Saturday, April 30, 2011

[Tanah Air] "Unur-unur" Berharga di Pantai Utara

-- Cornelius Helmy dan M Kurniawan

HINGGA 1985, ”unur” yang bertebaran di Kawasan Batujaya, Kabupaten Karawang, tak lebih dari gundukan tanah. Berkat jasa peneliti dan arkeolog, gundukan itu kini mewujud candi dengan beragam peninggalan berharga yang menyimpan kisah manusia masa silam pantai utara Jawa Barat.

Warga Batujaya menyebut gundukan-gundukan tanah yang tersebar di sekitar tempat tinggalnya dengan istilah unur atau lemah duhur (tanah tinggi). Sebutan unur juga mengacu pada reruntuhan bata yang menggunduk dan menyerupai sarang rayap di tengah hamparan sawah.

Sejumlah unur telah memiliki nama, seperti Unur Jiwa, Blandongan, Serut, Lempeng, Lingga, Asem, Damar, dan Gundul. Tak sedikit yang belum punya nama dan tersebar di hamparan seluas 5 kilometer persegi atau 500 hektar di wilayah Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, serta Desa Telagajaya, Kecamatan Pakisjaya. Wilayah ini berada sekitar 47 kilometer barat laut pusat kota Karawang.

Kaisin (73), juru pelihara kompleks Percandian Batujaya, warga Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, mengatakan, beberapa nama unur mengacu identifikasi warga terhadap tempat tersebut. Unur Jiwa, misalnya, disebut demikian karena sering ada domba atau kambing milik warga yang mati tanpa sebab jelas saat ditambatkan di lokasi ini. ”Tahun 1960-an, satu dari dua ekor kambing saya mati di sini, seperti beberapa kali menimpa hewan gembalaan warga lain sebelumnya,” ujarnya.

Sementara nama Blandongan mengacu pada tempat berkumpul. Saat terjadi banjir akibat luapan Sungai Citarum, Unur Blandongan menjadi tempat berkumpul bagi warga. Lokasinya lebih tinggi daripada tanah di sekitarnya sehingga terbebas dari genangan banjir.

Situs Batujaya pertama kali ditemukan tim dari Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI) tahun 1985. Sebelumnya, tim ini menerima informasi dari warga tentang keberadaan unur-unur yang berserak di Batujaya saat melanjutkan penelitian di Situs Cibuaya, tempat ditemukannya arca Wisnu I (tahun 1952), arca Wisnu II (1957), dan arca Wisnu III (1975), sekitar 15 kilometer di timur Batujaya.

Warga menginformasikan banyak menemukan bata berukuran besar di Batujaya yang terpendam di tanah atau menumpuk membentuk gundukan di tengah sawah. Jumlah reruntuhan bangunan mencapai lebih dari 20 buah dan tersebar di kompleks yang berjarak 500 meter dari Sungai Citarum itu.

Penelitian tim FSUI di Batujaya menemukan Candi Jiwa, bangunan bata berbentuk bujur sangkar berukuran 19 meter x 19 meter dan tinggi 4,7 meter di atas permukaan sawah sekitarnya. Setelah bentuknya berhasil dimunculkan secara utuh, terlihat struktur bata dengan permukaan bergelombang dan bentuk melingkar yang menyerupai bunga teratai di bagian atas bangunan.

Tahun 1999 pemugaran berlanjut ke Candi Blandongan hanya beberapa meter dari Candi Jiwa. Bangunan utama Candi Blandongan yang berukuran 25 meter x 25 meter telah terlihat utuh sejak beberapa tahun lalu, tetapi penelitian dan pemugaran reruntuhan di sekitarnya masih berlangsung hingga kini.

Manusia awal sejarah

Kompleks Percandian Batujaya menyimpan beberapa temuan penting, di antaranya motif tablet berelief Buddha, fragmen prasasti tanah liat bertuliskan aksara Pallawa, tembikar, serta kerangka-kerangka manusia. Arkeolog Hasan Djafar menyebutkan, berdasarkan penentuan pertanggalan relatif dengan karbon C-14, kerangka-kerangka manusia ini diduga berasal dari tahun 150-400 Masehi atau sebelum masa candi tahun 650-900 Masehi.

Pada awal Mei 2010, tim penggalian Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang menemukan enam kerangka manusia sekitar 50 meter di selatan Candi Blandongan dalam proyek pemugaran yang ke-11 tahun 2010. Enam kerangka itu mirip dengan ”Jack the Ripper”, sebutan untuk kerangka manusia yang ditemukan Puslit Arkenas bersama Ecole Francaise d’Extreme-Orient (Perancis) di sekitar lokasi itu tahun 2005. Selain posisi kerangka membujur arah timur laut-barat daya, di dekat kerangka juga ditemukan gerabah yang diduga bekas kubur.

Sebagian arkeolog berpendapat kerangka-kerangka itu adalah pendukung budaya candi dan berasal dari rentang waktu yang sama. Sebagian arkeolog lain menilai kerangka dikubur sebelum ada candi atau dari awal sejarah.

Arkeolog Puslit Arkenas, Amelia Driwantoro, menyebutkan, kerangka-kerangka serupa pernah ditemukan di sejumlah lokasi di utara Karawang, seperti Desa Cikuntul, Kecamatan Tempuran; Desa Kendaljaya dan Dongkal, Kecamatan Pedes; Desa Pusakajaya Utara, Kecamatan Cilebar; serta Desa Jayakerta, Kecamatan Jayakerta. Hampir di semua tempat itu ditemukan bekas kubur, termasuk tembikar dengan kemiripan corak khas Buni yang diperkirakan berkembang pada abad kedua Masehi. Nama Buni mengacu pada tempat tembikar serupa ditemukan di Buni, Bekasi, dan dicatat sebagai temuan arkeologi.

Wisata

Penelitian, penggalian, dan pemugaran unur-unur di Kompleks Percandian Batujaya masih jauh dari selesai. Namun, dengan candi, reruntuhan bangunan dan benda-benda purbakala yang ditemukan, semua itu memiliki potensi wisata edukasi dan sejarah yang luar biasa.

Sejak 2004, Situs Batujaya memiliki gedung Penyelamatan Benda Cagar Budaya yang berdiri di lahan seluas 1.500 meter persegi, berjarak sekitar 600 meter dari Candi Jiwa. Bangunan ini memiliki ruang utama berukuran 6 meter x 9 meter dengan beberapa kotak kaca untuk memamerkan benda-benda cagar budaya.

Gedung itu kini direhabilitasi, dan penambahan ruang oleh pemerintah daerah. Namun, kapasitasnya dinilai belum mewadahi ratusan benda hasil penggalian yang masih menumpuk di ruang informasi dan gudang. Gedung juga dinilai belum bisa menampung pengunjung yang terkadang mencapai puluhan hingga ratusan orang dalam sekali kunjungan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Karawang Acep Jamhuri menyatakan, pemerintah daerah menetapkan Kompleks Percandian Batujaya sebagai satu dari 11 kawasan pengembangan wisata Karawang. Kompleks itu juga diusulkan jadi kawasan strategis nasional.

Pengembangan Situs Batujaya mengalami kendala, terutama terkait pengelolaan yang melibatkan pemerintah kabupaten, provinsi, dan pusat. Satu dan lainnya saling terkait sehingga harus melalui proses penelitian, perencanaan, dan pelaksanaan yang matang. Upaya memperluas bangunan museum, misalnya, menunggu hasil penelitian dan pemetaan sehingga tidak merusak benda yang dimungkinkan berada di bawahnya.

Sumber: Kompas, Sabtu, 30 April 2011

Adab

-- Kartono Mohamad

MENGAPA kita lebih merasa jijik melihat kotoran manusia di jalan daripada melihat kotoran binatang? Sebab, di benak kita sudah tertanam bahwa manusia beradab tidak membuang kotorannya di jalanan. Hanya binatang yang tidak beradab yang demikian.

Beradab dan peradaban mempunyai kata dasar yang sama, adab. Akan tetapi, keduanya sering mempunyai jarak yang jauh. Bangsa Maya dan Inca dianggap mempunyai peradaban tinggi karena selain membangun piramida, mereka juga mampu menyusun kalender berdasarkan perputaran Matahari.

Sampai-sampai banyak orang modern memercayai ramalan kalender Maya bahwa Bumi akan berakhir 21 Desember 2012.

Namun, mereka juga punya kebiasaan mengorbankan manusia untuk dewa, mungkin juga masih melakukan kanibalisme dengan memakan daging sesama manusia. Dua perbuatan yang tidak tergolong beradab.

Bangsa yang tidak mempunyai sejarah peradaban tinggi mungkin lebih buruk lagi. Mereka mungkin lebih tidak beradab atau terlambat mengadopsi sikap beradab.

Jika peradaban ditimbang dari kemampuan menciptakan prestasi yang melampaui zamannya, beradab lebih berkaitan dengan perilaku terhadap manusia lain.

Mungkin adab setara dengan etika. Bedanya, kalau nilai-nilai baik dan benar dalam etika cenderung lebih universal dan berlaku sepanjang zaman, adab banyak dipengaruhi oleh budaya dan nilai-nilai lokal.

Adab dan budaya

Seorang anak Jawa atau orang Indonesia pada umumnya tidak berani memegang kepala orang yang lebih tua. Kalau sampai berani, ia akan dianggap tidak beradab. Demikian pula duduk lebih tinggi di hadapan orang yang lebih tua atau dihormati atau menerima pemberian menggunakan tangan kiri.

Pada orang Barat, hal-hal semacam itu dianggap biasa, bukan bagian dari ”adab”. Adab lebih berkaitan dengan budaya dan tata nilai lokal dan dapat berubah sesuai dengan zaman.

Globalisasi, demokratisasi, dan mobilitas horizontal yang tinggi telah mengubah banyak hal. Yang semula dianggap tidak beradab menjadi hal biasa.

Meski demikian, inti dari adab tetap sama, yaitu menghormati orang lain dan memperlakukan orang lain seperti ia ingin diperlakukan. Inti adab yang lain adalah menghormati hak orang lain, baik yang tercantum dalam hukum tertulis maupun tidak.

Di negara-negara yang beradab, hal ini diajarkan sejak kecil, di sekolah maupun di rumah. Jadi, kelak ia menjaga diri untuk tidak mengambil sesuatu yang bukan haknya. Ia pun tidak akan menafsirkan kedudukannya sebagai privilese untuk melanggar tata nilai atau hukum.

Oleh karena itu, di negara yang beradab, angka korupsi dan penyalahgunaan wewenang akan rendah. Di negara beradab, orang-orang yang merasa lebih kuat tidak akan menindas yang lemah. Di negara yang beradab, seseorang juga tidak akan marah kalau diingatkan ketika berbuat salah meskipun yang mengingatkan berkedudukan lebih rendah.

Indonesia dulu pernah bercita-cita membangun manusia yang adil dan beradab. Hal itu dimuat dalam Pancasila yang pernah menjadi moto bangsa Indonesia, tetapi sekarang dilupakan, bahkan ada yang ingin menggantinya dengan agama.

Akan tetapi, apakah agama sudah berhasil menciptakan manusia beradab, saya tidak tahu. Korupsi dan penindasan karena merasa lebih kuat masih terus terjadi dan juga dilakukan oleh orang yang mengaku beragama.

Mengukur adab

Kembali pada apakah kita sudah menjadi bangsa yang beradab, itu dapat dilihat dari kepatuhan pada hukum dan tata nilai, baik pada hal yang besar maupun yang tampak kecil.

Hal yang besar misalnya korupsi dan bertindak melanggar hukum karena merasa berkuasa. Hal-hal yang tampaknya kecil misalnya kepatuhan untuk antre meskipun ia orang penting (tetapi justru banyak orang Indonesia tidak mau antre karena merasa dirinya penting).

Selain itu, kepatuhan untuk tidak menyusahkan orang lain, di mana pun dia berada. Contohnya, mematuhi adab berkendaraan dan berlalu lintas, adab untuk tidak membuang sampah sembarangan, serta adab untuk tidak merokok dan menyebarkan asap kepada orang lain.

Manusia yang beradab akan merasa malu ketika melanggar aturan atau tata nilai dan akan meminta maaf ketika diingatkan. Di negara lain, orang Indonesia umumnya patuh terhadap ketentuan berperilaku di sana dan minta maaf kalau ditegur.

Di negeri sendiri, hal yang sebaliknya terjadi. Mereka tidak mau mengikuti aturan, tidak merasa malu, dan marah ketika diingatkan. Ini bukan sikap bangsa yang beradab, tetapi lebih mencerminkan bangsa penakut.

Menghadapi bangsa lain, ia akan kuncup seperti ayam disiram air. Di negeri sendiri, ia menjadi garang. Cita-cita yang tercantum dalam Pancasila semakin jauh dari jangkauan. Apalagi, Pancasila itu sendiri kini sudah dilupakan.

Kartono Mohamad, Seorang Dokter di Jakarta

Sumber: Kompas, Sabtu, 30 April 2011

[Tanah Air] Menguak Kejayaan Batujaya

-- M Kurniawan dan Cornelius Helmy

MUARA Citarum diyakini pernah menjadi pelabuhan internasional saat kerajaan terbesar di Jawa Barat, Tarumanagara (4 Masehi-8 Masehi), berkuasa. Tempat pedagang dari bangsa-bangsa lain singgah, berdagang, dan membangun peradaban. Hal itu dibuktikan dengan temuan candi, rangka manusia berikut bekas kuburnya, serta aneka corak tembikar.

Beberapa pengunjung berekreasi di Candi Blandongan di kompleks Situs Batujaya, Karawang utara, Jawa Barat, Minggu (27/3). Kompleks percandian ini diperkirakan menjadi salah satu kompleks peradaban tertua di Nusantara. (Kompas/Rony Ariyanto Nugroho)

Meski tidak ditemukan lagi sisa pelabuhan kuno, beberapa ahli dan bukti sejarah di sekitar muara Citarum menguatkan hal itu. Peneliti Cornell University, Oliver William Wolters, mengatakan, dalam kitab Nan Chou I Wu Chih yang ditulis Wan Chen, pernah ada pelabuhan internasional bernama Ko-ying atau Ka-iwang pada abad ke-3 di Jawa Barat. Pelafalan Ko-ying dan Ka-iwang diduga menjadi asal-usul penamaan Karawang.

Bukti lain didapat melalui penggalian kompleks percandian Batujaya yang dimulai tahun 1985. Kompleks percandian batu bata ini memiliki 30 candi kecil dan berjarak sekitar 500 meter dari Sungai Citarum.

Penemuan ratusan gerabah arikamedu, misalnya. Gerabah pada abad ke-3 dan ke-5 ini diduga dibawa dari Pelabuhan Arikamedu di pantai timur India. Ada juga cermin, peralatan perunggu, gelang loklak, dan keramik dari Guangdong, China, dari abad IX dan X.

Arkeolog Hasan Djafar menduga ratusan barang itu tak begitu saja muncul, tetapi dibawa jauh menggunakan kapal besar yang bersandar di Pelabuhan Citarum. Sebagian buktinya dibawa dan disimpan oleh masyarakat saat itu di kompleks percandian Batujaya, yang letaknya sama-sama di pesisir laut utara.

”Batujaya muncul dari hasil perpaduan kebudayaan antara masyarakat pendatang dan warga setempat. Namun, Batujaya sepertinya bukan pusat pemerintahan Tarumanagara, melainkan bangunan peribadatan. Di tempat ini banyak disimpan barang-barang yang diperjualbelikan di Pelabuhan Ko-ying,” tutur Hasan.

Candi Buddha

Melalui metode isotop Carbon-14 diketahui, candi Buddha ini dibangun pertama kali antara abad VI dan VII, dilanjutkan abad IX dan X. ”Sejauh ini Candi Batujaya adalah candi Buddha tertua yang pernah ditemukan di Indonesia,” ujarnya.

Situs Candi Batujaya berjarak sekitar 1 kilometer di sebelah timur aliran Sungai Citarum. Luas kompleks itu 5 kilometer persegi, yang mencakup wilayah Desa Segaran, Kecamatan Batujaya, dan Desa Telagajaya, Kecamatan Pakisjaya, atau 47 kilometer arah barat laut pusat kota Kabupaten Karawang.

Kompleks percandian ini memiliki 30 situs candi dan tempat pemujaan. Beberapa candi besar yang sudah diekskavasi adalah Candi Jiwa yang berbentuk bujur sangkar ukuran 19 meter x 19 meter serta Candi Blandongan yang berukuran 25,33 meter x 25,33 meter.

”Ada pengaruh tradisi Nalanda di India utara. Kebudayaan India itu datang seiring banyaknya pendatang dari sejumlah negara lewat perdagangan di pantai utara Jabar,” ujar Hasan.

Dari berbagai eksplorasi, ditemukan beragam bukti sejarah. Teknologi pembuatan candi terbilang canggih dan masih dipakai hingga saat ini.

Pengolahan tanah liat menjadi batu bata, misalnya. Pembuatan batu bata menerapkan inovasi campuran sekam atau kulit padi. Itu diyakini mematangkan bagian dalam batu bata saat dipanaskan hingga suhu 700 derajat celsius.

Teknologi lain adalah stuko atau plester berwarna putih berbahan dasar kapur. Kapur diambil dari pegunungan kapur di Karawang selatan. Perbukitan tersebut masuk dalam Formasi Parigi yang terdiri dari batu gamping klastik dan batu gamping terumbu yang melintang dari barat ke timur sekitar 20 kilometer.

Bahan dan kegunaannya disesuaikan dengan tujuan pengguna. Untuk melapisi tembok, arsitek mencampur kapur dan kulit kerang. Hal ini terkait dengan keberadaan candi di tepi pantai. Kerang dianggap sebagai bahan kuat penahan abrasi air laut. Stuko juga digunakan untuk membuat ornamen, relief, dan arca. Untuk ini, biasanya pekerja membakar kapur dengan suhu 900-1.000 derajat celsius. Untuk memperoleh fondasi yang kuat, kapur dicampur dengan pasir dan kerikil.

Penerapan mitigasi bencana juga sudah terlihat dari usaha meninggikan halaman candi dan mengeraskan lantai dengan lapisan beton stupa guna menghindari banjir. Buktinya bisa dilihat dari reruntuhan Candi Segaran V (Candi Blandongan). Hasan mengatakan, arsiteknya sudah mengetahui risiko banjir apabila hidup di sepanjang sungai dan muara Citarum.

Keterkaitan erat antara Batujaya dan pelabuhan di muara Citarum sempat menimbulkan perdebatan. Alasannya, kini Candi Batujaya berada 5-6 kilometer dari garis pantai Laut Jawa. Letak Batujaya pun kini lebih tinggi 2 meter di atas permukaan laut (mdpl) dibandingkan dengan muara Citarum.

Menurut ahli geografi T Bachtiar, apabila menilik kurva perubahan muka laut 10.000 tahun silam di Indonesia, terlihat jelas kebenaran teori itu. Kurva ini diambil dari tulisan Yahdi Zaim yang memuat gambar peta buatan De Klerk tahun 1983. Dikatakan bahwa telah terjadi transgresi (penambahan muka air laut) dan regresi (penurunan muka air laut) dihitung dari 7.000 tahun lalu hingga tahun 1983. Kurva tersebut menyebutkan bahwa tahun 485 Masehi-983 Masehi, atau saat pembangunan Batujaya, muara air laut berada pada ketinggian 0 mdpl-0,5 mdpl. Sejak tahun 1983 candi itu telah berada pada ketinggian 2 mdpl.

”Jika dieksplorasi lagi, yang menarik adalah kemungkinan adanya kanal mengelilingi layaknya bangunan suci kuno. Jika benar, semakin nyata bukti bahwa air, sungai, dan laut adalah identitas utama masyarakat Batujaya,” kata arkeolog dari Balai Arkeologi Bandung, Lutfi Youndri.

Sumber: Kompas, Sabtu, 30 April 2011

Sastrawan Gelandangan

-- Beni Setia

TERMIN sastrawan/penulis gelandangan dalam tulisan ini dilansir Linda Sarmili lihat, "Mencermati Halaman Sastra di Media Massa", Suara Karya, 23 April, hal ikonisasi membuat saya termangu. Apa memang ada termin semacam itu? Atau itu hanya ungkapan berlarat-larat gaya Melayu yang di satu sisi mendhaifkan diri sendiri, serta (sekaligus) paradoksal mengunggulkan si sastrawan mapan. Sebuah kontras, sekaligus konfrontasi, yang dipicu oleh semangat equalitas dari yang sama-sama suka makan nasi. Lantas apa memang ada keistimewaan yang harus digarisbawahi media massa?

Jawaban Linda Sarmili atas pertanyaan itu (sepertinya) sakralisasi yang dilengkapi dengan penempelakan halus, penghinaan tersirat dengan teks gugatan lewat retorika yang berbunyi: apa bukunya laku dijual, apa tulisannya itu kuasa membuat peningkatan oplah koran, dan apa kritikus merayakan buku dan tulisan lepasnya dengan oda kualitas. Dan di atas semua itu, Linda Sarmili masih percaya kalau nyawa koran itu penjualan eceran, dan bukan pelanggan versi cetak dan versi digital berbayar, serta iklan versi cetak dan iklan digital dalam tautan situs internet koran bersangkutan. Sebuah fakta kalau satu usaha pers selalu dibagi atas divisi redaksional dan divisi menajemen yang memuja eksplorasi dan eksploitasi ekonomi.

Di titik ini kualitas sebuah tulisan adalah kualitas tulisan itu sendiri, tidak ada kaitan apa-apa dengan level penulis gelandangan, penulis kontrak, penulis mapan, ataupun ronin (penulis lepas yang mengembara dari satu media cetak ke media cetak lain, agar setiap minggu ada tulisan dimuat dan jadi jaminan biaya hidup). Dengan kata lain, kreativitas akan membuat setiap karya berbeda, dan produktivitas memacu si sastrawan melakukan sebuah laku ketat quality control dan manajemen distribusi tulisan di Barat ketika kerja menulis telah jadi industri literasi tambahan itu diambil alih oleh editor serta publication agent. Kita masih melakukan semua pekerjaan itu, jadi tak heran kalau kita sering tidak punya kesadaran potensi literasi diri dan apa kebutuhan pasar (industri) literasi.

Tapi inti persolannya nyaris sama, ada resiko publikasi yang memaksa si sastrawan dan penulis membuat produk tulisan yang didistribusikan dan tak memusat di satu media massa cetak saja dan kehadiran yang terlalu sering membuat si penulisan gelandangan lain curiga dan suudhan dengan asumsi sangat tengik. Sekaligus kemapanan itu terkadang jadi kutukan: tulisan segera diperiksa redaktur dan seterusnya dimuat atau ditolak. Karena kualitas adalah kualitas bahkan sastrawan mapan terkadang bersilebihan dituntut untuk menciptakan tulisan yang tidak sekedar standar dan di atas yang mediocre. Jadi menjadi sastrawan/penulis mapan itu tak berkeuntungan semanis yang dibayangkan kalau hanya gitu-gitu doang ya bermakna kreativitas dan wawasannya sudah menthok. "Cuma seorang sastrawan di museum," kata Budi Darma, "bekas sastrawan," kata Iwan Simatupang.

Untuk kasus koran lokal Bogor yang merupakan anak perusahaan Jawa Pos Group, saya rasanya harus membuat catatan khusus. Radar Bogor itu, seperti koran-koran anak perusahaan Jawa Pos lainnya, merupakan suplemen daerah koran Jawa Pos sering menyebut dirinya Indo Pos, dan karenanya secara redaksional amat tergantung dari koran induk. Koran daerah itu boleh menerima iklan, dan memang iklan itu sasaran kehadirannya, tapi hanya bersihak mencari serta menerbitkan berita daerah lebih besar untuk daerah itu saja. Karena itu nyaris tidak punya rubrik opini dan sastra serta redaktur opini dan budaya mandiri, sehingga semua berita nasional, internasional, tajuk, opini, dan tulisan sastra menginduk ke koran pust. Normal menghemat.

Memang ada Radar yang mandiri, otonom, dan membuat kebijaksanaan opini serta sastra tersendiri tapi tergantung kesehatan dari koran bersangkutan. Ada level stamina finansial dan potensi penggalangan iklan tertentu, yang tak sama dari setiap daerah dan sering koran-koran daerah itu hanya suplemen KRGlembaran KRG daerah yang sangat tergantung dan menggantungkan diri kepada pasokan koran induk. Jadi meski kita memaksakan diri mengirim aneka tulisan fiksi, non-fiksi, dan opini, suplemen daerah serta si redaktur berita daerah tak terikat kewajiban untuk membaca dan memperhatikan "proposal" itu semuanya dipasok koran induk. Hemat bahkan dengan upah karyawan pers yang ada di level upah minimal. Kalaupun ia mau menerima itu kesantunan Melayu yang tidak bisa tegas mengatakan A untuk a. Terlebih kesehatan ekonomi serta ketahanan finansial mayoritas dari si koran-koran suplemen daerah di daerah itu bahkan berada di dalam kondisi "si kerakap di atas batu, hidup segan matipun tidak". Dan memahami ihwal itu sejak awal merupakan sebuah kepekaan publikasi dan sekaligus kecerdasan managemen finansial dari distribusi tulisan meski tidak semua penulis memprioritaskan hal itu. Koran suplemen daerah itu hanya hadir untuk menampung berita daerah dan sekaligus teramat leluasa untuk bertindak eksploratif dan eksploitatif menggaruk semua potensi iklan daerah atau iklan yang dikhususkan untuk di daerah tersebut.

Dan memahami itu bermakna bijaksana mengembalikan keberadaan sastra di media massa itu sebagai sastra yang dikemas untuk memancing pembaca, demi memahami apa kualifikasi ekonomi dan intelektual pembaca, dan karenanya bisa cerdas merancang iklan yang pas untuk hari Sabtu dan Minggu dengan patokan segmen pembaca tetapnya. Itu hakekat dari sastra di media massa hari sastra yang menumpang hidup di media massa, yang dikelola oleh kesadaran neo liberalisme sang kapitalistik tulen. Kualitas atau tidak berkualitas tidak penting, yang pokok itu bagaimana produk itu dikemas dan manipulasi pemasaran dilakukan sehingga selera pasar terbentuk.

Dan bila tak bisa menciptakan produk yang meledak, ya menciptakan mitos media massa sehingga iklan menjadi sangat berkepentingan untuk ikut numpang beken. Persis seperti ledakan lips sync chaiyya Shah Rukh Khan yang bernyanyi secara lips sync ala Briptu Norman Camaru, yang melulu eksploitasi popularitas sesaat karena popularitas itu bisa diciptakan. Dan celakanya tidak ada popularitas sesaat yang instan manipulatif dalam sastra. Meski sastrawan satu buku, tujuh cerpen, delapan esei, dan tiga belas puisi amat banyak. Memang!


Sumber: Suara Karya, Sabtu, 30 April 2011

Friday, April 29, 2011

Pentas Satya Budaya Indonesia: Jamus Kalimasada Dicuri

JAMUS Kalimasada dikenal sebagai pusaka Raja Amarta Prabu Puntadewa yang amat dikenal karismanya. Tentang asal-usulnya, orang bisa berbeda-beda pandangan, ada yang menyebut itu temuan Sunan Kalijaga tatkala masa penyebaran agama Islam di Pulau Jawa, namun sebagian lain berpandangan Kalimasada sudah ada sejak masa Hindu dan seiring dengan berkembangnya kisah Mahabarata.

Rebutan Kalimasada. Antara Mustakaweni (anak mendiang Prabu Nirbitokawoco, diperankan oleh Shanti Dwi S) dan Priyambada (anak Arjuna, diperankan Uniek Hestianti Sampan). (Kompas/Ninok Leksono)

Kalimasada ini pula yang Minggu (24/4) malam lalu diangkat sebagai lakon wayang orang oleh Perkumpulan Satya Budaya Indonesia (SBI). Dalam lakon ini, Kalimasada diberikan oleh permaisuri Puntadewa Drupadi kepada Gatotkaca, yang ternyata palsu. Pencuri atau duratmaka ini tidak lain adalah Mustakaweni, anak Prabu Nirbitakawaca yang sebelumnya tewas oleh satria penengah Pandawa, Arjuna.

Seiring dengan itu, ada seorang satria bernama Priyambada yang sedang ingin bertemu dengan ayahnya, yang tidak lain adalah Arjuna. Oleh Srikandi, keinginan itu akan dibantu diwujudkan asal Priyambada memperlihatkan darma bakti lebih dulu, yaitu menemukan kembali Jamus Kalimasada.

Disertai dengan pertempuran yang penuh tipu daya, Priyambada bisa mengalahkan Mustakaweni. Bahkan lebih dari itu, keduanya juga saling jatuh cinta.

Cerita ini tidak banyak menawarkan falsafah sebagaimana lakon seperti Arjuna Wiwaha atau Dewa Ruci. Namun, dikemas dengan baik, Jamus Kalimasada terbukti bisa menghibur. SBI di bawah pimpinan ketua umumnya, Endang Purnomo, yang sudah mementaskan 13 lakon wayang orang kiranya sudah memahami selera pencinta wayang orang.

Tentu saja kepiawaian tari, atau kecanggihan ontowacono, bisa menjadi olah yang terus dikembangkan berkelanjutan. Kiprah SBI dalam seni tradisi, dalam hal ini wayang orang, termasuk hal yang membesarkan hati, sebagaimana juga dilakukan oleh Sekar Budaya Nusantara dan sejumlah kelompok wayang orang lainnya. Adanya pemain rupawan dan kenes, seperti pemeran Mustakaweni, juga dukungan pemain profesional dari WO Barata, menambah daya tarik WO SBI. (Nin)

Sumber: Kompas, Jumat, 29 April 2011

Banjaran Hadiwijaya: Jaka Tingkir dan Jalan Panjang Menjadi Sultan Pajang

DALAM roman sejarah yang legendaris karya SH Mintarja, Nagasasra dan Sabukinten, Mas Karebet tidaklah tampil sedominan Mahesa Jenar atau uanya Ki Kebo Kanigara yang amat sakti. Meski demikian, Karebet dalam roman itu dilukiskan sebagai pemuda yang luar biasa, punya ilmu ajian Lembu Sekilan yang amat menakjubkan.

Jaka Tingkir (duduk, diperankan oleh Sigit Sartono) sedang dinasihati Sunan Kalijaga (bertongkat, diperankan oleh Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto) untuk mengabdi ke Demak guna meraih cita-cita tinggi. (Kompas/Th R Indriaswari)

Karebet tumbuh menjadi pemuda yang pilih tanding karena ia banyak berguru justru karena ia telah melewati masa kecil yang amat pahit. Diurut-urut, ia adalah keturunan darah biru karena eyangnya adalah keturunan raja terakhir Majapahit. Ayahnya, Ki Ageng Pengging, oleh Sunan Kudus dipaksa untuk kembali tunduk kepada Kerajaan Demak. Namun, Ki Ageng Pengging yang juga dikenal sebagai Ki Kebo Kenanga menolak. Ia memilih bersetia pada ajaran yang disampaikan oleh Sang Mahaguru, yang tidak lain adalah Syeh Siti Jenar, sambil memimpikan kembali berjayanya Majapahit.

Akhir riwayat Ki Ageng Pengging memang menyedihkan. Namun dalam pergelaran tembang-drama-tari Banjaran Hadiwijaya yang berlangsung di Gedung Kesenian Jakarta, Jumat (15/4), Ki Ageng Pengging dilukiskan memilih moksa.

Kepergian Ki Ageng Pengging, setelah kematian istrinya, membuat sang putra harus diasuh oleh Keluarga Tingkir, itu sebabnya ia juga lalu mendapat nama Jaka Tingkir. Namun, berikutnya datang Sultan Kalijaga bersama beberapa sultan lain, mereka mengingatkan, Jaka Tingkir keturunan luhur, jangan terlena menunggu padi. Ia harus mengabdi ke Demak dan berusaha meraih wahyu kepemimpinan Tanah Jawa.

Karena kebolehannya dalam olah keprajuritan, Karebet pun bisa menerobos karier cemerlang di Kerajaan Demak yang saat itu diperintah oleh Sultan Trenggono. Namun disayangkan, karena berani main api dengan putri Sultan—Putri Kambang—Karebet pun diusir dari istana. Tapi, atas bantuan dan rekayasa Sunan Kalijaga, Karebet bisa kembali ke Demak. Rekayasa yang dibuat untuk memuluskan kembalinya Karebet ke Demak adalah dengan melepaskan seekor kerbau liar yang telah disumbat tanah liat yang telah diberi jampi-jampi. Kerbau mengamuk di Demak dan tak ada seorang pun yang bisa menaklukkannya. Karebet yang saktilah yang bisa menaklukkan kerbau tersebut.

Kini ia bukan saja bisa diterima kembali menjadi Lurah Tamtama, tetapi langsung diangkat sebagai Adipati Pajang dan bahkan juga dinikahkan dengan putri Sultan Trenggono.

Tontonan indah

Sanggar Saddya Budaya Bangsa di bawah pimpinan KRAy Tinul Wiryohadiningrat dalam Banjaran Hadiwijaya ini berhasil mengemas perjalanan hidup Jaka Tingkir dengan apik, menjadi sebuah tontonan indah yang membuai mata dan telinga. Penyampaian prinsip trah Pengging untuk tidak mau tunduk kepada Demak dan setia kepada ajaran Syeh Siti Jenar disampaikan dengan tegas dan gamblang, satu hal yang di masa lalu tak selalu mudah untuk melakukannya.

Kearifan dari cerita yang digubah oleh Undung Wiyono ini eksplisit memang dirumuskan dalam falsafah berikhtiar dan bekerja keras untuk mencapai kedudukan tinggi. Namun, di dalamnya dapat pula ditangkap metafora permainan cinta antara Jaka Tingkir dan Putri Kambang dalam ”scene” perkelahian dengan Dadung Ngawuk.

Keindahan tontonan juga dicerminkan oleh hadirnya pemain senior seperti Teguh Kenthus Ampiranto yang menjadi Jaka Tingkir dewasa dan Ali Marsudi sebagai Ki Ageng Pengging. Pergelaran juga semarak karena dukungan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto dan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih serta mantan Gubernur DKI Sutiyoso. Keikutsertaan 115 seniman dewasa, muda, dan anak-anak dalam pertunjukan seni Hadiwijaya memperlihatkan bahwa minat terhadap seni tradisi di Indonesia masih kuat di kalangan masyarakat. (Ninok Leksono)

Sumber: Kompas, Jumat, 29 April 2011

[Bahasa] Kumpul Kerbau

-- Anton M Moeliono

ADA perbedaan yang jelas antara proses penyerapan kosakata asing zaman dulu dari yang sekarang. Dahulu penyerapan didasarkan pada pendengaran dan hasilnya ditulis dengan huruf yang dianggap paling dekat dengan bunyi vokal atau konsonan Indonesia. Misalnya, chaffeur (Belanda) menjadi sopir, winkel menjadi bengkel, dan luitenant menjadi letnan.

Menurut penelitian mahasiswa saya, bentuk serapan dari bahasa Belanda hingga awal Perang Dunia Kedua berjumlah kira-kira 4.000 butir. Di samping itu selama berabad-abad berlangsung penyerapan antara lain dari bahasa Sanskerta, Arab, Cina, Portugis, Tamil, dan Persia. Bahasa Melayu dan bahasa Indonesia dewasa ini paling banyak menyerap kosakata dari bahasa Inggris ragam Amerika, Britania, dan Australia.

Karena bangsa Indonesia sedang memasuki peradaban beraksara dan teknologi informasi, warga masyarakat bangsa Indonesia—di mana pun tinggalnya—diharapkan memakai unsur kosakata serapan dengan bentuk tulisnya sama dan seragam, sedangkan lafalnya dapat berbeda menurut suku etnis dan bahasa daerah yang masih dipakainya.

Ambillah kata Belanda dan Inggris bus, yang di Medan lafalnya mungkin mirip dengan atau , tetapi di Bandung lafalnya menjurus ke seperti kata beureum 'merah', dan di Yogya condong ke sebab orang ngebis. Akhir-akhir ini diperkenalkan bentuk busway, dan yang suku awalnya dilafalkan secara Inggris: . Demi keseragaman, yang menjadi ciri pembakuan, kita menetapkan ejaannya jadi bus.

Sejak 1972 dipakai pedoman berikut. Proses penyerapan bertolak dari bentuk tulisan tak lagi dari lafal ungkapan asing. Ejaan kata Inggris management diubah menjadi manajemen yang lafalnya oleh orang Yogya berbeda dari orang Padang. Namun, ejaan atau bentuk tulisannya sama. Namun, karena kita tidak merasa wajib mematuhi kaidah dan aturan, kecuali jika ada sanksi, atau denda, kata basement belum diserap menjadi basemen (ba-se-men) walaupun sudah ada aransemen, klasemen, dan konsumen. Kata basement dapat diterjemahkan jadi ruang bawah tanah dengan akronimnya rubanah.

Sikap taat asas juga perlu diterapkan pada unsur serapan yang berasal dari bahasa daerah Nusantara. Ungkapan kumpul kebo kita nasionalkan menjadi kumpul kerbau karena yang berkumpul serumah itu bukan kerbau-kerbau Jawa saja. Selanjutnya orang yang membangkang atau menentang perintah tidak mbalelo, tetapi membalela. Orang yang tidak berprasangka bahwa daya ungkap bahasa Indonesia masih rendah akan menemukan kata membalela di dalam kamus Poerwadarminta yang terbit pada tahun 1952.

Begitu pula ada kata merisak 'menakuti atau menyakiti orang yang lebih lemah' untuk memadankan to bully dan bullying, serta kata berl├ępak 'menghabiskan waktu dengan duduk-duduk tanpa melaksanakan sesuatu yang bermanfaat' untuk mengungkapkan budaya remaja to hang out.

Kita tidak mengenal kosakata Indonesia karena, menurut laporan terakhir, 50 persen dari sekolah dasar dan 35 persen dari sekolah lanjutan pertama pemerintah tidak memiliki koleksi pustaka, dan kamus tidak disertakan berperan dalam proses belajar-mengajar bahasa.

Anton M Moeliono
, Pereksa Bahasa, Guru Besar Emeritus UI

Sumber: Kompas, Jumat, 29 April 2011

Thursday, April 28, 2011

[Nama & Peristiwa] Taufik Abdullah: Mencari Tulisan Hilang

DI bawah langit malam kota Bau Bau di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, sejarawan Taufik Abdullah mendadak tercenung. Sejenak kemudian, setelah menarik napas agak dalam, mantan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ini tiba-tiba berucap lirih: ”Itulah keburukan saya.”

Keburukan? Begitulah! Akan tetapi, kaum cendekia Indonesia patut belajar dari sikap buruk Taufik Abdullah itu.

Sebagai ilmuwan, dia tak hanya dikenal piawai bicara di forum seminar ataupun pertemuan-pertemuan para cerdik cendekia, tetapi juga tergolong penulis produktif, khususnya menyangkut pandangan dan pemikiran di bidang sejarah dan kesejarahan.

Kepandaian berkata-kata di atas mimbar dan talenta menuangkan pikiran dalam tulisan yang baik tak cukup sampai di situ. Kaum cendekia Indonesia yang umumnya tak punya staf khusus ternyata juga dituntut kebiasaan mengarsipkan tulisan-tulisan mereka. Kebiasaan ini yang tak dimiliki Taufik Abdullah.

Ketika usia makin lanjut; dan ketika banyak koleganya berniat membukukan pandangan dan pemikirannya, Taufik angkat tangan. Puluhan artikel dan ratusan makalah yang ia buat sejak 1970-an kini tak tahu lagi di mana rimbanya.

Adakah yang bisa membantu?

(ken)

Sumber: Kompas, Kamis, 28 April 2011

Ujian Nasional: Kasus Perjokian Terungkap

Bojonegoro, Kompas - Kasus perjokian dalam ujian nasional tingkat SMP terungkap di Kabupaten Bojonegoro Jawa Timur, Rabu (27/4). Enam orang diperiksa di Kepolisian Resor Bojonegoro berkaitan dengan kasus tersebut, termasuk seorang kepala SMP swasta.

Kepala Polres Bojonegoro Ajun Komisaris Besar Widodo menjelaskan, modus perjokian itu adalah enam orang menggantikan siswa peserta ujian dengan imbalan Rp 100.000 per mata pelajaran yang diujikan.

Widodo menduga perjokian ini terorganisasi sebab enam joki itu berseragam sekolah dan membawa kartu peserta. Perjokian itu kemungkinan diotaki kepala sekolah untuk memenuhi target kelulusan. ”Jika terbukti, para tersangka bisa dijerat Pasal 263 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang Pemalsuan dengan ancaman hukuman enam tahun,” kata Widodo.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro Zainuddin menyatakan, jika terbukti melakukan kecurangan dalam ujian nasional, siswa yang terlibat bisa dinyatakan tidak lulus, guru atau kepala sekolah terkena sanksi, dan akreditasi sekolah diturunkan.

Secara terpisah, siswa yang tidak mengikuti UN SMP di beberapa daerah masih cukup banyak. Di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, misalnya, 35 siswa tidak mengikuti UN. Di Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, 83 siswa tidak mengikuti UN SMP. ”Padahal, pada hari pertama dan kedua UN, jumlah siswa yang tak hadir tercatat 81 siswa,” kata Ketua Panitia UN Kabupaten Temanggung Bagus Pinuntun.

Kepala Seksi Kurikulum dan Pengendali Mutu SMP Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Magelang R Priyana mengatakan, angka ketidakhadiran siswa pada UN hari ketiga masih sama dengan hari kedua UN, yaitu sebanyak 92 orang. (ACI/INK/BAY/EGI/ELN)

Sumber: Kompas, Kamis, 28 April 2011

Wednesday, April 27, 2011

Teater: Rencana Pentas "Mastodon dan Burung Kondor"

Jakarta, Kompas - Naskah drama karya WS Rendra Mastodon dan Burung Kondor disiapkan untuk dipentaskan lagi pada Agustus 2011. Selain untuk mengenang Rendra, pentas juga mengingatkan pemerintah bahwa kondisi negeri ini dalam beberapa hal tak lebih baik dari kondisi tahun 1970-an. Naskah itu dipentaskan pertama kali tahun 1972.

”Saya kira temanya masih relevan saat ini,” kata Ken Zuraida, istri almarhum WS Rendra, sekaligus Direktur Seni Ken Zuraida Project saat berkunjung ke Redaksi Kompas di Jakarta, Selasa (26/4). Pentas itu merupakan puncak rangkaian kegiatan Ken Zuraida Production sejak Mei 2011. Agustus tahun ini tepat dua tahun meninggalnya Rendra.

Naskah drama Mastodon dan Burung Kondor ditulis WS Rendra untuk merespons kondisi sosial politik awal tahun 1970. Saat itu rakyat hidup miskin di tengah tingkah polah para elite politik yang hidup makmur. Penyalahgunaan wewenang pun berkelanjutan.

Menurut Ken, niat mementaskan ulang naskah itu menguat seiring sorotan para tokoh agama tentang kebohongan pemerintah. ”Ini keterlaluan. Seniman punya tempatnya sendiri, ulama juga punya tempatnya sendiri. Kami lakukan bagian kami,” kata dia.

Kini, sejumlah aktivis teater dari berbagai daerah berkumpul dan mulai berlatih di Bengkel Teater Rendra. ”Kami juga melibatkan sejumlah mahasiswa dari berbagai kampus,” kata Edi Haryono dari manajemen Ken Zuraida Project.

Selain pementasan itu, sejak Mei akan digelar sejumlah diskusi soal teater, tadarusan dua tahun meninggalnya WS Rendra, workshop teater metode Rendra, perkemahan kaum urakan, ritual ”jalan bisu”, dan ruwatan. Ritual ”jalan bisu” akan dilakukan dari Cipayung hingga Taman Ismail Marzuki, sekitar 50 kilometer.

”Akan kami lakukan. Sebisa mungkin berjalan tanpa menimbulkan suara. Hening,” kata Edi.

Kini, panitia menyosialisasikan rencana kegiatan itu. Antusiasme peserta dari berbagai daerah tinggi, mendukung pementasan Mastodon dan Burung Kondor. ”Kami terus mengupayakan kebutuhan dana yang besar,” kata sekretaris panitia, Amir Husin Daulay. (GSA)

Sumber: Kompas, Rabu, 27 April 2011

Warisan Budaya: Tak Ada Anggaran Pembelian Naskah Kuno

Padang, Kompas - Tidak ada anggaran yang disediakan pemerintah kabupaten/kota untuk pembelian naskah-naskah kuno Minangkabau. Padahal, naskah-naskah kuno yang ditulis menggunakan huruf Arab Melayu tersebut dari sisi kebudayaan sangat penting karena berisi catatan tentang perkembangan ilmu pengetahuan, pengobatan, sastra, cerita rakyat, dan ilmu-ilmu keagamaan.

Perawatan naskah kuno Minangkabau dalam huruf Arab Melayu tidak bisa optimal karena ketiadaan anggaran. Naskah kuno yang berada di masyarakat banyak diperjualbelikan dan sebagian dibawa ke luar negeri. Naskah yang ada pun belum dibuat dalam bentuk mikrofilm. (KOMPAS/INGKI RINALDI)

”Di sisi lain, naskah-naskah kuno tersebut banyak yang diperjualbelikan hingga ke luar negeri,” kata Kepala Bidang Deposit Pengamatan dan Pelestarian Bahan Pustaka Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumatera Barat Surya Esra, Senin (25/4) di Kota Padang.

Karena ketiadaan anggaran, kata Surya, pihaknya hingga saat ini hanya memiliki 23 naskah kuno Minangkabau. Naskah tersebut diperoleh dari masyarakat di Kabupaten Agam, Kabupaten Pesisir Selatan, Solok Selatan, Padang Pariaman, dan Kota Padang. Naskah-naskah kuno itu dibeli sebagian di antaranya dengan dana pribadi.

Menurut Surya, semestinya ada anggaran khusus untuk pembelian naskah kuno sebagai upaya menyelamatkan kekayaan budaya bangsa. Hal ini pun sesuai dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan yang di dalamnya juga mengatur soal perhatian terhadap naskah-naskah kuno.

Anggota DPRD Sumatera Barat, Abel Tasman, mengatakan, APBD saat ini memang kurang memperhatikan upaya penyelamatan naskah-naskah kuno. Anggaran untuk Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumatera Barat sekitar Rp 10 miliar per tahun untuk seluruh kegiatan serta ditambah dana dari pemerintah pusat sekitar Rp 2 miliar.

”Anggota DPRD pun masih kurang peduli terhadap keberadaan naskah-naskah kuno. Padahal, naskah kuno tersebut merupakan bagian dari kekayaan bangsa yang harus diselamatkan,” ujarnya.

Berdasarkan pantauan Kompas, jual beli naskah-naskah kuno masih terus berlangsung hinga kini. Para pemburu naskah kuno masuk ke kampung-kampung, terutama di Kota Payakumbuh, Kabupaten Dharmasraya, dan Kabupaten Padang Pariaman.

Pembeli yang umumnya dari Singapura dan Malaysia kini sedang mencari dan bersedia membeli dengan harga tinggi Al Quran terbitan abad XVIII atau abad sebelumnya.

Hilang akibat gempa

Kepala Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumatera Barat Eka Nuzla mengatakan, akibat gempa bumi September 2009 lalu, sekitar 618.000 buku dan arsip kini tinggal tersisa 124.000 buku. Itu pun sebagian dalam keadaan rusak.

”Upaya perbaikan buku yang rusak diharapkan selesai tahun 2012,” kata Eka.

Akibat gempa itu, puluhan buku kuno yang sudah sulit ditemukan juga rusak tertimpa puing-puing bangunan. Selain itu, 10 dari 23 naskah kuno yang dimiliki kini sedang diperbaiki dan dirawat atau preservasi di Perpustakaan Nasional, Jakarta.

Upaya preservasi diperkirakan tidak bisa optimal karena kurang bagusnya kualitas tinta pada naskah kuno. Kalaupun sudah dilakukan preservasi, kemungkinan besar sebagian naskah kuno tidak bisa terbaca lagi karena tinta menyebar kemana-mana. (INK)

Sumber: Kompas, Rabu, 27 April 2011

Seni Hikayat Aceh Terancam Punah

Banda Aceh, Kompas - Seni hikayat Aceh terancam punah. Saat ini pertunjukan seni ini kian jarang ditemui dalam seni pertunjukan maupun pesta hajatan masyarakat Aceh. Selain itu, ribuan hikayat lisan yang pernah ada di Aceh sampai saat ini belum pernah dituliskan dan hanya dikuasai segelintir seniman yang sudah lanjut usia di wilayah Aceh selatan.

”Sebagian besar masyarakat Aceh sudah melupakan hikayat. Banyak yang sudah tak mengenalnya. Saya sendiri sebagai seniman hikayat sekarang sudah sangat jarang tampil. Dalam lima bulan belum tentu ada undangan untuk tampil,” kata seniman hikayat Aceh, Tengku Muda Balia, Senin (25/4).

Hikayat Aceh merupakan perpaduan antara seni syair tutur dan lagu. Dalam pertunjukan seni, pemain hikayat biasanya memadukannya dengan alat musik tiup sebagai repertoar. Syair hikayat berisi nasihat, tuntunan agama, kisah peperangan, budaya Aceh, dan kisah-kisah lain.

Menurut Muda, hikayat adalah seni tutur asli Aceh yang diduga sudah ada sebelum Islam masuk ke Aceh. Pada masa Islam, hikayat menjadi media dakwah. Lalu, pada masa penjajahan Belanda, hikayat menjadi alat pengobar semangat juang masyarakat Aceh melawan penjajah. Seni ini mulai tergerus saat terjadi ”pembersihan” para seniman hikayat pada masa setelah pembubaran Partai Komunis Indonesia.

”Pada masa konflik banyak masyarakat yang tak berani memanggungkan hikayat karena takut. Akibatnya, kondisi perkembangan seni ini makin sulit. Seniman-seniman yang masih tersisa di Aceh selatan yang masih hafal hikayat Aceh kuno mungkin tinggal 6 orang dan kini rata-rata sudah usia lanjut,” kata Muda.

Regenerasi juga menjadi masalah yang rumit. Hal ini karena seni hikayat sulit dijadikan sebagai sandaran hidup masa kini.

”Mungkin kalau sekadar pembaca hikayat banyak yang bisa, tapi kalau pemain hikayat jarang. Bacaan tentang hikayat pun hampir tidak ada. Hikayat-hikayat kuno yang masih dihafal para seniman sampai sekarang belum ada yang ditulis. Kalau mereka sudah tak ada, Aceh akan kehilangan besar,” kata dia.

Wakil Gubernur Aceh Muhammad Nazar mengatakan, ada ribuan teks dan manuskrip kuno yang mulai tahun ini diupayakan akan dikumpulkan kembali. Teks-teks kuno yang di dalamnya terkandung hikayat itu tersebar di berbagai wilayah di Aceh.

”Kami memperkirakan dibutuhkan anggaran paling tidak Rp 5 miliar untuk mengumpulkan kembali manuskrip-manuskrip itu. Peninggalan-peninggalan itu harus diselamatkan karena selain merupakan warisan budaya Aceh, juga untuk menghindari pencurian oleh bangsa lain,” kata dia. (HAN)

Sumber: Kompas, Rabu, 27 April 2011

Tuesday, April 26, 2011

Warisan Budaya: Indonesia Usulkan Delapan Warisan

Jakarta, Kompas - Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata mengajukan delapan obyek sebagai warisan budaya dunia kepada Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO). Delapan obyek tersebut adalah kompleks Candi Trowulan di Mojokerto, Jawa Timur, kompleks Candi Muaro Jambi di Jambi, situs Batujaya di Karawang Jawa Barat, Candi Muara Takus di Riau, kawasan pegunungan Maros-Pangkep di Sulawesi Selatan, bangunan-bangunan tradisional di Nias Selatan, Tana Toraja di Sulawesi Selatan, dan lanskap budaya Bali.

Direktur Peninggalan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Junus Satrio Atmodjo mengatakan, proses penetapan delapan usulan itu menjadi warisan budaya dunia butuh waktu 20 tahunan. Saat ini Indonesia memiliki tiga warisan budaya, yakni Candi Borobudur, Candi Prambanan, dan situs prasejarah Sangiran. Dari delapan usulan itu, yang tahun ini dipastikan akan ditetapkan menjadi warisan budaya dunia adalah lanskap Bali yang meliputi pola pertanian subak serta bangunan pura di sekitarnya. ”Proses pengkajiannya delapan tahun,” kata Junus di Magelang, Jawa Tengah, Jumat (21/4).

Secara terpisah, anggota Dewan Pimpinan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia, Laretna T Adhishakti, yang juga dosen Teknik Arsitektur dan Perencanaan Universitas Gadjah Mada, mengatakan, Indonesia memiliki banyak potensi pusaka yang dapat didaftarkan sebagai warisan dunia ke UNESCO. Namun, karena ketidaksiapan rencana aksi pengelolaan setelah ditetapkannya pusaka tersebut sebagai warisan dunia, hanya sedikit pusaka Indonesia yang didaftarkan.

(EGI/MZW)

Sumber: Kompas, Selasa, 26 April 2011

Franky Sahilatua dan Keberanian Menyeberang

-- Sukardi Rinakit

SUDAH hampir tengah malam waktu itu, Franky Sahilatua tiba-tiba berkata, ”Nama gerakan kita nanti adalah ’Menyeberang’. Kita harus mengondisikan rakyat untuk berani menyeberang, melawan segala ketakutan. Hanya dengan melawan mereka akan dapat menyeberang dari hidup miskin menjadi sejahtera, dari harga pangan mahal menjadi murah dan melimpah. Orang miskin tidak lagi diperlakukan sebagai anak tiri Republik.”

Ia ingin memulai gerakan itu dengan memohon restu dari tokoh lintas agama dan forum rektor. Setelah itu, ia ingin mengajak Garin Nugroho, Moeslim Abdurrahman, Romo Benny Susetyo, saya, dan sahabat yang lain, termasuk sopir langganan kami di Yogyakarta, Sunardi, untuk keliling ke titik-titik strategis di Tanah Air. Dongeng kebangsaan harus dimulai. Lagu ”Anak Tiri Republik” serta ”Sirkus dan Pangan” ia rancang untuk menjadi darah dan napas dari gerakan itu.

Franky tidak tahan melihat kemiskinan rakyat, harga pangan yang melambung, kekerasan mengatasnamakan agama, dan elite politik yang bebal. Pendeknya, meskipun terbaring sakit didera kanker sumsum tulang belakang, hati dan pikirannya tetap untuk orang-orang pinggiran yang terempas dan merana. Ia sudah tidak tahan lagi melihat jubah Republik yang begitu kotor.

Elan lambat

Kejengkelan Franky pada keadaan yang relatif stagnan, jika tidak boleh dikatakan mundur, apabila dilihat dari kohesivitas sosial merefleksikan kecintaan sejatinya kepada Indonesia. Hatinya tulus untuk Indonesia. Untuk itulah ia memutuskan bergabung dengan gerakan sosial Nasional Demokrat ketika itu, dengan satu tujuan pasti, meneguhkan kembali hak rakyat sebagai pemilih sah Republik. Ia meninggal dengan tetap menggenggam cita-cita itu.

Mencermati Indonesia pada kuartal pertama tahun ini, saya mengambil kesimpulan simplistis bahwa nilai kinerja pemerintah saat ini tetap C, tidak berubah sejak awal berkuasa. Tidak ada hal istimewa, apalagi terobosan spektakuler yang membanggakan. Pembangunan infrastruktur tidak banyak bergerak, tumpang tindih peraturan belum juga terurai, birokrasi dan korupsi tetap mencengkeram, barang impor dari China membanjir, kekerasan atas nama agama masih berlangsung, penanganan ulat lambat, negosiasi dengan perompak Somalia untuk pembebasan sandera tidak jelas, dan harga beras hingga kini masih mahal. Rasanya sulit mencari titik pijak untuk mengibarkan kebanggaan pada kepemimpinan nasional saat ini.

Ada kesan, sampai kuartal pertama tahun ini perhatian Presiden Susilo Bambang Yudhoyono masih berkutat pada lingkaran sempit politik, yaitu menata koalisi partai pendukung pemerintah. Sekretariat Gabungan (Setgab) sebenarnya tidak begitu penting lagi ketika waktu efektif untuk menjalankan amanah kekuasaan tinggal 2,5 tahun. Lebih baik pemerintah fokus pada satu program saja sebagai maskot, misalnya menggenjot pembangunan infrastruktur, terutama di pedesaan. Langkah itu jauh lebih bermakna dan meninggalkan jejak sejarah daripada sekadar menata struktur kepengurusan dan jadwal rapat Setgab.

Tanpa maskot pembangunan, sulit untuk menghindari kesan kritis bahwa selama memerintah Presiden hanya mengibarkan bendera pencitraan. Banyaknya kunjungan kepala negara dan pemerintahan tahun ini, misalnya, jika tidak menghasilkan investasi yang menumbuhkan industri penghasil barang di dalam negeri sebenarnya juga sia-sia. Kesan yang timbul, pemerintah tidak saja dianggap gagal meyakinkan mereka, tetapi sekali lagi hanya mengejar pencitraan diri. Terlebih lagi kalau acara kuliah umum Presiden semakin intensif diadakan.

Dalam elan eksekutif yang lamban tersebut, ironis memang ketika kita juga mendapati perilaku kebanyakan anggota DPR yang bebal. Logika dan argumen yang mereka sampaikan sering kali tanpa dilandasi pemahaman bahwa bernegara adalah berkonstitusi. Sejujurnya saya sampai malas membahas mereka, wakil rakyat yang membodohi rakyat.

Pulau-pulau integritas

Meski demikian, fenomena Indonesia memang aneh. Ketika para elite politik nasional sibuk melakukan transaksi politik dan mengabaikan kenyataan bahwa dunia sekarang ini dihadapkan pada perubahan-perubahan ekstrem dan kompleks (Canton, 2006; Friedman, 2009), muncul tokoh-tokoh lokal yang menyelamatkan Tanah Air. Mereka adalah pulau-pulau integritas yang membuat warganya tersenyum, punya kebanggaan dan harga diri. Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, dan Sumatera Selatan adalah sebagian dari pulau-pulau integritas itu.

Masyarakat Yogyakarta pasti bangga dengan kehidupan yang multikultur, harmonis, dan bebas berkreasi secara kultural. Di Jawa Timur, warganya memendam kebanggaan karena provinsi itu menjadi lahan subur yang dikejar investor. Kemiskinan juga dibabat tanpa toleransi di brang wetan itu. Sumatera Selatan membangkitkan optimisme publik dengan berani menjadi tuan rumah SEA Games 2011. Suatu upaya reinkarnasi kultural dari kejayaan Kerajaan Sriwijaya dulu.

Lahirnya pulau-pulau integritas itulah yang juga diharapkan Franky Sahilatua. Mereka adalah pilar-pilar otonom yang menegakkan kewibawaan Indonesia. Kepada para elite politik yang hanya berbedak citra, ia pernah berkata, ”Yen kebanjur, sayekti kojur (Kalau diterus-teruskan, pasti hancur).” Kita tunggu saja. Selamat jalan, sahabat.

Sumber: Kompas, Selasa, 26 April 2011

Sunday, April 24, 2011

[Buku] Mencari Makna dalam Bekerja

-- Suwardi Luis

• Judul: The Why of Work
• Penulis: Dave Ulrich & Wendy Ulrich
• Penerbit: McGraw Hill, 2010
• Tebal: xvii+286 halaman
• ISBN: 978-0-07-173935-1

”PERAN para pemimpin perlu diredefinisikan; mereka tidak lagi hanya menetapkan arah dan menyediakan struktur, tetapi juga menciptakan makna dalam pekerjaan.” Dave and Wendy Ulrich, 2010

”Manusia tidak akan pernah puas” adalah jawaban yang sering diberikan oleh pemilik usaha atau manajemen ketika ditantang untuk mengukur tingkat kepuasan karyawan. Tipe pemilik dan manajemen seperti ini pulalah yang sering mengontradiksikan kesejahteraan karyawan dengan keuntungan perusahaan. Jika perusahaan ingin untung, kesejahteraan karyawan harus dikorbankan.

Buku yang ditulis Dave Ulrich dan istrinya, Wendy Ulrich, ini mencoba menata ulang persepsi tersebut. Bagi praktisi dan akademisi di dunia manajemen, nama Dave Ulrich sudah tak asing lagi. Karyanya seperti The Human Resources Champion (1996) dan The HR Value Proposition (2005) telah menjadi panduan utama bagi pelaku bisnis dalam merevitalisasi strategi pengelolaan SDM di berbagai perusahaan dunia, termasuk di Indonesia.

Mereka bermaksud meyakinkan pembaca bahwa peningkatan kepuasan karyawan melalui penciptaan makna memiliki nilai strategis dalam mendorong kepuasan pelanggan dan pertumbuhan finansial perusahaan. Suatu survei yang dikutip menunjukkan bahwa 78 persen karyawan yang puas atau engaged dengan perusahaan akan bersedia merekomendasikan produk atau jasa perusahaannya, dibandingkan dengan hanya 13 persen karyawan yang tidak puas atau disengaged. Kunci menciptakan kepuasan tidak terletak semata-mata pada pemenuhan kebutuhan fisik atau finansial yang hanya akan berdampak singkat. Kepuasan yang hakiki akan tercipta ketika karyawan memahami makna kerja.

Manfaat makna

Salah satu cerita singkat tentang pentingnya penciptaan makna terjadi pada Teeda Butt Mam, seorang korban rezim Khmer Merah (hal 239). Pada akhir tahun 1970-an, Teeda Butt Mam dan keluarganya dipaksa pindah dari Phnom Penh, untuk menggarap sawah di daerah pertanian. Pada waktu itu sekitar 1,5 juta penduduk Kamboja meninggal karena disiksa, kelaparan, atau terkena penyakit. Setelah seorang temannya diperkosa berkali-kali hingga meninggal dunia, Teeda memutuskan untuk bunuh diri. Namun, ketika pagi dia bekerja di sawah, dilihatnya pemandangan yang mengubah pikirannya.

Dalam memoarnya, Teeda menuliskan, ”Indahnya ladang sawah yang menguning dan dilatari dengan sinaran matahari berwarna emas di langit benar-benar membuat napas saya tertahan…. Keindahan alam ini menekankan bahwa ada hal-hal dalam kehidupan yang berada di luar jangkauan kekuasaan Khmer Merah… mereka bukan yang mahakuasa. Untuk pertama kalinya saya merasa bahwa hidup memiliki sesuatu yang bermakna.” Teeda memutuskan untuk bertahan hidup dan akhirnya lari dari Kamboja untuk memulai hidup baru di Amerika.

Buku ini memaparkan bahwa pemberian makna dalam bekerja akan menciptakan dua manfaat. Pertama, pencarian makna hidup merupakan bagian dari setiap manusia. Dengan menemukan makna, seseorang merasakan pemenuhan akan hidupnya, menerima kondisi apa pun atau memiliki keberanian dalam menghadapi segala situasi. Karyawan yang mengerti ’mengapa’ mengenai target yang harus dicapai, akan bertahan meski ’bagaimana’ sulitnya pencapaian target tersebut.

Kedua, penemuan makna memiliki manfaat riil bagi perusahaan. Karyawan yang memiliki makna dalam pekerjaannya akan merasa lebih puas, loyal, dan berusaha lebih giat untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Organisasi yang berhasil mencapai kedua manfaat di atas disebut organisasi yang berkelimpahan (abundant organization).

Tugas pemimpin

Organisasi yang berkelimpahan adalah tempat kerja di mana para individu memadukan aspirasi dan tindakannya untuk menciptakan makna bagi diri mereka dan nilai bagi para pemangku kepentingan, termasuk masyarakat. Penciptaan makna dalam organisasi bukanlah semata-mata tugas manajemen puncak atau divisi sumber daya manusia (SDM), tetapi juga tugas dari setiap pemimpin. Pemberian makna bagi karyawan dapat dilakukan oleh pemimpin organisasi dengan mengaitkan pekerjaan mereka dengan kondisi realita yang dihadapi organisasi.

Ketika pemimpin pada salah satu perusahaan teknologi yang sedang mengalami krisis memberikan penjelasan kepada karyawan bahwa setiap penghematan sebesar 50.000 dollar AS dapat menyelamatkan satu posisi pekerjaan, karyawan menjadi lebih termotivasi dan kooperatif dalam pemotongan biaya karena mereka memahami ’makna’ dari penghematan itu.

Seperti seminar yang dibawakan oleh Dave Ulrich, gaya menyegarkan yang sama tertuang dalam buku ini. Alur rasional dengan pemuatan data riset disertai kasus dan cerita singkat yang menginspirasi memudahkan pembaca untuk lebih mendalami konsep pencarian makna yang biasanya terkesan berat. Di dalamnya dipaparkan tujuh pertanyaan yang harus dijawab oleh pelaku bisnis dalam menciptakan organisasi yang berkelimpahan, misalnya: kejelasan tujuan organisasi yang menjadi dasar motivasi bagi karyawan dan kejelasan kontribusi individu yang menciptakan makna kerja yang positif. Setiap pertanyaan ini dibahas dalam setiap bab yang dilengkapi dengan kerangka berpikir, formulir penilaian serta tips praktis dalam mengimplementasi jawaban atas setiap pertanyaan.

Buku ini juga layak dibaca bagi pemimpin organisasi pemerintahan, baik di pusat maupun daerah. Para pemimpin organisasi pemerintahan harus mampu menciptakan organisasi berkelimpahan dengan mendorong penemuan makna bagi setiap individu pegawai negeri. Bahwa mereka adalah ’pelayan publik’ yang melalui kecepatan dan ketepatan pelayanannya memiliki peran besar dalam mengentaskan warga dari kemiskinan dan mencapai negara Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera.

(Suwardi Luis, Chief Executive Officer PT GML Performance Consulting)

Sumber: Kompas, Minggu, 24 April 2011

Fragmen Seni Patung di Mal

SUDAH +banyak yang bilang bahwa mal adalah katedral masyarakat kontemporer. Terlebih di Indonesia, terutama di Jakarta, mal menjadi tempat yang sebegitu multifungsi.

Perhatikan perbedaannya dengan mal di metropolitan dunia lainnya. Di tempat lain, mal utamanya adalah tempat belanja. Tempat makan umumnya sebatas food hall.

Beda di Jakarta. Semua hal berlangsung di mal. Restoran bagus atau istilahnya fine dining, pesta, peragaan busana, semua berlangsung di mal. Mal telah menjadi ruang publik paling utama di Jakarta.

Kegiatan seni rupa sampai ke art fair, tak terkecuali sering berlangsung di mal. Kali ini, yang tengah berlangsung di Grand Indonesia Shopping Town adalah pameran patung bertajuk ”Intersection: Indonesian Contemporary Sculpture”. Diselenggarakan oleh Andi’s Gallery, pameran akan berlangsung sampai 24 April 2011.

Pameran diikuti 50 perupa. Tergolong hajatan besar. Apalagi kalau melihat beberapa karya, yang volumenya juga besar. Bisa dibayangkan kerepotan memasukkan barang-barang itu, dengan waktu terbatas, pada malam hari ketika mal sudah ditutup untuk pengunjung.

Hati-hati

Dengan keluasan bentuk karya berikut keberagaman peserta, baik dari segi umur, angkatan, sampai ke kecenderungan artistik, terlihat kehati-hatian kurator menyikapi pameran ini. Kurator pameran Hardiman dari Bali dan Asikin Hasan dari Jakarta.

Hardiman, misalnya, membuka catatan kuratorialnya dengan mengutip Joost Smiers, yang kalau diterjemahkan ungkapannya lebih kurang sebagai berikut: ”... betapapun, dalam konteks sosial lebih luas, kebanyakan adalah kriteria—dibandingkan kualitas—yang menentukan mengapa suatu karya menemukan tempat penting dalam masyarakat, sementara yang lain kelihatan tak penting sama sekali”.

Itu bisa dilihat sebagai ancang-ancang untuk memberi permakluman atas pameran ini yang sifatnya fragmentaris dalam semua hal: tema, bentuk, materi, dan lain-lain. Hubungannya dengan publik yang menikmati karya-karya ini di mal bisa kita perbincangkan nanti.

Sedangkan Asikin memilih mendudukkan perkara karya-karya itu pada sejarah seni patung modern kita. Sejarah seni patung kita dia sebut masih sangat singkat—lebih kurang enam dekade. Dari situ dia menerang-jelaskan ihwal patung modern dengan pelopornya, seperti Trubus Soedarsono, Affandi, Kusnadi, dan sejumlah nama lain, yang dalam perkembangannya kemudian memicu seni patung kontemporer, muncul lewat karya Gregorius Sidharta Soegijo. Awal kecenderungan seni patung kontemporer di pameran ini diwakili G Sidharta dengan karya berjudul ”Dewi Sri”, terbuat dari kayu diwarnai.

Uraiannya berlanjut sampai ke fenomena baru masa kini, di mana para perupa merambah seluruh gejala rupa. Astari, Entang Wiharso, Heri Dono, Agapetus Kristiandana, Tisna Sanjaya, Samuel Indratma, dan beberapa nama lagi ia sebut untuk mewakili kecenderungan tersebut.

Fragmentaris

Yang paling bisa menerima gejala fragmentaris serta keterpisahan-keterpisahan seperti itu barangkali memang masyarakat mal. Pada masyarakat mal, seluruh gejala yang bagi para pemikir serius dianggap tak jelas asal-usulnya, diterima sebagaimana adanya.

Inilah masyarakat yang terlepas dari asal-usul, sangkan paran. Seperti fase lanjut post-modernisme itu sendiri. Modernisme tinggal seperti gaya formal jas lelaki, sempurna, tetapi kini tinggal menjadi simbol para pejabat yang ketinggalan zaman.

Andi Yustana, pemilik Andi’s Gallery, makin yakin dengan pilihannya menyelenggarakan pameran di mal. ”Dulu, waktu pameran di Galeri Nasional, tak ada yang laku. Lalu saya display di lobi Grand Indonesia, laku beberapa buah,” katanya senang. (Bre Redana)

Sumber: Kompas, Minggu, 24 April 2011

Revolusi Sunyi dari Lubang Sembunyi

-- Putu Fajar Arcana dan Aryo Wisanggeni G

PANGGUNG berupa balkon yang dibangun dari kayu, cerobong asap, dan sebuah sel sempit dilumuri warna merah. Seseorang berlari lalu mengibaskan bendera di ketinggian. Musik yang juga sayup-sayup berasa merah mengalir….

Itulah adegan pembuka Tan Malaka, Opera 3 Babak yang dipentaskan Sabtu (23/4) di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Opera karya Goenawan Mohamad dalam rangka 40 tahun majalah berita mingguan Tempo, itu akan dipentaskan kembali Minggu (24/4) malam.

Goenawan Mohamad meringkas pentas berdurasi sejam lebih itu lewat seorang narator (Landung Simatupang) dengan berkata, ”Ia lahir dari buku, hidup dari pustaka, dan menghilang di halaman terakhir sebuah risalah. Tapi bisakah revolusi lahir dari kitab yang sudah ada?”

Ini memang bukan sebuah riwayat tentang tokoh bernama Tan Malaka. Goenawan Mohamad dan komponis Tony Prabowo menyebutnya sebagai sebuah opera-esai. Begitu juga dengan dua karya pasangan ini sebelumnya, seperti The King Witch dan Kali. Sebagai sebuah esai yang diekspresikan dalam bentuk visual, maka ia menuntut hal-hal yang kasat mata dan telinga sekaligus bergizi buat jiwa. Di dalamnya dipadukan elemen-elemen gerak, teks, reportase, paduan suara, musik, narasi, puisi, dan multimedia. Sebuah pekerjaan yang tidak mudah dan penuh tantangan, terutama karena pentas ini menisbikan penokohan, bahkan dialog!

Hal itulah, mungkin, alasan Goenawan Mohamad yang memiliki kecakapan sebagai penulis esai, reportase, dan sekaligus penyair perlu terjun langsung sebagai sutradara. Pada unsur visualisasi seperti artistik panggung dan multimedia, ia menggandeng sutradara Teater Garasi Yudi Ahmad Tajudin sebagai asistennya. Yudi dikenal sebagai sutradara dengan visualisasi panggung yang selalu menawan. Adapun pada Tony Prabowo, yang dikenal sebagai komponis bagi musik-musik avant-garde, Goenawan seolah menemukan kekentalan senyawa puisi dan opera.

Senyawa

Dalam persenyawaan semacam ini teater memang tidak jatuh jadi risalah yang mengumbar pengulangan terhadap teks, bahkan terhadap realitas. Teater sudah menjadi semacam diskursus untuk melontarkan berbagai pandangan dan pemertanyaan terhadap realitas itu sendiri. Dalam soal ini Goenawan mencoba ”membaca”, ”menulis”, dan ”berpendapat” tentang tokoh ”misterius” bernama Tan Malaka, tetapi berperan besar dalam menggerakkan revolusi.

”Saya percaya kepada revolusi meski revolusi selalu dikhianati…. Tan Malaka adalah model revolusi yang tidak melembaga. Ia bahkan tidak tahu pada 17 Agustus 1945 ada proklamasi kemerdekaan Indonesia,” kata Goenawan Mohamad.

Bagi Goenawan, sikap Tan Malaka ini sungguh aneh. Maka, ia pertanyakan lewat narator, ”Aneh. Ia seorang penggerak revolusi. Ia bisa jadi Lenin. Tapi ia kehilangan jejak. Atau tidak berjejak.”

Misterius bukan berarti tanpa perhitungan. Goenawan membaca Tan Malaka sebagai sudut di Taman Pahlawan yang menyediakan liang lahat bagi prajurit tak dikenal. Kita menghormatinya, tetapi sesungguhnya tidak penting benar siapa yang dikuburkan di sana. Mungkin saja liang lahat itu kosong. ”Tapi lebih baik kosong. Tiap kali kita akan bisa mengisinya dengan fantasi. Tafsir kita…,” kata suara dari balik layar.

Dan, revolusi selalu bergerak menentang kemapanan. Tan Malaka berbeda. Ia bergerak dari gorong-gorong sebagai berang-berang, bukan sebagai burung merak sebagaimana yang diperankan Soekarno. Bahkan, revolusi digerakkan Tan Malaka dari sel-sel dingin dan sunyi tentara kolonial. Lalu apakah makna sebuah revolusi sunyi ketika sebuah negara bercita-cita menulis kemerdekaan dengan huruf tebal di bahu kolonialisme?

Pertunjukan ini memang sunyi. Meski penuh dengan laburan warna merah, cerobong pabrik, penjara, dan buruh-buruh yang bekerja keras, tetapi ia bukan sebuah romantisisme terhadap sebuah zaman, di mana revolusi Bolshevik dikobarkan. ”Dalam revolusi bukan siapa yang penting, tetapi kepahlawanan apa yang terjadi dalam sejarah,” ujar Goenawan.

Tan Malaka memang dikabarkan ditembak mati di Kediri, sekitar bulan Februari atau April 1949. Tetapi tidak seorang pun pernah tahu, siapa yang menembaknya dan di mana ia dimakamkan.

Hal yang kemudian sampai secara samar-samar bahwa seseorang yang pernah mengikuti Kongres Komunis Internasional keempat di Moskwa pada 1922 itu menggerakkan revolusi dari lubang-lubang persembunyian yang ia bangun sendiri. Sebuah revolusi sunyi, yang bisa jadi mementalkan dirinya sendiri dari keriuhan baru bernama: kemerdekaan. Dan ia sudah bersiap untuk itu sejak semula....

Sumber: Kompas, Minggu, 24 April 2011

Recitatif Panjang untuk Sebuah Cerita Pendek

-- Salomo Simanungkalit

SEORANG aktivis mungkin bereaksi sinis: mengapa opera mengenai penculikan yang diorkestrasi oleh negara—melalui tangan rezim Orde Baru—tiga belas tahun silam digelar di sebuah auditorium bank negara, Bank Indonesia, yang megah dan tenteram?

Namun, para penonton Opera Saku Ibu yang Anaknya Diculik Itu karya bersama pianis terkemuka Indonesia, Ananda Sukarlan, dan cerpenis produktif, Seno Gumira Ajidarma, cukup plong ketika soprano Aning Katamsi mengakhiri pertunjukan minimalis itu dengan, ”Gila…. Para pembunuh itu sekarang mau jadi presiden.” Tepuk tangan penonton untuk kalimat penutup itu cukup berderu pada Sabtu, 16 April malam lalu di Auditorium Gedung Bank Indonesia, Jalan Thamrin No 2, Jakarta Pusat.

Cerita pendek Seno yang diterbitkan Kompas edisi Minggu, 16 November 2008, itu adalah sebuah monolog seorang ibu korban penculikan 1998: menerka-nerka apa yang telah terjadi dengan salah satu anaknya yang aktivis. ”Tinggal Ibu yang kini di ruang keluarga itu, masih terkulai seperti sepuluh tahun yang lalu. Rambut, wajah, dan busananya bagai menunjuk keberadaan waktu.”

Ia sedang dalam kesepian yang pol. Satria si bungsu yang dulu seorang aktivis entah di mana, masih hidupkah, sudah matikah. Suaminya telah meninggal setahun yang lampau. Dua anaknya yang lain bermukim di luar negeri—jadi pialang saham dan kurator galeri lukisan—dan sesekali datang menengoknya: cuma di hari Lebaran.

Seluruh monolog yang tergolong kritis itu, seperti esai seorang pengamat penculikan (politik) di kolom opini surat kabar, berlangsung hanya di ruang keluarga dengan perabot yang bergeming sebagaimana sepuluh tahun silam: seperangkat kursi rotan dengan meja, televisi, telepon, kembang plastik, dan lukisan seorang laki-laki remaja. Langgam penyampaian kisah, kemudian latar dan perlengkapannya yang minim, memenuhi syarat cukup dan perlu bagi Ananda menulis komposisi opera saku berdasarkan cerpen Seno ini.

Opera saku menyerap ungkapan yang sebelumnya dikenal dalam kepustakaan: buku saku yang—karena ukurannya yang ringkas—mudah dibawa ke mana-mana. Dalam musik sastra, opera saku tak lain tak bukan opera yang dimainkan sesedikit mungkin pemusik dan seminim mungkin perlengkapan sehingga penyelenggaraannya praktis, mudah diadakan di mana-mana.

Biaya pemanggungannya, dengan demikian, bisa sangat ditekan. Komponis Inggris yang termasyhur dengan karya-karya vokalnya, Benjamin Britten (1913-1976), termasuk pemusik yang kerap memanfaatkan bentuk ini untuk gubahan-gubahan operanya.

Menyadari keterbatasan infrastruktur dan sumber daya manusia untuk penyelenggaraan opera di negeri ini, Ananda dengan Ibu yang Anaknya Diculik Itu merancang opera saku, justru dalam format ringkas yang ekstrem: dua pemusik—seorang pianis dan seorang peniup flute—dan seorang penyanyi sopran.

Kendala seperti ini tak pelak lagi menimbulkan kesulitan bagi komponisnya. Rentang nada yang cukup lebar bagi vokal adalah kebutuhan artistik untuk mengekspresikan beragam gejolak hati, tetapi beban ini harus ditanggung seorang penyanyi yang punya keleluasaan dalam wilayah nada yang terbatas.

Penggalan recitatif bernada-nada rendah dalam opera saku ini, misalnya, sangatlah menyiksa pita suara seorang soprano sekaligus mengganggu kenyamanan pendengaran penikmatnya. Tentu tak semudah membalik tangan memecahkan masalah ini, misalnya dengan melakukan transpose, sebab tak sedikit pada bagian lain mencuat nada-nada tinggi yang merupakan wilayah sopran murni.

Peran soprano

Ananda, yang dalam beberapa tahun terakhir bermukim di Spanyol, pada malam hari itu bertindak sebagai pianis, Aning Katamsi memerankan ibu yang anaknya diculik itu, dan Liz Ashford meniup flute. Mereka bertiga bahu-membahu selama lebih kurang 45 menit menyerap suara hati ibu yang anaknya diculik itu untuk kemudian meneruskannya kepada penonton. Berhasilkah?

Jawaban pertanyaan ini—apa boleh buat—amat bergantung pada pemeran ibu. Dialah yang harus menyiasati monolog panjang dalam cerpen itu—yang oleh sang komponis terutama dibangun sebagai recitatif, bagian vokal dalam opera yang dinyanyikan seperti ritme orang sedang berbicara dengan sebagian besar kata-kata dinyanyikan pada nada yang sama—agar berjiwa dan terasa bergejolak.

Ananda Sukarlan sangat pelit memanjakan telinga dengan ”aria” dalam karya opera sakunya ini. ”Aria” melodius itu menyebar sporadis hanya beberapa bar di antara recitatif panjang, tidak utuh sebagai sebuah nomor, dan berganti-ganti perannya diambil vokal, piano, atau flute.

Maka, dibutuhkan seorang soprano dengan artikulasi yang berkarakter sekaligus mimik dan bahasa tubuh berwatak di luar persyaratan musik vokal yang harus dipenuhi seorang penyanyi klasik Barat.

Daya hafal Aning Katamsi akan teks yang panjang harus dipuji; demikian pula ketepatan membidik nada, solfegio, dan teknik vokalnya. Dalam konteks ini terpuaskanlah elemen kognitif penonton.

Andaikan saja dilibatkan seorang sutradara yang mampu menenung mimik dan bahasa tubuh berwatak soprano kita ini untuk mencapai 40 persen dari mimik dan bahasa tubuh berwatak seorang Meryl Streep, Ibu yang Anaknya Diculik Itu yang digelar untuk memperingati Hari Kartini tahun ini pastilah tak hanya membekas di kepala, tetapi juga membekas di hati.

Sumber: Kompas, Minggu, 24 April 2011

Menapak 35 Tahun Padnecwara

-- Maria Darmaningsih

TAHUN ini kelompok kesenian yang mengusung seni tradisi Jawa di Jakarta Padnecwara berumur 35 tahun. Retno Maruti, sang maestro itu, masih saja berkarya bahkan tetap berunjuk kebolehan di atas pentas.

Pada 30 April dan 1 Mei 2011, Padnecwara akan mementaskan lakon Savitri di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ). Pentas ini tidak saja bakal membuktikan kesetiaan Retno Maruti menekuni kesenian tradisi, tetapi juga membersitkan ”kekeraskepalaannya” menyeruak kesibukan kota seperti Jakarta dengan seni yang ”seolah-olah” berkesan lamban.

Padnecwara, yang diambil dari bahasa Sansekerta padmi dan iswara berarti permaisuri raja. Dalam pengertian itu ada unsur pengagungan terhadap perempuan yang berada dalam ranah tradisi. Kelompok ini memiliki ciri khas memakai tembang sebagai dialog.

Sampai saat ini telah melahirkan 12 karya tari yang dipentaskan, di antaranya Bedaya-Legong Calon Arang koreografer bersama Ayu Bulantrisna Djelantik, Suropati, Dewabrata, Kangsadewa, Ciptoning, Sekar Pembayun, Palgunadi, Abimanyu Gugur, Roro Mendut dan Damarwulan.

Tiga puluh lima tahun melalui karya-karyanya Padnecwara senantiasa mengajak kita untuk melakukan kontemplasi batin dan filosofis atas nilai kehidupan masa lalu yang bisa diterapkan di masa kini. Tiga puluh lima tahun sebuah kurun waktu yang penuh kesetiaan melakukan panggilan hidup untuk menampilkan kebudayaan Jawa dalam sentuhan kekinian.

Tiga puluh lima tahun Padnecwara melawan arus modernisasi dan materialisasi dalam kehidupan kota metropolitan, yang demikian lahiriah, dan tiga puluh lima tahun Retno Maruti bagai sebuah teratai yang senantiasa lahir kembali dan hidup lumpurnya duniawi.

Tidak mudah

Tidak mudah menegakkan sendi-sendi tradisi di tengah kebisingan kota, yang cenderung bergerak cepat dan urban. Tetapi sekeluarga Retno dan suaminya Sentot Sudiharto dan anak semata wayang mereka, Rury Nostalgia, seperti batu karang yang teronggok. Mereka berdisiplin keras untuk sampai kepada pentas demi pentas yang tentu tidak mudah.

Jangan kata soal dana, mengumpulkan orang-orang urban yang ”masih” punya hati untuk menekuni tradisi dalam pusaran kota saja sulitnya minta ampun. Tetapi toh kali ini kelompok ini seolah menyeruak kembali menghadirkan Savitri.

Garapan Savitri pernah ditampilkan di Teater Arena (yang sekarang telah menjadi Teater Jakarta) Taman Ismail Marzuki (TIM), tahun 1978, ketika Retno Maruti mendapatkan penghargaan Penulisan Naskah Tari Terbaik dari Dewan Kesenian Jakarta.

Seakan sebuah lingkaran, sebagai titik balik yang menunjukkan keteguhan hati seorang perempuan Savitri (Maruti). Perjuangan selama 35 tahun berada di ranah kesenian Jawa, tetapi senantiasa memberi arti kekinian terhadap kisah-kisah terutama kisah perempuan dalam Ramayana ataupun Mahabarata. Keteguhan cinta yang tiada pernah putus dalam menjalani pilihan hati (pilihan hidup).

Pementasan Savitri di GKJ diawali dengan adegan para penari putra, kemudian disusul keluarnya satu per satu penari perempuan, Retno Maruti/Rury Nostalgia, Wati Gularso, Yuni Trisapto, Nungki Kusumastuti, Yully Purwanti, Inda Turner, Chrystina Binol, Hanny Herlina, dan Risna Astari, sembilan penari bedoyo, yang melakukan gerak lincak gagak, dengan tenang, lembut tanpa pretensi mereka membentuk komposisi yang indah.

Keindahan tercipta atas perpaduan dari kontrasnya penari putri lembut gaya Surakarta dan penari putra gagah gaya Yogyakarta. Penari putra yang terlibat kali ini adalah Wahyu Santosa Prabawa, Agus Prasetya, Sarjiwo, Widaru Krefianto Kaswarjono, Hermawan Sinung Nugroho, Anter Asmorotejo, Yestriyono Piliyanto, Joko Sudibyo, dan Sagitama Krisnandaru Kaswarjono. Bambang Pujasworo, dosen dan ahli tari Yogyakarta sebagai koreografer untuk penari putra.

Gerak-gerak tari ini disatukan dengan tembang yang ditulis oleh Blacius Subono, sebagai penata gending. Subono, seorang komposer dan dosen ISI Surakarta, menulis tembang sesuai karakter situasi tokoh dalam setiap adegan dalam bentuk yang bukan macapat.

Pada lagu tertentu diberi nuansa Gregorian, di mana dihadirkan suara 1, 2, dan bahkan 3. Juga dalam garapan ini Subono melepaskan keterikatan atas pathet, di mana biasanya dalam tembang Jawa pathet merupakan pakem. Karena itu, dalam tembang-tembang Savitri, terasa nuansa puitis terdengar mendayu sekaligus kuat dan mampu membawa kita ke dunia antah berantah.

Pada pentas kali ini Retno Maruti mencoba memadukan gaya tari Surakarta dengan Yogyakarta, yang sebelumnya tidak dilakukan dalam naskah yang sama. Perpaduan ini bisa jadi sebuah upaya sinergi untuk memupus opini Surakarta dan Yogyakarta yang selalu berkelahi....

Selamat ulang tahun ke-35 Padnecwara....

Maria Darmaningsih, Direktur Indonesian Dance Festival 2012

Sumber: Kompas, Minggu, 24 April 2011

[Catatan Minggu] Kelas Atas Kita

-- Bre Redana

ADA profesi yang pada dirinya tak melekat pengertian bekerja, yakni ”selebriti”. Cita-cita menjadi selebriti, kata remaja cantik. Televisi sering mengucapkan, dia adalah selebriti. Dia telah menjadi selebriti.

Sama seperti ”budayawan”, sebutan itu agaknya lebih dimaksudkan untuk menggambarkan alam dewa-dewi yang serba enak, serba ada, tak perlu bekerja. Berbeda dengan misalnya desainer yang berarti harus membikin desain, petugas asuransi yang harus cari klien dan terkadang menjengkelkan, tukang sapu yang berarti harus nyapu, dan seterusnya. Menjadi selebriti atau jenis-jenis ”pekerjaan” yang tidak usah berkonotasi kerja lebih menjadi dambaan.

Terlebih untuk suatu bangsa yang melompati fase-fase perkembangan peradaban. Bayangkanlah, tanpa pernah melalui zaman pencerahan yang mengagungkan akal budi dan pemikiran, dilanjutkan revolusi industri yang mengutamakan efisiensi serta utility, tiba-tiba masuk ke era konsumsi. Jadilah yang berkesempatan punya segalanya tanpa bekerja pamer kekayaan.

Sedangkan yang belum berkesempatan, ngiler di depan televisi, silau oleh gebyar kebendaan. Menunggu mukjizat menjadi kaya mendadak. Segala sesuatu pokoknya gemebyar, tak punya mutu sekalipun akan disukai. Ini yang seharusnya membuat kritikus maklum, mengapa program-program kita sebagian besar jelek.

Kritik terhadap banalisme kebudayaan seperti itu telah lama ada. Thorstein Veblen pernah menulis buku The Theory of the Leisure Class (terbit pertama tahun 1953), yang lalu menjadi acuan semua yang tertarik pada perilaku kelas atas. Di situ Veblen menegaskan maksudnya dengan ”leisure class”, yakni penggunaan waktu yang tidak produktif.

Dia lacak dari akarnya sejak zaman baheula, kelahiran leisure class berkoinsidensi dengan ihwal kepemilikan dalam sejarah ekonomi. Pada zaman barbarian, kepemilikan dimulai dengan kepemilikan atas perempuan—umumnya hasil rampasan. Dari kepemilikan atas perempuan terjadi evolusi sampai ke pemilikan atas hasil-hasil industri.

Kita harus melihat konteks Veblen menulis bukunya di zaman itu. Ia tengah menyorot munculnya kelas baru di Amerika pada waktu itu, nouveau riche, yang ia anggap tidak konsisten dengan kebutuhan produktivitas masyarakat modern. Kelas sosial baru itu adalah predator dari benda-benda mewah, bergaya hidup limpah ruah. Di situ ia menggunakan istilah ”conspicuous leisure”—ketidakproduktifan yang mencolok mata.

Saudara-saudara sebangsa setanah air, itu juga yang kita lihat di sekeliling kita sekarang. Pihak-pihak dan kelas penguasa yang kita ragukan produktivitasnya secara mencolok memamerkan kemakmurannya. Pakaiannya bagus, memakai jaket kulit meski ini negeri tropis, arloji mewah, cincin bermata berlian. Dari yang diam-diam kita duga korupsi sampai yang telah terdakwa sebagai koruptor dan penilep uang rakyat, semua tampil di televisi dengan kemewahan.

Itu semua adalah antitesa produktivitas. Makin Anda melihat gemebyar-nya kelas atas, sebenarnya berarti makin reyotnya kehidupan rakyat secara keseluruhan. Anda tahu sendiri, jalanan rusak di mana-mana, sekolah ambruk, kemiskinan rakyat tecermin sampai ke hantu-hantunya yang muncul di bioskop. Kuntilanak hidup di pohon, pocong ngumpet di rumah sakit, jelangkung jalan kaki ke mana-mana karena tak punya ongkos.

Sumber: Kompas
, Minggu, 24 April 2011

Sejarah Kina Tergerus dari Priangan Stelsel

-- G Magnus Finesso dan Jannes Eudes Wawa

AKHIR Maret 2011, tiga lelaki setengah baya tampak sibuk memanen beberapa ton wortel dan kol pada salah satu lahan di wilayah Kertasari, lereng Gunung Wayang, hulu Sungai Citarum, Jawa Barat. Sayuran itu ditanam secara tumpang sari oleh petani setempat pada lahan perkebunan kina yang dikelola PT Perkebunan Nusantara VIII.

Sejumlah warga mencari rumput di sekitar lahan yang masih menyisakan bekas pemangkasan pohon kina di lahan Perkebunan Kina, Kertasari, Bandung, Jawa Barat, awal Maret. Keberlangsungan lahan perkebunan warisan Priangan Stelsel ini mengambang. (KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)

Sayuran yang dipanen langsung dibeli tengkulak yang kemudian dipasarkan ke Bandung, Jakarta, dan kota-kota sekitarnya. Harga yang ditawarkan selalu fluktuatif, tetapi petani setempat tetap menekuni usaha tersebut sebagai pilihan hidup utama.

Sistem tumpang sari dalam perkebunan kina itu dilakukan atas inisiatif warga setempat sejak 1998 setelah hak guna usaha (HGU) yang dikantongi PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII habis masa berlakunya pada 31 Desember 1997. Masyarakat setempat kemudian menyerobot dan menguasai lahan perkebunan kina.

Lahan tersebut ditanami sayur-sayuran, seperti wortel, bawang daun, dan kol. Bahkan, pohon kina yang ada pun ditebang sebab dinilai mengganggu tanaman semusim tersebut.

”Sekitar 1.000 hektar (ha) lahan perkebunan kina di Kertasari sudah ditanami sayuran. Akibatnya, jumlah pohon kina pun menyusut tajam. Kondisi ini dipicu keterbatasan lahan dan sumber pendapatan sehingga mendorong warga merangsek dan menyerobot lahan milik negara,” kata Agus Derajat, Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan Tarumajaya.

Kondisi itu diakui Direktur Komoditas Non Teh PTPN VIII Endang Rahmat. Hingga kini, sebagian besar areal kebun kina ludes berganti dengan kebun sayur. ”PTPN tidak mampu berbuat banyak karena pengurusan perpanjangan HGU di Badan Pertanahan Nasional sempat macet,” jelas Endang.

Data Dinas Perkebunan Jabar menyebutkan, perkebunan kina di provinsi itu tersebar di Kabupaten Bandung, Sukabumi, Cianjur, Subang, dan sisanya tersebar di Sumedang, Bogor, Garut, dan Majalengka. Namun, luas dan produksinya cenderung turun. Jika pada 2005 luas kebun kina mencapai 4.149 ha dengan produksi 820 ton, pada 2009 cuma tersisa 3.379 ha yang menghasilkan 352 ton. Sekitar 86,9 persen dikelola negara melalui PTPN VIII.

Endang menjelaskan, perkebunan kina direncanakan bakal difokuskan di Bukit Tunggul, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung. Areal di sana merupakan gabungan seluruh areal komoditas kina yang dikelola PTPN VIII. Lahan itu tersebar di lima kebun, masing-masing Kebun Kertamanah, Puncak Gedeh, Cikembang, Bungamelur, dan Cibitu.

”Tanaman kina memang semakin menyusut karena lemahnya daya saing. Walau begitu, kami tetap mempertahankan kina sebagai salah satu kekhasan produk kebun di Jabar,” papar Endang yang menyebutkan harga kina dunia saat ini justru sedang menanjak, yakni Rp 29.000 per kilogram bubuk kulit kina kering.

Kina di Jabar

Hingga akhir abad XX, komoditas kina (Chincona) telah melambunngkan nama Bumi Priangan ke seantero jagat. Bahkan, pada 1939 lebih dari 90 persen kebutuhan bubuk kina dunia dipasok dari berbagai perkebunan di dataran tinggi Bandung. Ironis, tumbuhan ajaib pembasmi malaria itu kini kian diabaikan di tengah ragam komoditas yang lebih bernilai ekonomi.

Masuknya tumbuhan endemik dataran tinggi Amerika Selatan itu ke Indonesia tak lepas dari periode kelam agrikultur di bumi Nusantara ini saat penerapan sistem tanam paksa atau cultuur stelsel oleh perusahaan dagang Belanda Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) pada tahun 1830.

Khusus tanah di wilayah Jabar karena lebih spesifik pada komoditas perkebunan, sistemnya diatur sendiri dan dinamakan Priangan Stelsel.

Sedikit berbeda dari motif penanaman kopi dan teh yang harganya di dunia saat itu sangat tinggi, kina ditanam di Priangan pada awalnya untuk menjaga agar tumbuhan jenis itu tidak punah. Pasalnya, saat itu, kina terbukti menjadi obat yang sangat penting. Setelah permintaan dunia kedokteran meningkat dan harganya menjadi tinggi, Pemerintah Belanda melihatnya sebagai peluang bisnis.

Industri kina di Priangan yang tersebar di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat tak lepas dari peran Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864) yang dikenal sebagai tokoh usaha penanaman dan industri kina di Indonesia (dahulu Hindia Belanda). Ilmuwan sekaligus pencinta alam berkebangsaan Jerman yang lahir di Mansfeld tahun 1809 itulah yang meminta pemindahan pembibitan kina dari Kebun Raya Bogor ke Pangalengan pada tahun 1855.

Haryoto Kunto, dalam ”Semerbak Bunga di Bandung Raya” (1986), menyebutkan, saat Junghuhn menangani pembibitan kina di Pangalengan, jumlah pohon kina di Pulau Jawa 167 batang. Namun, 6,5 tahun kemudian, jumlah pohon kina pun bertambah menjadi 1.359.877 batang dan 70 persen di antaranya berjenis Cinchona pahudiana.

Kendati kondisinya jauh menurun dibandingkan dengan puluhan tahun lalu, Jabar hingga kini masih menjadi produsen utama kina nasional, di samping sebagian kecil ditanam pula di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sumatera Barat.

Tanaman kina dimanfaatkan dengan terlebih dulu mengupas kulit kayunya. Kemudian diproses sesuai keperluan, mulai pil kina (penyembuh malaria), garam kina, minuman ringan, hingga kosmetik.

Puncak kejayaan kina Indonesia dialami hingga pecah Perang Dunia II. Lebih dari 90 persen kebutuhan bubuk kina dunia bersumber dari wilayah Priangan dengan volume 11.000-12.400 ton kulit kina kering per tahun.

Pascakemerdekaan (1945), jumlah perkebunan kina di Jabar menurun drastis. Penyebabnya, antara lain rusak karena perang, hubungan Indonesia dan negara pengimpor terputus sehingga ”kehilangan” pasar. Sebab lain, banyak perkebunan mengonversi kina ke tanaman lain yang dinilai lebih menguntungkan.

Seusai reformasi 1998, perkebunan kina semakin merana. Ada niat PTPN VIII untuk mempertahankan industri kina sebagai komoditas khas wilayah Jabar selain teh dan kopi. Namun, luas lahan terus menyusut dari tahun ke tahun karena dirambah warga.

Padahal, dari aspek ekologis, kina punya keunggulan. Sebagai tanaman berakar kuat, sebanyak 6.000 pohon kina yang pernah tertanam di Hulu Citarum itu mampu menjadi areal tangkapan resapan air yang mencegah banjir dan erosi. Kini, ketika memandangi hulu Sungai Citarum, tak tampak satu pun pohon kina tersisa. Semuanya gundul, rata dengan kebun sayur.

PTPN VIII sendiri dalam rencana kerja perusahaannya akan mengurangi areal kina yang kini masih sekitar 2.339 ha menjadi 1.470 ha saja. PTPN VIII juga secara simultan berencana menambah luasan areal komoditas prospektif, seperti teh dan kelapa sawit. Produksi kina pada 2011 juga hanya ditarget 96 ton bubuk kulit kina kering atau jauh menyusut dari realisasi 2010 sebanyak 178,8 ton.

Dilihat dari neraca perusahaan, pengabaian kina dianggap cukup beralasan. ”Hasil penjualan bubuk kina pada 2010 hanya Rp 5,1 miliar, atau hanya setengah persen dari total nilai penjualan seluruh komoditas PTPN VIII,” ujar Endang.

Nasib areal kebun kina di Hulu Citarum boleh jadi mewakili nasib legenda tumbuhan obat penyelamat ratusan juta nyawa umat manusia ini.... (Mukhamad Kurniawan)

Sumber: Kompas, Minggu, 24 April 2011

Orang Asmat Asli Masih Terpinggirkan

-- Erwin Edhi Prasetya dan St Sularto

MESKI hari sudah beranjak sore, pasar Agats masih hiruk-pikuk. Beberapa warga baru saja datang menawarkan hasil tangkapan ikan yang tampak segar. Penjual sayur dan buah-buahan masih menggelar dagangan. Pedagang bukan asli Asmat—mudah dibedakan dari rambut dan warna kulit—menempati kios-kios. Yang asli menggelar dagangan di emperan kios atau di pinggir jalan—deretan papan kayu tersusun menyerupai jalan selebar dua meter—yang kalau dilewati terdengar berderak-derak.

Pemandangan sore itu sudah berulang dari hari ke hari. Pasar yang berada di dekat Pelabuhan Agats ini—lokasinya semakin menjorok ke dalam karena abrasi—merupakan urat nadi ekonomi masyarakat Agats. Seperti pasar-pasar pada umumnya, pedagang menggelar aneka dagangan di atas lapak dan selasar yang sempit. Ada kios kelontong, kios pakaian, toko elektronik, toko telepon seluler dan pulsa, warung makan, dan penjual sayuran. Di Jalan Yos Sudarso dan Bhayangkara di dekat pasar berderet toko, bahkan ada salon kecantikan Mega Jawa.

Ironisnya, jarang ditemukan orang asli Asmat sebagai pemilik toko atau kios di sentra perekonomian itu. Orang Asmat yang berjualan bisa dihitung dengan jari tangan. Itu pun mereka hanya berjualan kecil-kecilan, seperti sayuran, pisang, pinang, dan hasil tangkapan ikan. Lebih sedikit lagi menemukan orang Asmat bekerja sebagai penjaga toko. Kebanyakan toko kelontong, warung makan, apotek, dan toko baju dimiliki pendatang. Warga Bugis Makassar dominan di sektor perdagangan.

Fenomena terpinggirnya orang-orang asli Papua di sektor perdagangan dan jasa bukan hanya terjadi di Asmat. Kondisi serupa juga terjadi di kabupaten dan kota lain di Provinsi Papua dan Papua Barat, seperti di Merauke, Abepura, Timika, Manokwari, dan Jayapura. Di kawasan sentra-sentra ekonomi, para pendatang menjadi aktor utama.

Di Merauke, misalnya, toko swalayan yang berderet di jalan utama Mandala banyak dimiliki warga Tionghoa. Pendatang dari Jawa dan Padang bergerak di bidang warung makan. Pendatang dari Bugis Makassar selain banyak bergerak di sektor perikanan, juga berdagang di pasar. Rental-rental mobil juga banyak diusahakan orang-orang Jawa. Lebih ironis lagi, langka ada orang suku Marind, yang merupakan penduduk asli Merauke bekerja sebagai pelayan di tempat-tempat usaha tersebut.

Beberapa penduduk asli biasanya hanya berjualan pinang. Hal yang sama di Jayapura, penduduk asli hanya berjualan kecil-kecilan, misalnya bensin eceran dan pinang, di trotoar, dan hasil bumi di selasar pasar.

Tak tahu standar harga

Saat orang-orang pedalaman Asmat datang sesekali ke Agats untuk menjual hasil alam atau ikan, mereka pun tidak mengetahui standar harga pasar. Terpaksa mereka melepas barang-barangnya dengan harga murah kepada pedagang pasar. Misalnya, satu tandan pisang kepok ukuran besar dibeli pedagang seharga Rp 60.000, kemudian dijual lagi degan harga jauh lebih tinggi. Udang kelas vanane dijual Rp 20.000 per kilogram, ikan juga dijual murah karena melimpahnya tangkapan, misalnya satu ikat ikan kuru sedang berisi 6-7 ekor dijual Rp 20.000, bahkan kalau tak segera laku dengan cepat diturunkan menjadi Rp 10.000, dan kalau tidak laku mereka buang. Pemkab Asmat tegas melindungi nelayan tradisional dengan melarang nelayan daerah lain menangkap di wilayah Asmat sehingga tangkapan cukup banyak.

Melihat kondisi yang merugikan warga Asmat, Keuskupan Agats berupaya agar mereka bisa menjual hasil bumi dengan harga wajar. Didirikanlah sebuah kios yang dikelola bekerja sama dengan seorang pengusaha pendatang untuk mendampingi dan menciptakan peluang pasar baru bagi orang-orang Asmat. Kios yang diberi nama Maju Bersama ini menampung dagangan warga. Kini, kios ini jadi salah satu tumpuan warga menjual apa saja, dari hasil bumi sampai patung dan ukiran. Kios ini diharapkan menjadi pemacu transaksi yang lebih adil untuk warga. Sekaligus mengurangi dominasi pendatang.

”Kami sekarang sampai kewalahan menampung hasil bumi warga. Kadang mereka datang membawa pisang banyak sekali, satu long boat penuh pisang. Untungnya, sekarang semakin banyak warga Agats yang membeli di sini sehingga uang bisa berputar terus,” ujar Ayun, pengelola kios Maju Bersama.

Uskup Agats Mgr Aloysius Murwito menuturkan, warga Asmat belum pandai hitung- menghitung. Mereka gampang menderita kerugian. Contohnya, seorang warga ingin menjual ayam jantan seharga Rp 100.000. Ketika pembeli menawar Rp 50.000, justru ayam itu diberikan seharga Rp 40.000. Contoh lain, sebuah ukiran ditawarkan Rp 500.000, ketika ditawar Rp 200.000 langsung diberikan. ”Mereka tidak bisa menentukan harga,” ungkapnya.

Untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat, ujar Aloysius, harus dihidupkan transaksi-transaksi yang adil sehingga warga mendapat uang untuk memenuhi kebutuhan. Keuskupan Agats pun mengembangkan Credit Union (CU) untuk modal usaha warga Asmat. Nasabah CU berkembang mencapai 780 orang. Namun, upaya itu tidak selalu mulus. Sebanyak 180 nasabah pinjamannya diputihkan akibat kredit macet. ”Dari hitungan kami sebenarnya mereka mampu mengembalikan. Mereka belum mampu mengelola keuangan,” ujarnya.

Potensi perekonomian Asmat sebenarya besar, misalnya perikanan dan pariwisata. Akan tetapi, potensi yang dimiliki belum digarap dengan baik. Padahal, apabila dikembangkan serius akan menjadi motor yang menggerakkan perekonomian rakyat. Dari kedua sektor itu bisa dibuka usaha mikro kecil, seperti kios cendera mata, restoran, dan usaha perhotelan. ”Bisa dikembangkan paket-paket wisata alam dan budaya. Bisa saja buka paket perjalanan wisata Jayapura-Wamena-Asmat. Asmat ini menarik karena memiliki keunikan yang tidak ada di tempat lain,” ujarnya.

Bupati Asmat Yuvensius A Biakai mengakui Asmat tertinggal dibandingkan dengan wilayah lain, terutama dibandingkan dengan Papua bagian utara. Ia menuding Pemerintah Provinsi Papua kurang memerhatikan wilayah Selatan Papua sehingga kabupaten harus bekerja sendirian. Karena itu, pihaknya mendorong segera dilakukan pemekaran wilayah selatan jadi Provinsi Papua Selatan untuk memacu pertumbuhan perekonomian di wilayah Selatan. Jika perekonomian wilayah selatan maju, Asmat juga maju. ”Pemekaran Provinsi Papua Selatan itu adalah kebutuhan,” ujarnya.

Yuvensius menarik kondisi kontras Papua bagian utara dengan Papua Selatan sebagai metafor negara-negara Utara dan negara-negara Selatan. Yang tergolong negara-negara Utara itu umumnya kaya dan makmur, sedangkan negara-negara Selatan itu dikelompokkan negara miskin atau negara berkembang. Demi keseimbangan, kearifan lokal yang dikembangkan di Papua, sewajarnya bagian Utara membantu bagian Selatan.

Sumber: Kompas, Minggu, 24 April 2011

Biarkan I La Galigo Mengembara

-- Budi Suwarna dan Maria Serenade Sinurat

SETELAH tujuh tahun dibawa keliling dunia, kisah I La Galigo akhirnya dipentaskan di Makassar, boleh dibilang tanah kelahirannya. Pementasan ini bisa menjadi pintu masuk untuk membuka tabir mitologi I La Galigo yang belum terkuak.

Para seniman mengikuti geladi resik pementasan I La Galigo di Benteng Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (22/4) malam. Geladi yang sekaligus menjadi pementasan perdana tersebut hanya berisikan 2 dari 12 scene yang seharusnya dipanggungkan. (KOMPAS/WAWAN H PRABOWO)

Tabu telah dilanggar. Sawerigading menebang pohon suci welenrenge. Tiada pilihan lain baginya selain meninggalkan tanah kelahiran di Luwuq (Luwu) dan We Tenriabeng, saudari kembarnya. Pengembaraan sang putra dewa mencari cinta yang sempurna pun dimulai hingga dia sampai ke negeri China dan menikahi I We Cudai.

Perjalanan Sawerigading ini menjadi inti cerita pementasan I La Galigo. Kisah Sawerigading ini dijalin dalam sebuah rentetan kejadian dari siklus penciptaan, pengosongan, hingga pembaruan tanpa henti di Dunia Tengah (Bumi). Sebagai catatan, mitologi I La Galigo membagi dunia menjadi tiga, yakni Dunia Atas, Dunia Bawah, dan Dunia Tengah.

Lakon arahan sutradara teater kontemporer Robert Wilson itu hanya mengambil secuplik sureq (serat) I La Galigo yang dianggap sebagai naskah sastra terpanjang di dunia. Panjangnya diperkirakan dua kali lipat dari naskah Mahabharata.

”Ini cerita versi saya yang saya kembangkan dari naskah I La Galigo,” ujar Robert seusai konferensi pers, Rabu (20/4).

Lakon I La Galigo dipentaskan di tengah Benteng Rotterdam, salah satu ikon Kota Makassar pada Sabtu dan Minggu, 23-24 April. Jumat malam, panitia menggelar pementasan khusus untuk wartawan, keluarga pendukung acara, dan anak yatim piatu. Namun, pementasan khusus itu dihentikan sekitar 30 menit setelah acara dimulai. Robert dan tim memilih melanjutkan latihan untuk pementasan hari berikutnya. Sekitar 1.000 penonton yang datang pun tampak kecewa.

Animo untuk menonton pentas ini memang luar biasa. Sejak Jumat sore, ratusan penonton antre di depan pintu benteng di tengah hujan rintik-rintik. Tiket untuk penonton, menurut media relations pementasan I La Galigo, Yusi Pareanom, habis terjual dengan harga mulai dari Rp 75.000 hingga Rp 250.000. Sebagian tiket terjual di Jakarta. Dua hari pementasan itu ditonton sekitar 2.200 orang.

Pementasan I La Galigo itu dianggap momen penting khususnya bagi orang Bugis. Inilah pertama kalinya lakon yang selama tujuh tahun dibawa keliling dunia itu dipentaskan di tanah kelahirannya sendiri. Sebelumnya, lakon ini dipentaskan di berbagai panggung teater kelas dunia dalam rentang tujuh tahun, mulai dari Singapura, Amsterdam, Barcelona, Madrid, Lyon, Ravenna, New York, Jakarta, Melbourne, Milan, hingga Taipei.

Pementasan di kota-kota itu, kabarnya, mendapat sambutan bagus. Robert dianggap sanggup mengemas legenda arkais itu menjadi sebuah tontonan kosmopolitan. Kekuatannya, antara lain, terletak pada kemampuan Robert memainkan pencahayaan dan artistik. Pada pementasan di Benteng Rotterdam, adegan penciptaan bumi ditingkahi gradasi warna biru seolah membawa penonton pada sebuah keheningan yang subtil.

Pintu masuk

Pementasan lakon ini memberikan rasa bangga khususnya bagi orang Bugis sebagai pemilik mitologi I La Galigo. ”Kami harus berterima kasih kepada orang-orang yang telah mementaskan legenda Sawerigading ke luar negeri. Mitologi Bugis yang tersisa dalam serpihan-serpihan ingatan itu bisa dikenal dunia,” ujar Asdar Muis, budayawan muda Sulawesi Selatan.

Yayath Pangerang, pekerja budaya asal Luwu, berharap lakon ini terus mengembara di panggung dunia untuk memperkenalkan tradisi Bugis. ”Secara alamiah, Sawerigading memang pengembara. Jadi, biarkan dia (legenda) berkeliling dunia agar dia menjadi mata air kebudayaan. Kemasannya mau dibikin seperti apa dan dipentaskan oleh siapa tidak lagi penting. Yang penting, tradisi Bugis dikenal orang.”

Ikrar Andi Mohammad Saleh, dosen Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin, Makassar, yang juga generasi ke-4 Arung/ Raja Belo—sebuah kerajaan palili di Soppeng—mengatakan, pementasan I La Galigo memberikan kebanggaan terutama bagi orang Bugis.

”Ini baru kulitnya, masih jauh dari esensi mitologi I La Galigo yang sangat kaya dan menjadi pijakan nilai hidup bagi orang Bugis. Derivasi (turunan) dari naskah itu sebenarnya sangat kaya, yakni mengatur mulai dari pertanian, lingkungan, sampai hubungan seks suami istri,” ujarnya.

Meski demikian, pementasan ini bisa dijadikan pintu masuk untuk menguak lebih dalam tabir mitologi I La Galigo yang sebagian besar belum diketahui. ”Kita harus terus mendalami I La Galigo agar orang tidak menyangka mitologi ini isinya sebatas kisah cinta Sawerigading seperti lakon yang dipentaskan,” lanjut Ikrar.

Sumber: Kompas, Minggu, 24 April 2011