Tuesday, November 29, 2011

Fiksi dalam Pelajaran Sejarah

-- Junaidi Abdul Munif

WASIAT Bung Karno tentang sejarah; jasmerah (jangan sampai melupakan sejarah) menjadi sinyal bahwa sejarah menjadi bagian penting dari sebuah peradaban bangsa. Sejarah menjadi mozaik yang membentuk generasi kemudian, yang dapat mengambil hikmah dari peristiwa generasi tua (masa lalu).

Di sini, sejarah kemudian tampil dalam oposisi biner; hitam-putih. Mozaik sejarah itu memunculkan konstruksi tentang apa yang disebut pahlawan dan pengkhianat. Begitulah sejarah diajarkan kepada anak didik di sekolah pada masa Orde Baru. Sebuah megaproyek pembentukan ideologi anak bangsa yang kerdil dan traumatis menghadapi sisi kelam sejarah.

Di titik inilah, kita sebetulnya sedang dibonsai untuk menjadi penakut, menjadi masyarakat yang tidak dewasa menghadapi perbedaan.

Secara aplikatif, pembonsaian masyarakat lewat sejarah bisa dilihat dari perangkat kurikulum pelajaran sejarah yang penuh sesak. Akurasi (5 W 1 H) berusaha dikejar semaksimal mungkin, kendati yang tampak adalah paparan sepotong demi sepotong peristiwa yang datar. Dengan alokasi waktu (jam pelajaran) yang sedikit, mustahil sejarah akan dipelajari (dan dipahami) dengan sangat mendalam oleh siswa. Sejarah yang diajarkan akhirnya menjadi sejarah yang muncul untuk dilupakan.

Pelajaran sejarah selama ini menitikberatkan pada pola sinkronik; peristiwa hanya didasarkan pada kurun waktu historis tertentu. Bukan pada pola diakronik, yang menghubungkan sebuah peristiwa dengan perubahan sepanjang waktu. Kalau mengikuti strukturalisme, setiap peristiwa akan selalu berkaitan dengan perisitwa lain. Ini yang kurang menjadi perhatian dalam penulisan sejarah.

Budaya Menulis

Faktor yang membuat sejarah kurang diminati adalah rendahnya budaya baca dan menulis. Yang lantas memunculkan budaya dokumentasi yang masih lemah di banding budaya Barat. Tak aneh, buku babon sejarah Indonesia justru ditulis orang asing yang pernah melakukan kolonialisasi atau penelitian di Indonesia. Babad Tanah Jawi yang merekam sejarah masyarakat Jawa justru ada di Leiden, Belanda. Karena berbagai kelemahan itu, sejarah Indonesia selalu tampak remang-remang. Verifikasi sejarah sulit dilakukan karena minimnya sumber primer tertulis peristiwa (ber)sejarah.

Sejarah menjadi “dongeng” dan tuturan lisan yang rentan terjadi manipulasi fakta. Dan karena berbagai kepentingan pragmatis-politis untuk menancapkan hegemonisasi penguasa pada masyarakat, sejarah mengalami seleksi yang ketat untuk diajarkan di sekolah.

Sejarah bukan lagi history, melainkan his story (cerita dia/penguasa). His story ini menguat, misalnya ketika pemerintah menarik buku-buku pelajaran sejarah untuk SMP dan SMA dalam KBK 2004, yang membingungkan siswa (Dharmini, 2007).

Di samping itu, guru menyampaikan pelajaran sejarah masih terbatas pada metode ceramah yang sangat membosankan. Keberhasilan metode ini hanya sekitar 20%. Perlu dikembangkan sebuah metode berbasis kontekstual dengan menjadikan guru sebagai inovator penting untuk menyampaikan sejarah (Nurrakhman, 2007).

Novel Sejarah

Pelajaran sejarah dan kurikulum yang membingungkan demikian berdampak pada siswa yang menjadi objek pelajaran sejarah. Kebingungan tersebut dapat menyebabkan siswa tercerabut dari akar sejarah yang membentuk bangsa dan negaranya. Padahal, sejarah menjadi medium penting bagi siswa untuk mengenal dan memahami Indonesia.

Dunia sastra Tanah Air kini marak dengan novel berlatar belakang sejarah. Di rak sastra toko buku, novel sejarah hampir memenuhi separuh isinya. Kita tiba-tiba seolah kembali disentak dengan nama-nama tokoh yang mungkin nyaris terlupakan di benak kita seandainya novel sejarah itu tak masif seperti sekarang.

Ada dua kategori novel sejarah yang membanjiri rak toko buku. Pertama, adalah novel sejarah yang terkait dengan suatu peristiwa yang panjang dalam kurun tertentu -seperti tetralogi Pulau Buru-nya Pramoedya Ananta Toer, dan kedua novel sejarah yang merupakan "biografi" tokoh. Untuk kategori kedua ini, novel Presiden Prawiranegara (Akmal Nassery Basral) dan Gadjah Mada (Langit Kresna Hadi) bisa diajukan sebagai contoh.

Apsanti Djokosujatno (2002) meneliti beberapa contoh novel sejarah yang menjadi prototipe penulisan novel sejarah di Indonesia. Setidaknya, dari paparan dia, sejarah menjadi tema sentral kendati ada yang memperlakukan tokoh sejarah sebagai latar utama cerita maupun hanya pelengkap.

Penulisan novel sejarah akan menghadirkan tantangan tersendiri. Novel adalah fiksi (dunia rekaan), sementara sejarah adalah fakta (peristiwa) yang telah terjadi. Penulis novel sejarah dengan demikian, sejatinya adalah peneliti sejarah. Pramoedya Ananta Toer adalah contoh sastrawan yang juga peneliti sejarah yang baik karena semasa hidupnya dia mengumpulkan kliping koran sebagai arsip peristiwa.

Maraknya penulisan novel sejarah adalah sebuah otokritik bagaimana sejarah dan pelajaran sejarah belum menjadi bagian dari masyarakat Indonesia. Novel-novel Pram yang di masa Orde Baru dilarang terbit, kini menjadi buruan masyarakat yang ingin melihat sejarah Indonesia dari kacamata "subversif”. Sementara itu, novel sejarah akhir-akhir ini seperti latah, tanpa harus melakukan kerja riset yang mendalam. Banyak kisah dari tuturan lisan yang lantas dinovelkan, menyaru sebagai novel sejarah.

Junaidi Abdul Munif, Peneliti el-Wahid Center Universitas Wahid Hasyim Semarang

Sumber: Lampung Post, Selasa, 29 November 2011

Monday, November 28, 2011

Revolusi Budaya dan Keadaban Publik

-- Ansel Alaman

KEADABAN publik kita hancur, begitu gerutu banyak kalangan. Hari-hari ini kita sedih menyaksikan tindak kriminal di banyak tempat. Orang menjadi mudah diprovokasi melakukan tindakan kekerasan. Pelajar doyan tawuran, mahasiswa bahkan di kampus yang sama juga berkelahi.

Korupsi di negeri ini semkian menggila, padahal tiada hari dilewati tanpa doa. Apakah kasus-kasus tersebut dipicu bergesernya fungsi kebudayaan yakni dari fungsi pembentukan karakter menjadi sekadar fungsi ekonomi?

Jawaban atas persoalan itu tidaklah mudah. Namun, setidaknya asumsi psiko-sosial menemukan bahwa patologi sosial itu berkaitan dengan kelangkaan nilai dalam ranah sosial, politik, dan ekonomi. Ilmuwan politik David Easton (1965) mengakui adanya kelangkaan dalam mengalokasikan nilai-nilai secara otoritatif dalam masyarakat.

Deviasi sosial seperti kasus korupsi, perjudian, kriminalitas, dan pelecehan sosial menjadi fenomena scarcity. Dalam konteks kebudayaan, kelangkaan karena pola internalisasi atau pelembagaan nilai bagi pembentukan nation character building kita.

Seharusnya, dalam menghadapi pengaruh ekonomi global seperti mcdonalisasi, friedchikenisasi, bahkan blackberisasi, kita memiliki posisi tawar yang cukup untuk mengimbangi derasnya intervensi pasar terhadap budaya politik dan ekonomi.

Tidak Adil

Sayangnya bangsa kita selalu reaktif menghadapi perubahan cepat dan mendasar itu, padahal dampaknya bisa diminimalisasi. Penyebabnya, kita mudah larut dalam kenikmatan simbol dan tampilan neokapitalistik, tanpa sikap kritis dan mengambil jarak dengan modal sosial yakni kebudayaan.

Akibat ketidakkonsistenan itu—seperti disebutkan Kartini Kartono (2011)—kita dilanda deviasi menjadi patologi sosial seperti korupsi, yang mencampakkan habit kemanusiaan dan keadaban publik.

Ketercampakan itu tidak hanya oleh perilaku dan kebijakan yang mendangkalkan makna kebudayaan, tetapi juga penetapan regulasi yang mengonstruksi kebudayaan secara tidak adil. Misalnya definisi “daya tarik wisata” dalam Pasal 1 angka 5 berbunyi, "Daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan." Budaya dalam paragraf ini disamakan begitu saja dengan kekayaan alam untuk dijadikan sasaran kunjungan wisatawan.

Padahal, dalam batang tubuh undang-undang, kata “budaya” disebut 14 kali dan “kebudayaan” hanya 1 kali. Tetapi, budaya didominasi pemaknaan sebagai “aset” daripada sebagai entitas pembentuk karakter. Dalam banyak hal, budaya disamakan dengan danau, ombak dipantai, binatang komodo, yang mendukung fungsi ekonomik, tetapi kebudayaan sebagai strategi pembangunan manusia seutuhnya berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Akibatnya, kita kehilangan roh atau jiwa pembangunan, yakni nilai, dan hubungan sosial, gotong-royong, memperjuangkan hak dan kewajiban asasi, etika pribadi dan sosial/etika publik, keadilan, spriritualitas dalam penghargaan pluralisme agama, perbedaan pendapat, dan lain-lain. Kehilangan roh dan jiwa itu berakibat menipisnya kesadaran spiritual seperti rasa malu atau nafsu kekerasan, korupsi, narkoba, pelecehan seksual, bahkan pembunuhan.

Strategi Kebudayaan

Keterpurukan bukan untuk ditangisi atau saling menyalahkan, melainkan cambuk pembaruan merevitalisasi kebudayaan. Kita perlu revolusi (pembaruan radikal dan mendesak) untuk membangun kembali apa yang oleh Bung Karno disebut nation and character building.

Tindak revolutif itu harus sinergis dan terpadu semua lembaga dan elemen bangsa untuk menemukan akar dan solusi deviasi sosial yang wajib dilakukan setiap anak bangsa. Pembaruan itu termasuk bidang politik hukum atau legislasi. Sebab, apa artinya kita menghasilkan banyak regulasi kalau banyak dari kita tidak patuh (disobedience), apalagi perilaku koruptif dicontohkan elite politik, eksekutif, yudikatif, dan pengusaha.

Memang banyak upaya telah dilakukan memerangi budaya korup, kekerasan, eksploitasi kemiskinan, kebencian keagamaan, tetapi tetap saja kebaikan, kejujuran, keadilan, perdamaian, kelembutan, keadilan gender, kalah cepat.

Namun, jika kita yakin bahwa kebudayaan sebagai strategi pemasyarakatan dan internalisasi nilai, kita yakin fenomena patos akan ditekan, tidak saja melalui pendekatan hukum, tetapi juga pendekatan psikologi, antropologi, sosiologi, dan tentu saja keagamaan.

Sejatinya, kembalinya kebudayaan ke pangkuan pendidikan harus dimulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai perguruan tinggi, pendidikan luar sekolah/nonformal, pendidikan khusus penyandang cacat, diklat, lokakarya, seminar, dan lain-lain.

Strategi kebudayaan harus menjadi modul dalam kaderisasi politik, kaderisasi pejabat lurah/kades sampai menteri negara, kaderisasi dunia usaha, mekanisme penyusunan undang-undang, setiap bentuk kontrak sosial seperti political contract, MoU (memorandum of understanding), LoI (letter of intens), dan pakta integritas.

Ansel Alaman, Pengajar di Unika Atmajaya dan Binus University


Sumber: Lampung Post, Senin, 28 November 2011

Sunday, November 27, 2011

Dari Festival Penyair Korea-ASEAN II: Suara Asia yang Tersembunyi

-- Taufik Ikram Jamil

HUJAN puisi di Riau, mungkin tidak berlebihan dikatakan untuk menunjukkan begitu banyaknya karya sastra tersebut ditampilkan di provinsi ini dalam hanya beberapa hari di tengah musim hujan yang awal. Tak hanya dalam bahasa Indonesia/ Melayu, hampir 400 puisi ditulis dalam bahasa Korea, Myanmar, Vietnam, Thailand, Tagalog, tentu juga bahasa Inggris. Dibaca sendiri oleh sekitar 70 penyair dari berbagai negara ASEAN dan Korea Selatan (Korsel) pada waktu pagi sampai tengah malam —selalu pula diiringi hujan—aksara yang ditampilkan juga beragam sesuai bahasa ibu penyair. Ini masih ditambah dengan hadirnya tiga buku sajak yang dikemas mewah masing-masing lebih dari 450 halaman.

Kesemuanya itu dibungkus dengan nama KAPLF II (Korea-ASEAN Poets Literature Festival) yang selain dilaksanakan di Pekanbaru, juga diadakan pada dua kabupaten di Riau lainnya yakni Siak dan Kampar, 25-29 Oktober lalu —semuanya atas naungan Yayasan Sagang. Acara serupa pertama kali dilakukan di Seoul tahun 2010, dari Indonesia diwakili Nirwan Dewanto dan Rida K Liamsi. Direncanakan, Brunei Darussalam akan menjadi tuan rumah KAPLF III tahun 2012. Pada tahun ini, KAPLF yang bernuansa Melayu juga diwarnai dengan perjanjian kesepakatan kerja sama antara majalah sastra Sipyung (Korsel) dengan Majalah Seni Budaya Sagang (Riau, Indonesia).

Bayangkan saja, belum lagi acara dibuka secara resmi oleh Gubernur Riau Dr (HC) HM Rusli Zainal MP, Rabu (25/10), beberapa penyair sudah membacakan sajak mereka di Universitas Lancang Kuning. Malam pembukaan itu pula, seperti menjadi pawai penyair Korea-ASEAN karena pembacaan sajak baru berakhir pukul 23.30 dengan kemunculan Sutardji Calzoum Bachri sebagai pemuncak.

Besoknya, pagi-pagi lagi mereka sudah berangkat ke Siak Sri Indrapura —membaca sajak di Istana Kerajaan Siak yang seolah-olah mewakili suatu masa kejayaan Melayu-Islam abad ke-19. Menjelang malam, mereka sudah tampil pula di sebuah restoran Melayu sambil santap malam. Lalu seperti sebelumnya, giliran peserta KAPLF berangkat ke Kampar, tepatnya membaca sajak di Candi Muaratakus yang diperkirakan dibangun abad ke-7 sebagai jejak awal kehadiran agama Budha di tanah Melayu. Di lain waktu, mereka juga menyaksikan orkestra Melayu, pembacaan sastra (baca: tradisi) lisan masyarakat Riau pedalaman di kediaman budayawan Dr (HC) Tennas Effendi.
***

TIDAK seperti acara sastra sebelumnya yang kadang-kadang lebih sebagai arena pengamat sastra sebagaimana yang sempat diamati selama ini, kegiatan-kegiatan di dalam KAPLF II, memang terasa berbeda. Para penyairlah yang menjadi bintang; membacakan karya-karya mereka pada setiap kesempatan dan memperkatakan apa yang sedang mereka geluti. Mereka jugalah yang menjadi peserta kolokium dan penonton pembacaan sajak sekaligus. Kalaupun ada penonton lain, hal itu seperti terjadi dengan sendirinya karena tanpa undangan, apalagi “pengerahan massa”.

Peserta memang tergolong cukup tekun dengan kepanyairan. Dari Indonesia, antara lain terlihat Zaim Rofiqi, Marhalim Zaini, Hasan Aspahani, Raudal Tanjung Banua, Aan Mansyur, Gunawan Maryanto, Dimas Arika Mihardja, dan Nurhayat Arif Permana. Peserta dari negara lain pun tak kepalang tanggung. Sebutlah semacam Isa Kamari (Singapura), Marsli NO (Malaysia), Abdul Rakib (Thailand), Do Thi Khanh Phuong (Vietnam), Michael M.Coroza (Filipina), Hashim Hamid (Brunei Darussalam), Maung Pyiyt Min (Myanmar), Ko Hyeong Ryeol (Korsel). Diinapkan di hotel berbintang lima, peserta terbanyak memang dari Indonesia yakni 19 orang, disusul Korsel 10 orang, sedangkan negara lain berjumlah 1-3 orang.

Tak ada kesimpulan karena memang tidak ada kesepakatan kreatif yang dapat dibuat kecuali bagaimana agar tetap berkarya. Tapi seperti yang dapat diduga, wilayah hati masih menjadi “taruhan” dalam helat ini. Perbedaan memang masih amat kentara terutama pada daya ucap masing-masing penyair. Seperti yang disebut Michael M Coroza (Filipina), penyair Indonesia misalnya, lebih ekspresif dan lugas mengungkapkan sesuatu, tidak sebagaimana penyair dari negara lain.

Bau darah, rintihan ketidakadilan, terasing, dan tragedi manusia, amat kentara pada sajak-sajak yang ditampilkan dalam KAPLF II. Fikar W Eda misalnya, melaungkan Aceh yang berdarah dengan rencongnya, tetapi Dimas Arika Mihardja menyulamnya dalam peristiwa tsunami di serambi Mekah yang pilu itu sebagaimana juga dilakukan Hasyuda Abadi (Malaysia). Tapi tak sedikit pula percikan perenungan yang kadang-kadang tidak terduga. Dalam sajak Kim Tae Hyung (Korsel) dengan latar belakang Siberia berjudul Diaspora misalnya disebutkan : Sebab aku sepi/ Karena aku tak bisa sendirian/ Sebab aku menderita/ Karena aku tak sempat rindu padamu.
***

MUNGKIN banyak yang diharapkan dari sajak-sajak KAPLF II tersebut. Selintas adalah wajar, lewat sajak mau juga ditangkap gegap gempita bagaimana manusia Korsel menjulang teknologi sehingga disegani di dunia, bahkan menjadi idola baru bagi remaja Indonesia lewat film dan musiknya terkini. Mungkin juga mau didengar suara bagaimana Vietnam bangkit setelah sekian tahun luluh-lantak, tapi hanya dalam waktu terbilang pendek masih mampu mengimbangi negara jirannya dalam beberapa hal termasuk Indonesia. Warga Singapura yang harus keluar negeri untuk melihat wujud sebuah kampung misalnya, mungkin bukan sebagai sesuatu yang biasa bagi kebanyakan orang di negara peserta KAPLF.

Barangkali pula, demikianlah cara Asia melampiaskan perasaannya yakni dengan sedikit menggeserkan perhatian dari suatu obyek yang sedang dihadapi, sehingga suaranya terkesan tersembunyi. Tapi bagaimanapun, suara tersebut sudah dilaungkan melalui KAPLF. Dan untuk sampai ke tahap ini pula, telah menelan waktu yang tidak pendek—tentu saja dengan sekian banyak suka dan dukanya. Setidak-tidaknya, KAPLF merupakan salah satu telor yang muncul dibenak Ko Hyeong Ryeol setelah pulang ke Korsel dari pertemuan penyair di Jepang tahun 1960-an.

Baru eksis tahun 2000, ia mendirikan suatu komunitas yang dinamakan The Poet Society of Asia (TPSA), sekaligus menjadi presidennya. Dengan lembaga itu, penyair dengan puluhan penghargaan dari Korsel tersebut, telah memperkenalkan sekitar 300 orang penyair Asia kepada pembaca Korsel lewat Majalah Sastra Sipyung. Tercatat tujuh kali pula kegiatan sastra dengan melibatkan penyair Asia dilakukannya.

“Asia adalah satu dan sekaligus tidak satu. Asia adalah kehidupan sekaligus pekuburan,” kata Ryeol. Ia kemudian mengatakan, “Benua Asia adalah tempat rahasia Timur, dari sanalah setiap pagi dimulai. Dunia bahasa leluhur yang bijaksana masih berada nun jauh di sana dan terlalu tinggi bagi kita. Kita semua mengalami sejarah penjajahan yang sama,” tuturnya, sambil menjelaskan penjajahan di Korsel, malahan tragedi bernegara sampai tahun 70-an.

Tentu saja, persoalannya tidak hanya sampai di situ karena Asia menghadapi masa depan yang menarik. Sebagaimana banyak disebut, abad ke-21 ini adalah abad Asia-Pasifik dengan titik porosnya di ASEAN dan Asia Timur termasuk Korsel. Dalam kancah ini, Korsel sudah jauh lebih maju dibandingkan negara ASEAN, malahan mampu menempatkan diri sebagai delapan besar negara pengekspor di dunia. Bandingkan penduduk ASEAN yang mencapai 300 juta jiwa —tentu saja sasaran empuk pasar— dengan Korsel yang hanya sekitar 50 juta jiwa. Lalu mana Cina, India, dan Jepang dalam komunitas KAPLF ini —mereka tentu masih di Asia yang memiliki kearifan terbilang, kan?

Bagaimanapun, terlalu naïf kalau ucapan Ryeol dengan latar belakang Asia pada tahun-tahun mendatang di atas, mengingatkan orang pada slogan Jepang yang ingin mengibarkankan bendera Asia Raya di kawasan Asean sekarang ini dan menempatkan dirinya sebagai saudara tua tahun 1940-an. Lha, sekarang kan puisi, bukan senjata seperti tahun 40-an… Wallahualam bissawab.

Taufik Ikram Jamil, sastrawan. Tinggal di Pekanbaru.

Sumber: Riau Pos, 27 November 2011

Iwan Simatupang, (Salah Seorang) Pembaharu Sastra Indonesia

-- Nelson Alwi

IWAN Simatupang, lengkapnya Iwan Martua Dongan Simatupang, merupakan bungsu dari lima bersaudara. Lahir di Sibolga, Sumatera Utara, pada 18 Januari 1928. Dan wafat di Jakarta 4 Agustus 1970.

Pendidikan Iwan di SMA Padang Sidempuan terhenti karena Agresi Belanda II (1948), lalu ia pun aktif sebagai Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Setamat HBS V/B Medan (1953) ia masuk Sekolah Kedokteran Surabaya, tidak tamat, lantaran berangkat ke Negeri Belanda.

Iwan mendalami Antropologi Budaya di Leiden (1956). Mengikuti Full Cource International Institute for Social Studies di Den Haag, dan Ecole d L’Eroupe (Brugge) di samping menekuni drama di Amsterdam (1957). Dan kemudian ia juga belajar Filsafat Barat pada Prof Jean Wahl di Sorbonne University (Paris, 1958) sambil bekerja sebagai sopir taksi dan pelayan restoran untuk menghidupi keluarganya.

Akhir 1958 Iwan kembali ke Tanah Air. Menetap sebentar di Cipanas, lantas pindah ke Bogor, menghuni Hotel Salak Kamar 52 —yang kemudian melegenda menjadi gelarnya: “Manusia Hotel Salak Kamar 52”. Secara berturut-turut ia pernah menjadi dosen di ATNI Bandung, bekerja di Pingkan Film Corporation, memimpin Zebra Film, menjadi wartawan dan sekaligus memimpin Warta Harian di Jakarta.

Pada mulanya Iwan Simatupang dikenal sebagai seorang esais yang kuat lagi berhasil mengintroduksi pemikirannya yang tajam, bernas lagi orisinal. Esai-esainya disinyalir membuat orang ternganga terbengong-bengong dan, dalam keadaan demikian orang cuma bilang: esai-esai Iwan lain daripada yang lain, unik!

Setelah itu dia juga menulis beberapa puisi, dan drama yang di antaranya terdapat lakon-lakon seperti Buah Delima dan Bulan Bujur Sangkar, Taman, Kaktus dan Kemerdekaan serta RT Nol, RW Nol. Dan sejak tahun 1959 ia pun mulai membuat cerita pendek, yang kemudian, sebanyak 15 buah, dikumpulkan dalam buku Tegak Lurus dengan Langit (Sinar Harapan, 1982).

Bagi Iwan mengarang cerpen tidak lebih daripada sebentuk “pemanasan” dalam rangka menggarap —hal yang sesungguhnya— novel. Dan novel dimaksud memang telah rampung, empat buah: Merahnya Merah (Gunung Agung, 1968) yang meraih Hadiah Seni untuk Sastra Tahun 1970 dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Ziarah (Djambatan, 1969) yang memenangkan Hadiah Sastra ASEAN 1977 untuk jenis novel/prosa, Kering (Gunung Agung, 1972) dan Kooong (Pustaka Jaya, 1975).

Kehadiran cerpen apalagi novel Iwan membuat orang jadi semakin gregetan. Cerpen maupun novel itu mirip esai, tidak logis, irrasional, inkonvensional dan lain sebagainya. Maka muncullah buat pertama kali tanggapan tertulis dari Boen S. Oemarjati dalam majalah Sastra, yang pada prinsipnya (menurut Iwan dalam tanggapan balik atas Boen) menolak cerpen Tunggu Aku di Pojok Jalan Itu.

Polemik Boen-Iwan ternyata berhasil menggugah sejumlah sastrawan untuk buka mulut. Tercatatlah pembicaraan serta resensi relatif panjang yang ditulis oleh HB Jassin (1963, 1968), Gayus Siagian (1963), Alfons Tarjadi (1969), Wing Karjo (1969), Umar Junus (1971), Henri Chambert-Loir (1971), dan Goenawan Mohamad (1972). Kecuali itu, berbagai kalangan menggelar seminar atau simposium di mana-mana dan di samping itu juga beredar sekian banyak artikel serta opini di berbagai media massa, menyoroti karya maupun kiprah Iwan.

“Tulisan-tulisan Iwan tidak sama dengan karya-karya mayoritas prosais Indonesia lainnya,” kata Satyagraha Hoerip. Konfliknya, maraton. Intens. Ke segala arah, termasuk terhadap dirinya sendiri. Dan ibarat seorang penyair, Iwan terasa benar bahwa ia senantiasa menimang kata-katanya, memilih kalimat-kalimatnya. Sehingga kata-kata dan kalimat-kalimat itu bukan hanya mendukung jalan cerita, akan tetapi juga mewarnai “keindahan” serta “filsafat” yang diusung cerita-ceritanya.

“Karya-karya Iwan berupa prosa (cerpen dan novel) lebih menampilkan suasana esai daripada sekadar bercerita,” tulis Abdul Hadi WM pula. Iwan jelas lain daripada cerpenis atau novelis lain. Dalam karya-karya Iwan kita dihadapkan pada masalah keberadaan hidup yang tak terpahami, tak punya alasan, terlempar begitu saja ke tengah kehidupan. Dan tema pokok lain yang menonjol dari Iwan adalah kegelandangan. Kegelandangan batin.

“Kalau ia simbol,” tambah Abdul Hadi, “maka itulah dunia kaum seniman dan intelektual. Cemooh, protes dan sinisme menonjol pula dan ini menggambarkan keadaan kita Indonesia dalam kemelut sosial maupun politik.”

“Mungkin secara naluriah, pemberontakan terhadap ajal adalah pemberontakan yang konyol,” ujar Korrie Layun Rampan. Namun di sinilah tercantum filsafat eksistensialisme yang dianut Iwan, yang secara matang direfleksikannya ke dalam bentuk karya sastra.

Pertanyaan tentang apa, bagaimana, mengapa, siapa, dari mana hendak ke mana dan sebagainya terhadap diri sendiri, dan makna keberadaan manusia di muka bumi dipertanyakan secara intensif sehingga tokoh-tokoh dalam karya-karya Iwan sampai pada kesadaran untuk berbuat nekat —seperti menggantung diri, menabrak kereta api dan lain sebagainya— untuk pemenuhan eksistensi. Sudut kreatif dari kesadaran ini membawa kita kepada interpretasi tentang kewajaran manusia untuk melakukan sesuatu dalam batas-batas kemampuannya.

“Komitmen Iwan dengan masalah sosial masyarakatnya cukup besar,” tukuk tambah Korrie, “dan sebenarnya itulah yang dikemukakannya dalam karya-karyanya yang avant-garde, yang mendahului zamannya.”

Sedangkan M Djufri menulis, “Iwan Simatupang merupakan novelis yang tangguh dalam perkembangan kesusastraan Indonesia mutakhir.” Pemakaian bahasanya begitu liat serta tak boros dengan kata-kata. Kata demi kata, kalimat demi kalimat dibangunnya secara bagus. Karakterisasi pola pelakunya juga begitu dominan dalam novel-novelnya. Dalam menggarap perwatakan pelaku, kecenderungan yang diamati Iwan Simatupang memang bukan hanya sekadar melengkapinya dengan nama-nama pelaku. Baginya nama-nama setiap pelaku dalam novelnya tidaklah begitu dipentingkan.

Sementara Farouk HT mengungkapkan bahwa karya-karya Iwan memang merupakan suatu gejala yang mengagetkan pembaca atau pencinta sastra, mengagetkan kehidupan sastra secara keseluruhan.

Dan kemudian ada pula yang berpendapat bahwa karya-karya Iwan bersifat “metafisis”, “roman batin”, novenu roman. Bahwa (karya) Iwan banyak dipengaruhi oleh karya-karya asing, sebagaimana disinyalir Dami N. Toda dalam Novel Baru Iwan Simatupang: “... terdapat kesan ada persamaan novel-novel Iwan dengan novel-novel kesadaran baru (the stream of conciousness novel), atau subyektif di Perancis....”

“Namun yang perlu dicatat adalah plotnya yang melompat-lompat, yang membuat cerita Iwan menjadi fragmentaris,” kata Yulia I Suryakusuma. “Ceritanya sendiri lebih merupakan suatu cerita dengan suatu alur yang pasti. Sangat abstrak, imajiner. Insiden-insiden yang digambarkan seringkali insiden-insiden cerita keadaan-keadaan yang absurd, dan tokoh-tokohnya merupakan tokoh yang kalau tidak gila, sangat aneh.”

Sementara menurut Iwan, masyarakatlah yang kudu gila, karena sudah terlalu banyak mengalami distorsi. Jadi tokoh-tokoh yang nampaknya gila itu tidak gila sebenarnya —sebenarnya kitalah yang tidak normal lagi. Tokoh-tokoh yang murni berhak mutlak-mutlakkan, karena tokoh-tokoh itu merupakan protipe atau penokohan suatu ide yang ideal.

Singkat kata, sebagian besar pencinta sastra, terutama kritikus sastra di negeri ini, mengakui bahwa karya-karya Iwan Simatupang selalu memperlihatkan trend baru yang memberi warna serta arti tersendiri bagi perkembangan sastra Indonesia. Ya, dalam berkarya Iwan telah berhasil menemukan satu bantuk baru yang lain daripada yang lain, baik dari segi tema, plot atau alur, penokohan (untuk cerpen dan novel) dan gaya bahasa untuk semua jenis karya sastra yang telah ditulis-nya.

Dan tulisan-tulisan Iwan, terutama esai, dipublikasikan melalui majalah dan koran terkemuka seperti Siasat, Konfrontasi, Zenith, Sastra, De Groene Amsterdammer, De Nieuwgier, Gajah Mada, Kompas, Sinar Harapan, Indonesia Raya, Warta Harian dan lain-lain. Selain itu, dia juga telah menulis setumpuk surat pribadi (kebanyakan kepada HB Jassin), sekian banyak makalah, laporan jurnalistik dan tajuk rencana. Dan secara tidak langsung, ia pun termasuk salah seorang korban politik PKI/Lekra, yang sejak awal sampai pertengahan tahun 1960-an gencar melakukan teror terhadap sastrawan-sastrawan kreatif Indonesia.

Nelson Alwi, peminat sastra, tinggal di Padang.

Sumber: Riau Pos, 27 November 2011

Saturday, November 26, 2011

Iwan Simatupang, Pembaru Sastra Indonesia

-- Nelson Alwi

IWAN Simatupang, lengkapnya Iwan Martua Dongan Simatupang, merupakan bungsu dari lima bersaudara. Lahir di Sibolga, Sumatera Utara, pada 18 Januari 1928. Dan wafat di Jakarta 4 Agustus 1970. Pendidikan Iwan di SMA Padang Sidempuan terhenti karena Agresi Belanda II (1948), lalu ia pun aktif sebagai Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP). Setamat HBS V/B Medan (1953) ia masuk Sekolah Kedokteran Surabaya, tidak tamat, lantaran berangkat ke Negeri Belanda.

Iwan mendalami Antropologi Budaya di Leiden (1956). Mengikuti Full Cource International Institute for Social Studies di Den Haag, dan Ecole d L'Eroupe (Brugge) di samping menekuni drama di Amsterdam (1957). Kemudian ia juga belajar Filsafat Barat pada Prof Jean Wahl di Sorbonne University (Paris, 1958) sambil bekerja di restoran untuk menghidupi keluarganya.

Akhir 1958 Iwan kembali ke Tanah Air. Menetap sebentar di Cipanas, lantas pindah ke Bogor, menghuni Hotel Salak Kamar 52 yang kemudian melegenda menjadi gelarnya: "Manusia Hotel Salak Kamar 52".

Pada mulanya Iwan Simatupang dikenal sebagai esais yang berhasil mengintroduksi pemikirannya yang tajam, bernas lagi orisinal. Esai-esainya disinyalir membuat orang ternganga dan, dalam keadaan demikian orang cuma bilang: esai-esai Iwan unik!

Setelah itu dia juga menulis puisi, drama yang di antaranya terdapat lakon Buah Delima dan Bulan Bujur Sangkar, Taman, Kaktus dan Kemerdekaan serta RT Nol, RW Nol. Sejak 1959 ia mulai membuat cerpen, kemudian, sebanyak 15 buah dikumpulkan dalam buku Tegak Lurus dengan Langit (Sinar Harapan, 1982).

Bagi Iwan mengarang cerpen tidak lebih daripada sebentuk "pemanasan" dalam rangka menggarap hal yang sesungguhnya novel. Dan novel dimaksud memang telah rampung, empat buah: Merahnya Merah (Gunung Agung, 1968) yang meraih Hadiah Seni untuk Sastra Tahun 1970 dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Ziarah (Djambatan, 1969) yang memenangkan Hadiah Sastra ASEAN 1977 untuk jenis novel/prosa, Kering (Gunung Agung, 1972) dan Kooong (Pustaka Jaya, 1975).

Kehadiran cerpen apalagi novel Iwan membuat orang jadi gregetan. Cerpen maupun novel itu mirip esai, tidak logis, irrasional, inkonvensional dan lain sebagainya. Maka muncullah tanggapan tertulis dari Boen S. Oemarjati dalam majalah Sastra, yang (menurut Iwan dalam tanggapan balik atas Boen) menolak cerpen Tunggu Aku di Pojok Jalan Itu.

Polemik Boen-Iwan ternyata menggugah sastrawan untuk buka mulut. Tercatatlah pembicaraan serta resensi relatif panjang yang ditulis HB Jassin (1963, 1968), Gayus Siagian (1963), Alfons Tarjadi (1969), Wing Karjo (1969), Umar Junus (1971), Henri Chambert-Loir (1971), dan Goenawan Mohamad (1972). "Tulisan-tulisan Iwan tidak sama dengan karya-karya mayoritas prosais Indonesia," kata Satyagraha Hoerip. Konfliknya, maraton. Intens. Ke segala arah, termasuk terhadap dirinya sendiri. Ibarat penyair, Iwan terasa benar bahwa ia senantiasa menimang kata-katanya. Sehingga kata-kata dan kalimat-kalimat itu bukan hanya mendukung jalan cerita, tetapi juga mewarnai "keindahan" serta "filsafat" yang diusung ceritanya.

"Karya-karya Iwan berupa prosa lebih menampilkan suasana esai daripada sekadar bercerita," tulis Abdul Hadi WM pula. Iwan jelas lain daripada cerpenis atau novelis lain. Dalam karya-karya Iwan kita dihadapkan pada masalah keberadaan hidup yang tak terpahami, tak punya alasan, terlempar begitu saja ke tengah kehidupan. Dan tema pokok lain yang menonjol dari Iwan adalah kegelandangan. Kegelandangan batin.

"Kalau ia simbol," tambah Abdul Hadi, "maka itulah dunia kaum seniman dan intelektual. Cemooh, protes dan sinisme menonjol pula dan ini menggambarkan keadaan kita Indonesia dalam kemelut sosial maupun politik."

Pertanyaan tentang apa, bagaimana, mengapa, siapa, dari mana hendak ke mana dan sebagainya terhadap diri sendiri, dan makna keberadaan manusia di muka bumi dipertanyakan secara intensif sehingga tokoh-tokoh dalam karya-karya Iwan sampai pada kesadaran untuk berbuat nekat seperti menggantung diri, menabrak kereta api dan lain sebagainya untuk pemenuhan eksistensi. Sudut kreatif dari kesadaran ini membawa kita kepada interpretasi tentang kewajaran manusia untuk melakukan sesuatu dalam batas-batas kemampuannya.

"Komitmen Iwan dengan masalah sosial masyarakatnya cukup besar," tukuk tambah Korrie Layun Rampan, "dan sebenarnya itulah yang dikemukakannya dalam karya-karyanya yang avant-garde, yang mendahului zamannya."

Sedangkan M Djufri menulis, "Iwan Simatupang merupakan novelis yang tangguh dalam perkembangan kesusastraan Indonesia mutakhir." Pemakaian bahasanya begitu liat serta tak boros dengan kata-kata. Kata demi kata, kalimat demi kalimat dibangunnya secara bagus. Karakterisasi pola pelakunya juga begitu dominan dalam novel-novelnya. Dalam menggarap perwatakan pelaku, kecenderungan yang diamati Iwan Simatupang memang bukan hanya sekadar melengkapinya dengan nama-nama pelaku. Baginya nama-nama setiap pelaku dalam novelnya tidaklah begitu dipentingkan. Sementara Farouk HT mengungkapkan bahwa karya-karya Iwan memang merupakan suatu gejala yang mengagetkan pembaca atau pencinta sastra, mengagetkan kehidupan sastra secara keseluruhan.

Dan kemudian ada pula yang mengatakan bahwa karya-karya Iwan bersifat "metafisis", "roman batin", novenu roman. Bahwa (karya) Iwan banyak dipengaruhi oleh karya-karya asing, sebagaimana disinyalir Dami N. Toda dalam Novel Baru Iwan Simatupang: "... terdapat kesan ada persamaan novel-novel Iwan dengan novel-novel kesadaran baru (the stream of conciousness novel), atau subyektif di Perancis...."

Sementara menurut Iwan, masyarakatlah yang kudu gila, karena sudah terlalu banyak mengalami distorsi. Jadi tokoh-tokoh yang nampaknya gila itu tidak gila sebenarnya sebenarnya kitalah yang tidak normal lagi. Tokoh-tokoh yang murni berhak mutlak-mutlakkan, karena tokoh-tokoh itu merupakan protipe atau penokohan suatu ide yang ideal.

Singkat kata, sebagian besar pencinta sastra, terutama kritikus sastra di negeri ini, mengakui bahwa karya-karya Iwan Simatupang selalu memperlihatkan trend baru yang memberi warna serta arti tersendiri bagi perkembangan sastra Indonesia. Ya, dalam berkarya Iwan telah berhasil menemukan satu bantuk baru yang lain daripada yang lain, baik dari segi tema, plot atau alur, penokohan (untuk cerpen dan novel) dan gaya bahasa untuk semua jenis karya sastra yang telah ditulisnya.

* Nelson Alwi, Esais

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 26 November 2011

Thursday, November 24, 2011

Kongres Bahasa Jawa Diikuti Peserta dari Luar Negeri

SURABAYA -- Peneliti Bahasa Jawa dari Australia, Suriname (Amerika Selatan), Malaysia, dan Belanda akan mengikuti Kongres Bahasa Jawa ke-5 di Surabaya pada 27-30 November.

"Mereka akan menghadiri Kongres Bahasa Jawa V di Surabaya yang dibuka Mendikbud Mohammad Nuh pada 27 November malam," kata anggota panitia bidang dokumentasi, informasi, dan publikasi kongres tersebut, Aryo Tumoro di Surabaya, Kamis.

Menurut dia, peserta KBJ-5 mencapai 600 orang, namun pembukaan akan dihadiri sekitar 1.200 orang. Mereka terdiri atas sinden, guru dan dosen/akademisi, mahasiswa, pengarang, budayawan, sastrawan, instansi, dan elemen lainnya.

"Para peserta akan dibagi dalam lima komisi yang membahas 50 makalah yang merupakan makalah terpilih dari 108 makalah yang diterima panitia, namun ada juga 25 makalah yang dimasukkan prosiding, di antaranya makalah peneliti dan pejabat," tuturnya.

"Sastra Jawa seperti tembang macapat, ilir-ilir Sunan Kalijogo, dan juga dolanan Jawa serta pengembangan Bahasa Jawa di kalangan gereja (Katolik) dan pesantren (Islam) juga akan dikaji dalam KBJ-5, termasuk pemasyarakatan Bahasa Jawa melalui media `online` (dalam jaringan)," ujarnya, menjelaskan.

Ia menambahkan pelaksanaan KBJ sudah berlangsung lima kali yakni KBJ-1 dilaksanakan di Semarang (Jateng), KBJ-2 di Batu (Jatim), KBJ-3 di Yogyakarta, KBJ-4 di Semarang (Jateng), dan KBJ-5 di Surabaya (Jatim).

Sumber: Antara, Kamis, 24 November 2011

Sunday, November 20, 2011

Filosofi Rumah Sunda

-- Beni Setia

RIWAYAT kumpulan sajak Mugya Syahreza Santosa, Hikayat Pemetik Kentang (penerbit Tajug, Bandung 2011) sangat orsinal karena bersikaitan dengan fenomena si penyair itu, petani kentang di Pangalengan, Bandung Selatan. Sehingga, sajak Pemetik Kentang empatik berhubungan dengan harapan seorang petani kentang.

Meskipun situasi ideal bertani itu jauh dari fakta terkini ketika komoditi kentang Indonesia diserbu oleh produk (pertanian) kentang murah dari Jerman, China, dan Birma yang membuat petani kentang Indonesia menjerit kalah bersaing.

Ihwal yang mungkin akan membuat Mugya Syahreza Santosa (MS) menuliskan ketaknyamanan petani kentang lokal di era free trading yang membuat negara seperti tidak hadir. Tapi itu mungkin akan dieksploitasi MS di tahun mendatang, karena yang akan disiperbincangkan saat ini sajak-sajak lama MS.

Sederetan sajak yang berkutat dengan ide (tematik) tentang rumah, hal intim di dapur dan di sekitar pekarangan, dari aneka sajak yang berjudul dan bertema tentang segala kuliner yang biasa disantap MS pada masa kecil di tengah keluarga, dan eksistensi tanaman tumbuh di pekarangan.

Tema orsinal yang mencengangkan, tetapi yang dalam diskusi di acara launching pra-Lomba Baca Puisi Sanggar Sastra Tasik, 11 November 2011, hanya ada dibaca di sekitar keunikannya tanpa mencari apa nada dasar yang ingin diungkapkan MS.

Bagi saya sendiri pijakan seluruh kreativitas dan kepekaan akan hal-hal di seputar dapur serta di sekitar pekarangan dari MS itu terletak pada sajak Petunjuk Dapur (hlm. 45), yang menceritakan hubungan MS dengan seseorang yang rela membuka rumahnya untuk didatangi MS, sekaligus si seseorang dan seluruh keluarga mengsianggap MS sebagai bagian dari mereka sehingga ia diajak ke dapur—tidak hanya di ruang tamu.

Aura kekeluargaan di tengah konsepsi tradisional filosofi rumah Sunda itu yang sebenarnya harus dianalisis dan dijadikan password buat masuk ke keseluruhan sajak MS dalam Hikayat Pemetik Kentang.

***

BAGI orang Sunda, rumah itu sarang, tempat seorang anak merasa nyaman dan tumbuh besar sebelum berani ke luar dan ada di luar rumah—sesekali ia pulang, meski punya rumah sendiri, seperti diisyaratkan tradisi mudik Lebaran. Sekaligus benteng di mana orang luar dan terutama orang asing tidak bisa sembarangan masuk.

Bagi orang Sunda, orang asing selalu diterima di pekarangan, di luar pintu. Tamu dan orang yang dianggap penting selalu diterima di ruang tamu karena dianggap yang dihormati, sedang keluarga selalu diterima di dapur dan bersibincang intim sambil memasak. Jadi posisi MS dalam sajak Petunjuk Dapur—yang berseting kunjungan ke rumah orang lain—sangat istimewa.

Ini ada kaitannya dengan kondisi asusila dan tak etik pada saat ini, di mana tamu (lelaki) selalu diterima di kamar dan mereka bersicengkerama intim di kamar dengan mempersetankan penghuni rumah lain dan warga di sekitar.

Ini melanggar tabu dalam khazanah kesadaran filosofis Sunda, karena seorang suami yang sah secara agama pun tak pernah bisa segera diterima di rumah dan dipersilakan masuk kamar.

Lelaki calon anggota keluarga itu harus melalui prosesi adat, ritual buka pintu dengan segala uba-rampe dan tembang mantranya. Setelah itu, baru berhak masuk kamar. Sesuatu yang relatif mendekati kesepakatan umum di banyak etnik dan budaya suku di mana pun.

Para pelacur di Dolly, Surabaya—kompleks lokalisasi terbesar di Asia Tenggara—di dekade 1950 dan 1960 mempertegas konsepsi itu dengan menawarkan diri lewat simbol kamar dalam parikan yang berbunyi, “Tanjungperak kapale kobong—mangga pinarak kamare” (‘silahkan masuk kamarnya kosong’). Menawarkan kamar, bukan diri—berbeda dengan etalase akuarium saat ini.

Dan apa yang disiartikan sebagai si orang asing yang diterima di rumah wanita itu berakar kuat dalam tradisi Madura, si suami selalu jadi bagian dari keluarga istri itu bertanggung jawab mempertahankan martabat istrinya. Tak heran lelaki Madura siap mati untuk membela kehormatan istrinya.

***

ETOS itu yang dimiliki oleh MS dan tak sadar dijadikannya kekuatan untuk menulis sajak-sajak yang intim tentang si memasak bersama keluarga di dapur, untuk makan masakan tradisional di dapur di tengah keluarga, dan untuk mengindentifikasi semua tanaman yang ada di pekarangan dan dijadikan alat untuk memsiproyeksikan apa-apa yang dirasakan sebagai kehangatan berkeluarga yang bahagia—dan terutama ketika ia merasa diterima di tengah keluarga Sayidah Anis yang juga sama hangatnya.

Saya teringat Martin Aleida, yang berbicara tentang “hidup baik-baik dan mati baik-baik”, dan MS rasanya sedang bersajak dengan aura seperti itu. Hidup istikamah serta berpuisi ihwal yang lurus-lurus saja.

Beni Setia, pengarang

Sumber: Lampung Post, Minggu, 20 November 2011

[Buku] Penggerak Pers Indonesia

Judul : Jurnalisme dan Politik di Indonesia: Biografi Kritis Mochtar Lubis (1922—2004) sebagai Pemimpin Redaksi dan Pengarang

Penulis : David T. Hill

Penerjemah : Warief Djajanto Basorie dan Hanna Rambe

Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta

Cetakan : 2011

Tebal : xiv + 362 halaman

SEJARAH jurnalisme di Indonesia pernah memiliki tokoh kontroversial: Mochtar Lubis (1922—2004). Pandangan kritis dan kemonceran koran Indonesia Raya menjadikan Mochtar Lubis sebagai lambang kebebasan pers. David T. Hill dalam buku ini menguak sosok Mochtar Lubis dengan latar sosial, politik, ekonomi, dan sastra di Indonesia.

Pilihan menuliskan biografi Mochtar Lubis menandakan ada signifikansi si tokoh dalam arus sejarah Indonesia. Hill mencatat bahwa Mochtar Lubis selama setengah abad adalah pengkritik bersuara keras terhadap penyalahgunaan kekuasaan.

Mochtar Lubis lahir di Padang, Sumatera Barat, 7 Maret 1922. Hidup dalam keluarga berkecukupan dan intelektual. Nasib diri dipertaruhkan saat merantau ke Jakarta dalam usia 17 tahun. Kota itu menjadi ruang sengit untuk menggumuli wacana intelektual, sastra, dan politik. Situasi revolusi di Jakarta memengaruhi pandangan politik dan haluan ideologi. Mochtar Lubis pun mengakui sebagai pengagum etos politik Sutan Sjahrir.

Kunjungan bersama rombongan Sutan Sjahrir ke India (1947) memberi kesadaran tentang gerakan global tentang politik dan moral di negara-negara bekas jajahan. Kepekaan politik ini jadi modal mengisahkan Indonesia secara kritis dan reflektif melalui tajuk rencana dan sastra.

Ambisi itu terpenuhi melalui penerbitan Indonesia Raya (1949) dengan semboyan “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat”. Mochtar Lubis berperan sebagai pemimpin redaksi. Agenda besar di Indonesia Raya menandai pengembangan tradisi sekuler modernis dalam praktek media di Indonesia.

Indonesia Raya masa 1950-an getol melawan korupsi dan inefisiensi di birokrasi. Konon, kalangan elite menjuluki koran Indonesia Raya sebagai "nyamuk pengganggu politik". Pelbagai kritik Mochtar Lubis dan investigasi-sensasi di Indonesia Raya mengusik penguasa.

Mochtar Lubis ditangkap dan dipenjarakan (1957). Risiko politik mengakibatkan Indonesia Raya mesti tamat. Misi jihad ala Mochtar Lubis dan Indonesia Raya berbenturan dengan nafsu kekuasaan.

Kerja di dunia pers diimbuhi oleh Mochtar Lubis melalui kerja sastra. Cerpen dan novel telah disuguhkan kepada publik. Sastra menjadi bentuk refleksi atas arus revolusi, korupsi, dan mentalitas manusia Indonesia.

Novel-novel Mochtar Lubis jadi bacaan kritis tentang kesejarahan Indonesia. Pembaca bisa simak olah cerita itu dalam novel Tidak Ada Esok (1950), Jalan Tak Ada Ujung (1952), Twilight in Jakarta (1963), Tanah Gersang (1964), Senja di Jakarta (1970), Harimau! Harimau! (1975), Maut dan Cinta (1977). Mochtar Lubis memang manusia mumpuni dan lihai bercerita.

Biografi diri sebagai wartawan dan pengarang bersambung tanpa henti. Ironi di masa Orde Lama mulai berubah saat Soeharto menggerakkan rezim Orde Baru. Indonesia Raya mendapati napas hidup lagi meski pendek.

Mochtar Lubis pun mulai memiliki "kebebasan" mengumbar kritik meski tak sepedas masa lalu. Penerbitan kembali Indonesia Raya di masa Orde Baru tak seheboh tahun 1950-an. Koran ini mungkin salah waktu, tapi masih mengusung misi mengoreksi dan mengkritisi pemerintah dalam urusan korupsi, birokrasi, dan demokrasi.

Kehebohan muncul saat Mochtar Lubis tampil di Jakarta (6 April 1977) dalam sebuah ceramah kebudayaan berjudul Kondisi dan Situasi Manusia Indonesia Kini: Dilihat dari Segi Kebudayaan dan Nilai Manusia. Dokumen itu terbit sebagai buku berjudul Manusia Indonesia: Sebuah Pertanggungjawaban (1977).

Kritik pedas dan gugatan atas mentalitas manusia Indonesia menimbulkan polemik panjang di pelbagai media massa cetak. Satire ala Mochtar Lubis membuat kuping pejabat panas: "Kita biarkan elite kita ini memperkaya diri mereka dari tahun ke tahun melakukan korupsi, mencuri hak dan milik rakyat. Semakin lama semakin besar." Gerakan melawan korupsi itu terus menggaung sampai hari ini.

Segala pemikiran dan tindakan Mochtar Lubis saat mengkritisi rezim ditanggapi dengan pemenjaraan. Mochtar Lubis merasai lagi ironi negeri pendamba demokrasi, tapi digerogoti oleh korupsi.

Pengabdian di pers dan sastra tak lekas berhenti meski ada pemenjaraan dan pengawasan ketat dari penguasa. Mochtar Lubis terus menggerakkan pers-sastra demi masa depan Indonesia. Perhatian itu adalah manifestasi menebar gagasan progresif dan modernis di kalangan masyarakat. Peran ini menjadikan Mochtar Lubis mendapat julukan "perantara kebudayaan" atau "pialang kebudayaan": menghubungkan Indonesia dengan Barat.

Segala kisah Mochtar Lubis dalam menegakkan kebebasan pers dan pengabdian sastra selama Orde Lama—Orde Baru perlahan surut di usia tua. Kesehatan Mochtar Lubis mengalami kemunduran sejak 1990-an.

Gerakan oposisi melawan Orde Baru masih menempatkan Mochtar Lubis sebagai ikon kritikus politik kendati tak segarang dulu. Kejatuhan Orde Baru (1998) ada dalam kesamaran ingatan Mochtar Lubis.

Penurunan dan kehilangan ingatan karena sakit-tua membuat Mochtar Lubis hidup dalam sedih. Kisah hidup Mochtar Lubis pun rampung 2 Juli 2004. Sosok pembangkang itu mewariskan etos-kritik untuk pengembangan jurnalisme dan kesusastraan di Indonesia. Begitu.

Bandung Mawardi, Pengelola Jagat Abjad Solo dan Penulis Buku Macaisme!

Sumber: Lampung Post, Minggu, 20 November 2011

Sastra Multikultural

-- Agus Sri Danardana


Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya.
Jika politik bengkok, sastra akan meluruskannya.

(John F. Kennedy)

Sekalipun mungkin terkesan lebai, sepertinya pernyataan mendiang Presiden Amerika Serikat itu tak terbantahkan. Bahwa sastra memiliki peran besar dalam memengaruhi kehidupan manusia (sebagai penggerak semangat perjuangan) sudah terbukti. Di India, misalnya, puisi-puisi Rabindranat Tagore telah turut membantu mengobarkan semangat rakyat India dalam melakukan perlawanan terhadap penjajahan Inggris. Begitu pula di Jerman, karya-karya Johann Wolfgang von Goethe telah menjadi sumber inspirasi utama masyarakat, tidak hanya di Jerman, tetapi di hampir seluruh Eropa. Sementara itu, di Indonesia, karya-karya Pramoedya Ananta Toer, WS Rendra, N Riantiarno, Wiji Thukul, dll juga berperan sebagai penggugah inspirasi perlawanan terhadap (penindasan) pemerintah Orde Baru.

Terkait dengan peran sastra dalam kehidupan manusia ini, penyair besar kita: Sutardji Calzoum Bachri pun pernah mengatakan (dengan analogi perbandingan) begini, “Jika tentara punya panser dan peluru, penyair hanya punya kata-kata.” Pernyataan Sutardji itu, di samping mengeksplisitkan bahwa penyair (sastrawan) dan karyanya tidak sama dengan tentara dan senjatanya, juga mengimplisitkan bahwa penanganan setiap masalah tidak harus dilakukan dengan kekerasan (secara militer): menggunakan panser dan peluru, tetapi juga dapat dilakukan dengan lembut (secara estetis dan etis): menggunakan kata-kata melalui karya sastra. Bahkan, ketika perang dan/atau kekerasan telah membuat kemanusiaan membeku, sastra diharapkan dapat melahirkan norma-norma yang mampu mengasah jiwa, membuka kepekaan, serta melahirkan pemahaman positif atas berbagai kenyataan (konflik) yang timbul dalam masyarakat. Dalam kasus Indonesia, dengan demikian, sastra juga diharapkan mampu memberi makna serta penafsiran positif atas kenyataan pluralisme.

Atas dasar itulah, mungkin, dalam beberapa tahun terakhir ini muncul wacana besar (karena ramai dikaji dan/atau diperbincangkan di seminar-seminar) tentang sastra multikultural. Bagi Indonesia, perbincangan mengenai multikulturalisme itu menjadi penting bukan semata-mata hanya karena Indonesia merupakan sebuah negara yang terdiri atas berbagai kultur (budaya) yang sangat plural, melainkan juga karena belakangan ini (terutama sejak masa pascareformasi) di Indonesia sering terjadi konflik sosial sebagai akibat dari benturan berbagai budaya masyarakatnya. Hal itu, apabila tidak ditangani secara bijak, tentu akan dapat merusak dan menghancurkan persatuan bangsa.

Multikulturalisme
Konon, konsep multikulturalisme pertama kali muncul di Amerika Serikat. Kemunculannya didorong oleh kondisi negara adidaya itu yang memang sangat pluralistis. Menurut Mahayana (2005:297), multikulturalisme merupakan sebuah filosofi liberal dari pluralisme budaya demokratis. Multikulturalisme didasarkan pada keyakinan bahwa semua kelompok budaya secara sosial dapat diwujudkan, direpresentasikan, dan dapat hidup berdampingan. Pusat perhatian dan titik tekan multikulturalisme adalah pada pemahaman dan kesadaran bahwa individu dan kelompok sosial sejatinya hidup dalam berbagai perbedaan, baik perbedaan ideologi, agama, suku bangsa, maupun budaya. Melalui pemahaman dan kesadaran itu, setiap individu sebagai bagian dari kelompok sosial dan warga suku bangsa akan dapat menempatkan perbedaan budaya dalam kerangka kesetaraan derajat, dan bukan dalam kategori kelompok mayoritas yang mendominasi kelompok minoritas.

Pada awalnya, konsep multikulturalisme diterapkan di Amerika Serikat melalui jalur pendidikan di sekolah, terutama di sekolah yang peserta didiknya memiliki latar belakang kultur (budaya) yang berbeda-beda. Namun, dalam perkembangannya, konsep tersebut merambah pula di dunia sastra (Budi Darma dalam seminar Pertemuan Sastrawan Nusantara XIII di Surabaya, Kompas, 29 September 2004). Untuk memperkuat pernyataannya itu, Budi Darma memberikan contoh karya seorang pengarang Amerika keturunan Cina bernama Amy Tan. Konon, dalam sejumlah karyanya, Amy Tan selalu mengakhirinya dengan pernyataan dan pertanyaan, “Aku adalah orang Cina, tetapi benarkah aku orang Cina? Tidak benar, karena aku adalah orang Amerika. Namun, benarkah aku orang Amerika? Ah tidak, aku orang Cina”.

Bagaimana dengan Sastra Indonesia?
Sebagai negara yang terdiri atas berbagai kultur (budaya) yang sangat plural, Indonesia secara otomatis sudah memperlihatkan kemultikulturalan itu. Begitu pula sastranya. Sejak awal kemunculannya, sastra Indonesia sudah diwarnai oleh karya-karya yang multikultural. Sekadar contoh, sebut saja Siti Nurbaya (Marah Rusli, 1920-an), Layar Terkembang (Sutan Takdir Alisyahbana, 1930-an), Gairah untuk Hidup, Gairah untuk Mati (Nasjah Djamin, 1960-an), Upacara (Korri Layun Rampan, 1970-an), Pengakuan Pariyem (Linus Suryadi AG, 1980-an), Sri Sumarah dan Bawuk (Umar Kayam, 1980-an), Burung-burung Manyar (YB Mangunwijaya, 1980-an), Chau Bau Khan (karya Remy Silado, 1990-an), Hempasan Gelombang (Taufik Ikram Jamil, 2000-an), Tempuling (Rida K Liamsi, 2000-an), Bibi Giok (Zarra Zettira, 2000-an), dan Miss Lu (Naning Pranoto, 2000-an). Karya-karya seperti itu, yang mengungkap berbagai persoalan etnis dan kultur di Indonesia, hingga kini masih terus ditulis oleh sastrawan-sastrawan Indonesia. Hal itu dapat dibuktikan, misalnya, dengan terbitnya sebuah antologi, Perayaan Kematian Liu Sie, di awal tahun 2011 ini. Antologi yang diterbitkan oleh Tikar Publishing dan dieditori oleh Raudal Tanjung Banua dan Hairus Salim HS itu memuat 21 cerita pendek (berwarna) lokal karya 21 cerpenis dari berbagai daerah di Indonesia. Di Riau, Olyrinson menerbitkan Sebutir Peluru dalam Buku (Palagan Press, 2011) dan Griven H Putra menulis “Malin Bonsu”, cerita bersambungnya di Riau Pos. Sementara itu, pada 13 Oktober 2011 lalu Komunitas Paragraf menggelar diskusi: Sastra Multikultural (sebagai rangkaian Ubud Writers & Readers Festival 2011), sedangkan pada 25-29 Oktober 2011 Riau juga digelar Korea-ASEAN Poets Literatur Festival 2011.

Begitulah, rupanya, globalisasi yang menurut cerita telah berhasil menghegemoni hampir semua segi kehidupan manusia itu, pada kenyataannya justru membuka kesadaran baru para sastrawan untuk bertunak pada persoalan lokalitas. Kenyataan itu tentu saja sangat menggembirakan karena dapat kembali membuktikan bahwa sastra memang berperan besar dalam kehidupan manusia. Ketika globalisasi mencoba mereduksi kebudayaan menjadi bersifat singular dan monokultural (dengan menstandarkan semua nilai, pola pikir, dan gaya hidup masyarakat), sastra pun mencoba mengembalikan ke sifat aslinya: plural dan multikultural (dengan menghargai dan menghidupkan kembali fakta-fakta partikular/lokalitas). Dengan cara itu berarti sastra tidak saja telah melakukan resistensi dan menghentikan proses dominasi penyeragaman dan homogenisasi yang menjadi proyek peradaban global, tetapi (ini jauh lebih penting) juga telah mencegah keterasingan masyarakat dari tatanan budayanya yang lokal dan khas.

Pertanyaannya sekarang adalah mengapa di banyak tempat (daerah) negeri ini masih sering terjadi konflik antarsuku, antaradat, antarras, dan/atau antaragama? Terkait dengan tulisan ini, jawabannya sudah dapat ditebak: karena sebagian besar rakyat Indonesia tidak membaca (karya) sastra. Menurut Taufiq Ismail, minat baca para pelajar Indonesia (apalagi masyarakat umum) sangat rendah. “Nol buku sastra,” katanya saat diminta membuat perbandingan dengan minat baca para pelajar di negara-negara maju yang bisa mencapai 100-an buku sastra per tahun.

Untuk mengatasi hal itu, menurut penulis, salah satu jalan yang dapat ditempuh adalah “memaksa” masyarakat menyenangi sastra. Cara ini tentu tidak mudah diwujudkan karena, di samping menuntut penyediaan fasilitas (buku, perpustakaan, dan ruang baca) yang memadai serta pemberian kemudahan-kemudahan pengaksesannya, juga membutuhkan kemauan dan keseriusan penanganannya. Selama ini penanganan masalah ini belum dilakukan secara optimal. Upaya yang dilakukan baru sebatas penyediaan fasilitas, belum menyentuh substansinya: menjadikan buku (baca: sastra) sebagai salah satu kebutuhan hidup manusia modern. Sebagai akibatnya, fasilitas-fasilitas itu tidak termanfaatkan secara optimal pula. Bahkan, karena kemegahannya, ada perpustakaan yang dijadikan objek wisata oleh masyarakat. Sementara itu, sikap “melecehkan” (karya) sastra pun masih terus terjadi. Celakanya, hal itu seolah dibiarkan terus berlangsung, di dunia pendidikan sekalipun.

Hal lain yang belum dilakukan secara optimal terlihat dalam kemauan dan keseriusan (good will). Dalam hal ini yang diperlukan adalah keberanian membuat kebijakan yang dapat membentuk persepsi masyarakat bahwa sastra itu penting, sepenting bidang-bidang lain, agar tidak terus-menerus dilecehkan. Sekadar contoh, sekarang ini indikator kemajuan bangsa diyakini masyarakat hanya dapat dilihat dari ilmu-ilmu pasti, sehingga olympiade matematika, kimia, biologi, dan fisika digelar di mana-mana. Sastra, sementara itu, tetap dibiarkan menyusuri jalan sepi.

Bagaimanapun, karena pada kenyataannya sastra multikultural tidak dapat dilepaskan dari kehidupan berbangsa dan bernegara, sudah seharusnya jika semua pihak (terutama pemerintah) memiliki good will untuk mengelola dan memberikan dukungan terhadap pertumbuhannya. Jika itu terjadi, insyaallah, masalah persatuan bangsa tidak akan menjadi hal yang sulit untuk diwujudkan sehingga huru-hara rasial, seperti peristiwa Mei 1998, pun tidak terulang lagi.***

Agus Sri Danardana, Kepala Balai Bahasa Riau. Telah menerbitkan puluhan buku. Buku terbarunya adalah Anomali Bahasa (Palagan Press, 2011). Tinggal di Pekanbaru.

Sumber: Riau Pos, 20 November 2011

Ihwal Melayu dan Jalan Kemelayuan

-- Syaukani Al Karim


SECARA kejiwaan, seorang anak manusia, selalu merasa lebih nyaman dan terlindungi, ketika berada di tengah-tengah komunitas yang dekat dengan dirinya, seperti keluarga sedarah, kawan sekampung, teman bermain, serta hal-hal lain yang mendekatkan secara batiniah. Kondisi dan sikap inilah, yang kemudian membuat orang, sejak dahulu kala, mulai mengurus perkara puak, kaum, suku, ras, atau bani. Lalu bertebaranlah komunitas dengan dasar pengelompokan tersebut, seperti bani Isra-El, Kaum ‘Ad, Ras Arya, dan sebagainya.

Meski dunia bergerak maju secara bergemuruh, persoalan kaum dan bani, persoalan “kami” dan “kalian”, tak pernah selesai diperkatakan, bahkan ada kecenderungan semakin mengental, dengan segala klaim kesombongan yang dilekatkan. Di Amerika Serikat saja, persoalan ini baru “selesai” dalam beberapa dekade terakhir, dan itu pun masih dimainkan dengan sejumlah catatan. Di Isra-El, persoalan kaum dan bani, yang berhubungan langsung dengan agama, bahkan menjadi mata air peperangan dengan kawasan sekitarnya, yang entah bila akan berhenti menyembur.

Dalam risalahnya, Megatrend 2000, Naisbitt dan Patricia Aburdane, menyebutkan bahwa pada abad ke-21, ada kecenderungan yang kuat untuk terjadi pengelompokan gerakan ekonomi maupun politik, melalui kesamaan ras atau suku. Naisbitt menyebut bahwa MEE, AFTA, NAFTA, dan sebagainya, merupakan indikator kebenaran, di samping maraknya semangat pulang ke rumah mimpi kebudayaan masa lalu yang melanda banyak negara (atau munculnya mata uang Euro, seakan membenarkan hal itu). Jika kita lihat pula pertikaian di beberapa tempat, seperti di Afrika dan Timur Tengah dewasa ini, pada akhirnya selalu berujung pada pertarungan gengsi antar puak dan suku. Terakhir, media massa melaporkan, bahwa Jerman mulai memperkarakan ihwal eksistensi ras mereka [Arya] dalam hubungan perkauman di negara itu.

Lalu bagaimana dengan Melayu? Bagaimana dengan Riau? Siapakah Melayu? Hendak ke manakah Melayu? Pertanyaan ini sudah kita dengar berulang-ulang dari berbagai orang awam dan sejumlah kalangan lain. Terakhir, hal ini juga menjadi pertanyaan (mungkin kegelisahan) Kawan Sastrawan Marhalim Zaini, ketika menyampaikan orasi budaya, “Akulah Melayu yang Berlari”, sempena Anugerah Sagang, 28 Oktober yang lalu. Marhalim juga sempat menyebut “kacukan”, sebagai kemungkinan identitas Melayu itu sendiri.

Saya berpendapat, bahwa sebenarnya persoalan identitas dan etnisitas, bagi Melayu di Riau, sudah lama selesai. Naskah-naskah lama, katakanlah seperti Sejarah Melayu, sudah menjawab persoalan itu secara tuntas dan terang-benderang. Ketika orang Melayu melakukan kaji asal keturunannya, yang bermula dari Iskandar Zulkarnain dari Makaduniyah (Alexander the Great dari Macedonia), dari nasab Sulaiman ‘alaihis salam hingga ke Nusyirwan Adil raja masyriq dan maghrib, atau kajian akademis tentang kedatangan sang nenek moyang dari Yunan Selatan, dari Teluk Tongkin dan Selat Hoabin, maka batang tubuh Melayu yang “kacukan” sudah menemukan maqam-nya.

Saya kira, persoalan kacukan ini, bukan hanya soal Melayu, tapi juga puak lain, karena memang tidak ada yang tunggal di bawah matahari. Pun, sebuah komunitas, kaum dan bani, selalu tumbuh dan menjadi, setelah melewati “perbincangan dan perembukan” biologis nan bersilang, setidaknya itulah yang kita baca tentang ihwal keturunan dalam kisah-kisah kitab suci. Soal penyukuan, apakah Melayu, Jawa, Tapanuli, dan seterusnya, adalah soal penamaan pasca kacukan, yang dibuat berdasar atau berangkat dari sejumlah variabel non jasadi, seperti persoalan geografis, bahasa, perilaku, estetika, dan tindakan komunitas. Melayu, dengan demikian tak lagi soal tubuh, tapi lebih mengarah pada variabel dalaman.

Begitu pula hanya dengan identitas jasadi makhluk Riau. Ketika provinsi Riau berdiri pada tahun 1957, juga telah dibuat rumusan tentang siapa putra daerah, yang memuat tiga ukuran, yaitu: yang beribu-bapak Melayu, atau salah satu dari orang tuanya Melayu, atau yang lahir di Riau meski kedua orang tuanya bukan Melayu. Dengan demikian, persoalan batang-tubuh, baik Melayu, maupun Riau, sudah demikian terang, bagai bersuluh matahari.

Berangkat dari batang-tubuh Melayu yang seperti itu, maka upaya memaknai Melayu sebagai “rumah yang terbuka”, tapi bertingkap dan berdaun pintu, seperti yang disarankan oleh kawan Marhalim Zaini, adalah sesuatu yang sudah demikian adanya dalam dunia Melayu zaman berzaman. Melayu tidak pernah gamang dalam soal itu. Keberanian Demang Lebar Daun menyerahkan kuasa kepada Sang Sapurba, keberanian menjadikan Karmawijaya asal Lasem sebagai Mahapatih oleh Raja Melaka, Menjadikan Daeng Kemboja sebagai Yang Dipertuan Muda Riau (perdana menteri), menjadikan nama Tanah Datar, Pesisir, dan Lima Puluh, sebagai nama suku di Siak Sri Inderapura, dan seterusnya, menunjukkan bahwa sedikitpun tak ada kegamangan orang Melayu dalam menjadikan dirinya sebagai rumah yang terbuka. Seorang kawan, secara berseloroh mengatakan bahwa rumah Melayu itu bahkan tak berdinding, hanya berlantai, bertiang dan beratap, dan siapapun bisa masuk dari celah-celah tiang yang berbeda dan terbuka lebar, baik sekedar untuk berteduh, pun berdiam lama.

Keterbukaan orang Melayu ini terbentuk karena sejak lama orang Melayu (kemaharajaan Melayu) telah bersentuhan dengan dunia luar, misalnya ketika Melaka menjadi pusat perdagangan internasional pasca jatuhnya Konstatinopel ke tangan Turki. Begitu pula ketika Riau-Lingga menjadikan pelabuhannya, sebagai pelabuhan bebas. Kondisi itu, dan interaksi yang tumbuh akibat bertemunya sejumlah wajah dalam perdagangan, membuat masyarakat Melayu sejak masa lampau menjelma menjadi makhluk kosmopolitan yang apresiatif.

Selain itu, keterbukaan juga menjadi sifat dasar orang Melayu. Ada sejumlah kajian dan catatan yang menjelaskan tentang keterbukaan Melayu tersebut. Hasan Junus dalam bukunya Karena Emas di Bunga Lautan (Unri Press, 2002), mengutip pandangan Emanuel Godhino de Eredia yang dimuat oleh JV Mills dalam Journal of Malayan Branch of Royal Asiatic Society, terbitan April 1930. Orang Melayu, menurut Eredia, memiliki selera yang baik dalam berpakaian, apresiatif, dan menggembirakan dalam menjalin hubungan persahabatan. Lebih menyukai sesuatu yang estetis daripada saintis. Tentu saja ada pandangan-pandangan yang buruk, tapi dalam konteks keterbukaan itu, bagi Melayu, memang sudah tabiat luhur.

Lalu ke manakah kita hendak menghala atau mengheret kemelayuan ini? Dalam perbincangan-perbincangan kebudayaan di Riau, sejak tahun 1980-an, atau yang sempat saya ikuti mulai pertengahan tahun 1990-an, bahwa semangat kemelayuan tidak lagi bermain dalam ranah penetapan jasadi, tapi lebih mengarah pada tindakan-tindakan kemelayuan itu sendiri. Beberapa kalangan berpendapat, bahwa hal yang esensi dari gerakan kemelayuan, lebih menjurus, pada bagaimana agar orang Melayu dapat bertindak sebagai orang Melayu, dalam hal yang lebih subtantif, bukan sekadar berbaju kurung atau yang serba kulit lainnya. Jika secara spiritual, kemelayuan itu sudah kukuh, maka barulah balutan baju kurung berkain samping itu, terlihat elok dan sanggam.

Tindakan kemelayuan yang subtantif itu, menurut simpulan saya dari tahun-tahun perbincangan kebudayaan yang diikuti, adalah bagaimana setiap orang Melayu memasukkan kembali sikap kemelayuan (sebuah batang yang sempat terendam) ke dalam diri, seperti keberanian, kedermawanan, kebersamaan, kehormatan, toleransi, intelektualitas, dan kesungguhan atau kegigihan, sebagai jalan untuk “merebut” dan menamai kembali tanah dan sejarah, sebagai laluan menuju matlamat pengabdian kepada negeri. Sikap ini, dalam pandangan saya, sama dengan gerakan kebudayaan di Jepang, yang ingin agar masyarakat Jepang pulang ke jalan Bushi (bushi-do) dan hidup dengan semangat samurai atau semangat mengabdi (saburau), tanpa perlu setiap hari berkimono dan menonton kabuki.

Ikhtiar menjadi Melayu semacam inilah yang hendak kita lakukan, selain dari mempertahankan bahasa dan wilayah estetika lainnya. Sepanjang seseorang berikhtiar melakukan hal-hal yang inti atau sari, dari semangat kemelayuan, maka ia atau dia, sudah menjadi Melayu, meski secara jasadi sebenarnya ia belum lama singgah di rumah Melayu. Selamat menjadi Melayu.***


Syaukani Al Karim, sastrawan Riau. Bermastautin di Pekanbaru.

Sumber: Riau Pos, 20 November 2011

Saturday, November 19, 2011

Telanjur Seniman!

-- Bandung Mawardi

"BAIKLAH, saya tidak akan mengatakan bahwa ia telanjur jadi seniman karena ia akan sedia berkelahi dengan siapa saja yang mengatakan soal telanjur itu," kata seorang tokoh dalam cerita Nasihat untuk Para Seniman garapan Misbach Yusa Biran.

Kalimat itu ditujukan untuk seniman melarat tapi memiliki "harga diri" dalam laku seni. Petikan itu menggoda: satire atas sosok dan makna seniman. Pengajuan ihwal "telanjur jadi seniman" mengandung kesan ganjil. Misbach memang sengaja memberi sindiran, mengisahkan keganjilan hidup dalam "ketelanjuran" disebabkan klaim sebagai seniman di Pasar Senen (Jakarta).

Kita masih temukan pendefinisian, kelakar, dan kritik di dunia seniman itu dalam cerita Nanggap Seniman. Misbach mengajukan humor getir dan satire, menempatkan dan menggambarkan seniman dalam dilema. Di sebuah pesta, seorang perempuan mengajukan tanya: "Wat is dat toch seniman, Mince?"

Seorang lelaki enteng memberi jawab: "Itu, orang-orang yang suka pakai jenggot, met cangklong, en pakaian yang slordig." Jawab ini menggemaskan tapi memang jadi kelakar dan penghiburan bagi mereka saat pesta. Di pesta kaum muda itu sengaja mengundang seniman.

Undangan untuk "manusia-seniman" demi tawa dan ramai. Seniman itu makhluk aneh, lucu, dan unik. Jadi, pantas jadi hiburan.

Misbach juga sodorkan definisi dan gagasan seniman dalam cerita Kalau Bung Seniman, Jangan Tinggal di Kampung. Kita bisa simak dari kutipan pertemuan dua "seniman", di suatu malam, di Pasar Senen: "Dari cara duduk yang semaunya itu, dari semula sudah saya duga bahwa anak ini tentunya termasuk bangsa-bangsa seniman. Oleh karena malam itu, saya mengenakan baju yang siangnya saya pakai tidur, lecek, maka saya pun tidak menyalahkan kalau dia sebaliknya mengira saya seniman pula." Dua orang itu saling mengira, saling "menerima" pengakuan diri sebagai seniman. Definisi itu muncul melalu cara duduk dan pakaian lecek. Sepele!

Di tengah cerita, pengakuan sebagai seniman dibenturkan dengan anggapan umum. Seniman itu sesumbar-mengeluh: "Bagaimana saya bisa menjelaskan pada mereka bahwa pekerjaan seorang seniman tidak sama dengan pegawai-pegawai biasa yang pernah mereka kenal?" Seniman itu menuntut ada "keharusan" membedakan diri, meminta pengakuan-pemakluman masyarakat. Ironis!

Tiga cerita tentang seniman itu adalah taburan cerita-situasi Pasar Senen di tahun 1950-an dan 1960-an. Gairah mengisahkan seniman begitu impresif dan representatif. Cerita-cerita itu memang digarap Misbach kala membaur diri dalam geliat dunia seniman di Pasar Senen. Jadi, segala humor, satire, kritik, atau pujian atas sosok seniman merupakan tanggapan dari dunia dalam.

Pandangan tentang seniman memang fasih diceritakan oleh Misbach. Hal ini mengartikan ada episode-episode pembentuk citra-diri seniman dalam tautan estetika, politik, ekonomi, kota, pendidikan. Masa 1950-an menentukan pendefinisian dan pemaknaan seniman, terawetkan melalui pewarisan dari masa ke masa. Citra-diri seniman itu mungkin masih terakui sampai hari ini. Ada sebagai definisi lawas-klise tapi susah terbantah.

Sudjojono, pelukis kondang, diakui sebagai sosok penting untuk memopulerkan istilah seniman sejak 1930-an. Gambaran tentang seniman justru kerap membesar dalam arus sastra dan seni pertunjukan. Jejak pendefinisian seniman dalam drama bisa kita temukan di naskah Liburan Seniman (1944) garapan Usmar Ismail. Seniman identik dengan alienasi, pengucilan, uang, asmara, keluarga, hiburan, nasionalisme, dan moral masyarakat. Eksistensi seniman bergerak oleh tegangan konflik, utopia, resistansi, konfrontasi dalam ide-imajinasi dan praktik hidup keseharian.

Perbincangan ihwal seniman memang menggeliat di tahun 1940-an dengan ketokohan Chairil Anwar, si pujangga legendaris. Anggapan atas seniman perlahan diperkarakan dengan konteks sosial. Urusan ini mengental melalui tulisan Anas Ma'ruf, Fungsi Sosial Seniman, 1950. Perbincangan tentang seniman juga menukik ke gagasan besar Indonesia berkaitan politik-kultural.

Hal itu termaktub dalam Surat Kepertjaan "Gelanggang Seniman Merdeka" Indonesia, 18 Februari 1950. Anas Ma'ruf di awal tulisan menggambarkan situasi 1950-an: "Waktu belakangan ini banjak orang mengutik-utik soal fungsi soal seniman dalam masjarakat." Jenis kalimat ini bakal terus berulang sampai hari ini dan hari esok. Sekian jawab telah diberikan tapi kerap mengabur, samar oleh gerak jiwa zaman.

Semua rujukan dan penghadiran ihwal seniman itu memang sengaja untuk merefleksikan kesanggupan kita mengurusi definisi dan makna seniman. Seniman di 1930-an, 1940-an, 1950-an memang nostalgia tapi masih dipandang sebagai orientasi para seniman mutakhir. Definisi seniman seolah menjauh dari urusan telanjur tapi ada dalam imperatif dan godaan keprofesian. Anutan atas keprofesian ala diskursus kerja abad di XXI ini kadang malah memudarkan etos dan iman kesenimanan. Keprofesian itu rentan bias oleh uang, jabatan, dan popularitas. Begitu.

Bandung Mawardi
, Pengelola Jagat Abjad Solo

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 19 November 2011

Friday, November 18, 2011

Terancam Tergerus Bahasa Asing

RASA bangga terhadap bahasa asing yang terlalu tinggi adalah salah satu faktor yang mengikis rasa cinta masyarakat untuk menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar. Itulah yang fenomena yang terjadi pada generasi muda sekarang.

Pendapat itu dilontarkan Hanifan Fuadi Fathul M, Duta Bahasa Nasional 2011 dari Jawa Tengah, kepada Media Indonesia di Semarang, Selasa (15/11). Bahkan dia menyebut tingkat apresiasi mahasiswa terhadap sastra Indonesia rendah. Sebagian besar mahasiswa, kata dia, berpikir bahwa sastra, seperti puisi, novel, teater sulit untuk dinikmati karena bahasanya yang hanya bisa dipahami oleh kalangan tertentu saja.

Adapun Duta Bahasa Nasional 2011 yang juga berasal dari Jateng, Elizabeth Yuniar, menambahkan bahwa bahasa Indonesia bukanlah legenda yang hanya dituturkan oleh orang yang tua usianya. Jika hal itu benar-benar terjadi, bahasa Indonesia akan mengalami kepunahan. Karena itu, Gerakan Cinta Bahasa Indonesia (GCBI) adalah salah satu langkah untuk menjaga kelestarian bahasa Indonesia.

Generasi muda, katanya, termasuk di dalamnya pelajar dan mahasiswa dianggap memiliki kekuatan untuk mempetahankan bahasa nasional melalui intelektualitas dan semangatnya. Tentu, diperlukan rasa cinta terhadap bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa hingga akhirnya menumbuhkan rasa ingin mempertahankannya.

"Rasa cinta ini dimulai dengan keikutsertaan masyarakat Indonesia secara langsung dalam ruang yang disediakan untuk mengapresiasi bahasa Indonesia dalam beragam bentuk. Puisi, artikel kebahasaan, ragam tulis maupun lisan lain dalam bahasa Indonesia dihadirkan dalam Gerakan Cinta Bahasa Indonesia (GCBI)," ujar mahasiswi semester 5 FISIP Universitas Sebelas Maret Surakarta ini.

Secara terpisah, pengamat pendidikan Arief Rachman menanggapi positif gagasan Badan Bahasa untuk menggaungkan. "Gerakan ini menandai cinta kita pada falsafah bahasa itu sendiri yang mengandung nilai-nilai dan norma keindonesian," cetusnya.

Jadi, kata dia, kalau bahasa Indonesia punah, kebudayaan akan punah dan identitas Indonesia akan hancur. Sebab itu, bahasa merupakan mutiara yang mempunyai empat fungsi yakni sebagai alat komunikasi, nilai dan norma, dasar filosofis, dan dasar politis.

Bahasa internasional

Arief lebih jauh optimistis bahwa bahasa Indonesia berpeluang menjadi bahasa internasional, khususnya di Asia Tenggara. "Saya kira bahasa Indonesia dapat menjadi bahasa internasional," kata Guru Besar Universitas Negeri Jakarta itu saat ditemui di kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jakarta, awal pekan ini.

Keyakinan itu dilandasi karena bahasa Indonesia telah banyak digunakan di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Timor Leste. Arief mencontohkan bahasa China yang bisa menjadi bahasa internasional meski tidak dipakai di Eropa mengingat penduduknya terbesar dan tersebar di dunia. Sebaliknya, bahasa Jerman hanya dipakai di Jerman sehingga tidak menjadi bahasa internasional walau punya kedudukan di PBB.

Untuk itu, Arief mengimbau Badan Bahasa di Kemendikbud lebih aktif mengampanyekan gerakan cinta bahasa Indonesia. ”Bahasa Indonesia bukan hanya dipelajari di sekolah, tetapi juga harus dipakai sebagai bahasa komunikasi sehari-hari,” ujarnya.

Untuk memperluas penggunaan bahasa Indonesia, Kepala Badan Bahasa Kemendikbud Agus Dharma berencana menambah pusat bahasa dan kebudayaan Indonesia di setiap negara. Sejauh ini, ada 150 pusat bahasa dan kebudayaan Indonesia di 48 negara. ”Jumlahnya akan bertambah. Kuncinya, orang akan tertarik pada bahasa Indonesia jika tertarik pada budaya kita.”

Namun, Agus mengimbau agar masyarakat tidak terlalu tinggi berharap bahasa Indonesia akan menjadi bahasa internasional, apalagi jika tidak dihargai di negeri sendiri seperti saat ini. Ia khawatir nilai-nilai bahasa Indonesia kian tergerus bahasa asing, terutama bahasa Inggris. ”Orang lebih suka memakai bahasa Inggris karena dianggap keren, pintar, dan unggul. Padahal, tidak juga. Penghargaan pada bahasa Indonesia harus mulai dari diri kita sendiri,” tandasnya. (HT/Bay/H-1)

Sumber: Media Indonesia, Jumat, 18 November 2011

Cinta Bahasa Indonesia bukan Sekadar Gerakan

-- Hafizd Mukti Ahmad

Gerakan menggunakan berbahasa Indonesia yang baik dan benar semestinya dimulai dari kalangan pemerintah.

KEMERDEKAAN Indonesia pada 17 Agustus 1945 tidak lepas dari penggunaan bahasa Indonesia sebagai faktor pemersatu bangsa. Bahasa Indonesia telah menjadi motor penggerak kemerdekaan sejak dideklarasikan sebagai bahasa nasional dalam Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 silam.

Sayangnya, setelah 61 tahun merdeka atau 83 tahun pascadeklarasi Sumpah Pemuda, bahasa Indonesia belum mendapat tempat yang semestinya di negeri sendiri. Menurut budayawan Arswendo Atmowiloto, secara institusi formal bahasa Indonesia belum dipakai secara maksimal.

Ia mencontohkan banyak pemimpin di negeri ini yang lebih senang menggunakan bahasa asing, padahal istilah asing itu pun memiliki padanan katanya dalam bahasa Indonesia. "Orang-orang di lembaga pendidikan pun bahasa Indonesianya masih blepotan. Termasuk di pemerintahan. Contohnya political will yang sering dipakai pak presiden. Mungkin untuk gagah-gagahan kali ya," ujarnya dengan nada berguyon.

Bahasa Indonesia, lanjutnya, tidak akan berkembang hanya dengan melakukan kampanye, tapi pemerintah juga masyarakat perlu menyediakan ruang agar bahasa Indonesia yang baik dan benar ini mampu memasyarakat. "Jangan sedikit-sedikit bahasa Inggris."

Ada dua pendekatan yang harus dilakukan dalam penggunaan bahasa Indonesia, yaitu pendekatan formal seperti lewat lembaga-lembaga pendidikan. Namun, menurut Arswendo, yang paling cepat adalah pendekatan kedua yaitu jalur informal karena biasanya bahasa itu berkembang lewat pergaulan. Banyak istilah yang muncul dari pergaulan itu.

"Istilah-istilah itu harus diakomodasikan sehingga bahasa terus berkembang. Itulah mengapa bisa saya katakan, bahasa Indonesia bahasa yang sangat kaya," pungkasnya.

Cinta bahasa

Berbagai upaya memang telah dilakukan pemerintah. Salah satunya dengan menggelar Gerakan Cinta Bahasa Indonesia (GCBI) pada peringatan puncak Bulan Bahasa dan Sastra 2011 pada 28 Oktober lalu di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

Gerakan ini bertujuan untuk menegaskan dan memantapkan kembali kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Penghargaan diberikan kepada instansi pemerintah maupun swasta yang dinilai peduli dalam penggunaan bahasa Indonesia. Tiga daerah yang mendapat apresiasi tahun ini adalah DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Sulawesi Tenggara.

Wakil Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Budaya Wiendu Nuryanti mengatakan, penggunaan bahasa Indonesia pada setiap instansi itu memang belum sempurna. "Tetapi semangat dan tekad untuk peduli dan mencintai bahasa Indonesia di instansi itu patut mendapatkan penghargaan,” ujarnya.

Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud Yeyen Maryani mengatakan aktivitas GCBI serta Bulan Bahasa dan Sastra 2011 merupakan salah satu implementasi Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan, yang dirasakan kurang disosialisasikan.

Dari pemimpin

Secara terpisah, Ketua Forum Bahasa Media Massa Jateng Widiyartono menilai pemberian penghargaan kepada Gubernur Jateng Bibit Waluyo lebih bernuansa politis. Penghargaan itu seyogianya bertujuan agar pemakaian bahasa Indonesia secara baik dan benar bisa dilakukan di jajaran pemerintahan provinsi, seperti dalam hal surat-menyurat kedinasan dan juga penulisan papan nama kantor atau instansi.

Namun, pada kenyataannya, Gubernur justru sering kali menggunakan bahasa gado-gado Indonesia dan Jawa dalam kesempatan resmi. Pemerintah daerah, lanjut Widi, baik provinsi maupun kabupaten/kota seharusnya memerhatikan pengutamaan bahasa Indonesia, misalnya dalam penamaan kawasan perumahan. Nama-nama seperti Hill Tamansari, Pandanaran Hill, Plamongan Indah Regency, dan Greenwood mencitrakan seolah warga berada di negara asing.

"Bupati/Wali Kota semestinya bisa membuat aturan agar nama-nama itu lebih mengindonesia, misalnya Bukit Pandanaran, Bukit Tamansari, kawasan perumahan Plamongan Indah, Griya Wahid, Puri Anjasmara juga tidak kalah bagus."

Dia mengatakan bahwa penggunaan bahasa Indonesia secara benar sebaiknya dimulai dari kalangan pemerintah karena menjadi contoh bagi masyarakat. Kalau pemimpin bisa menjadi teladan, pungkasnya, rakyat pun akan mengikutinya. (Bay/HT/H-1)

hafizd@mediaindonesia.com

Sumber: Media Indonesia, Jumat, 18 November 2011

Wednesday, November 16, 2011

Kebahasaan: Bahasa Indonesia Bisa Jadi Bahasa Internasional

-- Inggried Dwi Wedhaswary

JAKARTA, KOMPAS.com — Bahasa Indonesia mampu menjadi bahasa internasional karena tidak asing lagi di telinga komunitas internasional, khususnya di negara-negara tetangga. Peluang bahasa Indonesia dinilai cukup besar apabila dibandingkan dengan berbagai bahasa di Eropa.

PBB baru menolak bahasa Jerman menjadi bahasa internasional karena hanya dipakai di Jerman. Beda dengan bahasa Indonesia yang digunakan di banyak negara.
-- Arief Rachman

Hal itu dikemukakan Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Arief Rachman, Selasa (15/11/2011), di Jakarta.

”Saya optimistis bisa jadi bahasa internasional. PBB baru menolak bahasa Jerman menjadi bahasa internasional karena hanya dipakai di Jerman. Beda dengan bahasa Indonesia yang digunakan di banyak negara,” ujarnya.

Untuk itu, Arif mengimbau Badan Bahasa di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan lebih aktif mengampanyekan gerakan cinta bahasa Indonesia. ”Bahasa Indonesia bukan hanya dipelajari di sekolah, tetapi harus dipakai juga sebagai bahasa komunikasi harian,” ujarnya.

Untuk memperluas penggunaan bahasa Indonesia, Kepala Badan Pusat Bahasa Kemdikbud Agus Dharma berencana menambah pusat bahasa dan kebudayaan Indonesia di setiap negara. Sejauh ini, ada 150 pusat bahasa dan kebudayaan Indonesia di 48 negara. ”Jumlahnya akan bertambah. Kuncinya, orang akan tertarik pada bahasa Indonesia jika tertarik pada budaya kita,” ujarnya.

Meski demikian, Agus mengimbau agar jangan terlalu tinggi berharap bahasa Indonesia akan menjadi bahasa internasional. Apalagi apabila bahasa Indonesia tidak dihargai di negeri sendiri seperti saat ini.

Agus khawatir nilai-nilai bahasa Indonesia kian tergerus bahasa asing, terutama bahasa Inggris. ”Orang lebih suka memakai bahasa Inggris karena dianggap keren, pintar, dan unggul. Padahal, tidak juga. Penghargaan pada bahasa (Indonesia) harus mulai dari diri kita sendiri,” kata dia. (LUK)

Sumber: Edukasi, Kompas.com, Rabu, 16 November 2011

Bahasa Indonesia di Forum ASEAN

NUSA DUA, BALI - Wacana menjadikan Bahasa Indonesia menjadi 'bahasa ASEAN" sepertinya bukan isap jempol semata.

ANTARA/WAHYU PUTRO A

Perlahan-lahan wacana itu berusaha diwujudkan seperti terjadi pada pagi ini, Rabu pukul 9.35 WITA, di Bali Nusa Dua Convention Centre di mana KTT ASEAN ke-19 dan dua KTT terkait dilangsungkan.

Adalah Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Hadi Purnomo yang berbicara dalam Bahasa Indonesia di forum internasional itu.

Dia berpidato pada pertemuan badan pemeriksa keuangan se-ASEAN yang dihadiri dan dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Hadi menyebut forum ini penting bagi kawasan mengingat ASEAN tak akan lama lagi pada 2015 menjadi sebuah komunitas bersama, Komunitas ASEAN.

Rangkaian kalimat dalam Bahasa Indonesia dari Hadi Purnomo ini tidak berlanjut kepada Presiden Yudhoyono karena sang presiden menyampaikan pidato dalam Bahasa Inggris.

Namun, baik Yudhoyono maupun Hadi Purnomo menyampaikan salam penutup yang umum digunakan masyarakat Indonesia. Keduanya berkata, "Wassalamualaikum."

Sumber: Antara, Rabu, 16 November 2011

Tuesday, November 15, 2011

Bahasa Indonesia Terbesar Ketiga di Twitter

-- Wicaksono Surya Hidayat

KOMPAS.com - Indonesia merupakan salah satu negara pengguna Twitter terbesar di dunia. Wajar saja jika penggunaan Bahasa Indonesia di situs itu sangat banyak. Tapi, seberapa banyak?

Sebuah analisis dilakukan oleh beberapa peneliti di AS dengan memanfaatkan piranti lunak Compact Language Detector (CLD) yang dibenamkan Google pada setiap browser Chrome mereka. CLD bersifat Open Source dan telah diekstrak oleh Mike McCandless sehingga bisa digunakan oleh banyak orang.

Adalah Eric Fischer yang menerapkan piranti lunak itu pada Twitter dan, melalui pengolahan lanjutan, menghasilkan sebuah peta yang menarik untuk dilihat.

Pada peta tersebut, bisa terlihat gambaran kasar sebaran pengguna Twitter di Indonesia. Jawa terlihat paling jelas, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi cukup tampak meski tak utuh. Sedangkan Papua agaknya memiliki pengguna Twitter paling sedikit karena nyaris tak terlihat.

Dari hasil analisa tersebut, berikut adalah 10 besar bahasa yang paling banyak digunakan di Twitter:

Inggris
Portugis
Indonesia
Spanyol
Malaysia
Jepang
Belanda
Korea
Filipina
Russia

Sumber: Edukasi, Kompas.com, Selasa, 15 November 2011

Monday, November 14, 2011

[Teraju] Mengenang Kontribusi Cersil dalam Pembangunan Identitas Nasional

-- Teguh Setiawan

Cersil memberikan kontribusi bagi perkembangan salah satu identitas nasional, yaitu bahasa Indonesia.

BAKRIE MZ, pegawai pada salah satu instansi pemerintah di Jakarta Barat, masih menyimpan kenangan masa-masa akhir booming cerita silat (cersil) pada 1980-an. Ia bukan sekadar pembaca setia karya-karya Kho Ping Ho, Jin Yong, dan cersil terjemahan, melainkan juga pelaku bisnis penyewaan. "Orang tua saya mengubah bagian depan rumah menjadi taman bacaan yang diberi nama Surya Kencana," kenang Bakrie, kini berusia 47 tahun.

Setiap hari, menurut Bakrie, rumahnya tak pernah sepi pengunjung. Pelanggannya tidak hanya dari lingkungan sekitar rumah, tapi juga dari jauh. Penyewa berkantong tebal enggan membaca di tempat, tapi membawa bacaan sewaannya ke rumah.

Bakrie menikmati booming terakhir itu. Yang pasti, dia tidak sendiri. Rakiman, warga Grogol, Jakarta Barat, juga punya kenangan sama. Namun, keduanya tidak tahu berapa lama booming terakhir cersil terjadi. "Setahu saya sangat singkat. Sebab, tidak ada bisnis penyewaan saat itu yang bertahan lama," ujar Rakiman. "Bisnis penyewaan yang sempat bertahan lama terdapat di pinggiran Jakarta."

Kini, telah lebih dua dekade cersil, hampir mustahil menemukan remaja dan orang dewasa menghabiskan waktu membaca buku-buku cerita silat. Beberapa penerbit masih mencoba melestarikannya dengan terus mengeluakan ediri baru, tapi eksemplar yang terjual sangat kecil.

Di toko buku, cersil disandingkan dengan teen lit, chick lit-atau novel-novel populer dengan tokoh gadis remaja-dan manga (kartun Jepang). Cersil tidak pernah disandingkan dengan novel-novel sastra dan relatif dianggap sebagai bacaan rendahan.

Cersil boleh saja lenyap dari khazanah bacaan publik. Namun, sebagai genre sastra populer yang pernah 'meracuni' masyarakatnya, cersil tidak akan pernah lenyap. Cersil masih akan terpelihara karena masih memiliki pembaca dengan jumlah ribuan.

Pembaca setia itu pada 2004 membentuk Masyarakat Tjerita Silat (MTjersil). Mereka berupaya memopulerkan kembali cersil dengan berbagai cara, salah satunya menerbitkan majalah Rimba Hijau serta mendigitalkan beberapa karya.

Terakhir, Mtjersil-bekerja sama dengan Pusat Kajian Budaya Tionghoa, Universitas Tarumanegara-menggelar seminar bertajuk "Cerita Silat di Indonesia: Pembentukan Karakter Bangsa". Seminar menghadirkan dua pembicara utama; budayawan Dali Santun Naga dan KH Salahuddin Wahid, pemakalah Leo Suryadinata (direktur Chinese Heritage Center, Singapura), Prof Claudine Salmon (peneliti Ecole Francaise d'Extreme Orient, Prancis), Edward Buckingham-kandidat dokter dan peneliti cersil-serta Dede Oetomo, sosiolog Universitas Airlangga, Surabaya.

Peserta seminar datang dari berbagai kota di Pulau Jawa. Mereka rata-rata berusia jelang 50 tahun dan setengah abad lebih serta dari berbagai latar etnis. Merekalah pasar, semoga bukan yang terakhir, cersil. Beberapa dari mereka adalah pengoleksi, lainnya mengaku masih sering membaca kembali cersil yang pernah populer pada masanya.

Pengaruh cersil
Seminar berupaya mencari kaitan cersil dengan pembentukan karakter bangsa. Sutrisno Murtiyoso, mantan ketua MTjersil, mengatakan belum ada penelitian sejauh mana cersil membentuk karakter pembacanya. Namun, kata pria gondrong yang biasa dipanggil Sumur ini, banyak anggota MTjersil yang mengaku terpengaruh buku-buku cerita silat yang dibaca saat remaja.

"Banyak pencinta cersil mengatakan belajar tentang kesetiaan, kesetiakawanan sosial, dorongan untuk selalu membela yang lemah, dari cerita silat," ujar Sumur. "Nilai-nilai itu kan yang tidak kita temui saat ini."

Berbeda dengan Sumur, Dali Santun Naga mengatakan cersil mengandung nilai-nilai positif dan negatif. Di satu sisi, cersil-terjemahan atau bukan-mengajarkan kekerasan, dendam, intrik, dan pengingkaran terhadap hukum. Di sisi lain, cersil mengajarkan pentingnya loyalitas, ketekunan belajar, penentangan terhadap kesewenangan, dan pembelaan kepada kaum lemah.

Cara memahami ambivalensi ini sederhana saja. Seting cersil adalah masyarakat Cina zaman baheula ketika tatanan hukum belum mapan. Mengutip Herbert Allen Gilles, Dali mengatakan, dalam dunia persilatan di daratan Cina masa lampau, pesilat boleh melakukan apa saja asal tidak melanggar tradisi. Hukum yang dikenal saat itu adalah yang kuat menang, yang lemah kalah.

Cersil bisa menjadi kontraproduktif ketika pembaca lebih banyak menangkap nilai-nilai negatif dan hanya sedikit menyerap pesan moral dan kedalaman filsafat yang terkandung. Namun, bisa menjadi sangat produktif jika yang terjadi sebaliknya.

Jadi, menurut Leo Suryadinata, perlu sikap kritis ketika membaca cersil. Ia juga menekankan cersil adalah dongeng untuk orang dewasa, bukan anak-anak. Lebih penting lagi, cersil harus dijadikan karya sastra dan dengan satu tujuan: menghibur."Tidak seluruh tokoh dalam cersil berwatak sempurna dan boleh ditiru," kata Leo. "Jika kebetulan pembaca terpengaruh sosok pendekar berbudi luhur, tentu tidak masalah.

Sedangkan, Salahuddin Wahid menilai, cersil bisa saja memengaruhi sikap pembacanya, tapi mungkin belum sampai ke pembentukan karakter bangsa. Alasannya, pembentukan karakter bangsa tidak bisa berlangsung dalam waktu singkat dan lewat satu media, tapi sedemikian lama, berkelanjutan, dan membutuhkan banyak media.

Indentitas nasionalisme
Edward Buckingham relatif tidak menyentuh tema seminar. Ia lebih suka mengkaji cersil sebagai pembentuk identitas nasional dengan mengkaji Kho Ping Ho dan SH Mintardja-penulis cerita silat Tionghoa dan lokal. Buckingham mengatakan, cersil muncul pada awal-awal Indonesia mendefinisikan identitas nasionalnya. Minoritas Tionghoa Indonesia memainkan peranan penting dalam perkembangan bahasa nasional lewat penerbitan pers.

Pers masyarakat keturunan Tionghoa, Sin Po, Keng Po, Sin Tit Po, dan Pewarta Soerabaja, menjadi cikal bakal pers Indonesia modern saat ini, sebelum cersil menjadi genre dalam sastra Melayu. Ong Kim Tiat, Oey Kim Tiang-keduanya dari Tangerang-Kuo Lay Yen, yang pernah belajar di Tiongkok, dan Gan Kok Ling (Gan KL) memainkan peran penting dalam menyalurkan gagasan-gagasan (memes) asing lewat karya-karya terjemahannya. Begitu pula Kho Ping Ho, yang hampir sebagian besar cersilnya berseting Tiongkok.

Melalui cersil, siapa pun bisa melihat perubahan identitas minoritas Tionghoa-Indonesia dari generasi ke generasi. Bahkan, terminologi Tionghoa-Indonesia yang digunakan untuk menyebut diri mereka sendiri mengalami pergeseran dari waktu ke waktu. Sebagai contoh, generasi Tionghoa-Indonesia saat ini banyak yang tidak menggunakan terminologi orang Indonesia untuk menyebut dirinya.

Di sisi lain, menurut Leo Suryadinata, cersil memainkan peran penting dalam pengenalan budaya Tionghoa tradisional kepada masyarakat Tionghoa-Indonesia dan pribumi. Bahkan, cersil membuka mata Tionghoa-Indonesia-serta pembaca dari kalangan pribumi dengan berbagai latar etnis-akan sejarah negeri Tiongkok, meski sering pengetahuan sejarah yang disampaikan tidak selalu benar.

Lebih penting lagi, cersil memperkenalkan kepada pembacanya; Tionghoa atau bukan, akan nilai-nilai luhur dan filsafat Cina. Cersil menjadi media penting bagai pribumi dan Tionghoa untuk saling mengenal dan memahami.

Tidak hanya itu, cersil Tionghoa memengaruhi penulis-penulis pribumi untuk kreatif menulis cerita silat dengan latar masyarakat pribumi; SH Mintarja, Bastian Tito, Arswendo Atmowiloto, dan Herman Pratikto. Cersil telah memberi warna perjalanan sejarah budaya bangsa Indonesia. Jangan mungkiri fakta ini.


Salahuddin Wahid: Cersil Tidak Mengajarkan Tawuran

Salahuddin Wahid masih mengenal Thio Boe Kie, pendekar dalam cerita silat (cersil) dalam Kisah Membunuh Naga. Ia juga masih belum lupa dengan beberapa alur cersil yang pernah dibacanya dan merasa sebagian karakter dirinya dibentuk oleh bacaan yang populer pada 1960-an itu."Jika saat ini saya selalu berani mengatakan yang benar, meski orang lain mengecam, mungkin itu pengaruh cersil," ujar lelaki yang dipanggil Gus Lah ini.

Bersama Abdurahman Wahid, kakaknya yang dikenal dengan nama Gus Dur, dan adiknya, Umar Wahid, Gus Lah adalah bagian masyarakat tahun 60-an yang kecanduan cersil. Ia kerap berebut dengan dua saudaranya setiap kali cersil terbitan baru tiba.

"Suatu kali, Umar yang lebih dulu mendapatkannya," kenang Gus Lah. "Ia mencari tempat yang aman untuk membaca, yaitu di atas jembatan. Begitu asyiknya membaca, Umar terjatuh dan tangannya patah."Cersil mengajarkan banyak hal: patriotisme, kesetiaan kepada orang tua dan guru, hormat pada senior. Lebih penting lagi, cersil mengajarkan tanggung jawab, sikap kesatria, dan hidup bersahaja.

Gus Lah yakin karakter generasi muda masa lalu dibentuk oleh cersil. Sebagai contoh, generasi muda masa lalu tidak mengenal tawuran. Perkelahian dilakukan satu lawan satu dan berhenti ketika salah satu tak berdaya, atau ada orang lain yang melerai.

"Bandingkan dengan generasi muda saat ini. Hampir tidak ada lagi perkelahian satu lawan satu di kalangan anak-anak sekolah," ujarnya. "Anak sekolah akan lebih suka menghimpun kawan dan mengeroyok lawan." Seorang peserta seminar mengatakan tawuran adalah budaya militer.
Kebiasaan itu ditularkan anak-anak yang dibesarkan di lingkungan, atau asrama militer, ke luar dan ditiru begitu saja oleh generasi muda seusianya. Budaya tawuran itu terpelihara sampai saat ini.

Gus Lah juga mengatakan cersil secara tidak langsung mengjarkan falsafah hidup kepada pembacanya. Kho Ping Ho, misalnya, sering menyelipkan nasihat-nasihat filosofis, yang masuk ke alam bawah sadar pembacanya. "Namun, ada satu hal yang tidak bisa saya terima dari cersil, yaitu semangat balas dendam," ujarnya.

Memang tidak semua cersil bertema balas dendam. Ada sejumlah cersil yang bertutur tentang pengembaraan pendekar, atau kisah kepahlawanan membela kaum lemah dari kezaliman penguasa.

Gus Lah juga mengatakan yang menarik dari cersil adalah selalu ada kritik sosial di dalamnya dan kesetiaan tanpa batas seorang murid terhadap gurunya."Pada 1960-an, pesantren itu tidak ubahnya perguruan silat. Santri atau murid sangat menghormati guru. Sekarang tidak lagi," ujarnya. Menurut Gus Lah, cersil menanamkan nilai-nilai luhur dan membentuk karakter masyarakat Indonesia pada 1960-an. Dan, nilai-nilai itu kini telah lenyap dari generasi muda Indonesia saat ini.


Sumber: Republika, Senin, 14 November 2011

[Teraju] Dari Hui Rui Sampai KPH

-- Teguh Setiawan

Cersil pernah mengalami nasib sama di Tiongkok dan Indonesia; dilarang penguasa.

TAHUKAH Anda apa karya Tionghoa pertama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu. Menurut Prof Claudine Salmon, seperti dikutip Leo Suryadinata dalam makalah Cerita Silat (Tionghoa) di Indonesia: Tinjauan dan Renungan, karya Tionghoa pertama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu adalah Haij Soeij atau Hai Rui, dan terbit pada 1882. Namun, tidak ada penjelasan soal buku ini.

Ensiklopedia elektronik wikepedia.org menyebutkan, Haij (Haji) Soeij atau Hai (Haji) Rui adalah pejabat terkenal era Dinasti Ming. Ia lahir di Qiongshan, saat ini masuk Provinsi Hainan, pada 23 Januari 1514 dan meninggal 13 November 1587. Kakeknya menikah dengan wanita Arab dan memeluk Islam. Ia dibesarkan oleh ibunya yang wanita Hui atau Muslim.

Menurut history.cultural-china.com, Haji Rui terkenal dengan sebutan Lord Bao dari Selatan. Bao adalah karakter historis yang terkenal berkat integritasnya sebagai hakim. Sosok ini pernah difilmkan dengan judul "Judge Bao", dan dinikmati pemirsa dari kalangan Tionghoa dan pribumi di Indonesia.

Rui membentuk diri sebagai penyair. Ia membaca sajak-sajak dan karya-karya klasik Cina. Ia gagal dalam ujian resmi untuk menjadi pegawai negeri di Provinsi Fujian. Ia tak menyerah dan terus berusaha sampai akhirnya lolos. Akibatnya, kariernya di pemerintahan baru dimulai pada usia 39 tahun.

Ia membangun reputasinya sebagai birokrat bersih dan nyaris tanpa cacat. Ia tak kenal kata kompromi terhadap semua tindak korupsi: suap, gratifikasi, dan manipulasi. Ia memperjuangkan ketidakadilan kepada petani dengan menetapkan aturan yang jelas dalam pembayaran pajak atas tanah oleh petani dan tak segan menghukum pengemplang pajak.

Haji Rui memperlihatkan keberaniannya ketika melakukan impeachment terhadap Kaisar Jiajing pada 1656. Kaisar marah dan memvonisnya dengan hukuman mati setahun kemudian. Namun, hukuman itu tidak pernah dilaksanakan. Haji Rui dibebaskan segera setelah Kaisar Jiajing wafat.
Kaisar Longqing mengangkatnya kembali pada 1570, tapi Haji Rui dipaksa mengundurkan diri ketika kelompok birokrat yang tak menghendakinya kembali mengangkat isu kepemilikan atas tanah.

Dia pensiun dan selama 15 tahun tinggal di Hainan. Kaisar Wanli membawanya ke Nanjing, tapi dua tahun kemudian mengembuskan napas terakhir. Hai Rui seolah hidup kembali di masa Revolusi Kebudayaan dan menjadi model birokrat jujur dan memiliki integritas.

Biografi Hai Rui dibaca banyak orang Tionghoa di Indonesia, yang memicu penerbit Bruning & Co di Batavia meluncurkan karya terjemahan lainnya: Boekoe Liatkok (Lieguo-zhi atau Catatan Negara-Negara Berperang) dan Bok Sioe Tjai atau Sarjana Bok. Jingu Qiguan-yang diterjemahkan menjadi Kebaikan Kini dan Dulu-diterbitkan sebuah penerbit di Semarang.

Dekade berikutnya, sebelum abad 20, karya-karya klasik Tiongkok dialihbahasakan. Sebut saja Sam Kok (Tiga Negara), Song Kang, Batas Air atau All Men Are Brothers, dan See You. Namun, Hong Lou Meng atau The Dreams of the Red Chambers tidak pernah diterjemahkan karena tingginya bahasa sastra Tionghoa yang digunakan.

Namun, buku klasik Tionghoa yang paling banyak diterjemahkan dan sampai saat ini masih dibaca sampai sebelum Perang Dunia II adalah Sie Djin Kwie, pemuda kuat yang menjadi jenderal penakluk. Suryadinata mencatat buku ini diterjemahkan sebanyak 12 kali.

Cerita silat
Cersil berasal dari Tiongkok, tapi tidak ada yang tahu kapan genre ini berkembang. Claudine Salmon mengatakan, xiayi xiaoshuo, atau kisah pendekar yang memiliki rasa keadilan, berasal dari Dinasti Ming atau Qing. Sedangkan, Leo Suryadinata mengatakan wuxiao xiaosuo-atau cerita silat Tiongkok-telah ada sejak Dinasti Han Barat.

Para peneliti sepakat, konsep xia (pendekar atau kesatria) atau youxia (pendekar berkelana) sudah terdapat dalam buku Simaqian. Sebagai cerita yang ditulis, xiaosuo baru muncul di era Dinasti Song. Pendapat lain mengatakan, cersil baru menjadi bacaan masyarakat Tiongkok sejak munculnya Sanxia Wuyi (Tiga Pendekar dan Lima Satria) atau Qixia Wuji (Tujuh Pendekar dan Lima Satria).

Penelitian redaktur Rimba Hijau, majalah yang diterbitkan Masyarakat Tjerita Silat (MTjersil), menyebutkan di Indonesia istilah cerita silat (cersil)-sebagai terjemahan dari wuxia xiaoshuo-diperkenalkan olen Tan Tek Ho, penerjemah cersil Tionghoa yang punya nama asli Kuo Lay Yen, sebelum Perang Dunia II.

Terjemahan sesungguhnya wuxia xiaoshuo lebih rumit. Wu sering diterjemahkan sebagai silat, sementara xia adalah pendekar. Sedangkan, xiaoshuo bisa diterjemahkan sebagai roman, novel, atau cerita.

Menjadi lebih merepotkan ketika xia didefinisikan sebagai sikap memiliki budi pekerti luhur, memegang janji, siap berkorban untuk membantu orang lain, menjunjung tinggi keadilan, memiliki kesetiakawanan tinggi, membasmi kejahatan dan membela yang lemah, serta hidup demi negara dan rakyat. Jika definisi ini digunakan, banyak cersil yang tidak mengandung unsur xia.

Cersil Tionghoa tradisional mengandung unsur xia, karena hampir semua sosok utamanya sering digambarkan layaknya superman. Namun tidak seluruh cersil aliran baru, atau nontradisional, memiliki unsur xia. Penulis cersil aliran baru terkadang lebih suka menggambarkan pendekarnya sebagai manusia biasa yang bisa salah dan memiliki banyak kelemahan.

Di Indonesia, cersil Tionghoa tradisional dinikmati masyarakat keturunan Cina dalam bahasa Melayu. Ini disebabkan sejak penghujung abad ke-19, penutur bahasa Tionghoa terutama Hokkian terus menyusut. Kaum peranakan, terutama di Pulau Jawa, mengonsumsi cersil tradisional sebagai dongeng dari negeri leluhur.

Karya terjemahan terus mengalir sampai awal abad ke-20 dan mengalami booming setelah Dr Sun Yat Sen menumbangkan Dinasti Qing dan memproklamasikan Republik Tiongkok. Sejumlah nama besar adalah Pingjiang Buxiaosheng Huanzhu Louzhu dan Wang Dulu. Namun, menurut Leo Suryadinata, yang paling fenomenal adalah karya-karya aliran baru (xinpai wuxia xiaoshuo) karya Jin Yong, Liang Yusheng, dan Gu Long. Ketiganya muncul di Hong Kong pada 1950.

Di Indonesia, karya ketiganya dengan cepat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan dikonsumsi masyarakatnya yang berasal dari berbagai latar belakang. Dua tahun kemudian, Kho Ping Ho (KPH) mulai mencoba menulis cerpen. Namun, baru enam tahun kemudian cerpen pertamanya muncul di Star Weekly.

Cersil perdananya yang dibuat bersambung berjudul Pedang Pusaka Naga Putih dimuat di majalah Teratai, majalah yang didirikannya bersama sejumlah pengarang. Ia segera mendapat tempat di hati masyarakat pencinta cersil. Karya-karya KPH mampu mengatasi persaingan dengan karya-karya terjemahan karena kemampuan bertuturnya yang luar biasa.

KPH sangat produktif. Sampai akhir hayatnya, ia telah menulis 400 judul cersil berlatar Tiongkok dan 50 cersil berlatar lokal. Penggemar karya-karyanya tersebar di hampir sekujur Pulau Jawa dan dari berbagai lapisan masyarakat. Soeharto, mantan presiden Indonesia, dikabarkan penggemar berat karya-karya KPH. Dalam satu kesempatan, Soeharto pernah menyuruh ajudannya mendatangi percetakan untuk menanyakan kapan karya KPH berikutnya terbit.

Booming cersil Tionghoa memprovokasi penulis lokal untuk menulis genre yang sama tapi dengan latar belakang Jawa. Singgih Hadi (SH) Mintardja muncul sebagai penulis cersil lokal yang paling fenomenal. Ia menggunakan latar belakang Mataram era Sultan Agung untuk menulis cerita bersambung Mendung di Atas Cakrawala dan Api di Bukit Menoreh.

Mintardja mewarnai perkembangan cersil di Indonesia. Ia seolah tidak kesulitan melahirkan karya-karyanya karena menguasai Babad Tanah Jawi dan memahami sejarah Jawa dengan sangat baik.

Dilarang
Masa keemasan cersil di Indonesia sempat terganggu ketika Penguasa Pelaksana Darurat Perang Jakarta Raya melarang penerbitan cerita-cerita silat terutama yang berlatar belakang Tionghoa di sejumlah surat kabar.

Tidak ada penelitian apakah pelarangan ini berkaitan dengan keluarnya peraturan No 3 tahun 1960 tentang pembatasan terhadap pencetakan, penerbitan, pengumuman, penyampaian, penyebaran, perdagangan dan/atau penempelan surat kabar atau majalah yang mempergunakan huruf bukan huruf Latin atau huruf Arab atau huruf daerah Indonesia.

Ahmad Buchari Saleh, ketua Mtjersil, alasan pelarangan adalah cersil merusak bahasa Indonesia. Namun, analisis lain menyebutkan pelarangan itu merupakan cara militer Indonesia mengganggu kemesraan Soekarno dengan Mao Zedong dan pemimpin-pemimpin Tiongkok. Cara yang lebih keji terjadi di Bandung, lewat gerakan anti-Tionghoa.

Di Tiongkok, Mao Zedong juga memberangus cersil semasa Revolusi Kebudayaan pada 1966-1976. Namun, Deng Xiaoping-salah satu petinggi Partai Komunis Cina (PKC)-justru memelihara kebiasaannya membaca cersil. Setelah Deng Xiaoping menjalankan kebijakan buka pintu, penelitian terhadap cersil kian marak. Nasib sebaliknya terjadi di Indonesia. Penelitian cersil masih relatif baru, komunitas pencinta cersil terus menyusut.



Leo Suryadinata: Cersil tidak akan Lenyap

Jika Anda bertanya kepada generasi muda saat ini, Tionghoa atau pribumi, apakah pernah membaca cerita silat (cersil), mereka-meski mungkin tidak seluruhnya-pasti akan menjawab tidak atau belum pernah.

Namun, beberapa di antara mereka mengenal sejumlah tokoh cersil, sebut saja Sun Gouw Kong (Siluman Kera), Thoe Pa Kai (Siluman Babi), dan Sha Heshang (Siluman Pasir). Generasi muda pribumi saat ini juga mengenal Wiro Sableng dengan Kapak Nagegeni 212 atau Jaka Sembung.

Mereka mengenal tokoh-tokoh itu dari film dan sinetron, bukan dari bacaan. Kebanyakan dari mereka sama sekali tak pernah melihat buku cersil meski sejumlah karya dicetak ulang dan dijual di sejumlah toko buku. Sebagai genre sastra populer, cersil mungkin akan terpelihara di lemari koleksi pencintanya atau di ruang perpustakaan. Sebagai industri, cersil relatif telah mati akibat tidak bisa lagi menarik pembaca dari kalangan generasi muda.

Pencinta cersil yang tersisa saat ini adalah generasi tua, berusia antara 50 sampai 60 tahun, dengan populasi terus menyusut. Mungkinkah cersil akan lenyap ketika pecinta terakhirnya masuk liang lahat?

Leo Suryadinata, salah satu pembicara dalam "Cerita Silat di Indonesia dan Pembentukan Karakter Bangsa", mengatakan bahwa cersil tidak akan lenyap. Namun, lanjutnya, harus ada upaya menuliskan kembali buku-buku cersil agar bisa diapresiasi generasi muda saat ini.

"Kita tidak bisa menerbitkan kembali cersil dengan bahasa aslinya, apalagi terhadap karya-karya terjemahan," demikian Leo berpendapat. Cersil di Indonesia lahir dari masyarakat peranakan Tionghoa dan berkembang di sekujur Pulau Jawa. Masyarakat Tionghoa yang relatif tidak bisa lagi berbahasa Tionghoa, berbicara dalam bahasa Melayu pasar atau Melayu Tionghoa.

Sejak awal perkembangannya, cersil relatif telah menghadapi masalah. Cersil tidak pernah dikaji secara serius sebagai karya sastra karena dianggap menggunakan bahasa Melayu rendah. Di sisi lain, penulis atau penerjemah cersil banyak memasukkan kosakata Hokkian ke dalam karyanya.
Sebut saja, menurut Leo, kata lihai atau sue. Keduanya dengan mudah ditemui dalam banyak cersil dan digunakan pembacanya dalam pembicaraan sehari-hari. "Pengastaan dalam bahasa adalah produk politik," ujar Leo Suryadinata. "Bahwa ada masyarakat tertentu dan kuat secara politik menganggap bahasa ini rendahan, dan yang ini tinggi."

Padahal, masih menurut Leo, bahasa Melayu Tionghoa digunakan di sepanjang pantai utara Jawa sebelum bahasa Indonesia muncul. Orang Tionghoa akan menggunakan bahasa Melayu saat berkomunikasi dengan orang Jawa, Sunda, atau sesama Tionghoa yang tidak lagi mengerti bahasa Hokkian. Kini tidak ada lagi pengastaan dalam bahasa. Leo menyarankan perlu ada kajian komprehensif sebelum menuliskan kembali cersil lama ke dalam bahasa Indonesia, dengan mengubah ejaannya tapi melestarikan istilahnya untuk disajikan kepada generasi muda saat ini.


Sumber: Republika, Senin, 14 November 2011