Sunday, July 29, 2012

Komik dan Pemaknaan Sastra Anak

-- Hendra Sigalingging

PADA 20 Juli lalu, terjadi penembakan secara acak di gedung bioskop Colorado, AS. Kejadian yang terjadi sewaktu pemutaran film Batman: The Dark Knight Rises karya sutradara Christoper Nolan ini memakan korban jiwa.

Dalam salah satu pengakuannya, James Holmes (pelaku penembakan) mengaku terpengaruh oleh karakter Joker, tokoh antagonis yang menjadi musuh (kriminal) dari Batman. Ilustrasi ini memberikan gambaran jika penghayatan mengenai karakter yang ada dalam komik, kartun, dan divisualkan melalui media film merupakan proses yang hidup dalam diri pembaca.

Sejak dekade ketiga abad ke-20, komik memecahkan rekor paling tinggi dalam penjualan buku di Amerika. Satu judul komik dapat beroplah ratusan ribu komik. Di Jepang, menurut pengamat komik Takashi Mizuki, komik manga rata-rata setiap tahun dicetak dalam jumlah lebih dari 1 miliar kopi dan merupakan 40% dari jumlah penerbitan seluruh buku di Jepang.

Hal ini ini mendeskripsikan bagaimana komik menjadi buku populer yang sangat digemari oleh publik di kedua negara ini. Jumlah komik yang cukup mencengangkan di AS dan Jepang, komik dapat dibaca sebagai teks yang “menghibur” dan menciptakan antusiasme pembacaan yang dapat mengisi dahaga imajinasi masyarakatnya.

Penembakan di gedung bioskop Colorado menjadi bukti bagaimana imajinasi yang diinternalisasi oleh James Holmes memampukan dirinya untuk menjadi tokoh Joker yang berada dalam posisi antagonis. Sekali lagi, peristiwa ini mendeskripsikan vitalnya imajinasi dan pemaknaan terhadap teks-teks yang dibaca, termasuk komik ataupun sastra anak.

Sastra Anak dan Pemaknaannya
Persoalan sastra anak di Indonesia sesungguhnya bukanlah persoalan yang hanya dikhususkan pada akademisi sastra, guru sastra, atau pakar sastra anak di Indonesia. Adanya penggunaan kata sastra telah memberi makna jika teks tersebut merupakan milik publik sebagai pembacanya. Hal yang sama juga terjadi pada komik yang tidak salah jika diistilahkan dengan "sastra bergambar". Orang tua dan keluarga menjadi pilar pertama yang memperkenalkan sastra kepada anak.

Lukens (dalam Nurgiyantoro, 2005:3) menyatakan jika sastra menawarkan dua hal utama, yaitu kesenangan dan pemahaman. Sastra hadir kepada pembaca pertama-tama adalah memberikan hiburan yang menyenangkan. Seperti komik, teks sastra menampilkan cerita yang harusnya menarik, mengajak pembaca untuk memanjakan fantasi, membawa pembaca ke suatu alur kehidupan yang penuh dengan daya suspense, mempermainkan emosi pembaca sehingga ikut larut ke dalam arus cerita.

Ya, sastra menyajikan ruang bagi anak untuk menyenangi dan menikmati dunia anak-anaknya. Pemahaman tentang kehidupan pun datang dari eksplorasi terhadap berbagai bentuk kehidupan, konflik dalam kehidupan, dan pengungkapan berbagai sifat manusia ditawarkan dalam teks sastra.

Sesungguhnya, penulis tidak akan mendiskusikan siapa yang pantas bertanggung jawab atas dianaktirikannya sastra anak, atau minimnya nilai moral dalam sastra anak, atau pendekadean sastra anak. Perdebatan mengenai hal ini membutuhkan proses yang lebih panjang tentunya. Hal ini juga belum menyentuh akar persoalan sastra anak sesungguhnya, yaitu minimnya pemaknaan terhadap teks. 

Menurut penulis, ada dua poin penting ketika kita hendak menginternalisasikan sastra anak dalam diri anak, yaitu pembacaan dan pemaknaan. Orang tua dan lingkungan keluarga menjadi pihak pertama yang bertanggung jawab atas pembacaan teks sastra kepada anak. Pembacaan yang dilakukan sejak dini lebih memungkinkan anak untuk memelihara ketertarikannya membaca teks sastra dalam tingkat selanjutnya, yaitu ketika anak telah mulai bisa membaca sendiri. Pembacaan inilah yang menjadi ruang awal bagi anak untuk memberikan apresiasi terhadap teks.

Pemaknaan terhadap teks sendiri merupakan aspek vital bagi seorang anak untuk menelaah teks yang telah dibacanya. Dalam hal ini, orang tua dan guru menjadi gudang pemaknaan awal seorang anak. Jika gudang pemaknaan anak yang telah diciptakan oleh orang tua selalu terisi, anak dengan sendirinya dapat memaknai teks tersebut. Anak akan dapat mengembangkan pikiran dan imajinasinya sendiri untuk menciptakan imajinasi baru, nilai, dan fungsi teks sastra yang telah dibacanya.

Jadi, daripada mengeluh kurangnya aspek moralitas dalam sastra anak, lebih baik meningkatkan kemampuan pemaknaan yang baik pada diri si anak. Hal ini menjadi penting mengingat tidak semua anak menyenangi cerita-cerita yang berbau moral, kebaikan-kebaikan yang harus ada dalam diri anak, kisah anak rajin, dan sebagainya.

Terakhir, pembentukan minat baca, ruang apresiasi, dan pemaknaan kritis yang telah dibentuk sebelumnya menjadi langkah-langkah yang tepat untuk mewujudkan anak sebagai generasi bangsa yang kreatif dan kritis. Tentu saja kebijakan-kebijakan kesusteraan yang menjadi tanggung jawab orang dewasa (baca: akademisi, pakar, dan kritikus sastra) dan pemerintah tetap dibutuhkan. Akan tetapi, yang perlu kita cermati adalah bagaimana memperkaya pemaknaan anak-anak terhadap teks di tengah arus globalisasi ini. Karena bagaimanapun, sastra menjadi adiluhung karena makna yang terkandung di dalamnya.

Hendra Sigalingging
, tengah studi di Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

Sumber: Lampung Post, Minggu,29 Juli 2012

[Buku] Ingat Soekarno, Ingat Indonesia!

Data buku
Soekarno: Arsitek Bangsa
Bob Hering   
Penerjemah: Mien Joebhaar
Kompas, 2012
viii + 136 hlm.

INDONESIA memang negeri ganjil. Soekarno (6 Juni 1901—21 Juni 1970) selaku penggerak sejarah Indonesia justru belum mendapatkan legitimasi sebagai pahlawan. Pelbagai kalangan dan institusi mulai melantunkan seruan agar Soekarno lekas mendapatkan gelar pahlwan dari negara. Kita terlambat memberi pengakuan disebabkan rezim Orde Baru intensif mencipta stigmatisasi atas sosok Soekanro. Tokoh moncer ini lahir untuk mengisahkan Indonesia. Detik-detik hidup dan embusan napas menghendaki semaian ide-imajinasi Indonesia. Soekarno pun menjelma arsitek negara-bangsa Indonesia.

Bob Hearing mengakui Soekarno memicu emosi dan kontroversi. Jalan politik memang terjal dan keras. Soekarno menempuhi jalan itu berkeringat tanpa putus asa. Penjara dan pembuangan oleh pemerintah kolonial tak bisa membungkan seruan nasionalisme. Soekarno justru lantang dan garang. Kita mengingat kebandelan Soekarno dalam pledoi bersejarah: Indonesia Menggugat (1930). Indonesia tak mau lengah dan terlena oleh represi kolonial.

Soekarno tampil sebagai pembawa suluh untuk negeri terjajah.
Soekarno mengusung takdir perubahan di Indonesia. Kita bisa mengutip pengakuan Soekarno saat mengingat pesan ibu, "Jangan, jangan pernah kau lupakan bahwa anak fajar. Kau akan menjadi pemimpin besar bangsa ini karena ibumu melahirkan dirimu pada waktu fajar." Soekarno mengantarkan Indonesia dari gelap menghampiri terang. Indonesia bergerak. Soekarno ibarat "penggugah" kala Indonesia terluka dan terbisukan selama ratusan tahun oleh arogansi kolonial.

Gairah politik Soekarno mengeras saat menjalani studi di HBS Surabaya. Soekarno saat itu turut menumpang hidup di rumah HOS Tjokroaminoto. Rumah itu menjelma "sekolah politik" untuk mengolah sengatan politik di tubuh kolonial. Soekarno pun intensif membaca referensi-referensi kunci dengan mengembuskan gagasan Islam, nasionalisme, demokrasi, marxisme, sosialisme. Buku Sun Yat Sen bertajuk San Min Chui diakui oleh Soekarno sebagai resep manjur bagi agenda melawan kolonial. Soekarno mendapati percikan permenungan itu saat berusia 18 tahun. Seruan politik Soekarno mulai menentukan arah sejarah Indonesia.

Soekarno sebagai manusia politik memang menimbulkan gentar di mata kolonial. Geliat Soekarno menebar benih-benih utopia Indonesia. Pidato dan tulisan menjadi modal Soekarno dalam mengikat diri ke kalbu rakyat. Bahasa Soekarno menggugah, provokatif, meledak. Politik memerlukan bahasa perlawanan. Bara bahasa ala Soekarno telah mengabarkan keberanian mengubah nasib Indonesia. Kita pun mafhum bahwa Indonesia bergerak oleh bahasa. Soekarno adalah pembentuk bahasa politik untuk Indonesia.

Sosok Soekarno semakin menebar aura perlawanan. Gairah berpolitik bersama Partai Nasional Indonesia (1927) mengawali pencanggihan politik. Partai politik adalah rujukan mendedah dan merealisasikan ide-ide politik. Soekarno menganggap ikhtiar EFE Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, Soewardi Soerjaningrat melalui pendirian Indische Partij (1912) memicu rasionalitas politik modern di Hindia Belanda. Mereka mengajarkan politik radikal tanpa jera atas hukuman kolonial. Soekarno mengafirmasi sekian gagasan para penggerak bangsa dengan ejawantah politik berhaluan nasionalisme.

Perjalanan Soekarno adalah perjalanan Indonesia. Soekarno mengumumkan Pancasila sebagai modal ideologis Indonesia: 1 Juni 1945. Kita mewarisi Pancasila sampai hari ini. Tanggal 17 Agustus 1945 menjadi momentum proklamasikan kemerdekaan Indonesia. Perlawanan atas kolonialisme telah menguatkan kehendak memartabatkan negeri. Soekarno di masa 1940-an mesti lihai berpolitik saat meladeni Jepang. Godaan dan siksa Jepang menimbulkan derita di kalangan rakyat. Kondisi akut merangkum narasi kolonialisme. Soekarno tak berputus asa mengarsiteki politik demi kemerdekaan. Janji suci untuk negeri adalah kaharusan. Soekarno memenuhi janji tanpa pamrih.

Biografi politik Soekarno memang dramatik. Situasi politik 1960-an adalah latar keberakhiran kekuasaan Soekarno. Kecemburuan dan perseteruan politik menimbulkan prahara. Soekarno ada dalam dilema kekuasaan. Tragedi 1965 memicu resistensi atas agenda politik Soekarno. Detik-detik keruntuhan Orde Lama semakin kentara. Soekarno pun merana. Soekarno menjelang senjakala. Misi sebagai “putra sang fajar” telah terpenuhi kendati mengandung tragedi. Soekarno tak selesai mengisahkan Indonesia meski kematian menghampiri kala pagi: 21 Juni 1970. Soekarno adalah ingatan tak paripurna untuk Indonesia. Begitu. 
    
Bandung Mawardi, pengelola Jagat Abjad Solo

Sumber: Lampung Post, Minggu,29 Juli 2012

Sisi Teguh Masyarakat Melayu (Riau) dalam Cerpen ’’Ongkak’’ dan ’’Kemarau Airmata’’

-- Riki Utomi

MEMBINCANGKAN Melayu dalam konteks kekinian tak dapat lepas dari segala problematika yang melingkupinya. Hal ini dalam konteks Melayu (Riau). Melayu Riau sebagai salah satu wahana yang telah memberi andil besar bagi kekayaan budaya Indonesia sudah mesti diberi apresiasi tinggi. Khasanah Melayu Riau, bukan hanya kaya dari segi budaya tapi juga pemikiran (intelektual) masyarakatnya.

Sejak dulu, Riau telah banyak menyumbangkan ide dan gagasan brilian dari sejumlah tokoh besarnya. Dari satu sisi, hal ini dapat mencerminkan bahwa masyarakat Riau secara luas memiliki pengertian yang jauh tentang adat resam yang melatarbelakangi kehidupannya.

Dalam cerpen ‘’Ongkak” dan “Kemarau Airmata’’ karya Seniman Pemangku Negeri (SPN) Fakhrunnas MA Jabbar ini, sedikit-banyak memberi gambaran riil tentang potret Riau dalam hal kekinian. Riau sudah sejak dulu selalu disoroti oleh banyak mata asing untuk mendapatkan hasil buminya. Dalam hal ini masalah hutan, banyak menjadi realitas yang selalu mencuat dalam berbagai berita. Pembalakan liar dan pembakaran hutan banyak terjadi di Riau. Fakhrunnas dalam hal ini sangat cermat mengemas dan meneropong masalah itu. Maka, cerpen-cerpennya sangat sarat menyuarakan tentang ketertindasan, keterpurukan dan ketimpangan sosial pribumi yang tak dapat berbuat lebih jauh akan tanah-tanahnya dan hutan-hutannya yang telah di-‘sewenang-wenangkan’ penguasa.

Tapi dari satu sisi, hal yang digambarkan Fakhrunnas tak semata-mata tentang ketertindasan, yang biasanya berujung pada sikap menyerah tanpa mau bernafas lagi yang lebih panjang untuk dapat membela citra marwah bangsanya. Tapi, Fakhrunnas, melewati sisi lain, dengan bahasa-bahasa samarnya tapi lugas turut mengangkat citra marwah tanah airnya, membangun kekuatan puaknya untuk meyakinkan bahwa ‘’kita masih dapat berbuat sesuatu di tanah sendiri’’. Masih ada harapan-harapan yang akan menyertai meski sulit dan berat tantangan yang dihadapi, karena menurut hemat saya, masyarakat Melayu Riau yang tertindas di tanahnya sendiri ibarat ‘’sudah jatuh tertimpa tangga’’. Masyarakat yang ditindas oleh kalangan atas (Pemda sendiri) yang telah membuat kebijakan atas kerja samanya dengan pihak asing (luar Riau atau luar negeri).

Kedua cerpen yang akan dikupas ini terhimpun dalam kumpulan cerpen Ongkak karya Fakhrunnas, cetakan pertama Oktober 2010, yang diterbitkan Aneuk Mulieng Publishing dan Rumah Komunikasi, Banda Aceh. Kumpulan cerpen ini telah disambut baik oleh kalangan pejabat seperti Gubernur Riau HM Rusli Zainal sebagai pemberi kata pengantar, juga sambutan hangat dari banyaknya pengakuan dari berbagai tokoh terkenal, seperti Andy F Noya (host “Kick Andy”), Maman S Mahayana (kritikus sastra UI), Darman Moenir (sastrawan senior Indonesia), Ahmadun Yosi Herfanda (Ketua Komunitas Cerpen Indonesia), Agus Noor (sastrawan) dan masih banyak lagi. Ini menunjukkan, Fakhrunnas memiliki cerpen-cerpen yang bernyawa dan dapat menyuarakan nilai-nilai humanisme bagi kehidupan puak Melayu (Riau).

Mengawali kupasan pertama di cerpen “Ongkak”, mengisahkan tentang seorang istri yang sedang hamil. Dalam hamilnya dia mengidam untuk mengikuti suaminya kerja di hutan sebagai pekerja kayu balak. Ada sisi absurd yang dapat dirasakan, yaitu sesuatu yang dinilai tak lazim bagi seorang perempuan yang sedang hamil untuk bertandang ke dalam hutan apalagi sampai ikut memegang juga mendorong kayu balak saat orang-orang itu bekerja.

‘’Memang, Kanah sejak bulan pertama kehamilannya selalu minta ikut menyaksikan Sudir membalak. Kanah memang sedang mengidam sesuatu yang aneh. Apalagi hal ini terjadi untuk kehamilan anak ketiga pula.’’ (“Ongkak”, hlm: 16).

Dalam “Ongkak”, Fakhrunnas menggambarkan realita kehidupan para penebang kayu balak. Mereka seperti tak memiliki pilihan lain untuk bekerja di hutan. Gambaran tragis pada tokoh-tokohnya seperti mengisyaratkan tentang kondisi Riau itu sendiri yang tertindas oleh tangan-tangan penguasa. Tapi, Fakhrunnas tak semata-mata larut pada gambaran penindasan, kemelaratan dan suka-duka. Satu sisi, nada-nada optimis tampak disuarakan oleh tokoh-tokohnya dengan motivasi-motivasi baik secara langsung atau tidak, atau secara sadar atau tidak, memotivasi untuk membangun (baca: berubah) itu tetap ada dan mempengaruhi pada alam pikiran tokoh dan perbuatannya.

‘’Sudir pun mengajak serta beberapa kawannya untuk memasuki kawasan rimba raya itu. Sebelumnya ia telah memberikan pemahaman pada mereka betapa rimba raya tak boleh dirusaki sembarangan...’’ (“Ongkak”, hlm: 21).

‘’Sudir dan kawan-kawannya menghancurkan ongkak-ongkak yang melintang di kawasan rimba itu. Paku-paku besinya dicabuti. Galangan kayunya dipatahkan. Sudir hanya ingin membebaskan rimba raya itu dari jamahan orang-orang yang ingin merusaknya.’’ (“Ongkak”, hlm: 22).

Selain itu, sisi teguh Sudir untuk mau mengerti pada pelestarian hutan cukup beralasan. Ini karena Sudir telah ditimpa musibah yaitu istrinya yang sedang hamil tertimpa kayu balak, juga lantaran ia telah beristighfar karena teringat kembali pada nasihat-nasihat datuk-neneknya bahwa sebagai orang tempatan harus dapat menjaga dan melestarikan hutan.

‘’Kawan-kawan, tak elok membabat hutan rimba ini suka-suka kita. Bila rimba dirasuki maka banyak mudharat yang akan muncul. Lebih baik, kita menyesali diri dari sekarang....’’ (“Ongkak”, hlm: 22).

Cerpen kedua berjudul “Kemarau Airmata”. Memiliki kesan yang mengajak untuk kita tetap bersabar, mawas diri dan teguh pada pendirian sikap tokoh Aku. Tokoh Aku sebagai seorang suami yang memiliki kesabaran dalam menghadapi persoalan yang melanda kampungnya. Persoalan yang melibatkan semua penduduk kampung itu adalah karena akan didirikannya sebuah pembangunan PLTA raksasa dan tanah rakyat banyak yang harus dikorbankan, rakyat harus rela menjual tanahnya pada pemerintah untuk pembangunan itu dengan diberi harapan janji ganti rugi yang besar. Tapi tokoh Aku memiliki firasat kuat kalau pembangunan PLTA itu tak berjalan baik karena ia telah lama merasakan penderitaan akibat pembangunan-pembangunan seperti itu.

‘’Wabah kolera dan muntaber mulai merajalela. Musibah barupun muncul. Ada kematian yang tiba-tiba datangnya. Aku pun merasakan deraan kematian itu ketika Hasyim, anak bungsu kami juga meninggal dunia setelah muntah mencret selama sehari semalam.’’ (“Kemarau Airmata”, hlm: 37).

Seperti masyarakat kecil pada umumnya yang selalu tertindas oleh tangan dan kaki penguasa. Tokoh Aku makin merasakan penderitaannya. Ganti rugi yang tak terealisasi dengan lancar dan terkatung-katung hingga menimbulkan dampak buruk bagi kelangsungan hidup masyarakat tempatan yang telah rela menjualkan tanahnya ke pemerintah.

Pada kenyataannya, dalam konteks Riau, hal ini memang banyak terjadi dan lambat laun jadi polemik yang tajam. Pertentangan bahkan pertikaian yang terjadi antara masyarakat tempatan dengan perintah dapat menimbulkan tragedi kemanusiaan yang merisaukan kita.

‘’Aku terpancing juga akhirnya. Kuambil fotocopy daftar ganti rugi harta benda dan tanah yang dicanang oleh pemerintah. Daftar ini ditandatangani oleh Bupati dan Pimpinan Proyek Listrik yang akan melaksanakan pembangunan PLTA di kampung kami. Kami merasa hanya menerima akibat buruk saja dari pembangunan itu. Soalnya, sungai Turip kini pun airnya sudah sangat dangkal, karena didera oleh kemarau dan akan dibendung pula. Oleh sebab itu, bila pembendungan itu berjalan maka kampung-kampung di kawasan aliran sungai itu akan ditenggelamkan.’’ (“Kemarau Airmata”, hlm: 33-34).

Secara umum digambarkan kondisi riil pada sebuah masyrakat kecil yang tak mampu berbuat apa-apa. Mereka hanya menerima akibat dari pembangunan yang belum tentu berujung pada kemaslahatan hidup rakyat kecil. Mungkin secara tak langsung, tanah rakyat ‘dirampas’ oleh oknum-oknum di atas naungan nama pemerintahan dengan bekerja sama pada pihak-pihak asing yang jelas meraih untung sebesar-besarnya. Akibatnya, rakyat kecil makin merasa rugi juga dibohongi dan dapat berujung tak adanya lagi rasa percaya rakyat pada pemimpin, karena pemimpin pun kini lebih banyak tak adil pada rakyat dan tak bijaksana dalam mengayomi dan memperhatikan kehidupan rakyat. Ini tentu saja tak sesuai kaidah kepemimpinan dalam adat resam Melayu.

Tapi di satu sisi, Fakhrunnas kembali menyuarakan keteguhan pendirian pada diri tokoh-tokohnya. Tokoh-tokohnya tak hanya terlena dan menyerah, tapi tetap memiliki pandangan ke depan untuk dapat bertahan, meski mereka rakyat kecil.

‘’Aku memang selalu bersikap bagai mewakili orang kebanyakan. Itulah sebabnya bayangan pikiranku selalu mengatasnamakan penduduk di sini. Aku lebih senang berbicara dengan menyebut ‘kami’ daripada ‘aku’. Sebab ke ‘aku’ anku memang ada di dalam ke’ kami’ an kami.’’ (“Kemarau Airmata”, hlm: 36).

Sisi teguh dalam keyakinan bahwa hanya kekuasaan Tuhan yang besar di alam ini juga tampak melandasi pikiran tokoh Aku. Tokoh Aku tetap berpendirian besar untuk dapat bertahan meski kampungnya telah porak-poranda akibat proses pembangunan PLTA yang berdampak pada kerugian material itu. Tokoh Aku yakin dan teguh bahwa kekuasaan Tuhanlah yang pantas dipuja-puji, bukan kekuasaan manusia.

‘’Orang-orang ahli seperti perencanaan proyek PLTA itu boleh saja membuat perkiraan-perkiraan tentang jumlah air sungai yang siap menopang pembangkit listrik itu. Tapi kekuasaan Tuhan? Tidak seorang pun dapat mendahuluinya. Inilah keyakinanku.’’ (“Kemarau Airmata”, hlm: 38).

Pembangunan proyek PLTA yang banyak merugikan masyarakat itu akhirnya mengalami kegagalan. Ada benang merah yang dapat kita lihat bahwa pembangunan yang tak dilandasi dengan baik akan merugikan pembangunan itu sendiri. Dalam hal ini, pemerintah juga turut rugi karena dia juga secara tik langsung telah merugikan rakyatnya sendiri. Salah satunya, dengan tak seriusnya pembayaran ganti rugi tanah yang telah mereka beli dari masyarakat itu. Pemerintah juga tak serius memperhatikan kesejahteraan rakyatnya dari dampak negatif pembangunan PLTA yang macet dan gagal itu.

Akibat kegagalan pembangunan itu juga karena tewasnya kontraktor proyek itu yang bunuh diri karena malu akibat perkiraan yang dibuatnya bersama perencana lain meleset sama sekali. Tapi sekali lagi, keteguhan tokoh Aku tetap ada dan tak membuatnya larut dalam penderitaan.

‘’Kampung kami dan beberapa kampung lain yang dicadangkan akan tenggelam benar-benar heboh. Sebagian penduduk mulai terbakar semangatnya untuk unjuk rasa. Aku pun diajak untuk meramaikan unjuk rasa itu. Sekedar mengingatkan pihak yang berkehendak bahwa semestinya pembangunan jangan sampai merugikan rakyat kecil seperti kami dan penduduk di sini.’’ (“Kemarau Airmata”, hlm: 39).

Pembangunan yang tak memerhatikan nasib rakyat akan membawa dampak buruk yang besar. Rakyat (masyarakat tempatan) yang telah dirampas haknya tentu takkan terima dalam pembangunan itu. Tentu saja ini berujung tak jujurnya hubungan antara pemerintah dengan rakyat. Fakhrunnas secara tak langsung memberi gambaran realita itu pada kita. Mengajak untuk merenung dan berpikir arif demi sebuah kehidupan yang selaras.

Memang, konteks pembangunan Riau saat ini telah banyak kemajuan dari segi fisik, tapi kita masih dituntut lebih bersikap arif dan cermat dalam melihat kondisi dimana segala sesuatu akan berdampak besar bila tak mengendalikan nafsu dan nurani. Karena nurani (rakyat) sangat jauh dalam dan menjadi teror mental apabila diusik terus-menerus. n

Selatpanjang, Juni 2012


Riki Utomi, Alumni Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UIR. Pernah berproses di FLP Riau. Menulis puisi, cerpen, esai di sejumlah media dan terangkum dalam sejumlah antologi. Juga sesekali naskah drama. Kini mengajar di sebuah sekolah kejuruan di Kepulauan Meranti. Tinggal di Selatpanjang.

Sumber: Riau Pos, Minggu,29 Juli 2012

Rangka Sastra dan Sejarah dalam Selubung Rivalitas Anak-Ayah

-- Riza Multazam Luthfy

DALAM disipilin sastra dan sejarah, perselisihan antara anak dan ayah selalu menarik dan menggelitik untuk dijelmakan sebagai bahan kajian. Anak dituntut mematuhi serta menyesuaikan diri dengan hal-hal di lingkungan sekitar. Adapun ayah adalah seseorang yang bertugas melindungi buah hati dari hal-hal yang dapat mengganggu kondisi fisik sekaligus jiwanya. Namun, dalam beberapa kisah, tersebutlah pertentangan antara anak dengan ayah, baik dalam urusan remeh-temeh sekalipun, hingga yang berskala besar, semisal ideologi dan kepercayaan. Tak ayal, hal ini mengantar para pembaca untuk mengernyitkan dahi sambil menelurkan beragam pertanyaan di kepala.

Berdasarkan catatan Tia Meutiawati (2007), nyanyian-nyanyian Hildebrand (Hildebrandslied) merupakan satu-satunya warisan sastra rakyat Jerman dari abad ke-8. Ia mengisahkan sebagian dari Saga Dietrich. Hildebrand berasal dari nama Hildebrand, kepala persenjataan Dietrich von Bern (Raja Rakyat dari Verona).

Menurut saga ini, kepala persenjataan itu melarikan diri dari Odoaker ke Raja Bangsa Hunnen (Etzel). Beberapa tahun kemudian, Hildebrand yang meninggalkan seorang anak, datang kembali ke Italia.

Di perbatasan, ia dihampiri seorang pahlawan yang melarangnya masuk ke negara itu. Sebelum timbul perkelahian, Hildebrand menanyakan nama lawannya. Katup mulut lawannya melempar jawaban, bahwa ia adalah Hadubrand, anak Hildebrand. Ketika Hildebrand mengaku ayahnya, Hadubrand enggan percaya; ia telah mengantongi kabar tentang kematian sang ayah. Lantas ia menuduh Hildebrand penipu dan pengecut.

Dalam benak Hildebrand timbullah pertentangan yang menggoyahkan perasaan. Di satu sisi, ia gembira karena bersua kembali dengan buah hati, namun di sisi lain harga dirinya merasa terancam akibat pernyataan anaknya tersebut. Dengan pedih hati ia pun bertarung melawan anaknya sendiri, hingga akhirnya dapat mengalahkan dan memaksanya untuk membenarkan, bahwa Hildebrand merupakan ayah kandungnya.

Pada usia ke-29, Siddharta meninggalkan istana ayahnya, Suddhodana. Padahal, sebentar lagi ia akan menggantikan kedudukan sang ayah sebagai penguasa. Kepergian Siddharta dari istana merupakan suatu hal yang aneh. Ia meninggalkan kekuasaan, justru tatkala kekuasaan itu sudah siap diraih.

Memang mula-mula, Siddharta meniti hidup sebagaimana layaknya putra raja; memperoleh kesenangan yang ia idamkan. Ayahnya senantiasa berusaha agar Siddharta tersingkir dari pemandangan kondisi masyarakat yang bergumul erat dengan penderitaan.

Tapi, tatkala tiga hari berturut-turut keluar dari istana, Siddharta menemukan tiga hal: seorang renta, orang sakit dan jenazah yang ditangisi. Dan, pada hari keempat ia melihat seorang samana (pengembara) dengan jubah jingga dan kepala licin. Wajah samana itu menampilkan ketenangan yang mendalam. Semua penampakan ini meneguhkan keprihatinannya dan menghibahkan keteguhan untuk meninggalkan cara hidupnya yang serba mewah.

Kegelisahan Siddharta berlawanan dengan kegelisahan Suddodhana. Kegelisahan Siddharta merupakan kegelisahan karena gugatan sanubari yang tak puas memeriksa penderitaan dalam kehidupan serta berhasrat memburu jawaban. Kegelisahan Suddhodana merupakan kegelisahan guna melestarikan kekuasaan. Kegelisahan Siddharta adalah kegelisahan untuk bebas mencari kenyataan sejati, sedang kegelisahan Suddhodana adalah untuk mempertahankan mimpi, kalau perlu dengan menudungi penderitaan dengan merekayasa penghiburan. (A Sudiarja, 2003: 9).

Penguasa negeri Pajajaran, Prabu Cilihawan, dirundung gelisah. Ia begitu khawatir terhadap pengaruh Ki Anjarwilis, yang kian hari kian membuntang. Atas dasar itulah, ia melempar titah ke Patih Mangku Praja untuk mengajak Dewi Sumekar bertembung dengan Ki Anjarwilis. Berbekal bokor kencana -yang diletakkan di perutnya- Sang Dewi diminta berpura-pura hamil.

Celaka! Setiba di loka pertapaan, Dewi Sumekar menelan sabda Ki Anjar Wilis; ia benar-benar mengandung. Kemurkaan merayap di sekujur tubuh Prabu Cilihawan. Ia muntab, merasa terhina dengan ulah pendeta digdaya itu. Kembali ia memerintahkan Patih Mangku Praja. Ini kali, patih tersebut menerima tugas untuk mengakhiri hayat Ki Anjarwilis.

Kala Ki Ajar Wilis meregang nyawa, jasadnya raib, diiringi suara kutukan menggelegar, ‘’kelak Dewi Sumekar melahirkan bayi laki-laki. Lewat tangannyalah akan terbalas kematiannya.’’

Jangka 9 bulan, Dewi Sumekar menetaskan janin dari rahimnya. Malangnya, bayi tak berdosa itu dibuang ke sungai Kerawang. Saat berburu ikan, sepasang suami istri menemukannya. Karena keduanya bertemu burung Ciung (semacam menco) dan Wanara (kera), bayi itu diberi nama ‘Ciung Wanara’.

Ciung Wanara ditumbuhbesarkan seorang pandai besi. Inilah yang kemudian mengantarnya mahir membuat senjata tajam. Bahkan, ia sanggup membuatnya hanya dengan tangan.

Suatu hari, ia pergi ke Kerajaan Pajajaran. Dengan kesaktiannya, ia memasukkan Prabu Cilihawan ke dalam tirai besi, menguncinya dari luar, lalu membakar ayah kandungnya tersebut. Dalam serejang, Ciung Wanara berhasil merebut tahta di Pajajaran dengan julukan Harya Banyak Wide. (Suwardi Endraswara, 2009: 193).

Saat bermain di tepi Sungai Nil, perempuan cantik bernetra cahaya menemukan sebuah peti tengah terapung-apung. Alangkah terkejutnya ia, kala mendapati peti itu berisi bayi yang masih merah dan lucu. Seketika, hati perempuan ituyang merupakan permaisuri terenyuh dan ingin sekali merawatnya. Apalagi, ia sudah sangat lama mendambakan seorang anak. Tanpa bertafakur panjang, jabang bayi digendong dan dibawa pulang. Setiba di istana, suaminya, sang raja, enggan menampung bayi itu dalam istana. Namun sebab desakan istrinya, dengan berat hati ia bersedia.

Sejak balita, si kecil sudah memperlihatkan perlawanan. Sering kali ia menarik jenggot tebal yang tumbuh riang di janggut sang raja. Merasa direndahkan, sang raja hendak melenyapkan nafas si kecil. Mengetahui hal itu, istrinya melarang seliat tenaga dan membujuknya.

Si kecil selamat dan hidup hingga dewasa. Ia paham bahwa apa yang dilakukan raja sudah kelewatan. Guna menundukkan kepongahan raja, ia menadah tantangan raja untuk beradu kekuatan. Di loka yang ditentukan, raja mengerahkan beberapa ahli sihir terkemuka. Para ahli sihir tersebut melempar potongan tali yang lantas beralih wujud menjadi ular-ular kecil. Raja pun terkesima. Namun, hanya sementara. Pandangannya tercekat ketika beberapa ular itu dilahap habis oleh seekor ular raksasa. Ular yang tak lain pun tak bukan merupakan persulihan rupa dari tongkat anaknya. 

Bayi yang kemudian menjadi pemuda gagah perkasa itu adalah Musa, sedangkan raja’si lalim, congkak, bahkan mengaku sebagai Tuhanadalah Fir’aun, yang khatamnya mati di tengah samudra kala mengejar Musa.

Riza Multazam Luthfy, Menulis puisi, cerpen, dan esai. Karya-karyanya bertebaran di beberapa media. Ahlul mahad Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang ini sedang melanjutkan studi di program magister hukum UII Jogjakarta

Sumber: Riau Pos, Minggu,29 Juli 2012

[Jejak] Bahrum Rangkuti, Angkatan 45 yang Terlupakan

SELAMA ini, pembicaraan mengenai sastrawan Angkatan 45 selalu terfokus pada diri Chairil Anwar, Asrul Sani, dan Rivai Apin. Ketiga penyair inilah yang kita kenal lewat antologi puisinya, Tiga Menguak Takdir (1948). Mereka pula yang menyatakan sikap berkeseniannya dalam Surat Kepercayaan Gelanggang yang dimuat dalam majalah Siasat, 23 Oktober 1950. Sastrawan Angkatan 45 lainnya, dapatlah disebutkan beberapa di antaranya, Achdiat Karta Mihardja, Idrus, M Balfas, Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, Sitor Situmorang, Usmar Ismail, El Hakim, Rosihan Anwar, dan Utuy Tatang Sontani. Lalu, di manakah Bahrum Rangkuti? Apakah ia termasuk sastrawan Angkatan 45 atau bukan? Atau, ia hanyalah sastrawan biasa yang tidak istimewa, dan oleh karena itu, tidak perlu dibicarakan!

Itulah sikap tidak adil para pengamat sastra kita yang cenderung terpukau oleh nama-nama besar. Akibatnya, sastrawan lain yang sesungguhnya punya peranan -betapapun kecil peranannya- dilupakan begitu saja. Pada gilirannya, banyak nama yang ditenggelamkan tanpa kita pernah menengok karyanya sama sekali. Jika keadaan ini terus saja dibiarkan, maka lebih banyak lagi nama lain yang mengalami nasib yang sama; terkubur bukan karena tidak punya peranan, melainkan karena karya-karyanya tidak pernah ditengok atau dibicarakan sama sekali. Ini pula yang terjadi pada diri Bahrum Rangkuti!

HB Jassin dalam bukunya Gema Tanah Air: Prosa dan Puisi (Balai Pustaka, 1949), memasukkan empat buah puisi Bahrum Rangkuti yang pernah dimuat majalah Pantja Raja, No. 24, I, 1946, yaitu  “Doa”, “Makam”, “Hampa” dan “Insaf”. Sedangkan satu puisi lagi, “Miradj” menurut Jassin, belum pernah dipublikasikan.

Sementara itu, dalam buku Sastra Baru Indonesia 1, kritikus kondang A Teeuw menyatakan: ‘’Tokoh yang mewakili pendekatan cara Islam dalam Angkatan 45 ialah Bahrum Rangkuti yang menganggap Mohammad Iqbal, penulis dan ahli filsafat kebudayaan Pakistan itu sebagai tokoh besar yang sempurna dalam lapangan kebudayaan.’’ Di bagian lain (Sastra Indonesia Modern II) pengamat sastra Indonesia asal Belanda itu juga menyatakan: ‘’Menurut Bahrum Rangkuti, pendidikan agama di Indonesia secara keseluruhan hampir tidak menaruh perhatian terhadap kesenian pada umumnya dan terhadap penulisan kreatif khususnya.’’

Ada dua hal yang dapat kita tangkap dari pernyataan Teeuw itu. Pertama, pendekatan cara Islam yang dilakukan Bahrum. Meskipun dalam Angkatan 45 itu ada El Hakim yang karya-karyanya sarat bernuansa Islam, setidak-tidaknya Bahrum juga telah melakukan hal yang sama. Dan memang hal itu kelihatan dalam karya-karyanya. Kedua, kritik Bahrum atas pendidikan agama di Indonesia yang kurang memberi tempat pada kesenian, khususnya penulisan kreatif. Dan inilah yang terjadi dalam pendidikan agama, khususnya yang terjadi di pesantren-pesantren. Jika kini banyak sastrawan Indonesia yang berlatar belakang pendidikan pesantren, itu merupakan satu bukti, bahwa banyak potensi yang dapat dikembangkan dalam dunia pendidikan pesantren kita. Dan Bahrum justru sudah sejak lama melihat adanya potensi itu.

Kiprah kepengarangan Bahrum Rangkuti sendiri, boleh jadi lantaran sangat dipengaruhi oleh faktor keagamaan yang ditanamkan kedua orang tuanya. Ayahnya, M Tosib Rangkuti dikenal sebagai seorang pengikut salah satu aliran tarekat. Ibunya, Siti Hanifah Siregar, juga dikenal sebagai orang yang taat beribadah, bahkan menyenangi tasawuf. Kedekatan dengan ibunya itulah yang banyak mempengaruhi Bahrum dalam soal-soal keagamaan. Wajarlah jika kemudian kehidupan Bahrum tidak terlepas dari nilai-nilai keagamaan, termasuk juga yang tercermin dalam sejumlah karyanya.

Mencermati proses perkembangan kepengarangan Bahrum Rangkuti, memang tampak jelas adanya dua pengaruh kuat yang melekat pada karya-karyanya. Pertama, pengaruh pendidikan keagamaan yang ia serap secara langsung dari kedua orangtuanya dan kemudian tentu saja dari bacaan yang dapat memperluas wawasan pengetahuannya tentang Islam. Yang kedua pengaruh karya-karya Mohammad Iqbal, baik karya fiksinya, Javid Namah, maupun karya filsafatnya, khususnya buku The Reconstruction of Religious in Islam (1934).

Dalam perjalanan kepengarangan Bahrum Rangkuti yang kemudian, tampak bahwa nafas dan moral Islami secara konsisten diselusupkan dalam karya-karyanya. Tidaklah berlebihan jika A Teeuw mengatakan, bahwa Bahrum Rangkuti merupakan tokoh yang mewakili pendekatan cara Islam dalam Angkatan 45. Penelitian Anita K Rustapa juga menyebutkan bahwa sebagian karya Rangkuti memperlihatkan sikap religius pengarangnya. Dan memang sejumlah puisinya sarat menggambarkan suasana nafas keagamaan yang seperti itu. Jadi, wajar pula jika kita menempatkan nama Bahrum Rangkuti secara proporsional dalam perjalanan sejarah kesusastraan Indonesia, sebagai salah seorang tokoh sastrawan Angkatan 45 yang mewakili pendekatan Islam.(fed)

Dikutip dari Catatan Maman S Mahayana

Sumber: Riau Pos, Minggu,29 Juli 2012

Saturday, July 28, 2012

NH Dini, Hulu Novelis Perempuan Indonesia

-- Linda Sarmili

KITA mengenal namanya Nh Dini semenjak sekolah dasar. Puisinya kerap kali dibacakan dalam berbagai kesempatan, khususnya perlombaan yang berskala nasional. Dia adalah seorang sastrawan yang novel-novelnya dianggap sebagai hulu dari para novelis perempuan di belakang hari.

    Untuk segenap jasanya itu, tahun lalu, NH Dini dianugerahi Penghargaan Achmad Bakrie Award. Penghargaan tersebut di berikan di Jakarta, dihadiri ratusan tokoh dari berbagai disiplin ilmu.

    Sepanjang karirnya sebagai penulis, Nh. Dini telah memperkuat realisme, merintis ideologi anti-patriarki, dan mendalami novel autobiografis, dalam sastra berbahasa Indonesia. Sastra "realisme fotografis"-nya kaya dengan detail.

    Pencapaiannya sangat menonjol, terutama jika disimak dari semangatnya dalam menggali dunia perempuan, termasuk seksualitas tersembunyi, khususnya perempuan Jawa. Begitu juga dengan novel-novelnya, selalu dipadatan dengan beragam cerita tentang kelebihan dan kreativitas perempuan.

    Tak pelak lagi, Nh Dini menjadi induk dari novel-novel populer yang ditulis pengarang perempuan, juga menjadi pendahulu bagi karya sejumlah penulis-perempuan yang sejak akhir 1990-an mendorong lebih jauh lagi feminisme ke arah pengungkapan seks dan seksualitas.

    Anda pernah membaca betapa hebatnya novel-novel otobiografisnya Nh Dini? Edgar Cairo, salah seorang penyair dari Amsterdam selalu memuji buku novel Nh Dini karena memiliki kedalaman ilmu tentang tokoh-tokoh yang ditampilkannya. Penilaian serupa juga kerap dikemukan banyak praktisi kebudayaan dan sastrawan di Indonesia.

    Novel novel otobiografis karangan Nh Dini, menurut penilaian penulis selalu sanggup melebur antara kenyataan faktual dan kenyataan fiksional dengan baik.

    Dalam sastra Indonesia, dunia perempuan sebelumnya hampir selalu dilukiskan oleh pengarang laki-laki. Tetapi Dini merebut itu semua dan menegaskan bahwa perempuan hanya bisa tampil wajar dalam fiksi jika dikisahkan oleh perempuan sendiri.

    Perempuan memiliki suaranya sendiri yang bukan lagi pemalsuan dari suara laki-laki,begitu kata Nh Dini yang kemudian dibenarkan oleh sejumlah wanita yang menghabiskan kesehariannya dengan dunia menulis.

    Dalam novel autobiografis riwayat hidup si pengarang menjadi bahan utama pengisahan. Tetapi hanya pengarang yang cemerlang seperti Dinilah yang sanggup melebur antara kenyataan faktual dan kenyataan fiksional dengan amat baiknya.

    Beda dengan Nh Dini dari para penerusnya adalah novel-novelnya hadir dengan kualitas bahasa yang tetap terjaga. Kalimat-kalimatnya kokoh, pelukisannya tentang sesuatu tampak halus, kadang samar-samar, sehingga memberikan kesempatan kepada pembaca untuk menerka-nerka.

    Penghargaan Achmad Bakrie yang diterimanya pada malam penganugerahan Minggu, 14 Agustus tahun lalu, bertempat di XXI Ballroom Djakarta Theatre, Jakarta, membuat para perempuan penulis kagum kepadanya, terutama ketika ditanya oleh seorang wartawan apakah masih ada waktu menulis di usianya sekarang yang telah mencapai 75 ?

    Ternyata Nh Dini menjawab: "saya akan menghabiskan usia saya dengan menulis. Saya merasa bangga apabila tulisan saya bisa memberi makna kepada pembacanya, kepada masyarakat luas, dan kepada usaha pembaruan pembaruan pola pikir perempuan Indonesia".

    Ternyata benar, Nh Dini terus menulis untuk memajukan pola pikir perempuan Indonesia, dan memajukan dunia sastra Indonesia.

    Baru-baru ini, NH Dini, meluncurkan buku terbarunya berjudul Pondok Baca Kembali ke Semarang Buku yang diterbitkan Gramedia itu diluncurkan di Toko Buku Gramedia Amaris Semarang, Jawa Tengah, belum lama ini. Peluncuran buku tersebut ditandai dengan Diskusi Buku dan Perjalanan Sastra bersama NH Dini yang dipandu budayawan Semarang Prie GS.

    Dalam diskusi tersebut, NH Dini menuturkan perjalanan hidupnya, termasuk bagaimana proses menulis buku-buku yang merupakan pengalaman dan kisah hidupnya. "Semuanya secara jujur saya sampaikan apa adanya," ujar Dini.

    "Buku Pondok Baca Kembali ke Semarang" mengisahkan saat Nh Dini kembali ke Tanah Air tahun 1980. Setelah mondar-mandir antara Jakarta dan Semarang, tahun 1985, Dini menetap di kota asalnya, di Kampung Sekayu, Semarang Tengah. Di kampungnya dia mendirikan taman bacaan yang dinamakan Pondok Baca NH Dini.

    Diskusi dengan Nh Dini dihadiri keluarga dan penggemar bukunya, bahkan sejumlah anak sekolah dari Semarang mengaku mendapat banyak pencerahan setelah mencermati kalimat demi kalimat yang dituturkan Nh Dini.

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 28 Juli 2012

Tuesday, July 24, 2012

RA Kosasih Berpulang, Komikus Muda Kehilangan Inspirasi

-- Nanien Yuniar

WAFATNYA bapak komik Indonesia, RA Kosasih, Selasa (24/07) dini hari membuat banyak orang kehilangan, termasuk komikus muda Sweta Kartika.

RA Kosasih (rakosasih.blogspot.com)

Sosok Raden Ahmad Kosasih sebagai legenda komik Indonesia merupakan inspirasi bagi Sweta yang telah mengenal karya Mahabharata sejak kecil.

Begitu berpengaruhnya RA Kosasih pada Sweta, ia sampai membuat seorang tokoh pahlawan berdasarkan komik RA Kosasih, Sri Asih.

"Ini bentuk penghormatan saya sebagai komikus muda dalam menghargai karya pertama Pak Kosasih," kata komikus yang menampilkan Sri Asih dalam komik action Wanara ciptaannya.

Tahun lalu, lelaki yang belajar desain grafis di Institut Teknologi Bandung itu sempat bertemu dengan RA Kosasih untuk meminta ijin memasukkan tokoh Sri Asih dalam komiknya.

Pertemuan itu sangat membekas di hati Sweta, RA Kosasih tidak menampakkan kesombongan sama sekali.

"Sikap dan perilaku beliau sangat membumi. Padahal beliau adalah komikus Indonesia yang pertama kali menerbitkan komiknya," lanjut komikus yang tergabung dalam Wanara Studio itu.

Di pertemuan itu, Sweta juga dibuat kagum karena RA Kosasih tetap menghargai komik-komik zaman sekarang walau gaya gambarnya jauh berbeda dengan zaman komik Indonesia pada era RA Kosasih berjaya.

"Tidak ada sedikit pun kekhawatiran di wajah Pak Kosasih tentang nasib komik Indonesia ke depan, seakan-akan beliau yakin betul bahwa generasi komikus saat ini sudah mampu untuk melanjutkan gerakannya," kata Sweta.

Selain itu, ada lagi hal menarik dari etos kerja RA Kosasih yang begitu berkesan bagi Sweta, yaitu membuat komik tanpa rasa terpaksa.

"Beliau selalu ngomik dalam keadaan hati senang," kenang Sweta teringat saat RA Kosasih bercerita tentang pengalamannya membuat ulang komik Mahabharata versi kedua karena manuskrip aslinya hilang.

Walau RA Kosasih telah menghembuskan nafas terakhir, Sweta berharap karyanya bisa terus menginspirasi para pembaca komik Indonesia.

"Kepergian beliau akan kami antar dengan doa dan kebanggaan karena telah dianugerahkan sosok komikus teladan yang mulia attitudenya," pungkas Sweta.

Pengaruh RA Kosasih pada komikus Indonesia saat ini tidak hanya bisa dilihat di karya Sweta, hal itu juga terjadi pada komikus Is Yuniarto. Pencipta komik bertema wayang "Garudayana" itu mengakui karya RA Kosasih adalah inspirasi bagi komiknya.

"Bapak RA Kosasih adalah inspirator dan lokomotif utama bagi kegerakan komik Indonesia. Beliau mempelopori terbitnya komik Indonesia dalam bentuk buku cetakan, dan meletakkan dasar identitas komik Indonesia pada karya legendarisnya, Komik Wayang Ramayana dan Mahabharata," ujar Is.

Is juga mengemukakan, RA Kosasih adalah sosok yang tidak tergantikan. Kerja keras RA Kosasih mempopulerkan komik Indonesia pada era 1950-1980an harus diteruskan oleh Is dan rekan-rekan komikus lain.

"Semoga komikus generasi saya akan terus menjaga asa dan semangat dari Bapak Komik Indonesia, RA Kosasih, dengan terus membuat komik Indonesia yang berkualitas sehingga dunia komik Indonesia akan selalu berkibar.

Tidak seperti Sweta yang pernah berjumpa dengan sang legenda atau Is yang membuat komik bertema wayang, Tony Trax, komikus Real Masjid, memang belum pernah bertemu muka atau membuat kisah dengan genre wayang. Namun, dia tetap mengagumi karya-karya R.A Kosasih.

"Karya-karyanya sangat Indonesia. Yang lebih membanggakan, sekarang karya-karya lamanya dicetak lagi. Itu adalah hal yang bagus agar generasi sekarang tahu betapa hebatnya karya-karya beliau," kata Tony.

Hal serupa diungkapkan Shirley (S Y S), komikus di balik "Sang Sayur".  Dia berharap dirinya bersama sesama rekan komikus Indonesia bisa meneruskan perjuangan R.A Kosasih untuk menggiatkan kembali dunia komik Indonesia.

"Beliau telah menjadi inspirasi yang amat positif bagi anak-anak bangsa dan meski beliau telah pergi, karyanya akan selalu hidup dan mewarnai hati kami semua di sepanjang masa," katanya.

Mempopulerkan wayang

Selain jadi inspirasi bagi komikus Indonesia saat ini, karya RA Kosasih juga mempopulerkan kisah wayang bagi para komikus muda.

Seperti yang terjadi pada komikus Faza Meonk, dia mengemukakan karya RA Kosasih menjadi angin segar di dunia wayang yang awalnya hanya ada di karya sastra dan perdalangan. Kisah wayang yang dibalut dalam bentuk komik membuat Faza kecil tertarik pada kisah wayang.

"Gue yang orang visual ini jadi lebih paham cerita Mahabharata dan Ramayana lewat komik RA Kosasih. Dari situ gue jadi tertarik baca novel-novel wayang," ungkap dia.

Bagi Faza, karya RA Kosasih meningkatkan kecintaannya pada budaya lokal.

Sementara itu, Bayou, komikus pencipta "The 9 Lives" mengemukakan minimnya pengetahuan wayang pada anak muda saat ini. Namun, dia adalah pengecualian karena saat kecil dia sudah melahap komik-komik bertema wayang karya RA Kosasih.

"Gara-gara dia gue hafal cerita wayang," ungkap Bayou.

Perempuan itu berharap agar wafatnya RA Kosasih bisa jadi momen agar orang-orang kembali mengingat komik-komik jaman dulu.

"Semoga banyak orang yang nyari tahu tentang RA Kosasih karena anak jaman sekarang tidak semuanya tahu komikus jaman dulu," harap Bayou.

RA Kosasih lahir pada 4 April 1919 di Bogor. Dia telah menghasilkan banyak karya besar seperti serial Sri Asih, komik bergenre superhero. RA Kosasih meninggal dunia karena serangan jantung pada usia 93 tahun hari ini  pukul 01.00 WIB di rumahnya, Jalan Cempaka Putih III No 2, Rempoa, Ciputat, Tangerang Selatan. (ANT)

Sumber: Oase, Kompas.com, Selasa, 24 Juli 2012

Sunday, July 22, 2012

[Buku] Seutas Tali Rindu yang Terpotong

Data Buku

Lontara Rindu. S. Gegge Mapanggewa. Republika, Maret 2012. viii + 342 hlm.

NOVEL Lontara Rindu hadir dengan obsesi besar. Mengabarkan kebudayaan masyarakat Bugis hari ini dengan segala permasalahannya. Melalui tokoh Vito, keluarganya, sahabat dan guru sekolahnya, Lontara Rindu adalah sebuah fragmen masyarakat Bugis yang bersahaja dan inspiratif.

Dengan riang dan ringan, melalui novel ini, kebudayaan masyarakat Bugis dapat mudah pembaca pahami, bahkan memungkinkan untuk dijelajahi. Benar. Penulis novel ini, S. Gegge Mapanggewa, seperti hendak mengantarkan pembacanya untuk berziarah ke Cenrana, Panca Lautang, Siddenre Rapang, Sulawesi Selatan.

Penulis tak hanya merayu pembacanya dengan menuturkan bagaimana keindahan alam di muasal tempat penulis lahir dan tumbuh besar itu. Namun juga menuturkan mitos-mitos yang tumbuh sampai saat ini, tradisi adat yang masih berlangsung, agama lokal yang berkembang, kebiasaan-kebiasaan khas masyarakat Bugis, kuliner khas, bahkan sampai dengan permainan tradisional, seperti gasing yang terbuat dari batang pohon kesambi.

Boleh jadi ada anggapan novel ini membosankan bila belum membaca sendiri karena penuh dengan deskripsi artefak kebudayaan tersebut. Tapi, setelah membaca halaman pertama, pembaca tak akan menutupnya sebelum ceritanya selesai. Gegge, penulis buku ini, telah berhasil mengemas artefak kebudayaan itu menjadi bagian penting dari jalinan cerita yang menghibur.

Kisahnya berawal dari Vito, laki-laki remaja yang duduk di SMP, yang sangat rindu bertemu dengan ayah dan adik kembarnya, Vino. Kerinduan Vito ini adalah benang tebal yang menautkan peristiwa-peristiwa lainnya di dalam novel ini. Melalui rindu yang berderu itu, Vito membuka tragedi masa lalu yang menimpa ibunya. Mengapa ia dan ibunya harus berpisah dengan ayahnya dan Vino. Selain itu, tanpa sadar, Vito juga telah menyibak fakta di balik keberadaan penganut keyakinan Tolotang di antara masyarakat muslim Bugis.

Kerinduan Vito yang tulus, dapat dikatakan, adalah pelita penerang bagi sepenggal riwayat kehidupan keluarganya yang disembunyikan oleh ibunya dan kakeknya sendiri.

Peristiwa yang paling menarik adalah kebersamaan Vito dengan ketujuh teman sekolahnya dan Pak Amin, gurunya. Namun, dalam narasi sekunder ini, peran Vito tampak tak selalu dominan. Pak Amin yang dicitrakan sebagai guru sekaligus sahabat murid-muridnya, juga menjadi titik pusar dalam narasi sekunder ini.

Dalam peristiwa pencurian enau untuk pembuatan ballo' (tuak yang dicampur dengan ramuan kayu tertentu yang rasanya pahit dan memabukkan) di kebun milik Pak Japareng, peran yang dimainkan Vito sebenarnya tak begitu berbeda dengan peran Irfan, Anugerah, dan teman-teman lainnya. Justru Pak Amin memainkan peran yang cukup signifikan pada bagian kebersamaan antara siswa ini. Pada narasi sekunder ini fokus cerita seakan beralih kepada Pak Amin.

Terbelahnya fokus cerita ini, sedikitnya berpengaruh pada pesan yang ingin disampaikan oleh penulis. Benarkah penulis sejatinya ingin mengisahkan tentang perjuangan Vito dalam mencari saudara kembar dan ayahnya? Bahwa cinta Vito akan menjadi penawar luka dan perajut cinta yang telah putus antara keluarga ibunya dan keluarga ayahnya. Atau justru penulis ingin mengisahkan semangat hidup anak-anak Pakka Salo dalam mencari ilmu, meskipun penuh dengan keterbatasan.

Dualisme narasi yang tampak menganga ini, menimbulkan kecurigaan bahwa dalam proses kreatifnya, penulis dibayang-bayangi oleh kesuksesan novel Laskar Pelangi. Bila tidak dikatakan sebagai epigon dari Laskar Pelangi.

Jejak bayang-bayang itu dapat ditemui dari pemilihan tokoh-tokohnya, keberadaan guru, lomba dirgahayu kemerdekaan, dan setting kelas terdapat kesamaan novel ini dengan Laskar Pelangi. Benarkah ini suatu tindakan duplikasi penulisnya terhadap Laskar Pelangi atau memang suatu proses kreatif yang di luar kendali kesadaran penulisnya?

Entahlah. Namun, bila mengingat novel ini adalah pemenang dari hasil penjurian lomba menulis, hal tersebut tentulah patut disayangkan.

Pada akhir-akhir cerita, peristiwa-peristiwa tiba-tiba—bila tidak dikatakan kebetulan-kebetulan—yang diciptakan penulis seperti memaksakan akhir cerita yang bahagia. Hal ini tentu sedikit menyiksa pembaca. Ya. Mengakibatkan pembaca harus kerja keras menyusun logika cerita untuk menyimpulkan akhir cerita novel ini. n

Ratno Fadillah, penulis

Sumber: Lampung Post, Minggu, 22 Juli 2012

Sekadar Pengantar Suara-suara Kecil yang Memanggil dalam ’’Ribuan Gelas Berisi Teh’’

-- Ali Ibnu Anwar

TELAH sampai sajak sembilu tentang ‘’Ribuan Gelas Berisi Teh’’di tangan saya. Perlu duduk manis untuk memahami organ-organ kata di dalamnya. Mengapa harus ‘’teh’’? Padahal air putih lebih menyehatkan. Atau ‘’Kopi Ribuan Gelas’’ yang banyak disukai penyair untuk menyanding rokok, yang dinilai lebih memudahkan penyair dalam menemukan inspirasi. Tapi penulis justru memilih ‘teh’ yang justru tak pernah tumbuh di tempat penulis. Jelas, itu adalah sebuah pilihan.

Ternyata benar, makin dalam saya baca, kian bermunculan suara-suara kecil memanggil batin dan raga agar menuntaskan bacaan saya. Akhirnya tuntas juga. Berikut catatan-catatan kecil tentang suara-suara kecil itu.
***

Suara pertama hadir dari ruh kepenyairan Asqalani. Penyair paham betul dengan suara batin yang jadi bendera untuk mengibarkan kata-katanya. Ia berhasil memberi makna hidup yang dianugerahkan Sang Khaliq, dimana kesadaran semacam ini hanya didapat dari proses perenungan panjang yang biasa dilakukan para sufi dalam menemukan identitas dirinya.

Penyair tak pernah menemukan kepuasan akan segala batas-batas yang tak tersentuh. Misalnya, dalam ‘makna kehadiran’ ia tak sekadar melihat dirinya dari dalam, tapi juga membangun konsep diri dari luar dirinya. Sehingga, ia menyulut api kegelisahannya dengan bait: suatu hari kau terlahir bukan karena sihir//tapi, karena takdir. Puisi itu menjadi luar biasa, ketika pembaca juga memberi makna pada dirinya sendiri.

Serpihan-serpihan makna yang menggema juga menyinggahi orang-orang terdekat yang ia cintai. Tak heran, jika puisi-puisi Asqalani memantulkan bias-bias kasih sayang yang luar biasa. Tapi, pada saat yang bersamaan, ia merasa kehilangan sosok yang disebut-sebut sebagai ‘ayah’. Penyair dengan membuat tanda dalam puisi tanpa ayah, ibu tetap memberikan ASI: sekasih//sesekali memandikan anaknya dengan seciduk//kuyu kuyup: ‘’Nak, Ayahmu telah tiada, akankah kelak Kau mengirim doa padanya?’’.

Pada dasarnya puisi di atas menyadarkan bahwa manusia akan mengalami banyak kehilangan. Kehilangan sosok, waktu, kesempatan, kasih sayang, bahkan kehilangan dirinya sendiri. Tapi pada kalanya ia akan kembali menemukan sosok, waktu, kesempatan, kasih sayang dan dirinya sendiri. Konsep semacam ini jarang disadari. Sehingga manusia mudah melewatkan impian dan tujuan dari hidup yang sebenarnya.

Kembali pada persoalan kepenyairan Asqalani, ia membangun puisi-puisinya dengan kultur bahasa yang santun. Faktor religi juga menyelip di bait-bait puisi penyair. Penyair seringkali menggunakan diksi doa, subuh, ruh, ukhty, iftitah, nuthfah, marwah, yang mengarah pada bahasa tempat pertama kali agamanya lahir. Secara tegas, ia juga menulis tentang rutinitas keagamaan yang ia anut dalam ‘’Sembahyang’’: tegakku,/ /berderak/ /rukukku,/ /terpuruk/ /itidalku,/ /terjungkal/ /sujudku,/ /tersangkut/ /salamku,/ /tenggelam/ /Rabb, ajari aku sembahyang seluruh tubuh/ /sedari awal. Musabab ia menulis tentang puisi ini, lagi-lagi menyadarkan pembaca, bahwa bila manusia asal sembahyang, ia hanya akan memperoleh tegak yang berderak, rukuknya terpuruk, iktidalnya hanya jungkir balik, sujudnya tersangkut dan salamnya tenggelam dalam sesuatu yang sia-sia. Sehingga ia meminta agar Sang Rabb yang ia sembah tak sekadar penerima gerakan tubuh, tapi dari niat yang paling dalam, ‘sedari awal’.
***

Suara kedua adalah suara cinta, muara awal manusia tercipta. Kata-kata genit secara deras meremuk-redamkan puisi-puisi Asqalani, pertanda ia mulai tumbuh dewasa. Persoalan cinta, tak habis-habis ditulis oleh banyak penyair. Hal tersulit adalah menulis puisi cinta dengan kualitas baik. Tapi Asqalani dapat menyelesaikan persoalan ini.

Dalam musim cinta penyair mengolah cinta semacam cuaca yang memiliki musim. Ia bisa diterima atau ditolak oleh manusia, karena bisa mendatangkan manfaat dan mudarat. jangan kau menjulur giur/ /pada aroma cinta di musim gugur/ /lihatlah gelimpangan perih tak pernah terkubur atau jangan kau bahas pelas/ /pada gemas cinta di musim panas/ /lihatlah bias cemas meranggas kandas. Bait ini ingin menyampaikan bahwa cinta layak diagungkan, tapi tak pantas dipertuhankan. Musim kemarau yang terlampau dapat mengakibatkan kekeringan. Musim hujan yang terlalu, juga akan mengakibatkan banjir. Jadi dalam bercinta pun tak dianjurkan berlebih-lebihan. Karenanya, Asqalani mengakhiri puisi ini dengan: tapi cobalah menabur syukur/ /pada luhur cinta dimusim umur/ /lihatlah tadabbur masyhur sampai ke baitul makmur.

Tingkatan ‘cinta’ Asqalani tak hanya sampai di sini. Ia berusaha memahami tingkatan cinta terhadap hal lain. Tingkatan tertinggi, yaitu cinta kepada Sang Maha Pemilik Cinta. Suasana cinta semacam ini terlihat pada dua puisinya yang berjudul ‘’Ciuman untukMu’’ dan ‘’Pelukan untukMu’’. Bait dalam ‘’Ciuman CintaMu adalah: /1/ kita berciuman sebelum wudhu kekeringan /2/ kukecup keningMu di dada sejadah /3/ keriangan airmataMu kuteguk rindu /4/ kupinjam bibirMu untuk mengecup do’a. Secara mendalam, penyair memberi makna pada cinta yang ia rasa dapat memberi kedamaian batin daripada cinta lainnya, yang suatu saat akan hilang dan ia tinggalkan. Aduhai, cinta telah membawanya pada puncak istirah di atas rahmah dan sajadah.
***

Suara ketiga adalah suara yang bukan suara. Tapi itu adalah suara. Karena suara itu membisik pada hati. Suara itu bermula dari struktur tulisan yang mengingatkan saya pada Sutardji Calzoum Bachri (SCB), sang Presiden Penyair yang meniupkan napas kontemporer pada bait-bait puisinya. Beberapa puisi Asqalani mengamini SCB, yang perlu pembacaan berulang-ulang untuk memahami puisi itu secara komprehensif.

Dalam ‘’Lukisan Ibu’’ ia memusatkan pada permainan kata ‘bu’ dan ‘nuh’ yang secara berulang-ulang dibolak-balik atau dibalik-bolak. Permainan kata semacam ini juga terjadi pada genre kepenyairan ‘puisi mBeling’ yang diprakarsai Jeihan dan Remy Sylado. Tingkat keseriusannya juga masih dipertanyakan, apakah itu puisi main-main atau puisi yang membatasi kata, karena sebenarnya itu puisi sungguh-sungguh?

...
bu
      nuh
...
nuh     
                bu
...
bunuh
...
nuhbu
...


Ada baiknya saya akan menjelaskan letak main-main dan sungguh-sungguh dalam puisi tersebut. Pokok permainan kata dalam puisi ini sangat jelas, yaitu kata ‘bu’ dan ‘nuh’.  Secara semantik, bu adalah salah satu tanda dialek yang mengarah pada kata ibu. Jelas bahwa bu di sini merupakan kata-kata yang mengandung maksud. Sedangkan nuh mengacu pada salah satu nama Nabi. Hal ini diperjelas dengan bait: ibu kaulah kapal terbesar semesta dunia/ /melayarkan aku laksana nuh suatu kala.

Kemudian kedua kata itu dijadikan satu kata, yaitu bunuh dan nuhbu. Di sini kedudukan bu dan nuh bukan lagi sebagai kata. Melainkan sebagai morfem yang membentuk kata bunuh dan nuhbu. Karena bila kata bunuh yang berarti membuat seseorang menjadi tidak bernyawa, dipisah menjadi bu-nuh akan mengalami kehilangan makna. Sebab tak diperjelas dengan bait-bait sebagaimana di atas. Namun pertanyaanya, nuhbu apa maksudnya? Anggap saja hanya penyair yang tahu, karena belum saya temukan di referensi manapun. Yang jelas itu bermakna, karena penulis mengakhiri puisinya dengan bait: manakala kuhidupkan ibu dengan gemintang/ /terbanglah sayap cahayaku menuju kedamaian / /di telapak kaki ibu. Sementara ini saya menerka maknanya adalah tujuan yang harus tercapai sebagai seorang anak yang taat pada ibunya. Karena surga di bawah telapak kaki ibu.
***

Suara-suara lainnya makin mengecil, mengecil, mengecil dan habis. Tapi masih menyisakan kesan di telinga saya. Karena saya membaca puisi-puisi Asqalani dengan bersuara keras atau landai. Saatnya saya mengambi segelas teh dari ribuan gelas itu untuk saya tenggak melenyapkan dahaga. Dan luar biasa segarnya.***

Jakarta, 2 Juni 2012

Ali Ibnu Anwar, Karyanya terbit di berbagai media, di antaranya Horison dan Jawa Pos. Juga terkumpul dalam antologi bersama cerpen At-he-is, antologi puisi O.De, Yaasin, Kepada Mereka yang Katanya Dekat dengan Tuhan, Reuni dan Sepasang Mata yang Cemburu. Bermastautin di Jakarta.

Sumber: Riau Pos, Minggu, 22 Juli 2012


Membaca "Takdir" Seni Suara

-- Bayu Arsiadhi
ABAD kini, kesadaran manusia akan citarasa musikal manusia berkembang jauh di balik fakta historis dan secara geografis lebih luas daripada musik terdahulu. Kesadaran ini penting untuk mempersiapkan penikmat dalam mendengarkan musik dimana ada ‘bahasa asing’ di dalamnya. Musik konvensional biasanya dimulai dari elemen terkecil --tangga nada, harmoni, melodi dan kalimat-- selanjutnya berkembang ke bangunan yang lebih besar, gesture, bentuk, struktur, timbre, tekstur dan banyak lagi, jelas ini semua berakar dari konvensi dan terminologi repertoar Klasik (Eropa). Risiko dari pendekatan itu seringkali membuat pendengar ‘tak berdaya’ bila dihadapkan dengan musik dimana syarat dan konvensi tak lagi berlaku.   

Rabu (6 Juni 2012) lalu, seniman suara yang memperkenalkan usaha kolaboratif musik baru ke Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) dengan judul ‘’Download’’ , ditaja oleh Rumah Seni Budaya Siku Keluang bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Musik STSR. Terdiri dari seniman seni suara --Adhari Donora (Pekanbaru), Andreas Siagian (Bogor), Therese Schuleit (Jerman), Tuan Coki (Pekanbaru) Slamet Rivaldi (Pekanbaru). Semua repertoar yang disajikan merupakan hasil manipulasi bunyi menggunakan perangkat lunak (software) dan hardware sebagai penggerak sensor bunyi, keseringan mengeksplorasi frekuensi-frekuensi tinggi, sekilas tampak seperti ‘kebisingan’ daripada musik pada umumnya. Sayangnya, menjelang penampilan ketiga penonton telah banyak yang meninggalkan ruang pertunjukan.

SoundArt adalah sesuatu yang baru dalam seni yang meliputi musik dan itu adalah seni yang telah diakui sejak abad 18 di Eropa dan Amerika. Secara harfiah soundarts artinya ‘seni yang dibuat dari suara’. Istilah sound atau suara tak mengindikasikan elemen dasar musik pada umumnya, tapi bunyi, yang biasanya dibedakan dengan musik seperti dikemukakan etnomusikolog berpengaruh, Shin Nakagawa dalam Selonding Jurnal Etnomusikologi Indonesia pada 2001. Dalam menjembatani seni visual dan seni suara, menciptakan praktik interdisipliner, seni suara mendorong materialitas bunyi dalam kaitannya dengan konseptualisasi potensi pendengaran. Sekilas dapat dilihat pada cara dimana seni suara melanggar hirarki indera pendengaran.

Terlepas dari bagaimana para ilmuwan, akademisi atau kritikus memformulasikan gagasan “apa itu seni suara” dan mengabaikan kritik bahwa seni suara merupakan anak tiri yang tak termasuk musik atau seni. Bila digambar dengan musik keduanya memiliki prinsip yang sama yaitu, merangkai bunyi dalam dimensi durasional (time), hanya saja seni suara mengejar hubungan yang lebih aktif untuk presentasi spasial dengan makna ‘kehadiran bunyi di dalam ruang.’

Mencoba untuk memahami musik detail demi detail, bak memantau kondisi perkembangan pasar saham detik demi detik. Namun, koherensi dari pasar saham dan keberhasilan investasi terletak pada gejala-gejala yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang. Seorang investor yang baik tak dapat memprediksi apa yang akan terjadi besok, tapi ia harus dapat mengelola saham seseorang dalam waktu yang lebih lama.

Mendengarkan musik, terutama bila baru --mirip halnya dengan mengelola portofolio saham seseorang : sangat baik untuk lebih komprehensif, daripada berorientasi pada detail komposisi tersebut. 

Salah satu cara dengan mendengarkan ‘takdir’ baik karya komposisi musik baru maupun seni suara. ‘Takdir’ dalam seni yang memanfaatkan bunyi sebagai media penciptaan adalah gambaran hasil akhir dari karya tersebut, mirip dengan cara menggambarkan hasil akhir dari sebuah narasi. Ada tiga macam ‘takdir’ secara keseluruhan : alur kuat, alur lemah dan alur satu arah. Novel karya Jules Verne, Mengelilingi Dunia Selama 80 Hari, dikisahkan bagaimana seorang Inggris Phileas Fogg menggunakan semua alat transportasi --kapal uap, kapal dagang, kapal pesiar, kereta api, gajah untuk memenuhi tantangan kawan-kawanya di Klub Reformasi dan menyelesaikan perjalanannya mengelilingi dunia tepat selama 80 hari. Kembalinya merupakan bentuk tegas, aman dan lengkap. Begitu juga untuk karya musik dan seni suara, dapat membuat alur kuat dengan pengembalian lebih ditekankan pada titik awal. 

Film Kembalinya Guerre Martin, berdasarkan peristiwa kehidupan nyata abad ke-16 di Prancis. Bercerita tentang berbagai jenis pengembalian. Tanpa diduga, setelah bertahun-tahun dalam peperangan, seorang pria mengaku sebagai Martin kembali. Terluka akibat pertempuran panjang yang ia alami, hampir tak bisa dikenali. Banyak yang skeptis terhadap identitasnya, tapi ia akrab dengan sejarah desa dan rakyatnya dan suami yang sangat mencintai istrinya. Pada awalnya tampak aman. Tapi seseorang yang mencurigainya bahkan cemburu padanya akhirnya membuktikan bahwa ia adalah seorang penipu. Meski tujuannya mulia dan peduli pada istri Martin, kembalinya Martin palsu berakhir dengan eksekusi. Ini merupakan alur lemah. Hal yang sama, alur lemah dalam musik dan seni suara di mana suatu pengembalian  adalah ambigu, tidak aman atau tidak lengkap.

Akhirnya, Anna Karenina sebuah novel epik oleh penulis Rusia Leo Tolstoy merupakan contoh dari jenis takdir ketiga: Alur satu arah. Ketika cerita dimulai, Anna telah menikah dan memiliki dua anak. Rentan dan merasa kurang bahagia, sehingga dia terpesona pada lelaki lain ialah Count Vronskii. Pernikahannya rontok dan lari dengan Vronskii. Namun, hubungan mereka pun berakhir. Karena malu dan dikhianati dia pun melemparkan dirinya di bawah kereta.

‘Takdir’ pada suatu narasi sangat penting dalam menentukan maknanya. Jika Phileas Fogg mengalami kecelakaan saat melintasi Atlantik, tak pernah kembali ke London, kisah Verne memilih pengembalian yang tragis dan pahit. Jika Anna berkumpul kembali dengan keluarganya, cerita Tolstoy akan memiliki maksud yang jauh berbeda.

Demikian pula, ‘takdir’ dari sebuah karya musik merupakan pusat maknanya. Jika karya musik adalah alur kuat, ini berbicara stabilitas dan musik yang berketahanan. Jika alur lemah, stabilitas mulai terganggu, bisa jadi bagian itu belum terselesaikan. Jika alur merupakan perkembangan satu arah, maka perkembangan dan perubahan terus-menerus lebih ditekankan.

Kesan ‘takdir’ sebuah karya mampu menggambarkan pada pendengar kelengkapan dan keragaman yang ada di dalamnya. Jika itu adalah alur kuat, pertanyaan yang muncul: seberapa jauh penyimpangan dari asal-usul karya tersebut? Berapa lama waktu yang diperlukan untuk membuat pengembalian? Jika alur lemah, orang mungkin bertanya: Apa yang menyebabkan pengembalian menjadi ambivalen? Apakah ada peringatan lebih dahulu dari hasil akhir ini? Jika karya adalah perkembangan satu arah, mungkin mempertimbangkan: Bagaimana akhir dibanding dengan awal?

Pandangan menyeluruh dari mendengarkan ‘takdir’ karya musik dan seni suara, selanjutnya, mulai menggiring pendengar ke dalam bagian-bagian yang lebih rinci, seperti pertanyaan-pertanyaan di atas. Dalam Anna Karenina, Anna dan Vronskii pertama kali bertemu di stasiun kereta api St Petersburg. Dalam mimpi Anna, seorang pria bunuh diri dengan melompat ke depan kereta. Demikian pula dalam musik, detail berperan sebagai penentu ‘takdir’.

Mengarahkan penonton untuk mendengarkan ‘takdir’ sebuah karya musik memiliki beberapa keuntungan: Pertama, setiap karya musik memiliki ‘takdir’ --pendengar sangat bebas untuk menafsirkan tujuan akhir karya. Kedua, ‘takdir’ adalah gaya independen: Tidak harus mengenali bahan dasar musik untuk menangkap ‘takdirnya’. Ketiga, mendengarkan ‘takdir’ menjamin penonton akan mengikuti pertunjukan hingga selesai. Namun, jika kita ingin mengajak penonton berinvestasi dalam karya seni baru, penuh ketakterdugaan, kita harus mengajar mereka dengan kesabaran dan ketahanan terhadap bentuk musik yang lebih besar. Aksioma yang selalu terngiang: Mulailah dari hal yang kecil, selanjutnya ke hal yang lebih besar.***

Membaca "Takdir" Seni Suara
22 Juli 2012 - 10.06 WIB > Dibaca 8 kali

Abad kini, kesadaran manusia akan citarasa musikal manusia berkembang jauh di balik fakta historis dan secara geografis lebih luas daripada musik terdahulu. Kesadaran ini penting untuk mempersiapkan penikmat dalam mendengarkan musik dimana ada ‘bahasa asing’ di dalamnya. Musik konvensional biasanya dimulai dari elemen terkecil --tangga nada, harmoni, melodi dan kalimat-- selanjutnya berkembang ke bangunan yang lebih besar, gesture, bentuk, struktur, timbre, tekstur dan banyak lagi, jelas ini semua berakar dari konvensi dan terminologi repertoar Klasik (Eropa). Risiko dari pendekatan itu seringkali membuat pendengar ‘tak berdaya’ bila dihadapkan dengan musik dimana syarat dan konvensi tak lagi berlaku.   

Rabu (6 Juni 2012) lalu, seniman suara yang memperkenalkan usaha kolaboratif musik baru ke Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) dengan judul ‘’Download’’ , ditaja oleh Rumah Seni Budaya Siku Keluang bekerja sama dengan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Musik STSR. Terdiri dari seniman seni suara --Adhari Donora (Pekanbaru), Andreas Siagian (Bogor), Therese Schuleit (Jerman), Tuan Coki (Pekanbaru) Slamet Rivaldi (Pekanbaru). Semua repertoar yang disajikan merupakan hasil manipulasi bunyi menggunakan perangkat lunak (software) dan hardware sebagai penggerak sensor bunyi, keseringan mengeksplorasi frekuensi-frekuensi tinggi, sekilas tampak seperti ‘kebisingan’ daripada musik pada umumnya. Sayangnya, menjelang penampilan ketiga penonton telah banyak yang meninggalkan ruang pertunjukan.

SoundArt adalah sesuatu yang baru dalam seni yang meliputi musik dan itu adalah seni yang telah diakui sejak abad 18 di Eropa dan Amerika. Secara harfiah soundarts artinya ‘seni yang dibuat dari suara’. Istilah sound atau suara tak mengindikasikan elemen dasar musik pada umumnya, tapi bunyi, yang biasanya dibedakan dengan musik seperti dikemukakan etnomusikolog berpengaruh, Shin Nakagawa dalam Selonding Jurnal Etnomusikologi Indonesia pada 2001. Dalam menjembatani seni visual dan seni suara, menciptakan praktik interdisipliner, seni suara mendorong materialitas bunyi dalam kaitannya dengan konseptualisasi potensi pendengaran. Sekilas dapat dilihat pada cara dimana seni suara melanggar hirarki indera pendengaran.

Terlepas dari bagaimana para ilmuwan, akademisi atau kritikus memformulasikan gagasan “apa itu seni suara” dan mengabaikan kritik bahwa seni suara merupakan anak tiri yang tak termasuk musik atau seni. Bila digambar dengan musik keduanya memiliki prinsip yang sama yaitu, merangkai bunyi dalam dimensi durasional (time), hanya saja seni suara mengejar hubungan yang lebih aktif untuk presentasi spasial dengan makna ‘kehadiran bunyi di dalam ruang.’

Mencoba untuk memahami musik detail demi detail, bak memantau kondisi perkembangan pasar saham detik demi detik. Namun, koherensi dari pasar saham dan keberhasilan investasi terletak pada gejala-gejala yang terjadi dalam jangka waktu yang panjang. Seorang investor yang baik tak dapat memprediksi apa yang akan terjadi besok, tapi ia harus dapat mengelola saham seseorang dalam waktu yang lebih lama.

Mendengarkan musik, terutama bila baru --mirip halnya dengan mengelola portofolio saham seseorang : sangat baik untuk lebih komprehensif, daripada berorientasi pada detail komposisi tersebut. 

Salah satu cara dengan mendengarkan ‘takdir’ baik karya komposisi musik baru maupun seni suara. ‘Takdir’ dalam seni yang memanfaatkan bunyi sebagai media penciptaan adalah gambaran hasil akhir dari karya tersebut, mirip dengan cara menggambarkan hasil akhir dari sebuah narasi. Ada tiga macam ‘takdir’ secara keseluruhan : alur kuat, alur lemah dan alur satu arah. Novel karya Jules Verne, Mengelilingi Dunia Selama 80 Hari, dikisahkan bagaimana seorang Inggris Phileas Fogg menggunakan semua alat transportasi --kapal uap, kapal dagang, kapal pesiar, kereta api, gajah untuk memenuhi tantangan kawan-kawanya di Klub Reformasi dan menyelesaikan perjalanannya mengelilingi dunia tepat selama 80 hari. Kembalinya merupakan bentuk tegas, aman dan lengkap. Begitu juga untuk karya musik dan seni suara, dapat membuat alur kuat dengan pengembalian lebih ditekankan pada titik awal. 

Film Kembalinya Guerre Martin, berdasarkan peristiwa kehidupan nyata abad ke-16 di Prancis. Bercerita tentang berbagai jenis pengembalian. Tanpa diduga, setelah bertahun-tahun dalam peperangan, seorang pria mengaku sebagai Martin kembali. Terluka akibat pertempuran panjang yang ia alami, hampir tak bisa dikenali. Banyak yang skeptis terhadap identitasnya, tapi ia akrab dengan sejarah desa dan rakyatnya dan suami yang sangat mencintai istrinya. Pada awalnya tampak aman. Tapi seseorang yang mencurigainya bahkan cemburu padanya akhirnya membuktikan bahwa ia adalah seorang penipu. Meski tujuannya mulia dan peduli pada istri Martin, kembalinya Martin palsu berakhir dengan eksekusi. Ini merupakan alur lemah. Hal yang sama, alur lemah dalam musik dan seni suara di mana suatu pengembalian  adalah ambigu, tidak aman atau tidak lengkap.

Akhirnya, Anna Karenina sebuah novel epik oleh penulis Rusia Leo Tolstoy merupakan contoh dari jenis takdir ketiga: Alur satu arah. Ketika cerita dimulai, Anna telah menikah dan memiliki dua anak. Rentan dan merasa kurang bahagia, sehingga dia terpesona pada lelaki lain ialah Count Vronskii. Pernikahannya rontok dan lari dengan Vronskii. Namun, hubungan mereka pun berakhir. Karena malu dan dikhianati dia pun melemparkan dirinya di bawah kereta.

‘Takdir’ pada suatu narasi sangat penting dalam menentukan maknanya. Jika Phileas Fogg mengalami kecelakaan saat melintasi Atlantik, tak pernah kembali ke London, kisah Verne memilih pengembalian yang tragis dan pahit. Jika Anna berkumpul kembali dengan keluarganya, cerita Tolstoy akan memiliki maksud yang jauh berbeda.

Demikian pula, ‘takdir’ dari sebuah karya musik merupakan pusat maknanya. Jika karya musik adalah alur kuat, ini berbicara stabilitas dan musik yang berketahanan. Jika alur lemah, stabilitas mulai terganggu, bisa jadi bagian itu belum terselesaikan. Jika alur merupakan perkembangan satu arah, maka perkembangan dan perubahan terus-menerus lebih ditekankan.

Kesan ‘takdir’ sebuah karya mampu menggambarkan pada pendengar kelengkapan dan keragaman yang ada di dalamnya. Jika itu adalah alur kuat, pertanyaan yang muncul: seberapa jauh penyimpangan dari asal-usul karya tersebut? Berapa lama waktu yang diperlukan untuk membuat pengembalian? Jika alur lemah, orang mungkin bertanya: Apa yang menyebabkan pengembalian menjadi ambivalen? Apakah ada peringatan lebih dahulu dari hasil akhir ini? Jika karya adalah perkembangan satu arah, mungkin mempertimbangkan: Bagaimana akhir dibanding dengan awal?

Pandangan menyeluruh dari mendengarkan ‘takdir’ karya musik dan seni suara, selanjutnya, mulai menggiring pendengar ke dalam bagian-bagian yang lebih rinci, seperti pertanyaan-pertanyaan di atas. Dalam Anna Karenina, Anna dan Vronskii pertama kali bertemu di stasiun kereta api St Petersburg. Dalam mimpi Anna, seorang pria bunuh diri dengan melompat ke depan kereta. Demikian pula dalam musik, detail berperan sebagai penentu ‘takdir’.

Mengarahkan penonton untuk mendengarkan ‘takdir’ sebuah karya musik memiliki beberapa keuntungan: Pertama, setiap karya musik memiliki ‘takdir’ --pendengar sangat bebas untuk menafsirkan tujuan akhir karya. Kedua, ‘takdir’ adalah gaya independen: Tidak harus mengenali bahan dasar musik untuk menangkap ‘takdirnya’. Ketiga, mendengarkan ‘takdir’ menjamin penonton akan mengikuti pertunjukan hingga selesai. Namun, jika kita ingin mengajak penonton berinvestasi dalam karya seni baru, penuh ketakterdugaan, kita harus mengajar mereka dengan kesabaran dan ketahanan terhadap bentuk musik yang lebih besar. Aksioma yang selalu terngiang: Mulailah dari hal yang kecil, selanjutnya ke hal yang lebih besar. n

Bayu Arsiadhi, Musisi dan dosen musik STSR, Musisi dan dosen musik STSR

Sumber: Riau Pos, Minggu, 22 Juli 2012


[Jejak] Mufti Jamaluddin Al-Banjari: Berpengaruh Besar pada Literatur Melayu

NAMA lengkap Mufti Jamaluddin al-Banjari adalah Jamaluddin bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari. Ia lahir pada 1780 di Banjar (kini Banjarmasin), Kalimantan Selatan, Indonesia. Ayahnya bernama Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, merupakan tokoh ulama terkenal asal Kalimantan Selatan. Jamaluddin al-Banjari memperoleh pendidikan agama dari ayahnya sendiri.

Ibunya bernama Go Hwat Nio atau dikenal dengan sebutan Tuan Guat, yang merupakan keturunan Cina namun kemudian memeluk Islam melalui bimbingan dari Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari. Jamaluddin al-Banjari mempunyai lima orang saudara, dua di antaranya laki-laki (al-’Alim al-’Allamah Khalifah Hasanuddin dan al-’Alim al-’Allamah Khalifah Zainuddin), dan tiga lainnya perempuan Aisyah, Raihanah dan Hafsah.

Keluarga dekat Jamaluddin al-Banjari banyak yang menjadi mufti. Tercatat ada sekitar sepuluh orang yang menjadi mufti, yaitu Jamaluddin al-Banjari (dirinya sendiri), Ahmad bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, Muhammad As’ad bin Utsman, Muhammad Arsyad bin Mufti Haji Muhammad As’ad, Syihabuddin bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, Muhammad Khalid bin ‘Allamah Hasanuddin bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, Muhammad Nur bin al-’Alim al-’Allamah Qadi Haji Mahmud, Muhammad Husein bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari, Jamaluddin bin Haji Abdul Hamid, serta Syeikh Abdur Rahman Shiddiq bin Haji Muhammad ‘Afif bin ‘Alimul ‘Allamah ‘adi Abu Na’im bin Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari.

Jamaluddin al-Banjari sendiri pernah menjadi mufti di Martapura, sebuah wilayah di Kesultanan Banjar. Ia memiliki pengaruh yang besar pada masa pemerintahan Sultan Adam (1825 M - 1857 M). Mufti Jamaluddin al-Banjari berkontribusi sangat penting dalam perumusan Undang-Undang Sultan Adam (1251 H /1835 M). Ia kemudian dikenal sebagai ahli undang-undang Kesultanan Banjar. Pendapat dan pandangannya banyak mempengaruhi dalam setiap proses perumusan undang-undang kesultanan. Pada pasal 31, misalnya, namanya disebutkan dalam teks undang-undang. Padahal, sangat jarang terjadi ada suatu fatwa dari seorang mufti yang dimasukkan ke dalam sebuah pasal dalam undang-undang kesultanan.

Mufti Jamaluddin al-Banjari pernah mendamaikan perselisihan antara keluarga Diraja Banjar dan pemegang ‘’Surat Wasiat Sultan Adam’’. Pada bulan Desember 1855, Sultan Adam pernah menulis surat wasiat yang isinya bahwa pengganti Sultan Adam adalah Pangeran Hidayatullah. Dalam surat tersebut juga dinyatakan bahwa bila anaknya Pangeran Prabu Anom dan cucunya Pangeran Tamjidillah menghalangi surat wasiat tersebut, maka diancam dengan hukuman mati. Sebagai penengah, Mufti Jamaluddin al-Banjari memegang surat wasiat itu dan mencari jalan keluar yang damai antar keduanya.

Pada abad ke-18, Mufti Jamaluddin al-Banjari berperan besar dalam mengembangkan sufisme di Marabahan, yang kini termasuk daerah di Kalimantan Selatan. Aliran sufisme ini secara khusus mengajarkan tarekat Naqsyabandiyah dengan suluk-nya dan tarekat Syadziliyah. Sebagai puncaknya, aliran sufisme ini dikembangkan oleh puteranya, Abdusshamad, yang merupakan hasil perkawinan Mufti Jamaluddin al-Banjari dengan penduduk lokal bernama Samayah binti Sumandi. Abdusshamad kelak menjadi wali besar di tanah Dayak, sehingga bergelar Datu’ Abdusshamad Bakumpai.

Belum ditemukan data tentang kapan Mufti Jamaluddin al-Banjari wafat. Data yang ada hanya menyebutkan bahwa ia wafat di Sungai Jingah (Ku’bah), Banjar (kini Banjarmasin), Kalimantan Selatan, Indonesia.

Karya Mufti Jamaluddin Al-Banjari yang sangat berpengaruh dalam literatur Melayu adalah Perukunan Jamaluddin. Dalam berbagai versi, karya ini ditulis dengan nama: Perukunan, Perukunan Besar dan Perukunan Melayu. Karya ini diterbitkan oleh Mathba’ah al-Miriyah al-Kainah, Makkah, pada 1315 H/1897 M. Dalam berbagai versi, ada yang menyebutkan bahwa karya ini sesungguhnya milik saudara perempuannya yang bernama Syarifah binti Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari.

Martin van Bruinessen berpendapat bahwa karya tersebut adalah milik anak saudaranya yang bernama Fatimah binti Syekh Abdul Wahab Bugis. Meski meyakini fakta yang demikian, namun Martin van Bruinessen belum mengetahui alasan mengapa karya tersebut menggunakan nama Mufti Jamaluddin al-Banjari, sehingga menjadi Perkumpulan Jamaluddin.(fed) 

Sumber: Riau Pos, Minggu, 22 Juli 2012


Saturday, July 21, 2012

Sejarah Gajah Mada Wajib Direvisi

-- Sufyan Al Jawi

HISTORYOGRAFI (Penulisan Sejarah) suatu bangsa merupakan kewajiban dari bangsa itu sendiri. Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati sejarahnya. Ilmu sejarah itu dinamis, tidak statis. Meskipun kedinamisan dalam ilmu sejarah itu lamban, dan bisa berubah apabila ditemukan bukti-bukti baru yang akurat. Tentu harus dengan kaidah Historyografi, yaitu : ilmiah – berdasarkan fakta bukan spekulasi, jujur tidak ada yang ditutupi dan netral terlepas dari kepentingan politik/agama tertentu.

Patung Gajah Mada (google.com)

Untuk menulis sejarah tidak bisa hanya dengan membaca buku-buku status quo, itu berarti merupakan pengulangan/saduran saja. Juga tidak cukup dengan kajian tesis sejarah dikampus dan seminar, tapi wajib riset di lapangan, observasi mencari situs tersembunyi, ekskavasi situs, dan bila perlu melakukan forensik.

Historyografi merupakan ilmu yang mulia. Bagi orang-orang beriman, bahkan Tuhan pun menulis sejarah dalam kitab-kitab suci melalui Nabi-Nabi Nya, yaitu Zabur, Taurat, Injil dan Al Quran. Sehingga, penulisan sejarah tokoh-tokoh yang tidak disukai orang banyak pun harus ditulis secara akurat. Tuhan menjadikan Namrud, Qarun, Firaun dan lainnya sebagai monumen sejarah, agar menjadi pelajaran bagi manusia. Sejarah itu logis dan bisa dibuktikan keasliannya.

Sejak JLA Brandes, NJ Krom, dan JH Kern dari tahun 1902-1920 menulis sejarah bangsa kita, tentang Majapahit dan Sriwijaya secara sudut pandang Barat (Modern), banyak sejarahwan menulis puluhan buku tentang Majapahit. Namun tak ada satu pun yang berhasil mengungkap jatidiri tokoh besar Majapahit, Mahapatih Gajah Mada.

Sungguh aneh dan miris! Karena begitu besarnya nama Gajah Mada, tapi tidak diketahui asal usulnya? Sehingga meimbulkan spekulasi beberapa daerah yang mengklaim Gajah Mada berasal dari daerah mereka, tanpa di dasari oleh fakta yang akurat.

Gajah Mada berasal dari Desa Mada

Hal ini berbeda dengan folklore Mada (cerita rakyat Modo – Lamongan) yang telah berabad-abad lamanya diwariskan secara turun temurun, dengan detail menjelaskan jati diri Gajah Mada alias Jaka Mada (nama beliau saat masih kecil, diasuh oleh petinggi desa Mada sejak bayi, dilahirkan dari rahim Dewi Andong Sari-selir Raden Wijaya- ditengah hutan Cancing, Ngimbang). Ketika kanak-kanak, Gajah Mada menjadi pengembala kerbau di desanya, bersama teman-temannya, ia sering melihat iring-iringan tentara Majapahit yang gagah-gagah sehingga timbul keinginan untuk menjadi prajurit Majapahit. Sekian ratus tahun folklor itu terpendam, dan baru budayawan Lamongan Viddy Ad Daery yang berani mengungkap dan mengangkat hal itu di forum nasional maupun Internasional, meski dengan resiko dikritik dan dicaci-maki oleh orang-orang yang picik visinya.

Perlu diketahui bahwa folklore Mada (Lamongan) terkait dengan folklor Badander (Jombang). Badander adalah desa kuno yang disebut oleh manuskrip kitab-kitab kuno sebagai tempat Gajah Mada menyembunyikan Prabu Jayanegara dari kejaran tentara pemberontak Ra Kuti. Desa Mada (Modo) dan desa Badander merupakan basis Gajah Mada (banyak teman masa kecilnya), dan letaknya tidak terlalu jauh dari ibukota Majapahit – Trowulan.

Ketika menginjak usia remaja, Jaka Mada diajak oleh kakek angkatnya yang bernama Ki Gede Sidowayah ke Songgoriti, Malang. Dari Malang itulah Jaka Mada meniti karier sebagai prajurit Majapahit, yang kelak beliau dikenal dengan nama Gajah Mada (Orang besar dari desa Mada). Berdasarkan folklore ini diduga Gajah Mada memang berasal dari desas Mada (Modo), Lamongan-Jawa Timur.

Namun folklore ini masih harus diperkuat dengan fakta akurat lainnya, tidak cukup hanya didukung oleh situs berupa Makam Ibunda Gajah Mada – Dewi Andong Sari.

Baru-baru ini tim riset Yamasta yang terdiri dari Viddy Ad Daery, Sufyan Al Jawi, dan Drs. Mat Rais telah menemukan fakta-fakta awal seputar asal usul Gajah Mada (baca berita Kompas.com = Budayawan Temukan Situs Makam Kerabat Gajah Mada). Pencantuman nama para peneliti merupakan tanggung jawab ilmiah, bukan cari popularitas ! Karena apabila hasil riset tersebut ternyata keliru, maka tim yang bersangkutan harus bertanggung jawab secara moril dengan pers rilis dan penelitian ulang.

Meluruskan Penulisan Sejarah

Sebagai arkeolog dan numismatis, sejak 1994 saya terbiasa meriset / menelaah sejarah dengan metode : Asli atau Palsu, untuk membedakan mana yang jurnal (catatan) sejarah, mana yang opini sejarah, dan mana yang sekedar mitos (dongeng). Komitmen kami yang bertajuk : Gajah Mada Bangkit Nusantara Berjaya, merupakan tanggung jawab besar. Maka niat lurus, kejujuran, netralitas dan akurasi fakta menjadi kewajiban kami.

Metode riset kami tidak hanya membahas sastra berupa manuskrip kuno dan folklore saja. Bukan sekedar bongkar pasang benang merah benda purbakala ! Tapi dilengkapi dengan metode forensik fisik, baik itu terhadap benda purbakala, maupun terhadap sisa-sisa jenazah (bila ditemukan) untuk memastikan usia kematian, dan rekontruksi wajah dari tokoh tersebut. Mirip seperti riset terhadap Mummy Firaun. Dan membutuhkan biaya yang cukup besar.

Selama ini buku-buku sejarah status quo banyak menyembunyikan fakta, hingga pengaburan tokoh-tokoh pelaku sejarah besar bangsa ini. Historyografi yang akurat justru menimbulkan dampak buruk bagi anak bangsa. Misalnya : Peristiwa Perang Bubat, yang dieksploitasi oleh sejarawan kolonial Belanda memicu ketidak sukaan Suku Sunda terhadap Suku Jawa hingga hari ini. Begitu pula Peristiwa penyatuan Nusantara, yang dipelintir menjadi agresi Suku Jawa terhadap Suku-suku lain, padahal tidak ada satu negeripun yang dijajah oleh Majapahit. Dan peristiwa Islamnya penduduk Majapahit yang dipelintir menjadi ‘pengkhianatan’ Walisongo terhadap Majapahit memicu ketidak sukaan kaum kejawen (kolot) terhadap ajaran Islam. Padahal sesungguhnya kaum kejawen ini ya Islam juga, tapi merupakan tinggalan “Islam Purba” zaman Nabi Sis, Nabi Nuh dan Nabi Ibrahim sewaktu mereka di Nusantara ( teori dari Kelompok Ilmuwan Turangga Seta ). Maka,Nabi  Muhammad Rasulullah memang menyatakan diri “diutus menyempurnakan Islam”, bukan bikin agama baru!!!

Ironisnya buku sejarah yang tidak netral ini terus menerus di produksi dan mudah di jumpai di toko buku, perpustakaan, bahkan menjadi buku pengajaran di sekolah dan kampus. Sehingga dapat melahirkan generasi sinisme dan pemuja perpecahan. Maka wajar jika saat ini Nusantara terpuruk ! Tolong pikirkan, siapa yang berkeinginan agar bangsa asli pribumi Nusantara terpecah belah dan terpuruk terus menerus ???? Anehnya banyak orang yang menikmati dan tidak rela bila buku sejarah status quo direvisi, padahal buku sejarah bukanlah kitab suci!

Coba kita perhatikan fakta-fakta berikut ini:

Celengan kuno, berbentuk patung kepala terbuat dari tembikar yang dulu populer dibuat,  diperjualbelikan oleh penduduk Majapahit sebagai tabungan koin cash tembaga (koin Cina), kemudian hari oleh sejarawan diklaim sebagai potret / gambaran wajah Gajah Mada ?
Lukisan rekayasa Gajah Mada oleh Moh. Yamin yang mirip dengan wajah beliau. Lalu timbul spekulasi bahwa Gajah Mada berasal dari Minangkabau?

Karena ditemukannya beberapa Prasasti di aliran Sungai Berantas yang menyebut nama Gajah Mada, maka ada spekulasi bahwa Gajah Mada lahir di Malang. Padahal pencatuman nama pejabat pada Prasasti merupakan hal yang wajar. Seperti Prasasti Tugu yang mencantumkan nama Raja Tarumanegara, bukan berarti sang Prabu lahir di Tugu Cilincing Jakarta Utara ? Lagi pula tidak ada folklore Malang yang berkaitan dengan Gajah Mada.
Bahkan ada spekulasi radikal dari Bali (Kitab Usana Jawa) yang menyatakan bahwa Gajah Mada lahir dari buah kelapa yang pecah. Mirip dongeng Sun Go Kong (kera sakti) yang lahir dari batu.

Untuk mematahkan riset dan ingin membungkam sejarah, ada pihak yang ngotot bila Gajah Mada bukan dari desa Mada dan telah dibakar menjadi abu. Katanya Gajah Mada telah dicandikan (mana ada Sudra dicandikan ?), Mungkin maksud mereka adalah candi yang diresmikan oleh Gajah Mada ? Toh ketika Gayatri Rajapatni wafat, beliau yang notabene beragama Budha, di Hindukan oleh masyarakat Majapahit lewat pembuatan patung dan dicandikan. Kalaupun ternyata hasil riset membuktikan bahwa Gajah Mada telah jadi abu, tidak ada kerugian apapun bagi tim riset.

Menemukan Situs Purbakala yang Belum Terungkap

Tim Riset Yamasta berhasil menemukan situs-situs purbakala yang belum terungkap, seperti :

1. Situs Makam kerabat Gajah Mada di desa Modo

2. Situs Sendang dan tempat mandi Gajah Mada di desa Modo

3. Situs Prasasti Gondang di Sugio, Prasasti zaman Airlangga yang ditulis dengan huruf Arab Pegon (Jawi) dan huruf Jawa Kuno (Kawi). Sebelas tahn yang lalu, tulisan masih bisa terbaca. Karena terbengkalai, kena sinar Matahari dan hujan, maka tulisan menjadi hilang. Namun secara samar-samar bisa terlihat tulisannya saat terkena blitz cahaya tertentu.

4. Situs dusun Lukman Hakim (Lukrejo) di Kalitengah, Lamongan. Sebuah dusun yang disebut dalam Ying Yai Sheng Lan karya Ma Huan terbit 1416-1433. Dusun (kota baru ?) letaknya dekat dengan Bengawan Solo, aliran Bengawan Jero (Sungai Purbakala). Dusun ini memiliki pertahanan Parit Andalusia (Parit air yang mengitari dusun, lebarnya 8-10 m, dibentengi dengan pagar hidup pohon bambu). Pintu keluar masuk hanya satu, 3 (tiga) pos jaga, dibangun dan dihuni oleh 3 (tiga) golongan, yaitu : Muslim Jawa, Cina suku Tang Muslim dan Hindu Budha Jawa.

5. Situs Bawanmati di Pringgoboyo, lokasi tambangan kapal-kapal asing dan Bea Cukai Majapahit (No.1-5 berada di Lamongan).

6. Situs Pagar Banon di desa Badander, Jombang.

Semua situs tersebut diduga merupakan benang merah asal usul Gajah Mada yang harus diungkapa secara ilmiah dengan teliti dan hati-hati. Apapun hasil riset yang ditemukan, masih harus diuji dan dipresentasikan dengan lapang dada. Ojo dumeh (jangan mentang-mentang). (SF)

Sufyan Al Jawi, Arkeolog di Numismatik Indonesia

Sumber: Oase, Kompas.com, Sabtu, 21 Juli 2012
 

Nuansa Spiritual dalam Karya Sastra

-- Dwi Rejeki

KARYA sastra bertemakan religi ternyata selalu dimintai pembaca. Paling tidak bisa dilihat dari hasil survei "Rumah Sastra" sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak khusus dalam bidang pengamatan karya sastra bernafaskan Islam, yang diadakan baru-baru ini.

    Bekerja sama dengan Departemen Agama "Rumah Sastra" dihadirkan pembicara Yudi Latif (pemikir kebudayaan), Stanislaus (St) Sunardi (ahli sastra dan filsafat Islam), dan Abdul Hadi Wiji Muthari (WM) yang dipandu oleh Radhar Panca Dahana (penyair/esais).

    Penyair sastra Islam Abduil Hadi membahas Relevansi Mantiq al-Tayr (Musyawarah Burung) karya sufi Persia terkenal Farriduddin al-`Attar, nama lengkapnya Fariduddin Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim (1132-1222 M). Guru besar dalam bidang Ilmu Falsafah dan Agama Universitas Paramadina itu mengemukakan hingga sekarang karya sufi dari Nisyapur masih jadi perbincangan di kalangan sarjana dan masyarakat sufi internasional, di Timur maupun Barat, disebabkan relevansinya.

    Ada beberapa perspektif atau aspek penting yang dapat dikemukakan untuk melihat relevansi karya sufistik atau profetik seperti Mantiq al-Tayr. Pertama, berkenaan dengan wawasan estetika yang melandasi penulisannya, yang sebenarnya mencerminkan kecenderungan umum karya sejenis sufistik, mistikal, transendental, spiritual, profetik, bahkan apokaliptik, dan lain sebagainya. Kedua, aspek kesejarahan yaitu sejarah sosial budaya dan keagamaan yang melatari penulisan karya `Attar. Ketiga, sebagai karya yang berangkat dari perenungan ketuhanan dan masalah keagamaan.

    Secara estetik Mantiq al-Tayr memerlihatkan bahwa kaum spiritualis atau mistikus (dalam hal ini sufi) me-mandang bahwa sastra sebagai penyajian secara simbolik gagasan dan pengalaman kerohanian yang dicapai penulisnya sebagai penempuh jalan kerohanian. Simbol-simbol tersebut diambil dari kitab suci, teks keagamaan, sejarah agama, pristiwa-peristiwa sejarah, budaya, cerita rakyat yang mereka kenal, dan lain sebagainya. Apa yang dipaparkan di situ tetap ada kaitannya dengan realitas di luarnya. Persoalan-persoalan yang dikemukakan melalui kisah-kisah dalam Mantiq al-Tayr, adalah persoalan keseharian namun berhasil ditransformasikan menjadi persoalan spiritual dan keagamaan.

    St. Sunardi memaparkan Sebuah Catatan tentang Surga Anak-Anak karya Najnb Mahf{z. yang mengambil tema pendidikan agama dalam masyarakat modern. Berdasarkan pengamatan Program Magister Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta itu dapat disimpulkan bahwa sastra mempunyai kekuatan spiritualitas justru karena sastra menyuarakan imanensi manusia (batas-batas kemanusiaan) dan bukannya melantunkan suara dari langit. Karena, menurut Sunardi, spiritualitas berkaitan dengan suara manusia yang terus-menerus mencari dan mencari yang lain.

    Malah, nuansa spiritual tidak musti terkait langsung dengan agama. Dalam konteks ini sastra malah mempunyai caranya sendiri untuk mendefinisikan dan meredifinisikan apa itu "spiritualitas". Pengasuh Pesantren Ilmu Kemanusiaan dan Kenegaraan (PeKiK Indonesia) Yudi Latif, mengemukakan men-tradisi sastra-spiritualitas juga memantul di kepulauan Nusantara, antara lain dengan menggunakan bahasa Melayu. Bahasa Melayu telah mengalami banyak perkembangan sebelum ia digunakan sebagai alat bagi sastra metafisika dan filosofis Islam.

    Sementara itu mengenai tema, teori tentang penciptaan dalam sastra Islam sama tuanya dengan ajaran Islam sendiri. Selain itu, sastra Islam juga menggunakan simbol-simbol untuk mengungkapkan kerinduan akan cinta-Nya dan merepresentasikan asal-muasal sumber penciptaan. Amir Hamzah, misalnya, digambarkan oleh Prof A Teeuw sebagai "satu-satunya penyair Melayu 'modern' yang kembali pada puisi Melayu religius 'tradisional' yang berwarna-mistik, yang pada gilirannya bisa ditelusuri kembali secara langsung atau tidak langsung kepada para mistikus besar Islam.

    Memasuki perkembangan budaya kontemporer, tampaknya tema sastra bercorak religius tidak pernah mati. Apakah ia sebagai jawaban atas kekeringan kehidupan batin manusia modern ataukah sebagai pelarian dari kekerasan kehidupan yang masih diliputi konflik antarnegara, sosial, agama, etnis, individu, batin, dan degradasi lingkungan hidup yang membuat dunia sastra mau tak mau harus ambil bagian dalam dunia yang semakin sakit ini. Maka, mau tak mau, dalam dunia seperti ini, setiap karya sastra yang berkualitas selalu berjiwa religius.

    Mengutip ucapan pemikir Islam terkemuka Mohammad Iqbal, bahwa di atas fase penghayatan religius dalam arti pemahaman masih ada penghayatan yang lebih tinggi, yakni yang sering disebut mistik. Mistik di sini bukanlah sebentuk takhayul, melainkan pendewasaan yang lebih menuju ke dalam. Atau bagi Romo Mangun (bukunya Sastra dan Religiositas, 1988) disebut sebagai "religiositas yang dewasa." Yakni sebuah karya sastra yang mampu menyuguhkan kandungan kadar religiositasnya. Bukan religiositas dalam arti formal keagamaan, tetapi dalam daya kemampuannya membuat orang bertanya tentang diri: apa maknanya, apa makna hidupnya?

Sumber: Suara Karya,Sabtu, 21 Juli 2012

Thursday, July 19, 2012

Pancasila (2-Habis): Perubahan Sejati oleh Rakyat Jelata

-- Radhar Panca Dahana

SEJARAH kebudayaan suku-suku bangsa Indonesia tidak mudah ditakluk kan kebudayaan asing.

Penaklukan kolonialis pada mulanya tidak berhasil, kecuali dalam pengertian fisikal dan ekonomi, tapi kemudian ia menunjukkan hasil (sekurangnya akhir abad ke-19) pada tingkat intelektual.

Ahli-ahli hukum adat dan tradisi bermunculan di kalangan sarjana yang menjadi penasihat pemerintahan kolonial, tumbuhnya intelektualisme yang berorientasi pada logika Barat/kontinental, ditambah lahirnya kelompok-kelompok intelektual semacam teosofi di Jawa, menjadi kecambah bagi penaklukan intelektual itu.

Pemikiran “baru” dari kebudayaan kontinental yang disokong kekuatan ekonomi, politik, dan militer menindas kerja dan produk intelektual lokal/tradisional.

Pada masa berikutnya perlahan-lahan kekuatan rasionalisme Eropa yang materialistik dan dominatif itu menaklukkan kultural, terutama (pada awalnya) di kalangan masyarakat kota (urban). Ketika kemajuan teknologi informasi dan transportasi terjadi begitu masif dan revolusioner, penaklukan itu seperti mendapatkan momentum desisifnya.

Teknologi itu menjadi wahana ampuh untuk mengangkut ide-ide kultural yang termuat dalam konsep filosofis, demokrasi, kapitalisme, liberalisme, dan lain-lain, yang menjadi penumpang gelap dalam gerakan supermasif bernama globalisme.

Pada masa yang disebut banyak kalangan sebagai “kolonialisme baru” itu, pertahanan kebudayaan kita di tingkat pribadi hingga komunal menjadi rapuh, bahkan hingga pada tingkat terdominasi penuh.

Modus eksistensial yang secara tradisional dan primordial kita bangun selama ribuan tahun terekspresi secara kasar dan ganas oleh globalisme, sebuah topeng kolonial yang geraknya didukung kekuatan politik, ekonomi, hingga praktik militer dan intelijen negara/bangsa kolonial.

Sebagian masyarakat kita saat ini harus diakui telah menempatkan kebudayaan baru, yang postmodern itu, sebagai acuan tunggal dalam menegakkan eksistensi kontemporernya.

Masyarakat itu merasa dirinya eksis bila menggunakan simbol-simbol kebudayaan penakluk itu. Penaklukan simbolik itu semacam representasi dari takluknya pemikiran, ide, tradisi, bahkan ruang imajinasi kita sebagai pribadi dan bangsa.

Dalam kultur baru itu, hal-hal yang sifatnya pragmatik dan hedonistik–sebagai produk adab yang materialistik–menjadi standar bagi status atau simbol sosial pada umumnya. Dalam kultur ini pula bemunculan titik api yang menciptakan konflik di berbagai dimensi dan lapisan masyarakat.

Hidup yang dihela oleh kebutuhan material yang hiper-pragmatik dan hedonistik menciptakan kompetisi yang hanya sehat di atas kertas, tapi jahat dan destruktif di tingkat praktisnya.

Dengan asas yang dijumput dari kapitalisme, liberalisme hingga hak asasi manusia, sebagian dari kita mengejar kebutuhan materialistik itu dengan berbagai cara, termasuk mengkhianati dan membungkam nurani, adat, dan kearifan tradisinya.

Solusi Kebudayaan

Dari argumen singkat di atas, kita sudah bisa menemukan penyebab dari berbagai krisis negeri ini, yakni ketika kita menolak kenyataan eksistensial yang menjadi inti jati diri kita semua.

Maka solusinya pun menjadi jelas, untuk menjadi manusia yang beradab luhur (apa pun bentuk/kemajuan kebudayaannya), kita harus menimbang kembali dengan cara jujur, saksama, dan cerdas kebijaksanaan dan pengetahuan tradisi yang sejak ribuan tahun lalu diproduksi, dipelihara, dan dikembangkan oleh nenek moyang kita.

Sebuah perjalanan kebudayaan yang sama sekali bukan omong kosong dan jauh lebih panjang prosesnya ketimbang bangsa-bangsa yang menganggap dirinya maju, seperti bangsa-bangsa Eropa apalagi Amerika.

Dengan kebijaksanaan dan pengetahuan yang saat ini dianggap kuno, lampau, kaku, mistik, dan beku itu sebenarnya kita dapat menemukan jalan keluar dengan melakukan perubahan sikap (mindset juga attitude). Kita dengan sendirinya akan menemukan acuan hidup yang lebih dekat dengan jati diri kita sendiri, lebih komprehensif dalam melihat persoalan dan lebih praktis dalam pelaksanaan.

Jadi bila–katakanlah–orang Sunda menjadi Sunda yang sejati, dalam arti menggunakan kearifan primordialnya sebagai acuan untuk bereksistensi dan bermasyarakat, bisa dipastikan ia tidak akan tenggelam dalam konflik dengan warga lainnya baik sesama maupun dengan yang berbeda etnik.

Dengan begitu manusia Indonesia tidak akan menjadi korban dari gerak globalisasi kebudayaan saat ini, sekuat apa pun gerak itu.

Bahkan seharusnya dengan kapasitas dan kualitas kultural masing-masing etnik, kita dapat memerah atau “menunggangi” kuda peradaban postmodernisme yang berlari sangat kencang itu, mengambil saripatinya untuk memperkuat dan kian mendewasakan kebudayaan kita sendiri, sebagaimana dilakukan nenek moyang kita di masa lalu.

Kita adalah bangsa yang adaptif dalam arti memiliki kemampuan luar biasa lebih dari bangsa mana pun, dalam menyerap kebudayaan asing menjadi asupan positif bagi perkembangan jati diri dan kebudayaan kita sendiri.

Dalam prosesnya yang normal, sehat, dan egaliter, sejarah kebudayaan suku-suku bangsa Indonesia tidaklah mudah untuk ditaklukkan kebudayaan asing.

Kita adalah bangsa yang ramah, sopan, dan penuh hormat saat menerima kehadiran tamu, walau tentu saja kita bukan bangsa yang lunak dan melempem ketika tamu itu memiliki maksud untuk menguasai, apalagi merendahkan atau menghina martabat kita sebagai tuan rumah. I

tu berlaku untuk semua suku bangsa: rasa hormat dan martabat adalah hal yang bagi siapa pun dari kita siap mengorbankan apa pun, termasuk nyawa, untuk membelanya.

Membutuhkan “Updating”

Sesungguhnya nilai-nilai dan moralitas dasar dari kebudayaan di atas secara jenial telah dirumuskan–walau mungkin belum sempurna–oleh bapak-ibu bangsa (founding fathers-mothers) kita di masa lalu.

Melalui pergumulan ide yang dilandasi oleh visi dan spirit kebangsaan primordial, mereka akhirnya menyepakati nilai-nilai dasar dari keberadaan kita sebagai sebuah bangsa terangkum dalam sebuah rumusan bernama Pancasila. Namun betapa pun luhur dan jenialnya Pancasila, mesti jujur kita akui, itu adalah produk dari kerja manusia yang tidak abadi seperti kitab suci.

Ia membutuhkan updating untuk masalah-masalah baru, data-data, pemahaman, dan tujuan atau bahkan visi baru. Itulah tugas dari generasi baru terutama para anggota pemerintahan baru yang silih datang dan pergi.

Pada tingkat praktis, sebenarnya Pancasila adalah cara dan acuan yang niscaya dalam peri-hidup bangsa Indonesia sejak dulu kala. Apa yang dilakukan pendiri bangsa ini adalah menciptakan kristal-kristal kebudayaan dari praktik Pancasila di kalangan rakyat jelata itu.

Soekarno dkk tidak menciptakan ide baru untuk mengatasi hidup yang baru. Namun itulah tugas dan tanggung jawab generasi baru, generasi kita, untuk terus membuat Pancasila hidup dengan cara melakukan updating tadi.

Semacam panduan yang berakar dari perkembangan kebudayaan dan pengetahuan adat dan tradisi dalam upaya merespons kenyataan baru yang melesat dengan cepat. Panduan dan acuan yang harusnya bermula dari perubahan radikal para penguasa dan pengambil kebijaksanaan secara khusus dan kaum elite pada umumnya.

Rakyat jelata adalah pihak terakhir yang akan menyempurnakan panduan-panduan hidup di atas. Rakyat jelatalah yang sebenarnya menjadi pelaku utama ketika kebudayaan itu berkembang dan memperbarui diri.

Maka bila harus ada perubahan yang substansial, tidak terelakkan ia harus terjadi dan dilaksanakan rakyat jelata pada muaranya. Awal dari semua itu adalah munculnya elite yang memiliki kesadaran bersama untuk mengubah mindset dan attitude-nya sesuai dengan realitas eksistensial kita.

Persoalannya kini menjadi lebih terang: bagaimana elite menjalankan peran dan tanggung jawab historik dan tradisionalnya itu, sementara saat ini mereka dalam keadaan mabuk karena alkohol globalisme, candu liberalisme, nafsu kapitalisme, dan penghambaan pada individualisme. Untuk penjelasan dan jawaban bagi pertanyaan kritis ini, kita membutuhkan kertas yang lebih panjang.

Radhar Panca Dahana, budayawan.

Sumber: Sinar Harapan, Kamis, 19 Juli 2012