Thursday, March 31, 2011

Ke Mana Arah Prioritas Pendidikan Nasional?

-- Hafid Abbas

PADA 23 Maret lalu harian ini melaporkan bahwa sampai saat ini 88,8 persen sekolah di Indonesia, mulai SD hingga SMA/SMK, belum melewati mutu standar pelayanan minimal.

Berdasarkan data yang ada, 40,31 persen dari 201.557 sekolah di Indonesia di bawah standar pelayanan minimal, 48,89 persen pada posisi standar pelayanan minimal, dan hanya 10,15 persen yang memenuhi standar nasional pendidikan. Dengan keadaan itu, pemerintah justru gencar menggelontorkan dana menciptakan rintisan sekolah bertaraf internasional: 0,65 persen.

Sedikit sekali sekolah kita yang memenuhi persyaratan. Bagaimana implikasinya terhadap mutu lulusan yang diharapkan? Orangtua tentu mulai khawatir jika pendidikan yang tengah atau akan dijalani anaknya di berbagai jenjang dan jenis pendidikan jauh dari mutu yang diharapkan. Berbahayalah jika masyarakat hilang kepercayaan kepada pemerintah atas kemampuannya menyediakan layanan pendidikan yang berkualitas dan merata bagi semua warga negara.

Indonesia-Malaysia

Risau seperti itu sudah lama muncul. Pada 2003, Menko Kesra Jusuf Kalla menugaskan seorang deputinya membandingkan mutu pendidikan kita dengan Malaysia. Kajian itu menunjukkan bahwa tingkat kesukaran ujian akhir jenjang SD di Malaysia untuk Bahasa Inggris relatif sebanding dengan tingkat kesukaran ujian akhir jenjang SLTA di Indonesia. Untuk IPA dan Matematika, tingkat kesukaran jenjang SLTP relatif sebanding dengan jenjang SLTA.

Artinya, Indonesia relatif tertinggal dari Malaysia 3-6 tahun dalam tingkat kesukaran materi ujian nasional. Standar kelulusan nasional Malaysia dengan tingkat kesukaran itu pada 2003 adalah 6, sedangkan Indonesia 3. Ini berarti, jika Indonesia meningkatkan standar kelulusannya 0,5 setahun, kita baru mencapai keadaan seperti Malaysia (2003) pada 2009. Jadi, Indonesia tertinggal 9-12 tahun dari Malaysia.

Tanpa bermaksud mengecilkan arti dan keberadaan sekolah bertaraf internasional (SBI) yang gencar dikembangkan itu, yang terpenting pada hemat saya adalah bagaimana kebijakan pengelolaan pendidikan dilakukan dengan langsung menyentuh inti peningkatan kualitas proses belajar-mengajar yang berlangsung di ruang kelas.

Malaysia kelihatannya tak tergila-gila mengembangkan SBI. Ia membenahi hal-hal pokok. Jika proses pengelolaan belajar-mengajar tak berkualitas, sebaik dan selengkap apa pun sarana dan prasarana sekolah, mutu pendidikan kita akan tetap tertinggal.

Yang perlu dipikirkan, bagaimana sampai pada titik temu, prioritas penggunaan anggaran untuk peningkatan kesejahteraan guru yang secara nyata berdampak pada peningkatan mutu proses belajar-mengajar, dan selanjutnya mutu lulusan dan mutu pendidikan secara keseluruhan. Guru diberi insentif mengembangkan media belajar, misalnya, demi meningkatkan kualitas belajar-mengajarnya.

Kelihatannya masih relevan ditelaah laporan Katarina Tomasevski, Special Rapporteur PBB (2001), yang mengkaji mutu pendidikan di Indonesia. Ia mengungkapkan, mutu pendidikan kita amat rendah. Meski gaji guru dinaikkan dua-tiga kali lipat, kebijakan itu tetap tak berdampak pada perbaikan mutu.

Alasannya, jam mengajar guru hanya rata-rata 2,5 jam per hari atau 15 jam per minggu. Akibatnya, sulit ditemukan guru yang tak bekerja rangkap dalam berbagai bentuk: ada yang berbisnis, ada yang honorer di berbagai sekolah lain sehingga tugas utamanya terabaikan.

Gila ijazah

Hal ini diperburuk dengan banyaknya topik bahasan dalam kurikulum yang harus diajarkan guru. Meski siswa belum menguasai suatu konsep atau topik bahasan, guru harus pindah lagi ke topik lain. Akibatnya, sampai tamat, siswa tidak menguasai apa-apa karena hanya mempelajari setiap pokok bahasan secara sepintas tanpa pernah mengalami bagaimana indahnya dan menyenangkannya cara mengetahui pengetahuan.

Dengan keadaan seperti itu, Katarina terkesan bahwa sekolah di Indonesia hanya memberi ijazah yang jauh dari mutu yang diharapkan. Gejala penyakit gila ijazah itu terlihat jelas pada saat menjelang pemilu atau pemilukada. Begitu banyak kasus ijazah palsu di berbagai kabupaten dan kota. Keadaan seperti itu belum banyak berubah.

Yang juga diangkat Katarina, adanya diskriminasi promosi karier guru: 53 persen dari jumlah keseluruhan guru SD, 43 persen guru SLTP, dan 34 persen guru SLTA adalah wanita. Namun, yang dipromosikan menjadi kepala sekolah SD hanya 27 persen, SLTP 11 persen, dan SLTA 10 persen. Praktik diskriminasi seperti ini telah meredupkan motivasi guru berprestasi meningkatkan mutu belajar-mengajar.

Inilah beberapa catatan elementer yang kelihatannya belum banyak mendapat perhatian oleh pengambil kebijakan pendidikan nasional. Jika pengembangan SBI tetap prioritas, kiranya hal itu tidak menimbulkan kesenjangan pengetahuan antaranak didik karena amat berbahaya pada masa depan.

Kesenjangan ini saya nilai jauh lebih berbahaya dibandingkan dengan kesenjangan lain karena akan menciptakan keretakan peradaban dan keretakan generasi yang kelak mengancam sendi kekukuhan NKRI.

Hafid Abbas
, Guru Besar FIP UNJ; Mantan Dirjen Perlindungan HAM dan Konsultan UNESCO

Sumber: Kompas, Kamis, 31 Maret 2011

Kesusastraan: Merekam Jejak Sastra Melayu Tanjung Pinang

Jakarta, Kompas - Perkembangan sastra modern Indonesia tidak lepas dari peran kesusastraan Melayu yang dimulai dari kota Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Sastrawan di sana memberi sumbangan penting sastra yang terus diwariskan.

Peran sastra Melayu itu dibahas dalam buku Dermaga Sastra Indonesia, Kepengarangan Tanjungpinang dari Raja Ali Haji sampai Suryatati A Manan. Buku itu diluncurkan di Bentara Budaya Jakarta Selasa (29/3) malam dan dibahas oleh Budi Darma, sastrawan dan Guru Besar Universitas Negeri Surabaya; serta Abdul Hadi WM, sastrawan dan Guru Besar Universitas Paramadina.

Menurut Jamal D Rahman, salah satu penulis, Dermaga Sastra menyusuri jejak sastra Indonesia, dimulai dari kesusastraan di Tanjung Pinang. Tanjung Pinang menjadi pusat sastra sejak berabad silam. Sastra Melayu mencapai puncaknya karena andil penulis Melayu, khususnya dari Pulau Penyengat.

Beberapa sastrawan yang dianggap mewarnai sastra Indonesia modern, antara lain Raja Ali Haji dengan karya Gurindam 12, Haji Ibrahim Datuk Kaya Muda Riau, atau Aisyah Sulaiman Riau, yang menjadi pengarang-pengarang ulung. Karya mereka dibaca, diteliti, dikaji, dan diperbincangkan hingga kini.

Buku juga ditulis Abdul Malik (kandidat PhD Universitas Malaya, Malaysia, dan dosen Universitas Riau), Agus R Sarjono (Redaktur Majalah Sastra Horison, dosen STSI Bandung), dan Raja Malik Hafrizal (Kepala Pusat Maklumat Kebudayaan Melayu, Pulau Penyengat).

Budi Darma mengungkapkan, buku membahas tiga unsur saling berkait, yaitu bangsa, bahasa, dan kebudayaan. Ketiganya mengerucut menjadi tiga tokoh, yaitu Raja Ali Haji di Tanjung Pinang, Hamzah Fansuri di Aceh, dan Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi di Singapura.

Dari segi genetik, orang dari kawasan-kawasan itu hakikatnya satu. Namun, dari segi politik, mereka menjadi bangsa-bangsa berbeda. Kekuatan politik memilah satu bangsa itu menjadi tiga bangsa, yaitu bangsa Indonesia, Melayu Singapura, dan Malaysia.

Sesuai buku pelajaran sastra beberapa dasawarsa terakhir, tiga bangsa dari tiga negara itu menganggap ketiga tokoh tersebut bagian bangsa mereka masing-masing. ”Dari sini tampak, bangsa dan kebudayaannya, terkadang bahasanya pula, ternyata dapat ditundukkan kekuatan politik,” kata Budi. (IND)

Sumber: Kompas, Kamis, 31 Maret 2011

Tuesday, March 29, 2011

Obituari: Novelis Ratna Indraswari Pun Tiada

MALANG, KOMPAS - Sastra Tanah Air kehilangan salah satu penyokongnya. Cerpenis, novelis, sekaligus budayawan Ratna Indraswari Ibrahim (62) meninggal dunia dan dimakamkan hari Senin (28/3). Seniman, budayawan, aktivis, kelompok difabel, hingga politisi mengiringi pemakamannya di Tempat Pemakaman Umum Samaan, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur.

Pemberangkatan jenazah berlangsung pukul 14.00 di rumah duka di Jalan Diponegoro No 3, dipimpin adik kandung almarhumah, Saiful Bahri Ibrahim. Saiful pula yang mendampingi Ratna selama dirawat di Rumah Sakit Syaiful Anwar karena stroke.

”Sampai Sabtu sore saya masih memijiti pundaknya, namun tiba-tiba seperti hilang kesadaran. Ratna diketahui meninggal hari Senin,” kata Titik Qomariyah, mantan wartawan Surabaya Post, sahabat almarhum, kemarin.

Saiful berujar, ”Kami sempat ngobrol, ’Belum saatnya kau pergi. Kamu masih akan bertahan lama seperti novel dan cerpen- cerpen kamu’,” katanya.

Pesan terakhir almarhum, ia ingin ada semacam ”Borobudur” di Malang, sesuatu yang dikenang dari Malang.

Selain penulis, Ratna juga dikenal sebagai pejuang lingkungan di Malang Raya. Saat anak-anak muda menentang penggerusan ruang terbuka hijau di lahan eks APP Tanjung Malang, Ratna— yang difabel dan harus duduk di kursi roda sejak berusia 10 tahun— berada di barisan terdepan. Aksi itu menginspirasi novelnya, Lemah Tanjung (2003).

Karya-karya lainnya antara lain Pecinan Kota Malang (2008) dan Bukan Pinang Dibelah Dua (2003). Setidaknya, ada 400-an kisah pendek karyanya. Cerpennya tiga kali berturut-turut masuk antologi cerpen pilihan Kompas (1993-1996) dan antologi cerpen perempuan ASEAN (1996).

(ODY/DIA)

Sumber: Kompas, Selasa, 29 Maret 2011

Obituari: "Profesor" Lontarak Itu Berpulang...

MUHAMMAD Salim, penerjemah epos I La Galigo dan peneliti naskah lontarak, berpulang untuk selamanya, Minggu (27/3) sekitar pukul 18.30, dalam usia 75 tahun. Kepergiannya menyisakan keresahan keberlanjutan pendokumentasian dan pelestarian naskah lontarak di seluruh Sulawesi Selatan.

Salim kelahiran Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, 4 Mei 1936. Minggu sore, ia masih ikut rapat. Sabtu, ia mengundang Kompas mendiskusikan nasib Yayasan Budaya Sulawesi Selatan (YBSS), tempatnya mengabdi sebagai tenaga ahli bahasa Bugis, 5 tahun terakhir.

Kepergiannya mendadak. ”Seusai wudu, Bapak duduk lalu berbaring. Dadanya sakit. Setelah itu, Bapak pergi selamanya,” kata Hj Djamiah (65), istri Salim selama 54 tahun, Senin.

Salim tak pernah sakit keras. Pola hidupnya sehat. Ia rutin berolahraga pukul 04.30-06.30. Ia juga dikenal santun dan sederhana. Namanya dikenal seiring dedikasinya mendokumentasikan lontarak di seluruh Sulsel. Selain menerjemahkan Sureq Galigo selama 5 tahun 2 bulan atas biaya Universitas Leiden, Belanda, Salim berinisiatif mencari lontarak hingga ke pedalaman Sulsel, untuk diterjemahkan dan dibukukan.

Lebih dari 100 lontarak dikumpulkan. Belum semua dibukukan karena dana. Hasil penerjemahan I La Galigo sebanyak 12 jilid pun baru dibukukan dua jilid. Kendati tamatan Sekolah Guru Bawah, Salim merupakan rujukan para profesor dan peneliti asing.

Hingga wafat, ia setia menjaga YBSS. Padahal, ia bertugas tanpa honor. Dalam percakapan terakhir dengan Kompas, 21 Maret, ia mengkhawatirkan kelanjutan YBSS. ”Kalau bukan saya yang menjaga, siapa lagi? Tak banyak orang mau bekerja tanpa dibayar,” ucapnya. Ia bermimpi menonton pentas I La Galigo arahan Robert Wilson di Fort Rotterdam, Makassar, 23-24 April mendatang. (SIN)

Sumber: Kompas, Selasa, 29 Maret 2011

Kembali ke Pancasila

-- Yudi Latif

SEBAGIAN besar ketidakmampuan kita memecahkan masalah hari ini disebabkan ketidakmampuan kita merawat warisan terbaik dari masa lalu. Adapun warisan termahal para pendiri bangsa yang merosot saat ini adalah karakter. Ketika suatu golongan dibiarkan dicincang di altar kebencian golongan lain, dan ketika bom secara teatrikal dibingkiskan ke sejumlah alamat dengan mempermainkan nyawa manusia, kita mengalami amnesia yang parah tentang makna kemerdekaan.

Bung Karno berkata, ”Aku, ya Tuhan, telah Engkau beri kesempatan melihat penderitaan-penderitaan rakyat untuk mendatangkan negara Indonesia yang merdeka itu. Aku melihat pemimpin-pemimpin, ribuan, puluhan ribu, meringkuk di dalam penjara. Aku melihat rakyat menderita. Aku melihat orang-orang mengorbankan ia punya harta benda untuk tercapainya cita-cita ini. Aku melihat orang-orang didrel mati. Aku melihat orang naik tiang penggantungan. Bahkan aku pernah menerima surat daripada seorang Indonesia yang keesokan harinya akan naik tiang penggantungan. Dalam surat itu dia mengamanatkan kepada saya sebagai berikut: ’Bung Karno, besok aku akan meninggalkan dunia ini. Lanjutkanlah perjuangan kita ini’.”

Empati terhadap sejarah pengorbanan itulah yang membuat para pendiri bangsa memiliki jiwa kepahlawanan. Kenanglah heroisme para anggota Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia saat berpidato dengan menyerukan kemerdekaan dengan dasar negara yang diidealisasikan di tengah opsir-opsir bala tentara Jepang bersenjatakan bayonet. Bung Karno mengakui, ”Saya sadar, Saudara-saudara, bahwa ucapan yang hendak saya ucapkan mungkin adalah satu ucapan yang berbahaya bagi diriku, sebab ini adalah zaman perang, kita pada waktu itu di bawah kekuasaan imperialis Jepang, tetapi juga pada waktu itu, Saudara-saudara, aku sadar akan kewajiban seorang pemimpin. Kerjakanlah tugasmu, kerjakanlah kewajibanmu, tanpa menghitung-hitung akan akibatnya.”

Ketika para anggota DPR lebih sibuk mempermahal ruang kerja seraya mempermurah nilai keseriusan penyusunan rancangan undang-undang, kita mengalami kemerosotan begitu dalam dari jiwa pertanggungjawaban. Kenanglah rasa tanggung jawab para pendiri bangsa! Dalam membincangkan hukum dasar, Mohammad Yamin mengingatkan, ”Saya hanya minta perhatian betul-betul karena yang kita bicarakan ini hak rakyat. Kalau ini tidak terang dalam hukum dasar, maka ada kekhilafan daripada grondwet; grondwettelijke fout, kesalahan perumusan Undang-Undang Dasar, besar sekali dosanya buat rakyat yang menanti-nantikan hak daripada republik.”

Akutnya krisis yang kita hadapi mengisyaratkan, untuk memulihkannya perlu lebih dari sekadar politics as usual. Kita perlu visi politik baru yang mempertimbangkan kenyataan bahwa krisis nasional itu berakar jauh pada krisis moralitas dan etos yang melanda jiwa bangsa. Usaha ”penyembuhan” perlu dilakukan dengan memperkuat kembali fundamen etis dan karakter bangsa berdasarkan falsafah dan pandangan bangsa Indonesia.

Ibarat pohon, sejarah perkembangan bangsa yang sehat tidak bisa tercerabut dari tanah dan akar kesejarahannya, ekosistem sosial-budaya, sistem pemaknaan, dan pandangan dunianya tersendiri. Pancasila dirumuskan oleh pendiri bangsa sebagai dasar dan tuntutan bernegara dengan mempertimbangkan aspek-aspek itu, lewat usaha penggalian, penyerapan, kontekstualisasi, rasionalisasi, dan aktualisasinya dalam rangka menopang keberlangsungan dan kejayaan bangsa.

Sebagai warisan yang digali dan dirumuskan bersama, Bung Karno meyakini keampuhan Pancasila sebagai bintang pimpinan (leitstar). ”Kecuali Pancasila adalah satu Weltanschauung, satu dasar falsafah, Pancasila adalah satu alat mempersatu, yang saya yakin seyakin-yakinnya bangsa Indonesia dari Sabang sampai ke Merauke hanyalah dapat bersatu padu di atas dasar Pancasila itu. Bukan saja alat mempersatu untuk di atasnya kita letakkan negara RI, melainkan juga pada hakikatnya satu alat mempersatu dalam perjuangan kita melenyapkan segala penyakit yang kita lawan berpuluh-puluh tahun, yaitu penyakit terutama sekali, imperialisme. Perjuangan suatu bangsa, perjuangan melawan imperialisme, perjuangan mencapai kemerdekaan, perjuangan bangsa yang membawa corak sendiri- sendiri. Tidak ada dua bangsa yang cara berjuangnya sama. Tiap-tiap bangsa mempunyai cara berjuang sendiri, mempunyai karakteristik sendiri. Oleh karena pada hakikatnya bangsa sebagai individu mempunyai kepribadian sendiri. Kepribadian yang terwujud dalam pelbagai hal, dalam kebudayaannya, dalam perekonomiannya, dalam wataknya dan sebagainya.”

Akibat keteledoran, ketidaktaatan, dan penyelewengan atas nilai-nilai Pancasila, terutama oleh penyelenggara negara, Pancasila sebagai bintang pimpinan itu pun redup tertutup kabut; menimbulkan kegelapan dalam rumah kebangsaan. Lantas anak-anak negeri berusaha mencari kunci jawaban atas persoalan negerinya di luar ”rumah”. Seseorang bertanya, ”Apa gerangan yang kalian cari?” Anak-anak negeri itu pun menjawab, ”kunci rumah”. ”Memangnya di mana hilangnya kunci itu?” ”Di dalam rumah kami sendiri”. ”Mengapa kalian cari di luar rumahmu?” ”Karena rumah kami gelap”.

Kunci jawaban atas krisis kebangsaan itu sesungguhnya bisa ditemukan dari dasar falsafah dan pandangan hidup Indonesia sendiri. Yang diperlukan adalah mengikuti cara Bung Karno, menggali kembali mutiara terpendam itu. Marilah kembali ke Pancasila!

Yudi Latif, Penulis Buku Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas dan Aktualitas Pancasila

Sumber: Kompas, Selasa, 29 Maret 2011

Monday, March 28, 2011

Gugurnya Jayajatra dan Burisrawa: Kresna Sosok Machiavellian?

KETIKA Resi Sapwani, ayah Jayajatra, protes kepada Sri Kresna, mengapa Jayajatra yang tak ada urusan dengan Kresna akhirnya mati dengan trik yang dimunculkan oleh Kresna, dengan tenang Raja Dwarawati ini mengatakan bahwa dirinya adalah botoh atau penasihat Pandawa sehingga bagi dia, Pandawa harus menang dengan cara apa pun. Kresna, khususnya dalam perang besar Baratayudha, bertindak tidak saja selaku penasihat, tetapi juga pengatur taktik dan strategi, bahkan memberikan bantuan walaupun caranya dilakukan tidak secara langsung.

Prabu Kresna (diperankan oleh Slameto) dengan senjata Cakra di punggung. (KOMPAS/NINOK LEKSONO)

Dua kisah dalam pewayangan tersebut memperlihatkan di satu sisi Kresna piawai dalam taktik dan strategi, tetapi di sisi lain juga dipertanyakan sisi etisnya, yaitu gugurnya Jayajatra dan Burisrawa. Jayajatra, raja muda Kerajaan Sindu yang berpihak kepada Kurawa dalam Baratayudha, memukul Abimanyu, anak Arjuna, dengan gadanya hingga Abimanyu—yang saat itu sudah terluka parah karena keroyokan Kurawa—tewas dengan kepala hancur. Arjuna pun bersumpah saat kremasi Abimanyu bahwa esok sebelum matahari tenggelam, ia harus membunuh Jayajatra. Kalau tidak, ia akan membakar diri mengikuti jejak putranya, Abimanyu.

Persoalan muncul karena tekad Arjuna itu telah tersebar hingga ke pihak Kurawa, yang lalu mengambil langkah pengamanan terhadap Jayajatra. Pembunuh Abimanyu ini pun kemudian dikurung. Lalu, dengan kesaktiannya, Resi Sapwani menciptakan kloning atau tiruan Jayajatra dalam jumlah banyak. Dalam Ensiklopedi Wayang Sena Wangi disebut kloning Jayajatra berjumlah 100. Namun, dalang lakon Gugurnya Jayajatra dan Burisrawa yang dipergelarkan oleh Wayang Orang Barata, Sabtu (12/3), tiruan kesatria Sindu ini mencapai ribuan. Maksudnya jelas, yaitu agar Arjuna salah bunuh.

Memahami kesulitan yang ada, Kresna pun turun tangan. Menjelang sore, ketika matahari telah bergeser di langit barat, dengan senjata Cakra yang amat sakti, Kresna menutupi matahari hingga langit pun gelap, seolah malam telah turun. Kurawa bersorak girang karena Arjuna akan membakar diri, dan oleh Kresna, pihak Pandawa telah diminta menyiapkan upacara kremasi.

Melihat hari telah malam, Jayajatra pun keluar dari persembunyiannya. Ia pergi ke medan laga untuk ikut menonton Arjuna membakar diri. Saat itulah Arjuna melepas panah sakti Pasopati yang langsung menebas leher Jayajatra. Kurawa memprotes Arjuna yang dinilai melanggar sumpahnya. Namun, Kresna lalu menarik kembali Cakra dan dunia kembali terang.

Memang nyata campur tangan Kresna dalam kematian Jayajatra ini. Namun, di pihak lain, di pihak Kurawa juga ada pengatur strategi, dalam hal ini Pandita Durna dan Patih Sengkuni yang lalu mengusulkan keterlibatan ayah Jayajatra untuk beraksi melindungi anaknya, termasuk saat menciptakan kloning Jayajatra.

Oleh karena itu pula, Kresna tidak ragu mengatakan kepada Begawan Sapwani, yang ingin menuntut balas atas kematian anaknya, bahwa ia adalah ”botoh” atau penasihat pendukung Pandawa yang harus memastikan kemenangannya dengan cara apa pun.

Terhadap Burisrawa

Menutup matahari untuk keselamatan Arjuna telah dilakukan Kresna. Hal sama dilakukan ketika Pandawa harus menghadapi Burisrawa, anak Prabu Salya, sebagai senapati (panglima perang).

Setyaki, adik ipar Kresna, yang diangkat sebagai tandingan Burisrawa, ternyata keok dari lawannya. Ia jadi bulan-bulanan Burisrawa dan akhirnya bisa diringkus hingga tak berkutik lagi. Melihat kenyataan sulit ini, Kresna ingin menolong adik iparnya itu, tetapi dengan bantuan Arjuna. Kepada Arjuna, Kresna menyatakan, apakah dalam kondisi sedih—baru kehilangan anaknya (Abimanyu)— Arjuna masih bisa memanah dengan jitu.

Setelah Arjuna menjawab ”ya”, Kresna masih menuntut bukti, yaitu dengan memanah sehelai rambut yang ia bentangkan di antara kedua tangannya. Panah Arjuna pun lalu melesat membelah rambut itu dan terus melanjutkan sambarannya ke sasaran lain yang telah dipilihkan arahnya oleh Kresna, yang tidak lain adalah Burisrawa. Kesatria sakti berbadan raksasa ini pun roboh.

Peranan Kresna dalam pemenangan Pandawa masih bisa diperpanjang, termasuk dalam mengalahkan Pandita Durna.

Machiavellian

Ketika tujuan menghalalkan cara dipraktikkan, nurani pun terusik. Arjuna pun terusik ketika Kresna bermaksud menolong Setyaki. Namun, sekali lagi ditegaskan bahwa dalam perang yang harus digunakan tidak hanya otot, tetapi juga otak. Namun, dengan penegasan itu pun, tetap muncul kesan bahwa kemenangan—atau kekuasaan— adalah segala-galanya bagi Kresna. Ini tentu mudah mengingatkan orang pada pemikir politik Italia, Niccolo Machiavelli (1469-1527).

Dalam tulisan politiknya yang sangat terkenal, yakni Il Principe (Sang Pangeran, 1513), dan Discorsi (Wacana, 1531), ia mendiskusikan cara-cara bagaimana penguasa bisa memajukan kepentingan negara dan diri para penguasa tersebut melalui cara yang tidak terpuji. Dari situ pula lahir istilah ”tujuan menghalalkan segala cara” atau ”end justifies means”.

Tentu masih bisa dikaji lebih jauh, apakah yang dilakukan Kresna untuk memenangkan Pandawa sudah masuk ke pengertian ”tujuan menghalalkan segala cara”, tetapi—di era yang simpang siur penuh persaingan sekarang ini—banyak pula dinasihatkan agar kita fokus pada tujuan.

Dekat dengan hal ini, dalam diskusi yang diselenggarakan harian Kompas tentang korupsi dan kemiskinan, Februari lalu, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla menyampaikan perbedaan antara sikap pemerintah dan pengusaha. Bahwa pemerintah mengedepankan proses sehingga tujuan sering terkorbankan (lebih-lebih di era KPK), sementara bagi pengusaha, tujuan yang lebih dipentingkan. Kalau untuk mencapai satu tujuan keuntungan ada proses yang menghalangi, proses yang menghambat tadi coba ditanggulangi—kalau perlu dengan cara apa pun, yang penting tujuan tercapai.

Kresna adalah titisan Dewa Wisnu jadi pasti tidak ada pertimbangan lain selain pemeliharaan ketertiban dunia. Sebelum Baratayudha ia sudah ke kayangan untuk mendapatkan informasi dari penguasa tertinggi di sana sehingga ia tahu siapa yang akan kalah dan siapa yang akan menang, siapa yang akan mati oleh siapa. Jadi, sebenarnya yang kemudian ia praktikkan di dalam Baratayudha hanyalah mengeksekusi apa yang sudah digariskan dalam takdir dewata.

Bahwa cara yang ditempuh bisa menimbulkan kesan tidak etis secara kesatria, atau bahkan bernuansa machiavellian, boleh jadi hanya kesan. Satu hal yang jelas adalah apa yang ia lakukan diyakini Pandawa sebagai arahan atau nasihat dari sosok yang selain sakti juga mampu melihat jauh ke depan.

(Ninok Leksono)

Sumber: Kompas, Senin, 28 Maret 2011

Novelis Ratna Indraswari Ibrahim Tutup Usia

Penulis: Doddy Wisnu Pribadi | Editor: Erlangga Djumena

MALANG, KOMPAS.com — Novelis Ratna Indraswari Ibrahim tutup usia pada umur 62 tahun di tengah perawatan serangan stroke yang kesekian kalinya di Rumah Sakit Umum Dr Saiful Anwar (RSSA), Malang. Serangan stroke ditambah komplikasi penyakit jantung dan paru-paru menjadikan novelis, cerpenis, dan budayawan Malang ini akhirnya dipanggil ke hadriat Illahi pada pukul 09.55, Senin (28/3/2011).

Kabar meninggalnya Ratna Indraswari Ibrahim di RSSA Malang dipastikan oleh asisten dan keluarganya, Ruhadi Rarundra. ”Mbak Ratna, meninggal dengan tenang dikelilingi kami dan sanak keluarga,” katanya menahan haru melalui telepon seluler pada Kompas.

”Sebelum ini, selama tiga minggu terakhir, sudah tiga kali Mbak Ratna diopname di RSSA,” kata Ruhadi yang akrab dipanggil Siro.

Jarak rumahnya di Jalan Diponegoro, Malang, hanya sekitar 100 meter dari gerbang perawatan dan tempat parkir RSSA. Karena itu, setiap kali hendak dibawa ke RSSA, keluarganya hanya tinggal mendorong kursi roda yang seratus persen melekat dalam hidup cerpenis yang produktif di era 1980- 1990-an, serta masih mengerjakan novel dan cerpen hingga saat ini.

”Sebelum ini ia dirawat di RSSA pada Januari 2010, juga dengan proses berulang kali datang, kemudian sudah agak sehat, lalu tiba-tiba kesehatannya tampak drop, kehilangan kesadaran, lalu dibawa lagi. Gejala utama yang dihadapi Ratna adalah stroke,” kata Ruhadi yang juga pegiat dan koordinator komunitas Jalan Diponegoro yang dikenal sebagai oasis budaya dan sastra di Malang.

Hari Minggu kondisi Ratna yang dirawat di ruang Bougenville, dikabarkan stabil. Ia ditunggui oleh para asisten serta komunitas budayawan yang setia mendampinginya hingga Ratna mengembuskan napas terakhir, Senin. Selama ini Ratna melajang hingga akhir hayat dan hidup sepenuhnya di tengah-tengah komunitasnya.

Di rumahnya berdiri toko buku Tobuki yang bekerja sama dengan jaringan toko buku Toga Mas. Toko buku ini senantiasa ramai oleh kunjungan tamu dari berbagai kalangan.

Kunjungan tamu-tamunya inilah yang setiap kali menjadi sumber inspirasi untuk cerpen dan novel Ratna selama ini. Biasanya setiap sore ia duduk di atas kursi rodanya sambil membaca koran hari itu di teras depan toko buku. Saat itulah ia menerima kunjungan tamu. Meski sedang beristirahat di kamarnya yang berada di belakang toko buku, ia masih menerima tamu seraya berbaring.

Ratna dikenal sebagai pribadi yang tegas, sama sekali bertolak belakang dengan kondisi difabel seluruh anggota badannya, tangan dan kaki. Ia justru sering memarahi para tamu dan asistennya jika sebuah proyek kebudayaan tak berjalan semestinya. Dibalik kursi rodanya, Ratna secara faktual bertindak sebagai pemimpin dan benar-benar disegani. Seperti karakter dalam cerpen dan novelnya, yang umumnya mengisahkan perempuan yang sedang berjuang menghadapi proses subordinasi yang sedang dihadapi karakternya.

Akhir 2010 lalu, Ratna dikunjungi sejarawan asal Belanda, Dr Harry Poeze, periset empat dekade sejarah Tan Malaka, tokoh perintis kemerdekaan. Selain mengunjungi Ratna, Harry juga menggelar diskusi tentang kisah hidup Tan Malaka yang ternyata pernah berada di Malang, di ruang tamu rumah Ratna .

Sumber: Oase Kompas, Senin, 28 Maret 2011 | 11:47 WIB

Langkan: Stroke, Novelis Ratna Indraswari Ibrahim Dirawat

NOVELIS, cerpenis, dan budayawan Malang, Jawa Timur, Ratna Indraswari Ibrahim (62), dirawat di Ruang Bougenville, Rumah Sakit Syaiful Anwar, Malang. Ia terserang stroke lagi. ”Tiga minggu terakhir sudah tiga kali Mbak Ratna kami bawa opname ke RSSA,” kata Ruhadi Rarundra, asisten dan keluarga Ratna, Minggu (27/3). Januari 2010, Ratna dirawat di RSSA. Kali ini, Ratna ada komplikasi diabetes, jantung, dan paru-paru. Minggu kemarin kondisinya stabil. Ia ditunggui anggota komunitas budayawan. Ratna tak berkeluarga dan hidup sepenuhnya di tengah-tengah komunitasnya. Rumahnya di Jalan Diponegoro sekaligus dijadikan Toko Buku Tobuki bekerja sama dengan jaringan Toko Buku Toga Mas, yang tak pernah sepi dari kunjungan tamu. Kawan-kawannya membuka rekening bagi kesembuhan Ratna di BCA 4390218881. (ODY)

Sumber: Kompas, Senin, 28 Maret 2011

Guru Perlu Mandiri

Bekasi, Kompas - Para guru yang merupakan komponen utama mewujudkan pendidikan yang berkualitas harus mampu mandiri memberdayakan dirinya sendiri. Tanpa itu, anak didik akan tertinggal perkembangan zamannya, yang akan mengganggu kesejahteraan bangsa pada masa mendatang.

Demikian salah satu butir kesimpulan yang muncul pada seminar nasional ”Paradigma Baru Pembelajaran Abad 21” sekaligus deklarasi dan pelantikan pengurus Ikatan Guru Indonesia (IGI) Kota/Kabupaten Bekasi, Sabtu (26/3).

”Pendidikan Indonesia punya masalah besar, terutama mutu guru. Padahal, pendidikan itu intinya adalah guru. Kalau menunggu pemerintah, guru akan susah berkembang. Karena itu, guru harus mau melatih dirinya. Itu bisa dilakukan dengan berbagi ilmu di antara sesama guru,” kata Ketua Umum IGI Satria Dharma.

Sementara itu, Indra Djati Sidi, yang juga termasuk dalam Dewan Pembina IGI, mengatakan, dalam menyiapkan generasi abad ke-21, guru dan sekolah harus berubah. Tujuannya, agar mampu bertahan dan menyiapkan generasi yang sesuai dengan zamannya.

”Tak bisa lagi puas jadi guru tradisional yang mengandalkan cara belajar ceramah saat di kelas,” katanya.

Selain itu, guru juga harus mampu berpikir terpadu. Pelajaran-pelajaran di sekolah bukan sekadar untuk memberikan ilmu pengetahuan bagi siswa, melainkan sekaligus dimanfaatkan untuk membangun kepemimpinan, inovasi, kreativitas, dan kemampuan komunikasi.

Seiring dengan perkembangan zaman, guru dan siswa perlu berupaya lebih keras lagi. Tantangan kehidupan siswa semakin besar, seperti masalah energi, makanan, lingkungan/pemanasan global, kemiskinan, terorisme, demokratisasi, hingga teknologi informasi dan komunikasi.

”Pendidik harus bisa menyiapkan manusia dengan karakter dan spesifikasi tertentu,” kata Indra, mantan Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.

Jati diri bangsa

Di tengah berbagai tantangan dari luar itu, guru dan sekolah juga bertanggung jawab menyiapkan generasi yang tetap memiliki jati diri Indonesia. Anak- anak bangsa ke depan harus proaktif, mampu berkomunikasi dengan baik, dapat bekerja dalam tim, berkarakter pemecah masalah, cepat dan akurat, kreatif, berjiwa pemimpin, serta menguasai teknologi informasi dan komunikasi yang menjadi tuntutan zaman.

”Semua ini menuntut guru dan sekolah yang berubah. Guru harus bisa memberdayakan dirinya sendiri,” kata Indra.

Soal kemandirian guru juga diungkapkan Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia Didi Suherdi. Selain itu, guru zaman sekarang juga punya tugas tetap mengembangkan jati diri anak bangsa sekaligus menyiapkan mereka masuk ke era globalisasi.

Untuk itu, pertama-tama seorang guru harus benar-benar menguasai bidang ilmunya. Bisa mengajar di mana saja sesuai dengan sertifikasinya, menjadi teladan bagi siswa, dan memahami kondisi setiap siswa dengan baik. (ELN)

Sumber: Kompas, Senin, 28 Maret 2011

Gelembung Strata Menengah

-- Faisal Basri

HANYA dalam tujuh tahun, kelas menengah di Indonesia bertambah 50 juta orang, dari 81 juta orang pada 2003 menjadi 131 juta orang pada 2010. Itu menurut Bank Dunia. Adapun perhitungan Bank Pembangunan Asia untuk kurun waktu yang lebih panjang, 10 tahun, hanya ada peningkatan 44 juta orang, yakni dari 54 juta orang pada 1989 menjadi 98 juta orang tahun 1999.

Kedua lembaga di bawah naungan PBB ini menggunakan sumber data yang sama, yaitu Survei Sosial Ekonomi Nasional yang dilakukan Badan Pusat Statistik. Metode perhitungannya juga sama, yakni berdasarkan pengeluaran per kapita sehari dalam dollar AS menurut paritas daya beli tahun 2005. Definisi kelas menengah pun sama, yaitu pengeluaran per kapita sehari sebesar 2-20 dollar AS.

Yang cukup mengganggu adalah kalau kita membandingkan angka Bank Pembangunan Asia (ADB) tahun 2009 dan angka Bank Dunia tahun 2010. Kenaikan jumlah kelas menengah sebanyak 33 juta orang dalam setahun adalah pencapaian spektakuler. Kita tak tahu versi mana yang lebih akurat. Namun, keduanya punya pola dan kecenderungan serupa.

Baik kajian ADB maupun Bank Dunia menghasilkan kesimpulan yang sama. Pertama, ada peningkatan jumlah kelas menengah yang cukup signifikan selama periode pascakrisis 1998. Porsi mereka dalam total pengeluaran sangat dominan. Menurut versi Bank Dunia, pangsa pengeluaran kelas menengah naik dari 58,1 persen tahun 2003 menjadi 76,7 persen tahun 2010.

Kenaikan terbesar pada kelompok pengeluaran 2 dollar AS sampai 6 dollar AS. Kalau dipersempit lagi, paling mencolok pada kelompok pengeluaran 4-6 dollar AS. Porsi kelompok ini di dalam pengeluaran total penduduk naik dari 9,6 persen tahun 2003 menjadi 20 persen tahun 2010.

Dalam hal persentase kenaikan jumlah terlihat, kian tinggi kelompok pengeluaran, semakin besar persentase kenaikannya. Sebagai contoh (versi ADB), kenaikan jumlah kelompok menengah-bawah (2-4 dollar AS) naik hampir dua kali lipat dalam 10 tahun. Sementara itu, kelompok menengah-tengah naik hampir tiga kali lipat. Kelompok menengah-atas naik lebih dari lima kali lipat.

Konsekuensi logis dari pola di atas adalah ketimpangan yang kian memburuk. Hal ini dikonfirmasikan oleh angka koefisien gini yang terus naik sejak 2003 hingga 2010, yakni masing-masing 0,32 dan 0,38. Walaupun angka koefisien gini kita masih pada kisaran nol sampai 0,4 (baik), angka itu sudah mendekati batas moderat (0,4-0,5). Harus diingat, koefisien gini kita adalah berdasarkan pengeluaran sehingga cenderung lebih baik ketimbang koefisien gini berdasarkan pendapatan. Tak diragukan, ketimpangan pendapatan di Indonesia lebih parah daripada yang digambarkan oleh koefisien gini berdasarkan pengeluaran. Setidaknya, boleh jadi, kita sudah pada kisaran moderat.

Kita pun tak boleh lekas puas terhadap pelonjakan ini mengingat mayoritas kelas menengah kita masih bercokol di kelompok kelas menengah lapisan terbawah (2-4 dollar AS), yaitu sebesar 30,9 persen (versi ADB) dan 38,5 persen (versi Bank Dunia) dari total penduduk. Bandingkan, misalnya, dengan lapisan 4-6 dollar AS yang hanya 7,5 persen (versi ADB) dan 11,7 persen (versi Bank Dunia) serta lapisan 6-10 dollar AS yang cuma 3,3 persen (versi ADB) dan 5 persen (versi Bank Dunia). Jauh lebih tipis lagi kelompok menengah atas (10-20 dollar AS) yang hanya 1,1 persen (versi ADB) dan 1,3 persen (versi Bank Dunia).

Jika kita bandingkan dengan data komposisi pekerja menurut sektor dan status pekerjaan, hampir bisa dipastikan bahwa mayoritas kelas menengah kita adalah pekerja informal yang tak punya hak-hak normatif pekerja, seperti upah tetap, asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan kerja, jaminan hari tua, dan tunjangan pengangguran.

Kita kian tak boleh lekas puas seandainya membandingkan dengan perkembangan kelas menengah negara tetangga. Persentase kita tertinggal jauh dari Malaysia dan Thailand. Juga kalah dari China, Filipina, dan Vietnam.

Satu lagi kelemahan kita, yakni kenyataan bahwa pedesaan sangat lambat menghasilkan kelas menengah baru. Sekitar 83 persen kelas menengah di pedesaan adalah lapisan menengah-bawah. Bandingkan dengan lapisan sama di perkotaan yang hanya 68 persen.

Tentu ada yang belum pas dengan strategi dan kebijakan pembangunan. Sektor pertanian dan pembangunan pedesaan cenderung terabaikan. Industri manufaktur terbata-bata. Dengan demikian, kebanyakan mereka masih harus berkubang dengan kemiskinan.

Padahal, sektor pertanian dan industri manufaktur yang tangguh merupakan mesin paling ampuh untuk menumbuhkan kelas menengah dalam artian yang lebih hakiki. Bukan sekadar berdasarkan klasifikasi pengeluaran semata, sebagaimana yang dikaji oleh ADB dan Bank Dunia.

Sejauh ini kita baru berhasil menggelembungkan strata menengah, semata-mata berdasarkan kelompok pengeluaran. Bukan kelas menengah yang tangguh, yang tak mudah terempas kembali ke jurang kemiskinan karena sedikit gejolak saja, semisal kenaikan harga bahan bakar minyak.

Faisal Basri
, Pengamat Ekonomi

Sumber: Kompas, Senin, 28 Maret 2011

Sunday, March 27, 2011

Teater Feminis

-- Iwan Nurdaya-Djafar

TEATER yang memperjuangkan nasib kaum perempuan, sebutlah teater feminis, sejatinya sudah lahir paling tidak pada abad ke-5 M di Yunani kuno manakala Aristophanes menulis lakon Lysistrata. Lakon itu bercerita tentang gerakan kaum perempuan yang memanfaatkan seks sebagai senjata untuk menuntut persamaan hak antara lelaki dan perempuan dalam kehidupan sosial-politik. Kaum wanita yang dipimpin Lysistrata melancarkan aksi pemogokan seksual terhadap kaum pria yang tidak mau mengikutsertakan mereka dalam berbagai bidang sosial kemasyarakatan. Naskah Lysistrata juga menunjukkan semangat emansipasi sudah lama ada sebelum gerakan itu sendiri lahir. Dalam naskah ini kesadaran Aristhopanes akan pentingnya seks tecermin melalui berhasilnya perjuangan Lysistrata berkat aksi pemogokan seksual mereka di akhir ceritanya.

Masih di Yunani kuno, Sophocles juga menulis lakon feminis dalam trilogi Antigone-nya (bersama Oedipus the King dan Oedipus at Colonus). Antigone adalah hero perempuan yang tak sudi takluk di hadapan kuasa patriarkis kaum laki-laki.

Selanjutnya, teater feminis muncul di sejumlah negara saat dramawan Norwegia Henrik Ibsen menulis lakon The wild Duck (Bebek Liar, 1884), A Doll’s House (Rumah Boneka, 1879) Hedda Gabler (1890)—lakon-lakon yang menyoal masalah perempuan dalam keadaan perkawinan, yang memprotes penindasan perempuan. Lakon-lakon ini dipentaskan di sejumlah negara, yaitu Kanada, Amerika Serikat, Swedia, dan Norwegia, seiring dengan kebangkitan gerakan feminisme abad ke-19.

Di negara-negara muslim, Mesir dan Lebanon misalnya, muncul seorang aktivis sekaligus aktris dan penyanyi feminis bernama Asmahan. Dia adalah ratu penyanyi Lebanon dan seorang aristokrat menikah pada usia sangat belia dengan sepupunya sendiri, Pangeran Hassan, kemudian bercerai pada usia 17 tahun. Asmahan meninggal pada usia 32 tahun pada 1944, tewas secara misterius dalam kecelakaan mobil yang melibatkan aksi spionase internasional.

Semasa hidupnya, dia seorang penyanyi dan artis yang hidup di Kairo, tempat dia segera menjadi sensasi di dunia Arab. Asmahan melakukan apa yang dia yakini dan dia nyanyikan. Baginya, seorang perempuan bisa memiliki cinta, karier, dan membina perkawinan yang utuh, dan pada saat yang sama mengeksplorasi bakatnya sebagai seorang aktris dan penyanyi.

Dia seorang perempuan bertubuh jangkung, sering tampak begitu muram, tapi sekaligus sangat anggun; pakaiannya blus cekak dan celana pendek. Asmahan benar-benar tercerabut dari budaya Arab, yang lalu maupun kini, dan terserap sepenuhnya dalam pencarian yang sangat tragis akan kebahagiaan. Asmahan lalu menikah lagi, dua kali, suami-suaminya, raja-raja industri hiburan di Mesir. Tapi, segera saja perkawinan mereka berakhir dengan perceraian yang menyakitkan; suami terakhirnya mengejar-ngejar Asmahan dengan senjata, dan polisi selalu menguntit mereka untuk mencegah tindakan suaminya.

Keterlibatan Asmahan dalam agen rahasia Inggris dan Prancis demi mencegah kehadiran Jerman di Timur Tengah membuatnya menjadi sasaran kecaman moral dan korban tak berdaya dari kekerasan politik setempat. Kemudian, selama beberapa tahun, setelah kembali ke Lebanon, Asmahan tampaknya menemukan tempat yang cocok dengan dirinya. Dia tampak cantik, mandiri, dan bahagia. Dia menyelenggarakan pertemuan tingkat tinggi antara Jenderal de Gaulle dari Prancis, Presiden Suriah, dan Presiden Lebanon di rumah pribadinya di Beirut dan di Istana King David di Jerusalem. Dalam pertemuan sore yang dia rancang secara khas, kaum nasionalis bertemu dengan jenderal-jenderal dari pihak Sekutu, dan kaum revolusioner bertemu dengan para penyandang dana.

Dalam suatu perjalanan mendadak itu, saat dia mengendarai mobil bersama seorang teman perempuannya beberapa kilometer dari Kairo, kematian tiba-tiba merenggutnya. Mobil Asmahan ditemukan terapung di sebuah danau. Penggemar-penggemar Asmahan meratapi kepergiannya; lawan-lawannya mensinyalir adanya keterlibatan agen-agen spionase. Sebagian mengatakan, dia dibunuh agen rahasia Inggris karena mulai bertindak sendiri. Yang lain menuduh keterlibatan agen rahasia Jerman. Sebagian lagi, yang merasa benar, mensyukuri kematian mendadak itu dan menyebutnya sebagai hukuman atas kehidupannya yang tidak terpuji. “Aku tahu hidupku singkat saja,” katanya berulang-ulang.

Setelah kematiannya, Asmahan semakin melegenda dibanding sebelumnya karena dia menunjukkan kepada perempuan Arab bahwa kehidupan yang menghibur diri, meski singkat dan penuh skandal, adalah lebih baik dibanding hidup panjang dan terhormat–mengabdi tradisi keagamaan. Asmahan memikat kaum perempuan dan laki-laki dengan gagasannya, bahwa kegagalan atau keberhasilan tidak menjadi soal dalam hidup yang penuh petualangan, dan kehidupan semacam itu jauh lebih menggairahkan ketimbang kehidupan beku di belakang pintu terkunci.

Di Maroko, manakala feminis Fatima Mernisi masih seorang gadis bau kencur, dia pun sudah terlibat dalam teater feminis, yang lakon-lakonnya ditulis, dimainkan sekaligus disutradarai oleh sepupu perempuannya yang bernama Chama. Chama sangat mengagumi feminis-awal (ra-idates) Mesir yaitu Huda Sya’rawi (1882—1947), dan gagasan-gagasan Huda Sya’rawi dituangkan olehnya ke dalam lakon-lakon yang ditulisnya. Dia banyak mementaskan lakon feminisme dengan menampilkan kisah tentang Asmahan, Aisha al-Taimuriyya (penyair-feminis Mesir), Zainad Fawwaz (feminis Mesir), Huda Sya’rawi (feminis Mesir). Juga menampilkan tokoh-tokoh perempuan Islam, seperti Khadijah dan Aisyah, Rabiah Al-Adawiyah, dan Putri Budur, tokoh dalam kisah Seribu Satu Malam.

Perempuan Maroko, yang haus akan kebebasan dan perubahan, harus mengimpor feminisme dari Timur karena tidak ada perempuan setempat yang bisa menjadi figur publik dan mengembangkan mimpi-mimpi mereka. “Para perempuan telah maju di mana-mana kecuali di sini. Kami adalah sebuah museum. Kami harus memaksa wisatawan membayar ongkos masuk di gerbang Tangier!”

Di Amerika, teater feminis muncul sebagai hasil langsung dari gerakan feminis dan praktek-praktek teater radikal tahun 1960-an. Gerakan teater radikal, yang meliputi misalnya grup-grup Open Theatre, San Francisco Mime Tropue, National Black Theatre, dan Living Theatre, dimotivasi oleh perubahan-perubahan dalam persepsi tentang makhluk manusia dan lingkungannya. Tujuannya bukan untuk menghibur, melainkan memperbaiki kualitas hidup dalam masyarakat.

Konsep teater oleh perempuan dan tentang perempuan bukanlah baru, meskipun itu masih pokok untuk gerakan feminis. Pada akhir 1960-an atau awal 1970-an gerakan wanita di AS meraih momentum. Berdirinya National Organisation for Women yang pada periode 1963—1970 dipimpin Betty Friedan (wartawan dan penulis The Feminine Mystique, 1963)—dan usaha-usahanya pada 1970-an meluluskan Amandemen Hak-hak Kesetaraan. Pada masa ini lahir grup-grup teater feminis, seperti It’s Alright to Be a Woman Theatre, Omaha Magic Theatre, Women’s Experimental Theatre, Spiderwoman Theatre, dan At the Foot of Mountai Theatre. Tapi banyak gerakan untuk mendramatisasikan isu-isu perempuan datang dari individu-individu yang blak-blakan, seperti Megan Terry, Maria Irene Fornes, Terry Jo Aan Schmiduran, dan Sondra Segal. Di AS juga muncul Feminisme Afro-Amerika (Black Feminism) dalam drama kontemporer oleh teater Afro-Amerika dan feminis.

Teater feminis mempersoalkan bahwa selama dua milinea lebih, bahkan sejak sebelum Aristoteles menulis Poetics-nya, teater Barat didominasi oleh ideologi laki-laki, dengan fokusnya pada seorang protagonis tunggal, keyakinannya bahwa identitas dan gender (dengan demikian tokoh) adalah pasti (tertentu) dan tunggal, dan kurangnya peran-peran perempuan yang substantif. Maka, teater feminis bukan hanya mengembangkan untuk berbagi pengalaman kaum perempuan yang tragis yang hidup di dalam masyarakat patriarkal, melainkan juga menciptakan sesuatu yang teatrikal yang akan menumbangkan tradisi-tradisi yang sangat “suci.”

Teater feminis sering dikategorikan secara eksklusif oleh dan untuk kaum perempuan. Label ini dangkal dan berakar dalam kesalahpahaman stereotipikal yang ditempatkan pada gerakan feminis. Teater feminis kerap juga dibingungkan dengan teater lesbian karena banyak persoalan adalah sama, seperti tampak pada produksi-produksi kuat oleh rombongan Split Britckes.

Di Inggris, pada 1982, lakon Top Girls karya Caryl Churchill digelar di the Royal Court Theatre di London. Berkisah tentang perjuangan universal kaum perempuan yang hidup di dalam sebuah dunia yang didominasi laki-laki. Churchill menjadi ibu yang tak diragukan lagi dari teater feminis, yang merupakan para pembawa obor yang sekarang termasuk Paula Vogel (di antara lakonnya How I Learned Drive), Tina Howe, dan belakangan Lisa Loomer (di antara lakonnya The Waiting Room).

Di India, pada 1960-an, teater perempuan mempertanyakan jati diri dan perwakilan perempuan. Aurat adalah teater jalanan yang diproduksi oleh Janamor Jan Natya Manch (People’s Theatre, Teater Rakyat). Drama ini sudah dipergelarkan lebih dari 250 kali, dan sudah diterjemahkan ke dalam hampir semua bahasa di India. Lakon ini menantang gagasan-gagasan borjuis mengenai keperempuanan dan mengartikulasikan suatu politik yang secara eksplisit menghubungkan gender, kelas, dan seksualitas dengan rumah, pabrik, ladang, pada satu pihak, dan dengan perubahan revolusioner, pada pihak lain. Gerakan perempuan mengampanyekan penentangan atas mahar, sati, pelecehan seksual, dan pemerkosaan (terutama oleh polisi) di antaranya juga dilakukan melalui drama.

Di Indonesia, teater feminis muncul ketika Rendra bersama Bengkel Teater mementaskan lakon feminis Lysistrata dan Antigone. Lalu Ratna Sarumpaet bersama Satu Merah Panggung mementaskan Marsinah Menggugat. Sebuah lakon lain karya adaptasi Faiza Mardzoeki bertajuk Nyai Ontosoroh, dari novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, juga bernada feminis .

Meskipun teater feminis lahir bersamaan dengan gerakan feminis, sejarawan teater feminis Meredith Flynn menyatakan, “Teater feminis perlu diuji dalam konteks politisnya sendiri agar inovasi dan kontribusi atas perkembangan teater mungkin lebih baik dipahami dan diapresiasi.”

Teater feminis berperan dalam menciptakan budaya pascapatriarkat, yaitu budaya yang memperbaiki kualitas kehidupan ke arah lebih baik. Penghormatan terhadap nilai dan martabat manusia, tidak hanya dilihat dari sisi laki-laki (kekuasaan), tetapi juga harus dilihat dari sisi perempuan. Relasi antara manusia dalam segala aspek kehidupan sosial, ekonomi, politik, agama, penting untuk dikembalikan kepada relasi yang setara, bukan subordinat dan hierarki.

Demi menuju budaya pascapatriarkhat itu, perlu dilakukan gegar gender atau getar gender (genderquake), yaitu tumbuhnya kesadaran tentang kesetaraan yang meluas di masyarakat, tumbuh pulalah kesadaran-kesadaran bahwa perempuan bukanlah minoritas, perempuan tidak perlu mengemis kepada siapa pun untuk membonceng pesawat politik, perempuan mampu membuat segala sesuatu terjadi, dan keadilan serta kesetaraan bukan merupakan sesuatu yang dimohon dari orang lain. Gegar gender telah membuat perempuan melihat citra kemenangan. Kemenangan dalam hal ini bukan berarti menang atas laki-laki, melainkan menang atas impian perempuan sendiri. Untuk menciptakan gegar gender itu, saya kira, teater feminis bisa ikut berperan. n

Iwan Nurdaya-Djafar
, budayawan

Sumber: Lampung Post, Minggu, 27 Maret 2011

[Buku] Melacak Pemikiran Ekonomi Islam

Judul buku : Jejak Langkah Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam

Penulis : Drs. Nur Chamid, M.M.

Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta,

Cetakan : I, 2011

Tebal : xxiii, 439 Hlm.

KEMUNCULAN ekonomi Islam di era kekinian membuahkan hasil dengan banyak diwacanakan kembali ekonomi Islam dalam teori-teori. Dipraktekkannya ekonomi Islam di ranah bisnis modern seperti halnya lembaga keuangan syariah bank dan nonbank. Ekonomi Islam yang telah hadir kembali saat ini bukanlah suatu hal yang tiba-tiba datang. Ekonomi Islam sebagai sebuah cetusan konsep pemikiran dan praktek tentunya telah hadir secara bertahap dalam periode dan fase tertentu. Memang ekonomi sebagai sebuah ilmu maupun aktivitas dari manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya adalah sesuatu hal yang sebenarnya memang ada begitu saja.

Sejumlah cendekiawan muslim terkemuka, seperti Abu Yusuf (w. 182 H), Al-Syaibani (w. 189H), Abu Ubaid (w. 224 H), Yahya bin Umar (w. 289 H), Al-Mawardi (w. 450 H), Al-Ghazali (w. 505 H), Ibnu Taimiyah (w. 728 H), Al-Syatibi (w. 790 H), Ibnu Khaldun (w. 808 H), dan Al-Maqrizi (w. 845 H), telah memberikan kontribusi yang besar terhadap kelangsungan dan perkembangan peradaban dunia, khususnya pemikiran ekonomi, melalui sebuah proses evolusi yang terjadi selama berabad-abad.

Memang latar belakang para cendekiawan muslim tersebut bukan merupakan ekonom murni. Pada masa itu, klasifikasi disiplin ilmu pengetahuan belum dilakukan. Mereka mempunyai keahlian dalam berbagai bidang ilmu dan mungkin faktor ini yang menyebabkan mereka melakukan pendekatan interdisipliner antara ilmu ekonomi dan bidang ilmu yang mereka tekuni sebelumnya. Pendekatan ini membuat mereka tidak memfokuskan perhatian hanya pada variabel-variabel ekonomi semata. Para cendekiawan ini menganggap kesejahteraan umat manusia merupakan hasil akhir dari interaksi panjang sejumlah faktor ekonomi dan faktor-faktor lain, seperti moral sosial demografi, dan politik. Konsep ekonomi mereka berakar pada hukum Islam yang bersumber dari Alquran dan Hadis.

Jika pada saat ini terkesan perkembangan pemikiran ekonomi Islam kurang dikenal dan kurang “menyentuh” dalam kehidupan masyarakat, hal itu disebabkan kajian-kajian pemikiran ekonomi Islam kurang tereksploitasi di tengah dominasi ilmu ekonomi konvensional yang lebih mapan digunakan, baik di negara maju maupun berkembang. Akibatnya, perkembangan ekonomi Islam yang telah ada sejak tahun 600 M, kurang begitu dikenal oleh masyarakat. Hal inilah yang menjadikan pemikiran-pemikiran ekonomi Islam kurang mendapat perhatian. Sebab, mereka tidak mendapat informasi yang memadai.

Perkembangan ekonomi Islam tidak dapat dipisahkan dari perkembangan sejarah peradaban Islam itu sendiri. Walaupun sejumlah literatur tidak secara implisit menyebutkan keberadaan pemikirasn ekonomi Islam, hal ini bukan berarti perkembangan ekonomi Islam tidak ada. Sebab, dinamika dan geliat masyarakat Islam tatkala itu terus berjalan. Di samping itu, ekonomi bukan ilmu spesifik, sehingga ada kesan terjadi dikotomi antara perkembangan ilmu tersebut dengan perkembangan sosial kemasyarakatan. Tidak terkecuali ketika Rasulullah saw. dan Khulafa Al Rasyidin memimpin umat Islam. Jika pemisahan itu terjadi, hanyalah karena pemisahan antara satu persoalan dan persoalan lain dalam mencari keridaan Allah.

Buku ini sebagaimana dikatakan penulisnya, berisi tentang sejarah pemikiran ekonomi Islam yang berkembang secara bertahap, yakni dimulai sejak zaman Rasulullah saw., sampai pada zaman kontemporer. Pembahasan buku ini diawali dari topik bahasan apakah sejarah pemikiran ekonomi Islam, asal usul pemikiran ekonomi Islam, sejarah ekonomi dunia, dan problem the great gap, serta perekonomian Arab pada masa pra-Islam.

Buku ini juga menitikberatkan pada pemikiran dan praktek ekonomi Islam pada masa Khulafa Al Rasyidin, dilanjutkan pada masa pasca-Khulafa Al Rasyidin. Selanjutnya dibahas pula, pengkajian pemikiran ekonomi Islam ditelusuri dengan membagi periodesasi sejarahnya menjadi empat periode. Periode pertama, dimulai pada tahun sebelum 1058 M, periode kedua terjadi pada tahun 1058—1446 M, periode ketiga terjadi pada tahun 1446—1932 M, dan periode kontemporer dimulai pada tahun 1930 sampai sekarang.

Dengan banyak memberikan kajian tentang sejarah pemikiran ekonomi Islam, tentu saja akan memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang praktek-praktek ekonomi Islam pada saat ini.

Imron Nasri
, peminat masalah-masalah sosial, politik, dan keagamaan.

Sumber: Lampung Post, Minggu, 27 Maret 2011

[Buku] Akomodasi Pajak dan Zakat

-- Deddy Arsya

• Judul: Pajak Itu Zakat: Uang Allah untuk Kemaslahatan Rakyat
• Penulis: Masdar Farid Mas’udi
• Penerbit: Mizan
• Cetakan: I, Agustus 2010
• Tebal: xxxviii + 236 halaman
• ISBN: 978-979-433-397-6

NEGARA bergantung pada pajak. Pajak menjadi salah satu pemasukan paling penting bagi sebuah negara. Bagaimana seandainya pajak dihapuskan? Tentu, sudah dapat dipastikan, negara tidak akan berjalan dengan baik.

Tidak saja negara modern, dalam pemerintahan kuno sekalipun, pajak (dalam tipologinya yang lain) menjadi pilar yang menopang pembangunan dan keberlangsungan kekuasaan. Namun, di negara seperti Indonesia, yang bukan negara Islam secara legal-formal, tetapi mayoritas penduduknya beragama Islam, persoalan perpajakan menjadi dilematis dan mengandung ambivalensi. Di satu sisi, Islam mewajibkan zakat kepada penganutnya. Namun, di sisi lain, sebagai warga negara, juga dituntut untuk membayar pajak.

Di negara yang mayoritas muslim ini, pajak dan zakat dibedakan. Jika pajak untuk negara, maka zakat berada dalam wilayah agama. Kewajiban negara dan kewajiban agama dipisahkan. Akibatnya, seorang muslim di Indonesia harus menunaikan kedua-duanya sekaligus.

Lalu, bagaimana harus mendudukkan ambivalensi ini? Dapatkah, misalnya, orang yang telah membayar pajak tidak lagi wajib menunaikan zakat? Atau, mungkinkah kewajiban membayar pajak dapat menggantikan kewajiban membayar zakat? Dapatkah pajak dinilai sebagai zakat?

Keselarasan prinsip

Di tengah gelombang ketidakpercayaan terhadap dunia perpajakan, terutama dipicu oleh beberapa kasus pajak yang marak belakangan ini, publikasi Pajak Itu Zakat mungkin patut dibaca sebagai bahan pertimbangan.

Buku ini hendak mendudukkan kembali konstruksi hukum zakat dalam realitas masyarakat Islam kontemporer, khususnya dalam konteks keindonesiaan. Mula-mula, buku ini menguraikan bagaimana Islam hadir sebagai agama yang berkeadilan sosial dan yang tidak sebatas ajaran-ajaran ritualistik. Islam mengakomodasikan keduanya. Islam, misalnya, mewajibkan menunaikan shalat (sebagai ibadah ritual). Perintah itu senantiasa diikuti oleh kewajiban membayarkan zakat (sebagai ibadah yang berafiliasi kepada kehidupan sosial).

Namun, dalam perjalanan sejarah, pemahaman tentang zakat terdistorsi. Ada pemahaman tentang zakat yang telah keliru diterapkan di tengah-tengah masyarakat muslim selama hampir 13 abad. Setidak-tidaknya, setelah periode Khulafarasyidin berakhir, zakat hanya menjadi aspek ibadah yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun. Dogma-dogma para ahli hukum Islam (fukaha) telah melemparkan zakat hanya semata dimaknai secara asosial, formalitas yang ahistoris dan dogmatis.

Oleh sebab itu, pada masa negara-negara modern Islam, khususnya di Indonesia, posisi zakat seakan-akan terpisah dari negara. Zakat tetap dipahami sebagai persoalan agama semata, yang baku dan beku. Pemahaman tentang zakat, dengan kata lain, tidak berubah. Kalaupun terlihat penyegaran atas pemahaman itu, menurut buku ini, hanya bersifat tambal sulam belaka.

Seharusnya, pajak dan zakat dapat diakomodasikan karena konsep dasar pajak maupun zakat sama-sama untuk kebaikan bersama. Dalam buku ini diuraikan bagaimana konsep pajak berevolusi dalam lintasan sejarah. Awalnya pajak sebagai upeti untuk raja (ini berlangsung pada masa kerajaan-kerajaan kuno), lalu pajak sebagai imbal jasa dengan penguasa, dan akhirnya pajak dimaknai sebagai sedekah untuk kemaslahatan rakyat sebuah negara. Konsep pajak yang terakhir ini, sesungguhnya, selaras dengan prinsip dasar zakat.

Keselarasan prinsip-prinsip dasar antara pajak dan zakat ini menjadi acuan bagaimana menjadikan pajak sebagai zakat atau sebaliknya. Buku ini menawarkan beberapa prinsip sederhana: pertama, kepada wajib pajak cukup dengan berniat zakat ketika membayar pajak, maka pajak yang dibayarkan sudah menjadi zakat. Oleh karena itu, wajib pajak telah berhak mendapatkan pahala berzakat.

Kedua, kepada pejabat dan aparat negara anggaplah diri sebagai ‘amil. Kelolalah uang pajak dengan penuh ketakwaan kepada Allah selaku Pemiliknya, sebagaimana layaknya mengelola zakat. Dan, ketiga, kepada semua pihak, langsung maupun wakilnya, awasilah setiap rupiah dari uang pajak itu agar benar-benar dibelanjakan untuk kemaslahatan segenap rakyat, terutama yang lemah.

Perspektif kemanusiaan

Penulis buku ini adalah seorang cendekiawan Nahdlatul Ulama, Masdar Farid Mas’udi, yang dikenal sebagai penganjur pandangan Islam Emansipatoris (Taharruri). Ini adalah sebuah pandangan yang melihat ajaran Islam dalam perspektif kemanusiaan. Bagi Masdar, dicatatkan dalam buku ini, pemahaman yang sahih tentang Islam ”tidak cukup hanya dilihat dari kesesuaian formal dengan bunyi teks, tetapi sekaligus dari efektivitasnya untuk mewujudkan kemaslahatan dan kemartabatan manusia”.

Dekonstruksi atas hukum fikih konvensional tentang zakat yang dilakukan penulis bertolak dari perspektif di atas. Memang, usaha Masdar berpotensi menuai kritik. Gagasan-gagasan merombak hukum-hukum zakat dalam fikih konvensional yang telah bertahan dan menjadi baku selama berabad-abad dalam sejarah dunia Islam itu pasti belum akan dapat diterima begitu saja.

Namun, setiap zaman tentu punya permasalahannya sendiri-sendiri. Usaha kontekstualisasi hukum normatif pun sudah selayaknya terus-menerus dilakukan. Ini dimaksudkan agar kesesuaian antara yang normatif dan yang transformatif tercapai. Masyarakat Islam dewasa ini, misalnya, telah dihadapkan pada problematika sosial yang lebih kompleks daripada masyarakat Muslim ratusan tahun silam. Tekanan dan kebutuhan untuk mencari solusi atas problematika itu juga menuntut untuk menjadikan zakat lebih berafiliasi bagi penghancuran eskalasi kemiskinan yang paling mendesak. Tentu saja, mengingat zakat memiliki potensi ekonomi bagi bangsa Indonesia. Biar sejarah yang membuktikan.

Deddy Arsya
, Alumnus Sejarah Islam, IAIN Imam Bonjol; Sedang Melanjutkan Studi Pascasarjana Ilmu Sejarah di Universitas Andalas Padang

Sumber: Kompas, Minggu, 27 Maret 2011

Koma dan Koma

-- Bre Redana

KAMI bertumbuh bersama Teater Koma. Ketika kelompok ini mulai beranjak naik pada awal tahun 1980-an, di panggung kami melihat Ratna Riantiarno, Sari Madjid, Priyo S Winardi, Taufan Chandranegara, Salim Bungsu, Rita Matu Mona, dan lain-lain, dalam gairah kemudaan mereka.

Kini, setelah sekitar 30 tahun, atau tepatnya 34 tahun terhitung sejak Teater Koma didirikan 1 Maret 1977, meski semua saja tentu bertambah tua—aduh, 30 tahun usia bertambah—tetap tak hilang kegairahan berteater, kegairahan berkesenian itu. Ditambah kerutinan pentas, pengalaman, dan dedikasi, Teater Koma makin kelihatan menemukan kewajaran dengan bentuk yang dipilihnya. Seperti muara hidup, yakni kewajaran, begitulah Teater Koma sekarang.

Panggung kian jadi milik mereka. Panggung telah menjadi bagian dari diri mereka untuk mengomunikasikan diri secara apa adanya, mempertautkan rasa dari mereka yang di panggung dengan yang menonton. Itulah beda menonton teater, pertunjukan panggung, dengan menonton film. Dalam bahasa Rendra dulu, dalam film yang terjadi adalah komunikasi image. Bayangan. Sementara di panggung yang terjadi adalah komunikasi antarmanusia, berdarah daging, rasa. Tak ada yang bisa ditipu. Orang tak bisa berpura-pura menjadi wajar—kalau tidak ingin berisiko kelihatan kurang wajar.

Menonton apa yang terjadi di panggung dari pertunjukan mereka Maret ini di TIM, Sie Jin Kwie Kena Fitnah, terbayang apa yang dilakoni teman-teman ini di belakang panggung, dalam kehidupan sehari-hari. Yakni kesetiaan. Dedikasi. Yang pada gilirannya meneteskan contoh, memunculkan generasi berikut. Di panggung kini muncul Rangga, putra pasangan juragan Teater Koma, Riantiarno-Ratna. Perawakannya besar, tinggi, melebihi ukuran rata-rata orang Indonesia. Semasa Teater Koma masih bersanggar di Jalan Setiabudi, tahun 1980-an, Rangga masih kecil, mengintip-intip latihan.

Dalam Sie Jin Kwie sekarang dia memegang peran utama sebagai tokoh Jin Kwie, sepanggung dengan tantenya, Sari Madjid. Juga dengan pemain-pemain lain, yang kemungkinan ia panggil oom dan tante.

Cerita klasik

Pertunjukannya bagus. Artistik, skenografi, digarap Syaeful Anwar dan Onny. Yang disebut pertama itu dari dulu sudah sering mengurusi soal ini bagi Teater Koma. Dia hafal dan fasih menjawab apa yang dibutuhkan. Begitu pun penataan cahaya, oleh Donny Birkoed. Tak ada yang lebih, tak ada yang kurang.

Penonton senang, tertawa-tawa, terhibur sejak lampu gedung dipadamkan dan pertunjukan dimulai. Mereka tertawa-tawa dengan pagelaran wayang tavip di panggung, yang didalangi M Tavip yang kocak. Dalang lain adalah Budi Ros—juga pemain lama. Pertunjukan ini memadukan opera china, boneka potehi, golek menak, wayang wong, selain wayang tavip tadi. Sutradara Riantiarno punya kedekatan dengan kesenian rakyat seperti itu. Dia berasal dari Cirebon, daerah yang kaya dengan kesenian rakyat, seperti tarling, sandiwara, dan akrobat genjring. Di sekitar tempat tinggalnya, pada bulan Agustus, ia sering memasang berbagai umbul-umbul, meriah—seperti jiwanya.

Sie Jin Kwie diangkat dari cerita klasik China, pertengahan abad ke-7 pada zaman Dinasti Tang. Raja muda Sie Jin Kwie dikhianati sehingga Kaisar Tang Lisibin menjatuhkan hukuman mati terhadapnya. Karena pembelaan orang-orang yang mengetahui kesetiaan Jin Kwie kepada raja dan kerajaan, hukuman mati ditunda.

Cerita itu ditampilkan dalam pertunjukan sepanjang empat jam. Seperti kebiasaan Teater Koma, pertunjukan diwarnai sindiran-sindiran terhadap keadaan masyarakatnya, yang mengundang gerrr.

Ruang kebudayaan

Zaman memang berubah kini. Tempat di mana mereka biasa berpentas, TIM, makin kelihatan usang. Namun, Teater Koma tak kehilangan komunitasnya. ”Branding” telah terbentuk. Komunitas baru selalu muncul. Ada yang menonton lebih dari satu kali. Bukan semua mereka dari lingkungan ”kesenian serius”. Pemegang merek Louis Vuitton, Inka Wardhana, itu misalnya, adalah penonton setia kelompok ini. Tanpa peduli dengan asal-usul teater modern, dia menyebut pertunjukan ini ”lenong”. Kalau dia bilang mau ke TIM nonton lenong, maksudnya adalah nonton Teater Koma. Sopirnya sering keliru mengira ke PIM—Pondok Indah Mal. Teater Koma telah mengisi transisi kebudayaan urban kontemporer yang mengalami kekosongan; setelah yang didefinisikan sebagai kesenian tradisional, seperti wayang orang Bharata dan Srimulat, tak mampu lagi bertahan.

Di tengah kekenesan pertunjukan musikal dengan tiket mahal, Teater Koma setia pada pilihannya. Pada pertunjukan musikal yang ramai belakangan, yang muncul adalah kekenesan. Para artis pendukung hidup dengan semangat industrial. Pengalamannya pengalaman sinetron. Komunikasi mereka komunikasi editing, bukan komunikasi berdarah daging. Kontak rasa dan kesadaran ruang secara konkret tidak ada. Ini kritik dan otokritik. Mustahil ada pertunjukan bagus dengan kondisi macam demikian, Bung.

Berbeda dari para seniman teater yang lebur dalam ruang dan waktu di mana mereka menempa kepekaan. Para seniman Teater Koma—sebagaimana para pekerja teater lain yang tak banyak jumlahnya kini—adalah orang yang setia pada jalan kesenian mereka. Kadang, di Jalan Cempaka yang sepi di tengah malam, terlihat beberapa pemain berjalan keluar dari rumah Riantiarno yang sekaligus adalah sanggar mereka. Mereka berasal dari berbagai kalangan, termasuk pedagang di pasar burung Jakarta Timur.

Koma, diartikan sebagai tanda baca, semoga seperti dikatakan Ratna Riantiarno yang selalu manis itu, tetap merupakan koma, bukan titik. Terus berjalan, mengisi ruang kebudayaan masyarakat urban, yang kian kering dan beratmosfer industrial.

Sumber: Kompas, Minggu, 27 Maret 2011

Babad Keluarga dalam Mesin Jawa

-- Putu Fajar Arcana

JOMPET Kuswidananto, perupa instalasi asal Yogyakarta, membangun rumah Jawa dalam Selasar Sunaryo Art Space. Ia membuat konstruksi dasar atap rumah joglo dengan elemen-elemen mitologis, sosiologis, agama, tradisi, nasionalisme, kolonialisme, dan modernisme. Semuanya bersenyawa membentuk identitas baru: Jawa hibrida!

Dalam pameran "Java s Machine: Family Chronicle" di Selasar Sunaryo Art Space Bandung, 25 Maret-7 April 2011, Jompet menampilkan instalasi sebagai pernyataan atas kebudayaan Jawa yang hibrida. (KOMPAS/PUTU FAJAR ARCANA)

Pameran seni instalasi karya Jompet yang bertajuk ”Java’s Machine: Family Chronicle” ini berlangsung 25 Maret-7 April 2011 di Selasar Sunaryo Art Space, Bandung. Pameran ini menjadi seri kedua pencarian Jompet terhadap identitas Jawa. Sebelumnya, tahun 2008-2010, ia memamerkan secara keliling pameran ”Java’s Machine: Phantasmagoria” di Yogyakarta, Singapura, dan Hongkong.

Dalam pameran ini Jompet mengonstruksi Jawa dengan berangkat dari lagu ”Caping Gunung” karya Gesang. Ia seolah berada dalam satu narasi tentang keprihatinan seorang ayah yang harus berpisah dengan anaknya untuk berangkat perang. Sejak kecil ia memelihara anak itu, tetapi kemudian harus pergi karena perang. Konon, perang sudah dimenangkan, tetapi anak lelakinya tak kunjung pulang. Apakah ia lupa pada janji untuk kembali pulang?

Narasi tentang harapan ayah terhadap anak lelakinya dipamerkan Jompet dalam ruang terpisah. Ia memakai metafor ayah sebagai wilayah asal (Jawa). Pada rangkaian instalasi di ruang tengah ini, Jompet ingin menunjukkan satu rangkaian proses akulturasi yang sesungguhnya membentuk identitas Jawa. Selain rangka atap rumah yang diberi nama Kiai Ageng Mataram, Jompet juga menggelar video tiga keluarga menjelang sebuah karnaval di Jawa.

Bahkan, pada sebuah rumah di ruang dalam galeri, perupa yang tidak memiliki basis akademis seni ini membuat instalasi manusia-manusia tanpa tubuh. Ia hanya memperlihatkan artefak-artefak seperti sepatu bot, baju besi, tutup kepala dari berbagai etnis, drum, dan bellyra. Seluruh rangkaian instalasi ini dilengkapi dengan komponen kinetik dan musik. Rangkaian dengan tajuk ”The Liminal” ini ingin memperlihatkan bahwa kebudayaan adalah sesuatu yang tak bertubuh. Sosok ”sesungguhnya” sebuah kebudayaan (Jawa) ”hanya” berupa momen-momen yang menguarkan identitas nisbi. ”Kebudayaan itu tanpa sosok karena ia terus bergerak dan menyerap berbagai unsur dari mana pun,” ujar Jompet.

Gerak

Jompet berfantasi bahwa seluruh rangkaian pergerakan dan persenyawaan berbagai artefak kebudayaan itu dijalankan oleh sebuah mesin bernama mesin Jawa. Secara metaforik ia menganggap pergerakan mesin itu dimulai ketika pabrik-pabrik gula menyebar ke seluruh pelosok.

Mesin dalam wujud fisik, menurutnya, telah mengalami proses mistifikasi dalam bentuk penyelenggaraan ritual di seputar tebu, pabrik, dan gula. Mesin-mesin pabrik yang terus bergerak itulah yang menjadi penggerak dasar bergulirnya seluruh peradaban di Jawa dahulu.

Dalam ruang lain, Jompet memajang deretan bangku panjang menyerupai ruang tempat berdoa. Di sudut ruangan itu ia membangun tiang listrik beserta pengeras suara dengan kabel yang menjulur ke atap rumah doa. Di bangku bagian tengah, seorang anak kecil duduk seorang diri. Inilah bagian lain dari kisah ”Caping Gunung”, di mana anak lelaki ”mengingkari” janji untuk pulang karena berbagai alasan yang sulit dia hindarkan.

Secara simbolik, instalasi bertajuk ”A Space Between You and Me” ini mengabarkan bahwa salah satu mesin penggerak dari mesin Jawa itu adalah keberadaan agama dengan berbagai unsur kebudayaannya. Di ruang tengah sebenarnya pada karya ”Whispering Kala”, Jompet juga menunjukkan hal yang sama.

Babad keluarga dalam tangkapan Jompet memanjang sejak Nabi Adam sampai Panembahan Senopati atau sebagaimana dalam syair yang digubah Sunan Kalijaga. Bahwa tubuh manusia (Jawa) dikonstruksi oleh berbagai ”gen agama” yang berdiam pada napas, gerak, suara, pikiran, serta organ tubuh. Tafsir itu diwujudkan Jompet pada satu instalasi video yang memperlihatkan sesosok lelaki yang sedang bergerak dan kemudian mengenakan pakaian dari berbagai atribut kebudayaan.

Mesin Jawa itu kini telah menciptakan satu entitas kultural yang kita pahami bersama bernama Jawa. Padahal, ia sesungguhnya berasal dari berbagai gen dan elemen kebudayaan, yang kemudian membangun satu struktur: Jawa hibrida! Bukankah seluruh peradaban dan kebudayaan dibangun oleh sebuah persenyawaan, sebagaimana pertemuan gen lelaki dan perempuan? Jompet merangkai seluruh ”penemuannya” ini melalui sebuah riset panjang sebelum akhirnya dipresentasikan sebagai karya instalasi. Seni yang sangat serius dengan pengunjung yang padat! Bukan main.

Sumber: Kompas, Minggu, 27 Maret 2011

Kegelisahan Tanpa Arah

-- Aryo Wisanggeni G

TERSESAT di perjalanan sungguh tak nyaman. Namun, ketersesatan kehidupan urban yang melaju tanpa tujuan justru kerap diabaikan pelakunya. Sugihartono dan E Muheriyawan memanggungkan kehidupan urban tak berarah dalam 20 karya lukisan yang mereka pamerkan di Philo Art Space Jakarta, mulai Rabu (23/3).

Pengunjung mengamati lukisan yang dipajang dalam Pameran Urban in Between di Philo Art Space, Kemang, Jakarta, Rabu (23/3). Pameran tersebut menampilkan lukisan karya E Muheriyawan dan Sugihartono. (KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO)

Lima sosok berpakaian mantel modis, bersepatu bot, topi, lengkap dengan pernak-pernik kalung etnik yang sedang menjadi tren berjalan beriringan melintasi jalanan kota yang disesaki papan rambu lalu lintas. Cantikkah mereka?

Entahlah, karena kelima sosok dalam lukisan ”Kota Mode” karya Sugihartono itu tanpa berwujud; tanpa pakaian ”mewah” mereka, lima sosok transparan dalam lukisan arsiran bolpoin hitam itu tidak akan terlihat mata. Tanpa bungkus urbannya, eksistensi kelima sosok itu tidak ada.

Dalam pameran bertajuk ”Urban in Between” itu, sejumlah lukisan bertema bajaj Sugihartono menampakkan seluruh bidangnya ”berselubung” garis kontur lembut dan rapat, bak kabut polusi udara Jakarta. Bajaj yang suram dalam arsiran bolpoin satu warna yang datar kontras dengan gemerlap bangunan kota.

Sisi lain hidup Sugihartono, yang masih bekerja sebagai karyawan perusahaan keramik, mencuat dalam lukisan ”Kota Industri” yang melukiskan antrean orang di sela jalanan kota tak berpohon yang terkungkungi tembok dan mesin pabrik. Skateboard dan gedung tinggi banyak muncul di lukisannya yang lain.

”Saya tinggal di perkotaan, merasakan memburu waktu untuk bekerja, memburu waktu untuk pulang agar bisa melukis. Keseharian itu memang muncul dan kehidupan buruh selalu menarik bagi saya. Namun, mencari simbol refleksi kehidupan urban tidak pernah mudah,” tutur Sugihartono yang kali ini banyak memakai skateboard sebagai penanda budaya urban.

Lukisan ”pedas”

E Muheriyawan yang akrab dipanggil Jange Rae menampilkan 12 lukisan ”pedas” yang mengontraskan kutub-kutub kehidupan urban. Ia melukis ulang lukisan Basoeki Abdullah berjudul ”Kakak dan Adik” (1978) dengan teknik cat semprot stensil. Dalam lukisan ”I’m Doing It” itu, si kakak yang menggendong adik itu membawa kotak berlabel merek salah satu makanan cepat saji. Di ruang kosong, Jange menempelkan kertas bergambar maskot merek makanan cepat saji itu, yang mengelupas menyerupai tempelan poster di tembok.

Jange yang terinspirasi karya-karya perupa seni jalanan Inggris, Banksy, memunculkan ”monyet Banksy” dalam ”This is My …”. ”Banksy memang menjadi inspirasi dalam street art. Monyet kerap menjadi karakternya dan saya meminjam karakter monyet Banksy,” ujar Jange soal monyet urban berkaleng cat semprot itu.

Lukisan Jange yang lain, ”The Last Request” menampilkan seorang nenek pencari kayu yang menyodorkan bendera ”Peace” kepada seorang serdadu asing. Sementara dalam ”Don’t Ever”, lukisan Jange menampilkan seorang perempuan di tepi jalan yang ditemani seekor anjing kecil, dengan sejumlah coretan grafiti ala jalanan. Senyuman Monalisa dalam lukisan Leonardo da Vinci pun hadir dalam lukisan ”Beatiful Is”, dipandangi seorang nenek renta tanpa senyum yang duduk di trotoar.

”Sebenarnya saya tidak memprovokasi kesenjangan kehidupan perkotaan. Saya memiliki pandangan yang netral terhadap semua obyek lukisan saya, tidak ada rasa suka atau tidak suka. Saya hanya merespons apa yang terjadi dalam kehidupan perkotaan. Apa yang saya lukis sebenarnya mendaur ulang semua yang ada dalam lingkungan saya. Semuanya mudah didapati di internet, tetapi kerap terlewatkan begitu saja. Saya menaruh dalam konteks yang berbeda, dengan teknik yang berbeda,” papar pelukis yang awal April akan terlibat aksi amal para perupa dalam Expo for Mattia Fagnoni di Napoli, Italia.

Meski Jange tak berniat sinis terhadap ”kaum urban”, toh kurator Tommy F Awuy menyebut lukisan Jange memanggungkan sisi paradoks satir kehidupan urban. Mereka yang berpunya larut dalam gaya hidup urban yang ”wah”, sementara yang tidak berpunya menonton.

”Kehidupan urban selalu menjebak orang di persimpangan antara hasrat dan ketidakberdayaan. Baik yang papa maupun yang berpunya tidak lagi mampu menghentikan laju kehidupan urban yang tanpa arah. Kita tidak pernah tahu ke mana arah kehidupan akan membawa kita, semua terseret arus tanpa tahu ke mana semuanya akan bermuara,” ujar Tommy.

Saat rasi bintang penunjuk arah para nenek moyang tertutupi kabut polusi dan gemerlap lampu kota, hanya kegelisahan yang bisa memutus arus liar urban tanpa arah. Mungkin suatu hari semua manusia urban bangun sebagai ”monyet Banksy” atau manusia tembus pandang tanpa eksistensi jika hal itu belum lagi terjadi.

Sumber: Kompas, Minggu, 27 Maret 2011

[Kehidupan] Tamasya di Taman Ilmu

-- Budi Suwarna dan Yulia Sapthiani

INDAH Widyaningsih (10) dijuluki ”penghuni tetap” Perpustakaan dan Arsip Daerah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Hampir setiap hari sejak tahun 2007, bocah itu rutin berkunjung ke sana.

Anak-anak yang duduk di jenjang pendidikan dasar mengunjungi Perpustakaan Daerah Provinsi DKI Jakarta, Rabu (23/3). Bagi anak-anak, perpustakaan tidak hanya menjadi pusat informasi dan pelajaran, namun juga menjadi sarana rekreasi. (KOMPAS/WAWAN H PRABOWO)

Siang itu, Senin (21/3), Indah asyik berselancar di internet di Ruang Baca Anak-anak di perpustakaan milik Pemprov DKI. Dia memelototi gambar seekor kadal dan menyimak keterangannya. ”Saya lagi mencari jawaban untuk tugas mata pelajaran IPA,” ujar bocah Kelas V SDN Menteng Dalam 01 Pagi, Jakarta Selatan, itu.

Indah biasanya datang pukul 14.00-an dan pulang pukul 17.00. Dia langsung menuju ke ruang baca khusus anak-anak untuk berselancar di dunia maya. Setelah itu, dia biasanya mengerjakan tugas atau membaca buku. ”Saya paling senang membaca kamus Bahasa Indonesia. Saya jadi tahu arti setiap kata,” ujar Indah.

Indah mengenal perpustakaan itu tahun 2007 setelah bapaknya berjualan makanan di Gedung Olah Raga Soemantri Brojonegoro yang berada tepat di sebelah perpustakaan. ”Saya menemani bapak jualan. Suatu hari saya bosan dan coba-coba masuk ke perpustakaan. Ternyata tempatnya enak,” tuturnya.

Indah pun keranjingan datang ke perpustakaan tersebut. Dia menemukan sesuatu yang orangtuanya belum bisa sediakan, yakni seabrek buku pelajaran, buku cerita, kamus, fasilitas internet gratis, serta ruang belajar ber-AC. Sejak itu, dia tenggelam di perpustakaan itu.

Selain Indah, ada belasan bocah yang larut di taman ilmu pengetahuan itu. Sebagian membaca buku dengan posisi duduk di kursi-kursi mungil, sebagian sambil tiduran di lantai berlapis karpet. Jika bosan dengan satu buku, mereka mengambil buku lain yang ditempatkan rapi di beberapa rak.

Di antara mereka ada Abdul Aziz (12), siswa Kelas VI SDN Menteng Atas 06 Pagi, Setia Budi, Jakarta Selatan, dan tujuh temannya. Mereka belajar bersama untuk persiapan ujian tengah semester yang sebentar lagi tiba. ”Belajar di sini enak, tempatnya adem, bukunya banyak. Kalau di rumah panas, enggak pakai AC,” ujar Abdul.

Suasana serupa terlihat di Rumah Baca Manca milik keluarga Rhenald Kasali dan istrinya, Elisa Kasali, di Pondok Jatimurni, Bekasi. Selasa siang, belasan anak usia TK hingga SD asyik membaca beragam buku cerita sambil lesehan. Jika sudah bosan, mereka bermain di halaman berumput hijau yang dilengkapi aneka mainan.

Tiara (10) sangat senang berada di sana. Dia tidak kelimpungan saat mengikuti pelajaran membaca puisi dan bercerita. ”Bahan cerita tinggal saya ambil dari buku cerita di tempat ini.”

Minat baca

Melihat anak-anak datang rutin ke Rumah Baca Manca, hati Elisa Kasali pun senang. Setidaknya, misinya untuk memfasilitasi kegemaran membaca di kalangan anak-anak menuai hasil. ”Saya tahu anak-anak punya minat baca, tetapi fasilitasnya masih minim.”

Elisa ingat, ketika anak-anak sekitar rumahnya bermain dengan anak keduanya, Adam, mereka betah berjam-jam membolak-balik buku milik Adam. Dari situ, Elisa dan suami membuka rumah baca di rumahnya tahun 1998 untuk anak-anak sekitar.

Dia mengundang murid-murid SD di sekitarnya untuk datang. Awalnya, pihak sekolah menolak ”undangan” itu karena mereka mengira anak-anak akan dikenai iuran. Setelah tahu gratis, mereka berminat, bahkan mendorong murid-muridnya untuk datang ke Manca. Kini, Manca tidak pernah sepi dari pengunjung. Di hari libur sekolah, anak-anak yang datang bisa 150 orang.

Siti Sarah, Kepala Bidang Layanan dan Pelestarian Perpustakaan dan Arsip Daerah Pemprov DKI juga senang dengan kunjungan bocah-bocah SD. ”Kalau dari kecil sudah sering ke perpustakaan, selanjutnya mereka akan senang membaca.”

Dia tambah gembira karena tren kunjungan para bocah ke perpustakaan itu setahun terakhir mengalami kenaikan. Sekadar contoh, Januari 2011, bocah SD yang datang berjumlah 1.194 orang. Februari, jumlahnya naik menjadi 1.314 orang. Jumlah itu sekitar seperempat jumlah pengunjung kategori remaja dan dewasa.

”Kami berusaha terus mendekatkan perpustakaan kepada anak-anak SD. Kami, misalnya, mengadakan kegiatan dongeng setiap Jumat dan setiap hari-hari penting,” ujar Siti.

Perpustakaan juga berusaha merangkul sebanyak mungkin anggota baru. ”Kami bahkan sudah sampai jemput bola. Kalau ada siswa yang ingin daftar menjadi anggota perpustakaan secara kolektif, kami datangi sekolahnya,” kata Siti.

Siti sebenarnya tidak terlalu khawatir dengan minat baca anak-anak SD. ”Minat baca itu bisa dibangkitkan asal pemerintah serius menyediakan perpustakaan hingga tingkat desa seperti diamanatkan UU Nomor 43 Tahun 2007.”

Selain menumbuhkan minat baca, orang Indonesia juga mesti diajarkan etika di perpustakaan. ”Banyak orang mengambil buku, melihat-lihat, lantas menaruh kembali ke rak tanpa memerhatikan nomor katalognya. Itu bikin kacau,” ujar Anton Holtzapffel, pustawakan Perpustakaan Erasmus Huis di Kedutaan Besar Belanda, Jakarta.

Itu belum seberapa. Siti sering mendapati koleksi buku di perpustakaan yang dikelolanya dirobek atau ditulisi kalimat tidak senonoh. ”Itu justru dilakukan pengunjung dewasa. Kalau anak-anak tertib. Memulangkan buku pun tepat waktu.” (ROW)

Sumber: Kompas, Minggu, 27 Maret 2011

[Kehidupan] "Bung Karno! Kau dan Aku Satu Zat..."

Ayo! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin djandji
Aku sudah tjukup lama dengar bitjaramu
dipanggang atas apimu, digarami oleh lautmu
Dari mulai tgl 17 Agustus 1945
Aku melangkah kedepan berada rapat disisimu
Aku sekarang api, aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat, satu urat
Di zatmu, di zatku, kapal2 kita berlajar
Di uratmu, di uratku, kapal2 kita bertolak & berlabuh

Kutipan di atas adalah puisi karya penyair Chairil Anwar (1922-1949) berjudul Perdjandjian Dengan Bung Karno yang ditulis tahun 1948. Naskah asli tulisan tangan sang penyair itu masih tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin.

Mahasiswa menggalang dana dalam aksi koinsastra untuk PDS HB Jassin di Kampus Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Depok, Jawa Barat, Senin ( 21/3). (KOMPAS/WAWAN H PRABOWO)

Dalam versi aslinya itu, kata ”lama” pada baris kedua tertulis mencuat dan terjepit di antara kata ”tjukup” dan ”dengar”. ”Aku sudah cukup ”lama” dengar bitjaramu....” Di bawah kata itu terdapat contrengan. Ada kesan kata ”lama” sempat lupa tercantumkan. Tentu ini hanyalah penafsiran atas teks asli. Yang jelas, begitulah naskah asli puisi disimpan dan bisa kita nikmati sebagai dinamika zaman perjuangan yang terekam lewat puisi, yang oleh HB Jassin kemudian digolongkan sebagai Angkatan ’45.

Gelegak revolusi itu terekam benar lewat tulisan tangan Chairil. Dan di sanalah, di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, gelegak ”api” dan ”laut” Chairil itu tersimpan. Sungguh memprihatinkan dokumentasi semangat zaman itu dalam kondisi merana terbengkalai sekarang.

Sesudah Chairil Anwar meninggal tahun 1949, karyanya menjadi rebutan para penerbit. Namun, Chairil sudah mengumpulkan sendiri karya-karya sajaknya dan diserahkan kepada PDS HB Jassin.

Surat cinta Motinggo

PDS HB Jassin tidak sekadar menjadi ”gudang” karya sastra, tetapi juga dinamika kehidupan para pelaku sastra dari zaman ke zaman. Jassin memang rajin mengumpulkan tulisan tangan, catatan kecil dan surat-surat yang ditulis para penulis. Surat pernyataan Motinggo Boesje yang asli dengan judul ”Saya Menolak Hadiah Sastra 1962” masih tersimpan di PDS HB Jassin.

Surat pernyataan yang ditulis bulan Januari 1953 itu berisi penolakan Motinggo atas hadiah sastra yang diberikan untuk cerita pendeknya. Menurut dia, ukuran keberhasilan karya sastra tidak dapat diukur dari penghargaan-penghargaan yang diperoleh.

Kisah hidup penulis flamboyan ini juga terungkap dari catatan-catatan kecil yang dikirimkan Mas Mot (panggilan untuk Motinggo Boesje) kepada beberapa perempuan. Dalam catatan itu, Mas Mot menulis puisi cinta lengkap dengan lukisan sketsa ketika sedang rindu, menyesal, atau kangen kepada sang kekasih.

Mari kita baca puisi Motinggo Boesje yang juga ditulis tangan, lengkap dengan ilustrasi bunga-bunga. Kita kutip bait pertama dan terakhir dari puisi karya novelis, cerpenis, dan sutradara itu. Di bawah puisi itu tertera angka tahun 1988.

”Inilah buah indah rasa bersalah/Penyesalan ibarat memindah dua gunung/Masih saja membayang tangismu pagi itu/Air matamu membasuh hati yang berdebu...”

”Sudahlah. Kesekian kali kumohon maafmu/Matamu bagaikan malam dengan dua lampu.”

Jassin menyimpan naskah-naskah yang dikirimkan para pengarang ini dengan takzim, seolah itu amanat yang tidak bisa diabaikan. Sungguh ironis jika kemudian kita membiarkannya tanpa arti, bahkan menganggapnya sebagai coretan berdebu tak bermakna. Dan pengelola PDS HB Jassin, Endo Senggono, mengaku belum semua naskah asli itu disimpan dalam bentuk digital. ”Belum. Masih dalam map begitu saja,” katanya.

Tidak hanya karya sastra. Jassin juga menyimpan dokumen, seperti undangan perkawinan Motinggo dengan Lashmi Bachtiar pada 2 September 1962. Pada keterangan ”Djam” dan tempat tertulis: ”Djam 12.00 s/d 15.00 siang di Djalan Salemba Tengah II No 7 Djakarta”. Nama Motinggo dalam undangan tertulis sebagai Bustami Djalid. Di belakang nama itu tercantum nama senimannya, Motinggo Busje (ejaan sesuai dengan aslinya).

HB Jassin tidak hanya menyimpan, tetapi juga mencatat dengan sangat detail peristiwa berkait dengan sastra dan para pelakunya. Kita tengok bagaimana sepotong kehidupan Pramudya Ananta Toer tercatat dalam buku harian.

Pada hari Kamis 1 Maret 1954, misalnya, HB Jassin menulis, kunjungan Pramudya Ananta Toer pada pukul 19.30-20.15 di rumah Jassin. Pramudya yang baru pulang dari Blora, Jawa Tengah, ini membawa naskah cerita perjalanan. Dari catatan harian itu tergambar dinamika kehidupan penulis Pramudya atau Pram pada masa lalu. Ceritanya, Pram sedang butuh uang segera. Ia sudah memasukkan tulisan perjalanan ke majalah Mimbar, tetapi majalah itu tidak bisa segera membayar honornya. Tulisan Pram itu dirasa Jassin cocok untuk majalah Zenith, tetapi majalah ini sering terlambat terbit.

Setidaknya kita bisa merekonstruksi, betapa pilihan hidup sebagai pengarang seperti Pram penuh dengan kenyataan pahit. Sesungguhnya celaka jika nasib dokumentasi mereka pun kini kita abaikan.

Merana

Dokumen kebudayaan itu tersimpan di antara buku-buku sastra, prosa dan puisi, naskah drama, catatan biografi, tulisan tangan, dan surat-menyurat sastrawan besar di Tanah Air. Sebagian dokumen tersimpan di rak yang berderet memenuhi ruangan, sebagian lagi dibiarkan menumpuk begitu saja.

Tumpukan koran dan majalah tua berjubel di sela-sela rak buku yang sudah tidak muat lagi menyimpan tambahan koleksi. Kondisinya berdebu. Kertasnya sudah lapuk dan berwarna kuning kecoklatan. Benda-benda itu seperti benda bekas yang sudah usang. Sementara di dalamnya tersimpan jejak sejarah yang mencerminkan cara berpikir intelektual kita pada masa lalu.

Di antara tumpukan tadi masih bisa ditemukan majalah yang terbit di Indonesia pada awal Perang Dunia II (tahun 1940), seperti Pujangga Baru dan Panji Pustaka. Ada juga majalah Jawa Baru dan Kebudayaan Timur yang terbit di Indonesia pada masa pendudukan Jepang tahun 1942-1945. Koleksi lain yang lebih tua, seperti Kumpulan Sastra Melayu Tionghoa terbitan tahun 1900-1940, tersimpan di dalam sebuah lemari kaca.

Dengan ribuan buku, suasana pusat budaya itu sangat pengap. ”Sudah biasa kalau pengatur suhu udara di sini dimatikan. Dulu ketika pertama kali pusat dokumentasi ini resmi didirikan tahun 1977, enam bulan kemudian kami tidak mampu membayar listrik sehingga AC harus dimatikan total,” kata Harkrisyati Kamil atau Yati, yang pernah menjadi Kepala Dokumentasi PDS HB periode 1979-1983 mengenang.

Agar suhu di ruang dokumentasi tidak panas, Yati dan teman-temannya selalu membuka jendela lebar-lebar, lalu menyalakan kipas angin. ”Untungnya, waktu gedung itu dibangun, saya minta Pemerintah DKI Jakarta membuatkan jendela-jendela berukuran besar,” tutur Yati. Menurut Yati, gedung PDS HB Jassin yang dibangun pada masa Ali Sadikin menjadi Gubernur DKI Jakarta itu awalnya dirancang tanpa jendela.

Dirintis

Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin dirintis oleh penulis, penyunting, dan kritikus sastra almarhum Hans Bague (HB) Jassin. Penulis kelahiran Gorontalo, 13 Juli 1917, ini mengumpulkan dokumentasi sejak tahun 1930. Pada waktu ia masih berusia 13 tahun, HB Jassin gemar menyimpan buku-buku harian, buku-buku sekolah, karangan-karangan yang pernah ditulis di kelas, hingga surat dan foto pribadinya.

Kini pusat dokumentasi itu menyimpan 16.316 judul buku fiksi, 11.990 judul buku nonfiksi, 457 judul buku referensi, 772 judul buku/naskah drama, 750 map berisi biografi pengarang, 15.552 map kliping dari berbagai sumber, 610 lembar foto pengarang, 571 judul makalah, 630 judul skripsi dan disertasi, serta 732 kaset rekaman suara dan 15 kaset rekaman video dari para sastrawan Indonesia. Jumlahnya terus bertambah karena pengelola selalu memperbanyak koleksi. Boleh dibilang, PDS HB Jassin adalah pusat dokumentasi sastra modern Indonesia terlengkap. Bahkan, ada yang menyebutnya terlengkap di dunia, tetapi kenapa nasibnya begitu mengenaskan?

(Lusiana Indriasari/Luki Aulia/Putu Fajar Arcana/Frans Sartono)

Sumber: Kompas, Minggu, 27 Maret 2011

Sastra Mati di Gudang Sejarah

BAU apak tiba-tiba menyergap begitu pintu sebuah perpustakaan milik yayasan dibuka. Sudah lama listrik dan telepon di situ tidak menyala. Lemari-lemari buku tampak berdebu dan buku-buku yang usianya ratusan tahun sudah melapuk. Sebuah peradaban yang perlahan hancur....

Pekerja menyortir karya sastra yang dimuat di sejumlah harian di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Jakarta, Kamis (24/3). PDS HB Jassin yang menjadi tempat pendokumentasian kesusastraan Indonesia dari berbagai sumber tersebut kini terancam tutup karena kekurangan dana. (KOMPAS/WAWAN H PRABOWO)

Jelas sekali perpustakaan milik Yayasan Budaya Sulawesi Selatan (YBSS) yang berdiri sejak tahun 1949 di Makassar terbengkalai. Hanya tertinggal Muhamad Salim, ahli bahasa Bugis, dan seorang pembantu bernama Ikhsan yang setia datang.

Sampai tiga tahun terakhir hanya bisa didata 2.809 buku penelitian berbahasa Belanda dan 100 lontarak (naskah di daun lontar) asal Sulsel. Masih begitu banyak koleksi yang belum terdata sehingga jumlah pastinya juga tidak pernah diketahui.

Sejak Ketua Yayasan YBSS Fachruddin Ambo Enre meninggal tahun 2008, kata Salim, yayasan seperti tanpa nakhoda. Tidak ada lagi kepengurusan. Salim bahkan bekerja tanpa honor selama tiga tahun terakhir. Di tempat berdebu dan usang itu sesungguhnya masih tersimpan terjemahan Alkitab dari bahasa Jerman ke bahasa Makassar yang terbit tahun 1892. Ada juga Injil Matius berbahasa Makassar cetakan tahun 1863! Bahkan seorang Belanda bernama Benjamin Frederik Matthes membawa karya sastra terpanjang di dunia, I La Galigo, ke Belanda setelah mendapatkannya dari seseorang.

Terbengkalai

Deretan daftar situs pendokumentasian dan perpustakaan yang notabene menyimpan pengetahuan dan jejak peradaban yang terbengkalai bisa cukup panjang. Belum hilang dari ingatan kita bagaimana Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin harus tertatih-tatih menjalani hari-harinya yang berat. Ketua Dewan Pembina Yayasan PDS HB Jassin Ajip Rosidi bahkan sudah melansir pernyataan akan menutup gudang sejarah itu.

Nasib Perpustakaan Bung Hatta di Jalan Adisutjipto, Yogyakarta, bahkan lebih memilukan. Perpustakaan yang berdiri sejak 1953 itu sudah ditutup tahun 2006. Gedungnya kini bocor di sana-sini, seperti rumah hantu. Menurut Ketua Dewan Pembina Yayasan Hatta Sri Edi Swasono, setidaknya Perpustakaan Hatta menyimpan lebih dari 40.000 buku. Kini buku-buku itu dititipkan di Perpustakaan Universitas Gadjah Mada. ”Semua buku diikat, entah bagaimana perawatannya,” ujar Edi Swasono.

UGM kemudian membuka Hatta Corner di perpustakaan universitas untuk menyelamatkan koleksi buku-buku Bung Hatta. Padahal, di salah satu koleksi buku Hatta ada Asia karya Alonso Viloa yang diterbitkan tahun 1561.

PDS HB Jassin yang di pelupuk mata saja bernasib mencemaskan, apalagi tempat seperti Museum Negeri Sulawesi Tenggara di Kendari. Sekitar 5.000 koleksi benda kuno, termasuk di antaranya 100 naskah tua, boleh dikata sudah rusak karena tak terurus. Sudah sekitar satu dekade museum tidak lagi dapat anggaran perawatan dan pemeliharaan. ”Sejak otonomi daerah tahun 2001, baru sekali dapat anggaran,” kata Kepala Seksi Bimbingan Edukasi Museum Negeri Sultra Rustam Tombili.

Bali yang begitu dikenal dengan perawatan tradisi karena dianggap memiliki nilai ekonomis juga tidak terhindar dari sikap menyepelekan peninggalan peradaban masa lalu. Banyak naskah tua yang tertulis di atas daun lontar yang tersimpan di Gedong Kirtya, Singaraja, Bali, pelan-pelan menuju kehancuran. Rayap-rayap bahkan mulai menggerogoti sebagian naskah.

Sastrawan Dewa Gede Windhu Sancaya yang pernah mendata naskah-naskah di situ menemukan kenyataan ada koleksi yang hilang. ”Koleksi yang hilang itu sulit sekali dilacak,” ujarnya.

Dalam kondisi begitu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Buleleng Putu Tastra Wijaya mengatakan, semua koleksi Gedong Kirtya sudah terawat baik. Tastra membantah bahwa ada naskah tua yang dimakan rayap. ”Itu cuma isu. Koleksi kami terawat dengan baik,” katanya.

Perlu komitmen

Menurut Doktor Ilmu Informasi dan Perpustakaan Universitas Padjadjaran, Bandung, Ninis Agustini Damayanti, perpustakaan dan dokumentasi harus ditangani ahli. Selama ini ada kesan pengelola perpustakaan disamakan dengan penjaga buku. ”Itu persepsi yang sangat keliru,” kata Ninis.

Komitmen pemerintah untuk mendanai kegiatan perpustakaan, katanya, belum kuat. Dananya belum menjadi prioritas. Dokumen dan naskah tua membutuhkan perawatan dan tempat penyimpanan yang layak. ”AC harus dinyalakan tujuh hari seminggu dan 24 jam sehari, tidak boleh mati,” tuturnya.

Di daerah tropis, suhu ruangan dipatok pada angka 20 plus minus 3 derajat celsius. Sementara kelembaban udara pada angka 50 plus minus 3 rh (relative humidity).

Menyaksikan pembiaran terhadap nasib peradaban ini, sekelompok anak muda bergerak cepat lewat jejaring sosial Twitter dan Facebook untuk menggalang solidaritas. Mereka membentuk tim #koinsastra yang dalam waktu cepat memobilisasi kepedulian ke berbagai daerah. Salah satu pencetus #koinsastra, Khrisna Pabhicara, mengatakan, kelompok ini tidak sabar menunggu kehancuran. ”Karena itu, lebih baik kita bergerak menyongsong badai,” katanya.

Setelah melakukan audiensi dengan pengurus Yayasan PDS HB Jassin, mereka sepakat melakukan digitalisasi naskah serta menggalang donasi dari para simpatisan. ”Kami sudah mengumpulkan enam komputer dan dua scanner dari para donatur. Masih kurang empat lagi,” tutur Ahmad Makki, pencetus #koinsastra lain.

Pertanyaannya, apakah dokumen-dokumen tua yang menyimpan peradaban masa lalu harus selalu meruapkan bau apak hingga napas kita sesak? Bukankah di situ dipertaruhkan identitas dan martabat bangsa? Mau apa dan ke mana sebenarnya kita ini.... N(SIN/RIZ/WKM/TOP/DEN/ENG/IND/BSW/CAN)

Sumber: Kompas, Minggu, 27 Maret 2011

Perempuan dalam Cerita “Anak Durhaka” di Riau

-- Yulita Fitriana

CERITA Malin Kundang dikenal sebagai ikon cerita anak durhaka di Indonesia. Selain cerita tersebut, sebenarnya masih banyak cerita anak durhaka lainnya, seperti cerita “Batu Belah Batu Bertangkup” yang cukup dikenal karena cerita tersebut juga ada di beberapa daerah di Indonesia, seperti di Aceh, Riau, Kepualuan Riau, Sumatera Selatan, bahkan cerita ini juga ada di Malaysia dan Brunai. Di Riau didapati cerita “Si Lancang”, “Si Umbut Muda”, “Rawang Tekuluak”, “Legenda Pulau Halang”, dan sebagainya.

Ketika hendak meneliti cerita anak durhaka, pikiran pertama yang terlintas adalah melihat cerita ini sebagai pengajaran bagi anak supaya jangan melawan kepada orang tua karena akan diganjar hukuman nantinya. Hal tersebut tentu saja tidak salah. Akan tetapi, di dalam tulisan ini, pembicaraan mengenai cerita anak durhaka ini dilihat dari perspektif lain, yaitu perspektif gender.

Di dalam feminisme, ada dikotomi male vs female yang merujuk pada aspek perbedaan biologis, alamiah, yang berhubungan dengan seks, dan dikotomi masculine vs feminine yang dihubungkan dengan aspek perbedaan psikologis dan kultural oleh masyarakat. Perbedaan male dan female (laki-laki dan perempuan) itu adalah sebuah kodrat yang sudah ditetapkan Tuhan. Hal itu tidak mungkin ditawar-tawar lagi. Hal tersebut dapat dilihat pada keadaan bahwa perempuan itu mengalami haid, melahirkan, dan menyusui. Sementara secara umum, laki-laki lebih kuat secara fisik dari perempuan.

Namun dikotomi masculine dan feminine (maskulin dan feminim) dibentuk oleh manusia sendiri. Manusia, dalam hal ini masyarakat, membentuk citra tersendiri untuk laki-laki dan perempuan. Sistem patriarki yang kental di dalam masyarakat kita, bahkan masyarakat dunia, menyuburkan pandangan yang diskriminatif ini terhadap perempuan. Dengan demikian, jadilah laki-laki dilekati stempel sebagai orang yang logis, mengandalkan pikiran, pemberani, kuat secara fisik dan mental, tidak cengeng, dan sebagainya. Sebaliknya, perempuan dicap sebagai orang yang tidak logis, mengandalkan perasaan, penakut, cengeng, lemah, dan sebagainya. Tidak sampai di situ, pembedaan berlanjut pada pembagian ruang gerak laki-laki dan perempuan. Laki-laki bebas bergerak di luar rumah, sementara perempuan terkungkung dalam wilayah dapur dan tempat tidur (urusan-urusan domestik). Dominasi pemikiran bahwa perempuan itu makhluk yang lemah, membuat masih banyak masyarakat (tidak hanya laki-laki, bahkan perempuan pun masih banyak yang berpikir demikian) yang memilah-milah pekerjaan laki-laki dengan perempuan sehingga ada pekerjaan yang dianggap cocok untuk perempuan dan ada yang dianggap hanya cocok untuk laki-laki.

Kondisi yang demikian tidak hanya ada di dalam kehidupan sehari-hari. Kehidupan tersebut juga muncul di dalam cerita rakyat, termasuk yang bertema “anak durhaka”.

Bias Gender di dalam Cerita Anak Durhaka

Di dalam cerita mengenai anak durhaka itu terdapat tokoh utama laki-laki, seperti pada cerita “Si Lancang”, “Si Katan”, dan “Batang Tuake”, dan ada yang perempuan seperti pada “Rawang Tekuluak” dan “Si Umbut Muda”. Selain tokoh anak yang durhaka tersebut, ada pula tokoh ibu, dan di dalam cerita “Legenda Pulau Halang” ada juga tokoh bapak.

Tokoh-tokoh anak durhaka tersebut, baik laki-laki, ataupun perempuan mempunyai satu kesamaan, yaitu sifat durhakanya kepada orang tua. Akan tetapi, selain kesamaan tersebut, terdapat perbedaan dalam penggambaran bagi tokoh-tokoh tersebut. Penggambaran tersebut juga terlihat pada tokoh lainnya, yang dikaitkan dengan pencitraan terhadap tokoh perempuan dan laki-laki di dalam cerita tersebut.

Perbedaan Sifat

Di dalam cerita “Si Lancang”, “Legenda Pulau Halang”, tokoh anak durhakanya adalah seorang laki-laki. Sementara di dalam cerita “Rawang Tekuluak” dan “Si Umbut Muda” anak durhakanya diperankan oleh seorang perempuan.

Di dalam cerita yang mempunyai tokoh anak durhaka yang laki-laki, terlihat bahwa tokoh laki-laki yang rajin bekerja. Kesengsaraan hidup membuat mereka bekerja keras sehingga akhirnya berhasil mendapatkan hidup yang lebih baik secara materi. Untuk sukses, laki-laki harus rajin bekerja, harus mempunyai kemampuan atau keahlian. Lebih jauh, dapat ditafsirkan bahwa laki-laki mengandalkan kemampuan otaknya, kepintarannya, untuk mengatasi kesulitan hidupnya sehingga memperoleh keberhasilan.

Sementara tokoh-tokoh anak perempuan yang durhaka digambarkan sebagai tokoh pemalas, yang sukanya hanya berdandan saja. Tampaknya bagi perempuan, keberhasilan atau kesuksesan tidak diukur dari kemampuannya bekerja, tetapi dari kecantikannya. Mungkin, dengan kecantikannya, perempuan diharapkan akan memperoleh laki-laki yang sukses. Dengan demikian, kesuksesan seorang perempuan bergantung pada laki-laki, bukan dari usaha dan kerja keras perempuan tersebut.

Pada sebagian besar cerita yang bertema anak durhaka, ada tokoh ibu yang seorang janda, seperti pada cerita “Si Lancang” dan sebagian besar cerita “Batu Belah Batu Bertangkup”. Hanya sedikit cerita anak durhaka yang memunculkan kedua orang tua yang utuh, seperti pada cerita “Legenda Pulau Halang”. Pada cerita-cerita tersebut, tokoh ibu digambarkan sebagai sosok yang mengutuk si anak sehingga mendapat pembalasan atas kedurhakaannya. Mengapa tokoh ibu, yang diberi “tugas” mengutuk si anak? Mengapa bukan tokoh bapak, walaupun tokoh itu juga ada di dalam cerita?

Tampaknya hal tersebut tidak terlepas dari sifat yang dilekati pada perempuan, yaitu lebih mengandalkan perasaan. Karena mengandalkan perasaan, ketika menghadapi suatu masalah, dalam hal ini, penolakan terhadap eksistensinya sebagai ibu, tokoh ini kehilangan kontrol dan melakukan perbuatan yang “luar biasa”, yaitu mengutuk darah dagingnya sendiri. Hal itu pula yang membuat pada cerita “Batu Belah Batu Bertangkup”, si ibu yang tidak tahan menjadi kepala rumah tangga yang membiayai keluarganya, kemudian bunuh diri, masuk ke dalam batu.

Hal tersebut tidak diberlakukan pada tokoh bapak. Bapak, representasi laki-laki, digambarkan sebagai orang yang lebih mengandalkan rasio, akal sehatnya. Dengan demikian, walaupun ditolak oleh sang anak, dia tidak mengutuk sang anak. Dia lebih bisa mengontrol diri sehingga perbuatan tersebut tidak dilakukannya.

Perbedaan Peran dan Kesempatan

Di dalam cerita-cerita anak durhaka, tokoh laki-laki diperkenankan untuk mengubah nasib dengan pergi dari rumah. Mereka pergi merantau dengan restu orang tuanya. Hal itu terlihat pada cerita “Si Lancang” dan “Legenda Pulau Halang”. Sementara tokoh perempuan seperti pada “Rawang Tekuluak” dan “Si Umbut Muda” tidak pergi merantau. Bahkan ketika mereka harus keluar dari kampung mereka, mereka ditemani oleh ibunya.

Mengapa tidak ada tokoh perempuan yang pergi merantau untuk mengubah nasib, seperti tokoh laki-laki? Dari cerita ini dapat diketahui bahwa kesempatan perempuan untuk mengembangkan diri lebih terbatas dari pada laki-laki. Perempuan memang dipersiapkan bagi tugas-tugas domestik, seperti mengurus rumah tangga, suami, dan anak-anaknya. Dia tidak diberi kesempatan yang sama dengan laki-laki untuk mengembangkan diri di luar “tugas dan kewajiban”-nya di dalam rumah tangga. Hal ini menyebabkan tidak ada tokoh perempuan dalam cerita tersebut yang meraih kesuksesan, seperti para tokoh laki-laki.

Di dalam cerita-cerita anak durhaka, seperti “Rawang Tekuluk” dan “Si Umbut Muda”, tokoh perempuannya digambarkan tidak menikah. Ketika tokoh perempuan menyukai seorang laki-laki, dia tidak mendapatkan kesempatan untuk menikah dengan orang tersebut, seperti di dalam cerita Rawang Tekuluk”. Walaupun di kedua cerita tersebut tidak ada pemaksaan atau perjodohan bagi tokoh-tokoh perempuan tersebut, ada kesan tokoh perempuan tidak memperoleh kebebasan ketika hendak memilih pasangan hidupnya.

Simpulan

Cerita yang bertema anak durhaka tidak hanya menyampaikan pesan moral bahwa seorang anak tidak boleh durhaka atau membantah pada orang tuanya, seperti yang selama ini beredar di masyarakat. Cerita-cerita tersebut juga menampilkan adanya perlakuan yang berbeda terhadap laki-laki dan perempuan yang bersumber dari pandangan masyarakat yang membedakan perempuan dengan laki-laki disebabkan aspek perbedaan psikologis dan kultural. Perbedaan yang melahirkan konsep maskulin dan feminim ini pulalah yang menyebabkan adanya perbedaan dalam penceritaan tentang anak durhaka yang ditokohi laki-laki dan perempuan. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari sifat yang dilekatkan pada tokoh-tokoh tersebut, juga peran dan kesempatan yang diberikan pada keduanya.

Yulita Fitriana
, mahasiswa pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada, Jogjakarta. Bekerja di Balai Bahasa Riau

Sumber: Riau Pos, Minggu, 27 Maret 2011