. Menurutnya, judul ini menarik, karena seseorang yang sudah setia masih terus dicoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam karya ‘’Kasih Tak Terlerai’’, ia tampak lebih banyak berbicara langsung dari pada memberi hidup pada tokoh-tokohnya. Dengan gaya tersebut, terasa kepada pembaca suatu pemaksaan kepada tokoh-tokohnya untuk hidup. Dengan demikian memaksa pula terhadap pembaca untuk mempercayai segala gerak mereka. Karya-karyanya baik roman maupun cerpen antara lain Kasih Tak Terlerai, Jakarta: Balai Pustaka, 1930, Percobaan Setia, Jakarta: Balai Pustaka, 1931. Mencari Pencuri Anak Perawan, Jakarta: Balai Pustaka, 1932, Kasih Tersesat, Jakarta: Balai Pustaka, 1932. Kawan Bergelut (kumpulan cerpen), Jakarta: Balai Pustaka, 1938 serta Tebusan Darah, Medan: Dunia Pengalaman, 1939. Sedang penghargaan untuk Soeman HS atas jasa-jasanya sebagai pahlawan pembela Tanah Air, dianugerahi sebuah Penghargaan Tertinggi dari Komandan Daerah Militer Riau Utara (KDMRU) pada 1949. Nama beliau juga dijadikan nama bagi Gedung Perpustakaan Wilayah Provinsi Riau. Ia juga dianugerahi sebuah penghargaan bernama Anugerah Sagang Kencana oleh Yayasan Sagang, 2010 lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Riau Pos&lt;/span&gt;, Minggu, 12 Februari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-3531036613921517522?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/3531036613921517522/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=3531036613921517522' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/3531036613921517522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/3531036613921517522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/02/jejak-soeman-hs-bapak-cerpen-indonesia.html' title='Jejak: Soeman Hs, Bapak Cerpen Indonesia'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-3976998697556506798</id><published>2012-02-11T03:14:00.000-08:00</published><updated>2012-02-11T03:15:53.947-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosok'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Ketika Pramoedya Ananta Toer Menggugat</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Linda Sarmili&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SASTRA kerap bermusuhan dengan politik ketika penguasa bertindak represif. Pelarangan buku-buku Pramoedya Ananta Toer berakibat fatal. Nyaris langka kajian tentang karya-karya Pram yang dilakukan peneliti Indonesia. Kajian tentang Pram justru banyak dilakukan parapeneliti asing di berbagai universitas di luar negeri. Buku Pramoedya Menggugat: Melacak Jejak Indonesia (Gramedia, Desember 2011) karya Prof Koh Young Hun adalah salah satu contoh. "Inilah kajian paling lengkap atas karya-karya Pramoedya AnantaToer," ujar Maman S. Mahayana yang bertindak sebagai editor buku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dewan Kesenian Jakarta bekerjasama dengan Penerbit Gramedia Pustaka Utama baru-baru ini menyelenggarakan peluncuran dan diskusi buku itu, Kamis, 19 Januari 2011, pukul 15.00 17.00 bertempat di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Bertindak sebagai pembicara adalah penulisnya sendiri, Prof Koh Young Hun, pengajar di Hankuk University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan. Tampil sebagai pembahas, Agus R Sarjono, redaktur majalah sastra Horison. Acara tersebut dimoderatori kritikus sastra, Maman S Mahayana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam kondisi karut-marut kehidupan bangsa ini, pemikiran Pram, seperti yang diteroka oleh Koh Young Hun dalam kajiannya, kiranya relevan dan kontekstual untuk mengembalikan Indonesia sebagai negara besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Anda sudah mengenali sosok Pramudya Ananta Toer? Dia lahir di Blora, Jateng, 6 Februari 1925. Secara luas dia dianggap sebagai salah satu pengarang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pramoedya telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ayahnya seorang guru, ibunya berdagang nasi. Nama asli Pramoedya adalah Pramoedya Ananta Mastoer, sebagaimana tertulis dalam koleksi cerita pendek semi-otobiografinya berjudul Cerita Dari Blora. Karena nama keluarga Mastoer (nama ayahnya) dirasakan terlalu aristokratik, ia menghilangkan awalan Jawa "Mas" dari nama tersebut dan menggunakan "Toer" sebagai nama keluarganya. Pramoedya menempuh pendidikan pada Sekolah Kejuruan Radio di Surabaya, dan kemudian bekerja sebagai juru ketik untuk surat kabar Jepang di Jakarta selama pendudukan Jepang di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pada masa kemerdekaan Indonesia, ia mengikuti kelompok militer di Jawa dan kerap ditempatkan di Jakarta pada akhir perang kemerdekaan. Ia menulis cerpen serta buku di sepanjang karier militernya dan ketika dipenjara Belanda di Jakarta pada 1948 dan 1949. Pada 1950-an ia tinggal di Belanda sebagai bagian dari program pertukaran budaya, dan ketika kembali ke Indonesia ia menjadi anggota Lekra, salah satu organisasi sayap kiri di Indonesia. Gaya penulisannya berubah selama masa itu, sebagaimana yang ditunjukkan dalam karyanya Korupsi, fiksi kritik pada pamong praja yang jatuh di atas perangkap korupsi. Hal ini menciptakan friksi antara dia dan pemerintahan Soekarno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Selain pernah ditahan selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama, selama masa Orde Baru Pramoedya merasakan 14 tahun ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ia dilarang menulis selama masa penahanannya di Pulau Buru, namun tetap mengatur untuk menulis serial karya terkenalnya yang berjudul Bumi Manusia, serial 4 kronik novel semi-fiksi sejarah Indonesia. Tokoh utamanya Minke, bangsawan kecil Jawa, dicerminkan pada pengalaman RM Tirto Adisuryo seorang tokoh pergerakkan zaman kolonial yang mendirikan organisasi Sarekat Priyayi dan diakui oleh Pramoedya sebagai organisasi nasional pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pramoedya dibebaskan dari tahanan pada 21 Desember 1979 dan mendapatkan surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat G30S/PKI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ketika Pramoedya mendapatkan Ramon Magsaysay Award, 1995, diberitakan sebanyak 26 tokoh sastra Indonesia menulis surat protes ke yayasan Ramon Magsaysay. Mereka tidak setuju, Pramoedya yang dituding sebagai "jubir sekaligus algojo Lekra paling galak, menghantam, menggasak, membantai dan mengganyang" pada masa demokrasi terpimpin, tidak pantas diberikan hadiah dan menuntut pencabutan penghargaan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tetapi beberapa hari kemudian, Taufik Ismail sebagai pemrakarsa, meralat pemberitaan itu. Katanya, bukan menuntut pencabutan, tetapi mengingatkan siapa Pramoedya itu. Katanya, banyak orang tidak mengetahui reputasi gelap Pram dulu. Dan pemberian penghargaan Magsaysay dikatakan sebagai suatu kecerobohan. Mochtar Lubis malah mengancam mengembalikan hadiah Magsaysay yang dianugerahkan padanya di tahun 1958, jika Pram tetap akan dianugerahkan hadiah yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sementara Pramoedya sendiri menilai segala tulisan dan pidatonya pada masa pra-1965 itu tidak lebih dari golongan polemik biasa yang boleh diikuti siapa saja. Dia menyangkal terlibat dalam pelbagai aksi yang kelewat jauh. Dia juga merasa difitnah, ketika dituduh ikut membakar buku segala. Bahkan dia menyarankan agar perkaranya dibawa ke pengadilan saja jika memang materi cukup. Kalau tidak cukup, bawa ke forum terbuka, katanya, tetapi dengan ketentuan saya boleh menjawab dan membela diri, tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pramoedya telah menulis banyak kolom dan artikel pendek yang mengkritik pemerintahan Indonesia terkini. Ia menulis buku Perawan Remaja dalam Cengkraman Militer, dokumentasi yang ditulis dalam gaya menyedihkan para wanita Jawa yang dipaksa menjadi wanita penghibur selama masa pendudukan Jepang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Semuanya dibawa ke Pulau Buru di mana mereka mengalami kekerasan seksual, mengakhiri tinggal di sana daripada kembali ke Jawa. Pramoedya membuat perkenalannya saat ia sendiri merupakan tahanan politik di Pulau Buru selama masa 1970-an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Banyak dari tulisannya menyentuh tema interaksi antarbudaya; antara Belanda, kerajaan Jawa, orang Jawa secara umum, dan Tionghoa. Banyak dari tulisannya juga semi-otobiografi, di mana ia menggambar pengalamannya sendiri. Ia terus aktif sebagai penulis dan kolumnis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ia memperoleh Ramon Magsaysay Award untuk Jurnalisme, Sastra, dan Seni Komunikasi Kreatif 1995. Ia juga telah dipertimbangkan untuk Hadiah Nobel Sastra. Ia juga memenangkan Hadiah Budaya Asia Fukuoka XI 2000 dan pada 2004 Norwegian Authors' Union Award untuk sumbangannya pada sastra dunia. Ia menyelesaikan perjalanan ke Amerika Utara pada 1999 dan memperoleh penghargaan dari Universitas Michigan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sampai akhir hayatnya ia aktif menulis, walaupun kesehatannya telah menurun akibat usianya yang lanjut dan kegemarannya merokok. Pramoedya wafat pada 30 April 2006 pukul 08.55 dalam usia 81 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suara Karya&lt;/span&gt;, Sabtu, 11 Februari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-3976998697556506798?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/3976998697556506798/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=3976998697556506798' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/3976998697556506798'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/3976998697556506798'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/02/ketika-pramoedya-ananta-toer-menggugat.html' title='Ketika Pramoedya Ananta Toer Menggugat'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-4649324030856896022</id><published>2012-02-08T03:27:00.000-08:00</published><updated>2012-02-11T03:28:28.905-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Dikti di Seberang Harapan?</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;--- Franz Magnis-Suseno SJ&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA tanggal 27 Januari lalu Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengirim surat edaran kepada semua perguruan tinggi di Indonesia. Isinya mengejutkan banyak orang, khususnya pihak-pihak terkait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah mengeluhkan bahwa keluaran (output) karya ilmiah perguruan tinggi Indonesia kalah jauh dibandingkan dengan Malaysia, diberikan ketentuan: mulai Agustus 2012, untuk bisa lulus sarjana, harus dihasilkan makalah yang terbit di sebuah jurnal ilmiah, untuk lulus magister makalah harus terbit dalam jurnal ilmiah nasional, dan untuk mau menjadi doktor harus di jurnal internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astagafirullah! Itukah obat bagi anemia output ilmiah bangsa Indonesia? Muncul dua pertanyaan. Pertama, dapatkah rencana Pak Dirjen direalisasikan? Kedua, kalau dapat direalisasikan, siapa yang akan membaca ribuan makalah setiap bulan di jurnal-jurnal itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan pertama&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengikuti beberapa rekan (di internet), mari kita berhitung. Andai makalah calon lulusan S-1 sepanjang 10 halaman—makalah S-2 dan S-3 15 halaman—dan kalau setiap tahun rata-rata ada 100.000 calon lulusan S-1, perlu disediakan sejuta halaman ”jurnal ilmiah”. Kalau satu jurnal rata-rata 150 halaman dan terbit 12 kali (!) setahun, yang harus disediakan adalah sekitar 555 ”jurnal ilmiah” baru. Namun, dengan kemungkinan ”jurnal ilmiah” online, pelaksanaan fisik bisa diatur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain hal jurnal ”ilmiah nasional” yang diharuskan bagi para calon magister dan tidak bisa hanya online. Andai ada 3.000 calon magister per tahun, perlu disediakan 45.000 helai, jadi 25 jurnal (terbit 12 kali per tahun) baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah ini pun masih bisa dipecahkan. Biarlah perguruan tinggi (PT) menerbitkan jurnal ”ilmiah nasional”, biayanya ditagih ke mahasiswa yang mau memublikasikan makalahnya (seperti penerbit Brill di Leiden, Belanda, yang spesialisasinya memublikasikan disertasi-disertasi yang tidak menemukan penerbit bermutu asal penulis membayar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban para calon doktor untuk mendaratkan makalah di jurnal internasional lebih sulit. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) luput memerhatikan sesuatu: antara lingkungan akademik kita dan lingkungan akademik luar negeri (LN) tidak ”nyangkut”. Kemungkinan besar tulisan orang kita yang an sich cukup ilmiah, tetapi dari segi diskursus ilmiah di LN tetap kelihatan polos, di luar konteks, ”ketinggalan zaman”. Saya sendiri selama 43 tahun sebagai dosen filsafat memang bisa memublikasikan cukup banyak tulisan di LN, tetapi hanya dua dalam majalah filsafat kelas I! Memang, barangkali bisa ditemukan sebuah jurnal obscure di India yang bersedia memuat karangan-karangan calon lulusan S-3 kita. Namun, apa itu yang dimaksud Ditjen Dikti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mensyaratkan publikasi di LN bagi calon lulusan S-3, begitu pula dalam rangka kenaikan pangkat akademis dan sertifikasi, menurut saya betul-betul salah kaprah. Suatu gagasan yang lahir dari otak para birokrat yang tidak tahu realitas akademik, tetapi bikin susah orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, saya punya jalan keluar, jalan cemerlang! Begini! Katakanlah setiap tahun ada 300 calon lulusan S-3, ditambah 1.000 dosen yang mengurus rangka kenaikan pangkat/sertifikasi. Jadi, setiap tahun 1.300 makalah, 19.500 helai, perlu dipublikasi di LN. Nah, biar Dikti membuka perwakilan di Timor Leste. Di sana, Dikti mendirikan 10 jurnal ilmiah saja (terbit 12 kali setahun, pembiayaan ditagih dari para penulis). Masalah pun terpecahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Solusi Timor Leste itu mempunyai tiga keuntungan: para calon doktor/dosen kita terjamin publikasinya di LN, Dikti bisa menaikkan pendapatan sekian karyawannya (mereka yang terlibat dalam produksi 10 jurnal itu), dan Indonesia memberi sumbangan kepada perekonomian Timor Leste. Cukup genial, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan kedua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, surat edaran Pak Dirjen bisa saja dilaksanakan. Hanya, ada dua masalah. Pertama, siapa yang mau membaca ribuan makalah setiap bulan itu yang ditulis oleh mahasiswa yang belum lulus dan yang banyak akan lulus dengan nilai B atau C? Apa Dikti bisa mengecek 1.450.000 halaman makalah-makalah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dan itu masalah kedua, kalau mahasiswa tahu bahwa makalahnya tidak mungkin dibaca dengan sungguh-sungguh, mereka tidak punya motivasi apa pun untuk menulis sesuatu yang bermutu. Jadi, mereka akan menulis ”sampah”. Dengan lain kata, surat edaran Dirjen Dikti ini adalah sarana mujarab untuk mengajak para calon akademisi kita untuk memproduksi sampah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kebijakan Dikti justru bisa bikin celaka. Alih-alih mendorong mutu output ilmiah perguruan tinggi kita, Dikti malah mengharuskan kebijakan yang hasilnya adalah menciptakan budaya asal-asalan, yang lebih buruk daripada yang ada sekarang: budaya asal tulis 10 halaman, budaya asal tulisan itu bisa ditampung di jurnal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, maaf, dalam hal ini Dikti salah besar, yakni mau meningkatkan mutu dengan paksaan dan ancaman. Bahkan, dengan cara yang—kalau mau dilaksanakan menurut maksud Pak Dirjen—mustahil terlaksana. Hal yang justru terlupakan: hanya ada satu dasar bagaimana mutu intelektual bisa mencuat, yakni motivasi di batin para dosen dan mahasiswa. Ironisnya, motivasi itu justru akan dibunuh dengan surat edaran baru itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masihkah ada harapan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya masalah yang mendasari defisit naluri peneliti-ilmiah di kalangan mahasiswa (dan dosen) kita sudah sering diangkat, tetapi barangkali belum di Dikti: pola pendidikan kita, mulai dari SD, harus diubah. Dari pendekatan yang memperlakukan anak-anak sebagai obyek pasif yang kelakuannya dimanipulasi dan otaknya diisi oleh guru/sekolah/Kemdikbud ke pendekatan yang memandang anak (anak kecil!) sebagai subyek yang dihormati identitasnya. Oleh karena itu, perlu dirangsang semangatnya untuk ingin tahu, untuk mencari yang baru, berani bertanya, bertanya ”mengapa”, dan untuk berani mengemukakan pendapat sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kreativitasnya dirangsang. Mereka yang melawan tren dipuji, perbedaan pendapat dihormati, bahkan dihargai oleh guru. Anak juga dirangsang belajar berdebat. Jadi, dari anak yang diharapkan manutan alias penurut menjadi anak yang percaya diri, terbuka, berani, dan kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu tentu tidak mungkin dilaksanakan dalam satu tahun. Namun, Kemdikbud bisa berbuat sesuatu, misalnya semakin memerhatikan pendidikan karakter. Guru-guru memberi dorongan supaya berani membebaskan diri dari pola pendekatan ”menggurui”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci perkembangan intelektual mahasiswa adalah para dosen. Merekalah yang menentukan suasana belajar. Maka, Dikti diharapkan memberi dukungan agar dosen dapat berkembang secara terbuka, intelektual, dan kreatif. Untuk itu, perlu segala ”kebijakan” yang berupa harassment, pelecehan, dihentikan (Misalnya, pengecekan terhadap data untuk kenaikan pangkat/sertifikasi yang sudah kegila-gilaan sehingga portal Kopertis/Dikti kelebihan beban [overloaded]. Sampai-sampai karyawati kami dianjurkan mengunduh [men-download] gunung data itu pagi-pagi menjelang subuh). Segala kebijakan positif seperti sertifikasi (tetapi, ya, tanpa harassment tadi) perlu diteruskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan saya, seorang pensiunan tua, kepada rekan-rekan di perguruan tinggi: berapa lama kita—perguruan tinggi di Indonesia—membiarkan diri dipermainkan oleh birokrat-birokrat yang wawasannya kadang-kadang berkesan beyond hope, melampaui harapan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, tentu harapan masih ada, bahkan di Kemdikbud dan Ditjen Dikti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Franz Magnis-Suseno SJ&lt;/span&gt;, Guru Besar Pensiunan Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, Rabu, 8 Februari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-4649324030856896022?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/4649324030856896022/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=4649324030856896022' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/4649324030856896022'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/4649324030856896022'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/02/dikti-di-seberang-harapan.html' title='Dikti di Seberang Harapan?'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-5111874233970780307</id><published>2012-02-08T03:24:00.000-08:00</published><updated>2012-02-11T03:25:36.228-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Kebijakan Dikti Berpotensi Merugikan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Bisman Nababan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DUA bulan terakhir, Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional, mengeluarkan kebijakan kontroversial menyangkut nasib mahasiswa dan dosen. Kebijakan yang dituangkan dalam surat edaran ini mustahil dilaksanakan dalam kondisi sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat edaran pertama bertanggal 30 Desember 2011 (Nomor 250/E/T/2011) perihal kebijakan unggah karya ilmiah untuk kenaikan pangkat dosen. Edaran kedua bertanggal 27 Januari 2012 (Nomor 152/E/T/2012) perihal publikasi karya ilmiah untuk mahasiswa S-1, S-2, dan S-3 berlaku mulai kelulusan Agustus 2012.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi edaran pertama adalah Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) hanya menilai suatu karya ilmiah jika artikel dan identitas penulisnya bisa ditelusuri secara online. Perguruan tinggi dan pengelola jurnal juga wajib mengunggah karya ilmiah mahasiswa dan dosen pada portal Garuda, perguruan tinggi, dan seterusnya. Hal ini efektif untuk usulan kenaikan pangkat 2012.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isi edaran kedua tentang syarat kelulusan. Untuk lulus program S-1, seseorang harus menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah, S-2 menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah nasional terakreditasi Dikti, dan S-3 menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua surat yang tampaknya tanpa kajian mendalam ini berpotensi merugikan dosen dan mahasiswa serta merusak sistem pendidikan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelulusan S-1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebijakan mensyaratkan mahasiswa program S-1 untuk menerbitkan paper-nya dalam jurnal ilmiah sangatlah berlebihan. Yang wajib menerbitkan paper di jurnal ilmiah adalah peneliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sarjana belum bisa disebut peneliti karena mahasiswa S-1 baru siap dikembangkan menjadi peneliti. Banyak jurusan yang tidak mensyaratkan mahasiswanya untuk membuat skripsi, tetapi dengan tugas akhir berupa studi lapangan, studi perbandingan, atau studi kasus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan S-1, S-2, dan S-3 di negeri maju, seperti Amerika Serikat, tak pernah mensyaratkan mahasiswa menulis makalah di jurnal agar dapat lulus. Umumnya, program S-1 dan S-2 di negara maju dilakukan dengan jalur non-skripsi dan non-tesis. Mahasiswa S-3 di negara maju otomatis akan menuliskan hasil risetnya di jurnal ilmiah internasional karena disertasinya pasti bernilai ilmiah. Biasanya mereka menulis makalah setelah lulus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fakta lain: dana penelitian relatif besar. Maka, banyak dosen mengikutkan mahasiswa dalam penelitiannya. Kalau penelitian tersebut berasal dari dana swasta dan ada perjanjian bahwa hanya pihak pemberi dana yang boleh menerbitkan hasil penelitian, kebijakan Dirjen Dikti akan menghapus peluang mahasiswa melakukan penelitian murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada berbagai persyaratan untuk menerbitkan tulisan ilmiah dalam sebuah jurnal, di antaranya ada nilai ilmiah, mengikuti kaidah penulisan ilmiah, tidak diajukan ke jurnal lain, temuan baru, dan orisinal. Andai semua ini terpenuhi (dan ini sulit), bagaimana mengatur waktunya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panduan pengelolaan pendidikan tinggi dari Dirjen Dikti menyebutkan, penyelenggaraan pendidikan S-1 berlangsung empat tahun. Lebih dari itu berarti negatif terhadap nilai akreditasi jurusan dan perguruan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahasiswa yang excellent bisa lulus dalam empat tahun dan mahasiswa S-1 umumnya lulus dalam 4,5-5 tahun. Adanya kebijakan Dirjen Dikti membuat kelulusan mahasiswa molor, bertambah 11-29 bulan atau 1-2,5 tahun, sehingga mahasiswa S-1 baru lulus setelah 5-7,5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tambahan waktu itu untuk membuat draf paper ilmiah, mengirim ke jurnal, menunggu hasil review, memperbaiki paper, mengirim kembali, dan menunggu penerbitan. Itu kalau lancar. Bila ditolak pengelola jurnal, mahasiswa harus menulis ulang atau bahkan mengulang penelitian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mampukah jurnal di Indonesia menampung makalah mahasiswa S-1? Bayangkan berapa ratus ribu paper yang harus diterbitkan setiap tahun jika kebijakan ini diimplementasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa saja setiap jurusan membuat jurnal ilmiah sendiri untuk menampung paper dari mahasiswa dan semua dosen bertindak sebagai pereview. Berapa banyak waktu bagi dosen yang tersita untuk melakukan review?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk diketahui, menerbitkan sebuah jurnal ilmiah bukan perkara mudah. Selain butuh dana besar, jurnal juga melibatkan tim pereview dan staf pengelola. Tak semua orang bisa jadi pereview karena biasanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sudah bergelar doktor dan menerbitkan banyak karya ilmiah. Jika setiap jurusan memiliki jurnal ilmiah dan setiap mahasiswa baru bisa lulus dengan menerbitkan paper dalam jurnal, kualitas jurnal menjadi pertanyaan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak berkualitas, siapa yang mau baca? Padahal, salah satu ukuran mutu suatu jurnal adalah jumlah orang yang membaca dan merujuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program S-2 dan S-3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keharusan menerbitkan paper di jurnal nasional terakreditasi membuat mahasiswa S-2 tidak mungkin lulus Agustus 2012. Mereka harus menunggu 1-2 tahun lagi karena proses pengiriman, review, perbaikan, dan penerbitan sebuah paper dalam jurnal nasional terakreditasi membutuhkan waktu 1-2 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditjen Dikti memberi waktu dua tahun untuk penyelenggaraan program S-2 di Indonesia. Waktu ini sebenarnya hanya relevan bagi program S-2 tanpa tesis. Jika wajib tesis, umumnya mahasiswa S-2 dapat menyelesaikan studi dalam tiga tahun. Dengan kebijakan penerbitan paper di jurnal nasional terakreditasi, kelulusan mahasiswa S-2 akan molor 4-5 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umumnya program magister tidak mensyaratkan penulisan tesis, demikian pula halnya pada beberapa universitas terkemuka di luar negeri. Masyarakat juga lebih banyak memilih jalur non-tesis dibandingkan jalur tesis. Maka, kebijakan Dirjen Dikti ini akan mengacaukan sistem pendidikan S-2 di Indonesia sehingga sistem perlu ditata ulang, termasuk semua kurikulumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada penyelenggaraan program S-3, menghasilkan paper yang diterima di jurnal internasional bukan perkara mudah. Umumnya, pengiriman draf sampai memperoleh acceptance letter untuk diterbitkan butuh waktu 1-3 tahun. Pada kasus kenaikan pangkat dosen, masalahnya juga sama: tidak semua jurnal sudah online dan lamanya prosedur pemuatan paper di jurnal ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam panduan Ditjen Dikti, penyelesaian program studi S-3 adalah tiga tahun. Namun, rata-rata penyelesaiannya 4-5 tahun karena minimnya fasilitas laboratorium. Dengan kebijakan Dirjen Dikti, penyelesaian program doktor bisa 6-7 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biaya penyelenggaraan program S-2 dan S-3 termasuk mahal sehingga penambahan waktu penyelesaian studi akan menambah beban mental dan finansial.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya peningkatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemerintah seyogianya mengkaji, mengapa produktivitas paper peneliti—termasuk dosen di Indonesia—di jurnal nasional dan internasional sangat rendah. Pemerintah juga harus menyelidiki kenapa di negara lain, termasuk Malaysia, tingkat produktivitasnya lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu alasannya adalah karena para peneliti dan dosen di Indonesia tidak dapat fokus pada pekerjaan akibat gaji tidak mencukupi, bahkan untuk hidup sederhana. Belum lagi minimnya peralatan laboratorium.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirjen Dikti dalam surat edarannya merujuk produktivitas paper di Malaysia yang tinggi, tetapi lupa merujuk sistem penggajian di Malaysia yang sudah mengikuti negara maju. Fasilitas dan dana penelitian juga sangat besar di Malaysia sehingga mereka dapat fokus meneliti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal lain yang dapat dipertimbangkan adalah pemberian insentif bagi peneliti untuk setiap paper yang terbit di jurnal nasional terakreditasi dan internasional, seperti yang dilakukan UI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau pemerintah mampu meningkatkan pendapatan peneliti dan dosen pada tingkat cukup untuk hidup layak—menghidupi keluarga dengan dua anak, membeli rumah sederhana, transportasi, asuransi kesehatan, dan menyekolahkan anak sampai sarjana—serta menyediakan kebutuhan penelitian secara lengkap, peneliti dan dosen di Indonesia dijamin lebih produktif.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Bisman Nababan&lt;/span&gt;, Dosen IPB; Tim Pereview Jurnal Nasional dan Internasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, Rabu, 8 Februari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-5111874233970780307?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/5111874233970780307/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=5111874233970780307' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/5111874233970780307'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/5111874233970780307'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/02/kebijakan-dikti-berpotensi-merugikan.html' title='Kebijakan Dikti Berpotensi Merugikan'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-5305238852761556205</id><published>2012-02-05T04:33:00.000-08:00</published><updated>2012-02-06T04:34:42.837-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Berbincang Licentia Poetica dalam Tempurung Tengkurap</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Desi Sommalia Gustina&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KITA tahu, setiap penyair memiliki lecentia poetica dalam penulisan puisi yaitu kebebasan memilih cara dan daya ungkap puisi. Untuk totalitas ekspresi terkadang penyair melakukan pelanggaran kaidah bahasa dengan tujuan mengungkapkan secara memikat dan dapat menghasilkan totalitas pengungkapan. Licentia poetica oleh Shaw (1972:291) dikatakan sebagai kebebasan seorang sastrawan untuk menyimpang dari kenyataan, dari bentuk atau aturan konvensional, untuk menghasilkan efek yang dikehendaki. Dengan kata lain, licentia poetica merupakan kebebasan memanipulasi kata oleh penyair demi menimbulkan efek tertentu dalam karyanya dan terkadang menabrak kaidah dasar berbahasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyimpangan pada kaidah dasar biasanya terjadi pada arti kosa kata (leksikal), bunyi-bunyi kebahasaan (fonologis), tata makna (semantis), maupun tata kalimat (sintaksis). Artinya dalam penulisan puisi penyair boleh saja menabrak kaidah bahasa selama menimbulkan estetika tersendiri. Kata diolah menjadi kalimat yang memiliki makna, walaupun tidak sesuai kaidah, dengan tujuan menyempurnakan ungkapan. Namun, membaca sajak-sajak Mahatma Muhammad dalam buku Tempurung Tengkurap yang diterbitkan penerbit Koekoesan ini menyembulkan sebuah tanya di kepala saya, apakah dengan licentia poetica seorang penyair dapat dengan leluasa menumpahkan kreativitas ke dalam sebuah karya tanpa batasan apapun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini paradigma yang berkembang terkait licentia poetica tak lebih dari kata ‘’bebas’’ atau ‘’merdeka’’. Berbekal kata ‘’bebas’’ dan ‘’merdeka’’ tersebut tampaknya Mahatma Muhammad menulis sejumlah sajak yang kemudian terhimpun dalam buku Tempurung Tengkurap yang ditulis bersama Yori Kayama ini. Namun, ketika membaca satu demi satu sajak Mahatma Muhammad dalam buku ini, saya tak menemukan sajak yang lahir hasil eksplorasi sungguh-sungguh dan mendalam dengan menyelami makna ‘’bebas’’ dan ‘’merdeka’’ sebagaimana yang telah diberikan oleh licentia poetica dalam menulis puisi. Padahal, puisi yang ditulis hanya berbekal kata ‘’kebebasan’’ tanpa memahami makna kata ‘’kebebasan’’ tersebut hanya akan melahirkan teks sastra yang dangkal dan kering, seperti yang terlihat pada baris-baris puisi Mahatma Muhammad yang berjudul ‘’Ku Au Kau Au’’: janganlah kacau/sampai ketukan ditengah malam/kembalikan igau/ ku au/kau au/ ngigau (halaman 25).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sejumlah sajak yang ditulis Mahatma Muhammad dalam buku ini, tampaknya dengan prinsip ‘’kebebasan’’ yang telah diberikan licentia poetica, Mahatma Muhammad terlihat hanya mengutamakan keserasian rima, dan seolah mengabaikan makna dari puisi itu sendiri. Atau dengan kata lain seolah melupakan apakah puisi yang ia ciptakan adalah puisi yang ‘’utuh’’, yang merupakan satu kesatuan antara bait yang satu dengan lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Licentia poetica dalam menulis puisi harus diakui hanya bebas bermain dalam lingkup masyarakat sastra, tidak membaur-lebur pada masyarakat luas. Ditambah lagi, dengan sekian banyak defenisi dan pengertian, tidak ada kejelasan tentang batasan maupun cakupan dari licentia poetica itu sendiri (Hadi Napster: 2011). Dengan demikian, para pelaku sastra terutama penyair, mau tidak mau harus menerima kenyataan bahwa mereka adalah salah satu ujung tombak sekaligus penunjuk jalan dalam hal penggunaan licentia poetica. Oleh karena itu, sudah sepatutnya penyair memahami makna dari licentia poetica itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping memahami makna licenteia poetica, penyair harus pula rajin membaca. Dan agaknya betul apa yang dikatakan Taufik Ismail dalam endorsement-nya pada buku ini, agar seterusnya mantap memasuki ranah puisi, penyair harus lebih banyak membaca, diskusi, dan terus menulis dengan tiada jenuh-jenuh. Sebab, membaca, menulis (disamping juga berdiskusi), merupakan gizi bagi penulis dalam melahirkan karya. Karena dengan membaca penulis akan kaya perbendaharaan kata. Sehingga ia tidak terus menerus menuliskan kata atau kalimat yang diulang-ulang. Seperti yang terjadi pada beberapa sajak Mahatma Muhammad, di mana dijumpai pengulangan kalimat yang hampir sama pada dua puisi yang berbeda. Seperti yang terdapat dalam salah satu baris sajak ‘’Tempurung Tengkurap’’: ingin rasa rindu ingin rupa rindu segala ingin/ingin kamu ingin tahu ingin malu mengingatmu (halaman 4). Lalu bandingkan dengan potongan bait puisi yang berjudul ‘’Dilema Usang’’: rindu rasa rindu rupa rindu segala rindu/ingin kamu ingin tahu mengingatmu (halaman 14).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baris-baris puisi tersebut jika kita amati akan terlihat betapa keduanya teramat mirip. Di sini tampaknya penyair perlu memperhatikan dan mempertimbangkan pilihan diksi dalam puisi yang ia buat. Hal tersebut bertujuan untuk menghindari kata yang diulang-ulang. Di samping itu, pilihan kata yang tepat dan selaras dalam mengungkapkan gagasan akan memberikan efek tertentu dan muaranya akan menghasilkan karya sastra yang segar, indah, dan enak dibaca. Seperti yang saya temukan dalam sajak-sajak Yori Kayama yang juga terangkum dalam buku sajak Tempurung Tengkurap ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca sajak-sajak Yori Kayama dalam buku ini, saya melihat Yori Kayama sedang berusaha mencari makna akan hakikat hidup. Hal itu misalnya terlihat pada baris-baris dari puisi Yori Kayama dalam sajak yang ia beri judul ‘’Tempurung Tengkurap’’: ingat, hidup adalah sebuah pilihan menuju persandingan/dimana makam-makam akan berderet/umpama antrian sebuah loket/sebelum waktu keberangkatan tiba (halaman 45). Begitu pula pada sajak ‘’Menuju Makam’’ kita akan menenukan ’aroma’ yang sama; sebuah pencarian. Seperti pada baris berikut: dimalam mana kita akan berlabuh/sebuah lubang menjadi lebuh/kedalaman usia/haus tanah mengenang nama (halaman 67).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, sajak-sajak Yori Kayama seolah berusaha mengingatkan kita tentang perjalanan hidup manusia, seperti yang terpapar dalam baris-baris sajak ‘’Perjalanan’’: kita semacam gerak angin/mengayun daun sesuka dan sepanjang musim/tidakkah ada batang yang menopang/kerinduan ranting kepada jatuh/dan tanah tenggelam di jantung akar/kita seperti tengah laut/mendayung sua sesampai tiba/di perairan langkah hanya sebagai jarak/berapa lama pelabuhan akan dituju/lalu kapal merapat dan diikat/kita adalah hasil dari karatan waktu/mengulur umur dari segala hiba/airmata datang menimbun makam/menenggelamkan segala ingatan (halaman 71).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, laiknya sebuah perjalanan, ia memiliki garis awal dan mempunyai batas akhir. Beberapa sajak Yori Kayama memaksa kita untuk merenungkan akhir dari perjalanan hidup manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, sajak-sajak Yori Kayama ditulis lancar dengan iramanya sendiri. Meskipun demikian, tampaknya Yori Kayama masih ’terjebak’ dalam arus menulis puisi dengan membincangkan persoalan pribadi dalam (beberapa) puisinya. Misalnya membincangkan persoalan asmara dan berbuah melahirkan sajak-sajak romantis dengan persoalan pribadi yang ia hadapi. Salah satunya seperti sajak yang berjudul ‘’Puisi Cinta untuk Wulandari’’ dan beberapa sajak lainnya. ‘’Sajak Cinta’’ yang lahir karena penyair sedang jatuh cinta, patah hati, dan sebagainya, ada kesan penyair tersebut tak mampu melepaskan persoalan pribadi dengan teks puisi yang ia ciptakan. Padahal, jika penyair mampu berjarak dengan perasaannya sendiri, maka ia akan membuka ruang bagi pembaca untuk menafsirkan dan masuk dalam puisi. Begitulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Desi Sommalia Gustina&lt;/span&gt;, Lahir di Sungai Guntung, Indragiri Hilir, Riau, 18 Desember 1987. Kini sedang studi di Pascasarjana Universitas Andalas, Padang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Riau Pos&lt;/span&gt;, 5 Februari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-5305238852761556205?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/5305238852761556205/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=5305238852761556205' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/5305238852761556205'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/5305238852761556205'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/02/berbincang-licentia-poetica-dalam.html' title='Berbincang Licentia Poetica dalam Tempurung Tengkurap'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-7668179159582250690</id><published>2012-02-05T04:27:00.000-08:00</published><updated>2012-02-06T04:31:24.448-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Kontemplasi dalam Bunyi Puisi</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Umar Fauzi Ballah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;APABILA kita sudah terbiasa membaca puisi, barangkali bunyi adalah faktor yang paling kita maklumi. Tradisi ini adalah kondisi lahir batin kesusasteran Indonesia. Barangkali, kita bisa membayangkan bahwa musikalitas bunyi dalam puisi Indonesia adalah bagian dari khasanah puisi lama sebagaimana diajarkan di sekolah-sekolah, yaitu puisi yang terikat oleh bentuk dan rima. Namun, bunyi dalam puisi terus berkelanjutan sampai saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita menyimak puisi Indonesia modern, belum sepenuhnya lepas dari tradisi tersebut. Katakanlah puisi-puisi Chairil Anwar, sang pendobrak tradisi puisi lama, unsur bunyi masih terasa sebagai tipikal puisi lama karena puisi Chairil pada beberapa bagian masih menggunakan corak pembaitan puisi lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi dengan Sutardji Calzoum Bachri, bunyi begitu dikultuskan dan menjadi kredo puisinya. Walaupun begitu, tidak sedikit puisi Indonesia yang berupaya lepas dari hegemoni bunyi dalam puisinya, katakanlah puisi-puisi Afrizal Malna, sekadar menyebut contoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunyi bagaimanapun tidak dapat dipisahkan dari puisi Indonesia bahkan sampai saat ini. Ia terus berdiaspora dalam tubuh puisi. Karena khasanah dunia saat ini hampir-hampir tidak ditemukan penemuan baru, penyair sebenarnya hanya mengolah yang sudah ada dengan upaya untuk tidak menjadi klise.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu penyair muda yang begitu gemar dengan bunyi saat ini di antaranya adalah A Muttaqin. Secara umum, perkembangan puisi (di) Jawa Timur saat ini menemukan arah menggembirakan melalui kelahiran penyair berbakat A Muttaqin. Puisinya begitu khusyuk dengan olah bunyi dan dalam beberapa puisinya begitu rindang oleh aneka tanaman dan hewan, rimbun oleh berbagai simbol, dan tenang dengan permenungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali inilah yang membuat ia menjadi begitu fenomenal. Berusaha berbeda dengan puisi-puisi pendahulunya di Jatim yang terkenal dengan puisi gelap. Selain itu, keperajinan mengolah tata bunyi dalam puisinya telah menjadi karakternya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa puisinya adalah puisi dengan rapatan bunyi. Bunyi yang hadir dalam puisi-puisi Muttaqin, bukan hanya dalam ketukan suku kata misal 812 suku kata sebagaimana puisi lama tetapi Muttaqin begitu rajin menyandingkan dua kata atau lebih dalam satu frasa yang berima sama. Bacalah beberapa petikan frasa dalam puisi Muttaqin berikut: Kepada gerimis yang meniris pelipis. Aku tak ingin menangis dan mengiris kupingku tipis-tipis. Anggur-anggur tak lagi manis. Dan gadis-gadis mencopot mawar dari tempiknya tanpa tangis. (‘’Surat Katak’’); Senangnya hati melihat tikus mampus. Tak sudi kuuluk innalillahi dan tak pantas belas bagi ras culas ini. (‘’Pengotor’’); dan serangkai kaki halus merangkak tak putus-putus mengantarmu ke arah lurus lalu dengan penciuman cukup bagus jalan-jalan kuendus-teramat tulus hingga tak tertembus sebangsa anjing lebus dan marga tikus yang kerap menghalangimu ke jalan kudus beserta dua kaki gatalmu ke gronjal batu atau malah kugelincirkan ke jalur kabut paling ribut mirip pincuk mulut: kitaran kecut yang becus cas cis cus bila satu dari satunya diringkus. (‘’Pertimbangan’’)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara Muttaqin menghadirkan diksi berima tersebut, bukan semata mengejar efek musikalitas (kosongan) semata, bukan pula sekadar keriangan yang tidak mendukung kesatuan energi puitiknya, tetapi susunan itu telah sedemikian rupa disusun untuk memperlihatkan bagaimana puisi memiliki gagasan cemerlang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bait terakhir puisi ‘’Pertimbangan’’, misalnya, memilih diksi dari bahasa Jawa, pincuk (wadah dari daun) dan apelativa gronjal (jalan rusak dan berlubang) yang dilengkapi dengan cas cis cus untuk menimbulkan efek kecerewetan yang terkandung dari diksi ribut dan mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wawasan penyusunan diksi dan bunyi ini begitu dikhidmati oleh Muttaqin. Hasilnya, puisinya menjadi pawai bahasa. Sesekali kita dibuat geli olehnya. Sesuatu yang seolah dihadirkan sebagai atribut belaka ternyata menjadi kesatuan yang menarik. Simak juga puisi berjudul ‘’Kuda Cahaya’’: Kau, yang lebih tinggi dari mimpi, lebih senyap dari sepi, lebih rinai dari bunyi. Dan dengan semua yang berakhir /i/ yang tak kunjung sampai di watas wiru ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita mau menebak, apakah maksud vokal /i/ dalam puisi tersebut? Barangkali itu nabi atau sufi, mungkin juga ilahi rabbi. Dalam bahasa Arab, akhiran /i/ adalah pembentuk kata sifat yang digunakan juga dalam banyak imbuhan bahasa Indonesia. Kita juga bisa bertanya siapakah yang lebih tinggi dari mimpi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi ‘’Kuda Cahaya’’ secara keseluruhan menceritakan tentang perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad. Muttaqin telah berhasil menangkap itu dengan metafor yang indah dalam puisi tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kutipan puisi tersebut terdapat dalam buku puisi Pembuangan Phoenix. Buku ini termasuk lima besar dalam penghargaan Khatulistiwa Literary Award 2011. Secara khusus,  tema yang dihadirkan adalah kelahiran, kematian, kefanaan hidup, dan kepasrahan pada Tuhan. Muttaqin mengambil banyak khasanah, bukan hanya pada adopsi bahasa, tetapi juga kisah para nabi yang menjadi bahan dasar penciptaan ulang puisi-puisi dalam buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lahir di Gresik, penyair ini sesungguhnya tercerabut dari tradisi lokalitasnya, kecuali khasanah keislaman Gresik sebagai kota santri. Pilihan simbol, seperti Munajat Apel Merah, Makrifat Mawar, Gerimis di Kulit Manggis dan rimbun tumbuhan sungguh asing dengan Gresik sebagai kota industri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Phoenix, misalnya yang menjadi judul buku ini, adalah mitologi Mesir sebagaimana dapat kita baca dalam kata pengantar buku puisinya. Begitu juga puisi ‘’Perjamuan’’ yang tak lain adalah sosok Yesus yang dalam puisi itu dipanggil bindere: Di meja ini kita bersembilan, Bindere. Anda tahu, bindere adalah bahasa Madura yang artinya adalah anak kiai atau di Jawa disebut Gus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persilangan budaya, campur kode/alih kode yang banyak terjumpai dalam buku puisi ini tidak lain adalah sebuah karnaval puitik. Sebagai karnaval, ia menjadi parodi dari sekian lanturan bunyi. Sebagai penutup tulisan ini, alangkah indahnya saya hadirkan sebuah pantulan estetik yang mungkin sering kita jumpai, tetapi abai kita renungi. Akan tetapi, bagi Muttaqin itu adalah bahan yang indah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan senapan Canon kurus, akan kuhapus mereka dari malam kudus. Di aspal halus, kudapati usus dan dalamannya terburai, daging dan tulangnya remuk menanti, tapi hanya lalat yang melayati. Tikus dan lalat memang sahabat. Konon dari tai sepasang anak surga mereka dahulunya sama terbuat. (‘’Pengotor’’)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Umar Fauzi Ballah&lt;/span&gt;, penyair dan tinggal di Sampang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Riau Pos&lt;/span&gt;, 5 Februari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-7668179159582250690?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/7668179159582250690/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=7668179159582250690' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/7668179159582250690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/7668179159582250690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/02/kontemplasi-dalam-bunyi-puisi.html' title='Kontemplasi dalam Bunyi Puisi'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-7604852171224542562</id><published>2012-02-04T04:31:00.000-08:00</published><updated>2012-02-05T04:32:41.653-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Antologi Puisi Negeri di Atas Langit: Kupu-kupu untuk SBY</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Mustafa Ismail &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kupu-kupu yang lucu &lt;br /&gt;kemana engkau terbang&lt;br /&gt;hilir mudik mencari&lt;br /&gt;bunga yang kembang&lt;br /&gt;untuk mengisap madu &lt;br /&gt;dan sarinya &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah puisi yang ditulis oleh Soeryadarma Isman, penyair cilik dari Padang Panjang, Sumatera Barat, dalam buku "Negeri di Atas Langit". Buku yang menghimpun karya tiga penyair cilik, selain Soeryadarma, ada Shania Azzira dan Shalsabilla Oneal Dhiya Ulhaq itu diluncurkan di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang, Sabtu 31 Desember lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegiatan itu dibarengi dengan seminar "Cara Dahsyat Menembus Media dan Menerbit Buku" dengan pembicara Mustafa Ismail (saya) dan Muhammad Subhan, penulis novel "Kabut Rinai Singgalang". Kegiatan itu diikuti sekitar seratus lima puluh peserta yang sebagian besar anak-anak muda dan mahasiswa dari berbagai kota di Sumatera Barat, seperti Padang, Padang Panjang, Bukit Tinggi, dan lain-lain. Sebagian lainnya para guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, peluncuran "Negeri di Atas Langit" menyedot perhatian sendiri. Maklum, mereka adalah anak-anak yang masih duduk di kelas dasar. Soeryadarma, misalnya, adalah pelajar kelas IV SD Negeri 01 Guguk Malintang, Padang Panjang Timur. Bocah kelahiran Beureunuen, Pidie, Aceh, 17 Maret 2002 ini menyertakan 50 puisi dalam buku itu. Ia adalah putra penyair asal Aceh, Sulaiman Juned, yang jadi dosen teater di ISI Padangpanjang. Ia kerap memenangkan lomba baca puisi, termasuk sering ikut membaca puisi dalam berbagai kegiatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Shania Azzira adalah pelajar kelas V SD Negeri 08 Ganting Gunung, Padang Panjang. Ia lahir di Padang Panjang pada 7 September 1999. Ia anak pertama dari dua bersaudara. Ayahnya Beni Federico dan ibunya Ariftawinis. Gadis kecil ini sejak kecil sudah senang menulis dan kerap memenangkan lomba baca puisi, termasuk menyanyi dalam bahasa Inggris dan peragaan busana muslim. Shania menyertakan 49 puisinya dalam kumpulan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyair cilik terakhir adalah Shalsabilla Oneal Dhiya Ulhaq, lahir di Bogor 13 November 2000. Ia adalah pelajar SDN 03 Teladan Padangpanjang. Dalam buku ini, ia menyertakan 49 puisi. Shalsabilla bersama Soeryadarma dan Shania belajar menulis dan membaca puisi di Komunitas Kuflet, Padang Panjang, yang dibina Sulaiman Juned. "Saya mengajak mereka menulis sambil bermain-main," kata Sulaiman ketika acara peluncuran buku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi-puisi mereka cukup menarik. Dengan gaya bertutut yang khas anak-anak, mereka menyorot berbagai hal, yang terkadang hal itu sudah menjadi sangat "biasa" buat orang dewasa. Saking biasanya, membuat orang dewasa menjadi kurang peka dengan itu. Sebut saja puisi berjudul "Rumah Sakit" misalnya, yang mengkritik betapa masih terjadi praktek diskriminatif dalam pelayanan kesehatan antara kaya dan miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia pun menulis begini: "... aku saksikan orang-orang miskin/ terlantar dan tidak diperdulikan". Lalu dalam bait terakhir Soeryadarma menulis: "Tuhan, apakah sakit tidak boleh dimiliki/oleh orang-orang miskin?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bisa muncul puisi semacam ini? Sulaiman, sang ayah, bercerita - sambil kami mengobrol ringan di Komunitas Kuflet - suatu hari Soeryadarma bersama ibunya mengantar ayahnya ke rumah sakit. Lalu, ia melihat seorang lelaki parlente menyerobot. Sementara ada seorang ibu tua, yang tampak dari kalangan kurang mampu, sudah lama mengantri tapi belum dilayani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soeryadarma bertanya: kenapa Bapak itu bisa mudah masuk tanpa mengantri? Lalu, ia pun menulis kesaksian itu dengan cara yang polos dan apa adanya. Hal itu pula yang dilakukan oleh kedua penyair cilik lainnya, Shania dan Shalsabilla. Shania, misalnya, menulis tentang rokok. Dalam puisi berjudul "Rokok" mengajukan protes, antara lain, dalam larik-larik ini: "Kau teroris tak terduga/Penipu, membahayakan segalanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi, tentu saja, ia berangkat dari kesaksiannya terhadap sekelilingnya, betapa orang-orang terus merokok tanpa memperhatikan efek kesehatan yang ditimbulkannya. "Pada siapa kuharus berkata/semua orang tampak senang menghisapmu." Di ujung kegelisahaannya ia berteriak lebih kencang: "Jangan tertipu oleh sang penggoda." Larik ini, harusnya, begitu menohok orang dewasa. Berbagai perngatan kesehatan ternyata tak juga menghentikan orang merokok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepekaan. Tampaknya itulah yang mengantarkan ketika bocah ini sampai pada sikap kritis, yang terkadang seperti hendak menyerang orang dewasa. Apalagi ketika hal itu disampaikan dengan bahasa mereka yang polos dan sederhana, tanpa berusaha untuk tampil bersulit-sulit atau terperosok dalam teori-teori sastra sebagaimana halnya para penyair dewasa. Mereka sama sekali menulis secara rileks dan lepas, tidak merasa dibebani oleh konvensi-konvensi dalam berpuisi. Mereka hanya berusaha untuk jujur mengungkapkan apa yang mereka saksikan, pikirkan, dan rasakan. Inilah yang membuat puisi mereka menjadi begitu jernih. Pembaca seperti diajak bermain-main ke tepi kolam dengan air yang bening lalu menyaksikan sesuatu di dasar kolam itu dengan mata telanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang, mereka seperti hendak mengingatkan orang tua, terhadap sesuatu yang remeh-temeh, yang mungkin buat kita tidak terlalu penting dibahas. Padahal itu sangat urgen. Misalnya soal gigi, yang ditulis Shalsabilla dalam puisi berjudul "Gigi". "Tanpamu tak bisa menikmati makanan/Apa pun tak terasa enak.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi itu tidak hanya tampil sebagai diskripsi atau teoritifikasi klise atas sebuah objek, tapi sebuah ajakan merenungi kembali fungsi-fungsi organ dalam tubuh kita. Gigi, salah satunya. Ini adalah sebuah tonjokan agar, sesekali, kita kembali mensyukuri sebuah realitas - entah itu kesehatan, kesempurnaan hidup, keberadaan - agar kita makin berterima kasih kepada Sang Pencipta, dan makin peduli pada realitas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tidak semua puisi dalam buku ini menghadirkan "dunia" yang terang-berderang. Ada pula puisi yang mengecohkan kita untuk mendekatinya dengan beragam tafsir. Lihat saja puisi yang dikutip di bagian awal tulisan ini berjudul "Kupu-kupu". Di bawah judul puisi yang mengutip lagu anak-anak berjudul "Kupu-kupu" itu dituliskan kata-kata "kepada Presiden SBY".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sempat bertanya kepada Soeryadarma, di sela-sela peluncuran buku puisi itu, apa maksud puisi tersebut, tapi ia diam saja. Ia seperti hendak mengatakan: setelah karya dihadirkan ke publik maka publiklah yang menjadi penafsir tunggal atas karya itu. Terserah mau menafsirkannya seperti apa, sesuai pengalaman dan apa yang sedang dipikirkan serta dirasakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah penyair cilik ini sedang mengirim sebuah lagu anak-anak untuk SBY? Sekali lagi: pembacalah yang harus menafsirkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mustafa Ismail&lt;/span&gt;, penggiat sastra, pemilik blog www.musismail.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suara Karya&lt;/span&gt;, Sabtu, 4 Februari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-7604852171224542562?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/7604852171224542562/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=7604852171224542562' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/7604852171224542562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/7604852171224542562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/02/antologi-puisi-negeri-di-atas-langit.html' title='Antologi Puisi Negeri di Atas Langit: Kupu-kupu untuk SBY'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-3019020531232188105</id><published>2012-02-01T01:26:00.000-08:00</published><updated>2012-02-01T01:27:26.619-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>IKJ: Perombakan ISI Terasa Aneh</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Indra Akuntono &amp; Kistyarini &lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA, KOMPAS.com — Menanggapi rencana Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang akan merombak Institut Seni Indonesia menjadi Institut Seni dan Budaya Indonesia, Wakil Dekan III Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Lucky Wijayanti menilai ada kejanggalan dalam rencana tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan, jika tujuan digabungkannya budaya dalam ISI untuk mencetak sarjana budaya yang terkonsep, itu terasa aneh karena baginya budaya terus berkembang secara alamiah di setiap daerah. Ia mengaku khawatir kebudayaan nantinya akan kehilangan sentuhan keanekaragaman jika kurikulum dalam ISBI disamaratakan oleh pemerintah pusat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buat kita, penggabungan itu terkesan aneh. Karena prinsipnya budaya itu tumbuh dan berkembang secara alami di daerah-daerah, bukan diatur, dan disamakan menjadi umum, bukan itu," kata Lucky kepada Kompas.com, Selasa (31/1/2012), saat ditemui di IKJ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menguraikan, pendidikan tumbuh di tempat yang terjadi pembelajaran. Jika semua kurikulum pendidikan kebudayaan berpusat di pemerintah, nantinya akan melahirkan sarjana kebudayaan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di mana letak keberagamannya kalau semua dikotak-kotakkan seperti itu. Budaya itu tumbuh alamiah yang dilakukan secara simultan. Tapi kalau belajar setelah selesai, ya, sudah," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kata dia, keanehan lain tampak dari keinginan pemerintah untuk mencetak budayawan melalui proses akademik. Karena, menurut Lucky, seharusnya pemerintah bisa memasukkan kurikulum kesenian dan kebudayaan di jenjang pendidikan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikatakannya, selama ini kurikulum kesenian di sekolah hanya disajikan dalam waktu yang sangat terbatas. Itupun hanya sebatas pelajaran menggambar dan bukan pelajaran budaya. "Kalau mau, harusnya dirombak dari awal. Berikan pendidikan seni dan budaya yang benar, bukan seni dan budaya yang direkayasa," tuturnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Edukasi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas.com&lt;/span&gt;, Rabu, 1 Februari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-3019020531232188105?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/3019020531232188105/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=3019020531232188105' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/3019020531232188105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/3019020531232188105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/02/ikj-perombakan-isi-terasa-aneh.html' title='IKJ: Perombakan ISI Terasa Aneh'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-5678625643123629946</id><published>2012-01-30T01:32:00.000-08:00</published><updated>2012-02-01T01:33:13.966-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Biarkan ISI Tetap Institut Seni</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Sumbo Tinarbuko&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TABIAT pejabat Pemerintah Indonesia selalu memiliki ciri suka membangun dengan menghancurkan bangunan, konsep, dan program kerja yang dianggapnya lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, realitas sosialnya masih cukup signifikan untuk dijalankan dan ditumbuhkembangkan jadi sesuatu yang lebih bermanfaat guna menghasilkan kebermanfaatan lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya membuat kebaruan juga dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang berencana mengubah bangunan, konsep, dan program kerja lembaga pendidikan tinggi seni bernama Institut Seni Indonesia (ISI) menjadi Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI). Dasar perubahan itu konon karena berubahnya Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) jadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tahun 2012, kami akan lakukan konversi institut yang selama ini ada. ISI akan dikonversi menjadi ISBI atau Institut Seni dan Budaya Indonesia,” kata Mendikbud M Nuh pada Dialog Budaya dalam Rangka Penyusunan Cetak Biru Pembangunan Nasional Kebudayaan di Jakarta, Senin, 12 Desember 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut M Nuh, selama ini, ISI lebih ditekankan kepada seni, baik pertunjukan maupun lainnya. Namun, sejalan dengan masuknya kebudayaan, kesenian tidak dapat berdiri sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan hal baru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam laman http://dikdas.kemdiknas.go.id/content/berita/utama/ide-pendiria-2.html berjudul ”Ide Pendirian Institut Seni dan Budaya, Bukti Keseriusan Kemdiknas” dikabarkan sebagai berikut. Ide Mendiknas itu merupakan bagian dari keseriusan Kemdiknas merawat kekayaan seni-budaya Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Mendiknas, ISBI memiliki tiga peran. Pertama, menjaga dan merawat warisan budaya. Kedua, melakukan kreasi produk seni dan budaya dengan budaya baru. Ketiga, memperkuat hubungan antaranak bangsa. Namun, lanjut M Nuh, ’’Jangan hanya berhenti kepada perawatan, juga promosi atas budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur.’’ Informasi ini diunggah ke laman tersebut pada 21 Juni 2011, jauh sebelum perubahan Kemdiknas menjadi Kemdikbud diumumkan pada Oktober 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau rencana mengubah ISI menjadi ISBI hanya berdasarkan pemikiran seperti di atas, jauh sebelum rencana tersebut mengemuka, paling tidak ISI Yogyakarta, ISI Denpasar, dan ISI Surakarta sudah menjalankan konsep pendidikan tinggi seni berbasis budaya, seperti termaktub dalam visi, misi, ataupun tujuan penyelenggaraan pendidikan seni yang mereka kelola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISI Yogyakarta, misalnya, menggariskan tujuan pendidikan tinggi seni untuk menghasilkan sarjana seni yang peka dan tanggap terhadap masalah sosial budaya, secara etik, moral, dan akademik melalui berbagai jalur dan jenjang pendidikan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan tersebut memiliki kompetensi yang signifikan, di antaranya mampu menciptakan dan mengekspresikan beragam gagasan ke dalam berbagai bentuk karya seni yang dapat dipertanggungjawabkan. Mampu mengkaji dan menganalisis fenomena seni-budaya. Mampu menyajikan karya seni secara kreatif, inovatif, dan profesional. Mampu mengelola kegiatan seni-budaya serta mengembangkan jiwa kewirausahaan, dan mampu mengembangkan pendidikan seni sesuai dengan kompetensi dan jiwa zamannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, himne ISI Yogyakarta dengan nada optimistis mengumandangkan nada dan syair berbunyi, ’’Kembangkan daya cipta berkreasi/Tuntut ilmu dan mari berkarya/Bersatu di bawah panji Saraswati/Bina insan seni Pancasila/Terampil dalam cita rasa junjung budaya bangsa/Sadar dan bertanggung jawab sebagai seniman sejati.’’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISI Surakarta, seperti dikutip dalam laman mereka (http://www.isi-ska.ac.id/index.php/profil/visimisitujuan), mengusung misi pendidikan tinggi seni dengan mewujudkan pendidikan seni yang bermutu, berdaya saing, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat. Mewujudkan pusat kajian seni-budaya Nusantara, laboratorium kekaryaan, dan produksi seni yang responsif dan adaptif terhadap perubahan serta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, politik, ekonomi, sosial, dan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, untuk mewujudkan sistem pendidikan seni yang efektif dan efisien. Mendinamisasikan kehidupan seni-budaya dalam rangka pembentukan manusia seutuhnya. Mewujudkan pusat informasi yang baik dan benar tentang seni-budaya, serta mewujudkan tata kelola institusi yang profesional dan akuntabel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal senada juga dikumandangkan ISI Denpasar (lihat: http://www.isi-dps.ac.id/profile-umum). ISI Denpasar bertujuan menciptakan dan mempresentasikan beragam gagasan ke dalam berbagai bentuk karya seni dan mempertanggungjawabkan secara etik, moral, dan akademik. Mampu mengkaji dan menganalisis beragam fenomena seni budaya. Mampu menyajikan karya seni secara kreatif, inovatif dan profesional, serta mampu mengembangkan kewirausahaan dalam mengelola kegiatan seni dan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Administrator pendidikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau Kemdikbud tetap ingin mengubah ISI menjadi ISBI, dapat dibayangkan, sistem dan kurikulumnya tidak akan banyak berubah. Kalaupun berubah, yang terjadi, pengelola lembaga pendidikan tinggi seni bernama ISI berubah menjadi bingung. Kebingungan tersebut secara kasatmata terlihat dalam menyusun kurikulum, silabus dan tetek bengek urusan administrasi pendidikan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebingungan lain muncul akibat bingung dengan sistem akreditasi yang berdampak pada keharusan dosen menjadi seorang administrator pendidikan seni dan desain yang andal. Dampaknya, para dosen terkadang harus mengesampingkan perannya sebagai seorang desainer dan seniman yang dituntut mampu menghasilkan karya seni dan desain. Hal itu akan berakibat pada terhambatnya proses meneliti dan menulis buku seni dan desain yang menjadi pilihan hidupnya di dunia intelektualitas bidang seni dan desain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan ISI menjadi ISBI akan membingungkan kehidupan sivitas akademika terkait dengan kompetensi dan kapasitas intelektual dosen pengajar mata kuliah yang terkadang tidak selaras antara teori dan realitas sosial di ranah industri kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, kalau alasan mengubah ISI menjadi ISBI seperti dipaparkan Mendikbud di atas, padahal realitas sosialnya sebagian besar ISI di Indonesia sudah memilih dan menjalankan konsep berkesenian yang berbudaya sejak 1984 (mengacu berdirinya ISI Yogyakarta) lewat visi misi dan tujuan penyelenggaraan pendidikan, seyogianya rencana tersebut ditakar ulang demi kenyamanan bersama. Dan, untuk itu, biarkan ISI tetap menjadi Institut Seni Indonesia dengan segala lokalitas dan keunikannya masing-masing. Bagaimana Pak Menteri?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Sumbo Tinarbuko&lt;/span&gt;, Dosen Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa dan Program Pascasarjana ISI Yogyakarta  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, Senin, 30 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-5678625643123629946?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/5678625643123629946/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=5678625643123629946' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/5678625643123629946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/5678625643123629946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/biarkan-isi-tetap-institut-seni.html' title='Biarkan ISI Tetap Institut Seni'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-7492013696608012529</id><published>2012-01-29T09:17:00.000-08:00</published><updated>2012-01-31T09:20:46.982-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Teks yang Partikular</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Arif Hidayat&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;FOUCAULT (dalam Sarup, 2003: 102) "menghargai sastra transgresi—sastra yang berusaha merong-rong pembatasan yang diberikan oleh bentuk wacana karena kelainannya." Ia melihat teks-teks sastra dapat memberikan ruang bicara bagi sisi yang lain: dunia yang selama ini terabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan ini lebih tertuju pada teks-teks sastra yang mengungkap sisi lain, yakni wilayah yang lebih partikular dengan menggunakan citra bahasa yang berbeda dari kehidupan sehari-hari. Ini terutama puisi karena memiliki kekentalan bahasa melalui metonimi, metafora, maupun permainan simbol, yang lebih kaya sehingga dapat menciptakan bermacam kemungkinan. Makna dan pesan yang disampaikan lebih membukakan berbagai kemungkinan untuk dipahami sebagai pengetahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun ide kreatif seorang penyair dalam mencipta puisi bermula dari kepekaan rasa dalam membaca situasi dan kondisi melalui pengalaman. Namun, di dalamnya terdapat pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca. Sekalipun penyair seperti Emily Dickinson tidak pernah bermaksud hati memublikasikan puisi-puisinya, dan memilih menjilid rapi di laci meja kerja, curahannya tetap terkandung pesan: entah kegelisahan hati ataupun sebagai curahan, di dalamnya ada pesan denotatif muncul sebagai yang tersurat dan konotatif sebagai yang tersirat. Kedua pesan itu membentuk wacana sebagai yang disodorkan kepada masyarakat sebagai pandangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam setiap kata-kata, ada pesan yang mampu diterima sebagai kebenaran, tetapi itu diterima dalam multi-interpretable. Tapi, ketika memahami puisi dari segi pesan akan tertuju pada amanat yang masih mengacu pada arahan dari pengarang. Padahal, Roland Barthes (1986) telah menulis esai berjudul La Mort de L'auteur (Kematian Pengarang). Segera setelah fakta dinarasikan, diskoneksi terjadi, suara kehilangan jejak sumber asalnya, pengarang menyongsong kematiannya sendiri dan tulisan mengada. (Barthes, 2010: 145). Kematian pengarang itu sendiri bukan dimaksudkan bahwa pengarang tidak punya hak bicara, melainkan agar interpretasi tidak percaya secara penuh disampaikan pengarang diluar teks. Pengarang boleh saja berbicara. Namun, yang dibicarakan oleh pengarang sudah menjadi bagian dari sekian banyak pemaknaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan puisi di kalangan akademik dipahami antara intrinsik dan ekstrinsik yang bertaut. Aspek-aspek seperti diksi, gaya bahasa, tipografi, rima, dan unsur dari luarnya dianalisis dengan sendiri-sendiri kemudian disatukan. Ada kesan bahwa analisis seperti itu dilakukan dengan menjadikan teks “dibedah” kemudian “dijahit” ulang sesuka pembaca. Dalam memahami hal seperti itu, arah ujungnya akan mencari nilai atau konsep yang terkandung di dalam suatu teks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu, Ignas Kleden (2004: 71) menekankan upaya kritik kebudayaan terhadap teks sastra dilakukan "bukan sekadar refleksi intelektual". Ada dua hal yang dapat dilakukan. Pertama, seorang peneliti dapat memosisikan diri konsisten dangan gejala-gejala kebudayaan di dalam karya sastra dengan melihat bahwa kebudayaan di dalam karya sastra tidak memanipulasi dan tidak mendominasi, tetapi mengemansipasikannya. Semakin teks diposisikan sebagai nilai, maka akan kokoh sebagai warisan, produk, dan condong pada tradisionalisme. Kedua, dengan menempatkan teks sebagai wacana (discourse) untuk berinteraksi dengan ide-ide dan kepercayaan yang dibangun, dikukuhkan, yang bias digusur, didekonstruksi atau dihancurkan. Ada usaha memosisikan teks sebagai hasil produksi penuh dengan kepentingan, pembenaran atas ide-ide membuat rasa percaya yang baru, maka rasa tradisionalisme semakin berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat arbitrair bahasa di dalam puisi yang berusaha menerobos pemaknaan secara semantik sesungguhnya lebih menarik jika ditinjau dari wacana yang berkembang secara bebas. Wacana di dalam puisi dengan kekuatan subjektif dari penyair dalam memainkan kata-kata telah membentuk makna yang dapat diterapkan dalam keadaan berlainan. Dalam pandangan Ignas Kleden (2004: 212-213), penyair berbeda dengan pemakai bahasa lainnya dengan menghadapi “kata-kata untuk mengaktifkan polisemi, mengarahkan ambivalensi, sambil mengintensifkan ambiguitas dan merayakannya.” Dalam hal ini, berarti sekalipun penyair lebih ekspresif dengan pengalaman, memiliki kerangka konseptual terhadap puisi-puisi yang diciptakannya. Penyair—lewat puisi—berusaha memproduksi wacana dalam dinamika kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi, sekalipun ditulis dengan bahasa rumit, dapat menjadi mekanisme bahasa. Puisi memiliki kekuatan mampu bergerak melalui kekuatan bahasa meluruskan politik. Ada wacana di dalam puisi sebagai pengetahuan. Rahasia sebuah puisi terletak pada kekuatan sebagai pengetahuan yang terus bergerak dalam arena struktur sosial. Orang (pembaca) akan mengatakan bahwa isi puisi itu benar karena sudah diproduksi menjadi puisi. Serangkaian teori telah mengategorikan dan mendeskripsikan pengetahuan-pengetahuan di dalam puisi memiliki dimensi humanis. Puisi sebenarnya terasa sangat subjektif dan penyair dapat diperlakukan sebagai individu dalam gelora rasa mengekspresikan segala yang diketahuinya. Namun, penyair, menurut Kleden (2004: 214), adalah "intelektual publik" karena memiliki kesadaran terhadap batas-batas puisi dan bukan puisi, juga kesadaran ungkap melalui bahasa untuk menampilkan pengetahuan. Pengetahuan penyair didapat berdasarkan rasa dan pengalaman. Pengetahuan-pengetahuan di dalam puisi—yang terwujud melalui bahasa—itulah elemen penting sebagai representasi realitas. Pengetahuan dan bahasa tersatukan di dalam wacana dari puisi melahirkan pengetahuan bagi pembaca maupun penikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran wacana di dalam puisi tidak datang begitu saja sebagai kejutan atau kebetulan, tetapi ia hadir karena adanya sistem produksi sosial atas puisi sehingga berterima masyarakat. Hal ini karena sebagaimana yang dikatakan oleh Foucault dalam esai What is an Author (1978: 1), "Pengarang (baca: penyair) adalah produktor ideologi" dalam setiap makna-makna yang diciptakan di dalam teks, baik melalui sisi estetik maupun etika. Kehadiran wacana di dalam puisi tidak lepas dari pengaruh lingkup sosial seorang pengarang yang memberikan kontribusi cukup besar bagi cara pandangnya, kemudian dimunculkan di dalam setiap susunan kata di dalam puisinya. Maka, mengalisis teks partikular perlu masuk pada konstruksi wacana yang tersusun oleh praktek dan relasi sosial sebagai struktur dan sistem. n&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Arif Hidayat&lt;/span&gt;, bergiat di Komunitas Beranda Budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lampung Post&lt;/span&gt;, Minggu, 29 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-7492013696608012529?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/7492013696608012529/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=7492013696608012529' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/7492013696608012529'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/7492013696608012529'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/teks-yang-partikular.html' title='Teks yang Partikular'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-2917952415133751017</id><published>2012-01-29T09:10:00.000-08:00</published><updated>2012-01-31T09:16:01.993-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><title type='text'>[Buku] Jawara dan Santri dalam Novel</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-YDJ_CwhvsVA/TyghbeguNII/AAAAAAAAGb0/5SuE2Gw4_bs/s1600/29Jawara.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 224px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-YDJ_CwhvsVA/TyghbeguNII/AAAAAAAAGb0/5SuE2Gw4_bs/s320/29Jawara.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5703845683995227266" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul     : Jawara, Angkara di Bumi Krakatau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis    : Fatih Zam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit   : Metamind (Tiga Serangkai), Januari 2012&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tebal    : xiv + 530 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TAHUN 1990-an, membaca Banten melalui medium sastra mungkin hanya lewat Balada Si Roy, karya fenomenal Gola Gong. Kini telah bermunculan penulis muda Banten yang mengeksplor ihwal-ihwal lokalitas setempat dalam karya mereka. Novel Jawara, Angkara di Bumi Krakatau karya Fatih Zam yang terbit awal tahun ini, bisa menjadi semacam pintu masuk melihat Banten lewat karya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel hampir 50 bab ini berlatar sejarah dan budaya lokal Banten. Menarik dibaca karena mengangkat tema konflik horizontal antara jawara dan ulama (kiai dan santri) juga perihal meletusnya Krakatau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bab-bab awal kita disuguhi potongan-potongan kisah beberapa tokoh yang muncul silih berganti dengan problem masing-masing. Ada tokoh Badai, pendekar muda yang berambisi mencari kitab Serat Cikadueun yang ditulis Syekh Mansur, seorang ulama Banten yang memiliki karomah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Badai tergoda dongeng yang mengeram di benaknya sejak kecil bahwa siapa pun yang mendapatkan kitab itu kesaktiannya berlipat. Lempeng batu yang diberi Abah Santa adalah penunjuk jalan bagi Badai menemukan kitab itu. Ada lempengan lain yang harus ditemukan Badai. Oleh Abah Santa, Badai diperintah mencari Kiai Kohar yang tahu tentang lempeng pasangannya. Jika kedua lempeng itu disatukan, tertera kalimat yang masih harus dipecahkan maknanya. Banyak aral yang ditempuh Badai dalam misinya mencari Kiai Kohar. Ada pula tokoh Jaka, santri yang diutus menimba ilmu silat kepada Kakek Lie Ching, mantan begundal yang tobat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawara dan kiai adalah dua entitas di Banten yang sejatinya berkaitan erat dan bersimbiosis mutualisme. Kiai berdakwah, jawara mengawalnya. Yang satu lemah lembut, yang satu keras. Beda cara, memiliki tujuan sama. Jawara, yang artinya jagoan, wanian (pemberani), dan wara (rendah hati) sebenarnya bagian dari pesantren, namun lebih fokus ke olah kanuragan. Sayangnya perilaku segelintir oknum membuat istilah jawara mengalami pergeseran makna dari sifat-sifat luhur menjadi image negatif. Jawara kini indentik dengan preman, tukang onar, bermodal kekuatan fisik mencapai tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Praktek pecah belah sejak zaman penjajahan sampai sekarang masih marak di banyak tempat dengan kemasan berbeda. Dalam novel ini, ada pihak yang berniat buruk merusak hubungan kiai dan jawara, yaitu tokoh antagonis bernama Angkara. Ia sosok abstrak yang konon menyulut fitnah, menghasut para jawara membumihanguskan seluruh pesantren. Hanya kitab Serat Cikadueun yang bisa mengalahkan Angkara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara santri bernama Saefudin jadi sosok yang berbeda. Ia berhasil lolos dari pertempuran justru tak berniat membalas dendam kematian ayahnya yang kiai. Ia menolak terlibat dalam seteru ulama-jawara, memilih menjalani kehidupan sebagai nelayan dan jadi saksi atas sebuah kejadian santet. Korelasi Saefudin dan tokoh-tokoh lain adalah peristiwa meletusnya Krakatau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika pembaca bertanya-tanya latar waktu dalam novel ini, petunjuknya bisa ditemukan pada bab Wajah-Wajah Beringas. Kita juga akan membaca riwayat golok, senjata tajam yang jadi ciri khas kaum jawara. Itu bukan untuk gagah-gagahan belaka, ada makna filosofis terkandung di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian terakhir, sisipan sejumlah lokus menarik di Banten yang disebut dalam novel. Misalnya, Sumur Tujuh yang pernah disinggahi Sultan Maulana Hasanuddin, seorang pendiri Kesultanan Banten. Sumur yang berada di bukit Puncakkarang dipercaya sebagai pusarnya Banten. Sumur itu diyakini sebagai bekas kemunculan Syekh Mansur dari dalam bumi setelah melakukan perjalanan ke tempat jauh, termasuk Mekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana akhir perjuangan Jaka, Badai, dan para pendekar mencari kitab Serat Cikadueun? Apa sebenarnya keistimewaan kitab itu hingga diperebutkan banyak orang? Siapa atau apa sebenarnya Angkara? Semua pertanyaan itu akan terungkap di akhir cerita. Puisi-puisi hadir di awal setiap bab dalam novel ini mengingatkan pada Balada si Roy-nya Gola Gong, bisa dimaknai sebagai interpretasi atau intisari atas isi bab bersangkutan. Ada juga puisi Sapardi Djoko Damono dan Sutardji Calzoum Bachri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imajinasi dan energi penulis dalam mendeskripsikan adegan-adegan silat di novel ini cukup terjaga. Adegan perkelahian terasa filmis menarik dinikmati. Dengan bahasa komunikatif, novel yang memadukan cerita silat, sejarah, dan budaya ini layak dibaca semua kalangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, tokoh Janari hanya muncul di bab pertama dan bab terakhir, secara implisit menjadi penanda bahwa sejarah memang acap berulang. Secara kontekstual ulama dan jawara masih kerap diperalat oleh sejumlah kalangan untuk mencapai kepentingan tertentu. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Arman A.Z.&lt;/span&gt;, Pembaca buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lampung Post&lt;/span&gt;, Minggu, 29 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-2917952415133751017?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/2917952415133751017/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=2917952415133751017' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/2917952415133751017'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/2917952415133751017'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/buku-jawara-dan-santri-dalam-novel.html' title='[Buku] Jawara dan Santri dalam Novel'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-YDJ_CwhvsVA/TyghbeguNII/AAAAAAAAGb0/5SuE2Gw4_bs/s72-c/29Jawara.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-1604377952425181431</id><published>2012-01-29T08:58:00.000-08:00</published><updated>2012-01-31T08:59:57.824-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='daerah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Melayu dan Gempuran Globalisasi dalam Catatan Budaya</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Edi Sarjani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BUDAYA Melayu vs Budaya modern tak dapat dihindari. Ini adalah konsekuwensi dari globalisasi dan Pekanbaru sebagai kota perdagangan metropolis. Budaya Melayu ‘’terpaksa’’ mengizinkan masuknya kebudayaan modern, hanya seberapa besar filterisasi yang mampu dilakukan oleh pelaku budaya (catatan budaya).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Globalisasi merupakan suatu fenomena khusus dalam peradaban manusia yang bergerak terus dalam masyarakat global dan merupakan bagian dari proses manusia global itu. Kehadiran teknologi informasi dan komunikasi mempercepat akselerasi proses globalisasi ini. Globalisasi menyentuh seluruh aspek penting kehidupan. Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan baru yang harus dijawab, dipecahkan dalam upaya memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Globalisasi sendiri merupakan sebuah istilah yang muncul sekitar dua puluh tahun yang silam, dan mulai begitu populer sebagai ideologi baru sekitar lima atau sepuluh tahun terakhir. Sebagai istilah, globalisasi begitu mudah diterima atau dikenal masyarakat seluruh dunia. Wacana globalisasi sebagai sebuah proses ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu mengubah dunia secara mendasar. Globalisasi sering diperbincangkan oleh banyak orang, mulai dari para pakar ekonomi, sampai penjual iklan. Dalam kata globalisasi tersebut mengandung suatu pengertian akan hilangnya satu situasi dimana berbagai pergerakan barang dan jasa antar negara diseluruh dunia dapat bergerak bebas dan terbuka dalam perdagangan. Dan dengan terbukanya satu negara terhadap negara lain, yang masuk bukan hanya barang dan jasa, tetapi juga teknologi, pola konsumsi, pendidikan, nilai budaya  terkhususnya budaya Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep akan globalisasi menurut Robertson (1992), mengacu pada penyempitan dunia secara insentif dan peningkatan kesadaran kita akan dunia, yaitu semakin meningkatnya koneksi global dan pemahaman kita akan koneksi tersebut. Di sini penyempitan dunia dapat dipahami dalam konteks institusi modernitas dan intensifikasi kesadaran dunia dapat dipersepsikan refleksif dengan lebih baik secara budaya. Globalisasi memiliki banyak penafsiran dari berbagai sudut pandang. Sebagian orang menafsirkan globalisasi sebagai proses pengecilan dunia atau menjadikan dunia sebagaimana layaknya sebuah perkampungan kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian lainnya menyebutkan bahwa globalisasi adalah upaya penyatuan masyarakat dunia dari sisi gaya hidup, orientasi, dan budaya. Pengertian lain dari globalisasi seperti yang dikatakan oleh Barker (2004) adalah bahwa globalisasi merupakan koneksi global ekonomi, sosial, budaya dan politik yang semakin mengarah ke berbagai arah di seluruh penjuru dunia dan merasuk ke dalam kesadaran kita. Produksi global atas produk lokal dan lokalisasi produk global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Globalisasi adalah proses dimana berbagai peristiwa, keputusan dan kegiatan di belahan dunia yang satu dapat membawa konsekuensi penting bagi berbagai individu dan masyarakat di belahan dunia yang lain. (A.G. Mc. Grew, 1992). Proses perkembangan globalisasi pada awalnya ditandai kemajuan bidang teknologi informasi dan komunikasi. Bidang tersebut merupakan penggerak globalisasi. Dari kemajuan bidang ini kemudian mempengaruhi sektor-sektor lain dalam kehidupan, seperti bidang politik, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain. Contoh sederhana dengan teknologi internet, parabola dan TV, orang di belahan bumi manapun akan dapat mengakses berita dari belahan dunia yang lain secara cepat. Hal ini akan terjadi interaksi antar masyarakat dunia secara luas, yang akhirnya akan saling mempengaruhi satu sama lain, terutama pada kebudayaan daerah, seperti kebudayaan gotong royong,menjenguk tetangga sakit bahkan dalam beradap sekalipun. Globalisasi juga berpengaruh terhadap pemuda dalam kehidupan sehari-hari, seperti budaya berpakaian, gaya rambut, sopan santun di tanah melayu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam catatan budaya mengadai melayu menjemput mimpi penulis Tatang Yudiansyah mengemukakan dua statemen yang menarik untuk dicermati. Pertama : Pekanbaru dikepung oleh fasilitas hiburan modern yang berpotensi menjadi pemangsa budaya Melayu di kota bertuah ini. Prakteknya kebudayaan modern cenderung negative dan bertentangan dengan prilaku budaya Melayu yang religious. Riau salah satu provinsi di nusantara yang tunak mengumandangkan Melayu mempersilahkan Pekanbaru pada barisan terdepan, mengawal marwah gerbang budaya. Taklah cukup hanya dengan bangunan dengan selembayungnya saja, namun nilai Melayu dalam aplikasi performance, mental dan bahasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, Pekanbaru hari ini seperti sudah direncanakan sebelumnya menjadi kota pusat perdagangan dan jasa. Sultan Siak ke-4, Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah pernah memimpikan hal itu, karena ia menjadikan Senapelan sebagai basis perdagangan Kerajaan Siak. Seperti mengabulkan mimpi, Senapelan yang berganti nama menjadi Pekanbaru benar-benar menjadi pusat perdangangan dan jasa, dengan pertumbuhan ekonomi yang tertinggi di Indonesia, lalu diamana budayanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budaya Pekanbaru&lt;br /&gt;Budaya terpaksa berubah seiring keinginan waktu. Manusia sebagai pelaku budaya, secara lahiriyah tak mampu menghadang derasnya budaya baru yang masuk. Inilah fenomena kota besar dengan sejuta budaya yang berbaur di dalamnya. Jakarta dan Pekanbaru merupakan dua kota yang besar dan hamper merip nasibnya. Jika di Jakarta orang Betawi harus rela menjadi kaum maeginal, orang Melayu di Pekanbaru masih bisa berjuang menghambat gempuran budaya modern walaupun harus merangkak tertatih-tatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan fasilitas hiburan yang menyuguhkan budaya modern semakin menjamur. Diskotek, bar, cafi dan karoke yang notebanenya adalah budaya modern ala barat menjadikanPekanbaru sebagai pasar potensial. Menjamurnya bisnis hiburan ini merupakan peringatan dari budaya modern kepada budaya melayu untuk siap pada tinggkat waspada. Sebegitu hangatnya kebudayaan modern ini diterima oleh masyarakat Pekanbaru. Pemerintah seperti membuka telapak tangan menyambut  hal demikian. Masyarakatpun sangat antusias menikmatinya, seakan tak menyadari pahitnya keruntuhan budaya masa akan datang. Akankah masyarakat atau pelaku budaya menyerah begitu saja menyikapi perubahan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Pekanbaru&lt;br /&gt;Kota Pekanbaru, siapa yang tak kenal dengan Pekanbaru saat ini? Pekanbaru merupakan ibukota Provinsi Riau yang oleh masyarakat Indonesia dikenal dengan hasil buminya yang melimpah dan daerah yang kental akan tradisi nilai-nilai kemelayuannya. Keberadaan Kota Pekanbaru yang ramai dan maju inipun menyimpan sejarah dan cerita tersendiri bagi masyarakat Riau. Ada dua versi mengenai asal-mula kota ini yaitu versi sejarah dan versi cerita rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut versi sejarah, pada masa silam kota ini hanya berupa dusun kecil yang dikenal dengan sebutan Dusun Senapelan, yang dikepalai oleh seorang Batin (kepala dusun). Dalam perkembangannya, Dusun Senapelan berpindah ke tempat pemukiman baru yang kemudian disebut Dusun Payung Sekaki, yang terletak di tepi Muara Sungai Siak. Perkembangan Dusun Senapelan ini erat kaitannya dengan perkembangan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Pada masa itu, raja Siak Sri Indrapura yang keempat, Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, bergelar Tengku Alam (1766-1780 M.), menetap di Senapelan, yang kemudian membangun istananya di Kampung Bukit berdekatan dengan Dusun Senapelan (di sekitar Mesjid Raya Pekanbaru sekarang). Tidak berapa lama menetap di sana, Sultan Abdul Jalil Alamudin Syah kemudian membangun sebuah pekan (pasar) di Senapelan, tetapi pekan itu tidak berkembang. Usaha yang telah dirintisnya tersebut kemudian dilanjutkan oleh putranya, Raja Muda Muhammad Ali di tempat baru yaitu di sekitar pelabuhan sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, pada hari Selasa tanggal 21 Rajab 1204 H atau tanggal 23 Juni 1784 M., berdasarkan musyawarah datuk-datuk empat suku (Pesisir, Lima Puluh, Tanah Datar dan Kampar), negeri Senapelan diganti namanya menjadi Pekan Baharu. Sejak saat itu, setiap tanggal 23 Juni ditetapkan sebagai hari jadi Kota Pekanbaru. Mulai saat itu pula, sebutan Senapelan sudah ditinggalkan dan mulai populer dengan sebutan Pekan Baharu. Sejalan dengan perkembangannya, kini Pekan Baharu lebih populer disebut dengan sebutan Kota Pekanbaru, dan oleh pemerintah daerah ditetapkan sebagai ibukota Provinsi Riau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh sebelum Sultan Abdul Djalil Alamuddin Syah, putra Sultan Abdul Djalil Rahmat Syah memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Siak dari Sungai Mempura ke Senapelan pada 1763 Masehi, Petapahan dan Teratak Buluh juga menjadi pusat perdagangan yang cukup ramai pada saat itu. Kedua daerah ini tempat berkumpulnya para pedagang dari pedalaman Sumatera membawa hasil pertanian, hasil hutan, dan hasil tambang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh para pedagang, hasil pertanian, hasil hutan dan hasil tambang tersebut mereka bawa ke Singapura dan Malaka mengunakan perahu. Untuk jalur perdagangan Sungai Kampar, pusat perdagangannya terletak di Teratak Buluh. Sedangkan pusat perdagangan jalur Sungai Siak terletak di Petapahan. Perdagangan jalur Sungai Kampar kondisinya kurang aman, perahu pedagang sering hancur dan karam dihantam gelombang (Bono) di Kuala Kampar dan sering juga terjadi perampokan yang dilakukan oleh para lanun. Sedangkan Sungai Siak termasuk jalur perdagangan yang cukup aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senapelan ketika itu hanya sebuah dusun kecil yang letaknya di kuala Sungai Pelan, hanya dihuni oleh dua atau tiga buah rumah saja (sekarang tepatnya di bawah Jembatan Siak I). Pada saat itu di sepanjang Sungai Siak, mulai dari Kuala Tapung sampai ke Kuala Sungai Siak (Sungai Apit) sudah ada kehidupan, hanya pada saat itu rumah-rumah penduduk jaraknya sangat berjauhan dari satu rumah ke rumah lainnya. Ketika itu belum ada tradisi dan kebudayaan, yang ada hanya bahasa, sebagai alat komunikasi bagi orang-orang yang tinggal di pinggir Sungai Siak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa sehari-hari yang mereka pakai adalah bahasa Siak, bahasa Gasib, bahasa Perawang dan bahasa Tapung, karena orang-orang inilah yang lalu-lalang melintasi Sungai Siak. Pada saat itu pengaruh bahasa Minang, bahasa Pangkalan Kota Baru dan bahasa Kampar belum masuk ke dalam bahasa orang-orang yang hidup di sepanjang Sungai Siak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Sultan Abdul Djalil Alamuddin Syah memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Siak dari Sungai Mempura ke Senapelan, pembesar-pembesar kerajaan serta orang-orang dalam kerajaan serta keluarganya ikut pindah ke Senapelan. Dan pada saat itulah tradisi serta budaya, bahasa sehari-hari terbawa pindah ke Senapelan. Di Senapelan, sultan membangun istana (istana tersebut tidak terlihat lagi karena terbuat dari kayu). Sultan juga membangun masjid, masjid tersebut berukuran kecil, terbuat dari kayu, makanya masjid tersebut tidak bisa kita lihat lagi sekarang ini. Dari dasar masjid inilah menjadi cikal bakal Masjid Raya Pekanbaru di Pasar Bawah sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sultan juga membangun jalan raya tembus dari Senapelan ke Teratak Buluh. Sultan Abdul Djalil Alamuddin Syah membangun pasar, yang aktivitasnya hanya sepekan sekali. Belum sempat Senapelan berkembang, Sultan Abdul Djalil Alamuddin Syah wafat pada 1765 masehi dan dimakamkan di samping Masjid Raya Pekanbaru, sekarang dengan gelar Marhum Bukit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasar pekan dilanjutkan oleh putranya Raja Muda Muhammad Ali yang dibantu oleh ponakannya Said Ali (Anak Said Usman). Di masa Raja Muda Muhammad Ali inilah Senapelan mengalami kemajuan yang sangat pesat. Pasar yang dibangun yang pelaksanaannya hanya sekali sepekan melahirkan kata Pekanbaru. Pekan (berarti pasar sekali sepekan). Baru (baru dibangun saat itu). Saat itulah nama Senapelan lama kelamaan semakin menghilang, orang lebih banyak menyebut Pekanbaru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Pekanbaru menjadi ramai maka muncullah para pendatang dari pelosok negeri mulai dari Minang Kabau, Pangkalan Kota baru, Kampar, Taluk Kuantan, Pasir Pengaraian, dan lain-lain. Awalnya mereka berdagang, lama kelamaan mereka menetap. Dengan menetapnya para pedagang tersebut di Pekanbaru lalu mereka melahirkan generasi (anak, cucu, cicit). Anak, cucu, dan cicit tersebut menjadi orang Pekanbaru. Masing-masing pedagang yang datang dan menetap di Pekanbaru membawa bahasa serta tradisi dari asal daerah mereka masing-masing. Lalu mereka wariskan kepada anak cucu dan cicit mereka. Dari situlah mulai kaburnya bahasa, tradisi asli Pekanbaru yang berasal dari Kerajaan Siak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam catatan Anas Aismana, seniman, Budayawan Kota Pekanbaru beliau mengatakan.  Kalau ingin tahu lebih jelas lagi mengenai sejarah, bahasa serta tradisi asli Pekanbaru, tanyakan kepada orang-orang Pekanbaru yang nenek moyang mereka berasal dari Siak, atau nenek moyang mereka orang-orang yang hidup di dalam lingkungan Kerajaan Siak. Mustahil para pedagang yang datang dan menetap di Pekanbaru menceritakan kepada anak cucu mereka tentang sejarah dan tradisi Pekanbaru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti mereka tanamkan ke dalam pikiran anak cucu mereka bagaimana cara berdagang yang baik dan sukses.  Dalam hal ini peran Lembaga Adat  Kota Pekanbaru sangat penting sekali, untuk meluruskan dan menjelaskan sejarah dan tradisi asli Pekanbaru. Maka dari itu pengurus Lembaga Adat Kota Pekanbaru mau tak mau harus tahu sejarah serta adat istiadat asli Pekanbaru. Karena Lembaga Adat tempat orang minta petunjuk, minta pendapat dan minta petuah. Smoga kehidupan ini tidak terkikis oleh modernisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edi Sarjani, mahasiswa jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Riau, nominator puisi Nasional tingkat Mahasiswa se- Indonesia 2010 di Purwokerto. Peserta Training Kritik Sastra se- Indonesia bersama Joni Ariadinata di Jogjakarta 2011. Bergiat di komunitas Peradaban dan FLP Riau. Tinggal di Kota bertuah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Riau Pos&lt;/span&gt;, Minggu, 29 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-1604377952425181431?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/1604377952425181431/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=1604377952425181431' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/1604377952425181431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/1604377952425181431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/melayu-dan-gempuran-globalisasi-dalam.html' title='Melayu dan Gempuran Globalisasi dalam Catatan Budaya'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-8205273293785709157</id><published>2012-01-29T08:53:00.000-08:00</published><updated>2012-01-31T08:54:10.593-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seni'/><title type='text'>Teknologi dan Tanda Zaman Senirupa</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Dantje S Moeis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENONTON dan pemerhati, juga adalah konsumen dunia seni rupa. Konsumen pada dunia senirupa tidak selalu berarti pembeli atau kolektor karya seni jenis ini, tapi juga mereka yang memperkaya pemahaman atau yang menggunakan daya aksesnya secara aktif maupun pasif terhadap segala sisi, baik perkembangan maupun keberadaan dunia seni rupa, terutama yang berada di ruang pamer. Kerena setakat ini, ruang pamerlah yang dianggap layak dan efektif sebagai jembatan komunikasi antara karya senirupa dengan konsumennya (dalam konteks ini penonton dan pemerhati).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lazim sebagai upaya memperkaya pemahaman serta keadaan karya seni di Riau (Pekanbaru) atau di mana saja, selalu diwakili oleh tulisan-tulisan kritik seni di media-media massa terutama yang menyediakan ruang  khusus seni. Tentunya kadar tulisan yang ada di sana adalah tulisan-tulisan yang serius, dibuat oleh para kritikus/pemerhati seni, berisi analisa dan kajian tertentu atas fenomena seni terkini. Tulisan ini dibuat untuk mendengar ucapan-ucapan, pendapat, komentar dari sisi kritikus/pemerhati mengenai acara seni yang disambanginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam urusan terkait senirupa, minimnya (hampir tidak ada) tulisan yang diharap dapat jadi jembatan komunikasi, baik tentang kualitas, perkembangan yang dapat mengisi pemahaman masyarakat tentang karya senirupa yang dihasilkan oleh seniman perupa Riau. Sedangkan proses perkembangannya di luar sana terus berlanjut, baik dari sisi teknik, kualitas serta penyelarasan dan pemanfaatan teknologi yang berkembang pesat. Nah disinilah peran pemerhati aktif diharapkan. Namun apabila pameran senirupa secara berkala atau temporer pun tak mampu hadir di ruang pamer, tentu jembatan pemahaman tentang nilai praktis, teoritis teknis maupun nilai-nilai lainnya dari sebuah karya senirupa aktual tentu takkan pernah ada pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara faktual, perkembangan senirupa di Indonesia cukup berkembang pesat dan mampu memanfaatkan teknologi yang berkembang laju. Gaung kecanggihan software yang berbagai nama terus menggema di seluruh dunia. Digitalisasi berkembang subur bak jamur di musim hujan dan secara multidimensi, tak terkecuali pada bidang seni lukis. Sebelum lahirnya teknologi software ini, banyak orang beranggapan bahwa tidak mungkin dapat melukis atau membuat gambar dengan komputer. Anggapan itu lenyap seketika setelah muncul beberapa software yang mampu berperan sebagai bidang kanvas yang digital.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diketahui, hingga kini sudah tak terhitung lagi berapa jumah software yang berkembang sebagai sarana pengolah gambar secara digital. Meski begitu, Adobe Photoshop adalah pilihan yang setakat ini pas dan memiliki ranking tertinggi sebagai satu-satunya software untuk keperluan pemaduan gambar rencana, photography, memoles gambar, manipulasi photo, disain grafis, lukisan digital, dan masih banyak lagi keperluan lain yang mengandalkan program yang terkenal cerdas dan handal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah senirupa (lukis)  Indonesia sudah berubah. Pemahaman terhadap senirupa belakangan ini sudah bukan lagi sebatas kanvas, kuas bulu dan cat, melainkan sudah merambah ke berbagai media, alat dan pewarna yang tidak terbayangkan sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para seniman (pembaharu) yang menggunakan media baru ini, ibarat Gallileo yang menemukan teropong. Teropong itu tidak hanya memberikan ‘’pemandangan baru’’ namun, teropong itu juga, telah memberikan kontribusi bagi reinterpretasi cara pandang terhadap media dalam sebuah karya. Sementara beberapa seniman menggali kedalaman media baru, sementara yang lain juga hadir dengan memanfaatkan kepekatan nilai interaktif antara karya dengan penontonnya. Karya ini tentu saja tidak hanya dapat dilihat dari sudut tertentu, namun juga memberikan kesempatan bagi penonton untuk berinteraksi dengan karya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya lukis yang kemudian dengan kata sepakat diberi nama dan berjenis lukisan digital (digital painting), adalah bentuk seni yang muncul di mana teknik melukis tradisional seperti cat air , cat minyak, acrilyc, tempera dan lain sebagainya akan diterapkan dengan menggunakan perangkat digital melalui sebuah komputer. Lukisan digital berbeda dari bentuk-bentuk seni digital, khususnya yang dihasilkan seni komputer, dalam hal ini tidak melibatkan komputer rendering (salinan) dari model. Seniman menggunakan teknik melukis untuk menciptakan lukisan digital secara langsung pada komputer. Semua program lukisan digital mencoba untuk meniru penggunaan media fisik melalui berbagai efek kuas dan cat. Terlalu tehnis sifatnya apabila tahapan-tahapan yang merupakan proses pengerjaan sebuah karya digital painting kalau saya sampaikan di sini. Karena pengalaman yang bersifat empirik dan kecenderungan individu perupa sangat berlaku di sini seperti juga pada proses pengerjaan karya seni-lukis konvensional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok perempuan bernama Magdalena (Rotua Magdalena P. Agung) adalah salah satu dari sekian banyak perupa Indonesia masa kini yang cenderung berkiprah melalui karya ekspresi seni digital painting (contemporer), Magda dikenal sebagai perupa yang awalnya memilih bidang seni grafis dalam dekade hampir bersamaan dengan rekannya sesama perupa Almarhumah Marida Nasution &amp; Anna Zuchriana, mereka sama-sama telah menempuh kuliah dan memilih bidang seni grafis, dan Magda tercatat sebagai Mahasiswi Angkatan 1990 jurusan seni murni, program study seni grafis di Fakultas Seni Rupa dan Desain IKJ (FSRD IKJ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perupa Indonesia lainnya yang juga berkiprah dengan karyanya melalui tehnik digital antara lain perupa seperti FX. Harsono, salah satu sosok perintis perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia, yang telah banyak menghasilkan karya seni digital dan menunjukkan kemampuan memadu teknologi fotografi dan idiom computer imaging, juga perupa Devy yang lama berkecimpungan didunia seni grafis konvensional terutama kemahirannya dibidang tehnik etsa dan telah turut andil dalam mengenalkan seni digital baru melalui proses pengembangan dibidang seni grafis dengan cara memperdalam bidang seni digital di dinegara barat diantaranya di Canada, Jerman. Devy dikenal juga sebagai salah satu pendiri Studio dan Galleri Red Point. Bandung sumbangsihnya yang besar untuk turut andil dalam memberi apresiasi seni didunia seni grafis khususnya pada masyarakat pencinta seni serta kiprahnya sebagai perupa seni Grafis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita di Riau juga memerlukan sosok-sosok perupa yang rajin bereksplorasi dari berbagai aspek sehingga melahirkan sesuatu karya senirupa yang baru dan selalu terus membaharu hingga tercatat zaman. Namun semua itu menjadi tak berarti apa-apa tanpa dukungan dan perhatian pihak berkompeten, apalagi pihak yang sebenar-benarnya ditugasi untuk mengurus itu, untuk memberikan kesempatan dan sarana berpameran sebagai laluan konsumen untuk ditonton, diamati, ditulis dan dikritisi sehingga kita seniman Riau menjadi tak tertinggal sangat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dantje S Moeis&lt;/span&gt;, Seniman perupa, redaktur majalah budaya Sagang, dosen luar-biasa pada Akademi Kesenian Melayu Riau (AKMR). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Riau Pos&lt;/span&gt;, Minggu, 29 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-8205273293785709157?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/8205273293785709157/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=8205273293785709157' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/8205273293785709157'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/8205273293785709157'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/teknologi-dan-tanda-zaman-senirupa.html' title='Teknologi dan Tanda Zaman Senirupa'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-6333016857434362839</id><published>2012-01-29T03:06:00.000-08:00</published><updated>2012-02-01T03:08:27.507-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Sekolah RSBI Dinilai Gagal</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Ester Lince Napitupulu &amp; Marcus Suprihadi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;JAKARTA, KOMPAS.com — Sorotan terhadap keberadaan sekolah berstatus rintisan sekolah bertaraf internasional terus menguat. Desakan kepada pemerintah untuk mengevaluasi kebijakan ini juga terus mencuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konferensi kerja nasional Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di Bandung yang berakhir pada Minggu (29/1/2012), PGRI mendesak pemerintah menindaklanjuti hasil evaluasi penyelenggaraan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI/SBI) yang dinilai gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kebijakan soal RSBI ini menimbulkan diskriminasi dalam pelayanan pendidikan dan biaya pendidikan," kata Ketua Pengurus Besar PGRI Sulistiyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota Komisi X DPR, Raihan Iskandar, mengatakan, pemerintah mestinya fokus pada pemerataan peningkatan mutu pendidikan. "Tanpa label-label internasional yang membuat sekolah unggulan justru jadi eksklusif," ujar Raihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Raihan, DPR berinisiatif merevisi UU Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Termasuk juga soal pasal yang mengatur RSBI/SBI yang justru menyimpangkan arah pendidikan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pendidikan bermutu seharusnya dinikmati semua anak bangsa dan tidak diskriminatif seperti sekarang ini," ujar Raihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Edukasi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas.com&lt;/span&gt;, Minggu, 29 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-6333016857434362839?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/6333016857434362839/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=6333016857434362839' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/6333016857434362839'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/6333016857434362839'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/sekolah-rsbi-dinilai-gagal.html' title='Sekolah RSBI Dinilai Gagal'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-3653659246537859348</id><published>2012-01-29T01:21:00.000-08:00</published><updated>2012-02-01T01:22:05.845-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Ujian Nasional: Tuhan Sedang Sibuk</title><content type='html'>-- Ester Lince Napitupulu &amp; Marcus Suprihadi | &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA, KOMPAS.com- Fenomena irasionalitas dalam pendidikan semakin memprihatinkan. Fenoma ini tidak hanya ditemui di kalangan siswa atau guru, tetapi juga banyak ditemui dalam kebijakan pendidikan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan irasionalitas yang merebak dalam pendidikan tersebut antara lain disorot dalam buku karya Ahmad Rizali, anggota Dewan Pembina Ikatan Guru Indonesia (IGI) yang diluncurkan dalam rapat kerja nasional IGI. Buku kedua Ahmad Rizali berjudul "Catatan Waktu; Tuhan Sedang Sibuk" ini berisi kritik sosial dan pendidikan yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Rizali, Minggu (29/1/201) menjelaskan, tulisan dalam buku ini mengkritik kebijakan pendidikan yang menyebabkan jutaan siswa menjadi irasional. Sebagai contoh dalam pelaksanaan ujian nasional (UN).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan Sedang Sibuk merupakan salah satu judul tulisan yang berisi betapa sibuknya Tuhan ketika jutaan siswa beramai-ramai istighosah meminta Tuhan meluluskannya dalam menghadapi UN, tanpa ikhtiar, tanpa belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad juga menyebut program rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI/SBI) juga irasional. Program ini menciptakan manusia-manusia yang terasing dengan negerinya sendiri, menumbuhkan kecemburan sosial, dan kastanisasi pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pendidikan nasional semestinya kembali kepada pendidikan bernalar dan bermoral," kata Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil survei asesmen siswa usia sekolah menengah pertama oleh lembaga dunia menempatkan Indonesia pada level terendah hanya karena siswa Indonesia dianggap lebih banyak menghafal, tetapi tidak bernalar. Akibatnya siswa Indonesia dinilai tidak bisa berkompetisi di era global.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena itu, IGI yang fokus pada peningkatan kualitas dan profesionalisme guru, merekomendasikan pentingnya pendidikan bernalar," papar Ahmad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Edukasi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas.com&lt;/span&gt;, Minggu, 29 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-3653659246537859348?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/3653659246537859348/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=3653659246537859348' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/3653659246537859348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/3653659246537859348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/ujian-nasional-tuhan-sedang-sibuk.html' title='Ujian Nasional: Tuhan Sedang Sibuk'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-2109858592811183745</id><published>2012-01-28T04:51:00.000-08:00</published><updated>2012-01-29T04:53:32.678-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seni'/><title type='text'>Jadikan TIM Pusat Kesenian yang Sesungguhnya (2-Habis)</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Arie F. Batubara&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;TIM sendiri jelas-jelas sejak awal dirancang sebagai "pusat kesenian". Hal ini tertuang secara eksplisit dalam Memori Penjelasan Keputusan Gubernur DKI Jakarta No. Ib.3/2/19/1968 tahun 1968 tentang Pembentukan Dewan Kesenian Jakarta, yang antara menyebutkan: ...Jadi, Pusat Kesenian Jakarta merupakan semacam "pemberi ijazah" kepada kegiatan-kegiatan kesenian yang ada di luar Pusat Kesenian tersebut. Diharapkan dia akan merupakan titik pusat perhatian dari semua kegiatan yang ada di Jakarta... (ejaan disesuaikan, pen).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Akan tetapi, seperti kita ketahui, belakangan ini posisi TIM sebagai "titik pusat perhatian dari semua kegiatan (kesenian)" tidak lagi seperti dulu. Dalam dua dekade terakhir terasa benar, pamor sebagai "pusat" tersebut perlahan tapi pasti terus memudar, sehingga ia tak lagi dianggap sebagai "barometer" bagi kegiatan berkesenian baik itu di Jakarta, lebih-lebih untuk Indonesia seperti di era sebelumnya kendatipun hingga kini TIM masih menyebut dirinya sebagai Pusat Kesenian Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Memang, bila kitatelusuri, ada banyak faktor yang menjadi penyebab kemerosotan itu. Di satu siai, misalnya, ada suatu masa di mana ada semacam upaya yang dilakukan termasuk oleh kalangan masyarakat kesenian sendiri untuk mendeligitimasi TIM. Upaya ini cukup terasa berlangsung sepanjang dekade 1990-an. Lalu, di sisi lain, ada pula yang berpendapat bahwa kemerosotan TIM adalah keniscayaan yang harus terjadi karena di luar TIM mulai bermunculan "tempat-tempat pertunjukan lain" yang bisa dijadikan sebagai alternatif oleh para seniman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Namun, sebenarnya, merosotnya pamor TIM tidaklah semata-mata karena kedua faktor tersebut. Ada faktor lain yang jauh lebih penting dan sangat berpengaruh, yakni menyangkut "perhatian" dari Pemerintah Daerah/Provinsi DKI Jakarta. Memang, sampai saat ini pun, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta masih tetap memberi "perhatian" terhadap TIM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tetapi, "kualitas" perhatian itu makin jauh menurun, dibanding, misalnya ketika Jakarta masih di bawah kepemimpinan Ali Sadikin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Seperti diketahui, salah satu bentuk perhatian paling kongkrit Pemerintah Daerah DKI Jakarta terhadap TIM adalah menyangkut pemberian bantuan dana (subsidi) dari APBD untuk membiayai berbagai kegiatan yang ditampilkan di TIM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam hal ini, jika kita lihat data-data yang ada, saat Ali Sadikin masih memimpin Jakarta, jumlah dana yang digelontorkan dari APBD DKI Jakarta untuk TIM rata-rata per tahunnya adalah sekitar 0,05% dari total APBD Jakarta masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Namun, seiring dengan lengsernya Ali Sadikin dari kursi Gubernur DKI Jakarta, angka itu ikut pula melorot hingga mencapai titik paling nadir pada dekade 1990-an yang hanya rata-rata 0,01%.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Memang, pada dekade 2000-an, khususnya antara tahun 2003 hingga 2007, angka itu sempat membaik (mencapai rata-rata 0,04%). Tetapi, setelah itu kembali melorot lagi hingga di bawah 0,01%. Bahkan, untuk tahun 2012 ini, jumlah bantuan yang akan diterima TIM dari APBD konon hanya mencapai 0,0069% dari total APBD DKI Jakarta yang mencapai angka Rp 36 triliun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    SANGAT boleh jadi, memang, makin berkurangnya "perhatian" Pemprov DKI Jakarta terhadap TIM sebagai "pusat kesenian" pada satu sisi bisa dipandang sebagai sebuah keniscayaan di tengah era otonomi, demokratisasi, serta globalisasi sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sebab, dalam konteks ini, memang senantiasas kita rasakan selalu ada kecenderungan untuk lebih memberi perhatian terhadap hal-hal yang sifatnya fisik dan memberi kontribusi langsung pada peningkatan pendapatan daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sementara itu, kita tahu, segala sesuatu yang berkaitan dengan kesenian, utamanya kesenian nonpopuler yang tidak bersifat industri, pastilah tidak memiliki kontribusi apalagi dalam jumlah besar dan langsung pula kepada pendapatan daerah maupun sebagai parameter untuk keberhasilan pembangunan. Karenanya sangat wajar jika kesenian tidak akan pernah menjadi salah satu prioritas yang harus mendapat perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tetapi, pada sisi lain, adalah sebuah kekeliruan yang sangat besar bagi sebuah kota metropolitan yang sekaligus menyandang predikat sebagai Ibukota Negara seperti Jakarta, manakala kota itu menganggap urusan kesenian bukan prioritas sehingga lantas "menelantarkan" pusat kesenian yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sebab, sebagaimana sudah dikemukakan di bagian awal tulisan ini, sebuah kota yang maju dan modern, sesungguhnya belumlah lengkap bisa menyatakan dirinya sebagai kota manakala kota itu tidak memiliki "pusat kesenian" yang repsentatif dan berwibawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Atau, dengan perkataan lain, prasyarat atau penanda bagi sebuah kota untuk bisa dikatakan sebagai kota yang maju dan modern, sesungguhnya bukanlah kehadiran bangunan megah dan mewah seperti hotel, mall, pusat perbelanjaan, apartemen, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Melainkan, apakah kota memiliki sebuah "arts center" yang berwibawa atau tidak. Selama kota itu belum memilikinya, maka kota itu belumlah dipandang sebagai sebuah kota kendatipun hotel, mall, pusat perbelanjaan, apartemen, serta gedung-gedung perkantoran lain yang dimilikinya bertabur begitu banyak dan megah. Singapura adalah contoh yang paling pas untuk ini, Sebelum kota itu memiliki Esplanade, Singapura sama sekali tak dipandang sejajar dengan kota-kota besar seperti London, New York, Paris, bahkan Hongkong sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jadi, dalam konteks posisi Jakarta sebagai kota metropolitan yang juga Ibukota Negara, keberadaan sebuah pusat kesenian yang berwibawa sesungguhnya adalah sebuah keniscayaan. Kota ini belumlah lengkap bisa dikatakan sebagai sebuah kota manakala ia tidak belum memiliki sebuah pusat kesenian yang repsentatif dan berwibawa. Karena itu, menjadi semacam keniscayaan pula apabila keberadaan pusat kesenian yang sekarang ini ada (baca: PKJ-TIM) dikembalikan posisinya sebagai sebuah "pusat kesenian" yang sesungguhnya sebagaimana yang pernah dimainkannya di masa-masa awal kehadirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Bahkan, dalam konteks keinginan untuk semakin mengembangkan ekonomi kreatif yang belakangan ini digencarkan pemerintah, kebutuhan terhadap kehadiran sebuah "pusat kesenian" yang berwibawa sebagaimana yang pernah diperankan TIM di era 70-an hingga 80-an, adalah sebuah keharusan. Sebab, seperti kita tahu, salah satu "komoditas" penting dan paling diandalkan dalam kegiatan ekonomi kreatif justru adalah kesenian. Maka, dalam konteks ini, keberadaan sebuah "pusat kesenian" yang berwibawa adalah infrastruktur utama yang mutlak sangat diperlukan untuk melahirkan dan menampilkan karya seni-karya seni yang mumpuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pada tataran pemahaman semacam ini, maka sangatlah wajar kiranya apabila kita berharap atau bahkan mendesak agar Pemprov DKI Jakarta selaku "pemilik" PKJ-TIM kembali memberi perhatian kepada PKJ-TIM dan mengembalikan posisinya benar-benar sebagai "pusat kesenian" yang sesungguhnya....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suara Karya&lt;/span&gt;, Sabtu, 28 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-2109858592811183745?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/2109858592811183745/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=2109858592811183745' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/2109858592811183745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/2109858592811183745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/jadikan-tim-pusat-kesenian-yang_28.html' title='Jadikan TIM Pusat Kesenian yang Sesungguhnya (2-Habis)'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-7301871916737915131</id><published>2012-01-27T08:15:00.000-08:00</published><updated>2012-01-27T08:16:04.846-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Judicial Review UU Sisdiknas: MK Gelar Sidang Perdana soal RSBI</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Indra Akuntono &amp; Inggried Dwi Wedhaswary&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA, KOMPAS.com - Mahkamah Konstitusi (MK) menggelar sidang pendahuluan atas judicial review Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) pasal 50 (3) terhadap pasal 31 UUD 1945 tentang dasar hukum Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI/SBI), Jumat (27/1/2012), di Gedung MK, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sidang perdana ini, hakim yang memimpin jalannya persidangan meminta pemohon, yaitu Koalisi Anti Komersialisasi Pendidikan (KAKP) untuk menambah beberapa materi yang akan diuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini sidang pembukaan. Hakim meminta kami memenuhi beberapa materi, seperti misalnya filosofi pendidikan nasional dengan adanya RSBI," kata anggota KAKP, Jumono kepada Kompas.com, siang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumono menjelaskan, alasan hakim meminta penambahan materi adalah untuk dipelajari lebih jauh mengenai UU Sisdiknas dan keberadaan RSBI. Sebab, hakim merasa masih perlu menguasai lebih dalam tentang hal-hal yang akan dibahas dalam persidangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menambahkan, sidang lanjutan akan digelar pada dua minggu ke depan. Rencananya, sejumlah saksi ahli akan dihadirkan, baik dari kalangan akademisi mau pun pemerhati pendidikan. Di antaranya, Darmaningtyas, HAR Tilaar, Winarno Surachman, dan Sugiarto. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Edukasi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas.com&lt;/span&gt;, Jumat, 27 Januari 2012 &lt;br /&gt;|&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-7301871916737915131?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/7301871916737915131/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=7301871916737915131' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/7301871916737915131'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/7301871916737915131'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/judicial-review-uu-sisdiknas-mk-gelar.html' title='Judicial Review UU Sisdiknas: MK Gelar Sidang Perdana soal RSBI'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-2128276413423349888</id><published>2012-01-26T08:19:00.001-08:00</published><updated>2012-01-27T08:21:17.823-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Ketidakadilan RSBI/SBI</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Elin Driana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TANGGAPAN Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh terhadap uji materi Pasal 50 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 terkait rintisan sekolah berstandar internasional yang diajukan oleh Koalisi Antikomersialisasi Pendidikan patut dicermati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyatakan bahwa rintisan sekolah berstandar internasional (RSBI) merupakan wadah atau layanan khusus bagi anak-anak pintar (Kompas, 30/12/2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, ”Jika semua anak-anak pintar harus bersekolah di sekolah yang reguler, dikhawatirkan tidak ada kesempatan untuk berkembang,” kata Mendikbud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendidikan khusus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kerancuan yang berpotensi menimbulkan multitafsir dalam pernyataan Mendikbud. Ia mencampuradukkan antara RSBI/sekolah berstandar internasional (SBI) yang diatur dalam Pasal 50 Ayat (3) UU No 20/2003 dengan pendidikan khusus yang diatur dalam Pasal 32 Ayat (1) UU yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 17/2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan ataupun Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan SBI pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah juga tidak menyebutkan peran RSBI/SBI sebagai pendidikan khusus bagi anak-anak dengan kemampuan akademik lebih tinggi daripada siswa-siswa pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, apakah dalam pandangan Mendikbud RSBI/SBI juga merupakan realisasi Pasal 32 Ayat (1) UU No 20/2003? Jika RSBI/SBI adalah pendidikan khusus, mengapa perlu ada pasal terpisah dari pasal pendidikan khusus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan penulis, pendidikan khusus yang dimaksudkan dalam Pasal 32 tentunya berbeda dari RSBI/SBI. Pendidikan khusus tersebut ditujukan, antara lain, untuk anak-anak yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa yang hingga kini belum jelas pula konsep pembinaan dan pelaksanaannya pada tataran praktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persyaratan-persyaratan khusus dalam penerimaan peserta didik di RSBI/SBI yang tercantum pada Pasal 16 Ayat (1) Permendiknas Nomor 78 Tahun 2008 berlawanan dengan semangat Pasal 5 Ayat (1) UU No 20/2003. Bunyinya, ”Setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya Pasal 11 Ayat (1) menegaskan pula bahwa ”Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekolah untuk siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya, peraturan-peraturan dan perundang-undangan yang berlaku mensyaratkan, antara lain, prestasi akademik untuk dapat mengakses pendidikan bermutu melalui mekanisme penerimaan siswa ke jenjang yang lebih tinggi di pendidikan dasar dan menengah. Konsekuensinya, yang memiliki peluang mendapatkan pendidikan lebih bermutu adalah siswa dengan prestasi akademik yang lebih tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketidakadilan ini tidak hanya terjadi di sekolah-sekolah negeri dengan label RSBI/SBI—yang telah memenuhi Delapan Standar Nasional Pendidikan dan diperkaya dengan kurikulum negara-negara OECD ataupun negara maju lainnya—tetapi juga di sekolah-sekolah yang berada pada level di bawah RSBI/SBI berdasarkan kategorisasi yang dibuat oleh pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nilai UN, misalnya, digunakan sebagai dasar seleksi dari SD ke SMP/setingkat dan dari SMP ke SMA/setingkat sebagaimana tercantum pada Pasal 68 PP Nomor 19 Tahun 2005. Siswa dengan nilai UN lebih tinggi berpeluang lebih besar untuk diterima di sekolah-sekolah yang masuk dalam kategori sekolah standar nasional (SSN). Siswa yang memiliki nilai UN lebih rendah harus menerima kenyataan bersekolah di sekolah-sekolah dengan mutu lebih rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap anak memang memiliki minat, bakat, dan kemampuan yang berbeda-beda. Meskipun demikian, anak-anak dengan kemampuan akademik yang kurang sekalipun memiliki peluang yang lebih besar untuk mencapai potensi tertinggi yang dimiliki apabila mereka berada di lingkungan belajar yang lebih kondusif. Lingkungan belajar dengan guru-guru yang memiliki kecintaan tinggi pada profesi yang ditekuninya dan berbagai sarana-prasarana penunjang yang diidealkan bagi RSBI/SBI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat disayangkan jika anak-anak dengan kemampuan akademik kurang tereliminasi oleh peraturan-peraturan yang sebenarnya bertentangan dengan hak warga negara untuk memperoleh pendidikan bermutu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lain pihak, keterkaitan antara prestasi akademik dan status sosial ekonomi orangtua telah mendapatkan dukungan bukti-bukti empiris yang meyakinkan (Dee &amp; Jacob, 2006).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diane Ravich, seorang profesor sejarah pendidikan dari New York University, yang awalnya mendukung ”No Child Left Behind” (tidak seorang anak pun boleh ditinggalkan) dengan kebijakan-kebijakan yang didasarkan pada standardisasi dan akuntabilitas pendidikan yang didasarkan pada hasil-hasil tes, kini berbalik menentang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor kemiskinan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ravich menegaskan bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap rendahnya prestasi akademik siswa adalah kemiskinan. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila siswa dari kalangan lebih mampu secara ekonomi yang mendominasi sekolah-sekolah berlabel RSBI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuota minimal 20 persen yang diberikan bagi anak-anak berkemampuan akademik tinggi, tetapi berasal dari keluarga tidak mampu, jelas tidak memadai dan tidak adil. Anak-anak dengan kemampuan akademik lebih tinggi dari keluarga yang tidak mampu harus bersaing lebih ketat dibanding anak-anak dari keluarga yang lebih mampu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempertahankan RSBI/SBI dan sistem penerimaan siswa baru di sekolah-sekolah negeri pada jenjang pendidikan dasar dan menengah yang ada saat ini berpotensi memperlebar kesenjangan prestasi akademik berdasarkan status ekonomi siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, evaluasi terhadap RSBI/SBI dan sistem penerimaan siswa baru menjadi mendesak. Ini sesuai perintah Pengadilan Negeri Jakarta Pusat terkait gugatan 58 warga negara terhadap ujian negara, Presiden, Wakil Presiden, Mendikbud, dan Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan untuk meninjau kembali sistem pendidikan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Elin Driana&lt;/span&gt;, Dosen Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka; Salah Satu Koordinator Education Forum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, Kamis, 26 Januari 2012 &lt;br /&gt;|&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-2128276413423349888?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/2128276413423349888/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=2128276413423349888' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/2128276413423349888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/2128276413423349888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/ketidakadilan-rsbisbi.html' title='Ketidakadilan RSBI/SBI'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-2734927758241145293</id><published>2012-01-22T09:05:00.000-08:00</published><updated>2012-01-24T09:06:43.374-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><title type='text'>Obsesi Seksual Sangkuriang</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Beni Setia&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;LEGENDA Sangkuriang terkadang hanya dirujukkan pada fakta ruang (gunung) Tangkuban Parahu—selain Burangrang dan Patuha—, lantas (Sungai) Citarum, danau purba Bandung yang surut, dan Sanghyang Tikoro. Titik di Rajamandala, di mana air mengabrasi lapisan lahar dingin pembendung Citarum, dan jadi terowongan liar yang mengeringkan danau purba Bandung. Fakta sanksi etis dari pelampiasan seksualitas di luar ritual pernikahan diabaikan, dan karenanya banyak pihak melupakan inti ajaran konvensional untuk menahan diri liar melampiaskan obsesi seksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prolog teks Sangkuriang terkadang dilupakan. Cerita tentang seorang penguasa (Sungging Perbangkara) yang senang berburu serta hedonis menghabiskan hari di pedalaman diabaikan. Terutama fakta kencing sembarangan, sehingga air kencingnya yang tertampung kelopak daun dijilati babi liar (Wayungyang), dan menyebabkannya hamil tak dibaca sebagai simbol sembarang wanita dari kelas bawah. Dayang Sumbi lahir, diasingkan di pedalaman sebagai wanita trah yang tidak punya hak buat ada di istana diabaikan. Fakta hidup mapan hanya hidup santai menenun—lalu alat tenunnya jatuh, diambilkan si Tumang dan bercinta dengan anjing, lambang pria pengawal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada obsesi seksual yang timpang, majikan memanfaatkan bawahan dan si orang sembarang. Terjadi gradasi pengamalan etika dan peningkatan agresi (obsesif) seksual yang tidak dikekang kesewajaran moral. Dayang Sumbi itu degradasi etika Sungging Perbangkara, dan Sangkuriang itu tingkat terendah degradasi itu—membunuh si ayah, menggejar ibu sebagai objek pelampiasan (obsesi) seksual, persis yang diisyaratkan Freud. Tapi apa degradasi etika dan peningkatan agresi (obsesif) seksual itu tereduksi dengan Dayang Sumbi melakukan pertobatan dan menyepi di (gunung) Patuha? Apa obsesi seksual dan keinginan untuk melampiaskan insting syahwat itu mereda dengan ketiadaan mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soni Farid Maulana (SFM) menjawab: Tidak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BUKU kumpulan cerpen SFM, Empat Dayang Sumbi (Komunitas SLS, 2011), terdiri dari dua bagian. Pertama, Empat Dayang Sumbi, yang terdiri dari dua cerpen ditulis 2002, yakni Kafe Cicak Terbang dan Aku, Tias, dan Secangkir Kopi, lantas cerpen Panggil Saya Aura (2003) serta Pisau Berkilat di Tangan Ning (2005). Semua cerpen itu diawali dengan kehadiran ajaib Dayang Sumbi di masa kini—dan ini yang akan jadi fokus dari telaah singkat ini. Lantas ada sepuluh cerpen-puisi mini yang diberi judul Merindu Wulan dalam Hujan, semacam anekdot yang puitis, beraspek sugesti seksual dan berkadar humor, yang ditafsirkan berdasar fokus telaah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen pertama, Kafe Cicak Terbang, bercerita tentang pertemuan gaib antara seorang wartawan-budayawan dengan seorang perempuan misterius, yang mengaku bernama Tias dan tapi kemudian menyatakan diri sebagai Dayang Sumbi. Ada kencan singkat, ada dialog, dan sekaligus ada ketakutan si Dayang Sumbi kalau Sangkuriang masih memburunya dan akan terus memburunya—dengan membabi buta membunuh si tokoh cerita—, karenanya ia menghilang dengan ruap aroma bunga yang khas. Cerpen kedua, Aku, Tias, dan Secangkir Kopi, ditulis di tahun yang sama, bercerita tentang si tokoh pulang kehujanan, bergegas mandi, dan ketika ia bersarung handuk masuk ke kamar: ada Tias yang Dayang Sumbi. Ada dialog, ada kencan, dan ada janji si Dayang Sumbi akan datang sebagai Tias, dan mereka itu yang berjodoh di alam nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen ketiga, Panggil Saya Aura, merealisasi janji Dayang Sumbi itu, lewat kehadiran Tias untuk si tokoh secara ajaib. Terjadi kencan yang dihiasi reruap aroma bunga yang khas, sebelum kemudian Tias—yang minta dipanggil: Aura—menghilang, karena diungsikan orang tuanya, yang tidak mau anaknya berkencan dengan lelaki tak jelas dan hamil dengan lelaki tak keruan. Cerpen keempat, Pisau Berkilat di Tangan Ning, bercerita tentang kehilangan si tokoh, kebertemanan dengan gadis Ning yang unggul berkesusastraan, dan kencan di kamar Ning. Di sana si tokoh mengakui bila ia yang bercinta dengan Aura—sehingga hamil dan mati saat melahirkan, lalu si anak itu juga mati, dan mereka dikuburkan di Cieunteung, Tasikmalaya. Si tokoh tercenung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah ruap aroma bunga yang khas, Ning mengatakan akan mengantarkan si tokoh berziarah, dengan menghunus pisau yang akan mengupas mangga di celana si tokoh. Simbolisme puisi khas SFM, sekaligus itu kata penutup konvensional khas dari seorang SFM: obsesi seksual yang liar dan pelampiasan yang membabi buta hanyalah pantas diakhiri dengan pengebirian. Dan pembunuhan, barangkali, realisasi kehadiran Sangkuriang, yang cemburu karena si tokoh bercinta dengan penjelmaannya Dayang Sumbi. Apa pun, ambiguitas nilai antara konvensionalisme nilai kelurga dan cemburu obsesif seksual yang agresif dari Sangkuriang, menjadi masalah tak penting, karena yang digarisbawahi justru: obsesi seksual yang liar dan pelampiasan syahwat yang agresif itulah yang tidak disukai SFM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KONTROL moral konvensional SFM atas obsesi seksual itu bisa dilihat juga di cerita-puisi mini yang ditulis 2011, dan kini relatif menjadi ekspresi terkini beberapa sastrawan Indonesia. Kita lihat reaksi marah atas perlakuan tak senonoh pada cerpen-puisi mini Belut, semacam agresivitas khas si Ning. Lantas intertekskan itu dengan cerita-puisi mini Lintah—seorang model lukisan menuntut bayaran yang lebih tinggi kepada si pelukis yang saat itu membayarnya murah dan ada memegang-megangnya, yang ada di alur Ning tapi dengan perhitungan dagang. Dan tendens ekonomi itu ada di Rumah Tangga Penyair, meskipun pendekatan yang obsesif seksual ada di Pukulan Telak dan Putri Sepatu Kaca, sedangkan motif campuran ekonomi dan seksual ada di Iklan dan Bajing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puncak obsesi seksual dengan target pernikahan sah—meskipun (mungkin) itu hanya penguasaan objek seksual secara posesif seorang Rahwana—di satu sisi, dengan hanya petualangan seksual untuk pelampiasan syahwat dari Sita yang merasa nyaman dalam rumah tangga dengan Rama, ada dalam cerita-puisi mini Sita. Di titik ini saya tidak tahu, apa SFM masih menginginkan realisasi moral konvensional pernikahan atau tak ingin jadi si objek pelampiasan syahwat liar yang merugi karena banyak memberikan hadiah barang. Tidak jelas—terlalu ringkas. Kita butuh cerpen lain—bahkan mungkin novel. Memang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Beni Setia&lt;/span&gt;, Pengarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Lampung Post, Minggu, 22 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-2734927758241145293?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/2734927758241145293/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=2734927758241145293' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/2734927758241145293'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/2734927758241145293'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/obsesi-seksual-sangkuriang.html' title='Obsesi Seksual Sangkuriang'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-3002275387621300861</id><published>2012-01-22T09:02:00.000-08:00</published><updated>2012-01-24T09:05:43.985-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosok'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pers'/><title type='text'>[Buku] Usai Ojong, Sendirilah Jakob</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-4D2SdjyO3kc/Tx7knEM168I/AAAAAAAAGbo/TwzGWyqg-yo/s1600/22syukur.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 263px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-4D2SdjyO3kc/Tx7knEM168I/AAAAAAAAGbo/TwzGWyqg-yo/s320/22syukur.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5701245538091264962" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Syukur Tiada Akhir, Jejak Langkah Jakob Oetama&lt;/span&gt;&lt;br style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Penyusun: St. Sularto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit: Kompas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cetakan: I, September 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tebal: vii + 660 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KESUKSESAN grup Kompas-Gramedia seperti sekarang lahir dari tangan dingin duet ini: P.K. Ojong dan Jakob Oetama. Merekalah yang mendirikan Kompas dengan basis keimanan sesuai dengan agama dan keyakinan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran Ojong lebih banyak di sektor usaha dan pengembangan perusahaan meskipun basis Ojong pun jurnalis yang andal. Terlebih Jakob yang memang berkonsentrasi penuh di ranah jurnalistik. Keduanya sepaham meskipun Jakob lebih luwes. Ini kentara saat Kompas termasuk koran yang diberedel pemerintah. Dan saat ada tawaran untuk terbit lagi dengan sejumlah noktah kesepakatan, lubuk hati Ojong tak sepakat. Namun, dengan beragam pertimbangan, termasuk dapur dari karyawan perusahaan yang mesti tetap mengepul, Kompas akhirnya "tunduk" dan terbit lagi. Sampai sekarang. Sampai menjadi raksasa media. Pun ke daerah-daerah dengan koran "murah" berbasis nama Tribun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai Ojong mangkat pada Mei 1980, Jakob mengurus semuanya. Konsentrasinya kini tak cuma pada redaksi. Ia mesti pintar mengelola aset perusahaan dan mencari terobosan agar koran dan grup usahanya itu makin hari makin bagus performanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang sangat menarik dari cara bertindak Jakob adalah mendasari kerjanya dengan basis keimanan. Ia percaya jika bekerja dengan iman yang baik, yang transendental, hasilnya juga bagus. Jakob, sebagaimana sudah dimulakan Ojong, sangat memanusiakan semua karyawannya. Jakob menjadi ayah sekaligus bos besar mereka dalam ranah korporasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat Jakob, sekolahnya di seminari ternyata menjadi basis terkuat dalam cara berpikir dan bertindaknya. Meskipun kemudian "menyimpang" dengan bekerja sebagai wartawan, Jakob tetap punya idealisme seorang seminari. Itu bahkan tecermin dalam sikap hidupnya dalam memimpin korporasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik balik itu barangkali terlihat saat Kompas diberedel dan ditawarkan untuk terbit lagi. Di halaman 31 buku yang disusun St. Sularto ini kita bisa menyimaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Malam itu, tanggal 20 Januari, Jakob segera menuju ke kantor, lokasi redaksi Kompas di Palmerah Selatan. Rumah tinggalnya di Pejompongan, hanya sekitar lima kilometer. Mobil Fiat warna cokelat susu itu dalam beberapa menit sudah menvapai halaman kantor. Jakob menyapa wartawan dan karyawan yang sedang tugas malam. Mereka tetap tekun bekerja walaupun sebagian tampak dengan tatapan kosong. Sebagian ada yang tertawa-tawa, menutupi kebingungan dan kecemasan dengan kebanggaan mengalami dan menyaksikan diri sebagai bagian dari korban pemberedelan penguasa atas media. .... Jakob mendekati mereka sambil merasakan beratnya rasa kehilangan pekerjaan. Swantoro—adik kelasnya di seminari, setahun bekerja bersama di Intisari sebelum akhirnya dia tarik ke Kompas tahun 1967—bertindak cepat. Swantoro meminta agar pekerjaan diteruskan...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buat Jakob, Ojong adalah guru sekaligus rekan kerja yang menyenangkan. Jakob tahu persis bagaimana keseriusan Ojong dalam menekuni bidang kewartawanan. Maka itu, tak heran, kalau Jakob—seperti testimoni banyak pihak—tetap sederhana. Kalaupun ada rasa bangga, itu menjadi kekuatan buat korporasi yang ia pimpin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun ini Jakob pas berusia 80 tahun. Usia yang matang. Ia lahir di Desa Jowahan, dekat Candi Borobudur, Jawa Tengah, 27 September 1931. Dan sampai sekarang masih berdiri sebagai "orang tua" untuk semua karyawannya di grup korporasinya yang besar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nunung Nurdiah&lt;/span&gt;, praktisi pendidikan, pembaca buku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lampung Post&lt;/span&gt;, Minggu, 22 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-3002275387621300861?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/3002275387621300861/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=3002275387621300861' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/3002275387621300861'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/3002275387621300861'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/buku-usai-ojong-sendirilah-jakob.html' title='[Buku] Usai Ojong, Sendirilah Jakob'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-4D2SdjyO3kc/Tx7knEM168I/AAAAAAAAGbo/TwzGWyqg-yo/s72-c/22syukur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-3617481569965276073</id><published>2012-01-22T08:28:00.000-08:00</published><updated>2012-01-24T08:29:43.987-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Sastra yang Menggurui, Anak Cacat?</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Musa Ismail&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SASTRA dan filsafat memang berbeda. Muatan-muatan sastra - sebagian besar - adalah muatan-muatan penuh filsafat. Sebaliknya, inti filsafat tidak bisa kita katakan sebagai (teras) sastra. Karya sastra yang lahir merupakan refleksi mendalam tentang makna kehidupan sebagai cakupan dari filsafat kehidupan. Dari karya sastra, filosof bisa mengkaji nilai-nilai sebagai inti filsafat. Antara sastra dan filsafat memiliki keterkaitan walaupun berbeda. Sebagai suatu hasil kreativitas manusia, sastra mampu memberikan tunjuk ajar. Inilah yang bakal menjadi dasar bahwa sastra itu bersifat didaktis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad Syamsu Rizal, Dosen Filsafat UPI, mengatakan bahwa hubungan filsafat dengan sastra adalah berkenaan dengan muatan itu. Filsafat akan bermakna dalam sastra kalau sastra diisi dengan nilai-nilai karena merupakan filsafat hasil perenungan manusia untuk menemukan jatidirinya. Jadi, di sini sastra berfungsi mengkomunikasikan nilai-nilai tersebut sedemikian rupa berdasarkan karakter sastra. Sastra mengandung unsur hiburan sehingga nikmat dibaca. Keuntungan filsafat dengan sastra yaitu pemikiran kefilsafatan jadi tidak terasa. Sastra tidak menggurui beda dengan filsafat yang murni. Filsafat disebut sebagai pengetahuan lapis kedua bahkan ketiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra memang tidak bisa dilepaskan dari filsafat. Jika dipisahkan, sastra akan dilanda kegersangan yang dahsyat. Alasannya, sastra yang bermutu adalah sastra yang bernilai, memproses pemikiran, dan membawa perkembangan bagi kualitas kehidupan. Salah satu nilai tersebut adalah beraneka hal yang berkelindan dengan dunia filsafat. Proses-proses edukatif dalam sastra akan memberikan nilai berharga bagi perkembangan manusia. Nilai-nilai tersebut akan menjadi pelatihan mental bagi pembacanya. Dalam hal ini, sastra melibatkan dirinya ke situasi yang akan membangun perikehidupan dan perikemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali pertemuan (perbincangan) sastra yang pernah diikuti, saya sering mendengar pesan bahwa sastra itu berada antara gelap dan terang. Sastra itu samar-samar. Filsafat yang disusupkan dalam sastra mestilah tidak menggurui. Hal ini disebabkan perihal menggurui tersebut akan melahirkan kebosanan-kebosanan, kelelahan-kelelahan, mungkin juga kebodohan-kebodohan. Sastra yang menggurui terlalu menganggap bahwa pembacanya itu bodoh. Mochammad Asrori mengatakan pula, karya sastra yang baik selalu mengajak pembaca untuk menjunjung tinggi norma-norma dan moral. Melalui karya sastra, seorang pengarang mampu menyisipkan nilai-nilai moral yang tidak bersifat menggurui atau memberatkan sehingga pesan-pesan moral itu dapat ditangkap penikmat sastra dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cap negatif terhadap sastra yang menggurui tentu berkaitan dengan nilai-nilai/etika yang dikandungnya. Menurut Hans Kung (1991) dalam bukunya Global Responsibility In Search of a New World Ethic, untuk menghindari bencana yang barangkali akan semakin membesar ini tidak bisa tidak harus ada suatu pergeseran nilai dalam paradigma kehidupan manusia. Pergerakan dari nilai-nilai modernitas ke ‘’paska modernitas’’ ini meliputi hal-hal berikut. Pertama, perubahan dari masyarakat yang bebas etik menuju masyarakat yang bertanggung jawab secara etis. Kedua, dari budaya teknokrasi yang mendominasi manusia menuju teknologi yang melayani manusia. Ketiga, dari industri yang merusak lingkungan menuju industri yang ramah lingkungan. Keempat, dari demokrasi legal menuju demokrasi yang berkeadilan dan berkebebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasi bencana itu, karya sastra merupakan salah satu cara terabit karena wajah didaktis yang dimilikinya. Pertanyaannya yakni apakah memang benar bahwa sastra yang menggurui itu akan memberatkan, membosankan, atau melelahkan. Apakah memang benar bahwa sastra itu berada antara terang dan gelap seperti yang disampaikan Alber Camus. Ungkapan Camus ini pernah disampaikan Zuarman Ahmad pada penyerahan Ganti Award di Galeri Ibrahim Sattah, Bandar Serai, Maret 2009. Dia mengatakan bahwa salah satu novel nominator ketika terlalu menggurui. Apakah sastra yang menggurui merupakan karya sastra yang kurang baik sehingga beberapa pakar dan sastrawan sekalipun  sering mencemoohkan kehadirannya di tengah denyut dunia sastra kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepribadian kita tidak sama. Karakter kreativitas sangat berbeda. Latar belakang pun akan mempengaruhi karakter penulisan kreativitas sastra. Patutkah kita berpendapat bahwa Gurindam Duabelas (sekedar menyebutkan salah satu contoh) karya Raja Ali Haji itu membosankan atau melelahkan karena terlalu banyak menggurui? Kalau kita kaji secara saksama, karya sastra lama merupakan karya sastra yang kaya dengan aspek didaktis-eksplisit. Baik prosa maupun puisi dalam sastra lama, memperlihatkan kecondongan-kecondongan ke arah  yang dikatakan sebagai yang menggurui tersebut. Pertanyaannya sekarang, tidak menarikkah karya-karya seperti itu? Lantas, mengapa pula karya sastra demikian mampu menembus batas dan ruang waktu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sebaiknya tidak larut dalam opini - yang seakan-akan - berpandangan bahwa sastra yang menggurui itu kurang layak untuk ditampilkan. Bahkan, tidak sedikit pula yang menilai bahwa sastra yang menggurui itu sungguh memalukan. Inilah opini yang sadis. Selain masalah latar belakang dan karakteristik penulis, ini juga berkaitan dengan selera dan latar belakang pembaca. Situasi dan kondisi sosial pembaca akan mempengaruhi selera dalam menyikapi suatu karya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sastra merupakan wadah untuk mengkomunikasikan, memperjelas, dan mengekspos nilai-nilai kemanusiaan. Mengapa sastra yang menyampaikan nilai-nilai secara gamblang tersebut dikatakan kurang menarik dan melelahkan? Bagi saya, ini suatu kemasan. Apapun bentuknya, jika dibungkuskan dengan sastra, dia tidak akan menjadi kitab kutbah karena sastra memang tidak identik dengan sifat retorika. Karena itu, sastra sebagai alat bisa dijadikan apa saja. Sastra bisa dijadikan alat pembangkit pemberontakan. Sastra bisa mempengaruhi pembaca tanpa terasa atau propaganda. Sastra juga bisa secara terang-terangan dan sarat dalam memprovokasi pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritikan-kritikan yang menghantam lebih mengarah pada ketidakinginan untuk menerima kelahiran sastra yang menggurui. Sastra yang menggurui dianggap anak cacat dari penulisnya. Anggapan-anggapan miring seperti ini justru memperparah eksistensi karya sastra. Seakan-akan, karya sastra ini menanggung beban dosa yang mahaberat di tangan, hati, dan otak pembaca yang anti atau mengalami gangguan jiwa. Dikotomi seperti ini sebenarnya tidak perlu terjadi. Biarkan saja eksistensi sastra yang menggurui itu kita kembalikan sebagai karya sastra saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Musa Ismail&lt;/span&gt;, guru SMAN 3 Bengkalis dan sedang belajar di Prodi Manajemen Pendidikan Universitas Riau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Riau Pos&lt;/span&gt;, Minggu, 22 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-3617481569965276073?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/3617481569965276073/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=3617481569965276073' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/3617481569965276073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/3617481569965276073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/sastra-yang-menggurui-anak-cacat.html' title='Sastra yang Menggurui, Anak Cacat?'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-8339052265665301466</id><published>2012-01-22T08:24:00.000-08:00</published><updated>2012-01-24T08:28:36.876-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='daerah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Identitas dan Etnisitas (Melayu)</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Agus Sri Danardana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PERBINCANGAN, bahkan perbalahan, mengenai (ke)melayu(an) belakangan ini marak kembali. Di harian ini, misalnya, setidaknya telah dimuat empat tulisan: 2 tulisan Marhalim Zaini (Riau Pos, 13 November 2011 serta 8 dan 15 Januari 2012), 1 tulisan Syaukani Al-Karim (Riau Pos, 20 November 2011), dan 1 tulisan Alvi Puspita (Riau Pos, 25 Desember 2011) yang meramaikan perbincangan itu. Esensi keempat tulisan itu adalah mempertanyakan apakah identitas etnis Melayu (kemelayuan) itu sudah pasti: bersifat tetap, tertutup, dan tak tergantikan atau sebaliknya, tidak pasti: bersifat berubah, terbuka, dan tergantikan (mengada).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini sama sekali tidak dimaksudkan sebagai konklusi atas perbalahan (?) yang terjadi itu, tetapi sekadar dimaksudkan sebagai urun rembuk yang insyaallah konstruktif untuk meramaikan perbincangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identitas dan Etnisitas&lt;br /&gt;Konon, konsep identitas dan etnisitas adalah konsep tentang identifikasi diri dan asal-usul sosial yang bersifat relasional. Menurut Fredrik Barth (1969), etnisitas dapat dikatakan eksis ketika orang mengklaim identitas tertentu bagi dirinya dan didifinisikan oleh orang (yang) lain juga dengan identitas yang diklaimnya itu. Etnisitas, dengan demikian, harus dimaknai sebagai identifikasi seseorang dalam berafiliasi dengan kelompok sosialnya. Sementara itu, Schultz &amp; Lavenda (2001) berpendapat bahwa identitas dan etnisitas sesungguhnya merupakan sebuah konsep yang dikontruksi secara budaya. Identitas dan etnisitas diciptakan oleh proses sejarah yang menggabungkan kelompok-kelompok sosial yang berbeda ke dalam struktur politik yang tunggal di bawah kondisi-kondisi sosial tertentu. Selanjutnya, Schultz &amp; Lavenda memberi penjelasan sebagai berikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identitas dan etnisitas merupakan hasil konstruksi (proses) sosial yang lazim disebut askripsi (ascription). Askripsi, proses penandaan sekelompok orang/masyarakat tertentu dengan sembarang: apa pun tandanya (sebagai ciri khas, labelling kelompok tertentu), umumnya berlangsung hingga berabad-abad lamanya. Dalam proses itu terjadi interaksi orang dari aneka latar belakang di berbagai bidang kehidupan. Artinya, proses askripsi tidak akan berlangsung/terjadi justru ketika orang-orang benar-benar menyendiri, tidak berinteraksi. Itulah sebabnya, dalam banyak hal, seseorang sering tidak diperlakukan sebagai pribadi yang mandiri, tetapi diperlakukan sebagai anggota atau wakil kelompok/masyarakat tertentu dengan askripsi tertentu pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senada dengan pendapat itu, Phinney dan Alipora (1990) pun menulis bahwa identitas etnik adalah sebuah konstruksi yang kompleks yang mengandung sebuah komitmen dan rasa kepemilikan (sense of belonging) pada kelompok etnik, evaluasi positif pada kelompok, berminat di dalam dan berpengetahuan tentang kelompok, dan turut serta terlibat dalam aktivitas sosial kelompok. Identitas itu berkaitan dengan masa lalu dan aspirasi masa depan yang berhubungan dengan etnisitas. Jadi, identitas etnik akan membuat seseorang memiliki harapan akan masa depan yang berkait dengan etnisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari berbagai pendapat itu, dapat diketahui bahwa identitas etnik seseorang ternyata tidak berhenti ketika seseorang itu ditasbihkan sebagai anggota etnik tertentu melalui bukti darah/garis keturunan. Identitas terbentuk melalui sosialisasi, baik dalam keluarga maupun masyarakat lingkungannya. Seorang yang terlahir sebagai keturunan Jawa, misalnya, tidak akan merasa memiliki identitas etnis Jawa jika sebelumnya tidak ada sosialisasi identitas terhadapnya. Hal ini dikuatkan oleh Weinreich (1985) yang berpendapat bahwa identitas sosial (termasuk identitas etnik) merupakan penggabungan ide-ide, perilaku, sikap, dan simbol-simbol bahasa yang ditransfer dari generasi ke generasi melalui sosialisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, faktor utama yang mendorong terbentuknya identitas etnik adalah adanya kesamaan-kesamaan besar (seperti pengalaman, latar belakang, adat-istiadat, bahasa, dan perilaku) antaranggota kelompok masyarakat (etnik) yang terbentuk melalui sebuah proses (sosialisasi). Kesamaan-kesamaan itu pada awalnya akan menumbuhkan perasaan seidentitas dan pada gilirannya akan menumbuhkan pula kesadaran bahwa mereka adalah kelompok yang berbeda dengan kelompok lain. Dengan kata lain, terbentuknya identitas etnik ternyata juga memerlukan kehadiran entitas atau etnik lain sebagai komparasi dan penegas identitas etnik yang bersangkutan. Hal ini menegaskan kembali bahwa identitas etnik merupakan hasil dari interaksi sosial. Kelompok yang tidak berinteraksi dengan kelompok lain mungkin tidak akan menyadari bahwa mereka memiliki kesamaan-kesamaan yang besar. Hanya dengan interaksi dengan kelompok lain identitas etnik mereka terbangun, dan semakin intens interaksi itu, semakin berkembang pula identitas etniknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Identitas dan Etnisitas Melayu&lt;br /&gt;Sebagai sebuah proses sosial, dalam kenyataannya, indentitas dan etnisitas tidak selalu dapat diperlakukan sebagai fenomena objektif, tetapi juga subjektif (Hocoy, 1996). Artinya, indentitas dan etnisitas seseorang tidak hanya dapat diukur melalui kriteria-kriteria tertentu yang pasti (secara objektif), tetapi juga harus diukur derajat perasaan kepemilikan (sense of belonging) akan kelompok etniknya (secara subjektif). Dalam perspektif inilah persoalan indentitas dan etnisitas itu sering timbul. Seseorang bisa saja sangat memuja etniknya karena sense of belonging-nya tinggi. Pun dapat terjadi sebaliknya: seseorang yang menurut kriteria umum diakui sebagai anggota kelompok etnik tertentu (karena keturunan misalnya), dengan berbagai penyebab/alasan, justru menolak untuk memakai etnik itu sebagai identitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan indentitas dan etnisitas Melayu (kemelayuan) yang belakangan ini kembali ramai diperbincangkan? Titik berat perbincangan itu, menurut penulis, lebih mengarah pada persoalan keobjektivitasan daripada kesubjektivitasannya. Kriteria umum yang digunakan untuk mengidentifikasi seseorang sebagai Melayu atau bukan Melayu itulah yang dipersoalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Malaysia, konon, orang Melayu lazimnya diindentifikasi sebagai orang yang beragama Islam, berbahasa Melayu, dan mempraktikkan adat, kebiasaan, dan resam Melayu. Jika seorang Keling (Tamil, India) memeluk agama Islam, berbahasa Melayu, dan beradat Melayu, ia disebut orang Melayu. Seorang Arab, sekalipun bergama Islam, tetapi tidak berbahasa Melayu, tidak akan disebut Melayu (tetap Arab). Sebagai konsekuensinya, kriteria seperti itu jika diterapkan di Indonesia, akan secara otomatis menjadikan orang Papua yang bergama Islam dan berbahasa Melayu/Indonesia, misalnya, sebagai Melayu. Sebaliknya, orang keturunan asli Melayu (sekalipun berbahasa Melayu dan mempraktikkan adat dan resam Melayu), karena tidak beragama Islam, tidak dianggap sebagai Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  Oleh banyak pihak, kriteria identitas dan etnisitas Melayu seperti itu (beragama Islam, berbahasa Melayu, dan mempraktikkan adat, kebiasaan, dan resam Melayu) dianggap tidak pas dan harus dipikirkan kembali karena mencidrai sejarah. Pendapat itu dapat dilihat, misalnya, pada tulisan Mahyudin Al-Mudra: Redefinisi Melayu: Upaya Menjembatani Perbedaan Konsep Kemelayuan Bangsa Serumpun (2008), Yusmar Yusuf: Langit, Melayu, dan Aras Mustari (2009), dan puisi Eddy Ahmad RM: Penat Tak Sudah Jadi Melayu (2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di sinilah jalan simpang itu terbangun. Ke arah mana orang akan menuju (menapakinya), bergantung pada pilihan/tujuan masing-masing. Orang boleh meneruskan perjalanannya dengan pilihan jalan yang lurus, boleh juga dengan pilihan jalan yang berbelok: ke kanan atau ke kiri. Bahkan, jika ada orang yang kelelahan dan tidak ingin melanjutkan perjalanan, berhenti pun tidak akan ada polisi yang melarangnya. Semua berpulang pada kehendak (baca: politik) dan pilihan. Apakah masalah identitas dan etnisitas akan tetap dibiarkan berkembang biak di habitatnya (dimaknai sebagai konsep sosial/budaya) atau diarahkan ke tujuan lain (dimaknai sebagai konsep politik/kekuasaan, misalnya), itu juga pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, secara berseloroh tulisan ini akan menjawab pertanyaan yang dilontarkan Alvi Puspita (Apa yang Sebenar, Apa yang Semesti?) begini: Yang sebenar itu pemaknaan (kemelayuan) secara sosial/budaya, sedangkan yang semesti itu pemaknaan (kemelayuan) secara politik/kekuasaan. Betulkah demikian? Wallahu alam bissawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Agus Sri Danardana&lt;/span&gt;, penikmat sastra. Kepala Balai Bahasa Provinsi Riau. Bermastautin di Kota Pekanbaru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Riau Pos&lt;/span&gt;, Minggu, 22 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-8339052265665301466?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/8339052265665301466/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=8339052265665301466' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/8339052265665301466'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/8339052265665301466'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/identitas-dan-etnisitas-melayu.html' title='Identitas dan Etnisitas (Melayu)'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-453083639295040147</id><published>2012-01-21T08:20:00.000-08:00</published><updated>2012-01-24T08:21:05.713-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seni'/><title type='text'>Jadikan TIM Pusat Kesenian yang Sesungguhnya (1)</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Arie F. Batubara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBAGAI Kota Metropolitan yang menyandang predikat Ibukota Negara, Jakarta adalah sebuah "pusat" bukan hanya untuk aktivitas politik, pemerintahan, serta ekonomi; tapi juga untuk hampir seluruh aktivitas kehidupan di negeri ini, termasuk di dalamnya kesenian. Bahkan, dalam konteks sebagai "pusat" aktivitas kesenian tersebut, saat Jakarta berada di bawah kepemimpinan Ali Sadikin sebagai Gubernur, dalam Rencana Induk 20 Tahun DKI Jakarta yang dibuat ketika itu, dengan tegas dinyatakan: Jakarta adalah kota kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Memang, antara kedudukan sebagai kota kebudayaan dengan "pusat" aktivitas kesenian adalah dua hal yang berbeda. Namun, tentu tidak bisa dipungkiri kesenian adalah refleksi paling nyata dan dekat dari kebudayaan; sehingga ketika kita ingin menjadikan sebuah kota sebagai kota kebudayaan, maka yang pertama-tama harus disoal adalah bagaimana aktivitas kesenian berlangsung di kota itu. Tanpa adanya aktivitas berkesenian yang ajeg, kontinyu, serta bermutu, sebuah kota sesunguhnya tidak pantas diberi predikat apalagi mengklaim dirinya sebagai kota kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Begitu pun halnya dengan Jakarta. Karena itu, ketika suatu pagi di penghujung tahun 60-an, Ali Sadikin (alm) yang waktu itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, didatangi beberapa seniman yang mengajukan sebuah konsep mengenai pengembangan kesenian di Jakarta, serta-merta saja konsep itu diterima untuk selanjutnya diwujudkan. Salah satu di antaranya adalah dengan membangun sebuah pusat kesenian yang kemudian diberi nama Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tetapi, sesungguhnya, kalau ditelisik lebih lanjut, kehadiran sebuah "pusat kesenian" bagi sebuah kota tidaklah semata-mata karena adanya keinginan menjadikan kota itu sebagai kota kebudayaan. Di atas semua itu, adalah karena ia memang menjadi semacam tuntutan atau prasyarat bagi suatu kota yang hendak menjadikan dirinya sebagai sebuah kota modern yang paripurna. Itulah yang terjadi pada semua kota modern yang ada di dunia, mulai dari London, New York, Paris, Tokyo, Hongkong, bahkan hingga Singapura dan Guangzhou dewasa ini. Sebab, memang, sebuah kota modern belum dipandang sebagai sebuah kota yang lengkap sebelum kota itu memiliki sebuah pusat kesenian yang repsentatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Jadi, kehadiran sebuah pusat kesenian bagi sebuah kota bisa dikatakan adalah sebuah keniscayaan. Dan itu dipahami oleh Ali Sadikin sebagai gubernur yang memimpin Jakarta ketika itu. Sebab, memang, kita tahu, tugas yang dibebankan kepada pundak Ali Sadikin ketika ditunjuk menjadi Gubernur DKI Jakarta ketika itu adalah bagaimana membangun dan memodernisir Jakarta sebagai Ibukota Negara sehingga sejajar dengan kota-kota besar lain di dunia yang juga menyandang predikat Ibukota Negara. Dan salah satu esensi yang harus dipenuhi oleh Jakarta untuk itu adalah kehadiran sebuah pusat kesenian tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    * * * &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    TENTU saja, kebutuhan sebuah kota terhadap kehadiran sebuah "pusat kesenian" tidaklah cukup sekadar hadir. Melainkan, bagaimana pusat kesenian itu memaknai kehadirannya lewat penampilan serangkaian karya seni yang memang baik dan bermutu. Sebab, arti paling esensial dari keberadaan sebuah pusat kesenian pada hakikatnya tidaklah diukur dari kemegahan dan kementerangan bangunan fisik yang dimilikinya, tetapi terutama oleh kualitas karya seni yang lahir dan ditampilkan di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Itu pulalah yang kita saksikan pada PKJ-TIM pada awal kehadirannya utamanya pada sepuluh hingga duapuluh tahun pertama usianya. Sejarah kesenian Indonesia dengan baik mencatat, betapa dalam dua dekade itu, PKJ-TIM sungguh-sungguh menjadi pusat aktivitas berkesenian bukan hanya untuk kota Jakarta, tapi untuk seluruh Indonesia bahkan dalam beberapa hal tertentu kerap "dianggap" sebagai pusat aktivitas berkesian untuk kawasan Asia Tenggara (sampai-sampai, konon, UNESCO pernah menanyakan, apah TIM bisa menjadi pusat kesenian atau kebudayaan Melayu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Anggapan tersebut cukup masuk akal, karena memang pada masa itu, bisa dikatakan hampir semua pertunjukan/ pergelaran karya kesenian terbaik Indonesia senantiasa ditampilkan dan lahir di TIM. Di sisi lain, berbagai seniman dan karya seni mancanegara yang tengah melakukan lawatan ke kawasan Asia Tenggara, ketika itu umumnya lebih cenderung memilih TIM sebagai tempat pertunjukan/ pergelarannya. Ditambah dengan daya kreativitas seniman-seniman Indonesia baik itu tari, musik, teater, hingga seni rupa yang ketika itu memang dahsyat untuk melahirkan karya-karya yang spektakuler, maka tidak heran jika TIM lantas diposisikan sebagai barometer dalam kesenian Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dan, memang, demikianlah mestinya sebuah pusat kesenian yang sesungguhnya bagi sebuah kota. Ia harus mampu menjadi barometer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sebab, di situlah pada dasarnya letak makna hakiki dari sebuah pusat kesenian: menjadi barometer bagi perkembangan kesenian. Sehingga, sebuah pusat kesenian yang gagal menjadi barometer, dengan sendirinya telah pula gagal memainkan perannya sebagai sebuah pusat kesenian, dan ia tak lebih dari sekadar sebagai tempat pertunjukan kesenian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suara Karya&lt;/span&gt;, Sabtu, 21 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-453083639295040147?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/453083639295040147/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=453083639295040147' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/453083639295040147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/453083639295040147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/jadikan-tim-pusat-kesenian-yang.html' title='Jadikan TIM Pusat Kesenian yang Sesungguhnya (1)'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-5973191712015663066</id><published>2012-01-20T09:26:00.000-08:00</published><updated>2012-01-27T09:27:25.793-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Pakar: Pemerintah Harus Serius Benahi RSBI</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Benny N Joewono &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEMARANG, KOMPAS.com - Pemerintah harus serius membenahi pelaksanaan program rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) agar makin berkualitas, kata pakar pendidikan yang juga Rektor Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) PGRI Semarang, Muhdi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pembenahan RSBI harus dilakukan secara serius, dengan cara segera memenuhi standar-standar mutu yang masih kurang. Saya kira RSBI tidak perlu dihapus, cukup dibenahi dan dievaluasi secara menyeluruh," katanya di Semarang, Jumat (20/1/2012).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sekolah dengan ukuran standar pendidikan nasional (SNP) plus, kata dia, tentunya kualitas setiap RSBI tidak sama, termasuk pemenuhan standar-standar untuk naik status menjadi sekolah bertaraf internasional (SBI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengakui, perkembangan kinerja hasil pembelajaran di RSBI memang belum semuanya menunjukkan hasil menggembirakan, sebab ada pula RSBI yang hingga saat ini belum menunjukkan peningkatan kualitas secara berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kata Muhdi yang juga Sekretaris Umum Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jawa Tengah itu, ada pula RSBI yang menunjukkan kemajuan berarti dan perlu keseriusan pemerintah untuk mendorong terus kualitas hasil pembelajarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau memang RSBI yang potensial dikembangkan ya harus didorong, namun bagi RSBI-RSBI yang setelah dievaluasi kurang menggembirakan hasilnya ya diturunkan statusnya. Pemerintah harus bersikap tegas," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, pemerintah perlu melakukan pemetaan standar-standar apa yang belum bisa dipenuhi oleh RSBI, salah satunya aspek sumber daya manusia (SDM) guru yang dipersyaratkan harus berkualifikasi pendidikan strata dua (S2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aspek SDM ini memang menjadi standar yang belum bisa dipenuhi. Kalau memang demikian, perlu ada langkah serius, terutama pemerintah daerah dengan cara rekrutmen guru baru atau mutasi guru antar-sekolah," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mencontohkan, RSBI yang persyaratan guru berkualifikasi S2 kurang 10 persen, sementara kalau harus menugaskan gurunya menempuh studi lanjut memang tidak mudah, mulai faktor dana hingga keterbatasan tenaga guru sekolah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau guru ditugaskan belajar, siapa yang mengganti mengajar? Ini memang tidak mudah, namun harus dilakukan. Bisa juga dilakukan mutasi guru-guru S2 dari sekolah-sekolah lain ke RSBI yang prioritas dikembangkan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ia menyoroti kemampuan berbahasa Inggris guru, sebab selama ini banyak guru RSBI yang kemampuan bahasa Inggrisnya kurang, padahal bahasa Inggris menjadi keharusan pembelajaran yang diselenggarakan di RSBI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang memiliki kemampuan berbahasa Inggris secara baik, kata dia, belum tentu mampu mengajarkan materi pelajaran secara baik dalam bahasa Inggris dan mampu diterima secara baik pula oleh siswa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tujuan pembelajaran berbahasa Inggris di RSBI kan untuk menciptakan lulusan yang mampu berbahasa Inggris. Saya pikir itu bisa dilakukan dengan cara lain, misalnya menambah jam pelajaran bahasa Inggris," kata Muhdi. (ANT)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Edukasi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas.com&lt;/span&gt;, Jumat, 20 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-5973191712015663066?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/5973191712015663066/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=5973191712015663066' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/5973191712015663066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/5973191712015663066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/pakar-pemerintah-harus-serius-benahi.html' title='Pakar: Pemerintah Harus Serius Benahi RSBI'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-4256899403142796823</id><published>2012-01-17T09:29:00.000-08:00</published><updated>2012-01-27T09:31:00.156-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>RSBI Tidak Layak Dilanjutkan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Ratih Prahesti Sudarsono &amp; Marcus Suprihadi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA, KOMPAS.com — Kebijakan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) gagal meningkatkan mutu pendidikan nasional. Program tersebut justru memperburuk kondisi pendidikan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian penilaian anggota Komisi X DPR, Rohmaini, yang disampaikan melalui surat elektronik, Selasa (17/1/2012) siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak kebijakan RSBI diberlakukan, berbagai persoalan muncul, mulai dari pembiayaan yang harus ditanggung oleh siswa sampai mahalnya biaya pendidikan hanya karena ada label RSBI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Padahal, dalam konstitusi jelas disebutkan mencerdaskan rakyat adalah kewajiban negara,” katanya. Persoalan lainnya adalah RSBI telah memunculkan kasta dalam pendidikan nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kita tahu, pendidikan untuk menyejajarkan seluruh anak negeri. Semua berhak mendapatkan pendidikan yang layak tanpa memandang status kemampuan ekonominya. Faktanya RSBI milik kelas ekonomi tertentu,” kata Rohmani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah 6 tahun berjalan, program RSBI belum menunjukkan kemajuan pembangunan pendidikan nasional. Bahkan, tujuan dari RSBI belum juga terwujud, yaitu mencetak sekolah bertaraf internasional (SBI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini, menurut Rohmani, patut dipertanyakan karena sejak tahun 2005 hingga saat ini belum satu pun sekolah yang berstatus SBI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Anggaran yang dikeluarkan pemerintah miliaran rupiah untuk menjadikan SBI. Belum lagi dana yang dipungut dari orangtua murid. Namun, hingga hari ini hasilnya belum ada,” tuturnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan evaluasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), seluruh sekolah yang dikelola sebagai RSBI tidak satu pun layak menjadi SBI. Jumlah sekolah RSBI mencapai 1.305 sekolah yang terdiri atas SD, SMP, SMA, dan SMK.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ini ironi di tengah ekspektasi masyarakat memiliki pendidikan terjangkau dan berkualitas,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, Rohmani kembali meminta pemerintah mengoreksi kebijakan RSBI. Menurut dia, semua sekolah berhak mendapat perlakuan yang sama layaknya fasilitas yang diterima sekolah RSBI, bukan sekolah yang berlabel RSBI saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Sumber: Edukasi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas.com&lt;/span&gt;, Selasa, 17 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-4256899403142796823?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/4256899403142796823/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=4256899403142796823' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/4256899403142796823'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/4256899403142796823'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/rsbi-tidak-layak-dilanjutkan.html' title='RSBI Tidak Layak Dilanjutkan'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-103102199530423390</id><published>2012-01-15T19:22:00.001-08:00</published><updated>2012-01-15T19:22:57.643-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Moralitas (dan) Kepengarangan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Nelson Alwi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;PENDAPAT mereka yang telah berhasil memberi arti keberadaannya bisa jadi pedoman dalam upaya memformulasikan alternatif-alternatif baru menyangkut hidup dan kehidupan. Atau, setidaknya akan memperluas cakrawala pengetahuan generasi penerus yang tengah menapak mencari (ke)jatidiri(an). Pengertian demikian, tak termungkiri telah mendorong banyak penulis mempublikasikan sebutlah memoar atau (auto)biografi, yang menghimpun gagasan, visi, misi, motivasi dan atau perjuangan publik figur dalam dan luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, pada gilirannya saya pun merasa terpanggil mengetengahkan catatan-catatan yang pernah saya buat cuplikan wawancara, ceramah serta riwayat hidup berisi proses kreatif yang diperoleh dari pelbagai sumber yang untuk sekian lama tersimpan di arsip pribadi. Adapun catatan-catatan dimaksud mendedahkan moralitas (dan) kepengarangan sejumlah tokoh terkenal yang berkecimpung di arena olah sastra Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mochtar Lubis mengungkapkan bahwa dalam berkarya ia lebih fokus pada wawasan sastranya sendiri, masalah sosial-kemasyarakatan serta kemanusiaan zamannya. Hasilnya, secara sadar atau tidak sudah barang tentu akan dipengaruhi oleh pandangan hidup dan kepekaan hati nurani menangkap aktualitas persoalan-persoalan yang mengemuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Toeti Heraty menyatakan, eksistensinya membutuhkan kejujuran radikal dan posisi narsistik. Ia selalu bertolak dari berbagai kecemasan, karena merasa disingkirkan lingkungan ke sudut marginal. Rasa-rasa ini kemudian dikuasai oleh sarana pengaman yang lebih menonjol, dunia ilmu dan kepenyairan yang akhirnya, ternyata diterima khalayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara N.H. Dini mengatakan, pengarang harus toleran terhadap alternatif bersikap yang diambilnya. Tersebab itu ia senantiasa berinisiatif mempertimbangkan segala sesuatu pengertian yang tidak terlalu berjarak dengan realita yang ada demi mencapai sasaran cerpen maupun novel-novelnya: masyarakat pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi menurut Arifin C. Noer, yang penting ialah orientasi sastra itu sendiri. Orientasi dimaksud menyangkut arti serta guna sastra bagi manusia yang bermartabat demi hari depannya. Tak heran, pada gilirannya sebagian besar lakonnya ia stempel sebagai remah-remah masa silamnya, digantikan karya-karya yang ia pandang lebih dan semakin perkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui puisi, prosa atau drama W.S. Rendra berkomitmen merefleksikan kehidupan yang dihayatinya. Semua anak bangsa punya hak serta kewajiban untuk ikut menentukan kebijaksanaan sosial, politik dan ekonomi. Justru itu, ia melawan feodalisme dan memberontaki kepincangan-kepincangan yang terjadi di sekitarnya untuk kembali ke asas yang dianut bangsa: demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rada-rada senada dengan itu, Chairul Harun menuturkan bahwa cerita-ceritanya bertujuan mengontrol kasus penyalahgunaan kekuasaan, manipulasi informasi, kemunafikan, penipuan terhadap diri sendiri dan persoalan-persoalan sosial-kemasyarakatan lainnya. Tak pelak, karya sastra ia tahbiskan sebagai cermin diri dan masyarakat, di mana pembaca juga bisa mengenal diri maupun masyarakatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pada itu Kuntowijoyo mengingatkan perlunya sastra transendental. Sastra transendental adalah kesadaran balik melawan arus dehumanisasi dan subhumanisasi. Untuk itu, yang pertama-tama harus dilakukan ialah melepaskan diri dari aktualitas yang dikemas oleh pabrik, birokrasi, kelas sosial dan kekuasaan yang mengakibatkan umat manusia tercerabut dari autentisitas peradaban dan atau eksistensinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Gerson Poyk meyakini bahwa sastra adalah sebuah alternatif bagi kesadaran ketika menghadapi dunia yang semakin penuh beban. Namun sastra harus ditinjau dari kadar atau tingkat integritas dan intensitas artistik yang diusungnya. Karenanya, sastra mesti terbuka untuk refleksi-refleksi Barat yang etis-moderat, agar aktivitas berlabel sastra tidak bersifat absolut kayak sastra LEKRA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laiknya seorang penyair yang tengah kasmaran menggarap puisi, Taufiq Ismail mengintroduksi kepiawaiannya memainkan kata-kata (bersayap) dan atau berargumentasi. Secara lugas ia mengisyaratkan bahwa urusan syair-menyair bagaikan berdiri di depan cermin goyang; sosok yang terpantul dari cermin ikut bergoyang serta tidak dapat diraba atau diajak ngomong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idiom paradoksal yang nyaris niskala nyatanya juga mencuat alias tersirat dari perumpamaan yang ditaja oleh seorang novelis seperti Putu Wijaya. Perihal karang-mengarang baginya bahkan jadi begitu menukik mendalam lagi aneh; ibarat menggorok leher sendiri dan atau siapa saja, tetapi tidak menyakiti bahkan kalau bisa tanpa diketahui oleh yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain pula dengan Leon Agusta, yang selalu merasa digerakkan oleh suatu panggilan buat mencipta. Tetapi ia menyadari, karyanya menjelma setelah adanya semacam rentangan benang-benang pengalaman yang saling menjalin. Kalaulah kehadiran puisi atau prosanya punya hubungan tertentu dengan sebuah konsep maka itu hanyalah merupakan faktor kebetulan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan persoalan yang kurang lebih sama seolah-olah dipertegas oleh Budi Darma, yang secara terang-terangan mengemukakan kekonvensionalannya. Bahan-bahan karangan, disadari atau tidak telah ada dalam benaknya sebelum dituliskan. Saat menulis bayang-bayang atau kejadian-kejadian sekian tahun yang lalu muncul begitu saja ke permukaan dan berkelojotan, mencari bentuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan Darman Moenir mengungkapkan, sungguh tak terbilang banyak momen yang bersumber pada suasana (alam) maupun lingkungan (pergaulan) yang membuat ia terangsang untuk berfantasi, dan itu harus diseleksi secara ketat. Karena menurutnya menulis karya sastra membutuhkan penalaran, inspirasi, kemauan serta imajinasi dalam mengonkretkan (ke)hidup(an) yang serba abstrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara tentang kepenyairannya Rusli Marzuki Saria menengarai, meski merasa dikejar-kejar waktu dan atau dihantui kompleksitas keinginan manusiawi yang berwarna-warni, ia terus belajar, berkontemplasi dan bergulat mengasah kemampuannya. Membuat puisi toh ada suka-duka atau seninya, namun yang paling utama ialah ketekunan serta kesetiaan menggeluti apa yang telah menjadi pilihan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun Umar Kayam justru mensinyalir bahwa pada mulanya, menulis adalah semata-mata menyangkut kemauan yang pribadi sekali sifatnya. Masalah determinasi, dan selanjutnya, apa saja boleh ikut terjadi. Dalam bahasa lain, perihal kepengarangan seseorang tak perlu diutik-utik, sebab kreativitas maupun produktivitas dalam berkarya sama afdalnya dengan situasi kemandekannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dalam salah satu orasinya Subagio Sastrowardoyo menganalog(i)kan proses mengarang tak ubahnya dengan pengalaman seks atau pengalaman mistik, yang harus dirasakan dan dihayati secara individual untuk benar-benar dapat meyakinkan nikmat atau hambarnya. Pengalaman sejenis (mengarang) boleh jadi dialami oleh banyak orang, tapi intensitas serta cita-rasanya niscaya akan berbeda, tergantung kualitas kepekaan dan kedewasaan masing-masing pribadi yang menjalaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terbantahkan, bahwa yang mendasari aktivitas dan atau profesi mengarang adalah kemandirian seorang pengarang. Individualisme murni, yang tak bakalan disertai bayangan atau pengaruh apa dan dari siapapun kecuali ingin berlaku jujur terhadap diri sendiri. Soal penyajian tema, penggarapan tokoh, pemilihan diksi, pembentukan alur berikut lain sebagainya, jelas, merupakan sisi tersendiri yang seyogianya dapat  meyakinkan pembaca. n&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Nelson Alwi&lt;/span&gt;, Pencinta Sastra Budaya, Tinggal di Padang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Riau Pos&lt;/span&gt;, Minggu, 15 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-103102199530423390?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/103102199530423390/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=103102199530423390' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/103102199530423390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/103102199530423390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/moralitas-dan-kepengarangan.html' title='Moralitas (dan) Kepengarangan'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-7666404622236665783</id><published>2012-01-15T19:20:00.000-08:00</published><updated>2012-01-15T19:21:08.391-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><title type='text'>Meracik Buku dari Pengasingan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Riza Multazam Luthfy&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;BERDASARKAN catatan muridnya (Abdullah Ahmad An-Naim), sekitar tahun 1948-1951, Taha pernah menulis dalam catatan hariannya—saat diasingkan: Jika saya harus mati, saya harus dikuburkan dengan pakaian yang melekat di tubuh saya saat itu, tanpa upacara penguburan, dan tanpa nisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Media Penggayuh Tujuan&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pengasingan; sebiji hukuman yang kerap dipersembahkan kepada penentang hegemoni penguasa. Hukuman yang bertujuan melahirkan efek jera ini menjelma pilihan alternatif sekaligus solutif bagi si lalim untuk membungkam beragam aksi yang mengancam kemapanan. Dengan cara diasingkan, tentu si terhukum akan merasakan tekanan mental luar biasa. Betapa hatinya akan tersayat sebab jauh dari teman dan keluarga. Betapa ia bakal meronta-renta karena dihindarkan dari kebebasan—sesuatu yang diidam-idamkan dalam kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski dibenci sebab membawa malapetaka, namun, bagi sebagian orang, nyatanya pengasingan didaulat selaku sarana terbaik dalam upaya menggali nilai-nilai kehidupan. Sebut saja Pramoedya Ananta Toer, yang rajin memperoleh ilham justru saat berada dalam pengasingan. Dengan dijauhkannya dari realitas, hal tersebut tidak lantas membuatnya tertekan dan patah arang. Malah, ia sanggup merubah orientasi pengasingan sebagai hukuman menjadi media mematangkan konsep dan tujuan. Inspirasi dalam karya-karyanya ditemukan kala ia harus mengunyah kesunyian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu pula yang dialami oleh Dante Alighieri, Abdul Muis, Hatta, dan Mahmoud Mohamed Taha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dante Alighieri (1265-1321) pernah mengirim surat kepada para Kardinal yang tengah meggelar Conclave (sidang para Kardinal untuk memilih Paus baru) setelah Paus Clemens V wafat tahun 1314. Dalam surat itu, Dante mengusulkan kepada para Kardinal agar Paus baru dipilih di antara calon dari Italia. Tindakan ini sungguh berani dan dinilai amat tidak sopan oleh Gereja, mengingat seorang “awam” ikut campur dalam pemilihan Paus yang menjadi hak prerogratif para Kardinal (sekelompok kecil pimpinan gereja Katolik, yang punya hak dicalonkan dan mencalonkan Paus baru). Gereja mengambil tindakan keras dengan menangkap dan mengasingkan Dante ke Ravenna. Pengasingan ini ternyata mengalirkan berkah bagi Dante, sebab ia mengantongi banyak waktu untuk mencurahkan perhatiannya pada bidang tulis-menulis. Hasilnya adalah buku yang diberi judul Comedia (oleh penerbit pada tahun 1555, ditambah namanya menjadi Divina Comedia), yang dianggap sebagai karya terbesarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 1926, pemerintah Hindia Belanda melarang Abdul Muis tinggal di daerah kelahirannya di Sumatera Barat, disusul dengan larangan keluar pulau Jawa. Ia juga dilarang mengadakan kegiatan politik. Tetapi, ia diperbolehkan memilih daerah yang disukainya sebagai tempat pengasingan. Akhirnya, ia menetapkan Garut, Jawa Barat, sebagai loka tinggalnya. Masa pengasingan di Garut rupanya menjadi blessing in disguise baginya. Ia menganggit buku yang kemudian hari menjadi sangat mashur dengan judul Salah Asuhan. Novel pertama Abdul Muis yang tidak memasalahkan adat kolot yang acap kali sudah tidak sejalan lagi dengan kemajuan zaman serta hendak mempertanyakan kawin campur antarbangsa. (J.B. Sudarmanto: 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai menadah gelar sarjana, Hatta makin larut dalam kegiatan politik dan aktif menyumbangkan pemikiran dalam majalah yang diterbitkan partainya (Pendidikan Nasional Indonesia); Daulat Ra’jat. Akibat tulisan-tulisannya ia dibuang ke Boven Digul, Irian, sebuah wilayah pembuangan yang sering disebut Siberianya Hindia Belanda. Dalam pengasingan tersebut, Hatta membagul 16 peti buku. Buku-buku itu mengantarnya memiliki amunisi cukup untuk meluncurkan tulisan ke koran-koran di Batavia maupun Den Haag.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahmoud Mohamed Taha—nasionalis sejati kelahiran Sudan—dituduh terlibat dalam penolakan Partai Republik atas praktik penerapan undang-undang baru kolonial yang antipenyunatan pada perempuan (insiden Rufaah). Ia dijatuhi dua tahun penjara kemudian diasingkan di Rufaah. Walakin, ia justru memanfaatkan waktunya guna memperdalam agama dan ber-khalwat. Di masa pengasingan inilah ia merampungkan tesisnya tentang pesan kedua Islam dalam buku The Second Message of Islam (Aulia A. Muhammad: 130), yang dipelajari dan ditelaah sampai kini.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dari tokoh-tokoh di atas, Ibnu Khaldun tidak menjalani hukuman pengasingan. Namun, sesuai kronik Hakimul Ikhwan (2004), ia sendiri yang mengambil keputusan untuk hidup dalam keterasingan. Hal itu dilakukan setelah mengabdi kepada beberapa pemerintahan. Betapa Ibnu Khaldun merasa lelah dalam petualangan politiknya. Sehingga, ketika Abu Hamu memintanya untuk memburu dukungan politik dari para suku lebih besar, ia memanfaatkan kesempatan ini guna meninggalkan politik dan memutuskan untuk mengasingkan diri di Oran, pinggiran kota Tunisia. Di sinilah, selama empat tahun ia mencurahkan pikiran dalam meneliti sejarah dan menyusun masterpiece-nya yang bertitel Muqaddimah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riza Multazam Luthfy, Lahir di Bojonegoro 9-11-1986. Karyanya bertebaran di beberapa media, seperti Jawa Pos, Seputar Indonesia, Suara Pembaruan, Lampung Post, Sriwijaya Post, Surabaya Post, Malang Post, Sumatera Ekspres, Jurnal Medan, Analisa, Kompas.Com, dan Annida. Ia adalah ahlul ma’had Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang. Sedang melanjutkan studi di program magister hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Riau Pos&lt;/span&gt;, Minggu, 15 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-7666404622236665783?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/7666404622236665783/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=7666404622236665783' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/7666404622236665783'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/7666404622236665783'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/meracik-buku-dari-pengasingan.html' title='Meracik Buku dari Pengasingan'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-1963124962141001941</id><published>2012-01-15T03:46:00.000-08:00</published><updated>2012-01-16T03:47:47.248-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Sajak sebagai Pertaruhan Berbahasa</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Asarpin&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;SAYA ingin berbicara sajak sebagai pertaruhan berbahasa dengan mengambil contoh sejumlah sajak Sitok Srengenge. Sebagai penyair, Sitok termasuk penyair Indonesia yang telah menghasilkan beberapa buku sajak yang memiliki kekhasan di bidang penggunaan bahasa Indonesia modern. Dia menulis cukup banyak sajak dengan bahasa yang sangat puitis. Barangkali itulah modal utamanya sebagai penyair—belakangan juga mencatatkan diri sebagai penulis prosa yang liris dan puitis, yang hanya bisa ditandingi oleh kejernihan bahasa Nukila Amal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus terang, saya iri dengan kemampuan bahasa Indonesia yang dimilikinya. Bahkan, saya tak bisa menyembunyikan keterpesonaan setiap kali memukan puisinya. Godaan untuk mencurinya, mengambilalih atau memiuhnya, lalu dikirimkan ke sejumlah sahabat-sahabat dekat maupun jauh—selalu muncul. Benar kata sebagian orang: tulisan yang bagus menggoda orang untuk jadi pencuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan Sitok merangkai kata bahasa Indonesia menjadi puisi menawan hati, terhitung langka. Setiap kali saya membaca puisi dan prosanya, saya seperti sedang berhadapan dengan seorang jenius kata-kata. Bahasanya jernih, ritmenya sangat terjaga. Pilihan kata begitu diperhitungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengenal Sitok mula-mula lewat puisi Takbir Para Penyair, yang belakangan saya anggap sebagai sajak kurang berhasil. Sebagai sebuah takbir, sudah sewajarnya jika sajak ini dimulai dengan kata Atas nama para penyair, yang mirip dengan bunyi slogan para demonstran: "Atas nama rakyat!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan Sitok bukan pada kata-kata yang membahana macam itu, apalagi sampai berpanjang-panjang seperti sajak Takbir Para Penyair yang meletihkan membacanya. Kekuatan Sitok ada pada kesederhanaan ungkapan, pada kejernihan kata-kata dan ungkapan yang tidak dibuat-buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau puisi Takbir Para Penyair adalah kredo, Sitok salah memilih kredo. Seharusnya ia memilih kredo Osmosa Asal Mula yang bicara ihwal persenyawaan atau Elegi Dorolegi.  Sajak Obituari Bulan juga lumayan bagus. Sajak ini dibuka dengan kisahan atau sebuah kisah tentang seorang bocah. Anakku tidur menduga-duga bulan/dan di kelas matanya masih menyimpan malam/ketika ibu guru mengajari matahari/anakku lalu menggambar cakrawala, lautan/perahu layar tanpa nakhoda, dan/rok ibu guru dipermainkan ombak pasang/Ibu gurunya dimakna ikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak ini sangat lucu, dan membuat saya ingin tertawa. Rupanya Sitok bisa juga menulis sajak humor yang kena. Tapi bukan macam ini juga sajak Sitok yang berhasil. Namun sajak yang bagaimana, tunggu dulu dan bersabar, saya ingin mengutip sajak Teluh Lanang yang agak merayu dulu. Ketika kuntum cinta rekah di hati perempuan/dan suara geliat kelopaknya menjadi kata-kata/meluncur ke arah lelaki/sesungguhnya telah dicipta telaga di rahimnya/ditumbuhi buluh-bulu sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak itu memesona saya karena kepiawaiannya menghadirkan kata-kata yang segar dan berbinar, atau kemampuannya menghasilkan pengucapan lirik yang cantik dan hemat tapi sekaligus padat. Bahasanya sangat indah dan nyaris tak ada kata yang sia-sia, apalagi sampai cacat. Semuanya penuh perhitungan dan ketelitian. Kadang sangat hemat, sehingga terasa ketat, tapi kadang pula mengurai panjang menyusuri tepi-tepi di keremangan kata dan makna yang penuh kejutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sitok cukup lincah menghadirkan frasa puitik, seperti penyair terlunta dikutuk kata dalam sajak Sonet Situmorang. Kata-katanya khidmat dan jernih. Iramanya tenang tapi bisa menggelembung bagai aliran sungai yang sedang bandang. Perhatikan susun larik-larinya, atau cerna alunan irama dan pilihan katanya yang cerdas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun bicara soal mitologi, elegi, dan tragedi, sajak-sajaknya tidak jatuh jadi klise. Sitok memang banyak menimba mitologi Jawa dan tembang pesisiran dan lagu dolanan anak kecil di Jawa. Tapi tidak hanya Jawa dunianya, terbukti ia juga menulis sajak dengan tokoh dunia. Tapi sayang ia tak selamanya terpesona pada hal-hal kecil yang remeh. Ada beberapa puisinya dengan judul besar dari tokoh besar. Bagaimana penyair ini menafsirkan sosok Prometheus hingga terasa tidak akrab bahkan bagi orang yang sudah lama tahu tentang tokoh ini. Prometheus dalam puisi Sitok amat sunyi dan tidak sok cerdas, di mana sang tokoh mengalami nasib yang tidak bebas sehingga memunculkan solidaritas dari aku. Tokoh mitologi ini dilukiskan sebagai sosok yang menyeru zaman baru dengan pengorbanan yang berdarah-darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa yang digunakan Sitok agak berbahaya karena sangat bagus, tapi pilihan judul sajak-sajaknya sering memperlihatkan semangat intelektualisme. Pilihan kata dan diksi tidak asal-asalan, melainkan penuh perhitungan. Pada titik ini, atau dalam sajak tadi, Sitok menghadirkan kekayaan kosakata bahasa Indonesia yang telah jauh lebih maju dibandingkan zaman Pujangga Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup banyak pembaca yang mengakui keindahan bahasa yang digunakan Sitok dalam sajak-sajaknya. Ada sebuah cerita yang menyedihkan ketika novel Saman Ayu Utami terbit. Beberapa penyair di Lampung tidak percaya kalau novel indah itu ditulis oleh Ayu. Mereka meyakini Sitok-lah yang menulisnya mengingat bahasanya dekat sekali dengan puisi-puisi Sitok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa sajak Sitok dekat dengan pengucapan puisi Rendra, seperti sajak Rangkasbitung yang menarik dibandingkan dengan Orang-orang Rangkasbitung, sajak Elegi Dorolegi juga dekat dengan Rendra. Bedanya terletak pada sajak-sajak Sitok yang tidak realis, atau tidak berambisi untuk menjadi sajak sosial apalagi pamflet. Jadi kesimpulannya: kedaunya beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak Peniup Angin juga sajak cantik yang hanya bisa lahir dari Sitok. Dalam sajak ini Sitok memukau kita dengan lirik yang berprosa, bercerita dengan warna-warni kehidupan yang memesona. Dari mana Sitok memperoleh ilham ketika menulis sajak ini? Mungkinkah dari diskusi soal seks yang sejak 1990-an amat bergemuruh di negeri ini? Melihat tahun sajak itu ditulis, ia sama dengan enam sajak seks Goenawan Mohamad yang cantik dan rupawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak sajak Sitok yang menggoda kita untuk menjamahnya. Bila perlu bersetubuh dengan intim sebelum subuh menjelang dan fajar singkat melambai di kejauhan sebagai tanda perpisahan. Sajak yang paling mencekam saya, selain yang sudah dikutip, adalah sajak Elegi Dorologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhadapan dengan sajak Sitok, saya agak gugup. Jangan-jangan sajak itu bukannya memperjelas, malah menjadi gelap karena sangat privat. Saya kekurangan bahan pengalaman untuk bisa menyelam di kedalaman irama kata-katanya, sehingga saya khawatir jangan-jangan yang akan hanyut dibuai oleh imaji-imajinya. Apalagi ketika berhadapan dengan sajak Osmosa Asal Mula, sungguh tak mudah dan bisa bercumbu dengan maknanya—karena memang ada segurat makna yang masih rahasia dan meminta untuk dikuak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak Sonet, Sonya, dan Nannet menggunakan bahasa yang melambai-lambai memanggil pembaca untuk menghidupinya, atau malah menikamnya sampai mampus. Kalau ada lomba penulisan kata-kata yang indah dalam bahasa Indonesia, mungkin yang juara pertama adalah Sitok dan juara kedua Nukila Amal. Bahasa Sitok lebih menjanjikan ketimbang bahasa prosa Nukila yang membuat banyak pembacaterkesima dan takjub tak percaya. Tapi ada satu hal kekurangan Nukila: kedalaman kata-kata. Walaupun kedalaman adalah bahasa ruang, tapi sajak-sajak Sitok tidak cetek dan dangkal. Ia tak terhalang oleh ruang, bahkan melampauinya dengan sangat berani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Asarpin&lt;/span&gt;, esais, tinggal di Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lampung Post&lt;/span&gt;, Minggu, 15 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-1963124962141001941?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/1963124962141001941/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=1963124962141001941' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/1963124962141001941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/1963124962141001941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/sajak-sebagai-pertaruhan-berbahasa.html' title='Sajak sebagai Pertaruhan Berbahasa'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-8024164512773129195</id><published>2012-01-15T02:51:00.000-08:00</published><updated>2012-01-16T02:56:40.375-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosok'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sejarah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><title type='text'>[Buku] Belajar pada Tokoh Bersejarah</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-aRgDjSP9NdA/TxQB-Q6dJhI/AAAAAAAAGac/WVjqFhj8GUY/s1600/15tokoh.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 205px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-aRgDjSP9NdA/TxQB-Q6dJhI/AAAAAAAAGac/WVjqFhj8GUY/s320/15tokoh.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5698181597734184466" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul    : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tokoh + Pokok&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis  : Goenawan Mohamad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit : TEMPO &amp;amp; PT Grafiti, 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tebal    : ix + 76 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SEBANYAK 12 judul buku Goenawan Mohamad diterbitkan tahun lalu untuk memperingati hari kelahirannya. Salah satunya  adalah buku Tokoh + Pokok yang diambil dari beberapa esai Goenawan dalam majalah Tempo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, Goenawan tidak berhenti hanya sebagai esais, penyair ataupun pimpinan majalah Tempo yang biasa disebut dengan "budayawan". Tapi, ia juga seorang filsuf yang selalu mempertanyakan ide-ide dasar, tentang kebenaran dan makna, antara ada dan tiada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun tulisan ini sebuah esai, pertanyaan-pertanyaan menggelitik dan kritis tidak pernah absen mewarnai, membuat saya semakin yakin bahwa Goenawan adalah seorang filsuf.  Dalam tulisannya tentang Kartini, Goenawan mengatakan, "bukan karena gagasan feminisme maka Kartini ada, tetapi karena Kartini ada, maka ia seorang feminis". Ia juga mencoba bertanya "bagaimana Kartini ada" (hlm. 2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama juga esainya tentang Bung Hatta, ia mengkritik idealisme Hatta yang mengaku sebagai nasionalis dan sosialis. Hatta memang sering membaca sosialisasi Marx, walaupun dirinya juga masih terikat pada daerah dan tempat dilahirkan (hlm. 13-15).  Melangkah pada tulisan yang lain, juga terlihat daya kritis dan fundamental. Bukankah hal itu lebih tampak sebagai filsuf?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, yang jelas Goenawan tidak bermaksud mempromosikan dirinya sebagai filsuf, esais, dan penyair yang berpengaruh. Lewat esai-esainya ia mengarungi dunia, baik mengenai kemanusian, kebenaran, gender dan yang lain. Layaknya beberapa tokoh yang dibahas dalam tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Goenawan lebih banyak mengkaji pemikiran para tokoh bersejarah tersebut dari pada menyajikan riwayat hidupnya. Ia mengenalkan idealisme tokoh-tokoh tersebut kapada pembaca dengan pertanyaan "bagaimana dan mengapa" bukan pertanyaan "siapa" yang konotasinya lebih pada biografi singkat. Di sini, apa yang dilakukan Goenawan adalah mengajak pembaca pada wilayah kritis dan dinamis dalam menanggapi segala sesuatu termasuk mengkritisi pemikiran-pemikiran tokoh tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan lain yang diselipkan Gonawan setidaknya dapat memotivasi manusia untuk menciptakan gerakan revolusioner. Baik bagi dirinya, masyarakat atau bagi Indonesia secara umum sehingga kita pun terkenang sejarah seperti halnya mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Goenawan, tanpa menafikan perjuangan mereka dalam membentuk Indonesia merdeka. Sejarah dan perjuangan para tokoh merupakan sebuah dialektika yang saling memengaruhi. Dia mengatakan bukan hanya karena mereka sejarah ada, melainkan karena sejarah, ada mereka. Mereka dibesarkan sejarah, begitu juga mereka membesarkan sejarah. Karena sejarah membuktikan keberadaan mereka, sampai detik ini tetap terkenang, karena mereka menorehkan sejarah, sejarah pun berlanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daya tarik buku ini karena Goenawan membeberkan segala bentuk pemikiran tokoh-tokoh bersejarah tanpa menutup-nutupi ataupun memolesnya agar terlihat indah dan baik. Esai ini secara tidak langsung membawa spirit perjuangan 1945. Lebih dari itu, esai-esai ini menggagas dialektika Marx dan nilai-nilai filsuf eksistensialis. Layaknya Sartre, Kierkegaard, dan Nietczhe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tidak langsung, Goenawan bukan hanya menorehkan nilai-nilai nasionalisme dan patriotisme tokoh-tokoh revolusioner. Yang karena dia, seorang Kartini, Soekarno, Hatta, Gus Dur, Rendra dan yang lainnya, masih ada dalam sejarah manusia. Begitu juga dengan Goenawan, ia akan terkenanag sampai tak ada (lagi) manusia. Karena Goenawan memperkenalkan mereka pada dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang, buku ini sangat tipis dan mahal sehingga sangat sulit dikonsumsi oleh kaum akademika, apalagi kaum awam. Namun, itu bukanlah kekurangan yang secara praktis mengurangi substansi buku ini. Tipis, mahal, dan sedikitnya halaman hanyalah bagian kecil dari ilmu yang disuguhkan pada kita. Buku Tokoh + Pokok ini cocok dibaca oleh siapa saja, terutama bagi generasi muda, dan yang kering akan nilai-nilai kemanusian. Membaca buku ini, sepertinya kita membuka pintu sejarah masa depan. n&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Muhammad Rasyid&lt;/span&gt;i, Penggiat di Kajian Lingkrang Metalogi, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lampung Post&lt;/span&gt;, Minggu, 15 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-8024164512773129195?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/8024164512773129195/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=8024164512773129195' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/8024164512773129195'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/8024164512773129195'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/buku-belajar-pada-tokoh-bersejarah.html' title='[Buku] Belajar pada Tokoh Bersejarah'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-aRgDjSP9NdA/TxQB-Q6dJhI/AAAAAAAAGac/WVjqFhj8GUY/s72-c/15tokoh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-5291063361143072181</id><published>2012-01-14T18:50:00.000-08:00</published><updated>2012-01-15T18:51:20.510-08:00</updated><title type='text'>Memahami Peringatan Gerson Poyk</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Evi Melyati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;COBA tanyakan kepada pelajar di NTT sekarang ini siapa itu Gerson Poyk. Boleh jadi mereka belum pernah mendengar namanya. Kalau pun sudah kenal nama ini mungkin hanya mendengarnya dari orang lain, atau guru di bangku sekolah. Dan bukan mengenalnya dari buah karya sastra gemilangnya. Padahal karya cerpen dan roman sastrawan kelahiran Rote 16 Juni 1931 ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Jerman. Anehnya banyak yang belum mengenal nama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Gerson Poyk tidak begitu peduli namanya belum dikenal masyarakat luas negeri ini.Tetapi sosok pemenang dua kali penghargaan Adinonegoro ini bangga buah penanya yang bernilai sastra terus diterbitkan sejumlah media cetak di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Semasa di bangku sekolah menengah atas, di lembah Hokeng yang sejuk, di San Dominggo, nama ini sudah melekat erat. Karya cerpennya Oleng Kemoleng memang terlalu menarik untuk tidak dibaca. Nama Gerson Poyk selanjutnya semakin intens melekat erat dalam sanubariku. Tetapi di awal tahun ini, nama ini membuat jiwa siapa saja yang peduli dengan nasib warga Flobamora jadi berontak. Seperti diberitakan Pos Kupang, baru-baru ini, Gerson melontarkan warning (peringatan) bahwa sudah banyak orang NTT tergusur dari budaya aslinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Saya sangat kecewa dan prihatin terhadap apa yang saya lihat. Banyak orang hidup dalam kondisi teralienasi, tercabut dari akar budaya aslinya. Mereka menjadi asing di tengah-tengah denyut kehidupan sekitar," ujar Gerson seperti ditulis Tony Kleden di Pos Kupang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Mungkin kurang representatif untuk tiba pada kesimpulan itu, tetapi Gerson tidak asal ngomong. Asal tahu saja, sejak kurang lebih dua bulan terakhir Gerson Poyk "mudik" dan mengadakan perjalanan nostalgia di beberapa tempat di NTT. Di Manggarai, misalnya, dia mengamati cara bertani lodok. Malah model ini, menurutnya, layak ditiru (Pos Kupang, 26/1). Di Kota karang Kupang, Gerson tiap hari menyusuri jalan dan lorong dengan sepeda tua, melihat dan merasakan denyut kehidupan warga kota Kupang. Gerson pun melihat banyak perubahan dan tercerabut dari akar budayanya. Meminjam judul cerpennya sendiri, apakah aku pun hanyut dalam ketidakpastian dan menjadi oleng kemoleng di tengah hempasan perubahan Kota Karang ini? Ketakutan akan kehilangan sense of direction ketika nilai dan norma moral begitu gampang direduksi, juga menjadi demikian menghantui nuraniku. Dalam keadaan seperti itu, akankah aku hanyut dalam proses mimesis tanpa sadar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Peringatan yang dilontarkan Gerson Poyk mungkin terlalu dini. Alienasi dalam konteks kebudayaan, memang melewati suatu proses panjang. Bagaimana di Kupang? Dengan letaknya yang strategis di persimpangan utara dan selatan, barat dan timur, Kupang akan berkembang menjadi kawasan yang sangat prospektif di Asia Pacific. Dan karena itu Kupang menjadi fokus bidikan teropong para pialang uang. Sebagai kota yang tengah berdandan merias diri, Kupang tak dapat tidak dipengaruhi arus perubahan. Sekarang pun, kerap tampak temaram kota ini, dan itu terlihat dalam hampir semua bidang kehidupan manusia. Dari selera makan, mode pakaian, irama musik, potongan rambut, gaya rumah hingga goyang tarian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hasil, atau lebih tepat akibat, perubahan seperti ini tak dapat dielak. Pengaruh dari luar dengan sekian banyak implikasinya tak mungkin dibendung. Sebagai barometer propinsi 566 pulau, Kupang akan menentukan wajah Flobamora ini di era keterbukaan. Dalam konteks seperti ini, peringatan Gerson Poyk harus menjadi tanda zaman yang terlalu penting untuk diabaikan. Gerson tentu mengingatkan banyak hal terkait dengan penghayatan (dan juga apresiasi terhadap) kebudayaan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Alienasi merupakan suatu fenomena kebudayaan yang sangat kentara terlihat di kota-kota. Di Kupang yang nampak kian urban, gejala ini sangat transparan dan dialami merata oleh hampir semua orang. Mahasiswa yang menuntut ilmu di bangku kuliah, pendatang dari kampung dan desa yang mencoba mengais rejeki, petualang yang hendak menambah pengalaman. Wisatawan asing yang harus transit, dan lain-lain. Dengan latar budaya masing-masing semua mereka ini membaur menjadi satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dengan sedikit gambaran seperti ini, tak sukar membayangkan apa akibat yang bakal muncul. Dalam konteks penghayatan kebudayaan situasi seperti ini langsung mengakibatkan benturan budaya yang hebat. Dalam benturan ini sekurang-kurangnya ada empat kemungkinan yang bisa terjadi. (Lihat, Dr. Leo Kleden, dalam Majalah Vox, Seri 35/3-4 1990).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pertama, orang bisa menutup diri dan hidup dalam ghetto kultural. Apa yang asing dianggap haram, sedangkan kebudayaan sendiri diagung-agungkan dalam romantisme naif. Kedua, orang bisa menyerap secara mentah-mentah kebudayaan asing sambil melupakan akar kebudayaan sendiri. Ketiga, bisa juga terjadi semacam schizophrenia sosial, yaitu keadaan kepribadian dan kejiwaan yang terpecah antara beberapa pilihan yang semuanya saling tumpang tindih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Keempat, transformasi kebudayaan secara kreatif. Kemungkinan keempat ini adalah yang paling baik. Tetapi transformasi kebudayaan secara kreatif mensyaratkan banyak hal. Antara lain, orang harus mengenal akar kebudayaan sendiri dengan segala sisi positip dan negatipnya. Orang juga perlu mengenal dengan baik kebudayaan asing. Selain itu dibutuhkan keberanian dan daya cipta untuk memadukan nilai-nilai terbaik dalam diri sendiri dan dalam masyarakat di mana orang berada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Pikiran-pikiran seperti inilah yang mungkin ditulis oleh Gerson Poyk dalam peringatannya. Masing-masing orang bisa membaca dengan kacamata berbeda. Yang jelas, tulis Tony Kleden di Pos Kupang, idiom yang dipakai Gerson Poyk dalam peringatannya cuma satu: alienasi dan transformasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suara Karya&lt;/span&gt;, Sabtu, 14 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-5291063361143072181?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/5291063361143072181/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=5291063361143072181' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/5291063361143072181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/5291063361143072181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/memahami-peringatan-gerson-poyk.html' title='Memahami Peringatan Gerson Poyk'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-733282627700033444</id><published>2012-01-08T19:16:00.000-08:00</published><updated>2012-01-15T19:18:22.118-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><title type='text'>Tentang Syair dan Penyair</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Hary B Kori’un&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUATU hari, sebuah surat masuk ke alamat e-mail redaktur. Seorang penyair muda –dia mengatakan dirinya baru belajar menulis sajak— mengirim beberapa sajak ke tubuh e-mail, tidak melalui file lampiran. Ada 4 sajak dan temanya seragam, tentang cinta yang kandas. Yang membedakan hanya kata dan bahasanya. Terjadi diskusi antara penyair kawan kita ini dengan redaktur. Dia bilang, sajak-sajak yang ditulisnya itu adalah ungkapan perasaannya yang sedang karam karena jalinan kisah cintanya kandas. Ketika ditanya mengapa mengirimkannya tidak pakai file lampiran dan sepertinya dia menulis keempat sajak itu hampir dalam waktu bersamaan, dia bilang, ketika membuka internet, pikirannya sudah penuh dengan sajak dan harus dituangkan dalam tulisan, untuk itu dia langsung menulis dan setelah selesai langsung mengirimkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, dia bertanya, apakah empat sajak yang dibuat dan dikirimnya layak untuk dimuat. Ketika dijawab belum layak, dia bertanya mengapa? Kemudian dijelaskan bahwa pilihan-pilihan katanya masih amat verbal, khas orang sedang patah hati. Dijelaskan juga bahwa dia harus banyak lagi belajar bagaimana menggunakan bahasa tulis yang benar. Kemudian dia mengatakan, bukankah sajak tak terbatas oleh aturan apapun? Dia bicara tentang licencia poetica. Dia menjelaskan bahwa dia sudah membaca banyak buku teori tentang menulis sajak, membaca karya-karya Sutardji Calzoum Bachri hingga Octavio Paz, dari Joko Pinurbo hingga Emily Dickinson, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa Sutardji boleh menulis kata-kata apa saja dengan tata bahasa yang kadang kacau dan kadang ngawur tanpa makna,  mengapa saya tidak boleh? Bukankah bahasa sajak yang dibuat oleh Joko Pinurbo, Octavio Paz atau Emily Dikcinson amatlah sederhana dan mudah dipahami? Mengapa itu disebut sajak, dan punya saya tidak?” kata penyair muda kawan kita ini panjang-lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dijelaskan bahwa para penyair yang dia sebutkan itu sudah melalui proses panjang dalam melahirkan sajaknya, dan tak serta-merta menulis sajak dengan bahasa “ngawur” –istilah penyair muda kawan kita itu— itu, teman penyair muda kita ini tetap tak terima. Katanya, dunia sastra tak adil bagi para pemula. Kalau para maestro dengan gampang menulis karya dan dapat tempat untuk publikasi, sementara yang masih muda masih disuruh belajar, padahal bobot karyanya tak jauh berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dijelaskan, bahwa seorang pelukis aliran surealis yang sudah terkenal pun harus melalui tahapan melukis realis di awal karirnya, tak serta-merta atau sekonyong-konyong langsung dia melemparkan cat warna-warni ke kanvas, kemudian bergulung-gulung di sana –sekadar contoh— dan kemudian lahir karya avan-garde seperti Affandi dan yang lainnya. Di sekolah seni lukis, diajarkan dasar melukis: mulai dari sketsa wajah, ditail wajah –mulai dari bibir, telinga, hidung, mata, alis mata, dagu, dan sebagainya—  hingga lahir karya lukis  potret misalnya. Selanjutnya, adalah pilihan dia untuk tetap menjadi pelukis realis atau yang lainnya. Bayangkan kalau seorang pelukis surealis tak bisa melukis potret yang ditail, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelan tapi pasti, penyair muda kita ini berusaha memahami. Sebulan kemudian, dia mengirimkan satu sajaknya. Dia mengatakan, “Saya sudah berusaha menulis dengan baik: menulis apa yang ada dalam pikiran saya, membaca ulang, memperbaiki bahasanya, menuliskannya lagi, dan setelah sekian hari saya baca lagi, dan benar kata Anda, saya menemukan hal-hal baru baik dari sisi kata atau maknanya...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, setahun kemudian, penyair muda teman kita ini berhasil mempublikasikan sajak-sajaknya bukan hanya di media tempat dia bermastautin, tetapi juga di media yang terbit di provinsi tetangga, bahkan di beberapa media nasional. Dari waktu ke waktu, ada pehaman yang semakin baik pada sajak-sajaknya –pemahaman ini amat sangat relatif dan berbeda bagi orang yang berbeda. Dalam e-mail terakhirnya, dia tak mengirimkan sajak. Dia hanya menulis beberapa kalimat:  “Sajak telah menyadarkan saya, bahwa kata-kata tak bisa dibeli dengan publikasi apapun dan dengan honor berapapun. Kata-kata selalu mencari makna, dan mencari makna itu yang sesungguhnya paling penting...”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak adalah bahasa metafor yang lahir dari pencarian yang tak bisa dihitung batasan waktunya. Seorang penyair bisa membuat sebuah sajak dalam hitungan menit atau jam, tetapi ada yang memerlukan waktu berbulan hingga bertahun untuk melahirkan sebuah sajak. Ada sajak yang ditulis setelah sekian waktu ada dalam pikiran sang penyair. Ada sajak yang ditulis, sekian hari, sekian bulan, atau sekian tahun kemudian baru dibaca lagi oleh sang penyair, dan setelah itu baru dipublikasikan. Alhasil, ada seorang penyair yang dalam sebulan bisa menulis 100 sajak, tetapi di tempat lain ada yang hanya menulis satu sajak dalam sebulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman “religus” dalam bersajak yang dialami kawan kita penyair muda itu adalah gambaran bahwa dunia sajak (puisi/syair, dll) bukanlah dunia yang asal jadi: bahwa asal menulis baris-baris kata “indah”, kemudian menjadi sebuah sajak.  Proses hingga menjadi sebuah sajak, mestinya dipahami oleh para penyair sebagai sebuah tahapan paling penting, sehingga karya yang lahir itu bukan karya gampangan dan sembarangan.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ADA 19 penyair yang karyanya masuk dalam antalogi ini. Ada beberapa nama yang secara usia maupun proses berkarya sudah dianggap senior. Mereka antara lain Rida K Liamsi,  Taufik Effendi Aria, Isbedy Stiawan ZS, Raudal Tanjung Banua, Marhalim Zaini, atau Yoserizal Zen. Di barisan kedua ada nama Sobirin Zaini, Benny Arnas, Jefri al Malay, Riki Utomi, Alvi Puspita, Arif Rizki, Esha Tegar Putra, Budy Utamy, Cahaya Buah Hati. Sedangkan nama-nama yang barangkali masih “asing” bagi kita ada Guri Ridola, Said Mustafa Husin, Sumiati, dan Afrianti. Khusus Said Mustafa Husin, melihat usianya, nampaknya sudah tak muda lagi. Dan ketika ditelusuri, ternyata sudah berkarya sejak lama, namun amat sangat jarang dipublikasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Perkawinan” antara generasi senior dan junior ini memperlihatkan ada proses regenerasi yang baik dalam dunia kepenyairan, khususnya di Riau, ada garansi bahwa sajak akan terus lahir dan mengalir di sini. Untuk itu, buku kumpulan sajak yang rutin diterbitkan oleh Riau Pos melalui Yayasan Sagang ini, semestinya bisa menjadi penanda dan jejak bahwa generasi penyair di Riau tak pernah mati, dan karya mereka terus terdokumentasi dengan baik, meski tak semua karya yang dimuat di Riau Pos selama setahun, masuk dalam buku Riwayat Tanah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meminjam Milan Kundera, semoga terbitnya buku ini bisa menjadi kitab melawan lupa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Hary B Kori’un&lt;/span&gt;, Wartawan Riau Pos dan editor buku di Yayasan Sagang Pekanbaru&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Riau Pos&lt;/span&gt;, Minggu, 8 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-733282627700033444?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/733282627700033444/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=733282627700033444' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/733282627700033444'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/733282627700033444'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/tentang-syair-dan-penyair.html' title='Tentang Syair dan Penyair'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-4852426023561036715</id><published>2012-01-08T19:13:00.000-08:00</published><updated>2012-01-15T19:14:51.734-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='daerah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Identitas Kultural (Melayu) Itu, Tak Akan Pernah Selesai...(2)</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Marhalim Zaini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Putra Daerah dan Politik Identitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas berbicara tentang kacukan, dan memberi kesimpulan di akhir paragraf dengan kalimat, “Melayu, dengan demikian tak lagi soal tubuh, tapi lebih mengarah pada variabel dalaman,” Syaukani membahas pula tentang “identitas jasadi makhluk Riau.” Ia menyebut, “ketika provinsi Riau berdiri pada tahun 1957, juga telah dibuat rumusan tentang siapa putra daerah, yang memuat tiga ukuran, yaitu: yang beribu-bapak Melayu, atau salah satu dari orang tuanya Melayu, atau yang lahir di Riau meski kedua orangtuanya bukan Melayu.” Artinya, bukankah dengan begitu Syaukani, sekali lagi, sedang membantah pernyataannya sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebetulnya, tema “putra daerah” bisa saja menjadi tema/isu diskusi yang lebih menarik dan lebih luas, ketika misalnya dikaitkan dengan kajian tentang “politik identitas,” yang secara teoritis tergolong dalam pemikiran post-strukturalis, yang awalnya masuk dalam domain politic of discourse-nya Michel Foucoult. Meskipun kemudian wacana “politik identitas” dalam studi post-kolonial juga sudah lama digeluti oleh pemikir semacam Gayatri C Spoivak, Ania Lomba, dan Homi K Bhabha. Sebab apa yang sedang diperbincangkan di ruang ini, sekarang, lebih mengurai dan menggali terus-menerus, kemungkinan-kemungkinan potensi kekuatan internal (lokal) dunia Melayu itu sendiri. Artinya kita sedang berbincang tentang sesuatu yang bersifat “ke dalam”, tentang infrastruktur yang membangun pondasi konstruksi identitas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, isu putra daerah, bagi saya, setakat ini adalah satu upaya penegasan identitas secara politik. Artinya, kalau kita merujuk pada literatur ilmu politik, misalnya, maka istilah political of identity itu lebih mengacu kepada mekanisme politik pengorganisasian identitas sebagai sumber dan sarana politik. Berbeda dengan istilah “identitas politik” (political identity), yang merupakan konstruksi untuk menentukan posisi kepentingan subjek di dalam ikatan suatu komunitas politik (Haboddin; 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, bahwa bukan berarti keduanya tidak saling terkait. Namun, hemat saya, kita belum lagi “selesai” (bahkan jangan-jangan belum lagi memulai) memperbincangkan sekaligus merumuskan dengan amat serius, dari bebagai aspek, berbagai perspektif, tentang “identitas politik” kita hari ini (sekali lagi; hari ini, bukan masa lalu), oleh berbagai elemen masyarakat pendukungnya. Ketergesa-gesaan kita menetapkan rumusan tentang siapa yang berhak disebut sebagai “putera daerah” untuk kemudian masuk ke wilayah politik praktis, akan berdampak pada rentannya identitas itu di tingkat realitas kehidupan sosial. Konflik-konflik sektarian justru bisa muncul dari sini, sebab antara kehendak sosial dan kepentingan politik saling tarik-menarik, bahkan berbenturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun saya percaya, jalan yang kita ambil ini, adalah juga jalan yang diambil oleh banyak daerah untuk menunjukkan menguatnya politik identitas di ranah lokal. Setidaknya momentum otonomi daerah yang diberlakukan melalui UU 22/1999 itu, membuat politisasi identitas dalam berbagai bentuk ekspresinya menjadi niscaya. Dan inilah basis dari perjuangan para elit lokal kita untuk kemudian menjalankan berbagai agenda semisal pemekaran wilayah (sebagai pemerataan ekonomi, juga pemerataan kekuasaan), dan menduduki pimpinan puncak pemerintahan daerah (terutama melalui isu putra daerah itu). Dan yang cukup juga menyita perhatian kita akhir-akhir ini adalah “politik etnisitas” atau “politik identitas etnis” yang tampaknya lebih cenderung membangun dikotomi yang oposisional, yang dengan ekstrim mencuatkan pertanyaan, siapakah “aku” siapakah “kamu”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik Identitas Etnis&lt;br /&gt;Ketika saya memilih judul orasi saya dengan kalimat, “Akulah Melayu yang Berlari” maka sesungguhnya saya hendak menyeretnya pada wacana tentang “identitas kultural”. Kata “akulah” di sana, tidak serta merta menunjuk pada diri saya sebagai si penulis orasi ini, akan tetapi lebih menghala pada bagaimana dikotomi oposisional itu sedang bekerja dalam wilayah batasan-batasan kultural yang ekstrim. Pernyataan “akulah” jika ditinjau secara psikologis, adalah juga representasi dari identitas karakteristik individu sejak lahir, yang kemudian membentuk “keakuan” sebagai pembeda dengan yang lain (kamu, mereka, kalian, dia). Maka, teori Foucoult tentang politik identitas seolah kemudian menemukan kebenarannya di sini; bahwa tubuh sebagai cermin dari hakikat individu itulah yang akan menjadi objek sekaligus subjek politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, “akulah” adalah juga perwujudan dari “ego”, yang  menurut Sigmund Freud, merupakan salah satu instansi identitas selain, “super ego” dan “id”. Meskipun, perbincangan tentang konsepsi identitas memang diakui sebagai sesuatu yang tidak mudah, karena identitas menurut Stuart Hall (1996:160) sebagai “sesuatu yang tidak pernah sempurna, selalu dalam proses dan selalu dibangun dari dalam.” Maka, keakuan dalam kata “akulah” itu bukanlah sebuah pengakuan yang final, tapi lebih kepada penegasan yang bersifat “sementara”. Sebab, meskipun Foucoult menyandarkan basis pemahaman awal “politik idenitas pada “politik tubuh” individu, namun banyak ahli ilmu sosial lainnya yang percaya bahwa identitas adalah hasil sebuah konstruksi sosial. Artinya, dengan begitu, di sana ada proses pembentukan makna dan pengalaman yang bersifat subjektif dan inter-subjektif (Kambo; 2009).   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi ketika kita mulai masuk secara lebih khusus pembahasan tentang kata “Melayu” sebagai sebuah entitas “etnik”, maka segera akan kita temukan berbagai versi dan perkembangannya dari zaman ke zaman. Kata “etnik” atau “ethnos” dalam bahasa Yunani memang lebih merujuk pada pengertian dasar-dasar geografis dalam suatu batas-batas wilayah dengan sistem tertentu (Rudolfh, 1986). Namun, tidak pula bijak kiranya jika kita berhenti sampai di situ, tanpa misalnya melihat pendekatan-pendekatan teoritis lainnya, semisal  primordialisme, konstruktivisme, instrumentalisme (Abdillah, 2002;76).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Primordialisme memandang etnik itu sesuatu yang given, memang sudah dari sananya, tidak bisa dibantah. Namun, secara metodologis, pendekatan ini tidak bisa dipertahankan karena memberi status ontologis dan esensial terhadap etnis, sementara ilmu-ilmu sosial butuh tafsiran dan perubahannya dari waktu ke waktu. Pandangan konstruktivisme, yang dikembangkan oleh Frederik Barth ini, memandang identitas etnis itu sebagai hasil dari proses sosial yang kompleks, di mana batasan-batasan simbolik terus-menerus dibangun. Sementara pendekatan ketiga, instrumentalisme lebih menfokuskan perhatian pada proses manipulasi dan mobilisasi politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saya kemudian memakai pendekatan konstruktivisme, maka kata “Berlari” dari judul orasi saya itu, lebih bermakna bahwa identitas etnis (Melayu) itu tidak akan pernah berhenti. Tapi kenapa saya pilih “berlari” bukan “bergerak” atau “berjalan”, padahal ketiganya sama-sama menunjukkan “tidak berhenti”. Karena “berlari” bagi saya merupakan aktivitas yang lebih cepat dari berjalan apalagi sekedar bergerak. Jika konteks praksisnya bermuara pada mimpi akan Riau sebagai pusat kebudayaan Melayu, dan tahun 2020 tenggatnya, maka “berlari” adalah kata kerja yang paling tepat, bukan? Selain itu, konteks lain “berlari” dapat dimaknai begini; bagaimanakah semestinya Riau dan Melayu hari ini ‘memosisikan’ diri dalam ruang sosial global yang serba cepat? Apakah cukup dengan berdiam, dan melihat lalu-lalang? Atau, bergerak dan berjalan dengan malas, menikmati saja apa yang tersedia? Atau, berlari, dan menunjukkan bahwa kejayaan Melayu masa lampau itu, adalah juga kejayaan Melayu kita hari ini. Atau, mari kita berlari, mengejar “ketertinggalan”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagi Alvi Puspita, saya tak tahu entah mana yang sebenar, dan entah mana yang mesti. Tapi boleh jadi memang tak ada yang sebenar, dan tak ada yang mesti, untuk sesuatu yang tak pernah selesai. Tapi mari berlari, sambil terus-menerus kita cari dalam diskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Marhalim Zaini&lt;/span&gt;, Seniman Pilihan Sagang 2011. Sedang menyelesaikan S-2 di Program Pascasarjana Jurusan Antropologi UGM.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Riau Pos&lt;/span&gt;, Minggu, 8 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-4852426023561036715?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/4852426023561036715/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=4852426023561036715' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/4852426023561036715'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/4852426023561036715'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/identitas-kultural-melayu-itu-tak-akan_08.html' title='Identitas Kultural (Melayu) Itu, Tak Akan Pernah Selesai...(2)'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-2983956601393919394</id><published>2012-01-08T06:23:00.000-08:00</published><updated>2012-01-08T06:25:30.315-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>[Buku] Jejak Sejarah Pencarian Tuhan</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-zYwCGl-9Jew/TwmnQjG_n-I/AAAAAAAAGZU/GeHOMzlL7NM/s1600/08sejarah%2Btuhan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 218px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-zYwCGl-9Jew/TwmnQjG_n-I/AAAAAAAAGZU/GeHOMzlL7NM/s320/08sejarah%2Btuhan.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5695267106531024866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Judul : &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sejarah Tuhan&lt;/span&gt;&lt;br style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Penulis : Karen Armstrong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penerbit : Mizan Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cetakan : I, 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tebal : 673 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TELAH banyak teori tentang asal usul agama. Namun, tampaknya menciptakan Tuhan-Tuhan telah sejak lama dilakukan oleh umat manusia. Ketika satu ide keagamaan tidak lagi efektif, ia akan diam-diam ditinggalkan dan digantikan oleh sebuah teologi baru. Seperti mengasosiasikan dengan Tuhan langit, Tuhan bumi, dan matahari menjadi pengalaman manusia tentang tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam era kita sekarang ini, banyak orang akan mengatakan bahwa Tuhan yang telah disembah berabad-abad oleh umat manusia tampak sirna dari kehidupan bahkan dengan terang-terangan mengklaim bahwa Tuhan telah mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pandangan Armstrong, salah satu alasan mengapa agama tampak tidak relevan pada masa sekarang adalah karena banyak di antara umat manusia tidak lagi memiliki rasa kepekaan bahwa kita dikelilingi oleh yang gaib. Akibatnya, manusia kehilangan kepekaan tentang yang “suci” atau “spiritual” seperti yang melingkupi kehidupan masyarakat tradisional sebagai bagian esensial pengalaman manusia tentang kehidupan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rudolf Otto, ahli sejarah agama asal Jerman, percaya bahwa rasa tentang gaib ini adalah dasar dari agama. Kekuatan gaib dirasakan oleh manuisa dalam cara yang berbeda-beda, terkadang ia menginspirasikan kegirangan liar, ketenteraman mendalam, terkadang orang merasa kagum, sedih, dan hina di hadapan kehadiran kekuatan misterius yang melekat dalam aspek kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia kuno memang tampaknya manusia percaya bahwa hanya melalui keterlibatan dalam kehidupan yang suci ini mereka bisa menjadi manusia yang sesungguhnya. Dunia suci para dewa seperti yang sering diceritakan dalam mitos bukanlah sekadar sebuah ideal yang ke arah itu manusia harus menuju, melainkan merupakan prototipe eksistensi manusia. Itulah pola atau arketipe orisinal yang menjadi model kehidupan kita di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spiritualitas yang serupa ini telah menjadi ciri dunia Mesopotamia kuno, di Lembah Tigris-Efrat, yang sekarang berada di wilayah pemerintahan Irak, telah di huni sejak 4.000 SM oleh kelompok manusia yang dikenal sebagai orang Sumeria. Mereka membangun menara-kuil dan mengembangkan mitologi yang mengesankan. Tak lama kemudian kawasan itu diinvansi oleh orang Akkadian Semitik, hingga 2.000 SM orang Amorit menaklukkan peradaban Sumeria-Akkadian dan menjadikan Babilonia sebagai ibu kota mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana masyarakat di dunia kuno lainnya, orang Babilonia menisbahkan prestasi kebudayaan mereka kepada dewa-dewa yang telah mewahyukan gaya hidup mereka sendiri kepada nenek moyang mitikal masyarakat Babilonia. Babilonia dianggap sebagai gambaran surga, setiap candinya adalah kerajaan langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan di zaman modern sekarang ini, para teolog liberal berusaha membuktikan apakah mungkin untuk beriman sekaligus menjadi bagian dari dunia intelektual modern. Ketika merumuskan konsepsi baru tentang Tuhan, mereka berpaling ke disiplin ilmu lain: sains, psikologi, sosiologi, dan agama-agama lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan persepsi rupanya bukan hanya terjadi disebabkan perbedaan agama secara formal belaka. Bahkan, dalam satu tradisi agama yang sama pun kerap terjadi perbedaan dalam mempersepsikan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini bukanlah tentang sejarah realitas Tuhan yang suatu saat dapat berubah di setiap zamannya, melainkan buku ini melacak jejak sejarah persepsi dan pengalaman manusia tentang tuhan selama 4.000 tahun sejak era Ibrahim hingga kini. Gagasan manusia tentang tuhan memiliki sejarah yang mempunyai arti berbeda bagi setiap kelompok manusia di berbagai periode waktu. Namun, bisa saja gagasan tentang Tuhan tersebut menjadi tidak bermakna bagi generasi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Abdul Aziz MMM&lt;/span&gt;, Pengelola Renaisant Institute, tinggal di Yogyakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lampung Post&lt;/span&gt;, Minggu, 7 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-2983956601393919394?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/2983956601393919394/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=2983956601393919394' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/2983956601393919394'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/2983956601393919394'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/buku-jejak-sejarah-pencarian-tuhan.html' title='[Buku] Jejak Sejarah Pencarian Tuhan'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-zYwCGl-9Jew/TwmnQjG_n-I/AAAAAAAAGZU/GeHOMzlL7NM/s72-c/08sejarah%2Btuhan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-7217339770369134610</id><published>2012-01-07T04:39:00.000-08:00</published><updated>2012-01-08T04:42:58.517-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosok'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Mengenang Lan Fang Lewat Festival Lan Fang</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Daisy Priyanti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TERNYATA banyak pecinta sastra di negeri ini mengaku sangat kehilangan dengan meningalnya Lan Fang. Hal itu sedkitnya tergambar di wajah dr Ananto Sidohutomo, yang setelah Lan Fang meninggal 25 Desember 2011 lalu ia terus mengaku sangat kehilangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Penggagas acara Festival Lan Fang, yang diawali dengan pembacaan cerpen karyanya di gedung baru Suara Surabaya Media, Selasa (3/12), itu menyebut Lan Fang ada di dua dunia berbeda. "Dunia sastra dan dunia aktivitas sosial dan kemanusiaan, adalah rumah Lan Fang" kata dokter sebagai owner, pendiri Bidadariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sekitar lima bulan sebelum meninggal, Lan Fang menggelar parade sastra. Acara itu untuk mencari dana bagi seorang sastrawati yang sedang menderita kanker payudara. "Saat itu, Lan Fang, menghubungi saya dan mengkonsultasikan penyakit sastrawan itu. Kemudian saya beri tahu, pengobatannya dan perkiraan biaya," jelas dr Ananto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dengan semangat Lan Fang mendengarkan dan mengharapkan parade sastra yang digelarnya itu bisa membantu sastrawati itu berobat. Dan saat ini, sastrawati itu sudah operasi dan sedang menjalani kemoterapi untuk proses penyebuhan. "Dan ketika Lan Fang meninggal di Singapura, ternyata penyebabnya adalah kanker hati dan kanker tulang, yang penyebab primernya adalah kanker payudara," ungkap dr Ananto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tapi Lan Fang tidak pernah mengeluh, atau mengungkapkan penyakitnya itu. Padahal sejak kenal dengan Lan Fang, dr Ananto sudah langsung mengajak Lan Fang menjadi aktivis di Bidadariku. Dengan penyebab kematian Lan Fang itu, dr Ananto menduga, Lan Fang sudah terkena kanker payudara itu sejak dua atau tiga tahun lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Pilihannya untuk menyembunyikan penyakit itu. Tapi ini menunjukkan betapa mulianya hidup Lan Fang, dia berusaha membuat hidupnya bermanfaat, meski sebenarnya dia sedang menderita," tandas dr Ananto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sementara itu, acara pembacaan cerpen dan puisi karya Lan Fang yang digelar kemarin, menampilkan beberapa tokoh yang hadir untuk membacanya. Diantaranya, Wakil Gubenur Jatim, Saifulah Yusuf atau Gus Ipul, anggota DPR RI Indah Kurnia, Direktur SS Media Erol Jonathan, Johan Budhi Sava dari TB Togamas, Jl Diponegoro, Ina Silas dari House of Sampoerna, M Shoim Anwar dari Unesa, penulis Surabaya Suparta Brata, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Cerpen karya Lan Fang yang dibacakan dalam acara tersebut berjudul Qiu Shui Yi, Bai She Jing, dan Malam-Malam Nina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Hadir pula dalam acara itu, Gatot S Santoso, wakil ketua INTI (Indonesia Tionghoa) Jatim. Gatot yang tampil sebagai pembuka acara, menyebut INTI sangat kehilangan Lan Fang. "Pertama, Lan Fang adalah bagian dari pengurus INTI . Dia adalah aset yang luar biasa, dengan sosoknya yang tidak sekedar orang China," kata Gatot. Lan Fang juga sosok yang ringan tangan dan bisa mengenalkan INTI kepada luar komunitas Tionghoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Saat hari terakhir disemayangkan di Yayasan Adi Jasa, Gatot terkejut dengan banyaknya sahabat Lan Fang, yang datang dari berbagai kalangan. "Dia adalah seorang Indonesia. Tidak hanya seorang Tionghoa dan Budhis," tandas Gatot. Festival Lan Fang sendiri akan berlangsung hingga 11 Maret 2012 mendatang. Kegiatannya meliputi talkshow di stasiun televisi lokal tentang Lan Fang pada 5 Januari, baca puisi karya Lan Fang di Bidadariku, Jl Trunojoyo 63 pada 8 Januari, dan musikalisasi di Matchbox Too, Jl Jawa 33 pada 5 Februari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tanggal 16 dan 17 Februari, bedah novel "Perempuan Kembang Jepun" di perpustakaan kota Malang, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ya, bukti banyak orang yang merasa kehilangan dengan kepergian sastrawati ini, banyak juga orang memberinya penilaian dan pujian yang beragam tentang Lan Fang. Saifullah Yusuf, Wakil Gubernur Jawa Timur mengatakan sosok dan karya sastrawan Lan Fang adalah inspirasi bagi semua orang. "Tidak ada alasan meragukannya. Lan Fang adalah inspirasi kita semua. Karya-karya maupun kepribadiannya sangat istimewa, meski saya hanya bertemu beberapa kali saja," ujar Syaifullah Yusuf di sela Parade Tokoh Bacakan Karya Lan Fang di Suara Surabaya Media, Selasa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Gus Ipul, sapaan akran Wagub Jatim itu juga menilai, sang penulis memang telah wafat, namun karyanya pasti dan akan selalu dikenang sampai kapan pun. Dia menyebut Lan Fang sebagai contoh manusia yang total dalam dunianya, tidak mudah dan tak pernah mengeluh. "Lan Fang mengerti dan menjadikan hidup dalam arti sebenarnya. Tidak peduli apakah ada perbedaan ras maupun agama. Semua tak dijadikan penghalang dan sifat itulah yang keteladanan yang diperlihatkan Lan Fanang," kata Gus Ipul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Selama Januari 2012, digelar sejumlah rangkaian kegiatan untuk mengenang Lan Fang, antara lain parade tokoh bacakan karya Lan Fang, diskusi, pembacaan puisi, musikalisasi, bedah novel, dan beberapa kegiatan lain. Puncaknya, pada 11 Maret 2012 atau bertepatan dengan hari kelahiran almarhumah, akan digelar pameran lukisan, seni rupa, foto, penjualan buku karya Lan Fang, penyuluhan dan konsultasi kanker serviks dan payudara, serta pemutaran video Lan Fang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sejauh mana Anda mengenai sosok Lan Fang? Novelis perempuan terkemuka asal Surabaya ini meninggal dunia dalam perawatan di Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapura, Minggu siang akhir Desember 2011. Sekretaris Dewan Kesenian Surabaya Farid Syamlan mengatakan, Lan Fang yang telah menghasilkan beberapa novel dan cerita pendek itu meninggal karena menderita kanker hati. "Dia sebetulnya sudah lama menderita kanker hati, tapi tidak pernah dirasakan dan terus melakukan aktivitasnya. Sampai akhirnya parah dan tidak bisa disembuhkan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lan Fang terkenal dengan novelnya "Perempuan Kembang Jepun" dan "Ciuman di Bawah Hujan". Dia sempat dirawat lama di Rumah Sakit RKZ Surabaya kemudian pindah ke Rumah Sakit Adi Husada. "Dari Adi Husada, Jumat lalu (23/12) ia kemudian diterbangkan ke Singapura, namun nyawanya tidak tertolong. Kami teman-teman seniman di Surabaya merasa sangat kehilangan atas meninggalnya seorang sahabat yang pergi terlalu cepat," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Farid mengenang Lan Fang sebagai sastrawan perempuan yang sangat potensial yang dimiliki Surabaya dan Indonesia. Lan Fang dikenal memiliki semangat luar biasa untuk terus berkarya. "Setelah kepergian Lan Fang, para penulis novel perempuan di Indonesia dan khususnya Surabaya tentu akan kehilangan lawan untuk mengadu karya," kata Farid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lan Fang juga dikenal dengan julukan "Gus Durian" atau pengikut Gus Dur sehingga tidak aneh jika dia dekat dengan sejumlah tokoh ulama Nahdlatul Ulama. Pertemuan-pertemuannya dengan kalangan ulama itu seringkali kemudian ditulis oleh Lan Fang di sejumlah koran harian di Surabaya. Tulisan-tulisan ringan perempuan kelahiran Banjarmasin, 5 Maret 1970 tersebut seringkali memberi inspirasi karena menyangkut kehidupan seorang tokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suara Karya&lt;/span&gt;, Sabtu, 7 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-7217339770369134610?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/7217339770369134610/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=7217339770369134610' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/7217339770369134610'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/7217339770369134610'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/mengenang-lan-fang-lewat-festival-lan.html' title='Mengenang Lan Fang Lewat Festival Lan Fang'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-3990018574298156755</id><published>2012-01-06T07:46:00.000-08:00</published><updated>2012-01-06T07:52:57.756-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Segera Revisi Konsep RSBI</title><content type='html'>SURABAYA, KOMPAS.com - Konsep rintisan sekolah bertaraf internasional harus segera direvisi. Langkah ini harus dilakukan setelah pemerintah melakukan evaluasi, ternyata dari 1.305 RSBI, tak satu pun yang layak dikembangkan menjadi sekolah bertaraf internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Keinginannya bagus, untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Namun, konsep RSBI mungkin keliru karena ternyata lebih banyak sisi negatifnya,” kata Ketua Dewan Pendidikan Jawa Timur Zainuddin Maliki di Surabaya, Kamis (5/1).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Pelaksana Tugas Dirjen Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Suyanto menyatakan, 1.305 sekolah berstatus rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) belum layak jadi sekolah bertaraf internasional (SBI), antara lain, karena kualitas pengajarnya belum memenuhi syarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelenggaraan RSBI didasarkan pada Pasal 50 Ayat (3) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam undang-undang itu dinyatakan, ”Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tindak lanjut dari undang-undang itu, pemerintah kemudian menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan serta Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 78 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional. Aturan ini menjadi dasar hukum penyelenggara RSBI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewenangan sekolah RSBI untuk memungut biaya dari orangtua siswa juga menjadi pendorong sekolah-sekolah negeri untuk berubah status menjadi RSBI. Padahal, pemerintah sudah mengucurkan dana ratusan juta rupiah per tahun untuk RSBI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekadar bahasa Inggris&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Zainuddin, RSBI juga dipahami penyelenggara pendidikan dengan menyampaikan materi pelajaran berbahasa Inggris untuk mata pelajaran tertentu. Karena guru kurang fasih berbahasa Inggris, akhirnya sekolah merekrut tenaga yang bisa berbahasa Inggris baik walaupun bukan guru. ”Akibatnya, materi pelajaran tidak bisa diterima dengan baik oleh siswa,” kata Zainuddin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat terpisah, anggota Komisi E DPRD Jatim, Kuswiyanto, mengatakan, selama ini RSBI di Jatim menjadi semacam gengsi daerah. ”Dampak sosialnya tak pernah dipertimbangkan,” kata Kuswiyanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, 20 persen kursi RSBI dialokasikan untuk siswa miskin. Namun, sejumlah RSBI kenyataannya kesulitan mencari siswa miskin. Di sisi lain, harus dipertimbangkan sisi sosial siswa miskin di tengah mayoritas siswa kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistiyo mengatakan, RSBI menimbulkan ketidakadilan di masyarakat karena bantuan pemerintah yang cukup besar diberikan untuk sekolah-sekolah RSBI. Padahal, sekolah itu pun diperbolehkan memungut dana dari masyarakat. Karena itu, PGRI akan mengusulkan amandemen Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, terutama yang menyangkut RSBI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekan lalu, Koalisi Anti Komersialisasi Pendidikan (KAKP) mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi untuk memohonkan uji materi atas Pasal 50 Ayat (3) Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas). (ANO/TIF/LUK) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;, Jumat, 6 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-3990018574298156755?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/3990018574298156755/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=3990018574298156755' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/3990018574298156755'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/3990018574298156755'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/segera-revisi-konsep-rsbi.html' title='Segera Revisi Konsep RSBI'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-8437074039630624803</id><published>2012-01-06T07:44:00.000-08:00</published><updated>2012-01-06T07:45:10.403-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahasa'/><title type='text'>Bahasa: Din Syamsuddin Kritik Penggunaan Istilah Arab</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Khaerudin &amp; Agus Mulyadi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Din Syamsuddin, mengkritik organisasi masyarakat Islam dan beberapa perguruan tinggi Islam yang latah menggunakan istilah berbahasa Arab agar dipandang Islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal menurut Din, kadar keislaman sebuah organisasi atau perguruan tinggi Islam tak dilihat dari sefasih apa penggunaan bahasa Arab-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Din, sekarang timbul kecenderungan ormas dan perguruan tinggi Islam latah menggunakan istilah berbahasa Arab agar masyarakat melihat mereka Islami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau dulu istilahnya HUT (hari ulang tahun), sekarang latah ramai-ramai pakai istilah milad. Kalau memang dari dulu pakai istilah milad seperti Muhammadiyah, ya enggak apa-apa. Jangan karena dari dulu pakai istilah HUT, sekarang karena mau dianggap Islami jadi latah pakai istilah milad," kata Din, saat menerima pengurus Baitul Muslimin Indonesia (BMI), organisasi sayap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di Jakarta, Jumat (6/1/2012).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malah menurut Din, saking latahnya ada perguruan tinggi Islam yang mengubah istilah perayaan hari lahir institusinya yang sejak dulu menggunakan istilah latin, dies natalis, tiba-tiba diubah jadi dies maulidiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untungnya bukan terjadi di perguruan tinggi Muhammadiyah," kata Din, sembari tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Edukasi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas.com&lt;/span&gt;, Jumat, 6 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-8437074039630624803?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/8437074039630624803/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=8437074039630624803' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/8437074039630624803'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/8437074039630624803'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/bahasa-din-syamsuddin-kritik-penggunaan.html' title='Bahasa: Din Syamsuddin Kritik Penggunaan Istilah Arab'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-6232681566337820381</id><published>2012-01-06T07:27:00.000-08:00</published><updated>2012-01-06T07:30:13.539-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Pluralisme sebagai Benteng Republik</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Airlangga Pribadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DI tengah kekhidmatan malam dua tahun haul wafatnya KH Abdurrahman Wahid lalu, Yudi Latif memberikan sambutan tentang sumbangan Gus Dur—sapaan akrab Abdurrahman Wahid—untuk Islam Indonesia. Kebesaran Abdurrahman Wahid—menurut Yudi—terletak pada paradoksal intelektualitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-aXEO-mYdIeQ/TwcTSDokJuI/AAAAAAAAGX0/7C_pGhjHM9Y/s1600/haul%2Bgus%2Bdur.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-aXEO-mYdIeQ/TwcTSDokJuI/AAAAAAAAGX0/7C_pGhjHM9Y/s400/haul%2Bgus%2Bdur.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5694541454767302370" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa Muhaimin Iskandar, Pemimpin Pondok Pesantren Soko Tunggal KH Nuril Arifin, dan Franz Magnis-Suseno (dari kiri ke kanan) hadir pada peringatan dua tahun meninggalnya KH Abdurrahman Wahid, di Kantor DPP PKB, Jakarta, Kamis (29/12/2011). (KOMPAS/RIZA FATHONI)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun keistimewaan Gus Dur terletak pada kemampuan menghubungkan kosmopolitanisme pengetahuan yang menembus batas sekat-sekat kultural bertemu dengan kesadaran akan pentingnya pijakan tradisi dan kearifan lokal dalam merajut jalinan kebaikan bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi Gus Dur, yang bertahun-tahun menimba ilmu di Timur Tengah, universalitas Islam tidaklah dibangun melalui tegaknya satu model kebenaran tentang Islam yang hanya mengacu pada praktik beragama di tanah Arab untuk dipaksakan di Indonesia. Pembumiannya justru pada kesadaran kultural Nusantara dan pertemuan dengan kebinekaan yang lainlah yang membuat Islam menyatu dengan keindonesiaan kita yang plural.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun setelah Gus Dur wafat, seiring dengan pelupaan secara perlahan semangat pluralisme dalam Islam Nusantara yang diusungnya, kita berkali-kali disodorkan oleh tontonan kekerasan untuk memaksakan satu model kebenaran agama terhadap mereka yang berbeda. Belum lama kita mendengar kisah memilukan tragedi pembantaian jemaah Ahmadiyah di Cikeusik, Banten, dan konflik pembangunan Gereja GKI Bogor di pengujung 2011. Kita pun menyaksikan pengusiran dan pembakaran pesantren jemaah Syiah di Sampang, Madura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Patriotisme Indonesia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi negeri kita, memudarnya semangat pluralisme dan ikatan solidaritas hidup bersama di dalam keragaman ini merupakan hal yang fatal. Ini mengingat dalam konteks keindonesiaan, pluralisme bukan semata-mata jadi alat bagi sebuah tujuan politik lainnya. Pluralisme pun bukanlah hidup demi tujuan pluralisme itu sendiri. Melampaui itu semua, pluralisme dalam konteks keindonesiaan menjadi alasan mengada bagi berdirinya Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas fondasi pluralisme-lah Indonesia sebagai negara-bangsa tegak berdiri. Tanpa kehadirannya, Indonesia sebagai sebuah cita-cita akan hancur berkeping-keping.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengelaborasi gagasan ini, ada baiknya kita menelusuri bagaimana perbedaan antara pembentukan bangsa di negara-negara Eropa dan di Indonesia secara singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Filsuf republikanisme Italia, Maurizio Virolli (1995)—dalam karyanya For Love of Country: an Essay on Patriotism and Nationalism—menjelaskan, dalam sejarah negara-bangsa di Eropa haruslah dibedakan antara nasionalisme dan patriotisme. Sebagai konsep kultural, nasionalisme sebagai spirit kultural di banyak negeri Eropa dibangun berdasarkan ikatan homogenitas kultural sebagai suatu bangsa. Sementara kesadaran keadaban (civicness) tiap-tiap orang tumbuh dalam komitmen dan pembelaannya terhadap komunitas politik negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak dan tanggung jawab sebagai warga negaralah yang membentuk kesadaran demokrasi, HAM, dan penghormatan terhadap pluralitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan perjalanan banyak negara Eropa, sejak awal nasionalisme Indonesia dibangun atas rantai keterkaitan gugus entitas kultural yang plural dalam etnis, ras, agama, dan golongan. Sejak awal, pluralisme telah disadari oleh para pendiri republik tidak saja sebagai hak dari tiap-tiap orang yang mengaku menjadi bangsa Indonesia. Lebih dari itu, dalam sejarahnya tiap-tiap bagian bangsa ini telah berkorban, memberi, dan berperan dalam perjuangan membentuk Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam narasi sejarah demikian, nasionalisme sebagai ikatan kultural yang berbineka sejak awal telah menubuh dalam kesadaran patriotisme sebagai komitmen politik untuk membentuk negara-bangsa dengan segenap spirit kewargaannya. Konstruksi kebangsaan inilah yang ditekankan Soekarno dalam Lahirnja Pantjasila: ”Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia. Semua buat semua!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seruan Bung Karno bahwa Indonesia milik semua sejalan dengan ajakan Abdurrahman Wahid. Bahwa, dalam ikatan keindonesiaan tidak boleh ada kelompok yang diistimewakan satu di atas yang lain. Sebab, tiap-tiap bagian dari bangsa Indonesia memiliki kontribusi penting dalam pembentukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batang tubuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita hubungkan komitmen kebangsaan dengan mulai munculnya sikap eksklusivisme di kalangan Islam terhadap kelompok minoritas Syiah dan Ahmadiyah, ada baiknya kita membahas sekelumit sumbangan mereka bagi terciptanya Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kaum Syiah yang dipandang sebagai kaum minoritas Muslim Indonesia, sumbangan mereka dalam keislaman Nusantara amatlah penting. Sejak awal masuknya Islam di Nusantara, jejak sumbangan kultural mereka tampak dari tradisi keagamaan pada saat hari Asyura, melalui tradisi upacara bubur merah (lambang keberanian Imam Hussein) dan putih (lambang kesucian Imam Hassan) dari Aceh sampai Maluku. Tradisi kultural inilah yang mengilhami lambang bendera kita: Merah Putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pula halnya dengan Ahmadiyah, yang ketidaksepakatan beberapa kelompok terhadapnya sampai tak membolehkan hak mereka untuk hidup sebagai warga negara. Dalam sejarah perkembangan Islam di Indonesia, salah satu kelompok pergerakan modernisme Islam di Indonesia, yaitu Studenten Islam Studieclub—embrio dari kemunculan aktivis Islam politik seperti Masyumi—dalam publikasi majalahnya sering kali menggunakan tafsir Al Quran dari jemaah Ahmadiyah yang terkenal karena rasionalitas dan saintifiknya (Yudi Latif, 2005; Soekarno, 1964).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam terang sekelumit fakta-fakta sejarah di ataslah sebenarnya ide pluralisme dan toleransi bukanlah ide yang berangkat jauh dari luar dan ditanamkan tanpa penyesuaian di Indonesia. Pluralisme adalah batang tubuh dari keindonesiaan kita. Setelah ide-ide ini digemakan oleh Soekarno dan Abdurrahman Wahid, kita membutuhkan lahirnya generasi baru yang membela pluralisme Indonesia sebagai benteng republik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Airlangga Pribadi&lt;/span&gt;, Pengajar Ilmu Politik FISIP Universitas Airlangga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Oase &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas.com&lt;/span&gt;, Jumat, 6 Januari 2012&lt;br /&gt;|&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-6232681566337820381?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/6232681566337820381/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=6232681566337820381' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/6232681566337820381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/6232681566337820381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/pluralisme-sebagai-benteng-republik.html' title='Pluralisme sebagai Benteng Republik'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-aXEO-mYdIeQ/TwcTSDokJuI/AAAAAAAAGX0/7C_pGhjHM9Y/s72-c/haul%2Bgus%2Bdur.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-5291014819840228428</id><published>2012-01-05T07:39:00.000-08:00</published><updated>2012-01-06T07:40:47.585-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sejarah'/><title type='text'>Empat tahun Indonesia "Berlindung" di Yogyakarta</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Masduki Attamami&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;SELAMA hampir empat tahun Pemerintah Indonesia pernah "berlindung" di Yogyakarta. Dimulai pada 4 Januari 1946 ketika Presiden Soekarno memboyong pemerintahannya ke Yogyakarta karena situasi keamanan ibu kota Jakarta makin memburuk dengan kedatangan tentara sekutu yang diboncengi NICA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedatangan NICA yang membonceng tentara sekutu menyebabkan para petinggi Pemerintah Republik Indonesia waktu itu terancam nyawanya. Perdana Menteri Sutan Sjahrir sendiri pernah merasakan mobilnya diberondong peluru. Bahkan hampir setiap malam Soekarno berpindah-pindah tempat karena diburu pasukan intel Belanda.Kondisi tersebut menyebabkan pemerintahan yang masih seumur jagung tidak berjalan efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tan Malaka, aktivis pejuang kemerdekaan Indonesia memberi saran kepada pemerintah agar Jakarta segera dikosongkan dari pemerintahan Republik dan pemerintah menyingkir ke daerah lain. Wakil Presiden Mohamad Hatta mengusulkan Yogyakarta untuk tempat "berlindung" Pemerintah Indonesia sambil mengefektifkan pemerintahan. Hatta menyebut Yogyakarta adalah tempat yang tepat, karena semua rakyatnya dikendalikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Soekarno setuju, dan kemudian memerintahkan stafnya menghubungi Sri Sultan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat itu kemudian menyatakan dirinya menjamin Pemerintahan Republik Indonesia aman di Yogyakarta. Jaminan dari Sri Sultan itulah yang dijadikan momentum paling penting bagi keberadaan Republik Indonesia di tengah ancaman serbuan pasukan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 4 Januari 1946 Soekarno dan Hatta memindahkan pusat pemerintahan sekaligus Ibu Kota Negara Republik Indonesia ke Yogyakarta. Presiden dan Wakil Presiden sebagai lambang kekuasaan negara pindah ke Yogyakarta dengan kereta api luar biasa (KLB), sekaligus memboyong keluarga mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petinggi negara yang tidak ikut diboyong ke Yogyakarta hanya Sutan Sjahrir. Ia tetap berada di Jakarta bersama kelompok yang pro-negosiasi dengan Belanda. Menurut sejarawan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta Suhartono, fakta sejarah itu jangan sampai dilupakan, apalagi diabaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pemerintah pusat diharapkan tidak mengabaikan fakta sejarah bahwa Yogyakarta waktu itu pernah menjadi ibu kota negara, dan Yogyakartamemberikan andil terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata Guru Besar Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyebutkan selama hampir empat tahun, 4 Januari 1946 hingga 27 Desember 1949, Ibu Kota Negara Republik Indonesia berada di Yogyakarta. Menurut dia, pada saat itu Yogyakarta menjadi pusat pemerintahan secara politis, dan memiliki posisi strategis dalam perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Posisi Yogyakarta dengan keistimewaannya jika berlatar belakang sejarah, seharusnya tidak bisa dipisahkan dan dihilangkan. Keistimewaan itu di antaranya posisi Sultan sebagai Raja Keraton, dan Paku Alam sebagai Adipati Pakualaman," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertanggung jawab penuh&lt;br /&gt;Sri Sultan Hamengku Buwono IX bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan seluruh petinggi pemerintah Republik Indonesia selama mereka "berlindung" di Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu seluruh petinggi pemerintah Indonesia ditempatkan di lingkungan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sedangkan Presiden Soekarno bertempat tinggal di Gedung Agung (Gedung Negara atau Istana Presiden), yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari keraton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber sejarah menyebutkan meskipun Belanda tahu Yogyakarta menjadi pusat kendali Pemerintah Republik Indonesia saat itu, namun tentara Belanda tidak berani langsung menyerbu Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab, Ratu Juliana dulu adalah teman sekolah Sri Sultan di Belanda. Mereka berdua sejak di sekolah dasar hingga perguruan tinggi di Belanda berada dalam lingkungan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan dari Kerajaan Belanda waktu itu, keselamatan Sri Sultan tidak boleh diganggu. Karena sikap keras Ratu Juliana yang tidak memperbolehkan kekuatan militernya menyenggol Sri Sultan, maka staf militer di Belanda menempuh kebijakan untuk mempengaruhi Sri Sultan agar berpihak kepada Belanda. Sri Sultan kemudian ditawari menjadi pemimpin pemerintahan bersama Indonesia-Belanda, namun tawaran itu ditolak oleh Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda tampaknya tidak sabar atas sikap keras Sultan yang berdiri di belakang pemerintahan Republik Indonesia, dan Belanda tak punya pilihan lain, sehingga bagaimana pun juga harus menguasai Yogyakarta. Pada 1948 setelah terjadi peristiwa Madiun, Belanda punya taktik yang licik menikam pemerintah Republik Indonesia di Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanda awalnya mengadakan perjanjian kerja sama latihan militer dengan TNI sebagai wujud gencatan senjata, tetapi kemudian dari Semarang pasukan Van Langen menerobos masuk Yogyakarta melalui Operasi Kraai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar 10.000 penerjun payung tentara Belanda "menghujani" kawasan Maguwo, Yogyakarta. Saat itu Yogyakarta diserbu tanpa persiapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan, waktu itu yang menjabat komandan keamanan Kota Yogyakarta adalah Soeharto (yang kemudian menjadi Presiden RI kedua). Namun, tidak diketahui pasukan Soeharto saat itu ada di mana. Letkol Latif Hendraningrat langsung mencari Soeharto, tetapi tidak ketemu. Sedangkan Sudirman (yang kemudian menjadi Panglima Besar) masih terbaring sakit karena penyakit paru-parunya semakin parah. Bahkan paru-parunya sampai menghitam. Bung Karno bersama para petinggi pemerintah Republik Indonesia waktu itu sedang rapat di Gedung Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasukan Van Langen secara cepat masuk ke Gedung Agung. Sebelumnya, terjadi perdebatan keras. Soekarno diminta memilih menyerah atau melawan Sekutu. Soekarno berpendapat bahwa dengan dirinya menyerah, maka dunia internasional akan meributkan agresi militer Belanda itu dan memberikan dukungan terhadap Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, Sudirman menghendaki dilakukan perlawanan total. Soekarno dan Hatta harus ikut berperang. Soekarno akhirnya memilih tidak ikut cara yang ditempuh Sudirman, yaitu perang secara bergerilya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum ditangkap oleh pasukan Van Langen, Soekarno berpesan kepada Sri Sultan agar keutuhan Republik Indonesia dijaga. Sultan hanya mengangguk. Sri Sultan tidak hanya memenuhi janji menjaga keutuhan Republik Indonesia, tetapi juga berpikir keras bagaimana cara agar Yogyakarta sebagai Ibu Kota Negara Republik Indonesia mendapatkan kemenangan politik di dunia Internasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu sore, Sultan mendengar semacam dialog atau perdebatan melalui Radio BBC bahwa Indonesia sudah tidak ada lagi. Delegasi Belanda di Perserikatan Bangsa Bangsa menyatakan pemerintahan ilegal Republik Indonesia sudah hilang secara "de facto", dan yang berkuasa adalah Belanda. Kota Yogyakarta sepenuhnya dibawah kendali Pemerintahan Belanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar hal itu, Sultan mendapatkan gagasan untuk mengejutkan dunia Internasional. Dipanggilnya Soeharto sebagai Komandan Wehrkreise X untuk membangun serangan kejutan. Maka terjadilah Serangan Umum 1 Maret 1949, yang kemudian mengubah jalannya sejarah Bangsa dan Negara Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah terjadi Serangan Umum 1 Maret 1949, Pemerintahan Belanda di PBB kalah suara, dan dunia Internasional mendukung Pemerintah Republik Indonesia, sehingga pada 27 Desember 1949 Belanda mengakui kemerdekaan RI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yogyakarta Kota Republik&lt;br /&gt;Terkait dengan sejarah tersebut, Sri Sultan Hamengku Buwono X selaku Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada 4 Januari 2011 mengukuhkan Yogyakarta sebagai Kota Republik, bertepatan dengan tanggal kepindahan Ibu Kota Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta pada 4 Januari 1946.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat melakukan pengukuhan itu, Sri Sultan HB X didampingi Wakil Gubernur DIY Sri Paku Alam IX, Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto, Bupati Bantul Sri Suryawidati, Bupati Sleman Sri Purnomo, dan Wakil Bupati Gunung Kidul Badingah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya selaku Gubernur DIY akan mengeluarkan surat keputusan, yaitu setiap 4 Januari diperingati sebagai Yogyakarta Kota Republik, dan wajib bagi masyarakat memperingatinya," kata Sultan HB X saat mengukuhkan Yogyakarta Kota Republik di Pagelaran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada 4 Januari 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengajak seluruh warga masyarakat bersama-sama mendukung hal tersebut sebagai kekuatan untuk terus membangun kebersamaan dan memberikan kontribusi terhadap masa depan sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pidato singkat Sultan HB X di hadapan ribuan warga Yogyakarta yang baru saja melakukan "long march" kirab budaya sebagai prosesi awal sebelum pengukuhan itu, langsung disambut tepuk tangan meriah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koordinator panitia bersama kirab budaya Widihasto mengatakan pengukuhan Yogyakarta Kota Republik memiliki sejumlah makna, di antaranya menjaga nilai-nilai patriotisme bangsa, peneguhan sikap politik masyarakat Yogyakarta berdasarkan Amanat 5 September 1949.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ia berharap melalui pengukuhan tersebut, Yogyakarta tetap menjadi kota yang terbuka untuk seluruh budaya nusantara, dimana modernisasi dapat bersanding secara harmonis dengan tradisi. "Semoga semangat pengukuhan Yogyakarta Kota Republik ini meresap ke seluruh masyarakat Yogyakarta," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam acara pengukuhan tersebut juga ditampilkan pertunjukan wayang revolusi yang menceritakan sejarah perpindahan Ibu Kota Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta. Hip hop keistimewaan Yogyakarta, kemudian menutup seluruh rangkaian acara pengukuhan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretariat Bersama (Sekber) Keistimewaan, organisasi yang memperjuangkan penetapan gubernur dan wakil gubernur DIY, akan menggelar peringatan 66 tahun sejarah perpindahan Ibu Kota Negara Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta 4 Januari 1946.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peringatan itu dijadwalkan berlangsung di depan Gedung Agung, Jalan Ahmad Yani, Kota Yogyakarta, pada Rabu 4 Januari 2012. "Puncak peringatan akan kami lakukan di depan Gedung Agung Yogyakarta pada Rabu sekitar pukul 15.30 WIB," kata Koordinator Sekber Keistimewaan Widihasto Wasana Putra di Yogyakarta, belum lama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada peringatan tersebut akan dibentangkan bendera Merah Putih sepanjang 66 meter sebagai simbol peringatan sejarah, dan digelar drama yang menceritakan sejarah perpindahan Ibu Kota Negara Republik Indonesia dari Jakarta ke Yogyakarta 4 Januari 1946. (ANT)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Oase &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas.com&lt;/span&gt;,   Kamis, 5 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-5291014819840228428?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/5291014819840228428/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=5291014819840228428' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/5291014819840228428'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/5291014819840228428'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/empat-tahun-indonesia-berlindung-di.html' title='Empat tahun Indonesia &quot;Berlindung&quot; di Yogyakarta'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-5515516592966522732</id><published>2012-01-04T07:33:00.000-08:00</published><updated>2012-01-06T07:35:36.126-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Mengeja Indonesia dalam Keberagaman</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Agnes Hening Ratri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SIANG belum genap di Madura, ketika kasus kekerasan kembali mengoyak bumi. Kelompok anti toleransi telah membakar sejumlah pesantren dan tempat ibadah milik jemaah Syiah. Mungkin kita masih berharap ada setitik cahaya untuk menerangi mereka yang membawa api dan pedang? Hanya setitik agar mereka melihat bahwa yang dianiaya, dibantai dan dirusak adalah sesama warga Negara. Mereka juga pernah bersama-sama membangun Madura hingga saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-9ufRQ9JuVIQ/TwcUh5Ftv3I/AAAAAAAAGYA/IHRd2dBqZDI/s1600/pancasila%2Bretak.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-9ufRQ9JuVIQ/TwcUh5Ftv3I/AAAAAAAAGYA/IHRd2dBqZDI/s400/pancasila%2Bretak.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5694542826326310770" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;KOMPAS/DIDIE SW &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Desember belum usai ketika aroma kekerasan kembali menyeruak dari dinding-dinding sekam rumah ibadah. Pada 23 Desember sore, sebelum senja usai pesan singkat dari Pendeta Bedalihulu mampir di ponsel. “Gereja kami di segel jam lima sore tadi, tolong kami”. Menjelang Natal, kembali jemaat sebuah gereja di Tangerang harus menahan amarah dan benci karena rumah ibadah mereka direbut oleh satpol PP dengan alasan warga tidak setuju ada rumah ibadah disana. Alasan yang sangat klise dan sepertinya tidak ada alasan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyeri menusuk jantung ketika sesame anak bangsa merasa lebih berhak tinggal di bumi periti ini. Merasa jauh lebih memiliki warisan untuk mendirikan rumah ibadah dan merasa sebagai pemilik satu-satunya kebenaran di muka bumi ini. Wajah garang berselimut murka kembali terbayang. Betapa ngerinya berada dalam situasi yang tidak menguntungkan, dengan sedikit pengikut dan sedikit nyali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan tawa riang anak-anak GKI Yasmin harus ditelan riak demonstran anti keberagaman. Perayaan Natal yang ditunggu-tunggu tak juga bisa mereka nikmati. Jangankan berbagi kado, untuk berdoa saja mereka tidak mendapat tempat di negeri ini. Masih terbayang wajah-wajah lucu nan riang yang sering bertanya “Mengapa kami tidak boleh berdoa di gereja?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyegelan, penutupan, perusakan masih menjadi bara yang meranggas di Indonesia. Atas nama keinginan kelompok yang bersuara keras (anti toleransi) Negara ini menjadi lembek, lemah dan tunduk. Kita sudah letih bertanya kemana perangkat hukum beraksi ketika kasus seperti ini terjadi? Apakah mereka bersembunyi di warung-warung sambil minum teh, atau mereka menyimpan senjata laras panjang untuk “dihadiahkan” pada para demonstran atau petani?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja, bagaimana tidak mereka begitu garang melayangkan tendangan dan peluru ketika aksi masyarakat dan mahasiswa bergema. Bahkan atas nama aparat mereka pun menjadi begitu arogan di halaman Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesiaku dalam rengkuh Pancasila yang kian lesu, menunduk dalam garis batas khatulistiwa yang kian panas. Sepanas desing peluru yang mencabut nyawa di Bima, Mesuji dan Papua. Rakyat yang membayar aparat, namun rakyat juga yang menerima timah panas. Merasakan mesiu masuk menerobos jantung dan bersarang dalam dinding-dinding kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterangsingan kemudian menjadi kawan dalam merengkuh luka dan air mata. Karena berkata-kata telah menghabiskan energi dan menguras seluruh keberanian untuk melawan. Negeri ini telah kembali menjadi gagu, wagu dalam bersikap dan bahkan seringkali lebih memilih diam menjadi penonton atas pesta darah yang tertumpah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negeriku dalam cengkeraman maut, tiap saat membutuhkan tumbal. Tumbal dari mereka yang berani bersikap untuk menjadi santapan pemimpin abal-abal yang bersekutu dengan kaum bar-bar. Betapa kita sangat menyayangkan situasi ini. Bukankah hal ini kemudian meremehkan perjuangan Ignatius Slamet Rijadi, NI Mas Agustinus Adisutjipto (diabadikan menjadi nama bandara di jogja), Marta Christina Tijahahu, Latuharhary, Maria Walanda Maramis, MGR A.Sugiopranoto, S.J dan lain sebagainya. Dulu mereka tidak pernah bertanya agamamu apa dan berjuang untuk kelompok agama mana. Namun saat ini kita bisa melihat betapa angkuhnya anak-anak bangsa yang mewarisi kemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelewang dan pedang sekelebat melayang di atas langit Madura dan Cikesik tahun ini. Meminta darah dan nyawa bagi mereka yang setia pada keyakinan. Batu dan kayu bersahabat dengan suara doa-doa jemaat GKI Yasmin, gereja Rancaengkek, dan Sepatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara mesiu dan senjata laras panjang masih mengintip di bumi Cendrawasih, menyelinap diantara perkebunan sawit Mesuji serta berbaur dengan aroma pantai di Bima, Nusa Tenggara Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai kapan irama kekerasan ini akan berhenti? Kemudian saling berdekapan dalam satu rumah yang nyaman bernama Indoensia? Kapan suara azan berpadu dengan kidung malam kudus? Meramu kalimat memuji Tuhan dalam kesantunan dan kemuliayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merindukan Indonesia tanpa kelewang, tanap pedang, tanpa batu, mesiu dan senjata laras panjang. Seperti bermimpi tentang kejayaan masa lalu, dimana sumberdaya melimpah, rempah-rempah menjadi kekayaan nusantara, dimana laut menjadi kawan baik bagi nelayan. Berharap tentang perubahan Indoensia, seperti menyusun parcel yang telah tercecer di berbagai tempat. Tidaklah mudah mengembalikan senyum anak-anak negeri ini yang telah lama menyimpan nya dalam bilik-bilik suram wajah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengeja kembali Indonesia dalam ruang bersama bernama Pancasila, di mana perbedaan menjadi kekayaan, di mana keanekaragaman menjadi begitu berwarna. Tidak senada, tidak seirama dalam melantunkan zikir dan pujian atas nama Tuhan, karena sejatinya Ia pun mengetahui semua bahasa. Bukan penyeragaman…..&lt;br /&gt;Jogjakarta, 30 Desember 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Agnes Hening Ratri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Penulis Freelance tulisannya dimuat di media online dan cetak, Penulis Oase Kompas.com “Sondang, Sang Revolusioner Telah Pergi”&lt;br /&gt;• Jurnalis media cetak terbaik untuk kategori liputan konflik agama (PPMN 2011)&lt;br /&gt;• Penulis buku “Kekerasan dan Rapuhnya Politik Multikultural Negara 2010”&lt;br /&gt;• Penulis antologi puisi, “Membaca Jogja 2011”&lt;br /&gt;• Penulis Buku” Monitoring Kebebasan Beragama 2011”&lt;br /&gt;• Saat ini sedang menempuh studi Program Pasca Sarjana di STISIP Widuri Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Oase Kompas.com,  Rabu, 4 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-5515516592966522732?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/5515516592966522732/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=5515516592966522732' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/5515516592966522732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/5515516592966522732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/mengeja-indonesia-dalam-keberagaman.html' title='Mengeja Indonesia dalam Keberagaman'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-9ufRQ9JuVIQ/TwcUh5Ftv3I/AAAAAAAAGYA/IHRd2dBqZDI/s72-c/pancasila%2Bretak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-1534381177704586912</id><published>2012-01-02T04:39:00.000-08:00</published><updated>2012-01-02T04:40:38.667-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Refleksi Awal Tahun: Nubuat untuk Bangsa yang Pantang Menyerah</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Djadjat Sudradjat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KITA khalifah yang pantang menyerah. Bangsa ini meyakini masa depan punya postulatnya sendiri untuk merajut kebajikan. Meskipun terjerembab berkali-kali pada lubang yang sama, tak mau disebut keledai. Ini justru karena meyakini keberhasilan bukan karena tidak pernah gagal, melainkan karena mampu bangkit setiap kali jatuh. (Ah, tapi kalau terlalu banyak jatuh, apa energi kita tidak habis untuk bangkit?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga tak mau nasib diserupakan Oedipus, tokoh mitologi Yunani yang dirundung malang tak henti karena kutukan para dewa. Oedipus yang membunuh ayah dan mengawini ibunya karena sama sekali tak tahu. Ia menjadi raja, tapi nasibnya terlunta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kita tak dikutuk dewata. Nasibnya bergantung kita sendiri, mau mengubahnya atau tidak, seperti dalam firman Gusti Allah, Tuhan Yang Maha Esa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus melawan olok-olok, "Bangsa Indonesia terkena kutukan kekayaan alam." Ini sebenarnya ironi yang disematkan kepada kita karena jengkelnya melihat bangsa dengan kekayaan melimpah, tetapi rakyatnya terus berkubang dalam lumpur kemiskinan. Bandingkan dengan Singapura, Jepang, dan Korea Selatan. Negara miskin sumber alam, tetapi rakyatnya makmur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, bangsa ini harus terus diingatkan agar tak pernah putus harapan, sebab harapan itulah sandaran utama kita. Doa adalah manifestasi dari kekuatan harapan yang tak pernah putus itu, tak pernah berhenti! Tanpa harapan ruang jadi gelap, elan kita jadi lindap. Tapi kekutan harapan (rakyat) sering dijadikan tempat sembunyi para pemimpin yang mengumbar angkara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari fakta-fakta empirik, kita bangsa yang beruntung. Karena “berkat rahmat Allah” diberi kemerdekaan dan bisa lepas dari aneka persoalan yang menghimpit. Padahal, dari banyak kalkulasi kita dinujum “tenggelam” sejak lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita masyarakat yang amat plural, bermental feodal, lama terpilin kebodohan, tak rasional, dan tak terbiasa transparan dalam mengurus fulus. Belakangan mudah marah, tapi memilih demokrasi dan otonomi daerah sebagai jalan mengelola negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita memang masih berdebar dengan pilihan demokrasi. Apakah posisi negara-bangsa ini akan mengikuti gerak sentrifugal (memudar) atau sentripetal (menyatu dan menguat)? Ada banyak kalkulasi dan nubuat otonomi dan demokrasi kita akan terancam. Tapi, jika hukum kian diteguhkan dan rekrutmen kepemimpinan dilakukan dengan benar (kian banyak pemimpin serupa Rustriningsih ketika menjabat bupati Kebumen dan Joko Widodo di Solo), Indonesia akan berjaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari ini kita memang masih dihadapkan realita banyaknya calon kepala daerah yang mencari pemodal setiap menjelang pilkada. Sebab politik telah diterjemahkan transasksi uang tunai. Maka tak heran jika ada calon kepala daerah yang ”mengijonkan” proyek-proyek APBD kepada para pemodal. Wajar jika selama menjabat, mereka sibuk mengembalikan modal, bukan sibuk mengurus rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab itu, kini alih-alih demokrasi bermakna sejahtera, ia gaduh belaka. Sebab, politik telah dirampok kaum demagog dan pencari kerja, sedangkan pengelola negara kian minus deposito kepublikan. Urusan publik dipinggirkan, urusan privat (para pejabat publik) justru diteguhkan. Ini jelas pengkhianatan! Lihat saja sesaat pemimpin publik dilantik, ia terlebih dahulu akan menagih seluruh haknya, bukan berkomitmen akan kewajiban-kewajibannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah akibat dari rekrutmen kepemimpinan partai politik dan birokrasi serta aparat negara yang kian tak berbasis pada kecakapan, tetapi pada kekuatan uang. Korupsi dan oligarki kekuasaan serupa epidemi. Birokrasi jadi lapuk karena rupa-rupa jabatan punya nominalnya sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirampok Demagog&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rocky Gerung mencatat kini demokrasi hanya membengkak, tapi tidak bertumbuh. Sebab, kaum demagog memang tak membangun keadilan dan kesetaraan bersuara. Ia memonopoli dan bahkan merampok suara. Demokrasi, kata pengajar filsafat UI itu, masih terpesona pada sensasi mereka yang nyaring berkata-kata, tapi tidak pada substansi dan orang yang tekun bekerja. Politik, dengan parlemen yang surplus kekuasaan, tapi kurang memahami “kurikulum kepublikan”, kini bengubah menjadi jenggo. Politik berputar pada penggalangan massa, heboh pencitraan, transaksi, dan tukar tambah kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragedi di Mesuji (baik di Lampung maupun Sumatera Selatan) akibat sengketa lahan, juga kebrutalan polisi di Pelabuhan Sape, Bima, dan seluruh kekerasan polisi sepanjang 2011 yang melukai dan menewaskan banyak nyawa, membuat demokrasi kian terluka. Di era sipil seperti ini laku polisi justru amat militeristik! Apa pun alasannya, dalam tragedi Mesuji dan Bima, menunjukkan adab aparat kelewat arogan, brutal, dan bengis. Memang ada kecenderungan tensi dan amarah rakyat di negeri ini meningkat, memang menjengkelkan, tapi justru tantangan bagi polisi-sipil dan para pemimpin daerah mengedepankan sofistikasi komunikasi. Bukan libido membunuh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara infrastruktur yang buruk, korupsi yang jadi epidemi, pelayanan publik yang  mengecewakan, transaksi dagang dalam rekrutmen calon pegawai negeri, petani yang kerap kesulitan pupuk ketika musim tanam, hukum yang kerap menindas pada orang-orang kecil, adalah bukti betapa tak cakapnya para pejabat publik melayani rakyat. Di era “demokrasi seolah-olah”, ini betapa kian nyata urusan publik makin  terpinggirkan, sedangkan urusan privat (penguasa) justru makin dikuatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, betapapun para elite serupa "Malin Kundang"—mengkhianati rakyat sebagai "ibu yang melahirkannya", tapi kita jangan mengutuknya sebagai batu. Selain zaman kutukan telah berlalu, kita tak ingin terlalu banyak batu abadi "Si Malin" yang bertebaran di seantero negeri sebagai tanda pengingkaran para pemimpin kita. Karena hukum juga belum tegak, kita berharap tahun baru 2012 menjadi momentum pertobatan massal bagi para pemimpin yang selama ini ingkar pada rakyat. Sebuah laku moral yang mendasarkan pada kekuatan personal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita telah menjadikan tahun baru sebagai momen penting perubahan—meskipun peruabahan mestinya dilakukan setiap saat. Mungkin, di waktu transisi tahun, ada banyak yang mendatangi para penujum untuk menubuat jodoh, kemesraan rumah tangga, kekayaan, karier, dan aneka urusan privat. Tapi juga, ada banyak doa, baik sendiri maupun bersama, dihelat. Ada banyak diskusi soal prediksi dan outlook ekonomi, politik, tamadun (kebudayaan), dan sosial, digelar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan seperti apakah semua itu pada 2012?  Orakel yang baik penting agar kita tahu bagaimana mencapainya, sedangkan yang buruk juga penting agar kita tahu cara menghindar. Prinsipnya, if  there is a will, there is a way. Pesta kembang api, letusan mercon, dan hiburan rakyat hingga memacetkan jalan-jalan, semoga karena berharap ada berkah baru di tahun baru. Mereka tengah menasfir apa yang disebut "jalan" setiap ada "kemauan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi, merefleksi tahun yang kita lewati, 2011, sungguh kita mesti menundukkan kepala dalam-dalam. Kita mesti berkaca pada cermin besar dan melihat dengan saksama wajah kita yang bopeng atas ketidakberdayaannya merawat diri sendiri. Dari cermin itu kita melihat diri kita yang penuh angkara, mudah mengumbar amarah, kriminal, hipokrit, korup, intoleran, dan ingkar pada hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menegakkan Konstitusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2011 sungguh telah sampai pada aras titik nadir dalam perkara kebersamaan kita. Para elite dan pengelola negara begitu fasih bicara urusan personal, tapi gagap dalam urusan publik. Karena itu, pada tahun 2012 penting ada pertobatan massal bagi bangsa ini, khususnya para pemimpin. Pertobatan seperti ini tidak menimbulkan kehebohan. Ia murah ongkosnya. Tidak menghabiskan energi dan anggaran. Ini transformasi moral penuh adab. Sebab, bukti penyimpangannya jelas. Tak usah jauh-jauh, teliti Pasal 33 dan 34 UUD 1945. Di situ ada pelanggaran konstitusi yang terang benderang, yang menyebabkan rakyat sengsara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita baca lagi dengan saksama dua Pasal 33 dari Ayat (1) hingga Ayat (4): "Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekuargaan" (Ayat 1); "Bumi dan air dan kekayaan alam yang  terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat." (Ayat 3);  "Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi keadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional." (Ayat 4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita lanjutkan ke Pasal 34. "Fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh negara." (Ayat 1); "Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan" (Ayat 2); "Negara bertanggung jawab atas penyedian fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak." (Ayat 3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita bedah satu persatu ayat-ayat itu, kita cocokkan dengan kenyataan hari ini, layaklah para pengelola negara bertobat karena pelanggaran serius itu. Apa yang diamanatkan konstitusi itu, hanya ada dalam teks pidato, tapi minus dalam realitas. Ekonomi kita sangat liberal, dan rakyat selalu terpinggirkan jika mengkritisi para pemilik modal. Alam kita kaya, tetapi menurut PBB, separuh rakyat kita miskin. Pembangunan ini hanya memperkaya segelintir orang, lima persen, tapi menguasai 95% kekayaan nasional. Jurang kaya-miskin makin menganga. Ini bom waktu yang setiap saat bisa meledak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tak usah malu belajar dari para negara-negara yang telah mampu memakmurkan rakyatnya. Para pemimpin silakan bilang, "Saya punya gaya sendiri dalam memimpin. Saya tidak mau disamakan dengan yang lain." Silakan, sejauh seluruh energi dan bakat kepemimpinannya diabdikan untuk mensejahterakan rakyat Bukan memakmurkan diri sendiri, keluarga, dan kelompoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun baru 2012, para elite harus berjanji pada diri sendiri dan rakyat yang memilihnya, untuk berubah. Pertobatan adalah salah satu kebajikan untuk memecah kebuntuan bagaimana mengatasi urusan kepublikan yang kian karut-marut. Sebab, hukum tak akan menjangkau kesalahan besar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakyat memang juga harus berubah, jangan mudah terprovokasi untuk melakukan destruksi. Tapi, para pemimpin juga mesti paham apa pun yang bernama aksi massa, ia bukan sesuatu yang tanpa alasan. Kesulitan hidup, ketidakadilan, korupsi yang merajalela, jurang kaya-miskin yang kian menganga, pasti punya andil yang besar. Meski provokator harus ditindak, tapi sungguh menyakitkan ketika ada kekerasan terhadap rakyat, para pemimpin pertama-tama justru menuding provokator. Bukan mengevaluasi diri kenapa itu semua terjadi, dan cepat mencari solusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa, nubuat, prediksi,  dan outlook tahun 2012, dengan cara masing-masing, ini tanda rakyat tetap semangat dan tak putus asa menghadapi kondisi yang menyesakkan dada itu. Justru kini tinggal niat para pemimpin, bisa atau tidak menjadi lokomotif perubahan. Selamat Tahun Baru! n&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lampung Post&lt;/span&gt;, Senin, 02 January 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-1534381177704586912?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/1534381177704586912/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=1534381177704586912' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/1534381177704586912'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/1534381177704586912'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/refleksi-awal-tahun-nubuat-untuk-bangsa.html' title='Refleksi Awal Tahun: Nubuat untuk Bangsa yang Pantang Menyerah'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-8189159353798123354</id><published>2012-01-01T19:10:00.000-08:00</published><updated>2012-01-15T19:11:45.564-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='daerah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Identitas Kultural (Melayu) Itu, Tak Akan Pernah Selesai... (1)</title><content type='html'>-- Marhalim Zaini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAYA menulis esai ini dengan segenap rasa bahagia, karena orasi saya dalam helat Anugerah Sagang 2011 berjudul “Akulah Melayu yang Berlari, (Percakapan-percakapan yang Tak Selesai Tentang Ideologi dan Identitas Kultural),” yang dimuat di &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Riau Pos&lt;/span&gt;, 13 November 2011, direspon dengan amat referensial dan konstruktif oleh sahabat karib saya Syaukani Al Karim. Bertambah kebahagiaan saya itu, ketika Alvi Puspita turut serta menyambut orasi saya dan esai Syaukani tersebut, dengan esai berjudul “Apa yang Sebenar, Apa yang Mesti?” (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Riau Pos&lt;/span&gt;, 25 Desember 2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira, beginilah eloknya cara kita mempercakapkan perkembangan diskursus kebudayaan kita hari ini, yang dengan begitu akan memperluas cakrawala dan memperpanjang karnaval pemikiran kita ke depan yang lebih cerdas dan menyegarkan, tak sekedar menceracau dengan emosional, dan mengganggap “kebenaran” itu tunggal sehingga menutup ruang diskusi. Tak sekedar mencibir, menyalah-nyalahkan ‘kerja kreatif’ orang lain, dan lalu membenar-benarkan ‘kerja kreatif’ sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esai Syaukani berjudul “Ihwal Melayu dan Jalan Kemelayuan” (Riau Pos, 20 November 2011) itu, bagi saya, di satu sisi sesungguhnya justru memperkuat percikan gagasan saya dalam orasi itu. Kenapa percikan? Karena orasi itu memang ditulis untuk durasi yang sedemikian terbatas (5-7 menit), sehingga agak mustahil mengembangkannya dalam ulasan yang panjang-lebar. Akan tetapi, oleh Syaukani, orasi itu menjadi meluas (setidaknya memperdalam tinjauan historisnya). Maka, apa yang saya premiskan sejak awal dalam sub-judul orasi itu yang berbunyi, “Percakapan-percakapan yang Tak Pernah Selesai Tentang Ideologi dan Identitas Kultural” menjadi niscaya, seolah menemukan artikulasi dan ruang “kebenarannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebenaran tentang premis itu tampak misalnya pada dua dan tiga paragraf awal esai Syaukani, yang jelas ia bersepakat dengan menulis begini, “meski dunia bergerak maju secara bergemuruh, persoalan kaum dan bani, persoalan “kami” dan “kalian”, tak pernah selesai dipercakapkan, bahkan ada kecenderungan mengental, dengan segala klaim kesombongan yang dilekatkan.” Pada baris-baris kalimat berikutnya, Syaukani bahkan menunjukkan berbagai fakta historis dan empiris (di Amerika, Israel, Afrika, Timur Tengah dan Jerman) yang terkait dengan bagaimana sesungguhnya ‘identitas kultural” itu memang tak pernah selesai—tidak hanya dipercakapkan, ditingkat wacana—akan tetapi juga tidak (pernah) selesai pada konteks pergerakannya. Maka, tentu sampai  di sini, esai Syaukani adalah semacam pembenaran/penguat gagasan dalam orasi saya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, begitu masuk pada paragraf berikutnya, ketika Syaukani hendak mulai membahas tentang Melayu, dan menulis pernyataan berbunyi, “Saya berpendapat, bahwa sebenarnya persoalan identitas dan etnisitas, bagi Melayu di Riau, sudah lama selesai (cetak miring oleh penulis),” maka saya kira dari sinilah sisi paradoksnya mulai tampak. Sebab, bukankah dengan pernyataan itu, justru Syaukani membantah sendiri berbagai realitas yang ia sebut dalam paragraf sebelumnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, pertanyaan logis yang kemudian muncul adalh, faktor apakah yang membuat Melayu, sebagai sebuah entitas budaya bernama etnis/kaum/puak/suku/ras/bani, menjadi berbeda dengan contoh-contoh yang disebut di berbagai belahan dunia itu, sehingga (Melayu) telah menjadi identitas yang selesai? Bukankah juga, Melayu (hari ini) sedang berada dalam putaran dan sergapan “dunia (yang) bergerak maju secara bergemuruh” itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi baiklah. Agaknya, yang dimaksud Syaukani dengan “sudah lama selesai” itu adalah merujuk kepada—sebagaimana yang ia tulis dalam esainya ini—teks-teks lama seperti Sejarah Melayu, misalnya, yang menjelaskan asal-usul keturunan Melayu. Saya tidak boleh menampik apa yang telah termaktub di dalamnya, dan sebagai teks “sejarah” kita semua akui sangat penting sebagai referensi. Meskipun, kita, tidak juga boleh melupakan berbagai teks referensi lain yang bertimbun, yang juga mengurai berbagai versi historis (dari berbagai perspektif) ihwal kemelayuan. Akan tetapi, apakah dengan begitu serta-merta dapat menunjukkan bahwa identitas kultural Melayu (Riau) hari ini, telah selesai? Andai ya, maka bukankah dengan begitu Syaukani seolah sedang mengatakan secara implisit bahwa idenitas Melayu itu telah ‘beku’ alias ‘mati’? Dan pada saat yang sama, maka berhentilah Melayu menjadi entitas kebudayaan, karena ‘perubahan’ sebagai nyawanya, telah sirna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kacukan dan Rumah yang Terbuka&lt;br /&gt;Namun, anehnya—dan saya kira ini sisi paradoks yang kedua—pada paragraf berikutnya, Syaukani justru menjelaskan ihwal ‘kacukan’, yang tampak lebih sebagai penegasan (bukan penyanggahan) dari orasi saya. Bahwa pengakuannya tentang ‘kacukan’ (campuran dari berbagai unsur, menurut KBBI) yang tidak hanya merupakan persoalan dalam dunia Melayu tetapi juga puak lain, dan kemudian diperkuat dengan kalimat, “memang tidak ada yang tunggal di bawah matahari ini,” serta disambung dengan kalimat berikutnya, “Pun, sebuah komunitas, kaum, dan bani, selalu tumbuh dan menjadi, setelah melewati “perbincangan dan perembukan” biologis dan bersilang...”, merupakan penandasan bahwa Melayu itu adalah identitas yang “tumbuh”, yang bergerak, yang berubah, yang aktif, yang dinamis. Artinya, di sini, Syaukani sedang membantah kembali pernyataan “sudah lama selesai” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, sebenarnya tidak ada yang berseberanganlah saya dengan Syaukani dalam memaknai istilah ‘kacukan’, hanya saja konteksnya berbeda. Kacukan yang saya pakai dalam orasi saya itu, lebih hendak menjelaskan tentang (saya kutip lagi pernyataan saya itu), “bagaimana metode-metode yang dipakai oleh para pemimpin kerajaan Siak pada masa akhir abad ke-17 dan abad ke-18 dapat menyatukan komunitas-komunitas multi-etnik, yang kemudian berujung pada puncak kemakmuran.” Dan yang menariknya lagi, soal sifat ‘kacuk’ pada masyarakat Sumatera Timur di masa itu, justru membawa mereka semua (termasuk yang bukan Melayu) mengidentifikasikan diri mereka sebagai “Melayu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tidak ada satu pernyataan pun dari orasi saya itu yang menyebut bahwa Melayu itu tertutup. Malah, kemudian saya menegaskan bahwa (saya kutip lagi orasi saya itu), “Ini artinya, secara lebih luas, kata “Melayu” harus dimaknai sebagai sebuah rumah yang terbuka. Terbuka, tidak berarti ia tidak berdaun pintu, yang sewaktu-waktu ia bisa ditutup saat dingin angin dari luar begitu menggigit, dan kembali dibuka saat matahari pagi merayap masuk.” Apakah dengan begitu, saya sedang menyangsikan “keterbukaan” Melayu sebagai sebuah entitas kebudayaan? Sampai-sampai kemudian Syaukani pun seolah ingin lebih menegaskannya dengan mengutip seloroh kawannya, “bahwa rumah Melayu itu bahkan tak berdinding, hanya berlantai, bertiang dan beratap.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, apapun metafor yang dipakai untuk menunjukkan bahwa Melayu itu terbuka, adalah sah. Hanya saja, andai rumah Melayu itu tak berdinding, dan dengan begitu berarti tak berjendela dan tak berpintu, maka agaknya akan gampang “masuk angin”-lah para penghuninya. Belum lagi kalau kita rujuk pula konsepsi “Rumah Melayu” baik secara fisik maupun filosofis. Tak boleh kita nafikan peran dinding rumah yang terbuat dari berbagai bahan seperti daun enau, daun rumbia, daun nipah yang disusun bersirat dan berkajang, buluh, kulit kayu, papan, dan sebagainya. Pintu di rumah Melayu itu justru biasanya tak cuma satu, bahkan dalam rumah pun ada pintu-pintu. Jendela, atau juga disebut tingkap, juga sangat banyak. Belum lagi kita tengok bagaimana susunan ruang dalam rumah, yang terbagi-bagi berikut dengan simbol dan maknanya, yang juga menunjukkan betapa kebudayaan Melayu tak terdedah begitu saja tanpa penyaring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, melalui metafor itu saya hendak mengatakan bahwa penting bagi Melayu (hari ini) untuk tahu kapan ia harus menutup dan membuka pintu dan jendela rumahnya. Sebab musim dan cuaca ‘globalisasi/kapitalisme’ yang kerap ekstrim, menyerbu dan menyergap secara tiba-tiba yang cenderung sulit untuk ditolak kehadirannya, membuat sebuah rumah harus memiliki daun pintu dan jendela. Dan inilah saya kira apa yang disebut sebagai “sikap budaya.” Seturut Yasraf (2004) misalnya, terkait sikap budaya ini, membuat pilihan seperti ini; (1) menolaknya secara radikal; (2) atau menerimanya secara total tanpa reserve; (3) atau, sikap moderat yang kritis. Dan, bukankah mestinya kita memilih sikap budaya yang ke tiga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi, menyinggung kedudukan bahasa Melayu, sebagai yang paling konkret menunjukkan ihwal keterbukaan itu. Tak perlulah lagi kiranya saya sebutkan berbagai referensi sejarah dan ulasan yang memperkuat itu, sebab saya kira kita semua (bangsa Indonesia) tahu, betapa potensi keterbukaan yang dimiliki oleh bahasa Melayu itu tak bisa disangsikan lagi. Dan pada tingkat tertentu, agaknya kita semua bersepakat dengan Nikolaos van Dam, yang menyebut di majalah Tempo, bahwa bahasa Melayu adalah mukjizat karena dalam waktu satu abad telah berhasil menjadi bahasa resmi (bahasa pemersatu) di seluruh Indonesia. (Bersambung)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Marhalim Zaini&lt;/span&gt;, Seniman Pilihan Sagang 2011. Sedang menyelesaikan S-2 di Program Pascasarjana Jurusan Antropologi UGM.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Riau Pos&lt;/span&gt;, Minggu, 1 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-8189159353798123354?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/8189159353798123354/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=8189159353798123354' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/8189159353798123354'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/8189159353798123354'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/identitas-kultural-melayu-itu-tak-akan.html' title='Identitas Kultural (Melayu) Itu, Tak Akan Pernah Selesai... (1)'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-1558178897575640812</id><published>2012-01-01T19:07:00.000-08:00</published><updated>2012-01-15T19:08:39.595-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seni'/><title type='text'>Pentas Teater Tiga Kota Riau Beraksi: Bengak di Atas Kebohongan Bengak</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Taufik Ikram Jamil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;TAK cukup dengan kata-kata, mungkin juga kesan untung-untung sebagai perenungan tentang bagaimana bengak alias bohong begitu mewabah dalam kehidupan berbangsa akhir-akhir ini, kelompok teater Riau Beraksi, memberikan masker kepada penonton dalam lakon yang mereka tampilkan  Sabtu dan Ahad (17-18/12).  Di bawah tajuk Bengak, penutup mulut dan hidung itu, justeru dibagikan begitu memasuki tempat pertunjukan, Anjung Seni Idrus Tintin, Pekanbaru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesedihan akibat berada dalam kondisi buruk itu, seperti dipadankan dengan khabar meninggalnya seorang tokoh besar dalam teater, Vaclav Havel (1937-2012), yang juga dikenal sebagai Presiden Republik Czech, Ahad (18/12). Berkali-kali dicalonkan sebagai penerima Nobel Perdamaian atas usahanya menciptakan perdamaian, dunia selalu mengingat ucapannya tentang wabah bengak, “Kebenaran dan cinta harus menang di atas kebohongan dan kebencian”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakon Bengak berangkat dari penulis yang memiliki tanah pijak yang sama dengan Havel, Arkady Timofeevich Averchenko (1881-1926), yang hijrah ke Eropa Tengah setelah  komunis menguasai tanah kelahirannya dan melahirkan Uni Soviet. Tapi Willy Fwiandri mengadoptasi lakon ini dari apa yang sudah diadaptasi oleh Achdiat K Mihardja tahun 1956. Tak pelak lagi, suasana lokal dan kekinian begitu terasa dalam lakon yang juga disutradarai Willy itu, bahkan judulnya yang semula Pakaian dan Kepalsuan dalam adaptasi Indonesia, menjadi khas Riau di tangan Willy, Bengak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir cerita dari lakon ini, mungkin membuat orang bertanya-tanya juga. Pasalnya, tokoh yang membongkar kepalsuan kemudian mengaku sebagai seorang badut bernama Sob (Herlambang). Dibantu Bro (Akbar), Sob melakukannya dengan todongan pistol. Ini disibak melalui Ratna (Dwi Alvianna), padahal perempuan ini juga seorang petualang —rela “menggadaikan” diri. Sebaliknya, bisa jadi hasil pembongkaran kepalsuan itu juga adalah sebuah kebohongan karena pengakuan di sebaliknya dibuat di bawah todongan senjata api yang kemudian diketahui tanpa peluru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdiri tahun 2008, Riau Beraksi dikucahi seniman siap uji. Willy sendiri misalnya, sempat menempuh pendidikan di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Jurusan Teater, terlibat berbagai pementasan di Jakarta sebelum pulang ke Riau. Sebut juga Aamesa Aryana yang sejak lama dikenal sebagai seniman dan pekerja seni tangguh dalam kondisi bagaimanapun juga. Nama-nama lain pula, ikut menjanjikan dan karenanya bisa menjadi perantara harapan bagi perteateran di Riau beriringan dengan kelompok lain yang lebih dahulu semacam Selembayung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan Penonton&lt;br /&gt;Sejak berdiri, hampir setiap tahun mereka tampil di pentas. Diawali lakon “Cinta dan Presiden”,  Bengak merupkan produksi kelima kelompok teater Riau Beraksi. Dengan durasi sekitar 75 menit, Bengak  juga  tampil di Padangpanjang dan Padang, Sumatera Barat (24-28/12). Sedang dirancang pula pementasan yang produksinya dipimpin Ayu Fwi ini ke beberapa kampus di Riau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penggarapan realis, tampaknya menjadi pilihan Riau Beraksi. Dengan demikian, mereka berupaya agar bisa langsung berbicara dengan penonton yang menuntut keaktoran pemain. Syukurlah, hampir semua pemain dapat dipertaruhkan dengan satu catatan pada pelakon Ratna yang pasti punya kesempatan untuk ditingkatkan. Ini didukung kehadiran panggung yang ditata Saho Riau dengan warna bersahaja. Kehadiran kelompok musik di café sebagaimana umumnya pula (Lastri, Syahbani, Edi), mampu membangun suasana santai seperti saat mereka menyuguhkan lagu Juwita Malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada upaya Willy melibatkan penonton secara langsung, bukan hanya terbawa oleh arus cerita. Ini jelas terasa sewaktu penonton diminta memakai masker. Sayangnya, alat tersebut diminta untuk dilepaskan lagi dengan alasan agar penonton merasa nyaman. Coba saja kalau benda itu dilepaskan sendiri oleh penonton tanpa permintaan, sehingga akan lebih terasa lagi penyatuannya dengan lakon. Mana tahu dengan melepaskan masker tanpa permintaan, bisa menjadi simbol bahwa sebenarnya kita tidak bisa mengunci mulut dari perilaku berdusta.   Begitu pula kalau terjadi sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, cerita bermula di sebuah café dengan lampu temaram dan musik hidup yang menyenangkan. Sob dan Bro terdengar berbicara ihwal politik yang terasa menekan karena laku oknum-oknumnya. Sikut-menyikut dengan cara apa pun dilakukan tanpa malu-malu. Lalu datanglah empat tokoh yakni Ucok (Willy), Yong Sungut (Aamesa Aryana),  Boy (Husin), dan Ratna yang langsung menguasai tempat hiburan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil ketawa terbahak-bahak dan minum-minum, masing-masing menceritakan “kehebatan” mereka di tengah masyarakat. Agar lebih jelas, Ucok malah mengambil pengeras suara dari tangan penyanyi untuk menceritakan perjuangannya sebagai aktivis mahasiswa 1998 di Jakarta, sampai kini menjadi ketua partai dan duduk di parlemen. Yong Sungut amat gembira karena ia kini sebagai kepala dinas, sedangkan Boy tak kurang senangnya sebagai pengusaha. Ujung-ujungnya mereka merancang suatu proyek besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menertawakan&lt;br /&gt;Dengan logat Melayu, Minang, Jawa, dan Batak, dialog dalam lakon ini acapkali mengundang tawa penonton. Bukan saja karena celetukan dan tingkah-polah pemain, tetapi lebih disebabkan bagaimana mereka menertawakan perilaku politik  sekarang; hamparan satire yang lebar membentang. Sebutlah misalnya, bagaimana ketika Ucok dan kawan-kawan merancang proyek  untuk kepentingan mereka sendiri, mengingatkan orang pada kasus wisma atlet SEA Games 2011. Padahal semua yang mereka peroleh dari awal dilakukan secara tidak sah, bahkan terus-menerus membohongi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas desakan Sob, Boy mengaku bahwa ia seorang datuk yang merampas banyak tanah rakyat dan memiliki sejumlah selir berkaitan dengan statusnya itu. Yong Sungut disebut sebagai rentenir yang sibuk menjaja proyek yang diambil dari dana rakyat dengan arahan dan pengaturan Ucok. Tak seperti Boy dan Yong Sungut, Ucok tak banyak berkelit ketika kepadanya disebutkan  sebagai tukang obat —menabur janji-janji besar kepada masyarakat tanpa menunaikannya— sebagaimana halnya perilaku seorang oportunis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucok malah tak sedikit pun peduli ketika Sob meminta isterinya yang kedua yakni Ratna, membuka pakaian demi apa yang disebutnya keselamatan.  Meski semula enggan, Ratna melakukan hal itu, bahkan meminta Sob “menikmati” tubuhnya—semacam pasrah yang menjengkelkan.  Pada adegan ini tampak Sob agak “terguncang”, sehingga sempat juga membayangkan bagaimana Sob mendedahkan kepalsuannya sendiri. Tetapi kemudian Sob hanya berpura-pura melakukan perbuatan mesum dengan Ratna, sebelum pada gilirannya ia memuji Ratna sebagai perempuan perkasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun dialog-dialog dibangun dari kenyataan dan kegeraman terhadap situasi politik, senantiasa pula muncul berbagai harapan perbaikan ke depan. Baik Sob dan Bro memiliki keyakinan terhadap hal ini meskipun selalu dibaluti rasa skeptisme yang tebal. Ucok dan kawan-kawan tak kurang yakinnya, tetapi mereka sudah terbelit oleh keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upaya mereka atas permintaan Ratna untuk mengejar Sob dan Bro yang kabur setelah puas mendengar pengakuan masing-masing tokoh, barangkali berujung pada dua kemungkinan; mengejar asbab kesadaran sebagai momen pencerahan atau justeru hendak lari dari kenyataan sesungguhnya sambil menguburkan setiap pemalsuan sebagai kebiasaan. Ditutup dengan yel-yel semangat beriringan dengan pemadaman lampu pentas dengan satu sentakan, seperti menegaskan bagaimana bengak harus diakhiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak salah lagi sebagaimana dikatakan Beni sebagai pengantar pementasan ini bahwa barisan bengak atau kebohongan memang sedang mengepung kita, bengak di atas kebohongan bengak. Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita mengatasinya. Allah SWT sangat memurkai kebohongan dan sebagaimana dikatakan Boy atas permintaan Sob maupun Bro, setidak-tidaknya pada tahap awal, untuk ini, kita harus melafazkan, “Astaghfirullah, nauzubillah…”***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Taufik Ikram Jamil&lt;/span&gt;, sastrawan terkemuka di Riau. Tinggal di Pekanbaru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Riau Pos&lt;/span&gt;, Minggu, 1 Januari 2012&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-1558178897575640812?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/1558178897575640812/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=1558178897575640812' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/1558178897575640812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/1558178897575640812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2012/01/pentas-teater-tiga-kota-riau-beraksi.html' title='Pentas Teater Tiga Kota Riau Beraksi: Bengak di Atas Kebohongan Bengak'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-2447404236251668008</id><published>2011-12-31T04:23:00.000-08:00</published><updated>2012-01-01T04:24:55.527-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seni'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosok'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Ahmad Tohari Bangkit Bersama Sang Penari</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Linda Sarmili&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;BUDAYAWAN Ahmad Tohari merasa hidup lagi. Bangkit kembali bersama film "Sang Penari", film terbaik hasil Festival Film Indonesia 2011, film nasional yang pembuatannya didasari oleh novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Bersama dengan larisnya film tersebut ditonton masyarakat luas, novel trilogi Ronggeg Dukuh Paruk juga diserbu pembaca. Banyak pengunjung toko buku Gramedia dalam beberapa bulan terakhir ini mencari novel tersebut di rak-rak buku sastra, tetapi selalu cepat kehabisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Padahal menurut keterangan seorang petugas toko buku Gramedia Blok M, Jakarta Selatan, novel Ronggeng Dukuh Paruk cetakan terakhir dengan gambar sampul dua bintang utama film "Sang Penari", sebenarnya belum lama dikirim pihak Gramedia Pusat ke Toko Buku Gramedia Blok M. "Kini tak satu pun lagi buku itu tersedia di toko ini. Habis. Silakan cari di toko buku Gramedia lainnya, mungkin masih ada..." ujar seorang petugas toko Buku Gramedia Blok M, pekan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Larisnya novel yang telah mengalami cetak ulang beberapa kali itu, menuntut pihak Gramedia segera mencetak ulang buku tersebut dan sesegera pula menempatkannya di rak-rak toko buku Gramedia. Mengapa? Karena sampai sejauh ini masih banyak yang berminat membeli buku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Seiring dengan kenyataan tersebut, Ahmad Tohari mengaku bangga. Dia pun mengaku kembali bergairah menulis novel baru yang masih menggambarkan kesulitan hidup wara Banyumas di era Gestapu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ahmat Tohari juga mengaku film Sang Penari yang sempat langsuhg dilihatnya saat syuting telah mengembalikan semangatnya bahwa menulis novel sesuai dengan rekaman kejadian masa lalu, tidaklah rugi, meski pada masa ini banya bahan cerita yang mungkin jauh lebihmenarik dibandingkan saat-saat lampau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Jujur, kini semangat saya kembali bangkit. Semangat saya sempat hilang ketika trilogi novel Ronggeng Dukun Paruk itu direkam secara salah saat dibuat menjadi skenario film Penari Ronggeng yang dibintangi atris Enny Betariks beberapa tahun silam. Di film itu, penonton segera saja menilai bahwa film Penari Ronggeng adalah film semi porno. Padahal novel Penari Ronggeng Dukuh Paruk bukan novel porno, melainkan novel kehidupan susah warga Banyumasan di era meletusnya Gerakan 30 S PKI." jelas Ahmad Tohari. "Tetapi begitu melihat film Sang Penari, saya menagis terharu, ternyata sutradara film sang Penari Ifa Isfansyah sangat memahami isi hati saya, sehingga membuat film Sang Penari yang begitu sesuai dengan isi hati saya. Film itu hebat, saya menyarankan semua warga banyumas nonton film itu," ujar Ahmad Tohari lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Seiring dengan terus meningkatnya minat masyarakat menonton film Sang Penari, Ahmad Tohari juga makin giat melangsungkan kegiatan sosialisai sastra ke berbagai tempat. Baru-baru ini dia menggelar apresiasi sastra kepada pihak Tentara Nasional Indonesia (TNI). Tentu saja kegiatan tersebut diselenggarakan atas izin pimpinan TNI. Apresiasi sastra yang dilangsungkan kembali mengulas film "Sang Penari".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Filmnya lumayan bagus, penting bagi generasi muda untuk menonton film ini. Ini promosi ya," kata Ahmad Tohari di sela-sela acara "Gendu-Gendu Rasa: Nguri-uri Budaya Banyumasan" yang diselenggarakan Pusat Penelitian Budaya Daerah dan Pariwisata Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, di Gedung LPPM Unsoed Purwokerto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Menurut dia, hal ini disebabkan dalam film "Sang Penari" terdapat adegan dramatisasi politik, berupa adegan penembakan orang-orang yang dianggap terlibat Gerakan 30 September/Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Padahal, kata dia, adegan tersebut tidak ada di dalam novel karyanya yang berjudul "Ronggeng Dukuh Paruk".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    "Ini merupakan keberanian dari sutradara untuk menampilkan adegan tersebut. Juga satu hal lagi, kok tentara (TNI) mengizinkan film ini beredar, jadi kemajuan pula yang dilakukan tentara karena membiarkan film ini lolos ke masyarakat," kata dia yang akrab dipanggil dengan sebutan "Kang Tohari". Oleh karena itu, dia mengaku berterima kasih kepada sutradara yang berani mengungkap adegan pembunuhan terhadap orang yang dianggap anggota PKI, serta kepada TNI yang membiarkan film ini lolos. "Itu merupakan perubahan yang luar biasa. Dan saya membiarkan sutradara untuk menafsirkan novel saya untuk dijadikan film karena yang akan difilmkan adalah tafsir sutradara, bukan teks saya," kata dia menegaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Disinggung mengenai inspirasi pascapeluncuran film "Sang Penari", dia mengaku ingin melaksanakan anjuran almarhum HB Jassin yang sengaja menemuinya pada tahun 1987 untuk memintanya melanjutkan novel "Ronggeng Dukuh Paruk" ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dalam hal ini, kata dia, almarhum HB Jassin meminta novel tersebut dilanjutkan dengan menyoroti kehidupan Goder (sosok anak kecil dalam novel tersebut, yang masih memiliki jiwa lurus di tengah kehidupan Dukuh Paruk yang penuh kemaksiatan, Red.). "Itu anjuran Pak HB Jassin yang selama ini saya diamkan. Nah, akhir-akhir ini saya tergoda untuk merenungkan kembali anjuran Pak HB Jassin. Siapa tahu sekarang ini saya akan menulis, tapi saya tak berjanji ya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Film yang disutradai Ifa Isfansyah itu menggambarkan pertemuan sepasang kekasih bernama Rasus dan Srintil setelah lama berpisah. Dalam hal ini, Rasus meninggalkan Dukuh Paruk karena menjadi seorang tentara, sedangkan Srintil menjadi seorang penari ronggeng. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suara Karya&lt;/span&gt;, Sabtu, 31 Desember 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-2447404236251668008?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/2447404236251668008/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=2447404236251668008' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/2447404236251668008'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/2447404236251668008'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2011/12/ahmad-tohari-bangkit-bersama-sang.html' title='Ahmad Tohari Bangkit Bersama Sang Penari'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-5758836660416524201</id><published>2011-12-31T02:51:00.000-08:00</published><updated>2012-01-01T03:01:33.943-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Catatan Akhir Tahun 2011: Karut-Marut Pendidikan Kita</title><content type='html'>oleh &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Udo Z. Karzi &lt;/span&gt;pada 30 Desember 2011 pukul 16:19&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PEMBUKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa karut-marutnya dunia pendidikan. Catatan akhir tahun -- semua tulisan saya ambil dari laman Edukasi, Kompas.com -- sangat menarik menjadi bahan perbincangan. Terutama terkait dengan keberadaan RSBI, isu pemerataan pendidikan, pendidikan untuk semua, profesionalime guru, dan kebijakan pendidikan yang MJ (mak jelas).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;uzk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&amp;gt;&amp;gt; [Pendidikan] Desakan Menghentikan RSBI Menguat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;|&lt;/span&gt; Inggried Dwi Wedhaswary | Jumat, 30 Desember 2011 | 08:43 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA, KOMPAS.com - Desakan membubarkan rintisan sekolah bertaraf internasional semakin kuat. Koalisi Antikomersialisasi Pendidikan mengajukan permohonan uji materi Pasal 50 Ayat (3) Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional kepada Mahkamah Konstitusi. Pasal tersebut menjadi dasar penyelenggaraan kebijakan RSBI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koordinator Divisi Monitoring Pelayanan Publik Indonesia Corruption Watch Febri Hendri, Kamis (29/12), berharap Mahkamah Konstitusi (MK) bisa membatalkan pasal tersebut karena keberadaan sekitar 1.100 rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) itu melanggar konstitusi. RSBI dinilai melanggar hak konstitusi warga negara untuk mengikuti pendidikan dasar karena akses menjadi terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;RSBI di sekolah milik pemerintah tidak dapat diakses siswa miskin. Kami minta MK mengeluarkan putusan provisi penghentian operasional dan anggaran RSBI hingga ada putusan MK.&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;”RSBI di sekolah milik pemerintah tidak dapat diakses siswa miskin. Kami minta MK mengeluarkan putusan provisi penghentian operasional dan anggaran RSBI hingga ada putusan MK. Pasal itu juga tidak memiliki kekuatan hukum mengikat,” kata Febri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyelenggaraan RSBI didasarkan pada Pasal 50 Ayat (3) UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas yang berbunyi, ”Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menindaklanjuti UU tersebut, pemerintah mengeluarkan berbagai aturan, seperti PP Nomor 17 Tahun 2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan serta Permendiknas Nomor 78 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Sekolah Bertaraf Internasional. Aturan ini menjadi dasar hukum penyelenggara RSBI untuk memungut bayaran tinggi yang pada praktiknya tidak terjangkau oleh kelompok miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usulan PGRI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sulistiyo mengaku PGRI sedang mengusulkan amandemen UU Sisdiknas untuk menghentikan RSBI. Pemerintah dinilai tidak adil dan bijaksana karena membiarkan sebagian kecil sekolah tumbuh berkembang pesat dengan block grant khusus dari pemerintah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ada gap lebar kaya-miskin. Anggaran untuk RSBI seharusnya bisa dipakai sekolah lain. Semua sekolah harus dapat perlakuan terbaik dan aksesnya harus dibuka luas. Sayang, RSBI hanya jadi alat dan sumber uang bagi kabupaten/kota dari siswa atau pemerintah,” kata Sulistiyo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi hal ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh menegaskan, pemerintah akan tetap tunduk pada hukum. Selama UU Sisdiknas masih sah berlaku, pemerintah akan mengacu pada UU tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuh mengaku RSBI banyak dikecam karena dianggap eksklusif secara sosial. Namun, ia menilai solusinya bukan dengan membubarkan RSBI, melainkan membuka akses dan kesempatan bagi siapa pun yang memiliki kompetensi akademik untuk masuk RSBI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Jangan dilihat dari kemampuan ekonominya. Tidak masalah ada eksklusivitas di RSBI asalkan secara akademik dan bukan secara sosial,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi pula, menurut Nuh, RSBI merupakan wadah atau layanan khusus bagi anak-anak pintar. Ia khawatir jika anak-anak yang khusus memperoleh perlakuan yang sama dengan yang lain, mereka tidak akan berkembang. Bisa jadi juga akan memilih sekolah ke luar negeri atau ”dibajak” negara lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nanti pemerintah salah lagi kalau kita kehilangan anak-anak berprestasi. Yang penting akses RSBI terbuka bagi anak pintar tanpa melihat kemampuan ekonominya,” kata Nuh. (LUK)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&amp;gt;&amp;gt; [Catatan Akhir Tahun] Menunggu Janji "Pendidikan untuk Semua"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Indra Akuntono | Inggried Dwi Wedhaswary | Jumat, 30 Desember 2011 | 13:19 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA, KOMPAS.com - Pendidikan nasional mendengungkan filosofi "education for all" alias pendidikan untuk semua. Ruh dari filosofi ini adalah pendidikan mampu menjangkau segala lapisan masyarakat. Pada tahun 2012 mendatang, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjanjikan pendidikan akan menjangkau anak usia sekolah yang selama ini tak terjangkau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengakui, saat ini di banyak wilayah masih sering dijumpai beberapa kelompok masyarakat yang belum bisa menikmati dunia pendidikan. Alasannya beragam. Ada yang karena latar belakang sosial, geografis, atau pun latar belakang budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Prinsipnya pendidikan itu untuk semua, terutama pendidikan dasar yang sangat jelas diamanatkan oleh undang-undang," kata Nuh, dalam jumpa pers akhir tahun, di Gedung Kemdikbud, Jakarta, Jumat (30/12/2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kata dia, kelompok-kelompok yang belum terjangkau harus diberikan perhatian khusus, seiring dengan terus didorongnya kualitas pendidikan yang sudah ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Intinya, semangat 2012 itu sekolah, sekolah, sekolah," ujarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjelaskan, dalam bahasa sederhana, tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Kemdikbud adalah menyediakan sarana, dan prasarana sehingga seluruh anak bisa sekolah dengan biaya murah, terjangkau, atau pun gratis. Kemdikbud berjanji akan aktif mencari populasi yang belum menikmati dunia pendidikan. Termasuk kebijakan untuk membangun infrastruktur pendidikan di daerah terpencil, terluar, dan tertinggal (3T).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini keberpihakan kita, bukan anak yang aktif mencari sekolah. Tapi kita yg akan menjemputnya. Meski jumlahnya tidak besar, tapi ini mengenai justice, bukan soal besar atau kecil," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain pembangunan infrastruktur, program ini juga akan didukung oleh peningkatan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) menjadi Rp 23 triliun, dan bantuan biaya pendidikan (beasiswa miskin) sebesar Rp 6 triliun.l&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Problem ekonomi, maka solusinya ekonomi, baik melalui BOS, maupun melalui subsidi siswa miskin," ujar Nuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&amp;gt;&amp;gt; [Digugat ke MK] RSBI Akan Dihapus, jika...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Indra Akuntono | Inggried Dwi Wedhaswary | Jumat, 30 Desember 2011 | 08:27 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA, KOMPAS.com — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan, sekolah berlabel rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) akan ditutup jika konsep program tersebut terbukti menyalahi peraturan perundang-undangan. Ia mengungkapkan, melihat RSBI harus dalam dua sisi, yaitu sisi konsep dan sisi realisasi di lapangan. RSBI akan ditutup jika konsepnya terbukti salah. Namun, jika konsepnya benar, tetapi implementasinya melenceng, maka hanya statusnya yang akan dibenahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuh mengakui, diperlukan waktu dan energi ekstra untuk menciptakan sekitar 1.100 RSBI di seluruh Indonesia. Akan tetapi, ia menyatakan menerima aspirasi dan tuntutan masyarakat agar RSBI dihapuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Pemerintah akan tetap ikut UU. Biarkan pihak berwenang menguji, apakah RSBI bertentangan dengan UUD atau tidak. Jika MK memutuskan bertentangan, maka pemerintah akan hormat. Tapi kalau tidak bertentangan, maka akan jalan terus.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;"Pandangan berbeda boleh saja. Maka, kami tak expand besar-besaran. Pertumbuhan RSBI kita tahan karena kami menunggu respons dan tanggapan masyarakat," kata Nuh, Kamis (29/12/2011) di Gedung Kemdikbud, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menegaskan, tuntutan itu tidak bisa dipenuhi jika memang RSBI tak menyalahi aturan yang ada. Oleh karena itu, kata Nuh, pemerintah menetapkan sekolah berlabel RSBI harus menyediakan minimal 20 persen kursinya untuk siswa miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, Indonesia Corruption Watch (ICW) bersama sejumlah orang yang tergabung dalam Koalisi Anti Komersialisasi Pendidikan (KAKP) mengajukan judicial review terhadap Pasal 50 Ayat 3 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) kepada MK. Mereka meminta agar aturan mengenai RSBI ini dihapuskan. Menanggapi gugatan ini, Nuh menilainya sebagai sesuatu yang biasa saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biasa saja. Silakan tidak setuju, yang penting rasional," kata Nuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengatakan, pemerintah akan tunduk jika memang ada putusan hukum yang menyatakan bahwa sekolah berlabel RSBI memang diperintahkan untuk dihapuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagaimanapun, pemerintah akan tetap ikut UU. Biarkan pihak berwenang menguji, apakah RSBI bertentangan dengan UUD atau tidak. Jika MK memutuskan bertentangan, maka pemerintah akan hormat. Tapi kalau tidak bertentangan, maka akan jalan terus," ujar Nuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&amp;gt;&amp;gt; [RSBI Digugat] Nuh: RSBI untuk Mewadahi Siswa Berprestasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Indra Akuntono | Inggried Dwi Wedhaswary | Jumat, 30 Desember 2011 | 11:06 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA, KOMPAS.com - Eksistensi sekolah dengan status Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) kembali dipertanyakan. Terakhir, Indonesia Corruption Watch (ICW) bersama Koalisi Anti Komersialisasi Pendidikan mengajukan gugatan judicial review ke Mahkamah Konstitusi agar menghapuskan pasal yang mengatur mengenai RSBI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menanggapi, desakan penghapusan RSBI yang semakin menguat, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan, keberadaan RSBI adalah untuk mewadahi anak-anak Indonesia yang memiliki prestasi akademik. Menurutnya, siswa-siswa berprestasi sudah sewajarnya jika ditangani secara khusus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Jika semua anak-anak pintar harus bersekolah di sekolah yang reguler, maka dikhawatirkan tidak ada kesempatan untuk berkembang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;-- Mohammad Nuh&lt;br /&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Ia menjelaskan, selain dengan dasar untuk memberikan layanan khusus kepada anak-anak pintar, dibukanya RSBI juga sebagai upaya mendorong terciptanya central of excellent di seluruh jenjang pendidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika semua anak-anak pintar harus bersekolah di sekolah yang reguler, maka dikhawatirkan tidak ada kesempatan untuk berkembang," kata Nuh, Jumat (30/12/2011), dalam jumpa pers akhir tahun, di Gedung Kemdikbud, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, banyak anak-anak pintar yang ditangani dengan standar reguler, kemudian justru memilih keluar dari sekolah reguler dan memilih sekolah yang lebih baik. Bahkan, kata dia, tak sedikit yang akhirnya harus ke luar negeri untuk mencari institusi pendidikan yang sesuai dengan tingkat prestasi akademik yang dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau saya tanya balik, kenapa mahasiswa cerdas diambil atau memilih ke luar negeri? Itu karena kualitas perguruan tinggi negeri (PTN) kita masih kalah dengan perguruan tinggi luar negeri,” kata Nuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RSBI, kata Nuh, adalah cara pemerintah untuk menuju kualitas pendidikan yang berstandar internasional, yakni sekolah berstandar internasional (SBI). Untuk mendapatkan label SBI, setiap sekolah harus melewati tahap rintisan terlebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“SBI harus dirintis, maka kita mulai dengan rehabilitasi sekolah dan seterusnya. Menekan sekolah Standar Pendidikan Minimal (SPM) agar semakin kecil dan, standar sekolah paling rendah ke depannya harus Sekolah Standar Nasional (SSN),” papar Nuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&amp;gt;&amp;gt; Dianggap Langgar Konstitusi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Eksistensi RSBI Digugat ke Mahkamah Konstitusi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Indra Akuntono | Inggried Dwi Wedhaswary | Rabu, 28 Desember 2011 | 14:58 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA, KOMPAS.com — Puluhan orang yang tergabung dalam Koalisi Anti Komersialisasi Pendidikan (KAKP) mendatangi dan menggelar aksi di depan gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Rabu (28/11/2011). Dalam aksinya, KAKP mendesak MK mengeluarkan provisi agar kegiatan sekolah RSBI di seluruh Indonesia dihentikan sampai ada putusan final dan mengikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga menyerahkan naskah gugatan terhadap rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI).&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Kami memohon MK memutuskan menghentikan operasional dan anggaran semua RSBI di Indonesia sampai ada putusan MK terkait hal ini.&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Pemerhati pendidikan yang juga menjadi peserta aksi, Jimmy Paat, mengatakan, penyelenggaraan RSBI diyakini melanggar hak konstitusi sebagian warga negara dalam pemenuhan kewajiban mengikuti pendidikan dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pendidikan yang sejatinya merupakan prasyarat bagi pelaksanaan hak asasi manusia dirancang dan dibatasi tidak untuk seluruh rakyat Indonesia. Ini tecermin dengan adanya ketentuan mengenai RSBI," kata Jimmy di sela-sela aksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut dia, penyelenggaraan RSBI juga memicu dualisme sistem pendidikan nasional karena mengacu pada kurikulum yang terdapat pada lembaga pendidikan negara-negara Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD). Selain itu, kata dia, penyelenggaraan RSBI pada sekolah publik juga melanggar sila kelima Pancasila, "Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia", karena RSBI tidak dapat diakses anak-anak dari keluarga miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar itu, KAKP menilai, RSBI melanggar konstitusi karena bertentangan dengan semangat dan kewajiban negara mencerdaskan kehidupan bangsa serta menimbulkan dualisme sistem dan liberalisasi pendidikan di Indonesia. Selain itu, RSBI juga dianggap menimbulkan diskriminasi dan kastanisasi dalam bidang pendidikan serta berpotensi menghilangkan jati diri bangsa Indonesia yang berbahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, KAKP melalui tim kuasa hukum mengajukan permohonan judicial review pada Pasal 50 Ayat 3 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) kepada MK dengan harapan majelis hakim MK mangabulkan permohonan pembatalan Pasal 50 Ayat 3 UU Sisdiknas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami memohon MK memutuskan menghentikan operasional dan anggaran seluruh RSBI di Indonesia sampai ada putusan MK terkait hal ini," kata Jimmy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menambahkan, penyelenggaraan RSBI didasari pada Pasal 50 Ayat 3 UU No 20/2003 tentang Sisdiknas. Pasal tersebut berbunyi, "pemerintah dan pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guna mendukung pemenuhan pasal tersebut, tambahnya, pemerintah mengeluarkan beberapa peraturan, seperti PP No 17/2010 tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan serta Permendiknas No 78/2009 tentang penyelenggaraan sekolah bertaraf internasional yang kemudian menjadi dasar penyelenggara RSBI untuk memungut bayaran yang tinggi kepada warga negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi, nyatanya menjadi tidak terjangkau oleh masyarakat miskin," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&amp;gt;&amp;gt; [Catatan Akhir Tahun] Guru: Menyongsong 2012 Tanpa Gairah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;Indra Akuntono | Inggried Dwi Wedhaswary | Rabu, 28 Desember 2011 | 16:10 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA, KOMPAS.com — Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) menilai, secara umum kebijakan pendidikan sepanjang tahun 2011 masih trial and error serta hit and run. Tidak ada skema kebijakan yang matang untuk diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua PB PGRI Sulistyo mengatakan, trial and error yang dimaksud adalah kebijakan pendidikan dijalankan tanpa didahului kajian teori yang mendalam dan tidak didukung oleh studi empiris tentang kelayakan dan tingkat akseptabilitasnya.&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt; Di pengujung 2011, kami menyongsong 2012 dengan tanpa gairah, dengan arah yang tak jelas. Seiring anggaran pendidikan yang meningkat, banyak program disusun tanpa subtansi dan berbasis mutu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;-- PGRI&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;"Banyak kebijakan hanya bersifat coba-coba," kata Sulistyo saat memaparkan catatan pendidikan 2011 di Gedung PGRI, Jakarta, Rabu (28/12/2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, lanjutnya, juga banyak program pendidikan yang dijalankan sebagai respons yang sifatnya instan dalam menanggapi berbagai isu dan permasalahan yang muncul. Akibatnya, kebijakan tidak dirancang secara konseptual dalam sebuah grand design dengan perspektif jangka panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di pengujung 2011, kami menyongsong 2012 dengan tanpa gairah, dengan arah yang tak jelas. Seiring anggaran pendidikan yang meningkat, banyak program disusun tanpa subtansi dan berbasis mutu," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulistyo menjelaskan, hal itu tecermin dari sejumlah peristiwa pendidikan yang terekspos selama tahun 2011, di antaranya, kembali diubahnya mekanisme penyaluran dana BOS, sentralisasi pendidikan, dan kisruh sertifikasi guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu, lanjutnya, pendidikan karakter juga dinilainya terancam gagal memberikan solusi terkait lemahnya karakter bangsa ini. Hal itu karena program tersebut hanya dijalankan di sekolah. Di sisi lain, para guru juga terus dirundung kekhawatiran dengan sejumlah persoalan dan membuat para guru tak mampu memikul berat beban pendidikan karakter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ditambah rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) dan ujian nasional (UN) yang, meski mendapat banyak kelemahan, nyatanya terus diselenggarakan," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, Sulistyo mengatakan, PGRI mencatat dua kebijakan penting dan positif dalam dunia pendidikan. Pertama, disatukannya kembali bidang kebudayaan dengan pendidikan dalam satu kementerian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Menurut Sulistyo, langkah ini menjadi penting karena akan memberikan arah yang jelas pada pendidikan sebagai upaya penyempurnaan kebudayaan sesuai dengan nilai-nilai inti (core values) kebangsaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kedua adalah dirintisnya bantuan operasional sekolah (BOS) bagi siswa jenjang SMA mulai tahun 2012 dan akan berlaku penuh tahun 2013," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suka · · Berhenti Mengikuti Kiriman · Bagikan · Hapus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Muhammad Harya Ramdhoni, Semacca Andanant, Amin Gifari Muhammad dan 7 lainnya menyukai ini.&lt;br /&gt;       Sri Celie Nurmayanti baru baca pembuka nya...&lt;br /&gt;       Jumat pukul 16:44 · Suka&lt;br /&gt;       Sri Celie Nurmayanti Humh, baca isinya akhir tahun aja... :)&lt;br /&gt;       Jumat pukul 16:44 · Suka&lt;br /&gt;       Udo Z. Karzi hahaa... pembukanya memang dah rangkuman.&lt;br /&gt;       Jumat pukul 17:04 · Suka · 1&lt;br /&gt;       Imelda Matahari catatan akhir di awal tahun. mantaff&lt;br /&gt;       Jumat pukul 17:07 · Suka&lt;br /&gt;       Udo Z. Karzi tul, jadi pe-er tahun depan&lt;br /&gt;       Jumat pukul 17:37 · Suka&lt;br /&gt;       Imelda Matahari banyak ya peernya. sampe gak beres2. Pak guru udah nunggu2 tuh&lt;br /&gt;       Jumat pukul 17:38 · Suka&lt;br /&gt;       Udo Z. Karzi kesel juga dg pak nuh, ngomongnya melangit mulu. tapi nggak pernah ngeliat kenyataan (fakta) yang sesungguhnya terjadi.&lt;br /&gt;       Jumat pukul 17:41 · Suka · 1&lt;br /&gt;       Imelda Matahari birokrat. sttt. gkgkgk&lt;br /&gt;       Jumat pukul 17:42 · Tidak Suka · 1&lt;br /&gt;       Udo Z. Karzi hehee... apa kalau dah jadi birokrat kayak gitu ya semua?&lt;br /&gt;       Jumat pukul 17:45 · Suka&lt;br /&gt;       Imelda Matahari hahahaha&lt;br /&gt;       Jumat pukul 17:46 · Tidak Suka · 1&lt;br /&gt;       Anneke Keke · Berteman dengan Rita Silfi&lt;br /&gt;       eeeeewww kagak ngerti ma'am&lt;br /&gt;       Jumat pukul 18:14 · Suka · 1&lt;br /&gt;       Rita Silfi ‎Anneke Keke, belum ngerti ya hehehe udah aja belajar dulu hehehe, dunianya konseptor emang melangit apalgi ga pernah terjun ke lapangan makin ..selangit kebijakannya...&lt;br /&gt;       Kemarin jam 5:04 · Suka · 1&lt;br /&gt;       Rita Silfi ‎Udo Z. Karzi, makasi taqnya, yg membahagiakan bagi saya ketua PGRI org yg ngerti kendala di lapangan dan sebenarnya lebih punya konsep yg matang ( dari pada pak menterinya hehehe ups ! ), jadi ya sudah.., bagi kami para guru gimana meminimalisir beberapa kebijakan yg malah mencelakakan anak didik, mengoptimalkan kompetensi diri agar tidak jadi bagian dari masalah...:)&lt;br /&gt;       Kemarin jam 5:10 · Suka&lt;br /&gt;       Sri Celie Nurmayanti Mantapz untuk santapan akhir tahun do.. :)&lt;br /&gt;       smoga peer2ny rampung tahun mendatang.. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Facebook/udozkarzi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-5758836660416524201?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/5758836660416524201/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=5758836660416524201' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/5758836660416524201'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/5758836660416524201'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2011/12/catatan-akhir-tahun-2011-karut-marut.html' title='Catatan Akhir Tahun 2011: Karut-Marut Pendidikan Kita'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-5637078896345570948</id><published>2011-12-28T04:10:00.000-08:00</published><updated>2012-01-01T04:19:20.684-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosok'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sejarah'/><title type='text'>Buah Pikiran Ekonomi Mr. Sjafruddin Prawiranegara</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;-- Ahan Syahrul Arifin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;BERTEPATAN dengan peringatan Hari Pahlawan 10 November 2011, pada akhirnya Presiden ke-2 Republik Indonesia Mr. Sjafruddin Prawiranegara ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Ketetapan yang diperoleh dari proses panjang nan berliku untuk orang yang jasa dan pengabdianya begitu besar bagi eksistensi NKRI. Utamanya, karena keberaniaan dan inisiatifnya mengambil langkah jitu menyelamatkan republik melalui pembentukan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada saat hampir seluruh pimpinan negara berhasil ditawan Belanda dan Sekutu di Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, keterlibatannya dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang dikategorikan tindakan makar membuat peranannya yang besar di awal-awal kemerdekaan baru diakui sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tulisan ini, penulis bermaksud mengenang kiprah Mr. Sjaf dalam meletakkan fondasi dasar perekonomian Indonesia.  Sebab, selama ini stigma kita selalu mengarah pada Hatta yang dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia dan kita juga sering menunjuk jari pada sang begawan ekonomi Soemitro Djojohadikoesoemo atau Widjojo Nitisastro sang penasihat ekonomi Orde Baru sebagai peletak dasar arsitektur pembangunan ekonomi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa mengurangi sedikitpun pengaruh dan pencapaian ketiga tokoh di atas dalam menata perekonomian Indonesia, cakrawala pandangan tersebut perlu sedikit kita geser untuk melihat kiprah dan pemikiran Mr. Sjafruddin Prawiranegara. Hal ini berkenaan dengan beberapa buah pikiran ekonomi Mr. Sjaf yang sangat visioner berpihak pada kemakmuran, berorientasi pada pembangunan manusia, dan tentunya lebih taktis dan praktis.  Dawam Rahardjo menyebutnya lebih pragmatis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini dikarenakan posisinya sebagai seorang teknokrat yang harus lebih realistis dan mampu mengurai konsepsi pemikiran dalam bentuk kebijakan yang menyejahterakan masyarakat. Dari pengalamannya hidup dalam dunia birokrasi serta pemahamannya terhadap ideologi dan kecakapannya memahami nilai-nilai agama. Mr. Sjaf melihat bahwa masalah pembangunan bukan hanya soal ekonomi-material saja, melainkan juga faktor kebudayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, mari kita lihat beberapa buah pikiran strategi pembangunan ekonomi yang disampaikan saat menjabat pertama kali sebagai gubernur bank sentral. Buah pikiran dalam konteks kekinian masih relevan untuk dijadikan acuan dalam skema kebijakan ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, perlunya membangun sektor pertanian sebagai tulang punggung industrialisasi. Gagasan soal rancang bangun industrialisasi ini membuatnya berpolemik dengan Soemitro Djojohadikoesoemo. Menurut Mr. Sjaf, jika industrialisasi dilakukan, harus berpijak pada sektor pertanian dan sumber daya alam karena pembangunan ekonomi harus disesuaikan pada realitas keadaan bangsa, di mana hampir 63% penduduk Indonesia menggantungkan hidupnya dari sektor pertanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, perlunya stabilitas moneter sebagai basis pertumbuhan. Selain itu, dalam soal anggaran pemerintah lebih baik menerapkan anggaran yang berimbang dalam pembangunan. Bukan anggaran defisit, di mana pembiayaan pembangunan didapat utang luar negeri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, soal modal asing apakah diperlukan atau tidak. Sebagai ekonom yang rasional Mr. Sjaf berpendapat modal asing tetap diperlukan dan harus tetap diundang untuk melakukan investasi. Namun, yang perlu diketahui bahwa maksud pinjaman bukan utang yang dilakukan pemerintah seperti yang selama ini dijalankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala itu pendapatnya juga membuat berpolemik dengan Soemitro Djojohadikoesoemo dan kelompok nasionalis yang menginginkan nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing. Mr. Sjaf menentang pendapat ini karena menganggap sumber daya manusia Indonesia belum mampu secara profesional menangani perusahaan-perusahaan besar, yang selama ini menjadi mesin pertumbuhan ekonomi. Karena itulah, Mr. Sjaf berpendapat perlunya untuk melakukan Indonesianisasi manajemen perusahaan asing dengan menyiapkan tenaga-tenaga profesional yang dididik baik di dalam maupun luar negeri. Mr. Sjaf menolak langkah nasionalisasi karena pengambilalihan badan-badan usaha asing ke nasional secara sepihak, dan dilakukan tanpa persiapan akan dapat menimbulkan kemerosotan produksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, memberdayakan usaha kecil melalui kredit perbankan. Gagasan ini, praksisnya diimplementasikan melalui skema KIK/KMP yang baru diterapkan atas arahan ekonom UI Widjojo Nitisastro pada saat Orde Baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, meletakkan dasar-dasar kebijakan bank sentral, terutama gagasan mengenai independensi bank sentral yang baru dilaksanakan pada akhir 1990-an, sebuah upaya menjaga stabilitas moneter dan inflasi. Sehingga ia mendapat julukan The Guardian of Monetary Stability. Fase menjabat sebagai gubernur bank sentral istilah tersebut muncul ketika gagasan dan kebijakan kontroversial mengenai devaluasi uang pada 1950an yang bertujuan mengendalikan inflasi dan moneter, yaitu yang kita kenal dengan istilah “gunting Sjafruddin”. Dan tentunya ketika yang juga sangat penting adalah ketika menerbitkan ORI (Oeng Republik Indonesia) pada 1946.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keenam, gagasan lain yang menarik dikemukakan oleh Mr. Sjaf, yaitu mengenai penolakannya mengenai bunga bank yang disebut riba. Menurutnya, bunga bank yang wajar dan tidak eksploitatif diperbolehkan sebagai imbal hasil pemakaian uang. Pandangan ini tentu berseberangan dengan para penganut ekonomi Islam yang mengharamkan bunga bank. Dalam konteks ini, Mr. Sjaf berpandangan bahwa perkreditan harus didasarkan pada pembangunan yang adil. Begitu pula dalam perdagangan, beliau mengenalkan sistem fair-trade (perdagangan yang adil), di mana pembagian keuntungan dan pemanfaatan yang adil antara produsen, pedagang, dan konsumen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Landasan pokok pikiran Mr. Sjaf tidak bisa dilepaskan dari pemahamannya bahwa kemakmuran dan kesejahteraan hanyalah sarana untuk mencapai tujuan moral dan spritual. Sedangkan teori ekonomi hanyalah alat untuk mencapai itu tujuan yang utama. Kesadaran religius adalah fondasi utama konsepsi pembangunan ekonomi Mr. Sjaf yang perannya sangat sentral di awal-awal pascakemerdekaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ahan Syahrul Arifin&lt;/span&gt;, Analis kebijakan publik dari UI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lampung Post&lt;/span&gt;, Rabu, 28 Desember 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-5637078896345570948?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/5637078896345570948/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=5637078896345570948' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/5637078896345570948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/5637078896345570948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2011/11/buah-pikiran-ekonomi-mr-sjafruddin.html' title='Buah Pikiran Ekonomi Mr. Sjafruddin Prawiranegara'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-2258862406704813781</id><published>2011-12-28T02:37:00.000-08:00</published><updated>2011-12-28T02:39:23.620-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>[Catatan Akhir Tahun] Guru: Menyongsong 2012 Tanpa Gairah</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Indra Akuntono dan Inggried Dwi Wedhaswary &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA, KOMPAS.com — Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) menilai, secara umum kebijakan pendidikan sepanjang tahun 2011 masih trial and error serta hit and run. Tidak ada skema kebijakan yang matang untuk diterapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketua PB PGRI Sulistyo mengatakan, trial and error yang dimaksud adalah kebijakan pendidikan dijalankan tanpa didahului kajian teori yang mendalam dan tidak didukung oleh studi empiris tentang kelayakan dan tingkat akseptabilitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-size:130%;" &gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);font-size:130%;" &gt;Di pengujung 2011, kami menyongsong 2012 dengan tanpa gairah, dengan arah yang tak jelas. Seiring anggaran pendidikan yang meningkat, banyak program disusun tanpa subtansi dan berbasis mutu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;font-size:100%;" &gt;-- PGRI&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;"Banyak kebijakan hanya bersifat coba-coba," kata Sulistyo saat memaparkan catatan pendidikan 2011 di Gedung PGRI, Jakarta, Rabu (28/12/2011).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, lanjutnya, juga banyak program pendidikan yang dijalankan sebagai respons yang sifatnya instan dalam menanggapi berbagai isu dan permasalahan yang muncul. Akibatnya, kebijakan tidak dirancang secara konseptual dalam sebuah grand design dengan perspektif jangka panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di pengujung 2011, kami menyongsong 2012 dengan tanpa gairah, dengan arah yang tak jelas. Seiring anggaran pendidikan yang meningkat, banyak program disusun tanpa subtansi dan berbasis mutu," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sulistyo menjelaskan, hal itu tecermin dari sejumlah peristiwa pendidikan yang terekspos selama tahun 2011, di antaranya, kembali diubahnya mekanisme penyaluran dana BOS, sentralisasi pendidikan, dan kisruh sertifikasi guru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu, lanjutnya, pendidikan karakter juga dinilainya terancam gagal memberikan solusi terkait lemahnya karakter bangsa ini. Hal itu karena program tersebut hanya dijalankan di sekolah. Di sisi lain, para guru juga terus dirundung kekhawatiran dengan sejumlah persoalan dan membuat para guru tak mampu memikul berat beban pendidikan karakter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ditambah rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) dan ujian nasional (UN) yang, meski mendapat banyak kelemahan, nyatanya terus diselenggarakan," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski demikian, Sulistyo mengatakan, PGRI mencatat dua kebijakan penting dan positif dalam dunia pendidikan. Pertama, disatukannya kembali bidang kebudayaan dengan pendidikan dalam satu kementerian, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Menurut Sulistyo, langkah ini menjadi penting karena akan memberikan arah yang jelas pada pendidikan sebagai upaya penyempurnaan kebudayaan sesuai dengan nilai-nilai inti (core values) kebangsaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kedua adalah dirintisnya bantuan operasional sekolah (BOS) bagi siswa jenjang SMA mulai tahun 2012 dan akan berlaku penuh tahun 2013," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Edukasi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas.com&lt;/span&gt;, Rabu, 28 Desember 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-2258862406704813781?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/2258862406704813781/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=2258862406704813781' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/2258862406704813781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/2258862406704813781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2011/12/catatan-akhir-tahun-guru-menyongsong.html' title='[Catatan Akhir Tahun] Guru: Menyongsong 2012 Tanpa Gairah'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-3195919268895604790</id><published>2011-12-28T02:26:00.000-08:00</published><updated>2011-12-28T02:31:08.152-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='pendidikan'/><title type='text'>Dianggap Langgar Konstitusi, Eksistensi RSBI Digugat ke Mahkamah Konstitusi</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Indra Akuntono &amp;amp; Inggried Dwi Wedhaswary &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;JAKARTA, KOMPAS.com - Puluhan orang yang tergabung dalam Koalisi Anti Komersialisasi Pendidikan (KAKP) mendatangi dan menggelar aksi di depan Gedung Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Rabu (28/11/2011). Dalam aksinya, KAKP mendesak MK mengeluarkan provisi agar kegiatan sekolah RSBI di seluruh Indonesia dihentikan sampai ada putusan final dan mengikat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-dY-zLycvKOw/TvrvJu9LwBI/AAAAAAAAGXE/d4Fhs2DwM_Y/s1600/demo%2Brsbi.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-dY-zLycvKOw/TvrvJu9LwBI/AAAAAAAAGXE/d4Fhs2DwM_Y/s400/demo%2Brsbi.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5691124029638557714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Koalisi Anti Komersialisasi Pendidikan (KAKP) menggelar aksi di depan Gedung Mahkama Konustitusi (MK), Jakarta, Rabu (28/12/2011), untuk menyerahkan naskah gugatan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). (Indra Akuntono)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mereka juga menyerahkan naskah gugatan terhadap Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI).&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;&lt;/span&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;span style="color: rgb(153, 0, 0);"&gt;Kami memohon MK memutuskan menghentikan operasional dan anggaran seluruh RSBI di Indonesia sampai adanya putusan MK terkait hal ini&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;Pemerhati pendidikan yang juga menjadi peserta aksi, Jimmy Paat mengatakan, penyelenggaraan RSBI diyakini telah melanggar hak konstitusi sebagian warga negara dalam pemenuhan kewajiban mengikuti pendidikan dasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pendidikan yang sejatinya merupakan prasyarat bagi pelaksanaan hak asasi manusia dirancang dan dibatasi tidak untuk seluruh rakyat Indonesia. Ini tercermin dengan adanya ketentuan mengenai RSBI," kata Jimmy, disela-sela aksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, penyelenggaraan RSBI juga memicu dualisme sistem pendidikan nasional karena mengacu pada kurikulum yang terdapat pada lembaga pendidikan negara-negara OECD (Organization for Economic Co-operation and Development). Selain itu, kata dia,  penyelenggaraan RSBI pada sekolah publik juga melanggar sila kelima Pancasila "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia" karena RSBI tidak dapat diakses oleh anak-anak dari keluarga miskin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar itu, KAKP menilai, RSBI melanggar konstitusi karena bertentangan dengan semangat dan kewajiban negara mencerdaskan kehidupan bangsa, serta menimbulkan dualisme sistem, dan liberalisasi pendidikan di Indonesia. Selain itu, RSBI juga dianggap menimbulkan diskriminasi, dan kastanisasi dalam bidang pendidikan, serta berpotensi menghilangkan jati diri bangsa Indonesia yang berbahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, KAKP melalui tim kuasa hukum mengajukan permohonan judicial review pada pasal 50 ayat 3 Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) pada MK dengan harapan majelis hakim MK mangabulkan permohonan pembatalan pasal 50 ayat 3 UU Sisdiknas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami memohon MK memutuskan menghentikan operasional dan anggaran seluruh RSBI di Indonesia sampai adanya putusan MK terkait hal ini," kata Jimmy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menambahkan, penyelenggaraan RSBI didasari pada pasal 50 ayat 3 UU No 20/2003 tentang Sisdiknas. Pasal tersebut berbunyi "pemerintah dan pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Guna mendukung pemenuhan pasal tersebut, tambahnya pemerintah mengeluarkan beberapa peraturan seperti PP No 17/2010 tentang pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan, serta Permendiknas No 78/2009 tentang penyelenggaraan sekolah bertaraf internasional yang kemudian menjadi dasar penyelenggara RSBI untuk memungut bayaran yang tinggi pada warga negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi nyatanya menjadi tidak terjangkau oleh masyarakat miskin," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Edukasi, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas.com&lt;/span&gt;, Rabu, 28 Desember 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-3195919268895604790?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/3195919268895604790/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=3195919268895604790' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/3195919268895604790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/3195919268895604790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2011/12/dianggap-langgar-konstitusi-eksistensi.html' title='Dianggap Langgar Konstitusi, Eksistensi RSBI Digugat ke Mahkamah Konstitusi'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-dY-zLycvKOw/TvrvJu9LwBI/AAAAAAAAGXE/d4Fhs2DwM_Y/s72-c/demo%2Brsbi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-6919870456419268981</id><published>2011-12-27T02:05:00.000-08:00</published><updated>2011-12-28T02:08:22.802-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='seni'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosok'/><title type='text'>Tentang Kecantikan Itu</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Bre Redana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada hal menarik dari pertunjukan monolog Inggit oleh Happy Salma di Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Bandung, tanggal 22 Desember 2011. Pertunjukan yang naskahnya ditulis oleh Ahda Amran dan disutradarai Wawan Sofwan ini bagus. Selama dua jam lebih Happy membawa penontonnya terpaku, terpesona pada Inggit Garnasih (1888-1984), yang seolah merasuk pada aktris asal Sukabumi ini. Siga kasurupan, roh Inggit ngageugeuh dina ragana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-P_S4SmY2IKE/TvrqRX2pbHI/AAAAAAAAGW4/r4RRO_WH-Xs/s1600/inggit%2Bhappy.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 250px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-P_S4SmY2IKE/TvrqRX2pbHI/AAAAAAAAGW4/r4RRO_WH-Xs/s400/inggit%2Bhappy.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5691118663317941362" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;KOMPAS/BRE REDANA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan bagi mereka yang antusias pada sejarah, dari berbagai cerita mengenai Inggit—istri Sukarno pada masa sebelum Indonesia merdeka—ada hal khusus bisa tertangkap di situ, yakni Inggit sebagai persona, sebagai pribadi, dengan sifat dan karakternya. Itulah yang jarang terungkap pada penulisan sejarah, termasuk biografi. Sejarah, kadang menjadi—istilah Fukuyama—ODAA alias “one damned thing after another”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pentas monolog Happy, Inggit bukan hanya tampil dalam lintasan sejarah berikut peristiwa yang dialaminya—yang sebagian bisa kita tangkap lewat buku karya Ramadhan KH atau Cindy Adams—melainkan juga bagaimana wanita ini menyikapi situasi, baik situasi politik, rumah tangga, cinta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan Happy menjadi Inggit membuat beberapa penonton berkaca-kaca matanya. Beberapa ibu menonton sambil tak tahan mengeluarkan kegemasannya—bagaimana setelah ikut menyertai Sukarno dalam pembuangan segala, sampai Bengkulu Sukarno berpaling pada wanita lain, yang kita kenal sebagai Fatmawati. Yang mengharukan bukan kelembekan Inggit, tapi justru ketegarannya. Ketika Sukarno memintanya untuk berpengertian, bahwa Sukarno ingin menyunting wanita lain, Inggit menggunakan haknya untuk berkata tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ceraikan aku dan kembalikan aku ke Bandung,” katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sejarah kita mengenal, Inggit melewatkan hari tua di Bandung dalam kehidupan sederhana, sebagai pembuat jamu dan bedak. Dia memanggil Sukarno “Engkus”. Tatkala Sukarno wafat tahun 1971, di depan peti jenazah Soekarno yang disemayamkan di Wisma Yaso, Jakarta, Inggit berucap lirih: “Engkus, geuningan Engkus the miheulaan Inggit. Kasep, ku Inggit didoakeun… (Engkus, rupanya Engkus mendahului Inggit. Cakep, Inggit mendoakanmu).”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pentas itu telah menghidupkan Inggit. Pertanyaan yang terus mengganggu—dan kian membuat penasaran—bagaimana Inggit senyatanya, pada masa mudanya, yang membuat Sukarno kepincut? Di sini boleh jadi setiap orang bermain dengan ruang imajinasi yang tersedia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukarno dari Surabaya datang ke Bandung untuk melanjutkan sekolah pada usia sekitar 20 tahun. Inggit lebih tua 13 tahun darinya, dan pada saat Sukarno datang ke Bandung dan idekos di rumahnya, Inggit sudah menjadi istri pedagang bernama Sanusi. Itu adalah perkawinan kedua Inggit. Sebelumnya, dia menikah dengan Kopral Residen bernama Nataatmadja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang istri pedagang, berhadapan dengan aktivis pergerakan, intelektual, bagaimana kira-kira perasaan Inggit? Bahkan begitu menginjak rumah setelah dijemput Sanusi di stasiun. Sukarno langsung mendaratkan pujian kepada calon ibu kosnya itu. Dia memuji bunga merah hiasan sanggul Inggit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal bunga itu kuning. Pemuda ini ngawur. Hanya saja, siapa tidak terpincut oleh rayuan gombal pemuda tampan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah yang semula sepi, menjadi ramai sejak kedatangan Sukarno—waktu itu namanya masih Kusno. Tamunya adalah para aktivis pergerakan, seperti Hatta, Sjahrir, dan lain-lain. Inggit suka melihat Sukarno dengan mata berbinar-binar. Mungkin dengan senyum semanis Happy itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang wartawan kawakan yang pernah dekat dengan Bung Karno—tak perlu saya sebut namanya—menceritakan Sanusi sering meninggalkan Inggit sendirian dengan Bung Karno dengan alasan berdagang di luar kota. Baiklah, anggap saja ini ruang imajinasi yang tersedia. Wartawan tadi bilang, katanya Bung Karno pernah bercerita, “Bayangkan. Di malam Bandung yang dingin itu, hanya berdua dengan wanita cantik yang sudah matang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bung Karno kemudian menikahi Inggit. Bersama Inggit inilah masa formatif Sukarno. Inggit menemaninya belajar malam-malam, sambil membuat jamu. Dengan jualan jamu dan bedak itu pula Inggit menopang ekonomi kehidupan mereka berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Sukarno dibuang ke Ende, Inggit menyertai. Begitu pula ketika Sukarno dibuang ke Bengkulu. Selama 20 tahun Inggit satu-satunya wanita bagi Bung Karno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita hanya bisa mengira-ngira, bagaimana kira-kira sosok wanita yang sebenarnya begitu penting hidupnya bagi Sukarno ini. Ingat, selama 20 tahun berarti Sukarno hanya dengan Inggit. Setelah periode Fatmawati, tidak lama kemudian muncul perempuan-perempuan lain, sampai tumbangnya Bung Karno di tahun 1965.&lt;br /&gt;Dengan kata lain, selama 20 tahun pertama Bung Karno dengan satu wanita, bernama Inggit. Pada 20 tahun berikutnya, ibaratnya Bung Karno dengan 20 wanita…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas, Inggit bukan wanita biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Oase, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kompas.com&lt;/span&gt; Selasa, 27 Desember 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-6919870456419268981?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/6919870456419268981/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=6919870456419268981' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/6919870456419268981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/6919870456419268981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2011/12/tentang-kecantikan-itu.html' title='Tentang Kecantikan Itu'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-P_S4SmY2IKE/TvrqRX2pbHI/AAAAAAAAGW4/r4RRO_WH-Xs/s72-c/inggit%2Bhappy.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-5262023716865579743</id><published>2011-12-25T19:04:00.000-08:00</published><updated>2012-01-15T19:05:27.450-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='daerah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Apa yang Sebenar? Bagaimana yang Semesti?</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Alvi Puspita&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;MENGIKUTI tulisan Marhalim Zaini “Akulah Melayu yang Berlari” yang disambut oleh Syaukani Al Karim dengan “Ikhwal Melayu dan Jalan Kemelayuan”  dan disinggung pula  oleh Yusmar Yusuf lewat tulisannya “Kata Rayap”, maka pertanyaan yang muncul pada diri saya adalah apakah yang sebenarnya? Apakah yang sebenarnya sedang diperbincangkan? Kenapa? Persoalan Melayu? Persoalan apanya?  Marhalim dan Syaukani sama-sama menulis tentang Melayu. Tapi adakah sama Melayu yang dimaksud Marhalim dengan yang dimaksud Syaukani? Kalau berbeda, di mana titik bedanya dan adakah titik temu dari yang berbeda itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka beginilah dugaan saya. Membaca paragraf awal tulisan Marhalim: Hari ini, Riau, adalah juga sebuah negeri yang sedang sibuk menyusun katalogus identitas dirinya. Seolah ada kesadaran baru yang bangkit dari ‘katil tua’ masa silam untuk kembali menegakkan tonggak-tonggak sejarah. Dan Melayu, adalah sebuah tonggak peradaban yang hendak (kembali) ditegakkan itu, hal yang saya tangkap dari kalimat pembuka ini adalah usaha Marhalim untuk menggambarkan realitas kekinian kita di sini, di Riau, yaitu berada dalam sebuah kesadaran akan pentingnya sebuah eksistensi identitas kemelayuan yang mengarah pada etnisitas. Tapi mengapa, untuk apa dan bagaimana? Saya pikir hal-hal itu yang dicoba dikemukakan oleh Marhalim lewat tulisannya itu yang saya pahami sebagai bentuk autokritik terhadap kemelayuan dan juga disertai dengan tawaran solusi langkah konkrit yang bisa kita lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban Marhalim atas pertanyaan mengapa munculnya kesadaran ikhwal identitas itu adalah sebagai bentuk reaksi logis Riau setelah puluhan tahun berada dalam derita diskriminasi, baik sosial, politik, ekonomi maupun kultural yang kesemua hal tersebut menurutnya menyebabkan kita tanpa sadar berada dalam situasi krisis identitas. Kita disini sedang mengalami krisis identitas karenanya muncul kesadaran untuk memunculkan eksistensi identitas yang mengarah pada etnisitas yang mewujud pada even-even budaya yang kita buat. Positif atau negatifkah ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan pembacaan saya, keseluruhan pada tulisan itu maka jawaban yang ia berikan, akan menjadi negatif jika kesadaran ini membuat kita orang-orang Melayu di Riau menjadi orang-orang yang tertutup dan mengisolasi diri dengan sengaja atau tanpa sadar. Asumsi atau katakan juga kritikan tentang Riau yang tertutup dapat kita tangkap dari kalimat, “Melayu” harus dimaknai sebagai sebuah rumah yang terbuka. Namun kesadaran identitas itu akan menjadi positif jika disertai dengan kesadaran yang didalamnya terkandung ideologi yang jelas yang teraplikasi lewat gerakan kebudayaan. Karena realitasnya bahwa memang kita berada dalam kepungan nilai-nilai baru yang saban hari disebarkan lewat media massa, media elektronik dll, sehingga memang perlu adanya kesadaran akan identitas lokal dan etnisitas sebagai tameng ataupun penapis atas segala hal yang dari luar. Tapi identitas dan etnisitas yang seperti apakah? Dan Marhalim mengutip Dwyer bahwa etnisitas itu bukan hasil dari proses isolasi, tapi dari proses hubungan. Dan proses hubungan atau interaksi sosial itu tentu tak dapat secara secepat kilat menjelmakannya dalam kegiatan-kegiatan yang instant namun disertai dengan gerakan yang disertai upaya yang sinergis antara berbagai pihak untuk membentuk pilar-pilar penyanggah dari tujuan yang hendak dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, ujar Marhalim, dan   menjadi Melayu yang berlari, kiranya itulah yang dihimbaukan Marhalim karena ia memahami bahwa identitas adalah sesuatu yang bergerak, sebuah proses terus-menerus. Dan sekiranya tujuan yang ingin dicapai dari Melayu yang berlari itu adalah individu-individu yang sadar diri kalau ia sedang berada pada masa kekinian sehingga tindakan-tindakannya mengarah pada upaya-upaya untuk menjawab persoalan kekinian tersebut. Dan menurut saya beruntunglah kita sebenarnya karena kita memiliki masa lalu tempat menoleh yaitu Melayu dulu yang meminjam istilah Syaukani sesuatu yang telah selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, dari tulisan Syaukani Al Karim “Ikhwal dan Jalan Kemelayuan” begini pula pembacaan saya. Membaca paparan Syaukani dari paragraf pertama sampai ketiga, maka kita seolah diajak pada alur pikiran bahwa persoalan ikhwal eksistensi sebuah puak, ras atau bangsa itu adalah biasa. Persoalan kami dan kalian itu menjadi wajar dikemukakan karena sudah menjadi semacam bagian perjalanan kehidupan manusia dari masa ke masa kerena seperti apa yang dikatakan Syaukani di awal tulisannya bahwa  secara kejiwaan, seorang anak manusia, selalu merasa lebih nyaman dan terlindungi, ketika berada di tengah-tengah komunitas yang dekat dengan dirinya, seperti keluarga sedarah, kawan sekampung,  teman bermain, serta hal-hal lain yang mendekatkan secara batiniah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya Syaukani maklum kenapa pertanyaan-pertanyaan seputar Melayu dan kemelayuan yang sudah sering dipertanyakan sedari dulu kala kembali dipertanyakan oleh Marhalim. Namun, pada paparan selanjutnya maka kita dapat melihat titik beda antara pandangan Marhalim dan Syaukani. Syaukani berpendapat bahwa persoalan identitas dan etnisitas bagi orang Melayu sudah selesai. Sudah sangat terang sama sekali seperti bersuluh matahari. Hal itu dapat dilihat dari bagaimana naskah-naskah lama sudah menjawab persoalan-persoalan itu dan secara jasadi menurut Syaukani juga sudah selesai dan teramat jelas pula ketika Provinsi Riau terbentuk pada tahun 1957.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan cara pandang selanjutnya antara Syaukani dan Marhalim adalah soal keterbukaan orang Melayu. Kalau dari tulisan Marhalim secara implisit kita menangkap bahwa Melayu itu tertutup dan mengisolasi diri maka menurut Syaukani, Melayu sungguh amat sangat terbuka bahkan sampai-sampai tak berpintu sama sekali. Dan kejayaan kebudayaan serta peradaban Melayu itu malah terbentuk karena proses keterbukaan yang dimiliki oleh orang-orang Melayu. Keterbukaan malah sudah menjadi sifat dasar orang Melayu. Karenanya, kalau Marhalim mengajak Melayu untuk berlari (proses mengejar sesuatu, yang bisa pula diartikan bagian dari proses membentuk sesuatu yang baru) maka Syaukani mengajak untuk mengisi Melayu (karena ia sudah selesai) dengan roh kemelayuan yang lebih mengarah pada pembentukan individu-individu yang memiliki nilai-nilai keberanian, kedermawanan, kebersamaan, kehormatan, toleransi, intelektualitas, dan kesungguhan atau kegigihan dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari pembacaan kedua tulisan tersebut, menurut saya memang terdapat perbedaan antara Melayu yang dimaksud Marhalim dan Melayu yang dimaksud Syaukani sehingga berbeda pula cara menyikapinya. Terdapat perbedaan pemaknaan tentang identitas. Kalau Marhalim memandang identitas sebagai proses menjadi terus menerus maka bagi Syaukani identitas adalah soal mengisi dan meneruskan karena ia sudah selesai. Jika boleh saya menyebut begini, Marhalim beranjak dari kini sedang Syaukani beranjak dari masa lalu dalam artian bukan berarti salah satu adalah negatif atau salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbedaan pemaknaan identitas menyebabkan perbedaan cara menyikapi. Namun saya pikir dari perbedaan pandangan tersebut ada titik temu antara keduanya yaitu rasa cinta terhadap Melayu, keinginan untuk membangun agar Melayu itu tetap “ada”. Yang satu mewujudkan rasa cinta itu dengan autokritik sedang yang satu dengan semangat romantisme. Dan hal ini bagi saya menarik dan saya pahami sebagai salah satu bentuk perwujudan dari istilah “rumah yang terbuka” itu. Terbuka terhadap dialog dan wacana lain. Kalaulah kita mencoba jujur bertanya dan menjawab telah betul-betul terbukakah kita untuk saling berdialog antara kita yang di dalam (di Riau) dan dengan yang di luar walaupun memiliki paradigma yang berbeda? Kalau sudah, syukurlah. Kalau belum, mengapa? Rasa gamangkah atau rasa enggan? Mengapa enggan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebagai penutup tulisan ini, saya ingin turut pula menyampaikan apa yang saya pikirkan. Menurut saya segala apa yang dihasilkan oleh orang-orang dulu adalah reaksi terhadap kekinian pada masa itu. Dan adakah kita bisa menjamin kalau kekinian dulu betul-betul sama dengan kekinian sekarang. Kalau sama ya sudah selesai kita tinggal pakai apa yang sudah ada. Tapi kalau tidak sama, maka tetap memakai hal-hal yang merupakan hasil produk dulu tanpa sikap kritis itu menurut saya membuat kita mematikan diri sendiri. Mematikan Melayu, walaupun wacananya adalah ingin menghidupkan dan bahkan membuatnya mendunia. Dan agar tidak mati bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya salah satunya adalah dengan membaca keadaan kita kini secara jujur dan menjawabnya secara jujur pula, apa yang kita alami, apa yang kita butuhkan dan apa yang bisa kita lakukan dari segala potensi kita kini. Walaupun tidak tertutup kemungkinan salah satu solusinya adalah tetap melihat pada masa lalu tapi itu bukanlah hal mutlak dan harus dan tanpa disertai pula pembacaan kritis. Dan apakah mesti dengan berlari? Ya belum tentu juga.&lt;br /&gt;Lalu, apa yang sebenar? Bagaimana yang semesti? Mari...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Alvi Puspita&lt;/span&gt;, Lahir di Teratak, Kampar, saat ini sedang studi S-2 di salah satu program studi UGM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Riau Pos&lt;/span&gt;, Minggu, 25 Desember 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-5262023716865579743?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/5262023716865579743/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=5262023716865579743' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/5262023716865579743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/5262023716865579743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2011/12/apa-yang-sebenar-bagaimana-yang-semesti.html' title='Apa yang Sebenar? Bagaimana yang Semesti?'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-6604840904081368957</id><published>2011-12-25T19:01:00.000-08:00</published><updated>2012-01-15T19:02:30.459-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='daerah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Paradoks Melayu</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;(Sindiran terhadap Melayu dalam “Penat Tak Sudah Jadi Melayu” Karya Eddy Ahmad RM)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Junaidi&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;SAJAK “Penat Tak Sudah Jadi Melayu” karya Eddy Ahmad, RM terdapat dalam kumpulan puisi Baca Sajak Bersama Gubernur Riau, Pemred dan Penyair Media (2011). Sajak ini sangat menarik untuk dikaji karena di dalamnya terkandung sindiran tajam yang disampaikan orang Melayu terhadap diri mereka sendiri dengan menampilkan kondisi-kondisi paradoksal antara dunia idealis dan realitas. Judul sajak ini menggambarkan rasa ketidakpuasan dan kemarahan terhadap Melayu pada hari ini. Sajak ini menyindir karakter Melayu yang tidak sesuai dengan pesan-pesan indah yang terdapat dalam khasanah sastra dan sejarah Melayu. Keindahan, keagungan, kearifan, kesantunan dan karakter Melayu lainnya tidak lagi hadir dalam jiwa Melayu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih menariknya lagi dalam sajak ini ada subjudul yang ditulis dalam tanda kurung, yakni kepada Tennas Effendy. Seperti diketahui Tennas Effendy adalah seorang tokoh Melayu yang sangat terkenal dengan karyanya yang berjudul Tunjuk Ajar Melayu. Sosok Tennas Effendy menjadi sangat penting dalam sajak ini sebab ia menghadirkan gagasan yang paradoksal antara nilai-nilai Melayu yang disampaikan dalam Tunjuk Ajar Melayu dengan realitas kehidupan Melayu. Dengan demikian, sindiran yang terkandung dalam sajak ini tidak diarahkan kepada pribadi Tennas Effendy  tetapi kepada kondisi kontradiktif antara nilai-nilai luhur Melayu dengan kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cara pandang orang Melayu yang cenderung berlebihan memandang keagungan Melayu masa silam menyebabkan mereka terlena dan larut dengan kenangan-kenangan indah dan membuat mereka lupa dengan kenyataan hidup pada masa kini. Bait pertama sajak ini berisi: penat tak sudah jadi Melayu// memahat hidup ke masa lalu// mengukir dinding// mengikur sanding// bersantun-santun// bersyair-syair// zapin menzapin// tak bikin tampin// sejarah mimpi/ /terbunuh waktu// patung mematung// tugu menugu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bait di atas terdapat berbagai tradisi yang merepresentasikan orang Melayu. Tetapi tradisi yang disampaikan itu bersifat paradoksal dengan kehidupan orang Melayu masa kini. Pertama, keagungan masa silam Melayu. Mempelajari sejarah itu memang penting, tetapi lalai dengan kenyataan masa kini tidak pula elok. Akibat terlalu larut dengan masa silam, orang Melayu masa kini kalah bersaing dengan orang lain. Seharusnya, keagungan masa silam mestinya dijadikan dasar dan spirit untuk membangun masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kesantunan orang Melayu. Orang Melayu mengindentifikasi diri mereka sebagai orang yang sangat menjunjung etika dalam berkomunikasi. Tetapi pada hari ini tradisi kesantunan dijadikan pembenaran oleh penguasa untuk melarang memberikan kritik kepada orang tua dan penguasa dengan tujuan menjaga kekuasaan dan menutupi kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, tradisi bersyair merupakan salah satu tradisi yang telah lama melekat dalam diri orang Melayu untuk menyampaikan pesan, nasihat dan berbagai ungkapan lainnya. Keluhuran nilai dalam syair hanya sebatas gagasan idealis saja. Nilai-nilai itu tidak hadir lagi dalam realitas kehidupan Melayu. Keempat, tari zapin merupakan tari yang diklaim milik orang Melayu sebagai lambang gerak kehidupan orang Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat tari zapin tidak lagi memcerminkan ketangkasan orang dalam menjalani kehidupan. Kelima, tradisi membuat patung. Ada kecenderungan orang Melayu hari ini untuk membangun kebudayaan Melayu melalui simbol dengan cara membuat patung-patung. Bila membangun patung maka diklaim telah berhasil membangun kebudayaan. Padahal jika dilihat dari tradisi Melayu patung tidak begitu penting sebab dalam tradisi Islam membangun patung kurang elok. Namun apa daya patung banyak dibangun untuk membangun citra keberhasilan pembangunanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam bait kedua kondisi paradoksal lebih dipertegas lagi dengan membandingkan antara satu frasa dengan dengan frasa lainnya untuk menunjukkan arti yang berlawanan. Frasa “menyanyi sunyi” dibandingkan dengan “lagu melampau”, “memetik rotan” dibandingkan dengan “akar pun jadi”, “gendang kecapi” dibandingkan dengan “mulut berbunyi”, “berjoget tangis” dibandingkan dengan “tari menangis”, dan “merdu seruling” dibandingkan dengan “di telinga situli”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi paradoksal ini mengambarkan inkonsistensi orang Melayu dalam memandang nilai-nilai yang terdapat dalam kebudayaan Melayu. Akibatnya, kehidupan orang Melayu tidak semakin maju tetapi malah semakin mundur seperti ungkapan: tudung periuk apakan lauk// kain yang buruk nasib terbungkuk. Cita-cita untuk mengangkat keagungan Melayu hanya menjadi mimpi yang memberatkan kehidupan orang Melayu seperti yang diungkapakan: sejarah mimpi// tertikam tajam// jadi teror// hari ke hari.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi paradoksal juga terlihat dalam bait ketiga. “gurindam dibaca” dibandingkan dengan “irama dendam”. Selanjunya disampaikan pula beberapa ungkapan bukan Melayu tak hilang di bumi // tanah sempadan menjadi lawan // akibat santun yang jadi ajaran// ketika mantra kehilangan kuasa// Jebat dan Tuah jadi tabiat // kelakuan pejabat mengabad-abad”. Dalam bait ini disampaikan lagi kritik terhadap kelakuan pemimpin yang melakukan kebaikan untuk membela kepentingan rakyat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bait keempat kritik terhadap Melayu lebih dipertegas: penat tak sudah menjadi Melayu// petatah-petitih membuat letih// tunjuk ajar tak jadi pintar// karena petuah tak bikin petah// nasihat tak jadi amanat// tersebab pantun tak jadi menuntun// kata dan laku berpaling muka// bingung isi karena sampiran// hidup Melayu untung di badan// batu kerikil dikira permata// ibarat si Kudung// di malam buta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan-ungkapan di atas mengambarkan ketidakmampuan orang Melayu mengimplementasikan nilai-nilai luhur yang terdapat dalam kebudayaan Melayu. Keberadaan petatah-petitih, tunjuk ajar, petuah, dan pantun tidak lagi dijadikan dasar dalam kehidupan. Ia lebih dijadikan ajang bermain kata-kata dari pada menjadi panduan dalam kehidupan. Keindahan bahasa tidak diikuti oleh konsistensi dalam menjalakan pesan-pesan luhur yang terdapat dalam ungkapan-ungkapan Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bait kelima kritik secara khusus diarahkan pada perangai para pemimpin Melayu yang tidak konsisten terhadap nilai dan lupa pada perjuangan mereka untuk membela kepentingan Melayu: penat tak sudah jadi Melayu// berzikir berpikir balik ke zakar// jadi kelakuan bila berkuasa// di tempat tinggi lupa di bawah// ketika mengapa karena marwah// tinggal tanah sejengkal rumah// bumi Melayu tinggalah nama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi paradoksal pemimpin Melayu terlihat dalam ungkapan “berzikir berpikir” dan “balik ke zakar”. Ini menunjukkan para pemempin berperilaku seperti orang alim dan cerdas tetapi sebenarnya melakukan perbuatan yang keji. Ketika para pemimpin Melayu memperoleh kekuasaan mereka lupa akan amanah yang telah diberikan rakyat kepada mereka. Akibatnya, orang Melayu semakin kehilangan kuasa dan jati diri.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada baik terakhir sajak ini disampaikan pula kekesalan terhadap orang Melayu. Bahkan ada ungkapan yang sangat ekstrem: penat tak sudah jadi Melayu// jadi Yahudi? Ini mengambarkan kritik yang sangat tajam terhadap orang Melayu yang katanya di hidup dengan nilai-nilai luhur tetapi dibandingkan dengan orang Yahudi. Kondisi ini sangat paradoksal  sebab membandingkan Melayu yang diklaim identik Islam dengan Yahudi yang berlawanan dengan Islam. Ungkapan penutup “jadi yahudi?” dengan diikuti tanda tanya memberikan makna yang sangat mendalam terhadap realitas kehidupan orang Melayu pada hari ini. Ini adalah ungkapan yang perlu direnungkan secara mendalam agar konsep kita tentang Melayu dan Islam dapat dipertanggungjawabkan dalam kehidupan nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kritik-kritik tajam yang terdapat dalam sajak ini tidak sedang mengejek orang Melayu tetapi kritik-kritik itu mengajak orang Melayu untuk lebih serius memandang hakekat nilai-nilai Melayu dan menjalankannya sesuai dengan kondisi kehidupan masa kini. Nilai-nilai Melayu tidak hanya hadir dalam ungkapan-ungkapan yang indah tetapi ia harus hadir dalam perilaku keseharian orang Melayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Dr Junaidi&lt;/span&gt;, Dekan Fakultas Ilmu Budaya Unilak dan Komisioner Komisi Penyiaran Daerah (KPID) Riau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Riau Pos&lt;/span&gt;, Minggu, 25 Desember 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-6604840904081368957?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/6604840904081368957/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=6604840904081368957' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/6604840904081368957'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/6604840904081368957'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2011/12/paradoks-melayu.html' title='Paradoks Melayu'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-5465594879907472931</id><published>2011-12-25T00:12:00.000-08:00</published><updated>2011-12-26T00:24:22.782-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosok'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Lan Fang tutup usia di Singapura</title><content type='html'>SURABAYA -- Novelis perempuan terkemuka asal Surabaya Lan Fang meninggal dunia dalam perawatan di Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapura, Minggu siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-xs4MFY2ZDIU/TvgvF-c_VvI/AAAAAAAAGWs/REhOfI8E5c8/s1600/lan%2Bfang.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 266px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-xs4MFY2ZDIU/TvgvF-c_VvI/AAAAAAAAGWs/REhOfI8E5c8/s400/lan%2Bfang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5690349908893062898" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Lan Fang (IST)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekretaris Dewan Kesenian Surabaya Farid Syamlan mengatakan, Lan Fang yang telah menghasilkan beberapa novel dan cerita pendek itu meninggal karena menderita kanker hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia sebetulnya sudah lama menderita kanker hati, tapi tidak pernah dirasakan dan terus melakukan aktivitasnya. Sampai akhirnya parah dan tidak bisa disembuhkan," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lan Fang terkenal dengan novelnya "Perempuan Kembang Jepun" dan "Ciuman di Bawah Hujan". Dia  sempat dirawat lama di Rumah Sakit RKZ Surabaya kemudian pindah ke Rumah Sakit Adi Husada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari Adi Husada, Jumat lalu (23/12) ia kemudian diterbangkan ke Singapura, namun nyawanya tidak tertolong. Kami teman-teman seniman di Surabaya merasa sangat kehilangan atas meninggalnya seorang sahabat yang pergi terlalu cepat," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farid mengenang Lan Fang sebagai sastrawan perempuan yang sangat potensial yang dimiliki Surabaya dan Indonesia. Lan Fang dikenal memiliki semangat luar biasa untuk terus berkarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setelah kepergian Lan Fang, para penulis novel perempuan di Indonesia dan khususnya Surabaya tentu akan kehilangan lawan untuk mengadu karya," kata Farid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lan Fang juga dikenal dengan "Gus Durian" atau pengikut Gus Dur sehingga tidak aneh jika dia banyak dekat dengan sejumlah tokoh ulama Nahdlatul Ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertemuan-pertemuannya dengan kalangan ulama itu seringkali kemudian ditulis oleh Lan Fang di sejumlah koran harian di Surabaya. Tulisan-tulisan ringan perempuan kelahiran Banjarmasin, 5 Maret 1970 tersebut seringkali memberi inspirasi karena menyangkut kehidupan seorang tokoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Antara&lt;/span&gt;, Minggu, 25 Desember 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-5465594879907472931?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/5465594879907472931/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=5465594879907472931' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/5465594879907472931'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/5465594879907472931'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2011/12/lan-fang-tutup-usia-di-singapura.html' title='Lan Fang tutup usia di Singapura'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-xs4MFY2ZDIU/TvgvF-c_VvI/AAAAAAAAGWs/REhOfI8E5c8/s72-c/lan%2Bfang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-8048186512364272962</id><published>2011-12-24T04:04:00.000-08:00</published><updated>2011-12-25T04:05:40.879-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahasa'/><title type='text'>Tentang Keseleo Lidah</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Rubangi Al Hasan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PADA sebuah pertemuan resmi pemerintah terdapat seorang birokrat yang memberikan argumen dengan kalimat berikut "pembangunan daerah harus berlandaskan pada paradigma fro foor, fro job, fro growth, fro environment". Maksud sang birokrat tadi sebenarnya adalah propoor, projob, progrowth, proenvironment. Pada kesempatan lain penulis membaca tulisan di salah satu bengkel pinggir jalan yang berbunyi "menerima revarasi". Pada saat yang lain lagi penulis membaca tulisan pada salah satu selebaran yang tertulis "multiflayer effect".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan-tulisan tersebut merupakan contoh dari fenomena keseleo lidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) keseleo lidah (slip of the tongue) memiliki makna salah mengucapkan; salah mengatakan. Ada beberapa contoh terjadinya keseleo lidah pada beberapa etnis di Indonesia. Pertama, pertukaran bunyi F dan atau V dengan huruf P. Contohnya pada kata fro foor yang seharusnya propoor. Kedua, pertukaran bunyi huruf P menjadi F dan atau V. Contohnya pada revarasi yang seharusnya reparasi, dan kata multiflayer effect yang seharusnya multiplayer effect. Ketiga, adanya penambahan sisipan E pada kata yang memiliki konsonan berurutan. Misalnya geratis, yang seharusnya gratis. Namun, di antara ketiga hal tersebut, keseleo lidah yang paling sering dilakukan adalah pertukaran antara P dan F atau V.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Problematika Keseleo Lidah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena keseleo lidah terkesan sesuatu yang sederhana dan tidak memiliki konsekuensi yang serius. Namun, jika hal ini dibiarkan bukan tidak mungkin akan berpengaruh terhadap konstruk bahasa Indonesia secara umum. Fenomena keseleo lidah ini paling tidak memunculkan beberapa konsekuensi. Pertama, bagi penutur dapat menurunkan kredibilitas penutur atau penulisnya. Bahasa Indonesia memiliki standar yang jelas dan baku baik pada pemakaiannya dalam bahasa tutur (lisan) maupun dalam bahasa tulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, keseleo lidah menyebabkan penggunaan bahasa Indonesia tidak sesuai dengan standar pemakaian bahasa Indonesia baku yang disebut dengan Ejaan yang Disempurnakan (EYD). EYD telah ditetapkan sebagai standar pemakaian bahasa Indonesia yang baku melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 57 Tahun 1972.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, mengubah makna kata. Ditimbang dari kelengkapan huruf yang ada pada suatu kata saja keseleo lidah sudah mengubah makna kata, meskipun terkadang audiens yang diajak bicara memahami makna kata yang sebenarnya dari kata yang disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, keseleo lidah dapat berujung pada pembakuan bahasa. Jika kesalahan bahasa tersebut dibiarkan terus-menerus tanpa adanya evaluasi dan upaya mengembalikan pada konteks penggunaan yang benar, lambat laun kesalahan tersebut akan dianggap umum oleh sebagian besar masyarakat. Muncullah apa yang disebut pembenaran massal. Pembenaran massal pada penggunaan bahasa pada akhirnya mewujud dalam bentuk pembakuan bahasa. Penggunaan bahasa yang sebenarnya salah, tetapi karena telah dianggap benar kemudian dilakukan pembakuan melalui konsensus bersama dan dipakai dalam dokumen resmi yang memiliki kekuatan hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membudayakan Sastra&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena keseleo lidah adalah sebuah contoh dari kurangnya pemahaman masyarakat akan kaidah berbahasa yang baik dan benar. Untuk meminimalisasi dan lebih jauh dapat menghilangkan kesalahan tersebut, perlu dilakukan langkah strategis. Salah satu langkah yang perlu dilakukan adalah melalui jalur pendidikan. Kurikulum pendidikan harus didesain untuk menciptakan pemahaman yang baik atas bahasa dan sastra. Pemahaman yang baik terhadap bahasa dapat diperoleh melalui tradisi berkarya sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya saja kata “sertifikat” yang tertulis sertipikat. Dalam aturan EYD kata sertifikat adalah kata serapan dari bahasa lain. Penulisannya dalam bahasa Indonesia seharusnya ditulis sertifikat (dengan huruf F), tetapi penulisan dalam dokumen resmi yang memiliki kekuatan hukum seperti sertifikat tanah yang diterbitkan oleh Badan Pertanahan Nasional (BPN) tertulis dengan kata sertipikat. Akhirnya, penulisan yang diakui resmi dalam sertifikat tanah adalah kata sertifikat dengan huruf P, bukannya huruf F sebagaimana dalam aturan EYD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Otokritik terhadap praktek pendidikan bahasa dan sastra  perlu diberikan. Selama ini di sekolah terdapat mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, tetapi dalam prakteknya muatan sastra sangat minim dalam pelajaran tersebut. Jika pun ada sastra lebih ditekankan pada pemahaman kognisi, bukan pada penghayatan atas substansi. Penekanan pada kognisi menyebabkan pelajar lebih memandangnya sebagai beban belajar karena sifatnya lebih sebagai hafalan daripada penghayatan sastra. Pelajaran yang sifatnya menghafal akan hilang ketika tuntutan terhadap hal itu sudah tidak ada. Selesai ujian semester maka hilanglah semua yang dihafalkan pada semester itu. Untuk itulah ke depan perlu dilakukan penekanan terhadap tradisi berkarya sastra untuk memberikan pemahaman yang utuh atas bahasa, baik bahasa daerah maupun bahasa nasional. Pemahaman yang baik atas bahasa dan sastra dapat meminimalisasi terjadinya fenomena keseleo lidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rubangi Al Hasan&lt;/span&gt;, Peminat budaya dan sastra, tinggal di Lombok, NTB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lampung Post&lt;/span&gt;, Sabtu, 24 Desember 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-8048186512364272962?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/8048186512364272962/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=8048186512364272962' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/8048186512364272962'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/8048186512364272962'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2011/12/tentang-keseleo-lidah.html' title='Tentang Keseleo Lidah'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-5915272641992782685</id><published>2011-12-24T03:02:00.000-08:00</published><updated>2011-12-25T03:04:33.664-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosok'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Memahami Perjalanan Sitor Situmorang</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Linda Sarmili&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DALAM kesusastraan Indonesia, nama sastrawan Sitor Situmorang dikenal sebagai sastrawan angkatan 45. Itu berarti, sosok Sitor Situmorang seangkatan dengan nama-nama seperti Chairil Anwar, Idrus, dan Asrul Sani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Dan di antara nama-nama yang tak tergantikan dalam sejarah sastra Indonesia itu, Sitor Situmorang menempati kedudukan yang istimewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Selain menulis puisi, prosa, dan drama, sejak dekade 1950-an Sitor juga terlibat aktif dalam berbagai polemik kebudayaan, khususnya dalam perdebatan arah bentuk kebudayaan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Perjalanan Sitor selama tiga tahun di Eropa memberikan pengaruh yang kuat dalam karya-karyanya, tetapi ini tak berarti menghapus pengaruh tanah kelahirannya, Harianboho, Sumatra Utara. Menjelang akhir dekade 50-an, tulisan-tulisannya semakin kental dengan aroma Marhaenisme. Ia yang sebelumnya mengedepankan gagasan-gagasan seni modernis, seni yang mempunyai otonominya sendiri dalam kehidupan manusia, bergulir memahami seni sebagai sesuatu yang praksis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Di akhir dekade yang sama, ia ditunjuk menjadi Ketua Lembaga Kebudayaan Nasional yang mendukung tata politik Demokrasi Terpimpin. Pada saat Soekarno jatuh, Sitor pun dijebloskan di penjara selama delapan tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Sampai hari ini Sitor Situmorang masih terus berkarya. Kehidupan panjang sekaligus laga lincah di lapangan kebudayaan membuat sosok Sitor dapat diibaratkan sebagai jendela ke perjalanan kebudayaan Indonesia. Buku Menimbang Sitor Situmorang yang kini beredar di pasar buku Indonesia ditulis oleh VS Naipul Dkk berhasil mengumpulkan beragam tulisan tentang sang sosok dan setiap penulisnya memiliki keterlibatan intimnya tersendiri dengan Sitor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Keragaman dan keluasan cakupan buku itu merupakan nilai tersendiri bagi siapa saja yang berminat mempelajari perjalanan panjang kesusastraan seorang Sitor Situmorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tulisan Subagio Sastrowardoyo, Manusia Terasing di Balik Simbolisme Sitor Situmorang, yang diterbitkan pertama kali tahun 1975 oleh Dewan Kesenian Jakarta, misalnya, merupakan ekspresi keterperangahan aktor kesusastraan sebuah negeri pascakolonial memandang sajak-sajak Sitor yang tak pernah sanggup mengikat diri ke satu tempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Subagio memahami sajak-sajak Sitor sebagai wakil dari peradaban pribadi yang tak mewakili jiwa bangsanya, situasi zamannya, bahkan tidak peradaban Barat sekali pun. Sajak-sajak Sitor merupakan wakil nihilisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Tetapi, sementara tulisan Subagio, juga A Teeuw, sang kritikus setia sastra Indonesia, dan A H Johns, peneliti dari lembaga riset oriental di Australia, mengajak pembaca merasakan keterasingan dan modernitas dalam karya Sitor, tulisan Alle G Hoekema yang awalnya ditulis untuk simposium tentang kekristenan di Indonesia justru menengok puisi-puisi Sitor sebagai metafora anak hilang yang akhirnya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Kemudian Johann Angerler, mahasiswa bimbingan Sitor di Leiden, melukiskan bagaimana kefasihan pembimbingnya menggambarkan kebudayaan Batak tanah kelahiran Sitor dari perspektif antropologi, sejarah, sekaligus orang dalam. Sitor bisa menjadi sangat sentimentil, menggebu-gebu, dan tak pernah capai ketika menceritakan dengan detail sejarah dan struktur masyarakat Sumatera Utara. Di tulisan ini Angerler juga menjelaskan tentang penelitian Sitor tentang tanah Batak, yang kemudian diterbitkan dengan judul Toba Na Sae, serta mengkritik beberapa paparan gurunya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Yang cukup menarik dan juga komprehensif adalah tulisan Martina Heinschke. Ia mengajak kita untuk menimbang kembali perpindahan-perpindahan sikap kesenian Sitor pada tahun 50-an, di mana Heinschke tidak menganggapnya sebagai suatu inkonsistensi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Ia membacanya sebagai suatu sikap keterbukaan dalam membangun konsepsi diri bila kita membaca Sitor sebagai sastrawan yang mencari identitas di tengah negeri yang juga mencari identitas. Meminjam apa yang pernah diungkapkan Sitor dalam esainya, ia adalah manusia iseng yang "segala tingkah laku... bukan hanya tuntutan peradaban... tetapi menjadi kegiatan yang lahir dari diri sendiri, daya cipta kebudayaan atau bersumber padanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Lalu ada tulisan VS Naipaul, pemenang Nobel Sastra berdarah Asia Selatan, yang mengisahkan perjumpaan pribadinya dengan Sitor melalui cara ungkap sastrawi dan liris. Dari tulisan Naipaul, kita menjumpai Sitor sebagai seorang lelaki berkulit sawo matang yang rumit, manusiawi, suka merenung, dan memiliki rumah yang menjengkelkan bernama Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Potret Sitor sebagai seorang manusia biasa dalam kesehariannya ini memberikan kelengkapan bagi buku ini yang juga dipenuhi dengan penelitian tentang Sitor yang bergaya obyektif dan mencoba menemukan gagasan besar. Hal ini juga sedikit-banyak terlukis dari puisi para penyair Indonesia tentang perjumpaan mereka dengan seorang Sitor yang diambil buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Menimbang Sitor Situmorang merupakan sebuah eksperimen untuk menangkap dinamika luar-dalam, kiri-kanan, subektif-obyektif, manusia-pengarang seorang Sitor Situmorang. Upaya untuk membangun suatu museum kehidupan Sitor ini patut kita apresiasi, khususnya karena sang sosok adalah salah satu prisma bagi kita ke perjalanan kebudayaan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;    Seperti yang diungkapkan CH Watson dalam tulisannya tentang otobiografi Sitor Situmorang di buku ini, "kita dapat membaca otobiografi Sitor sebagai renungan mengenai perkembangan bangsa Indonesia..." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suara Karya&lt;/span&gt;, Sabtu, 24 Desember 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-5915272641992782685?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/5915272641992782685/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=5915272641992782685' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/5915272641992782685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/5915272641992782685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2011/12/memahami-perjalanan-sitor-situmorang.html' title='Memahami Perjalanan Sitor Situmorang'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-449120057728528419</id><published>2011-12-23T08:15:00.000-08:00</published><updated>2011-12-23T08:19:22.048-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahasa'/><title type='text'>Eksistensi Bahasa Indonesia di Tengah Globalisasi</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;-- Syarief Oebaidillah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Bahasa merupakan ekspresi budaya. Karena itu, bahasa Indonesia harus dijaga dan diresapi nilai-nilai dan manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;GLOBALISASI dan teknologi informasi telah membawa dampak yang luar biasa dalam perkembangan kebudayaan dan peradaban manusia. Dalam era ini, batas wilayah, ideologi, politik, dan budaya hampir tidak ada. Globalisasi bukanlah mimpi buruk, tetapi bukan pula hadiah kemajuan zaman yang tanpa cela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suka atau tidak, setuju atau menolak, gejala perubahan yang sangat cepat ini telah hadir di tengah-tengah berbagai aktivitas kehidupan. Sebagian lain mungkin terbengong-bengong, ketakutan, atau bahkan mengalami keguncangan kebudayaan. Yang penting adalah bagaimana kita dapat memanfaatkan nilai dan produk yang menyertainya dan terhindar dari dampak yang ditimbulkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks itu, nilai-nilai bahasa, baik bahasa nasional maupun bahasa daerah, nilai-nilai sastra, dan nilai-nilai budaya kearifan lokal diharapkan dapat dijadikan alternatif dalam membendung dampak dari globalisasi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita sangat beruntung bahwa pada 28 Oktober 1928 para pemuda Indonesia telah bersumpah untuk memilih bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa nasional," kata Pelaksana Tugas Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Indonesia Agus Dharma saat menyambut acara Jambore Nasional Bahasa dan Sastra Indonesia di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta Timur, 29 November lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara yang dihadiri Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Wiendu Nuryanti itu berlangsung sepekan hingga 3 Desemberi diikuti 1.000 peserta dari 33 provinsi diwakili duta bahasa provinsi, siswa SMA/SMK, mahasiswa perguruan tinggi, pemuda, pemuda berkebutuhan khusus, pemerhati bahasa dan sastra dari seluruh Indonesia, pramuka, guru, dosen, dan Palang Merah Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping bertukar pikiran terkait dengan nilai-nilai kearifan lokal dalam bahasa dan sastra, para peserta juga menampilkan kesenian dari daerah pada malam seni di tingkat kampung atau antarkampung. Kegiatan yang melibatkan peserta dari seluruh provinsi itulah yang mendasari bahwa ini merupakan jambore nasional yang diikuti oleh peserta dari Sabang sampai Merauke.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Agus, momentum itu menunjukkan bahwa bahasa Indonesia bukan hanya dapat berfungsi sebagai penunjang perkembangan bahasa dan sastra Indonesia atau alat untuk menyampaikan gagasan yang mendukung pembangunan Indonesia atau pengungkap pikiran, sikap, dan nilai-nilai yang berada dalam bingkai keindonesiaan, tetapi juga dapat digunakan sebagai alat komunikasi politik, sosial, dan budaya yang selanjutnya akan memberi sumbangan yang signifikan untuk membangun paradigma baru pembangunan yang berjiwa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun demikian, kata dia, dewasa ini sikap dan kecintaan generasi muda, termasuk pelajar dan mahasiswa, terhadap bahasa nasional seolah-olah sedang menunjukkan penurunan jika dibandingkan dengan sikap dan semangat generasi muda menjelang dan awal kemerdekaan.&lt;br /&gt;Ketika itu, generasi muda memandang bahwa bahasa Indonesia merupakan alat yang sangat penting dalam mencapai persatuan Indonesia dalam rangka meraih kemerdekaan. Sedangkan kondisi sekarang, bahasa Indonesia tak lebih dari sekadar sebagai alat komunikasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjelaskan kondisi menurunnya pandangan generasi muda terhadap peran bahasa Indonesia itu disebabkan beberapa faktor, baik secara internal maupun eksternal. Secara internal, kondisi itu disebabkan kurangnya penggalian dan pemanfaatan nilai-nilai bahasa dan sastra, adapun secara eksternal pandangan generasi muda dipengaruhi oleh budaya dan bahasa asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, saat ini banyak pihak mengakui bahasa Indonesia sebagai lambang dan identitas bangsa dapat dijadikan sebagai perekat kesatuan dan persatuan nasional. Oleh sebab itu, bahasa Indonesia harus mampu mengembangkan peran sebagai media membangun karakter bangsa demi martabat bangsa Indonesia dalam pergaulan lintas bangsa di dunia yang semakin mengglobal. Dalam konteks pembangunan karakter bangsa, posisi generasi muda sangat strategis karena mereka yang akan mengemban estafet kepemimpinan bangsa pada masa kini dan masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jambore Nasional Bahasa dan Sastra 2011 mengangkat tema 'Penggalian dan Pemanfaatan Nilai-Nilai Bahasa dan Sastra dalam Membangun Karakter Bangsa'. Acara ini bertujuan, pertama untuk menumbuhkan rasa solidaritas generasi muda yang berorientasi terhadap lahirnya jiwa persatuan pada anak bangsa yang mampu menjaga keutuhan negara kesatuan Republik Indonesia. Kedua, menggali dan memformulasi kearifan lokal daerah menjadi karakter bangsa. Ketiga, meningkatkan sikap positif para peserta terhadap bahasa nasional sebagai lambang identitas bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sulit dibendung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wamendikbud mengingatkan ketahanan bahasa Indonesia diuji di era globalisasi ini karena mulai menurunnya kecintaan dan kebanggaan masyarakat berbahasa persatuan di negeri ini. Karena itu, bahasa Indonesia memang harus dikembangkan dan diaktualisasikan dengan perkembangan global saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Globalisasi sulit dibendung. Bahasa asing memang akhirnya populer, sampai tempat makam saja terasa keren dengan nama keinggris-inggrisan. Dalam kondisi seperti ini, jika bahasa Indonesia mau populer, harus terus dikedepankan dengan kata-kata yang padanannya tidak kalah keren dengan bahasa asing," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wiendu menjelaskan, bahasa merupakan ekspresi budaya. Karena itu, bahasa harus dijaga dan diresapi nilai-nilai dan manfaatnya. Menurut Guru Besar Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini, ketahanan bahasa Indonesia di tengah serbuan bahasa asing bisa diwujudkan dengan pengembangan bahasa yang sesuai kondisi masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar harus secara nyata dicontohkan dari keteladanan pemimpin di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menambahkan bahasa Indonesia amat kaya dengan berbagai ungkapan dan petuah luhur yang tetap aktual serta relevan dengan kondisi keindonesiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Yeyen Maryani menambahkan hasil penelitian soal sikap positif masyarakat terhadap bahasa Indonesia cukup memprihatinkan. Penelitian di kalangan anak-anak muda menunjukkan, indeks sikap positif terhadap bahasa Indonesia hanya 1,4 dari skala 5. Karena itu, kata Yeyen, salah satu upaya Kemendikbud untuk membuat generasi muda meresapi nilai-nilai bahasa dan sastra Indonesia digelar pada Jambore Nasional tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di acara ini, peserta mendapat pemahaman soal nasionalisme dan penggalian nilai-nilai serta kearifan lokal dari bahasa daerah ataupun bahasa Indonesia. (H-1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;oebay@mediaindonesia.com&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Media Indonesia&lt;/span&gt;, Jumat, 23 Desember 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-449120057728528419?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/449120057728528419/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=449120057728528419' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/449120057728528419'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/449120057728528419'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2011/12/eksistensi-bahasa-indonesia-di-tengah.html' title='Eksistensi Bahasa Indonesia di Tengah Globalisasi'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-5166524029890299679</id><published>2011-12-23T08:12:00.000-08:00</published><updated>2011-12-23T08:22:10.638-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahasa'/><title type='text'>Bukan Sekadar Alat Komunikasi</title><content type='html'>AMAT disayangkan pemakaian bahasa Indonesia mulai mengalami kelunturan. Generasi muda seolah kehilangan kepercayaan diri apabila tidak menggunakan istilah asing dalam setiap percakapan maupun tulisan. Padahal, bahasa Indonesia memiliki filosofi luar biasa bukan sekadar sarana berkomunikasi, tetapi menyangkut jiwa bangsa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian ditegaskan budayawan Putu Wijaya dalam perbincangan dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Media Indonesia, &lt;/span&gt;di Jakarta, Rabu (21/12). Menurut dia, krisis berbahasa Indonesia pada orang muda tidak terlepas dari sistem pengajaran bahasa Indonesia di sekolah. Kata dia, bahasa Indonesia yang diajarkan di sekolah maupun kampus lebih cenderung mengarah pada pengajaran tata bahasa Indonesia yang baik dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Padahal, bahasa Indonesia kita tidak hanya sekadar itu. Katakan, soal berkomunikasi dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar atau menulis sesuai tata bahasa Indonesia yang tepat. Kan bukan hanya soal itu. Bahasa Indonesia itu menyangkut filosofi kita sebagai bangsa,” imbuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengaku prihatin, justru sisi filosofis bahasa Indonesia makin jarang dipelajari, dan karena itu pula, bahasa Indonesia mengalami kelunturan. “Bayangkan saja, anak-anak muda sekarang kelihatan percaya diri kalau mampu bicara bahasa Inggris atau menyelipkan kata-kata asing dalam percakapan dan tulisannya. Sebaliknya saat mereka kaku berbahasa Indonesia, bukan karena bahasa Indonesianya, tetapi pemahaman yang minim,” ungkap Putu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mencontohkan kenapa kita mesti memakai kata 'kita' pada saat tertentu, dan kata 'kami' untuk situasi yang lain. "Sisi ini yang saya maksud filosofi itu. Misalnya, nilai gotong royong atau kekeluargaan di balik pemakaian kata ‘kami’ dan ‘kita’. Hal-hal seperti ini luput dari pengajaran di sekolah dan kampus-kampus. Jadi sekali lagi, bahasa Indonesia itu tidak hanya soal berkomunikasi saja, tetapi juga soal filofosi atau nilai kita sebagai bangsa,” pungkas Putu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara pada peresmian Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kemarin, Mendikbud M Nuh menegaskan pentingnya peran bahasa Indonesia dalam pendidikan nasional di tengah pergaulan dunia yang kini tidak mengenal batas ruang dan waktu. Karena itu, upaya untuk meningkatkan mutu penggunaan bahasa Indonesia dalam bidang pendidikan akan meningkatkan citra positif masyarakat terhadap bahasa Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mutu penggunaan bahasa ini tidak saja dilakukan dengan meningkatkan kualitas instrumen kebahasaan juga dengan memaksimalkan pemanfaatan teknologi,” ujarnya. (*/Bay/H-1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Media Indonesia&lt;/span&gt;, Jumat, 23 Desember 2011&lt;p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-5166524029890299679?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/5166524029890299679/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=5166524029890299679' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/5166524029890299679'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/5166524029890299679'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2011/12/bukan-sekadar-alat-komunikasi.html' title='Bukan Sekadar Alat Komunikasi'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-1649691090317194814</id><published>2011-12-22T03:09:00.000-08:00</published><updated>2011-12-25T03:11:46.303-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosok'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><title type='text'>Buku “Habibie &amp; Ainun” Difilmkan</title><content type='html'>JAKARTA – Kesuksesan buku Habibie &amp;amp; Ainun yang terjual 50.000 eksemplar hanya dalam waktu tiga bulan, bahkan menjadi salah satu buku best seller 2011, membuat produser film MD Entertainment, Manooj Punjabi, ingin memfilmkan buku tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-jWlEfoUJRlM/TvcEr114XTI/AAAAAAAAGWI/E1kSd3P8Dow/s1600/habibie%2Bainun.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 195px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-jWlEfoUJRlM/TvcEr114XTI/AAAAAAAAGWI/E1kSd3P8Dow/s320/habibie%2Bainun.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5690021805439868210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Setelah melalui tahap pembicaraan dan diskusi panjang antara Manooj Punjabi dan BJ Habibie untuk mengangkat cerita tersebut ke layar lebar, syuting akan dilaksanakan pada Januari 2012 dengan mengambil lokasi di beberapa kota di Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rencananya, film itu akan tayang perdana di bioskop pada 11 Agustus 2012, bertepatan dengan hari lahir Ainun Habibie. Selain dibuat film, buku yang dikarang mantan presiden RI itu juga akan dibuat versi bahasa Inggris, Arab, dan Jerman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, buku itu sedang disiapkan pula dalam versi bahasa Jepang. "Karena yang diangkat masalah universal, yakni cinta, jadi cukup relevan kalau buku ini bisa dibaca masyarakat internasional," kata Habibie dalam rilisnya, beberapa waktu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari data resmi terakhir yang didapat pihak The Habibie Center, penjualan buku tersebut telah mencapai 70.000 eksemplar. Hasil penjualan buku ini diperuntukkan bagi operasi katarak mata untuk masyarakat tidak mampu lewat Yayasan Ibu Ainun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pertengahan 2011 lalu, sudah dilakukan operasi mata untuk ratusan penderita katarak di Bogor. Sebagai bentuk apresiasi terhadap masyarakat yang telah membeli buku Habibie &amp;amp; Ainun, akan diadakan acara book signing pada Jumat, 23 Desember mendatang pukul 15.00–18.00 WIB di Gramedia Matraman, Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini juga sekaligus menandakan acara dirilisnya buku Habibie &amp;amp; Ainun dalam versi tiga bahasa, yakni Inggris, Arab, dan Jerman. (CR-20)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sinar Harapan&lt;/span&gt;, Kamis, 22 Desember 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-1649691090317194814?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/1649691090317194814/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=1649691090317194814' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/1649691090317194814'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/1649691090317194814'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2011/12/buku-habibie-ainun-difilmkan.html' title='Buku “Habibie &amp; Ainun” Difilmkan'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-jWlEfoUJRlM/TvcEr114XTI/AAAAAAAAGWI/E1kSd3P8Dow/s72-c/habibie%2Bainun.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-804891347685556016</id><published>2011-12-21T05:32:00.000-08:00</published><updated>2011-12-21T05:33:42.759-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='daerah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><title type='text'>Buku Legendaris Sunda Dilelang</title><content type='html'>BANDUNG, KOMPAS.com--Lima buah buku cetakan pertama karya Haryoto Kunto, R.A.A Wiranata Koesoema dan Aria Achmad Djajadiningrat dilelang dalam Pameran dan Bursa Produk Budaya Sunda di Gedung Yayasan Pusat Kebudayaan, Jalan Naripan, Bandung, Rabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelelangan ini termasuk ke dalam rangkaian Konferensi Internasional Budaya Sunda II yang digelar di Gedung Merdeka sejak Senin (19/12) hingga Kamis (22/12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima buku yang dilelang tersebut terdiri dari dua buah buku karya Haryoto Kunto, dua buah buku karya R.A.A Wiranata Koesoema dan satu buah buku karya Aria Achmad Djajadiningrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua karya Haryoto Kunto, yaitu "Semerbak Bunga di Bandung Raya" cetakan pertama tahun 1986 dan "Balai Agung di Kota Bandung" cetakan pertama tahun 1996.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan dua buku karya mantan Bupati Bandung R.A.A. Wiranata Koesoema, yaitu "Riwajat Kandjeng Nabi Moehammad SAW" dalam Bahasa Sunda dan "Het Leve van Muhammad de Profeet van Allah" dalam Bahasa Belanda. Keduanya merupakan cetakan pertama tahun 1941.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, buku karya Bupati Serang (1901-1917) Aria Achmad Djajadiningrat, yaitu "Herinneringen van Pangeran Aria Achmad Djajadiningrat" yang dicetak dalam Bahasa Belanda, cetakan pertama tahun 1936.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Koordinator Pameran, Deni Rachman, kelima buku legendaris dan antik ini merupakan titipan langsung dari para pemiliknya yang tidak mau disebutkan namanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kelima buku ini kemudian diserahterimakan pada panitia untuk kemudian dilelang," kata Deni saat ditemui di Gedung YPK, Bandung, Rabu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deni menuturkan, kegiatan lelang yang digelar sejak kemarin ini sudah cukup menarik perhatian para peminat budaya Sunda. "Sudah ada beberapa peminat yang menanyakan ’start’ harga," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini, kata Deni, dari lima buku tersebut yang paling banyak peminatnya adalah buku karya ’kuncen Bandung’, Haryoto Kunto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin karena buku ini lebih umum, tapi kalau untuk kolektor sebagian besar tertarik pada karya Wiranata Koesoema," tutur Deni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk harga buku karya Haryoto Kunto akan dimulai dari Rp 1.100.000,00 sesuai dengan harga penjualan ’online’. Sedangkan karya Wiranata Koesoema dimulai dari Rp2 juta hingga Rp3 juta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil dari pelelangan tersebut, kata Deni, akan difokuskan untuk kelangsungan kegiatan konferensi tentang budaya sunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Deni, sejak lima tahun terakhir, kegiatan pelelangan buku seperti ini baru digelar lagi. "Metode lelang buku ini juga salah satu metode memperkenalkan budaya sunda melalui karya-karya legendaris," katanya. (ANT)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Oase &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas.com&lt;/span&gt;, Rabu, 21 Desember 2011 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;|&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-804891347685556016?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/804891347685556016/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=804891347685556016' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/804891347685556016'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/804891347685556016'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2011/12/buku-legendaris-sunda-dilelang.html' title='Buku Legendaris Sunda Dilelang'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-659535521920254351</id><published>2011-12-21T05:24:00.000-08:00</published><updated>2011-12-21T05:28:25.510-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sosok'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><title type='text'>Colliq Pujie, Perempuan Budayawan Bugis yang Diakui Dunia</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Suharman Musa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ininnawakku muwita,&lt;br /&gt;Mau natuddu’ solo’,&lt;br /&gt;Mola linrung muwa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Lihatlah keadaan bathinku,&lt;br /&gt;Walaupun dihempas arus deras -kesusahan-,&lt;br /&gt;Namun aku masih tetap mampu berdiri tegar)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantun Bugis dalam buku ini adalah ungkapan curahan hati Colliq Pujié. Salah satu bait dari 122 bait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-Pf7IARraulg/TvHerNiaLyI/AAAAAAAAGV8/v5j1qNJF7hw/s1600/colliq%2Bpujie.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 205px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-Pf7IARraulg/TvHerNiaLyI/AAAAAAAAGV8/v5j1qNJF7hw/s400/colliq%2Bpujie.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5688572638295371554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;Colliq Pujie &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;COLLIQ PUJIE' adalah seorang perempuan bangsawan Bugis yang hidup pada abad ke-19. Beliau bukan hanya bangsawan, tetapi juga pengarang dan penulis, sastrawan, negarawan, politikus yang pernah menjalani tahanan politik selama 10 tahun di Makassar, Datu’ (Ratu yang memerintah) Lamuru IX, sejarahwan, budayawan, pemikir ulung, editor naskah Lontara Bugis kuno, penyalin naskah dan sekretaris (jurutulis) istana kerajaan Tanete (di Kabupaten Barru sekarang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut sejarahwan Edward Polinggoman, dalam diri Colliq Pujié mengalir darah Melayu dari Johor. Sejak abad ke-15 sudah ada orang Melayu yang menetap dan berdagang di Barru dan akhirnya kawin mawin ditanah Bugis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak catatan sejarah yang membahas tentang diri pribadi Colliq Pujié. Mungkin saja beliau tidak dikenal sampai sekarang kalau saja, ia tidak membantu Benjamin Frederick Mathes dalam menyalin naskah kuno I La Galigo yang menjadi salah satu karya sastra (epos) yang monumental dari suku Bugis yang mendunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Colliq Pujié-lah yang membantu B.F. Mathes, seorang missionaris Belanda yang fasih berbahasa Bugis waktu itu, selama 20 tahun menyalin naskah Bugis dan epos I La Galigo yang panjang lariknya melebihi panjang epos Ramayana maupun Mahabrata dari India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain epos I La Galigo yang terdiri dari 12 jilid, ada ratusan naskah Bugis kuno lainnya yang disalin oleh B.F. Mathes dan kemudian dibawa dan tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden Belanda sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyalinan sebagian besar naskah tersebut dibantu oleh Colliq Pujié, sehingga riwayat hidup Colliq Pujié sedikit demi sedikit terkuak oleh tulisan B.F. Mathes. Colliq Pujié bahkan juga menyadur karya sastra dari Melayu dan Parsi. Colliq Pujié juga menciptakan aksara bilang-bilang yang terinspirasi dari huruf Lontara dan huruf Arab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prof. Nurhayati Rahman, seorang Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin Makassar dalam bukunya “Retna Kencana Colliq Pujié Arung Pancana Toa 1812-1876, Intelektual Penggerak Zaman” menyayangkan bahwa Colliq Pujié kurang mendapat tempat dihati bangsa Indonesia. Menurut beliau, Colliq Pujié adalah seorang budayawan, intelektual dan sejarahwan Indonesia yang hidup pada abad ke-19 yang terlupakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Ian Caldwel sejarahwan dari Inggris bahkan mengatakan bahwa, “terlalu kecil kalau seorang sekaliber Colliq Pujié dikurung dalam tempurung Indonesia, karena ia adalah milik dunia. Namanya tak bisa dipisahkan dari karya epos I La Galigo sebagai ikon kebudayaan Indonesia yang menjadi kanon sastra dunia, yang kemudian menjadi sumber inspirasi banyak orang dalam merekonstruksi sejarah dan kebudayaan Indonesia (Asdar Muis RMS, “Andi Muhammad Rum, Titisan Colliq Pujié”, hal. 13).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu karya sastra Colliq Pujié berupa kumpulan pantun Bugis yang ditulis dalam aksara bilang-bilang berjudul “Lontara Bilang, Mozaik Pergolakan Batin Seorang Perempuan Bangsawan” telah diterjemahkan dan ditransliterasi oleh H.A. Ahmad Saransi telah diterbitkan oleh Komunitas Sawerigading.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam buku tersebut setiap kelong (pantun Bugis) ditulis dalam aksara bilang-bilang, aksara Lontara, transliterasi dalam aksara latin, dan kemudian pengertian dan penjelasan makna kata kata dalam pantun tersebut. Pantun Bugis selalu terdiri dari 3 baris, dimana baris pertama terdiri dari 8 suku kata, baris ke-2 ada 7 suku kata dan baris ke-3 terdiri dari 6 suku kata. Terkadang juga hanya 2 baris namun jumlah huruf lontara-nya tetap 21, atau 21 suku kata dalam transliterasi huruf latin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Colliq Pujié juga banyak menulis karya sastra semacam Elong, Sure’ Baweng, Sejarah Tanete kuno, kumpulan adat istiadat Bugis, dan berbagai tatakrama dan etika kerajaan. Menurut sejarah, karyanya yang paling indah adalah Sure’ Baweng yang berisi petuah petuah yang memiliki nilai estetika yang sangat tinggi. Bahkan karyanya tentang sejarah Tanete kuno pernah diterbitkan oleh Niemann di Belanda. Adat kebiasaan kerajaan ditulisnya dalam karya berjudul La Toa diterbitkan oleh Mathes dalam buku Boegineesche Christomatie II. Peneliti Belanda lainnya yang pernah dibantu oleh Colliq Pujié adalah A. Ligtvoet, yang saat itu sedang menyusun kamus sejarah Sulawesi Selatan. Keluasan pengetahuan, kepiawaian, dan kecerdasan Colliq Pujié telah mengangkat derajat intelektulitas orang Bugis dimata orang Eropa pada abad ke-19. B.F. Mathes berkali kali menyebut nama Colliq Pujié sebagai bangsawan Bugis ratu yang benar benar ahli sastra terutama dalam bukunya Macassaarsche en Boegineesche Chrestathien (Kumpulan Bunga Rampai Bugis Makassar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang I La Galigo, menurut R.A. Kern dalam bukunya Catalogus Van de Boegineesche tot de I La Galigo Cyclus Behoorende Handschriften der Leidsche Universiteit Bibliotheek yang diterbitkan tahun 1939 menyebutkan bahwa epos I La Galigo adalah karya sastra terbesar dan terpanjang didunia setara dengan Mahabrata, Ramayana dari India atau sajak sajak Homerus dari Yunani. Menurut Sirtjof Koolhof pada pengantar buku I La Galigo terbitan Djambatan, naskah I La Galigo terdiri dari 300.000 larik/ bait sementara Mahabrata hanya kurang lebih 200.000 bait.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai tambahan informasi, di Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, tersimpan 4.049 naskah lontara Bugis dan Makassar yang semuanya sudah di microfilm-kan, terdiri dari lontara paseng (pesan), attoriolong (petuah orang dulu), akkalaibinengeng (sex education), kutika (ramalan/ astrologi), tasauf dan ilmu agama, tata cara bercocok tanam, lontara Baddili Lompo (pengetahuan persenjataan dan strategi perang), pengobatan tradisional, tabiat binatang dan arsitektur dan beberapa penggalan kisah dalam epos I La Galigo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat disayangkan bahwa minat mahasiswa sangat kurang untuk meneliti naskah lontara Bugis dan Makassar. Malah banyak peneliti asing dari berbagai negara yang meneliti produk budaya Bugis dan Makassar yang berupa naskah kuno lontara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin untuk mengkaji lebih dalam tentang kehidupan Colliq Pujié seseorang harus ke Belanda karena disanalah segala informasi yang terekam yang tersimpan, tentang sosok Colliq Pujié yang mengagumkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Oase, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas.com&lt;/span&gt;, Rabu, 21 Desember 2011&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;|&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-659535521920254351?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/659535521920254351/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=659535521920254351' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/659535521920254351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/659535521920254351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2011/12/colliq-pujie-perempuan-budayawan-bugis.html' title='Colliq Pujie, Perempuan Budayawan Bugis yang Diakui Dunia'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Pf7IARraulg/TvHerNiaLyI/AAAAAAAAGV8/v5j1qNJF7hw/s72-c/colliq%2Bpujie.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-3717306654507518743</id><published>2011-12-21T05:18:00.000-08:00</published><updated>2011-12-21T05:20:24.562-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='buku'/><title type='text'>Lelaki Sundel Bolong dan Literasi di Empty Quarter</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Jaya Komarudin Cholik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;TIDAK mudah menarik massa untuk masuk ke pusaran literasi. Budaya baca dan tulis apalagi menjadi seorang penulis masih merupakan hal yang asing bagi kita, orang Indonesia. Namun, tentu minat dan kepedulian ini sedang terus dipompa dan dibakar oleh orang-orang yang hidupnya didedikasikan untuk itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sekali lagi, mengapa harus ada Indonesia membaca? Mengapa mesti ada workshop be a writer? Toh semua baik-baik saja bukan? Hidup kita terlalu membicarakan buku, buku, dan buku, saat mulut para pembual mengoceh tentang nasib negeri yang setiap harinya dijejali masalah yang sebenar lagi tutup tahun, maka tutup tahun pula kisahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh iya, soal pertanyaan di awal paragraf. Ya, pertanyaan degil ini memang selalu muncul di mana pun dan kapan pun. Seolah kebutuhan manusia dibatasi oleh syahwat dan isi perut belaka. Bak cara berpikir penguasa yang gemar memperlakukan rakyatnya mereka seperti kerbau. Sediakan rumput hijau dan semua berhenti berpikir, siang malam memamah biak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki sundel bolong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas literasi yang dimulai pada tanggal 16 hingga 9 Desember 2011 di KBRI Abu Dhabi berjalan dengan lancar. Gong tidak menduga peserta akan terisi sampai 25 orang. Belum ditambah dengan pelatihan yang diberikan kepada para nakerwan yang berada di penampungan. Jumlah mereka sekitar 60-an orang. Jumlah yang setiap bulan bisa bertambah. Dan, jangan pernah berpikir untuk berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka umumnya para nakerwan yang sedang menjalani proses, kemudian dipulangkan ke Tanah Air. Biasanya mereka lari dari majikan karena tidak tahan dengan kondisi yang mereka hadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para nakerwan yang umumnya para wanita Indonesia itu harus menerima kenyataan bernasib tragis pergi jauh tanpa perlindungan suami dan/atau keluarga mereka ke tempat yang bisa diibaratkan penjara terbuka. Tinggal di tempat asing, budaya asing, orang-orang asing, dan bahasa asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, yang lebih asing lagi adalah kebiasaan para lelaki Indonesia yang melepaskan istri, anak perempuan, bibi, menantu perempuan, mertua perempuan, sepupu perempuan, keponakan perempuan mereka untuk pergi jauh di luar jangkauan perlindungan mereka dan sistem  hukum yang mereka percayai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan para lelaki ini adalah lelaki yang sundel bolong yang hati dan perasaan (baca: dada) mereka sudah lenyap. Bagaimana mereka tega melepaskan dengan menggantungkan pada prasangka baik? Padahal agama yang mereka anut sudah melarang tegas para perempuan pergi hingga bertahun lamanya apalagi ditambah tanpa perlindungan hukum yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lupakan! Saat ini yang ingin saya sampaikan adalah mereka para nakerwan sedang berbahagia karena telah mengikuti kelas menulis yang disampaikan oleh Gola Gong selama dua hari, 18-19 Desember 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang mereka simpan atau mereka menjadi gagu alias bisu karenanya menjadi Byar! Jebol! Kata-kata melimpah ruah di tiga lembar kertas folio yang dengan susah payah mereka sulit menguraikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu bukan persoalan mudah men-decode dan recode setiap kata-kata yang hampir hilang dalam ingatan mereka karena sudah terlanjur menganggap sebagai pedang takdir yang tajam hingga terasa menakutkan untuk diingat dan dituangkan dalam tulisan. Para perempuan tangguh itu mengurai kata demi kata di lembaran putih yang kemudian menjadi sumpek dengan perasaan yang menghimpit, menekan beban rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para nakerwan  asyik berkelana lewat kata dan berserapah tentang para lelaki sundel bolong yang rela melepaskannya pergi menyusuri pepasir yang tak berbekas jejaknya.  Tibalah saatnya Gola Gong pamit hendak meneruskan pelatihan ke tepian empty quarter. Sesaat suasana hening. Mereka seperti direnggut kebahagiaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gola Gong menyadari bahwa saat mereka bahagia bersama kata,  tetapi kemudian seperti merasa kehilangan karena sang pemandu petualangan kata itu pergi. Demi memuaskan dahaga mereka, Gola Gong menawarkan alamat rumah dunia dan nomor telepon, maka berebutanlah para nakerwan untuk mendapatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semua boleh tulis alamat dan nomor telepon saya, tetapi syaratnya jangan ada yang mengaku pacar, ya," selorohnya yang disambut tawa para nakerwan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Literasi empty quarter&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan dilanjutkan menuju empty quarter, menuju sebuah koloni kecil yang halaman depannya Teluk Persia dan halaman belakangnya salah satu gurun terganas di dunia, empty quarter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama Lawangbagja dan Sabar Riyanto  membelah malam perjalanan sejauh 250 km Abu Dhabi-Ruwais dilanjutkan.  Sepanjang perjalanan kami bertukar kisah, gagasan, serta ide-ide yang mengasyikan. Tentang sebuah komunitas yang bermimpi mempunyai kegiatan budaya literasi yang tidak terhenti  hingga sebatas workshop saja. Manusia Indonesia di mana pun berhak mendapatkan pencerahan dan mengejar ketertinggalan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah, saya sendiri merasa tinggal di negeri yang budaya membacanya jauh dari harapan. Kami setiap hari hanya dijejali, diskon, summer offering, winter session, half price, further cut, dan seterusnya. Kapan kita akan mengahargai hidup dengan kemuliaan sebagai manusia yang tidak terus digelayuti oleh materi, materi, dan materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami beristirahat sejenak di Tarif, kota kecil  yang tepat berada di antara Abu Dhabi-Ruwais. Menemani Gola Gong yang sedang keranjingan makan nasi biryani. Setengah ayam habis bakar habis. Udara dingin, nasi biryani dengan saffron dilengkapi rempah-rempah khas Asia Tengah dan ayam bakar memang nikmat bukan main. Persoalannya adalah karena nasi biryani tidak memakai santan, tetapi rasanya masih gurih karena rempah-rempahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Workshop yang diberikan untuk para ibu dan remaja putri memang sedianya dilaksanakan di balai pertemuan. Namun, karena bangunannya sedang dipugar, maka terpaksa hari pertama di rumah salah satu warga, Agus Kurniawan. Walhasil…! Viola!...membeludak, tidak cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panitia pun berusaha hari kedua bisa digelar di hall yang masih tersedia. Ya, gempa lietrasi Indonesia membaca, workshop be a writer terasa hingga ke tepian Teluk Persia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jaya Komarudin Cholik, Aktivis penggerak literasi, ambassador rumah dunia untuk PEA. Penanggung jawab kegiatan, penulis buku "Tamasya ke Masjid"- Gong Media Cakrawala. Bermukim di Timur Tengah, bekerja di sebuah perusahaan multinasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Oase, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas.com&lt;/span&gt;, Rabu, 21 Desember 2011 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;|&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/28770674-3717306654507518743?l=cabiklunik.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cabiklunik.blogspot.com/feeds/3717306654507518743/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=28770674&amp;postID=3717306654507518743' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/3717306654507518743'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/28770674/posts/default/3717306654507518743'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cabiklunik.blogspot.com/2011/12/lelaki-sundel-bolong-dan-literasi-di.html' title='Lelaki Sundel Bolong dan Literasi di Empty Quarter'/><author><name>Udo Z Karzi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_8isAxDpsZ74/SYh1SSikWFI/AAAAAAAACug/AbaR1tnTixE/S220/UDO+ZUL.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-28770674.post-7846149605448537063</id><published>2011-12-18T18:58:00.000-08:00</published><updated>2012-01-15T18:59:32.850-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='sastra'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='bahasa'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='budaya'/><title type='text'>Membudayakan Menulis di Tengah Masyarakat yang “Tidak Membaca”</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;-- Joni Lis Efendi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;SANGAT beralasan apa yang dirisaukan oleh Taufik Ismail, seorang penyair Angkatan 66, yang mengatakan masyarakat kita buta membaca dan lumpuh menulis. Padahal melihat dari perkembangan literasi dari zaman Balai Bahasa dan Orde Lama, budaya membaca di masyarakat ini justru mengalami penurunan pada era Orde Baru sampai masa Reformasi sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu faktor yang disayangkan adalah dimatikannya kewajiban membaca 25 buku dan mengarang 40 jam setahun bagi murid-murid SMA, yang terjadi sejak berakhirnya sistem pendidikan AMS (setingkat SMA di zaman Belanda). Kurikulum pendidikan saat ini yang tidak menganggap membaca dan menulis sebagai pelajaran penting adalah akar penyebab rendahnya minat membaca masyarakat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa banyak masyarakat kita membeli buku setiap tahun, rata-rata tidak sampai 1 buku yang dibeli per kapita per tahun dari 240 juta penduduk Indonesia. Jumlah ini ini bisa dikonversikan antara jumlah penerbit, banyaknya judul buku baru setiap tahun dan jumlah eksemplar buku yang diterbitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari data Perpustakaan Nasional jumlah judul buku yang diterbitkan setiap tahun hanya sekitar 10 ribu sampai 15 ribu judul dari sekitar 500 penerbit. Anggap rata-rata setiap judul diterbitkan 5 ribu eksemplar. Paling banyak setiap tahun hanya ada 75 juta eksemplar buku, jauh lebih sedikit dari jumlah penduduk Indonesia saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan minat membaca koran dan majalah masyarakat kita? Perbandingan 1 koran dibaca oleh 5 orang, dan hitungan kasarnya tiras koran di Indonesia sekitar 5 juta eksemplar setiap hari. Jadi setiap hari masyarakat kita yang membaca koran hanya 25 juta orang, lalu bandingkan dengan total jumlah penduduk negara ini. Sungguh, angkanya masih di bawah rata-rata standar PBB untuk jumlah buku yang dibeli setiap tahun dan perbandingan koran dengan jumlah pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keterkaitan membaca dengan menulis sama seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Semua pembaca mungkin bukanlah penulis, tapi setiap penulis pastinya adalah pembaca. Karena sangat mustahil bagi seorang penulis tapi tidak membaca. Tentunya ini akan mempengaruhi proses kreatif kepenulisannya. Keterkaitan dan korelasi antara membaca dan menulis sudah bisa kita lacak hubungannya. Namun kebalikannya, bagaimana jika membudayakan menulis di tengah masyarakat yang tidak membaca? Inilah yang menjadi bahan cermatan dalam tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita telisik dahulu bagaimana “napas” kepenulisan di tanah air, yang hal ini sangat erat kaitannya dengan sistem pendidikan, kesadaran masyarakat dan kondisi lingkungan yang mendukung munculnya minat menulis tersebut. Untuk beberapa dekade belakangan ini, ada yang salah dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dan sastra di sekolah yang mana siswa hanya dijejali dengan nama-nama sastrawan dan judul karyanya, yang semua itu bersifat hafalan. Siswa hanya diminta untuk bisa menjawab soal-soal ujian multychoice (pilihan ganda). Minim apresiasi sastra, terbatas penilaian terhadap karya-karya yang mereka tulis sendiri. Padahal dari bangku sekolah inilah, seharusnya pemuda kita sejak dini diperkenalkan dengan membaca sastra dan belajar menulis karya sastra yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini semakin diperburuk dengan rendahnya kemampuan membaca dan menulis dari guru-guru bahasa Indonesia. Para guru tersebut lebih disibukkan dengan pembuatan bahan pelajaran, lembaran evaluasi siswa, ikut pelatihan ini itu, pada akhir-akhir tahun ajaran direpotkan dengan les tambahan untuk pemantapan nilai bahasa Indonesia para siswa kalau tidak mau sekolah mereka tercoreng namanya gara-gara banyak siswanya tidak lulus UN. Suasana yang demikian tidak bersahabat itulah menyebabkan dangkalnya pembelajaran menulis di sekolah. Lagi pula, menulis bukanlah poin penilaian yang diujikan pada UN. Buat apa repot, toh tak ada pentingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan heran dengan sistem pengujian yang semuanya pilihan ganda itu menumpulkan kreativitas dan analisa siswa. Semuanya disandarkan kepada kemampuan hafalan, yang itu tidak lama bertahan di kepala. Tidak heran jika kemampuan daya saing SDM lulusan perguruan tinggi di negeri ini sangat rendah. Bahkan, BPS mencatat bahwa penyerapan lulusan perguruan tinggi di dunia kerja hanya 6 persen. Sangat rendah dibandingkan dengan mereka yang hanya tamatan SD, yang tingkat penyerapannya lebih dari 70 persen. Mungkin pekerja yang tamatan SD itu cuma mengandalkan otot yang tidak butuh keahlian dan keterampilan khusus. Sedangkan yang bergelar sarjana tentu yang diutamakan adalah skil atau keahliannya. Keahlian seseorang sangat berhubungan dengan tingkat kreativitas yang dimilikinya serta kemampuan analisis yang mendalam sehingga mampu memberikan solusi yang tepat untuk setiap masalah yang dihadapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat berbeda kondisinya di negara maju yang menekankan bahwa kemampuan membaca dan menulis adalah sesuatu yang sangat menentukan. Karena membaca dan menulis adalah dua kemampuan dasar yang mutlak dimiliki oleh seorang profesional. Sedangkan matematika, fisika, kimia, biologi, teknik dan sebagainya hanya alat bantu yang dipakai sesuai dengan kebutuhan masing-masing bidangnya. Anehnya lagi, pendidikan kita lebih mengutamakan penguasaan secara “mati-matian” terhadap alat bantu ini ketimbang memperkuat kemampuan dasar siswa. Mungkin Anda merasa aneh dan agak geli ketika mendengar dalam kurikulum di negara ini ada pelajaran “membaca cepat” dan “menulis 24 jam” seminggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun itu bukanlah sesuatu yang mengherankan apalagi menggelikan di negara seperti Selandia Baru, Jepang, Korea Selatan, Jerman dan beberapa negara maju lainnya. Bahkan di Selandia Baru, yang merupakan salah 
