Wednesday, March 31, 2010

Museum Mendesak untuk Direvitalisasi

MATARAM, KOMPAS - Keberadaan museum negeri di Indonesia mendesak untuk direvitalisasi agar mampu mewujudkan fungsi dan misinya secara nyata, proporsional, dan kontekstual.

”Sumber daya manusia (SDM) museum, kami rasakan, masih lemah,” ujar Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Hari Untoro Dradjat pada Pertemuan Nasional Museum Se-Indonesia, Selasa (30/3) di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Aspek yang harus direvitalisasi, antara lain, bangunan fisik museum, pengelolaan sumber daya manusia, koleksi museum, membangun jejaring komunitas, kebijakan, serta pemasaran.

Menurut Hari Untoro, basis utama yang mendukung keberadaan museum adalah sumber daya manusia yang profesional dan berasal dari berbagai disiplin ilmu. Mereka bertugas sebagai tenaga kurator, konservasi, dan tenaga tata letak yang mengatur benda koleksi dalam ruang pamer museum.

”Namun, kemampuan sumber daya manusia di bidang ini masih harus ditingkatkan,” ujarnya. Menurut Hari, dari 283 museum di Indonesia, yang terlengkap sumber dayanya adalah Museum Nasional di Jakarta.

Kesulitan dana

Selain kesulitan dana, sejumlah museum juga kekurangan tenaga profesional pengelola museum. Museum Negeri Nusa Tenggara Barat, misalnya, saat ini kekurangan tenaga ahli arkeologi, filologi, antropologi, dan bidang ilmu lainnya. Ketika seseorang sudah mulai mendalami museum, tenaga tersebut dimutasi ke bagian lain di lingkungan pemerintah daerah.

Dari sisi dana, museum ini hanya mendapat kucuran dana Rp 70 juta per tahun dari Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Dengan dana sekecil ini, hanya 500 benda koleksi yang dikonservasi sehingga harus menunggu 15 tahun untuk mengonservasi 7.000 benda koleksi lainnya di museum itu.

Dalam pertemuan tersebut, Guru Besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Azyumardi Azra mengatakan, museum mempunyai peran penting dalam menumbuhkan wawasan dan semangat kebangsaan.

”Museum lebih daripada sekadar tempat penyelamatan, penyimpanan, dan pemanjangan warisan sejarah bangsa pada masa silam, tetapi sekaligus dapat memainkan peran ke arah perbaikan bangsa, mulai dari pendidikan hingga semangat kebangsaan,” ujarnya.

Direktur Permuseuman Intan Mardiana mengatakan, pemerintah dalam lima tahun ke depan akan merevitalisasi 79 museum yang tersebar di 33 provinsi di Tanah Air. Tahun Kunjung Museum 2010 yang sudah dicanangkan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, 30 Desember 2009, adalah momentum awal Gerakan Nasional Cinta Museum.

”Revitalisasi museum merupakan salah satu kegiatan dalam rangka Gerakan Nasional Cinta Museum, yang bertujuan untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap museum,” ujarnya.

Namun, peningkatan apresiasi masyarakat ini baru bisa berjalan dengan baik jika pengelolaan museum direvitalisasi, termasuk peningkatan pelayanan kepada pengunjung museum.(RUL/NAL)

Sumber: Kompas, Rabu, 31 Maret 2010

Tuesday, March 30, 2010

Kearifan Lokal yang Ditinggalkan

-- Try Hariyono

SAAT terjadi gempa bumi di Tasikmalaya, Jawa Barat, 2 September 2009, tak ada satu pun rumah di Kampung Naga yang rusak, apalagi hancur. Padahal, seluruh rumah di kampung tradisional masyarakat asli Sunda itu terbuat dari bambu. Umur rumah pun rata-rata sudah puluhan tahun.

Bukan cuma itu. Ratusan rumah buruh perkebunan teh di Kabupaten Bandung yang sebagian besar terbuat dari bambu dan berdinding gedek juga tetap utuh meski diguncang gempa berkekuatan 7,3 skala Richter yang berpusat di Tasikmalaya itu. Padahal, sekitar 8.800 rumah lain yang umumnya terbuat dari bata rusak berat dan sekitar 9.300 rumah lainnya rusak ringan.

Di antara rumah yang rusak berat, termasuk di antaranya bangunan-bangunan megah dan bertingkat yang terbuat dari beton. Ironisnya, kandang kambing di sekitarnya yang umumnya terbuat dari bambu dan kayu tetap utuh. Sama sekali tidak rusak.

Saat terjadi gempa bumi yang mengguncang Padang Pariaman, Sumatera Barat, akhir September 2009, kondisinya hampir sama. Bangunan-bangunan beton bertingkat, termasuk hotel dan rumah, hancur diguncang gempa dahsyat berkekuatan 7,6 skala Richter. Namun, bangunan tradisional rumah gadang yang sebagian besar terbuat dari kayu tetap utuh tak mempan diguncang gempa.

Inilah salah satu bentuk kearifan lokal masyarakat yang sebagian masih terpelihara dengan baik. ”Masyarakat zaman dahulu sudah mengetahui daerahnya rawan gempa. Karena itu, saat membangun rumah pun, dengan alam pikiran yang sederhana, mereka merancang bangunan yang tahan gempa,” kata Arifin Panigoro, pendiri Medco yang membentuk Posko Jenggala untuk menangani korban bencana alam.

Bangunan tradisional yang terbuat dari bambu atau kayu umumnya tidak rusak diguncang gempa karena bahan bangunan itu mempunyai sifat lentur terhadap guncangan. Selain itu fondasi bangunan, ikatan tiang, dan pasak pada kayu diatur sedemikian rupa sehingga bisa lentur saat terjadi guncangan.

Kearifan lokal inilah yang kini secara tidak sadar mulai ditinggalkan masyarakat. Berlagak ingin disebut modern, bangunan rumah pun dibuat dari bata atau beton. Mereka hanya memperhitungkan segi estetis tanpa memerhatikan aspek keamanannya. ”Mereka tidak memperhitungkan jika daerah mereka rawan gempa,” kata Sri Widiyantoro.

Dampak dari diabaikannya kearifan lokal ini boleh dibilang cukup fatal. Saat terjadi gempa bumi di Sumatera Barat, September 2009, misalnya, sekitar 200 orang tewas dan 500 bangunan hancur. Korban tewas umumnya karena tertimpa bangunan bata atau bangunan beton yang runtuh.

Akrab dengan bencana

Pendiri Harian Kompas Jakob Oetama dalam diskusi tersebut mengingatkan, bencana alam, termasuk gempa bumi, kerap terjadi di Tanah Air. Meski demikian, kesadaran semua pihak, baik pemerintah maupun masyarakat masih lemah. Antisipasi bakal terjadinya bencana masih belum optimal sehingga korban masih banyak berjatuhan.

”Menjadi tanggung jawab bersama untuk melakukan langkah-langkah penyadaran agar masyarakat semakin waspada terhadap datangnya bencana,” tutur Jakob. ”Masyarakat harus akrab dengan bencana dan melakukan langkah antisipasi sehingga jumlah korban bisa ditekan,” paparnya.

Dalam soal kesadaran dan langkah antisipasi menghadapi bencana, masyarakat Jepang sangat layak menjadi contoh. Di Jepang, misalnya, sosialisasi dan pelatihan menghadapi bencana gempa bumi terus-menerus dilakukan secara periodik. Selain itu, infrastruktur dan bangunan sudah dirancang sedemikian rupa sehingga sangat aman ketika terjadi bencana gempa bumi. Bahkan, hal-hal kecil pun sudah diperhitungkan.

Alat pengontrol untuk mematikan saluran gas di rumah, misalnya, sudah diperhitungkan ditempatkan di kolong meja. Dengan demikian, ketika terjadi gempa, bawah meja menjadi tempat berlindung sekaligus mematikan aliran gas agar tidak menyulut kebakaran.

Di Hokaido, Jepang, di setiap blok permukiman selalu ada taman pada lokasi yang posisinya lebih tinggi. Lokasi itu dijadikan zona aman ketika gempa terjadi dan menimbulkan potensi tsunami. ”Kalau ada peringatan bahaya tsunami, setiap orang tahu mereka harus lari ke taman itu,” kata Sri Widiyantoro.

Di Indonesia, kesiapsiagaan menghadapi bencana masih sangat rendah. Bahkan, banyak pemerintah daerah yang belum menyiapkan rencana kesiapsiagaan menghadapi bencana dan menghadapi situasi darurat.

”Kita masih berperilaku seperti pemadam kebakaran yang datang hanya saat terjadi bencana,” kata Victor Rembeth. Agar tidak sekadar menjadi pemadam kebakaran, Victor menyebut perlunya partisipasi semua lapisan masyarakat untuk menghadirkan culture of safety atau budaya aman dari bencana.

Dalam kaitannya dengan culture of safety, Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Endy Subijono mengatakan, sekitar 13.000 arsitek yang tersebar di Tanah Air sebenarnya siap memberikan bantuan merancang bangunan tahan gempa. Namun, keahlian mereka selama ini kurang dimanfaatkan secara optimal.

Hanya beberapa pihak saja yang sudah memanfaatkan jasa arsitek ini dalam penanggulangan bencana. Posko Jenggala yang menangani korban bencana alam, misalnya, sudah membangun rumah tahan gempa di Aceh, Sumatera Barat, dan Jawa Barat masing-masing sekitar 200 rumah dengan memanfaatkan potensi dan kearifan budaya lokal.

Di Sumatera Barat, misalnya, karena banyak pohon kelapa berusia tua dan tidak produktif, maka digunakan batang pohon kelapa untuk membangun rumah tahan gempa. ”Biaya jauh lebih murah, hanya sekitar Rp 17,5 juta untuk rumah tipe 48,” kata Andi Sahrandi, aktivis penanganan bencana dari Posko Jenggala.

Adapun di Jawa Barat, sesuai potensi dan budaya lokalnya, digunakan bambu untuk konstruksi bangunan tahan gempa. ”Ada sekitar 1.250 jenis bambu, sekitar 140 jenis di antaranya banyak terdapat di sekitar kita. Namun, potensi ini tidak dimanfaatkan secara optimal,” kata Bambang P Nugroho.

Menyadari potensi ini, pihaknya bersama Posko Jenggala membangun sekolah, masjid, dan rumah percontohan di Kabupaten Garut dengan menggunakan konstruksi bambu. ”Kelihatannya lebih indah, mudah didapat, sangat kuat jika cara penebangannya benar dan biaya pembangunannya murah. Tugas kita menyadarkan masyarakat agar jangan gengsi menggunakan bambu untuk daerah-daerah rawan gempa,” kata Arifin Panigoro.

Kearifan lokal yang mulai ditinggalkan kini dicoba untuk ditumbuhkan kembali....

Sumber: Kompas, Selasa, 30 Maret 2010

Langkan: Peluncuran Buku dan Pameran Batik Lasem

SEBAGAI wujud tanggung jawab dalam menyebarkan pengetahuan tentang batik, Institut Pluralisme Indonesia (IPI), Selasa (30/3), meluncurkan dua buah buku berjudul Eksplorasi Sejarah Batik Lasem dan Potret Kehidupan Pembatik di Lasem Rembang. IPI merupakan sebuah lembaga nirlaba yang didirikan pada 2000 yang bertujuan mengembangkan wacana pluralisme, wacana pengetahuan, serta landasan praktik kerja sama antar-unsur masyarakat yang sinergi dan konstruktif. Sesuai dengan judulnya, buku pertama berisi eksplorasi sejarah batik lasem yang dihasilkan di pedesaan sekitar Kecamatan Lasem, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Adapun buku kedua lebih banyak memberikan deskripsi tentang kehidupan para pembatik di Lasem. Selain peluncuran buku, dalam acara di Kantor Pemasaran Apartemen Gandaria Heights, Jalan KH M Syafi’i Hadzami Nomor 8, Gandaria, Jakarta Selatan, juga diselenggarakan pameran bertajuk ”Mengabadikan Seni Batik Lasem”. Dibandingkan dengan batik lain yang ada di Nusantara, batik lasem memiliki keunikan pada warna merah yang oleh penduduk lokal disebut abang getih pithik (merah darah ayam). (POM)

Sumber: Kompas, Selasa, 30 Maret 2010

Monday, March 29, 2010

Bahasa yang Tak Dipakai di Sekolah Akan Punah

Jakarta, Kompas - Dalam seabad ke depan, 50 persen dari bahasa yang saat ini ada di dunia, yang diperkirakan sebanyak 6.700 bahasa, diperkirakan akan punah. Kepunahan itu akan dipercepat jika suatu bahasa tidak dipergunakan sebagai pengantar dalam pendidikan di sekolah.

Perkiraan hilangnya separuh dari bahasa yang ada di dunia itu diperkirakan oleh Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO), seperti dipaparkan Dr Dendy Sugono dari Pusat Bahasa dalam diskusi menyikapi Undang-Undang (UU) Bahasa di Gedung Kompas Gramedia, Jakarta, Sabtu (27/3).

Diskusi yang diadakan Harian Kompas, Forum Bahasa Media Massa (FBMM), dan Inilah.com itu menyoroti keberadaan UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan yang berlaku sejak Juli 2009. Namun, sebagian besar pembicara dan peserta diskusi mengakui, tidak banyak yang mengetahui keberadaan UU itu. Narasumber lainnya adalah TD Asmadi (Ketua Umum FBMM), Hinca IP Panjaitan (praktisi hukum pers), dan Eko Endarmoko (praktisi bahasa).

Dendy, yang juga mantan Kepala Pusat Bahasa, menjelaskan, di Indonesia saat ini tercatat ada 746 bahasa, yang tersebar dari Aceh sampai Papua. Dari keseluruhan bahasa itu, ada yang kini penuturnya tinggal seorang, dan yang paling banyak bahasa Jawa yang dituturkan sekitar 75 juta orang.

”Bahasa yang penuturnya tinggal seorang itu tinggal menanti saat untuk punah. Jika tak diajarkan dalam pendidikan di sekolah, dipastikan bahasa itu akan punah. Karena itu, kita harus berusaha sekuat tenaga untuk tetap menggunakan bahasa Indonesia menjadi pengantar dalam pendidikan. Jika tidak, bahasa Indonesia pun bisa punah,” kata Dendy.

Hinca mengingatkan, yang kini dibutuhkan adalah menumbuhkan kebanggaan masyarakat untuk menggunakan bahasa Indonesia. Tanpa kebanggaan itu, bahasa Indonesia pun akan terkikis di masyarakat.

Apalagi, Hinca, Eko, dan Asmadi mengakui, UU No 24/2009 tak tersosialisasi dengan baik dan kurang mendorong tumbuhkan kebanggaan menggunakan bahasa Indonesia itu. (tra)

Sumber: Kompas, Senin, 29 Maret 2010

Sunday, March 28, 2010

[Buku] Hasyim Asy'ari dan Historisitas Moderasi Islam

-- Johan Wahyudi

PEMIKIRAN Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari atau lebih akrab dipanggil Kiai Hasyim merupakan representasi dari kondisi dialogis agama dengan tradisi dan budaya. Islam bukan hanya berkutat pada kesalehan ritualistik semata, tetapi lebih jauh sebagai sarana pemecah jalan buntu berbagai anomi sosial.

Sosok kiai asal Jombang dan peletak dasar Nahdlatul Ulama ini merupakan ulama yang mempunyai diskursus perjuangan yang interdisipliner. Baginya, ulama bukan hanya menjadi ”penjaga malam” umat lewat ajaran yang berkutat pada halal-haram, seperti kebanyakan ulama zaman sekarang. Menurut dia, ulama adalah mereka yang mampu menyintesiskan perjuangannya pada konteks sosial. Ulama bukan hanya memimpin umat, tetapi juga memberdayakan dan memberikan pencerahan kepada umat.

Buku Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari: Moderasi, Keumatan, dan Kebangsaan tidak hanya mengetengahkan sejarah hidup Kiai Hasyim, tetapi juga pemikiran dan kisah-kisah menarik yang menjadi oral history dari masa ke masa. Melihat kondisi dewasa ini, rasanya sulit mencari pengganti Kiai Hasyim. Baginya, tarekat untuk dekat dengan Tuhan tidak melulu menggunakan ibadah mahdh. Tarekat sebenarnya adalah menciptakan masyarakat yang damai, sejahtera, dan senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan.

Perjuangan dan moderasi

Yang menjadi pokok pemikiran Kiai Hasyim adalah bulir-bulir moderasi Islam yang dibingkai dengan kearifan lokal. Said Aqil Siradj (2009) memandang, ada sesuatu yang menarik dalam kubah pemikiran Kiai Hasyim. Pengetahuan agama yang didapat di Mekkah tidak serta-merta menjadikan Kiai Hasyim mengusung paham Wahabi yang cenderung puritan dalam beragama dan menolak berbagai tradisi lokal.

Salah satu tindakan moderatif Kiai Hasyim ditunjukkan ketika menerima kemajemukan sebagai realitas sosial-budaya dan sosial-politik bangsa ini. Sejatinya, dengan menerima kemajemukan, berarti mengakui bahwa negeri ini terdiri dari entitas-entitas agama, kesukuan, dan tradisi yang diferensiatif. Islam merupakan agama yang rahmatan lil ‘alamin, tidak hanya memberikan pencerahan bagi umatnya, lebih luas, juga menumbuhkan zeitgeist (semangat zaman) bagi segenap masyarakat Nusantara.

Kiai Hasyim menitikberatkan perhatiannya pada dunia pendidikan. Perjuangannya makin menguat setelah mendirikan Pesantren Tebuireng. Tak bisa dimungkiri, pesantren ini merupakan salah satu mahakarya Kiai Hasyim. Di lembaga pendidikan ini, Kiai Hasyim mencetak santri-santri yang siap berjuang dan berkarya di tengah masyarakat. Dalam mengajar, komitmen akan pentingnya kemandirian dan kepemimpinan sangat besar. Hal ini dibuktikan Kiai Hasyim dengan terlibat secara aktif dalam kegiatan koperasi, sebagai sarana perangsang ekonomi kerakyatan.

Kiai Hasyim bukanlah ahli agama yang hanya menyandarkan segala gerakan dan pemikirannya harus sesuai dengan dalil keagamaan. Dia juga menerima segala unsur baru di luar bingkai hukum agama yang positif, yang semakin memperkaya pilihan-pilihan akan instrumen perjuangan, baik itu yang sifatnya perjuangan fisik maupun perjuangan atas kebodohan.

Hal ini tecermin ketika menerima pengajaran bahasa Inggris dan bahasa Belanda yang merupakan inisiatif dari putranya, KH Abdul Wahid, yang merupakan ayah dari mendiang Gus Dur. Tindakan ini sesuai dengan kaidah fiqih yang berbunyi: al-muhafazah ‘ala qadimi ash-shalih, wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah.

Kiai Hasyim juga mampu memecah stigmatisasi hitam yang mengatakan, ulama pesantren adalah mayoritas diam (silent majority). Baginya, ideologi Islam harus mampu ikut serta dalam membangun kehidupan bernegara. Golongan pesantren, walaupun berjuang dalam ranah kultural dan terkesan berada dalam kabut, tetaplah merupakan kekuatan masyarakat. Perjuangan bukan hanya mengangkat senjata, tetapi juga mampu menciptakan, meminjam istilah Habermas, budaya komunikatif.

Budaya komunikatif mensyaratkan adanya dialog khusus antara penguasa dan rakyatnya. Dalam konteks perjuangan Indonesia pada tahun-tahun sebelum kemerdekaan, budaya komunikatif menjadi ajang elaborasi para kiai dengan para elite nasionalis yang banyak bernegosiasi dengan pihak penjajah.

Dalam menciptakan budaya komunikasi yang baik, tentu disyaratkan penguasaan ilmu dan kepribadian yang dewasa. Nah, NU yang berposisi sebagai corong masyarakat akar rumput mempunyai kelebihan dalam hal ini. Prinsip moderasi yang dianut NU mampu menembus batas setiap perbedaan kesukuan. Terbukti, gerakan NU mampu melebarkan sayapnya ke seantero Nusantara dan menjadikan organisasi ini sebagai organisasi Islam terbesar di dunia saat ini.

Secara umum, NU mempunyai sebuah paradigma pemikiran yang dirumuskan dalam lima hal. Pertama, pola pikir moderat, artinya NU senantiasa bersikap seimbang dan moderat dalam menyikapi berbagai persoalan. NU tidak ekstrem kanan dan tidak pula ekstrem kiri. Kedua, pola pikir toleran, artinya NU dapat hidup berdampingan secara damai dengan pihak lain meskipun akidah, cara pikir, dan budayanya berbeda.

Ketiga, pola pikir reformatif, artinya NU senantiasa mengupayakan perbaikan menuju arah yang lebih baik. Keempat, pola pikir dinamis, artinya NU senantiasa melakukan kontekstualisasi dalam merespons berbagai persoalan. Kelima, pola pikir metodologis, artinya NU senantiasa menggunakan kerangka berpikir yang mengacu pada manhaj yang telah ditetapkan oleh NU.

Komprehensif

Penyajian buku ini sangat komprehensif karena tidak hanya mengedepankan historisitas Kiai Hasyim, tetapi juga ajaran Islam moderatnya. Penulis menambahkan berbagai muatan yang memperkaya pemahaman keagamaan lewat mutiara-mutiara yang diperas langsung dari kitab karangan Kiai Hasyim, seperti ajaran tentang pentingnya menjaga tali persaudaraan yang disarikan dari kitab at-Tibyan: fin Nahyi ‘an Muqhata’atil Arham wal Aqarib wal Ikhwan (hal 238).

Menurut Kiai Hasyim, bahwa seorang Muslim sejatinya harus membangun persaudaraan yang tulus. Jika ada hal-hal yang dapat menghambat persaudaraan, sejatinya bisa dihindari dengan cara membangun komunikasi persahabatan.

Begitu pula muatan reflektif-edukatif sangat menonjol dalam karya ini. Para pembaca tidak hanya diajak bernostalgia dalam alur tutur perjuangan Kiai Hasyim. Tetapi, kekuatan dari buku ini adalah refleksi keagamaan yang diembuskan lewat kaidah-kaidah fiqih yang menghiasi hampir setiap halaman.

Kelemahan buku ini terletak pada pembahasan tentang pemikiran Hadratussyaikh yang terlampau singkat. Misalnya, pembahasan paradigma Ahlussunnah wal Jamaah yang semestinya dapat dibedah secara lebih detail, terutama apa yang membedakan antara NU dan kelompok-kelompok Muslim lain. Apalagi di tengah pasar pemikiran yang menyajikan paham Ahlussunnah wal Jamaah pula sehingga terasa sulit untuk membedakan antara versi NU dan non-NU.

* Johan Wahyudi, Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Sumber: Kompas, Minggu, 28 Maret 2010

Sastra: Sapardi Tak Pernah Berhenti

-- Ilham Khoiri

SAPARDI Djoko Damono, salah satu penyair kuat Indonesia, kini sudah berusia 70 tahun. Dia masih sehat, produktif, dan karya-karyanya terus diapresiasi masyarakat. Bagaimana dia menjaga energi kreatifnya?

Sastrawan Sapardi Djoko Damono tampil di acara Puisi-puisi Cinta Sapardi Djoko Damono di Grha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (14/2). (KOMPAS/YUNIADHI AGUNG)

Sapardi tampak segar dengan setelan kemeja krem, kaus dalam putih, dan celana gelap, Jumat (26/3) pagi itu. Setelah sarapan pagi, yang hampir selalu dia buat sendiri, lelaki itu memeriksa beberapa buku.

”Ini buku-buku saya yang pernah diterbitkan di luar yang ditarik kembali untuk diterbitkan sendiri,” katanya. Sapardi bercerita sambil duduk santai di ruang tengah rumahnya yang bersahaja di Kompleks Perumahan Dosen Universitas Indonesia di kawasan Cirendeu, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.

Tahun 2009, penyair itu membuat penerbitan Editum. Semua bukunya, baik berupa kumpulan puisi, esai, maupun cerita, ditarik lagi. Setelah melewati editing naskah dan format ulang tampilannya, buku-buku itu kemudian dicetak kembali.

Yang menarik, semua proses itu dikerjakan sendiri oleh Sapardi. Untuk mengedit dan me-layout naskah, dia memanfaatkan program Microsoft World yang disimpan dalam format PDF. Setelah beres, naskah itu dicetak terbatas, sesuai dengan permintaan. Hingga kini, sudah 14 buku yang diterbitkan dengan cara itu.

”Penerbitan ini untuk memenuhi permintaan banyak orang yang masih mencari buku saya. Padahal, beberapa buku lama sudah tak beredar lagi di pasaran,” katanya.

Penerbitan itu hanya salah satu dari kegiatan yang dijalani lelaki yang lahir di Solo, 20 Maret 1940, itu. Hingga masa tuanya, dia masih aktif berkarya: membuat puisi, menulis esai sastra dan budaya, mengarang cerita, menerjemahkan, serta menulis makalah.

Sudah 20-an buku sastranya yang terbit, sebagian besar berupa kumpulan puisi. Setelah DukaMu Abadi (1969), menyusul kemudian beberapa kumpulan puisi lainnya, Mata Pisau (1974), Perahu Kertas (1983), Sihir Hujan (1984), Hujan Bulan Juni (1994), Arloji (1998), Ayat-ayat Api (2000), Mata Jendela (2002), Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro? (2002), dan Kolam (2009).

Dia juga rajin mengajar dan membimbing penelitian di beberapa kampus. Sapardi pernah menjadi Dekan Fakultas Sastra UI sekaligus guru besar. Juga pernah menjadi redaktur majalah Horison, Basis, dan Kalam serta mengisi diskusi dan membacakan puisi.

”Sampai sekarang, saya tetap membaca, menulis, dan bekerja agar tidak pikun,” katanya sambil tersenyum.

Liris

Dengan ketekunan semacam itu, Sapardi melakukan uji coba dan terobosan dalam sastra Indonesia. Tahun 1960-an, karya-karyanya cenderung bernuansa kelam dan murung, seperti tampak dalam DukaMu Abadi. Tahun 1970-an, puisi-puisinya banyak menghadirkan benda-benda keseharian yang hidup dan bisa bicara, seperti manusia. Baca saja kumpulan puisi Akuarium.

Tahun 1980-an, dia banyak membuat acuan tokoh-tokoh mitologi. Tahun 1990-an, dia menggumuli tema-tema sosial dengan kritis dan tajam. Corak ini diwakili puisi-puisi dalam Arloji dan Ayat-ayat Api.

Tahun 2000-an, dia menulis sajak-sajak panjang, seperti dalam Den Sastro. Lalu, pada akhir tahun 2000-an, lelaki bertubuh ringkih ini memaksimalkan permainan perangkat tradisi tulis (seperti titik, koma, titik dua, huruf miring, atau huruf tebal) untuk merekam gumaman atau celetukan yang tak terdengar. Itu terasa pada puisi-puisi dalam Kolam.

”Saya bosan dengan satu corak bahasa, dan ingin terus bereksperimen,” katanya.

Meski begitu, Sapardi telanjur dikenal sebagai penyair dengan puisi-puisi liris. Puisi jenis ini memproses perkembangan pikiran dan perasaan yang subtil. Diksinya tajam, halus, dan rumit, tetapi tak kentara.

Dalam karyanya, benda-benda keseharian (seperti hujan, gerimis, angin, gunung, pohon, senja, kucing, pisau, atau langit) hadir berdenyut hidup. Bahasanya bersahaja, tetapi penuh imaji, jernih, dan dalam. Kualitas seperti itu menjadikan karya-karyanya sangat populer: kerap dikutip, dimainkan dalam musik, film, sandiwara, sinetron, atau dicantumkan dalam kalender, bahkan undangan perkawinan.

Dalam kuliah umum tentang puisi Sapardi di Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat sore, pengamat sastra Nirwan Dewanto mengatakan, puisi-puisi Sapardi mudah digemari karena genap dalam gramatika dan semantik. Puisi-puisinya berada di tengah sebagai titik moderat antara puisi amanat dan puisi gelap, antara puisi pamflet dan puisi eksperimental.

”Itulah puisi yang menengahi konvensi di satu pihak dan avantgardisme yang keras kepala di pihak lain. Puisi yang merawat ambiguitas sekaligus memperkuat hubungan dengan pembaca dan bahasa,” tulis Nirwan dalam makalahnya yang panjang.

Energi

Hingga usia 70 tahun, Sapardi tak berhenti berkreasi. Banyak orang penasaran, bagaimana dia memperoleh dan mengelola energinya? ”Menulis itu seperti petualangan dalam pikiran. Saya terus tertantang untuk menjelajahi hal-hal baru,” katanya.

Ketika sudah mulai menulis, seorang penyair seperti tersedot dalam arena pertarungan. Dia berjibaku untuk menemukan kata, menyusunnya menjadi kalimat, memotong, menghapus, menimbang-nimbang, sampai kemudian membuahkan puisi. Persis seperti tukang yang bergelut mengutak-atik kata.

Pertarungan itu kadang tak mudah. Saat menulis puisi tentang Marsinah (buruh pabrik di Sidoarjo, Jawa Timur, yang tewas dibunuh penguasa), misalnya, Sapardi membutuhkan waktu tiga tahun, dari tahun 1993 sampai 1996. ”Saya sulit mengontrol dan menyusun kata-kata karena rasanya marah sekali.”

Setelah rampung, puisi itu diberi judul Dongeng Marsinah. Ini beberapa petikannya:

”Di hari baik bulan baik,/ Marsinah dijemput di rumah tumpangan/ untuk suatu perhelatan… Dalam perhelatan itu/ kepalanya ditetak,/ selangkangnya diacak-acak,/ dan tubuhnya dibirulebamkan/ dengan besi batangan.. Detik pun tergeletak,/ Marsinah pun abadi. Marsinah itu arloji sejati/ melingkar di pergelangan tangan kita ini.”

Sumber: Kompas, Minggu, 28 Maret 2010

Kompasiana: Refleksi Intelektual Melalui Budaya Baca

Jakarta, Kompas - Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, komunikasi, dan media elektronik, tradisi membaca tetap harus menjadi kebiasaan. Membaca memberikan ruang dan waktu untuk melakukan refleksi intelektual, merangsang cara berpikir kritis, dan memberikan kemampuan membuka, serta memperbarui diri.

Marsekal (Purn) Chappy Hakim (kanan), mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara, berdialog dengan Pemimpin Umum Harian Kompas Jakob Oetama (kedua dari kiri), yang menjadi pembicara dalam pertemuan para blogger Kompasiana Monthly Discussion (Modis) di Seruni Room, Hotel Santika, Jakarta, didampingi Direktur Eksekutif Kompas.com Taufik Hidayat Mihardja (kiri), Sabtu (27/3). Dalam kesempatan ini, Jakob Oetama mengingatkan pentingnya budaya menulis dan budaya membaca di era multimedia dan audiovisual yang semakin maju perkembangannya. (KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)

Pada sisi lain gambar atau foto hanya mampu menyentuh emosi perasaan. Oleh karena itu, tulisan, buku, atau media cetak tetap relevan, dan dibutuhkan.

”Refleksi intelektual dan berpikir secara kritis serta bertanggung jawab tidak mungkin bisa dilakukan hanya dengan menonton gambar,” kata Jakob Oetama, Pemimpin Umum Harian Kompas dalam Diskusi Bulanan Kompasiana bertema ”Kompas Menghadapi Perubahan Media Massa Kini dan Mendatang”, Sabtu (27/3) di Jakarta.

Saat teknologi komunikasi dan media elektronik mulai berkembang pesat dan disambut antusias masyarakat, terutama kalangan muda, Jakob mengaku, kalangan praktisi media cetak dunia dilanda perasaan bingung, khawatir, dan cemas akan nasib media cetak. Namun, bagi Jakob, peradaban dunia, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan tidak akan bisa terbangun jika masyarakat hanya menonton siaran televisi atau mengandalkan media elektronik.

”Apakah peradaban, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan solidaritas cukup dikembangkan, ditemukan, diinovasi, dan disebarluaskan hanya dengan menonton?” kata Jakob.

Dalam diskusi itu, peserta menanyakan beragam hal seputar perkembangan teknologi komunikasi dan sikap Kompas menghadapi terjangan internet. Jakob mengakui kehadiran teknologi baru bidang komunikasi lebih cepat dan interaktif. Melalui jaringan internet, suatu peristiwa dipublikasikan serentak dan diketahui dunia secara bersamaan. ”Ada kebangkitan kesadaran global citizenship. Muncul saling peduli kaya dan miskin, negara maju dan miskin,” katanya.

Kompasiana.com adalah kanal blog portal berita Kompas.com, wadah bagi blogger untuk berinteraksi melalui tulisan yang dikirimkan ke http://www.kompasiana.com, yang diluncurkan pada tahun 2008.

Direktur Eksekutif Kompas.com Taufik Mihardja mengemukakan, Kompasiana kini memiliki 17.000 anggota dan setiap hari diakses sedikitnya 1,7 juta orang. Kompasiana juga menerima kiriman 200 artikel per hari. ”Tidak semuanya masuk Kompasiana. Artikel akan dicabut jika mengandung unsur SARA, menyinggung atau menyakiti orang lain,” ujarnya. (LUK)

Sumber: Kompas, Minggu, 28 Maret 2010

Fantasi di Panggung Monolog

Fragmen Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia menjadi kisah fantasi dalam panggung monolog Butet Kertarajasa,Happy Salma,pentas tari kontemporer dan wayang Tavip Budi Ross.

KISAH FANTASI. Artis cantik Happy Salma membacakan kisah Pemetik Air Mata dalam pementasan Panggung Kisah Fantasi di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (25/3). Sejumlah seniman ternama seperti Butet Kartaredjasa hingga Budi Ros tampil dalam pementasan yang merupakan pemanggungan dari cerpen-cerpen yang ditulis oleh Agus Noor.

PERTUNJUKAN bertajuk Panggung Kisah Fantasi yang digelar di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki menjadi kisah penuh fantasi menandai peluncuran buku Sepotong Bibir paling Indahkarya Agus Noor. Empat fragmen cerita Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia disajikan dalam Panggung Kisah fantasi. Happy Salma,pemain sinetron dan pelaku seni membawakan sebuah cerita monolog Pemetik Air Mata, sebuah fragmen cerita dari Empat Cerita Buat Cinta.

Mengenakan gaun putih, bersepatu hak tinggi, Happy Salma memulai cerita dengan diam.Lampu sorot mengarah lurus menyinari tubuhnya.Hanya Happy Salma yang benderang,di sekitarnya gelap. ”Mereka hanya muncul malam hari. Peri-peri pemetik air mata. Selalu datang berombongan seperti arak-arakan capung,menjinjing cawan mungil keemasan, yang melekuk dan mengulin di bagian ujungnya.

Ke dalam cawan mungil itulah mereka tampung air mata yang mereka petik,” ujar Happy Salma dengan intonasi bak mendongeng. Happy Salma membawakan cerita Pemetik Air Mata dengan intonasi tenang di awal dan terkadang meledak-ledak. Happy Salma merupakan seorang artis yang memiliki pertanggungjawaban terhadap dunia budaya yang sangat tinggi.Happy Salma bahkan sering mengisi panggung teater dan sering tampil dalam lakon Ronggeng Dukuh Parukkarya Ahmad Tohari.

Dalam fragmen Peri Pemetik Airmata,Happy Salma tidak tampil sendirian. Di tengah cerita, Budi Ross (Teater Koma) terlibat dalam sebuah rangkaian cerita memainkan wayang Tavip. ”Air mata...Air mata,” kata Budi Ross sambil memainkan wayang Tavip. Kolaborasi antara Happy Salma dan Budi Ross dengan wayang Tavipnya tak hanya di situ. Saat Happy Salam masuk bagian cerita perselingkuhan,Budi Ross dengan wayang Tavipnya kembali mengilustrasikan cerita yang Happy Salma bacakan.

”Setiap malam,Sandra memang selalu pura-pura bisa tertidur lelap, terutama bila ada laki-laki, entah siapa, datang ke rumahnya.Sandra tak pernah lupa ketika suatu malam, mamanya pelan-pelan memindahkannya ke kolong ranjang dan mengira ia sudah tertidur., padahal ia bisa mendengar suara mamanya dan laki-laki itu di atas ranjang,” ujar Happy Salma lirih.

Saat itulah wayang Tavip mengilustrasikan sebuah adegan persetubuhan yang memancing tawa penonton Selain Happy Salma,Butet juga ikut ambil bagian dalam Panggung Kisah Fantasi ini. Butet membawakan 27 cerita pendek dari fragmen cerita Perihal Orang Miskin yang bahagia. Dalam buku Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia,Agus Noor memang kerap meracik cerita sepotong- sepotong.Agus Noor tidak bertele-tele dalam menuliskan cerita.

Noor nampaknya tak ingin terjebak dalam jalinan cerita yang rumit.”Ibarat sebuah adegan kamasutra, Agus Noor seperti memiliki banyak tenaga, banyak kekuatan tapi durasi hanya sebentar. Seperti cerita yang ia tulis,”kata Butet Dalam cerita awal, Butet yang bermonolog membacakan fragmen pertama dari kisah Perihal Orang Miskinyang bahagia. ”Aku sudah resmi jadi orang miskin,” katanya, sambil memperlihatkan kartu tanda miskin, yang baru diperolehnya dari kelurahan.

”Lega rasanya karena setelah bertahun- tahun hidup miskin akhirnya mendapat pengakuan juga,”.Kartu tanda miskin itu masih bersih, licin dan mengkilat karena dilaminating. Dengan perasaan bahagia, ia menyimpan kartu itu di dompetnya yang lecek dan kosong. ”Nanti bila aku ingin berbelanja, aku tinggal menggeseknya,”ujarnya. Butet membawakan fragmen cerita itu dengan gayanya yang khas.

Butet kadang menyelipkan canda yang segar hingga membuat penonton tersenyum. ”Agus Noor piawai dalam mengemas cerita satir orang miskin,”ujar Butet. Sebelum Butet tampil, Budi Ross juga tampil bersama wayang Tavipnya dengan judul cerita Penjahit Kesedihan.Wayang Tavip merupakan seni pertunjukkan baru yang ditemukan oleh dosen STSI Bandung bernama M Tavip.

Tak seperti wayang biasanya,Wayang Tavip menggunakan desain sedemikian rupa hingga bayangan wayang yang terpantul di dalam layar putih menjadi berwarna. Jika pada wayang kulit bayangan wayang tidak berwarna,wayang temuan Tavip ini menjadi lebih indah karena memiliki warna-warni yang cantik.”Wayang ini memiliki prospek sangat bagus,karena tidak memiliki pakem.

Jadi cerita bisa dibuat semaunya dalang,” papar Budi Ross. Dalam Panggung Kisah Fantasi, Budi Ross memainkan wayang Tavip dengan lakon Penjahit Kesedian. Budi Ross mampu memainkan karakter yang ada di dalam buku karya Agus Noor ini dengan ilustrasi wayang yang ia mainkan.

Hasilnya, Budi Ross mampu menyajikan sebuah pertunjukkan yang menghibur dengan cerita-cerita yang memberi banyak pelajaran.Wayang, memang kerap menuturkan kisahkisah yang mencerahkan. Sebelumnya panggung dibuka dengan aksi Rapper dari Kill The DJ.Menyanyikantembang-tembang ber-beat cepat, rapper Kill The DJ dan koreaografi tari kontemporer dari Hartati.

Happy Salma sendiri mengakui bahwa buku Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia karya Agus Noor memiliki kekuatan di kata. Ia menilai Agus Noor piawai dalam mengemas cerita sehari-hari dengan kalimat-kalimat yang indah.”Agus Noor merupakan pengarang muda yang bisa menceritakan kehidupan keseharian dengan sangat lugas, namun juga indah dalam tutur katanya,”ujar Happy Salma. (sofian dwi)

Sumber: Seputar Indonesia, Minggu, 28 Maret 2010

Novel yang Mengungkap Kebohongan

Judul : The White Tiger
Penulis : Aravind Adiga
Penerjemah : Rosemary Kesauly
Penerbit : Sheila, 2010
Tebal : 352 hlm.

THE White Tiger bercerita tentang sinisme Aravind Adiga, penulis novel ini, dalam melihat India. Negara asal para dewa itu tak lebih dari sepotong kegelapan di muka bumi ini. Di dalam kegelapan apa saja dapat menimpa orang-orang miskin, bahkan, kemiskinan membuat nasib mereka tak lebih bagus dari nasib seekor kerbau. Nasib yang tanpa disadari dapat mengubah seorang yang baik, lugu, polos, menjadi pembunuh berdarah dingin.

Kemiskinan seperti menjadi kutukan bagi warga India. Begitu terlahir miskin, seumur hidup orang akan berada dalam kerangkeng kemiskinan itu. Sekuat apa pun upaya mengubah nasib akan sia-sia. Adalah Balram, tokoh dalam novel ini, menceritakan kisah hidupnya kepada Perdana Menteri China, Wen Jiabao, yang akan datang ke India. Dalam sebuah surat panjang lebar, Balram bercerita tentang desa kelahirannya: miskin, pendidikan buruk, korupsi yang mewajar, dusta religi tentang kesakralan Sungai Gangga, dan politisi busuk. Semua disampaikan dengan kemarahan dipendam, dengan sinisme yang berusaha diluapkan, juga dengan ketidakberdayaan menghadapi realitas kehidupan.

Hingga mengenyam pendidikan dasar, Balram tak pernah diberi nama oleh orang tuanya. Kemiskinan membuat ayahnya menghabiskan waktu setiap hari mencari nafkah sebagai penarik rickshaw (becak). Ibunya meninggal diserang penyakit akut, sementara sanak famili, karena kemiskinan, sibuk merancang niat melakukan kelicikan demi kelicikan. Tak seorang pun punya sedikit waktu memikirkan sepotong nama buatnya.

Sebab itu, ia dipanggil Mannu (panggilan anak laki-laki di India). Gurunya memberinya nama Balram, nama seorang Dewa dalam tradisi religi India. Nama Balram sangat melekat padanya. Karena berasal dari kasta rendah (Halwai), kasta pembuat gula-gula, maka Halwai menjadi nama belakangnya. Seorang pengawas sekolah yang melakukan inspeksi mendadak ke sekolahnya, memuji kecerdasan Balram dan menyanjungnya sebagai manusia ajaib yang hanya muncul sekali dalam satu generasi. Alasan itu pula yang dipakai pengawas sekolah itu untuk menyebut Balram sebagai Harimau Putih (White Tiger).

Dalam tradisi religi India, harimau putih makhluk langka yang muncul sekali dalam satu generasi. Setiap datang, ia membawa perubahan besar. Mannu atau Balram akhirnya memang identik harimau putih. Nama itu membawa perubahan besar dalam hidupnya, bahkan semangat yang membungkus nama itu melekat dalam dirinya.

India, kata Balram, belum pernah merdeka. "Hanya orang tolol yang menganggap kami sudah merdeka," kata dia. Ketidakmerdekaan itu dibeberkan begitu sinis dan sarkas dalam bab pertama novel yang ditulis dengan teknik bernarasi. India gelap karena kemiskinan akibat para elite salah mengelola negara, korupsi merajalela, ketimpangdaan sosial sangat tajam, politik tanpa etika, hukum yang tak jelas, dan penindasan yang diwajarkan atas nama stratifikasi sosial.

Tuan tanah merupakan mimpi buruk semua warga. Kekuasaannya yang besar terhadap fasilitas umum dan sosial membuat mereka penguasa paling otoriter dibanding negara. Tuan tanah menyebabkan kemiskinan keluarga Balram tidak kunjung hilang. Vikram Halwai, ayah Balram, diserang TBC akut dan meninggal di rumah sakit lantaran tak ada dokter yang mau menanganinya. Balram harus bekerja menghidupi dirinya, menjadi pelayan di warung teh, kemudian diusir dan tidak diterima bekerja di mana pun karena berasal dari kasta rendah. Suatu hari ia belajar membawa mobil, lalu bekerja sebagai sopir Mr. Ashok, tuan tanah yang baru tiba dari Amerika dan menetap di Kota Banglahore.

Hidupnya berubah. Dia tinggal bersama, menemani ke mana saja, dan harus menerima ketika Mr. Ashok memperlakukan seperti anjing buduk tak berharga. Mr. Ashok memiliki kasta tinggi dan pergaulannya sangat luas. Akhirnya Balram paham banyak hal tentang Mr. Ashok, politik, religi, kemunafikan, keangkuhan, kesombongan, dan pemberontakan.

Perlahan-lahan sisi buruk kehidupan tuan tanah India melekat dalam dirinya. Suatu ketika ia menggorok Mr. Ashok agar dapat menikmati hidup tanpa kehadiran seorang tuan. Keinginan merdeka, bebas menentukan hidup membuat Balram membunuh Mr. Ashok.

Sangat wajar jika novel perdana Aravind Adiga ini memperoleh The Man Book Prize 2008, membuat penulis yang juga wartawan ini sejajar dengan sastrawan ternama asal India, Saman Rusdhi, yang sebelumnya sudah menerima hadiah serupa. Novel ini dijual di Toko Buku Fajar Agung, Bandar Lampung. HESMA ERYANI

Sumber: Lampung Post, Minggu, 28 Maret 2010

Sapardi dan Puisi Sunyi

-- Asarpin

SAPARDI Djoko Damono berulang tahun ke-70 pada 20 Maret tahun ini. Penyair lirik yang banyak menghadirkan tema kesunyian ini pantas diberi apresiasi. Walau kita tahu: Sapardi bukanlah penyair yang menyuarakan semangat kebangsaan. Tak satu pun puisinya mengangkat masalah bangsa yang jadi perhatian orang banyak di negeri ini.

Dalam usianya yang ke-70 tahun pada 20 Maret ini, Sapardi pantas dibicarakan kembali mengingat selama ini ia termasuk penyair yang telah begitu banyak memikirkan �laskar hitam�, atau kata-kata. Dan lapangan pertaruhan Sapardi adalah kata-kata. Dan medianya adalah puisi dan prosa.

Begitu banyak kata yang telah tumpah dan menggores di kertas hingga jadi puisi sunyi dan bunyi, prosa yang hemat, cermat, dan cantik, sebagaimana dalam kumpulan Pengarang Telah Mati, atau esai-esainya tentang kesusastraan modern Indonesia, tentang sosilogi sastra, tentang Rendra, yang jadi rujukan banyak orang.

Tema-tema sajak dan prosanya begitu beragam. Ada tema sosial dan ada juga tema individual, yang hampa maupun yang berisi, yang sunyi maupun yang bunyi. Dua hal ini tak mungkin ditolak karena itu merupakan bagian dari perjalanan kepenyairan Sapardi. Kendati kita tahu, sajak sosialnya hanya secuil saja dari ratusan sajak lirik dengan tema-tema sederhana, remeh, tapi sebagian terasa bening-terbening.

Mungkin lantaran karena itu, puisi-puisi Sapardi kerap ingin "dihabisi" oleh para kritikus. Tak kurang dari penyair Hasan Aspahani pernah berniat untuk menghabisi sajak-sajak penyair ini, tetapi yang terjadi kemudian justru sebaliknya: Aspahani terpukau dan terpesona dan menyebut Sapardi sebagai raksasa dari pohon rindang-tinggi yang sulit dijangkau.

Kalau Sapardi meninggalkan bumi yang fana ini, begitu banyak yang bisa kita kenang tatkala kita membuka buku-buku sastra Indonesia. Di perpustakaan daerah Provinsi Lampung, buku-buku Sapardi berjejer dan lusuh karena begitu sering dibuka. Kita pernah mengenal penyair ini dengan akrab karena buku-buku kumpulan sajaknya yang banyak. Mulai dari Duka-Mu abadi, lalu disusul Akuarium, Mata Pisau, Sihir Hujan, Hujan Bulan Juni, Perahu Kertas, Arloji, Ayat-ayat Api, dan Kolam.

Semua buku puisi itu amat penting untuk tidak disimpan di lemari buku. Dulu, ketika saya masih tinggal di Jakarta, saya harus memburu buku-buku puisi Sapardi yang pernah diterbitkan karena saya mulai jatuh cinta pada sajak-sajak liriknya yang cantik dan cocok bagi dahaga anak-anak muda yang sedang jatuh cinta.

Pernah, kalau tidak salah, saya merasa kesulitan dalam membandingkan capaian sajak Sapardi dalam buku Duka-Mu abadi dan Hujan Bulan Juni, atau antara Sihir Hujan dan Hujan Bulan Juni. Akhirnya saya menyerah. Saya berhenti dengan mengambil kesimpulan bahwa sajak-sajak dalam Hujan Bulan Juni adalah puncak lain dari pencapaian Sapardi. Puncak itu sebenarnya begitu pendek, jadi tidak ada pergeseran yang menjulang. Keduanya beda tapi betapa sulit untuk membedakan. Keduanya sama-sama kuat kendati sama-sama bicara soal yang remeh temeh.

Lagi pula, saya tak mau terjebak pada penilaian sajak melalui perbandingan nilai yang seolah-olah cara ini memang cocok untuk membedah sajak. Sudah cukup banyak orang bersibuk dengan mengait-kaitkan puisi Sapardi dengan puisi generasi sesudahnya. Setelah Goenawan Mohamad, Sapardi adalah penyair yang puisi-puisinya sering dibandingkan dengan puisi-puisi para penyair yang lebih muda. Setiap kali orang membicarakan puisi lirik, akan muncul kata �dipengeruhi Sapardi dan Goenawan�, atau epigonnya Sapardi dan Goenawan. Bahkan ada yang membuat sejumlah penyair muda mutung karena sajak-sajak yang dihasilkannya dinilai oleh kritikus sebagai sajak yang mencuri sajak Sapardi.

Yang paling intens menyelidiki pengaruh sajak-sajak Sapardi terhadap puisi mutakhir adalah Nirwan Dewanto. Begitu sibuk ia membaca puisi generasi muda untuk kemudian diberi cap mengikuti Sapardi, padahal sudah lumrah kalau ada kesamaan pengucapan, gaya dan irama di antara banyak penyair. Lagi pula, para penyair yang disebut mengekor Sapardi itu sendiri, kalau diuji, sangat lemah. Sungguh hebat kalau memang sajak-sajak generasi mutakhir dipengaruhi oleh sajak-sajak Sapardi. Malah saya melihat justru hampir tak ada jejak sajak Sapardi terhadap sajak "Angkatan 2000".

Orang lupa bahwa menulis puisi bukan seperti orang membuat makalah, dan kritik puisi yang bersibuk mencari kesamaan semacam ini mesti ditolak karena kalau yang melulu dipikirkan ada tidaknya persamaan maka akan ketemu persamaan itu.

Saya lebih tertarik mengungkapkan kesan pribadi saat membaca sajak-sajak Sapardi karena kesan itu terbentuk dari pengalaman saya sebagai pembaca yang juga berhak untuk diungkapkan. Tentu saja saya tidak berani mengatakan bahwa sajak-sajak Sapardi gagal. Bahasa yang dipakai Sapardi dalam menulis puisi adalah bahasa hasil penyulingan, dan karena itu tidak lagi terasa kaku karena sebagian besar sajaknya sudah bebas dari kungkungan yang bernama bait.

Mendekati sajak Sapardi tidak mungkin dengan menggunakan penggada besar. Sapardi sangat hirau dengan alam. Rumput, perdu, sulur, gerimis, hujan, embun, mendapat tempat yang dominan dalam buku sajaknya. Kalau pun ada tema yang agak besar, seperti religiusitas, itu sama sekali jauh dari khotbah. Sajak Prologue dalam Duka-Mu abadi pernah saya hapal di luar kepala. Belum lagi sajak Tuan, sajak Aku Ingin dan Belajar Membaca, yang sempat membangkitkan naluri mencuriku, yang kemudian aku kirim kepada orang yang aku cintai. Betapa palsu sebenarnya kata-kataku, dan betapa malu aku jika ia tahu kemudian....

Cukup lama saya tersentuh sajak-sajak dalam dua kumpulan itu, dan tak pernah terbayang sama sekali kalau kemudian Sapardi harus juga menulis sajak sosial. Sebab ia pernah mengkritik dengan keras sajak-sajak sosial yang tak lebih dari �lebah tanpa sengat�.

Maka, saya pun mulai melirik sajak-sajak sepi Sapardi. Yang menggoda dan mempesona adalah sajak-sajak pendek mirip haiku, di mana kata dibikin sehemat mungkin mirip sajak-sajak Medy Loekito. Misalnya, Sapardi menulis: angin memahatkan tiga patah kata/di kelopak sakura/ada yang diam-diam membacanya, atau kita pandang daun bermunculan/kita pandang bunga berguguran/kita diam: berpandangan. Atau gerimis musim semi/tengkorakku retak;/kau pun menetes-netes ke otak.

Sementara buku himpunan puisi Ayat-ayat Api (2000) memuat sejumlah sajak sosial, seperti tentang terbunuhnya Marsinah, tentang mahasiswa yang mati tahun 1996 dan demonstrasi mahasiswa 1998. Ketika tsunami akhir tahun 2004, Sapardi menulis sajak realis dengan judul Hari itu Ahad, 26 Desember 2004, yang pernah dilisankan Niniek L. Karim dan Opic Tamba Ati.

Saya merasa sedih saat menemukan satu-dua larik yang keberatan memanggul beban sosial. Saya tahu penyair ini sangat sunyi, kesepian, penuh kejutan, dan karena itu sajak-sajaknya dengan tema kabut dan waktu penuh warna penghayatan akan pengalaman pribadi. Ya, itulah sajak individual, hal-hal kecil yang remeh, yang tak berguna dan tak bermanfaat, tapi merupakan bagian yang mengangkat nama Sapardi sebagai penyair lirik yang baik.

Memang, bila dibandingkan dengan pergeseran Sutardji, sajak-sajak sosial Sapardi hanya sedikit, dan itu tidak semuanya berterus-terang. Sapardi masih memanfaatkan personifikasi dan metafora, yang sekalipun tidak lagi bening, tetap menggoda imaji kita. Salah satu ciri sajak sosialnya adalah tidak melantangkan suara. Nadanya tetap tenang dan diam, iramanya masih terasa sayu.

Barang kali kita rindu sajak yang begitu intens mencatat percakapan sunyi, tanpa berteriak, dan jauh dari narasi-narasi besar seperti bangsa dan kebangsaan. Sajak-sajak sapardi menjadi unik dan menarik justru karena ia enggan bicara hal-hal besar yang jadi perhatian dan kepedulian sastrawan macam Takdir Alisjahbana, Pram, dan Romo Mangun.

Sampai di sini, Sapardi memang lebih tangguh kalau menulis sajak cinta, rembulan, embun, gerimis, dan hujan, kolam, ketimbang sajak demonstran. Tapi yang terakhir ini sama sahnya dengan yang pertama, dan keduanya tetap layak untuk dicatat dan dapat tempat karena keberhasilan sebuah puisi tidak melulu diukur dari tema yang dipilih, melainkan kukuh tidaknya benang-benang intuitif yang dipintal saat melakukan eksperimen dalam tema, bahasa, gaya, isi maupun bentuk.

* Asarpin, Pembaca sastra

Sumber: Lampung Post, Minggu, 28 Maret 2010

[Buku] Konstitusi Ekonomi Menuju Demokrasi Ekonomi

Judul Buku: Konstitusi Ekonomi
Penulis: : Prof Dr Jimly Asshiddiqie SH
Penerbit: Kompas Media Nusantara
Cetakan: Pertama, 2010
Tebal: xvi dan 440 halaman

SELAMA ini studi tentang konstitusi lebih banyak menghampiri masalah konstitusi politik. Karya Strong (1966) tentang Konstitusi-Konstitusi Politik Modern misalnya. Sementara itu, kajian konstitusi ekonomi relatif jarang disentuh. Studi ini berupaya menjembatani kesenjangan antara demokrasi ekonomi dan demokrasi politik dalam perspektif demokrasi konstitusional. Selain menjadi pelopor, buku ini membuka jalan bagi kajian konstitusi di bidang lain seperti konstitusi lingkungan dan konstitusi sosial.

Realisasi demokrasi politik dan ekonomi telah lama jadi perhatian para founding leader. Bahkan, di antara Soekarno dan Hatta yang -secara pemikiran- dibesarkan dalam tradisi sosialis terdapat perbedaan pemikiran yang cukup tajam.

Di satu pihak, Soekarno berpendapat bahwa demokrasi politik saja tidak cukup tanpa demokrasi ekonomi -kedaulatan ekonomi di tangan rakyat. Soekarno (1963) menyatukan demokrasi politik dan demokrasi ekonomi sekaligus dalam suatu konsep, yaitu demokrasi sosial. Soekarno kurang yakin demokrasi liberal dapat mewujudkan demokrasi ekonomi. Pasalnya, ketimpangan struktur ekonomi warisan kolonialisme dan feodalisme menghambat munculnya tatanan demokrasi. Bagi Soekarno, menciptakan demokrasi ekonomi dan politik sekaligus memerlukan perubahan sosial fundamental, yakni merombak susunan masyarakat melalui jalan revolusi.

Di pihak lain, Hatta percaya demokrasi politik dapat jadi sarana transformasi untuk mewujudkan demokrasi ekonomi. Hatta menjadi pendukung demokrasi liberal. Sebaliknya, Soekarno menjadi pengecam demokrasi liberal. Hatta menentang revolusi, sedangkan Soekarno mendukung program revolusi.

Singkat kata, menurut Wertheim (1976), perubahan sosial di Indonesia baru mengalami tahap revolusi nasional -terusirnya kaum penjajah oleh penduduk pribumi- tapi belum pernah mengenyam suatu revolusi sosial -jebolnya tatanan sosial lama. Tentu saja pilihan ''metode'' evolusi dan revolusi dalam merealisasikan demokrasi politik dan ekonomi di masa lalu hanya dapat dipahami dalam konteks era perang dingin, saat persaingan kepentingan dan ideologi berlangsung sengit. Sekarang, seperti diyakini buku ini, kebanyakan negara demokrasi modern menganut demokrasi konstitusional -demokrasi berdasar konstitusi/hukum tertinggi- cenderung menempuh jalan evolusi ketimbang revolusi.

Ilmuwan politik Robert Dahl (1985) misalnya, menekankan realisasi demokrasi ekonomi tidak bisa dilakukan hanya pada tataran makro, tetapi juga pada tingkat mikro (perusahaan). Dahl mengemukakan gagasan untuk mengembangkan sebuah tatanan ekonomi yang berisi sejumlah ''self governing enterprises'' agar tercipta kecocokan di antara demokrasi dan tatanan ekonominya.

Kajian konstitusi ekonomi jadi penting karena selama ini kebijakan ekonomi nasional dan daerah didominasi pendekatan ekonomi. Konstitusi belum dijadikan rujukan sistem perekonomian nasional. Kalaupun perumusan UU selama Orde Lama dan Orde Baru banyak mengutip pasal 33 dan 34 UUD 1945 sebagai dasar kebijakan ekonomi, substansinya bertolak belakang dengan semangat konstitusi. Singkat kata, perujukan konstitusi dalam UU terkait perekonomian hanya bersifat formalistis (viii).

Kontitusi ekonomi berarti konstitusi memuat kebijakan ekonomi. Kebijakan itu akan memayungi dan memberikan arahan bagi perkembangan kegiatan ekonomi suatu negara. Dengan begitu, konstitusi ekonomi bermaksud menciptakan ekonomi konstitusi -perekonomian yang konstitusional. Konstitusi ekonomi sekurang-kurangnya mengatur, (1) tentang penguasaan dan kepemilikan kekayaan sumber daya alam sebagai warisan kehidupan; (2) tentang konsepsi hak milik perorangan; (3) mengenai peranan negara dan perusahaan negara dalam kegiatan usaha.

Sebelum amandemen UUD 1945 dilakukan, sebuah UU tidak dapat diuji. Pasalnya, mekanisme menguji konstitusionalitas undang-undang (UU) belum tersedia. Akibatnya, sebuah UU tidak dapat diganggu gugat kecuali DPR sendiri merevisi UU tersebut (legislative review). Penulis mencatat, selama 60 tahun belum pernah ada kebijakan ekonomi dipaksa tunduk kepada UUD 1945. Dengan kehadiran Mahkamah Konstitusi (MK), konstitusionalitas UU yang terkait dengan kebijakan ekonomi dapat diuji. Sekarang para perumus kebijakan di bidang ekonomi harus memerhatikan rambu-rambu konstitusi ekonomi (hlm. 56).

Penulis yang mantan ketua MK bersikap realistis dan melihat bahwa tiada sistem ekonomi yang sempurna. Sosialisme ataupun kapitalisme-liberalisme memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Runtuhnya negara-negara komunis menjadi bukti kelemahan sosialisme. Begitu pula krisis ekonomi yang melanda negara-negara liberal-kapitalis menunjukkan sistem tersebut belum sempurna. Sekarang tidak ada suatu negara menganut sosialisme atau liberalisme-kapitalisme murni. Mengutip pendapat Peter Berger, sistem ekonomi suatu negara cenderung lebih kapitalis atau lebih sosialis ketimbang yang lain. Misalnya, Korea Utara lebih sosialis jika dibandingkan dengan Korea Selatan, Swiss lebih kapitalis daripada Swedia, dan sebagainya.

Perekonomian di berbagai negara saat ini cenderung berpola campuran (mix economy). Salah satu ciri model perekonomian campuran adalah struktur kepemilikannya beragam: perorangan, koperasi, negara, dan sosial. Menurut Dahl, struktur kepemilikan beragam membuat dikotomi sosialisme dan kapitalisme menjadi kurang relevan lagi. Dalam pengamatan penulis, model ekonomi Inggris, Prancis, dan beberapa negara Eropa Barat lainnya menerapkan kapitalisme pasar terencana (planned market capitalism). Sementara Jerman, Belanda, Belgia, dan sejumlah negara Skandinavia menerapkan kaptalisme pasar sosial (social market capitalism) (hlm. 356). Penulis sendiri memberi istilah ekonomi pasar konstitusional (constitutional market economy).

Menurut buku ini, kata kunci untuk mewujudkan demokrasi ekonomi adalah membangun kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum yang dimulai dari peradilan. Secara normatif, jika substansi UU dan peraturan di bawahnya tegak lurus dengan semangat konstitusi disertai proses penegakan hukum yang menjamin independensi, ketidakberpihakan, profesionalitas, dan integritas dari para hakim dan aparat penegak hukum, secara perlahan demokrasi ekonomi akan dapat diwujudkan.

Justru di sini titik persoalan sekaligus tantangannya. Masih maraknya kasus korupsi dan terungkapnya kasus-kasus mafia peradilan menunjukkan usaha membangun kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum masih membutuhkan waktu yang lama.

Kehadiran buku ini patut diapresiasi dalam kerangka perubahan sosial yang lebih luas, yaitu memenuhi amanat konstitusi mewujudkan masyarakat adil, makmur, dan sejahtera dalam perspektif demokrasi konstitusional. (*)

Yudistira Adnyana, dosen FISIP Universitas Ngurah Rai di Denpasar

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 28 Maret 2010

[Buku] NU dan Ahlusunah Waljamaah

Judul buku: Ahlussunnah Wal Jama'ah; Telaah Historis dan Kontekstual
Penulis: Marwan Ja'far
Penerbit: LKiS Jogjakarta
Cetakan: Pertama, Maret 2010
Tebal: 251 halaman

BANYAK kelompok muslim di Indonesia, bahkan di dunia, yang menyebut dirinya sebagai gerakan ahlusunah waljamaah. Akibatnya, banyak masyarakat muslim yang bingung mengidentifikasi dan menerjemahkan makna ahlusunah waljamaah tersebut. Meski istilah itu diperkenalkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW, banyak yang menerjemahkan dan melaksanakannya secara berbeda.

Bisa dimaklumi mengapa semua kelompok menyatakan diri sebagai penganut ahlusunah waljamaah. Sebab, Rasulullah mengatakan bahwa pengikut paham ahlusunah waljamaah akan masuk sebagai golongan yang selamat.

Secara bahasa, istilah ahlusunah waljamaah merupakan penggabungan dari kata Arab, yakni ahlun (keluarga, golongan, pengikut), al-sunnah (sesuatu yang diajarkan Rasululah), dan jamaah (komunitas pada masa khulafa'al rasyidin).

Dalam buku ini, penulis merumuskan tiga konsep yang dijadikan pegangan untuk menilai sebuah golongan ahlusunah waljamaah atau bukan. Pertama, golongan yang bisa dikatakan berpaham ahlusunah waljamaah selalu mengikuti sunah Rasul, baik secara normatif maupun dalam perilaku sehari-hari.

Kedua, orang-orang yang mengikuti paham atau ijtihad pada sahabat Nabi Muhammad SAW. Ketiga, istilah ahlusunah waljamaah dipahami sebagai sebuah kesatuan dari ulama yang konsisten menjaga, mengembangkan, dan mengamalkan apa yang dilakukan Nabi Muhammad dan sahabat-sahabatnya.

Buku ini tentu tidak bisa menjustifikasi aliran-aliran dalam Islam mana yang masuk kategori ahlusunah waljamaah atau bukan. Di Indonesia, paham ahlusunah waljamaah juga dikaitkan dengan berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Kultur yang ada di lingkungan ulama dan kiai pesantren merupakan implementasi dari paham ahlusunah waljamaah. Kenyataan itulah yang membuat NU mendefinisikan dirinya sebagai organisasi berhaluan ahlusunah waljamaah (hlm. 12).

NU dalam menjalankan paham ahlusunah waljamaah menganut lima prinsip. Yakni, at-Tawazun (keseimbangan), at-Tasamuh (toleran), at-Tawasuth (moderat), at-Ta'adul (patuh pada hukum), dan amar makruf nahi mungkar. Soal sikap toleran pernah dicontohkan pendiri NU KH Hasyim Asy'ari saat muncul perdebatan tentang perlunya negara Islam atau tidak di Indonesia. Kakek mantan Presiden Abdurrahman Wahid itu mengatakan, selama umat Islam diakui keberadaan dan peribadatannya, negara Islam atau bukan, tidak menjadi soal. Sebab, negara Islam bukan persoalan final dan masih menjadi perdebatan (hlm. 81).

Politik NU

Kini,paham ahlusunah waljamaah sebagai pegangan warga nahdliyin perlu diuji dalam kancah politik praktis. Muncul banyak politikus NU yang setiap saat bersinggungan dengan iming-iming kepentingan duniawi sesaat. Puncak kejayaan perpolitikan NU di Indonesia disimbolkan oleh KH Abdurrahman Wahid yang menjadi presiden ke-4 RI. Sejak itulah bargaining position NU di jagat politik nasonal meningkat. Setiap pemilu maupun pemilihan presiden, warga NU menjadi rebutan parpol dan capres.

Harus diakui, keterlibatan NU dalam kegiatan politik merupakan desakan dan kebutuhan warga. Namun, kebijakannya sering kontraproduktif dengan garis perjuangan NU yang sudah ditentukan dalam keputusan kembali ke khitah 1926. Dengan demikian, prinsip independensi NU harus sama-sama dijaga dengan konsisten.

Sering munculnya kemudaratan ketika warga NU berpolitik melahirkan sebuah pemikiran tentang perlunya membangun karakter warga NU atau yang sering disebut dengan istilah mabadi khairo ummah. Gerakan membentuk umat terbaik itu pada 2008 dirumuskan sebagai suatu umat yang mampu melaksanakan tugas-tugas amar makruf nahi mungkar.

Keberhasilan gerakan mabadi khairo ummah bersandar pada pembangunan SDM di NU. Idealisasi gerakan mabadi khairo ummah bisa dimulai dari lingkungan terkecil, keluarga. Kemudian dikembangkan ke masyarakat, antarorganisasi, dan melebar ke entitas negara bangsa.

NU dan Tradisi Masyarakat

Bab 5 di buku ini menjelaskan bahwa NU sebagai organisasi keagamaan atau jam'iyyah diniyah yang dimotori pesantren sejak awal berdiri menerapkan ahlusunah waljamaah dengan tetap menaruh kepedulian terhadap tradisi masyarakat lokal. Tidak seperti organisasi Islam lain yang mudah mengeluarkan fatwa bidah dan taklid berdalih purifikasi Islam.

Tentu saja banyak kritik dan tantangan dari gerakan modernis terhadap tradisi-tradisi masyarakat yang tetap subur di NU. Inilah yang menarik, ketika tradisi-tradisi di masyarakat banyak dipertentangkan, NU justru menjadi pembela. Bahkan, NU mereproduksi tradisi tersebut selama tradisi itu tidak bertentangan dengan pokok ajaran Islam.

Untuk membentengi keyakinan warga NU agar tidak terkontaminasi paham-paham sesat yang dikampanyekan kalangan modernis, KH Hasyim Asy'ari menulis kitab risalah ahlusunah waljamaah yang secara khusus menjelaskan soal bidah dan sunah. Sikap lentur NU sebagai titik pertemuan pemahaman akidah, fikih, dan tasawuf versi ahlusunah waljamaah telah berhasil memproduksi pemikiran keagamaan yang fleksibel, mapan, dan mudah diamalkan pengikutnya (hlm. 191).

Karena itu, NU bisa menjadi fondasi bagi Islam khas Indonesia. Terbukti, warga nahdliyin sulit dirasuki atau diajak terlibat dalam aksi-aksi terorisme. Tradisi yang terjaga di NU membuat aliran radikalisme tidak bisa berkembang di kalangan nahdliyin.

Komitmen membela keragaman tradisi itulah yang menjadikan NU semakin eksis menyapa warganya. NU juga selalu kreatif mendialogkan tradisionalisme dan modernisme. Pada tingkatan itu, NU telah menanamkan paham ahlusunah waljamaah yang sekaligus sebagai pelopor perilaku modern dan toleran dalam kehidupan beragama.

Semoga pimpinan NU yang baru saja terpilih dalam muktamar ke-32 di Makassar tetap mampu mempertahankan eksistensi NU sebagai organisasi yang menganut paham ahlusunah waljamaah. (*)

Tomy C. Gutomo, wartawan Jawa Pos ( tom@jawapos.co.id )

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 28 Maret 2010

Saturday, March 27, 2010

[Teroka] Ruang Sosial SMS Lucu

-- Tulus Sudarto*

SAAT ini ketika terjadi peristiwa, informasi menyebar dengan sangat cepat dan luas. Bukan hanya melalui televisi, tetapi juga melalui perangkat telepon seluler dengan fasilitas layanan pesan singkat atau SMS.

Seperti terjadi saat bencana gempa Tasikmalaya, tahun lalu. Berita itu kali ini agak nyeleneh karena berbunyi: ”BREAKING NEWS! Baru saja Malaysia mengklaim bahwa gempa tadi adalah milik mereka!”

Tentu ini guyonan, yang saat itu berkait dengan isu klaim Malaysia pada produk atau hal apa pun yang berasal dari negeri ini. Manusia Indonesia memang tangguh, tak pernah kehilangan kepekaan humornya, bahkan di kala musibah menimpa.

Kepekaan humor, bukan saja muncul dari hati yang lunak, cair, pikiran rileks, melainkan juga kecerdasan yang kreatif. Fasilitas SMS tampaknya cukup ampuh menjadi medium ekspresional kecerdasan semacam ini.

Teknologi komunikasi seluler belakangan berkembang pesat. Kian murah kian cepat. Kultur niraksara masyarakat Indonesia menjadi ladang paling subur untuk berkembangnya budaya oral yang lebih diakomodasi oleh telepon seluler dan televisi.

Begitu pesatnya pemasyarakatan telepon seluler membuat perangkat itu tak memiliki klaim atas gaya hidup tertentu. Seperti dituturkan Bourdieu (1988), ia tidak lagi eksklusif milik kelas sosial tertentu. Bahkan, tukang becak di depan gereja Lampersari, Semarang, pun memasang handsfree-nya saat menggenjot becak. Pada saat bersamaan, handsfree dipasang penumpangnya yang mentereng.

Bisa jadi, karena kelumrahan akses dan kepemilikan peranti ini, masyarakat jadi lebih rileks dalam berkomunikasi canggih. Kemampuan lebih cepat diraih generasi lebih muda. Begitu rileksnya, mereka memandang hidup hingga tragedi dapat berubah jadi komedi dalam sekejap. Tanpa perlu katarsis atau kontemplasi tingkat tinggi.

Posisi abu-abu

Kondisi kultural apa yang mampu menciptakan rileksasi sikap dan apresiasi hidup macam di atas, mungkin perlu dijelaskan lewat riset yang kuat.

Yang pasti, pendekatan normatif tidak relevan digunakan di sana. Kultur Jawa memberikan pengaruh signifikan dalam menyuplai suatu pendekatan metodis terhadap cara kita memandang kegetiran hidup. Ungkapan sing sabar lan sareh menjadi semacam filosofi dasar yang menciptakan resistensi masyarakat terhadap kekerasan. Tak ada yang mutlak, bahkan dalam musibah. Pemosisian abu-abu semacam ini boleh jadi efektif untuk mengeliminasi stres. Memperkuat daya batin.

Mengikuti pandangan Paul Ricoeur, kita tahu bila setiap kata memiliki konteksnya masing-masing (la chose du texte). Tidak ada kata di luar konteks.

Demikianlah SMS tersebut tidak datang tanpa konteks. Bisa jadi karena kejengahan masyarakat terhadap kekerasan, layaknya alasan skenario bergaya Marcus de Sade dalam film The Final Destination (2009) yang mengekspos kekerasan sampai puncak-vulgarnya justru untuk membentuk kemuakan tertentu terhadap kekerasan. Banalitas kekerasan mengubu sebagai bentuk banyolan di sisi lain.

Kemungkinan lain, terbentuknya ruang longgar untuk mengapresiasi suatu peristiwa secara lebih merdeka. Memang ada bentukan sejarah dalam masyarakat Indonesia untuk tidak terlalu normatif dalam mengapresiasi segala sesuatu, khususnya peristiwa negatif.

Jika masyarakat Barat sudah dibuat stres oleh berbagai anomali, justru ketidaknormatifan tersebut menjadi sesuatu yang unik dan dinikmati masyarakat Indonesia. Lihat saja acara sesakral Take Him Out di stasiun televisi tertentu tidak menunggu lama untuk diapresiasi secara kelakar oleh stasiun televisi lain dengan Tek Tek Out.

Kita memang nyaris selalu luput dari semua teori sosial. Apakah budaya kita terlalu unik ataukah memang DNA kultural kita berjalan tanpa konsep? Wallahualam....

* Tulus Sudarto, Rohaniwan, Tinggal di Seminari Tinggi St Paulus, Yogyakarta

Sumber: Kompas, Sabtu, 27 Maret 2010

Fanatisme Novel

-- Bandung Mawardi

NOVEL kerap membuat pembaca sanggup membuat ramalan atas jalan cerita dan kemungkinan karakterisasi tokoh untuk dikenali dengan sekian referensi dan pengalaman atas diri manusia. Kebiasaan membaca novel memberi stimulus mengenali manusia dalam taburan tema. Novel dalam sejarah peradaban manusia seperti medium menginsafi diri dalam pilihan menerima dan menolak sesuai dengan patokan realitas atau imajinasi. Novel telah membuat hidup manusia jadi ganjil dan genap mengacu pada kodrat menjadikan diri sebagai makhluk literasi.

Fanatisme terhadap novel menjadi kisah pembaca dalam ketegangan keimanan dan pengikhlasan diri atas nama pelbagai pamrih. Orang membaca novel mungkin dengan pengharapan belajar menjadi manusia, mencecap pengetahuan, memuaskan hasrat imajinasi, kerja menikmati waktu senggang, pencapaian martabat intelektual, tindakan menghibur diri, dan lain-lain. Fanatisme dalam pengertian positif menandakan diri pembaca memiliki ikatan intim atau sejenis iman untuk menggauli novel dengan produktif dan konstruktif. Fanatisme pun bisa menjelma keterlenaan pembaca untuk sekadar mengeksploitasi diri dengan novel sebagai pemuas atau bisa mencapaipada titik akut: menghibur diri sampai mati dengan membaca novel.

Produksi novel-novel populer lawas di Indonesia bisa menjadi parameter atas fanatisme novel. Publik pembaca memiliki perbedaan selera atas novel dengan pelbagai konsekuensi harga diri ketika pembaca melakukan pergaulan literasi dengan orang lain atau komunitas. Kelimpahan novel populer dalam hitungan angka penjualan dan pengaruh untuk pembaca kentara memberi bukti atas segmentasi atau arahan pilihan fanatisme terhadap novel. Pembaca memiliki hak memilih sikap fanatik dengan novel-novel Marga T, Mira W, La Rose, Titi Said, Maria A. Sardjono, Edy D. Iskandar, Ashadi Siregar, Abdullah Harahap, Motinggo Busye, Fredy S, S. Mara GD, V. Lesatari, dan lain-lain.

Pembaca fanatis memiliki dalil untuk membenarkan antusiasme membaca dan menikmati pola cerita dari pengarang. Fanatisme terbentuk karena pembiasaan dan intimitas atas hal-hal dalam novel atau pemujaan pengarang mirip dengan sihir selebritas.

Pembaca dalam fanatisme mungkin mendapati kepuasan dalam urusan cara pikir borjuis, labelitas kelas kota, afirmasi sentimentalitas, cinta romantis, imajinasi seksual, hasrat misteri, hasrat horor, atau hasrat detektif. Pergaulan intim dengan novel tentu bakal memberi pengaruh pada pembaca dalam mengonstruksi diri. Novel menjelma sejenis kitab suci dalam pengesahan diri atas sekian kepentingan.

Fanatisme kadang menimbulkan sakit dan keganjilan ketika pembaca masih merasa belum sempurna dengan pelbagai alasan. Pembaca bakal menuruti keinginan dengan koleksi novel lengkap, membaca dengan kategorial atau kronologis, menata atau menyimpan novel dengan perlakuan manja, menghafal detail-detail peristiwa dan nama tokoh, atau mencatatkan kalimat-kalimat hikmah. Perilaku pembaca ganjil kadang tidak masuk akal atau melampaui kelumrahan. Fanatisme pun bisa menimbulkan sakit ketika pembaca tidak memiliki kesanggupan kritis untuk kecewa atau dikhianati oleh ulah pengarang dan pasang surut mutu novel.

Kisah fanatisme dalam ranah novel-novel berat mengandung curiga dan tanya kritis. Pembaca kerap melakukan identifikasi diri atau malah menciptakan kisah untuk sampai pada persesuaian novel. Fanatisme produktif tentu membuat pembaca memiliki pemicu belajar atau melunaskan haus pengetahuan dengan tanggapan kritis dan reflektif. Sejarah sastra di negeri ini mungkin belum memiliki halaman bagi para pembaca fanatis terhadap novel-novel Mochtar Lubis, Iwan Simatupang, Y.B. Mangunwijaya, Pramoedya Ananta Toer, Budi Darma, Ramadhan K.H., dan lain-lain. Fanatisme pembaca novel-novel Indonesia dalam hal-hal tertentu ikut menentukan nasib novel dalam persemaian sastra dan proyek peradaban.

Klaim pembaca atas novel idaman merupakan tindakan mendefiniskan diri dalam relasi dengan novel. Pendefinisian ini bisa menjelma kritik sastra atau refleksi untuk sampai pada kesadaran eksploratif. Pembaca novel-novel Iwan Simatupang mungkin memiliki berahi menekuni dunia filsafat eksistensialisme. Pembaca novel-novel Mochtar Lubis mungkin peka sejarah dan sadar belajar politik. Pembaca novel-novel Y.B. Mangunwijaya mungkin bimbang dan antusias untuk menjadi manusia dengan labelitas keindonesiaan atau humanisme. Pembaca novel-novel Pramoedya Ananta Toer mungkin dilecut untuk antusias belajar sejarah di negeri ini dengan perspektif kritis.

Fanatisme pembaca pada hari ini kadang susah dirumuskan dalam pengertian-pengertian lawas. Publik tentu mafhum dengan pengakuan orang sebagai pembaca setia novel-novel Habiburrahman El Shirazy atau Andrea Hirata. Musim fanatisme terbentuk sekian tahun dengan jumlah pembaca melimpah. Novel telah menemukan jamaah dan dunia literasi dikejutkan dengan pemunculan keimanan atas hikmah-hikmah novel. Orang tanpa sungkan membaca novel dan berani mewartakan diri sebagai pengagum atas sosok pengarang. Ulah ini kadang ikut menentukan harga diri pembaca dalam arus tren dan pemujaan jagat fiksi. Fanatisme novel tumbuh kembali untuk bersaing dengan fanatisme politik, fanatisme televisi, dan fanatisme musik?

Kisah pembaca di negeri pantas dicatatkan dalam lembaran sejarah sebagai bab penting karena menentukan nasib novel dan kebesaran pengarang. Fanatisme bisa dijadikan dalil untuk melakukan pendataan dan model resepsi pembaca atas novel-novel laris atau novel-novel prestisus, legendaris, atau sensasional. Pengakuan pembaca tentu menjadi data produktif dalam pembacaan wacana sastra tanpa harus selalu suntuk dengan peran kritikus sastra dan kalangan akademisi. Pembaca fanatis merupakan subjek menentukan dalam ikhtiar memerkarakan pengaruh atau implikasi novel untuk manusia-manusia Indonesia.

Fanatisme novel memunculkan kesadaran atas pilihan-pilihan mengikatkan diri dengan dunia kata dan makna. Pilihan ini dulu sempat populer ketika jumlah pembaca novel-novel populer melimpah. Catatan tentang diri dan pengakuan pembaca pada masa itu mungkin lupa tak tercatakan. Kisah pembaca fanatis hari ini sebagai sambungan dari masa lalu mungkin pantas lekas diurusi agar peran pembaca mendapatkan halaman dalam gairah wacana sastra. Fanatisme novel telah menjadi fakta besar tapi belum sanggup ditafsirkan atau dianalisis secara komprehensif dengan pelbagai alasan. Begitu.

* Bandung Mawardi, Peneliti Kabut Institut Solo berdomisili di Karanganyar, Jateng

Sumber: Suara Karya, Sabtu, 27 Maret 2010

Individual dan Manifes

-- Beni Setia

TONGGAK individualitas sastra Indonesia dipancangkan oleh Sutardji Calzoum Bachri dengan Kredo Puisi yang fenomenal. Dengan kredo itu, seluruh parameter penciptaan dan apresiasi puisi yang ditulis SCB bertolak dari konsep yang dirumuskan SCB. Dengan kredo itu, SCB tidak sekadar bilang kata adalah realitas itu sendiri dan bukan sekadar media buat mengomunikasi realitas itu, tapi juga menuntut agar ”tidak menilai puisi yang kutulis dengan ukuran yang tak sesuai.”

Di titik ini, individualitas SCB dengan Kredo Puisi-nya telah mencapai tingkat altar bagi alter ego kreatif individu SCB. Level lebih tinggi dari Surat Kepercayaan Gelanggang Chairil Anwar, dkk., yang hanya menyatakan diri mereka sebagai pewaris kebudayaan dunia, karenanya bebas buat melepaskan diri dari tradisi berkesusastraan lokal-nasional--puncak dari ide keberanian untuk mendunia yang dirintis Sutan Takdir Alisjahbana dengan gerakan kebudayaan Pujangga Baru itu. Situasi cogito ergo sum di konteks estetika dan ekspresi puisi serta sastra di latar belakang.

Sekaligus kredo individualistik mengukuhkan alter ego kreatif individualistik itu berbeda dengan gerakan Goenawan Mohammad, dkk., cq Manifes Kebudayaan. Yang meskipun bertekad akan mengukuhkan eksistensi sastra yang lepas dari dominasi dan pesan ideologi, tetapi lebih merupakan kesepakatan untuk melawan dominasi politik. Seluruh ide tersirat seni untuk seni yang mereka nyatakan tidak mengusung semacam altar bagi kebebasan ego kreatif, sekadar katup dengan selentik harap di keterjepitan ketika ideologi tak hanya berkehendak mendominasi wacana sosial-politik tapi juga potensi budaya.

Selentik asa saat seseorang diinjak kakinya dan si penginjak tak bisa diingatkan dengan teriak sakit dan protes--sebuah wacana peringatan santun khas Solo. Sebuah manifes yang mendekati kepasrahan di level Gusti Allah ora sare--Tuhan tidak pernah tidur, atau Tuhan sedang menangguhkan satu kebenaran hakiki. Meski begitu, seluruh manifestasi tadi sokong-menyokong dukung-mendukung, bahkan itu jadi fondasi bagi kredo SCB dan akhirnya kehadiran estetika khas puisi Afrizal Malna.

Kata dipreteli SCB jadi huruf yang merupakan tanda dalam komposisi rupa yang menyarankan realitas imajiner sugestif, serta bunyi yang merupakan aspek pendukung suasana hingga tersarankan kehadiran tersirat sesuatu yang misterius. Atau Afrizal Malna yang menghadirkan realitas benda dan fakta keseharian sebagai benda dan fakta keseharian yang berlimpah dan terus memberondong dalam keberserentakan, sehingga semua hanya setengah disadari tanpa sempat dimaknai. Jadi fakta khazanah bawah sadar yang menteror lantaran tak ada ditempatkan secara rasional proporsional. Situasi senewen ambang bawah sadar yang bisa meledak jadi guncangan kebudayaan dan guncangan masa depan--seperti kata Alvin Toffler.

Dan, setelah menghasilkan banyak si penelad yang bermain di puisi mantra, yang total bermain bunyi, atau menata sugesti rupa di satu sisi, dan puisi berkeriuhan aneka benda tanpa ada trauma diberondongi oleh benda-benda dan fakta-fakta keseharian di bawah sadar di sisi lain, tercetus tanya: ego kreatif individualistik apa lagi yang akan muncul di khazanah sastra Indonesia? Saya pikir pertanyaan itu keliru, sebab dengan mengutamakan ego kreatif individualistik yang akan memerankan estafet pencapaian sastra baru, asumsi pertanyaan itu malah memutlakan satu corak ego kreatif.

Hegemonik. Dan bahaya dari kultus ego kreatif yang individualistik adalah bias yang bermula dari kekaguman pada satu terobosan estetika dan ekspresi seni. Pesona yang menafikan keberadaan dan fenomena teks (hasil) ego kreatif individualistik lain. Sesuatu yang masa kini terasakan dan dilawan--misalnya, genre estetika dan ekspresi seni Boemipoetra, meski cuma di tahap verbal tak resap ke manifestasi karya. Padahal hakikat individualisme itu perayaan kemajemukan, pengakuan akan beragamnya ego kreatif dan bukan berkukuh pada satu ego kreatif individualistik.

Ekses preferensi dari redaktur yang sepakat dan sesuai selera sehingga satu trend jadi menonjol dominan dengan membuat banyak trend lain tereliminasi--cuma dengan mengatasnamakan kultus ekperimen orsinil. Kini kesehatan sastra Indonesia sedang dipertaruhkan karena dibelokkan bias, oleh ode kultus ego kreatif individualistik yang disetumpukan di satu model esatetika dan ekspresi seni, sehingga banyak penjelajahan estetika dan ekspresi seni lain diabaikan, bukti ego kreatif individu dimainkan di jalur berbeda diabaikan.

Dan, orang-orang menandai semua itu sebagai keseragaman hasil penyeragaman, meski (sebenarnya): individualisme yang mengeras jadi hegemoni otoritarian karena kehilangan kesantunan dan toleransi pluralitasnya. Dan karenanya kita butuh manifes kebudayaan baru. n

* Beni Setia, Pengarang

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 27 Maret 2010

NU, Gus Dur, dan Katalog Peradaban

-- Muhammadun A.S.

Di sela-sela perhelatan Muktamar Nahdlatul Ulama'(NU) yang ke-32 saat ini, terasa sekali ketiadaan sosok karismatik yang selama menjadi rujukan gerakan dan pemikiran di tubuh NU. Dialah K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Selama ini, Gus Dur selalu menjadi kunci gerakan dalam upaya dinamisasi di tubuh NU. Dialah yang melakukan gerakan modernisasi tanpa melukai tradisi. Dialah yang menyeimbangkan gerakan dan pemikiran antara generasi muda dan generasi sepuh. Di tangan Gus Dur, gerakan pembaruan di tubuh NU membuktikan kesuksesannya. Yang terjadi sekarang justru pergerakan dalam arena politik. Menjelang pemilihan rais aam dan ketua umum, wacana politik praktis bahkan money politics terasa menyengat dan membuat mendung dalam arena Muktamar.

Dalam suasana demikian, kehadiran Gus Dur sungguh amat dibutuhkan. Walaupun Gus Dur sudah tidak lagi datang, sosok Gus Dur mestinya bisa menjadi rujukan dan referensi kaum nahdliyin dalam membawa NU ke depan. Mari kita lihat sepak terjang Gus Dur sebagai teladan kaum muktamirin. Kala Gus Dur belum memimpin NU tahun 1984, warga nahdliyin masih dibabtis publik sebagai kelompok tradisional dengan berbagai stereotip negatif; kelompok ekslusif, tidak beranjak dari kitab-kitab mu'tabaroh, mengagungkan tradisi, mendaur ulang pemikiran lama, serta basis komunitasnya pesantren dan komunitas ndeso. Stereotip-stereotip tersebut akhirnya pudar ketika Abdurrahman Wahid (Gus Dur) naik tangga ketua umum PBNU dalam muktamar di Situbondo tahun 1984.

Sosok Gus Dur yang darah biru dan kritis mengubah seratus delapan puluh derajat pola pemikiran dan pola gerakan NU. Gagasannya yang cerdas nan bernas serta gerakan politiknya yang zig-zag membuat dirinya menjadi figur utama lahirnya perubahan di tubuh NU. Kaum NU yang tadinya dianggap ndeso dan jauh dari sinar peradaban, ternyata bangkit menjadi komunitas besar yang menjadikan tradisi sebagai basis gerakan kulturalnya. Dengan berpegang tradisi, komunitas NU justru semakin eksesif, unik, dan menohok berbagai gerakan modern. NU bangkit di tengah gerakan modern kehilangan basis tradisinya.

Sosok Gus Dur yang telah membangkitkan tradisi inilah kemudian yang melahirkan beragam pemikiran di lingkungan NU, khususnya kaum mudanya. Darah segar pemikiran yang mengalir dalam diri Gus Dur kemudian menjalar bagi kaum muda di bawahnya. Gagasan-gagasan segar kaum muda, walaupun sering mendapatkan petisi keras kaum tua, tetap saja berlangsung eskalatif menembus batas-batas pemikiran yang belum terjamah. Di bawah "perlindungan Gus Dur", kaum muda terus menggali tradisinya--sambil mengkritiknya--untuk menjawab berbagai persoalan kontemporer. Mereka melakukan dekonstruksi tradisi.

Menurut Ali Riyadi (2006) setidaknya ada tiga problem krusial yang menyebabkan kaum muda melakukan perubahan. Pertama, kejumudan berpikir. Masyarakat NU selama ini hanya melakukan al-muhafadhotu ala al-qodimi al-sholih, melestarikan tradisi yang relevan.

Kedua, kiprah NU dalam politik formal. Dalam berbagai kesempatan, NU selalu mengumandangkan politiknya sebagai politik kebangsaan. Politik yang memberikan kemaslahatan bagi seluruh warga bangsa. Bukan politik yang perorangan dan kelompok. Inilah manifesto kembalinya khitah NU 1926 di Situbondo tahun 1984. Tetapi realitas berbicara lain. Manifesto khitah ternyata banyak dibobol.

Ketiga, pengelolaan organisasi. NU belum mampu mengelola dirinya sebagai jamiyyah (organisasi). Seperti dalam pesantren, NU lebih mengandalkan karisma kiai tertentu. Program-program struktural dan kultural tidak jalan. NU secara struktural seolah gagap.

Di tengah problem tersebut kaum muda NU gelisah. Kaum muda di sini adalah mereka yang telah merasakan kuliah diberbagai perguruan tinggi, khususnya Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Dengan mendapat bekal akademis, bekal manajerial dan teori kritik sosial, kaum muda melanjutkan kegelisahan Gus Dur dalam menata kembali tradisi yang berserakan.

Mereka mulai berkumpul, berdiskusi, dan merancang agenda-agenda pemberdayaan tradisi. Lahirlah Lakpesdam NU, P3M, Jaringan Islam Liberal (JIL) di Jakarta; LKiS dan LKPSM di Yogyakarta; dan Lembaga Kajian Sosial dan Agama (eLSA) di Surabaya; serta berbagai lingkar studi ke-Nu-an di berbagai tempat di Jawa.

Banjir pemikiran yang melanda republik NU menghentakkan banyak kalangan. Kaget sekaligus bangga. Kaum muda semenjak akhir 1980-an mempelopori gerakan pembaruan pemikiran keislaman. Mereka bangga menyebut namanya Post Tradisonalisme Islam. Kekayaan tradisi pemikiran yang ada ditubuh NU dijadikan sebagai landasan gerakan kritik sosial dan kritik pergerakan. Lambat laun mereka mengatasnamakan dirinya sebagai pelopor kaum liberal yang dimotori Ulil Abshar Abdalla dengan JIL-nya.

Walaupun sering kiai sepuh melancarkan kritik pedas, bahkan ada yang sampai dikafirkan, tetapi masih banyak kiai sepuh yang memberikan angin segar pemikiran kritis dan progresif di tubuh NU. Peran Gus Dur, Kiai Sahal, Said Aqil, dan para kiai progresif akan terus membuka pintu perubahan. Cuma, kaum muda NU ke depan harus melakukan terobosan-terobosan baru yang lebih menggigit akan spirit pembaruan tidak mengekor dengan gerakan Gus Dur, Kiai Sahal, Masdar, dan Ulil. NU memiliki khazanah tradisi yang melimpah, berarti masih banyak peluang yang dapat dimasuki kaum muda dalam meneguhkan kekuatan tradisinya.

Kini gus Dur telah tiada. Beliau merupakan katalog utama bagi kebangkitan peradaban NU. Warga NU harus berjuang kembali menegakkan peradaban yang telah ditinggalkan Gus Dur. Perjuangan Gus Dur belumlah usai. Saatnya kaum muda berinisiatif untuk melanjutkannya. n

* Muhammadun A.S., Peneliti Center for Pesantren and Democracy Studies (Cepdes) Jakarta

Sumber: Lampung Post, Sabtu, 27 Maret 2010

Thursday, March 25, 2010

[Sosok] Semangat Menulis Rosihan Anwar

-- Elok Dyah Messwati

SEBAGAI wartawan, tulisan-tulisan Rosihan Anwar tersebar di berbagai media. Usia 87 tahun tidak mampu menyurutkan semangatnya untuk menulis. Dia tetap aktif berkegiatan, meliput, menulis buku, menghadiri berbagai diskusi dan bedah buku, serta mendatangi banyak undangan.

Rosihan Anwar (KOMPAS/ELOK DYAH MESSWATI)

Namun, usia pula yang membuat fisik Rosihan tak lagi sekuat dulu. Belakangan ini dia mulai sakit-sakitan. Terkadang tekanan darahnya naik dan ini membuat dia merasa kliyengan. Pada lain waktu, dia merasa napasnya sesak. Tetapi, meski mulai kerap merasa sakit, hal itu tak menghambat produktivitasnya.

Akhir tahun lalu, dia pergi ke Eropa. Rosihan meliput sampai ke Belanda. Kegiatan ini membakar semangatnya. Ia pergi ditemani putrinya, dr Naila Karima Anwar, menantunya dr Robby, serta sejarawan Rusdi Husein yang juga dokter.

”Desember 2009, saya diundang Radio Netherland Wereldomroep. Selama 10 hari saya di Belanda. Sebelum berangkat saya check up. Dokter paru-paru mengizinkan saya pergi, tapi dokter jantung melarang karena tekanan darah saya tinggi. Seminggu kemudian saya check up lagi, tekanan darah saya normal, maka berangkatlah....”

Di Belanda, ia mengenang kembali masa liputan 60 tahun lalu ketika Konferensi Meja Bundar (KMB) berlangsung 23 Agustus-2 November 1949. KMB itu membahas penyerahan kedaulatan dari Kerajaan Belanda kepada Negara Federal Republik Indonesia Serikat, 27 Desember 1949. Rosihan pun menyempatkan diri ke Paris untuk bernostalgia.

Sepulang dari Belanda dan Perancis, banyak tulisan ia hasilkan. ”Saya harus tetap mencari uang. Meski memang anak dan cucu saya memberi uang kepada Ibu Rosihan, tetapi saya tetap harus bertanggung jawab. Ini agar dapur ngebul,” ujarnya.

Ia menulis untuk harian Kompas sebanyak 16 halaman kertas kuarto tik dua spasi. Ia menulis artikel itu selama dua hari.

”(Hasil liputan itu) di Suara Pembaruan dimuat empat kali, Pikiran Rakyat dimuat tujuh kali, dan Rakyat Merdeka dimuat 10 kali. Untuk artikel di satu surat kabar itu, saya menulisnya masing-masing dua hari. Semua saya tik dengan mesin tik karena saya ini gaptek (gagap teknologi) ha-ha-ha,” ujar Rosihan.

Rencananya, semua tulisan hasil liputan Rosihan selama di Eropa itu akan dibukukan Penerbit Kompas. Buku itu akan diluncurkan pada ulang tahunnya yang ke-88 tanggal 10 Mei 2010.

Ingatan kuat

Selain semangat menulisnya yang tak menyurut, hal istimewa lain dari Rosihan adalah ingatannya yang kuat. Tentang ingatan itu, katanya, ”Saya sebenarnya enggak bisa menghafal nama-nama orang Jawa yang panjang-panjang. Kalau ingatan saya dinilai kuat, itu karena my mind is busy! Setiap hari saya sibuk berpikir, apa yang mau saya tulis hari ini?”

Sekarang ia sedang memikirkan rencana buku ”Sejarah Kecil—Petite Histoire Indonesia” jilid keempat. Ia akan menulis tentang drama keluarga dalam buku tersebut.

Rosihan lalu bercerita tentang keterkaitan mesin tik dengan kelancaran ide menulisnya.

”Kalau mendengar bunyi tik... tik... tik... pikiran saya jalan. Saya punya laptop juga, tapi kalau ngetik enggak keluar bunyinya dan saya harus mengecek di layar komputer, itu mengganggu saya. Ini membuat ide dalam kepala saya buyar. Lalu saya berikan laptop saya untuk cucu,” katanya.

Agar dapat terus beraktivitas, Rosihan menyadari kesehatan memegang peran penting. Karena itu, ia rutin melakukan pemeriksaan kesehatan sekali dalam setahun.

”Dua anak saya (berprofesi) dokter. Mereka yang mendorong saya untuk memeriksa kesehatan secara rutin,” ujarnya.

”Selain menjaga kesehatan, saya terus berpikir bagaimana tetap mendapatkan penghasilan. Apalagi, sekarang saya sering sakit dan perlu uang yang tidak sedikit untuk menjaga kesehatan. Untuk sekali CT-Scan, misalnya, sudah menghabiskan Rp 4,5 juta. Belum lagi Ibu Rosihan (istrinya), setahun ini sakit osteoporosis,” ujarnya.

Tentang menjaga kesehatan, Rosihan berpendapat, pikiran yang tenang berkontribusi pada kondisi fisik seseorang. Karena itulah dia selalu memilih bahan bacaannya. Ia menyukai buku-buku sejarah, membaca koran terutama pada judul beritanya, sedangkan tulisan para pakar ia lewati agar tak membebani pikiran.

”Saya sudah tahu mereka (pakar) menulis apa, mau bercerita tentang apa. Saya lebih suka menonton televisi, siaran luar negeri, seperti BBC, CNN, dan Fox, itu bisa memenuhi rasa ingin tahu saya. Informasi itu membuat saya tak ketinggalan zaman,” katanya.

Rosihan juga rajin berolahraga. Setiap hari, seusai shalat Subuh, dia berjalan kaki di kawasan sekitar rumahnya.

”Saya berjalan kaki sambil berzikir, 45 menit cukuplah. Saya sudah berkeringat. Biarpun hujan, saya tetap jalan kaki dengan memakai payung. Kata dokter, jalan kaki itu bagus untuk metabolisme tubuh dan pengaturan napas,” katanya.

Pola makan pun dia jaga. ”Makan itu jangan berlebih, jangan sampai kekenyangan. Saya banyak makan sayur, buah, dan ikan,” kata Rosihan.

Bersyukur

Produktivitas dan semangat menulis yang ditunjukkan Rosihan mempunyai sejarah panjang. Dia menjadi penulis lepas untuk berbagai media setelah surat kabar yang ia dirikan, Pedoman, diberedel.

Pemberedelan Pedoman yang sampai tiga kali pun tak menghentikan semangatnya menulis. Pedoman pertama kali diberedel Pemerintah Belanda pada 29 November 1948, lalu diberedel Pemerintah Orde Lama (Soekarno) pada 7 Januari 1961, dan terakhir diberedel oleh Pemerintah Orde Baru (Soeharto) tanggal 18 Januari 1974.

”Saya habis... bis! Oplah Pedoman saat diberedel tahun 1961 itu 42.000. Waktu diberedel tahun 1974, oplahnya 45.000,” cerita Rosihan yang menerima penghargaan Bintang Mahaputra III.

Sejak tak ada lagi Pedoman, Rosihan lalu menjadi penulis lepas. Ia tak hanya menulis untuk media dalam negeri, tetapi juga media asing, seperti majalah Asia Week, Hongkong; The Straits Times, Singapura; New Straits Times, Kuala Lumpur; The Hindustan Times, New Delhi; Het Vriye Volk, yang diterbitkan di Belanda; dan The Melbourne Age, Australia.

”Teman-teman memberi saya kesempatan menulis. Tetapi, saat umur mencapai 60, saya tak boleh lagi menulis. Ada aturan di luar negeri, orang berusia 60 dianggap tak bisa menulis. Padahal, saya belum pikun ha-ha- ha,” kata Rosihan, yang pada Hari Pers Nasional di Palembang, Februari lalu, mendapat penghargaan Spirit Jurnalisme dan hadiah uang Rp 25 juta.

Ia menjalani hidup dengan bersyukur. Ia mengingat pesan dalam satu episode Oprah Winfrey Show: paling penting dalam hidup adalah jujur pada diri sendiri, bersyukur setiap hari, mengubah hidup (berjuang), menolong orang lain, dan berpikir positif.



ROSIHAN ANWAR

• Lahir: Kubang Nan Dua, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, 10 Mei 1922

• Istri: Siti Zuraida (86)

• Anak:
- dr Aida Fathya Anwar (60)
- Omar Luthfi Anwar (58)
- dr Naila Karima Anwar (56)
- Cucu 6 orang dan Cicit 2 orang

• Pendidikan:
- Hollandsch Inlandsche School (HIS), Padang, Sumatera Barat, 1935
- Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Padang, 1939
- Algemeene Middlebare School (AMS) Bagian A II, Yogyakarta, 1942

• Pekerjaan antara lain:
- Pemred ”Pedoman”, 1948-1961 dan 1968-1974
- Pengajar dan Penatar Jurnalistik, 1970-an
- Wartawan koran ”Merdeka”, 1945-1946 - Pendiri/pemimpin majalah mingguan ”Siasat”, 1947-1957
- Pemred majalah bulanan ”Citra Film”, 1981-1982

• Penghargaan, antara lain:
- Bintang Mahaputera Utama III, 1973
- Pena Emas PWI Pusat, 1979
- Third ASEAN Awards in Communication, 1993
- Bintang Aljazair, 2005
- Penghargaan Spirit Jurnalisme-HPN, Februari 2010

Sumber: Kompas, Kamis, 25 Maret 2010

HB Jassin, Sastrawan Tak Lekang Dimakan Zaman

JAKARTA, KOMPAS.com- Siapa tak mengenal nama HB Jassin? Dia adalah tokoh penting yang tidak mungkin lepas dari sejarah perkembangan kesusastraan Indonesia. Berbagai macam gelar dan penghargaan diperolehnya. Dedikasinya yang tinggi pada perkembangan sastra Indonesia pun membuat namanya selalu dikenang.

Jassin yang diberi julukan Paus Sastra Indonesia ini dikenal sebagai kritikus sastra yang sangat mumpuni. Pria kelahiran Gorontalo ini mempunyai pengaruh yang besar bagi para penerbit yang hendak menerbitkan naskah pengarang pada tahun 1950-1970an.

Kritik yang diberikan olehnya selalu bersifat membangun, apresiatif, dan edukatif. Keberanian sosok HB Jassin dalam menyuarakan apa yang dianggapnya benar pun tak ada yang bisa menandinginya.

Saat dituduh sebagai anti Soekarno oleh kelompok Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), dia tetap tenang, bahkan memberikan apresiasi terhadap karya Pramudya Ananta Toer yang waktu itu memimpin Lekra.

Dia juga tak segan untuk membela orang-orang yang patut dibela. Seperti kasus cerpen Langit Makin Mendung, dia bersikeras tak mau mengungkap sosok sebenarnya si penulis yang memakai nama Kipandjikusmin.

Setiap pembelaannya pun selalu disertai argumen yang logis. "Beliau adalah sosok yang sangat tekun. Setiap orang yang berada di dekatnya akan merasa nyaman. Karena kepintarannya tidak digunakan untuk mengintimidasi orang." tutur Apsanti Djokosuyatno, Guru Besar Universitas Indonesia sekaligus pembicara dalam acara "Mengenang HB Jassin" yang diadakan oleh Lingkar Budaya Indonesia bertempat di Auditorium Dinas Pendidikan Tinggi (Dikti), Kamis (25/3/2010).

Hal ini juga diamini oleh pembicara lain, Sunu Wasono yang juga menjadi dosen Program Studi Sastra Indonesia di Universitas Indonesia. "Beliau adalah sosok yang tiada duanya. Saya merasa beruntung pernah merasakan diajar olehnya."

Bagi yang tertarik untuk mengetahui tentang dokumentasi karya-karya sastra sejak sebelum Perang Dunia II hingga masa sekarang, dapat langsung berkunjung ke Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin di Taman Ismail Marzuki.

Hasil karya sastra yang dikumpulkan oleh penerima Satya Lencana Kebudayaan dari Pemerintah Indonesia itu terhimpun lengkap di pusat dokumentasi tersebut. Oleh karena itu, tak salah jika A Teeuw, pengamat sastra Indonesia, menjulukinya Wali Penjaga Sastra Indonesia.

Sumber: Oase Kompas.com, Kamis, 25 Maret 2010

Wednesday, March 24, 2010

[Nama & Peristiwa] Danarto: Alat Picu Jantung

BUDAYAWAN dan sastrawan Danarto (70) mengidap penyakit jantung jenis kelainan irama jantung. ”Pingsan itu peristiwa unik dalam hidup saya. Pingsan 12 jam, itu kali pertama saya pingsan sebelumnya tak pernah,” katanya, Senin (22/3), didampingi Direktur Utama Rumah Sakit Abdi Waluyo, Jakarta Pusat, Triatmo Budiyuwono SpJP FIHA, dan dokter yang menangani, Sutrisno Ts SpPd JP.

Setelah diperiksa, jantungnya diketahui lemah. ”Danarto adalah pasien dengan keajaiban. Ia pingsan karena irama jantung kacau. Keajaibannya, pasien tak sadar dan tidak stroke,” kata Sutrisno.

Oleh karena faktor usia dan agar tak pingsan lagi, pada 8 Maret dipasang alat picu jantung permanen seharga Rp 140 juta di tubuh Danarto.

Untuk menutup biaya pengobatan tersebut, sejumlah budayawan dan seniman yang digerakkan Ratna Riantiarno saweran semampu masing-masing.

Setelah dirawat 21 hari, Danarto yang masih terus menulis dan melukis dinyatakan pulih kesehatannya dan diizinkan pulang. Pascaoperasi, dia merasa lebih bugar.

”Dengan alat picu jantung permanen ini, saya merasa segar dan bersemangat. Saya tidak lagi sesak napas dan asma. Kalau sewaktu-waktu ada masalah di jantung saya, alat picu permanen mengatasinya,” kata Danarto sambil menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang membantu hingga dia sehat kembali. (NAL)

Sumber: Kompas, Rabu, 24 Maret 2010

Monday, March 22, 2010

Diplomasi Budaya: Bu Sri dan Pak SBY di Australia

Di sini senang, di sana senang,
di mana-mana hatiku senang.
Di sini senang, di sana senang,
di mana-mana hatiku senang.
La la la la la la la la....


Sambil bernyanyi, tangan Bu Sri terus memberikan aba-aba dan anak didiknya ikut menyanyi lagu ”Di Sini Senang, di Sana Senang” yang dia ajarkan. Dengan penuh semangat, ke-12 siswa kelas VIII Parramatta High School di Parramatta, Australia Barat, bernyanyi. Suaranya tidak begitu bagus, tetapi bidikan nadanya pas.

Bu Sri mengajar lagu Di Sini Senang, di Sana Senang kepada siswa Parramatta High School di Parramatta, Australia Barat, Selasa, 9 Maret 2010. (KOMPAS/TRIAS KUNCAHYONO)

Pelafalan kata-kata dari syair lagu itu kadang kurang pas sehingga terdengar lucu bagi telinga orang Indonesia. Hal itu wajar karena mereka memang bukanlah anak-anak Indonesia. Yang sekolah di tempat itu selain anak-anak asli Australia adalah anak-anak para imigran. Sebutlah seperti dari Pakistan, India, Afganistan, dan Filipina.

Parramatta adalah sebuah kota yang terletak sekitar 23 kilometer sebelah barat Sydney. Dalam percakapan sehari-hari, nama kota itu sering disebut ”Parra” saja. Kata ”parramatta” yang berarti ”mata air” adalah nama sebuah sungai yang mengalir di pinggiran kota itu.

”Ayo Jamal, maju ke depan. Sekarang kita bermain congklak. Ada yang tahu apa itu congklak?” kata Bu Dian Uren, guru di Parramatta yang asli Australia. Ia sangat fasih berbahasa Indonesia. Bu Dian Uren memang guru Bahasa Indonesia di sekolah itu.

Jamal, yang orangtuanya imigran asal Pakistan, segera berdiri dan berjalan ke depan kelas. ”Ibu Sri bisa membantu bagaimana caranya bermain congklak,” kata Bu Diane, dan Bu Sri pun segera ke depan kelas. Ia lalu memeragakan bagaimana bermain congklak kepada Jamal yang berdiri di sampingnya.

”Sudah tahu caranya, Jamal? Coba sekarang giliranmu,” kata Bu Sri disambut tawa lepas Jamal sambil mencoba bermain congklak.

Bu Sri, panggilan Bu Sri Wuryaningsih, guru SMA Negeri 70, Jakarta, bersama rekan satu sekolahnya, Bu Keni, terpilih mengikuti proyek Building Relationship through Intercultural Dialogue and Growing Engagement (Bridge), yakni sebuah kemitraan sekolah Indonesia-Australia. Proyek yang berlangsung selama tiga tahun (2008-2010) ini dikelola bersama oleh The Asia Education Foundation (AEF) dan Australia-Indonesia Institute (AII). Selama kurun waktu itu, proyek akan melibatkan 92 guru Australia dan 92 guru Indonesia yang berasal dari 46 sekolah di Australia dan 44 sekolah di Indonesia.

”Mari kita belajar membaca,” kata Bu Uren. Ia lalu meminta para muridnya membuka buku yang ada di hadapan mereka masing-masing. Buku berjudul Bersama-sama Lagi yang ditulis Sue Clarke, Anna Day, dan Heather Hardie itu adalah buku untuk belajar membaca.

Menjadi ”diplomat”

Bu Sri yang asli Salatiga, Jawa Tengah, mengaku sangat senang mengikuti program ini walau hanya tiga minggu berada di Australia. ”Saya tidak tahu mengapa saya yang dipilih setelah melalui serangkaian proses. Tetapi, apa pun saya senang sekali. Ini pengalaman sangat berharga,” katanya.

Banyak hal yang dirasakan sangat bermanfaat oleh dua ibu guru dari SMA Negeri 70 itu. ”Disiplin anak-anak sangat tinggi. Lima menit sebelum pelajaran dimulai anak-anak sudah siap. Anak-anak juga begitu kritis dan kreatif. Kalau tidak tahu terhadap apa yang kami jelaskan, mereka pasti akan langsung bertanya. Ini yang jarang saya temukan di Indonesia,” paparnya.

”Tadi ketika Bu Uren menjelaskan kata kakek dan nenek, ada yang bertanya, ’Apa itu kakek dan nenek?’ Bu Uren lalu mengucapkan kata grandfather dan grandmother setelah itu mereka baru tahu. Mengapa, ya, di Indonesia kok tidak bisa seperti itu. Kalau tidak tahu, kebanyakan, ya, diam saja. Apalagi, kalau sudah soal disiplin, aduh repot,” tutur Bu Sri.

Selain memperoleh banyak pengetahuan dan pemahaman tentang Australia, Bu Sri juga sangat bangga bahwa murid- muridnya sangat senang belajar Bahasa Indonesia. ”Saya senang belajar Bahasa Indonesia. Selain mudah pengucapannya, juga tidak jauh berbeda dengan bahasa saya dahulu, yakni bahasa Tagalog,” tutur Karlo (17) yang orangtuanya dari Filipina.

”Apalagi, budaya Indonesia tak jauh berbeda dengan budaya kami,” sambung Juhi Shhingani, asal India. ”Kami di India mengenal Baratayuda dan Ramayana, di Indonesia juga ada. Aksen dan pengucapan bahasa Indonesia juga mirip dengan bahasa daerah saya dulu. Saya menikmati,” aku siswi kelas XII ini. ”Ya, saya juga sangat menikmati,” tambah Wahdah, yang orangtuanya dari Afganistan.

”Australia, kan, dekat dengan Indonesia. Kita bertetangga. Jadi, kami harus tahu tentang Indonesia secara lebih mendalam. Lewat belajar bahasa ini, saya berharap bisa tahu banyak tentang Indonesia,” kata Amanda yang asli Australia.

Bu Uren menjelaskan, para muridnya tidak hanya belajar Bahasa Indonesia, tetapi juga mengenal budaya dan mempelajari kebudayaan Indonesia. ”Program ini memang dimaksudkan untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman para guru dan murid di Australia tentang Indonesia. Demikian sebaliknya, lewat program ini, para guru dan murid di Indonesia juga semakin mengetahui dan memahami Australia,” katanya.

Bu Sri dan Bu Keni barangkali tidak menyadari bahwa mereka adalah seorang ”diplomat” Indonesia karena tugas yang mereka emban adalah bagian dari diplomasi. Meminjam istilah public diplomacy-nya Benno H Signitzer dan Timothy Coombs, sekarang ini diplomasi tidak hanya monopoli para diplomat, seperti zaman dulu yang hanya berdasarkan hubungan resmi antara pemerintah dan pemerintah.

Sekarang ini, diplomasi melibatkan baik pemerintah, individual, maupun kelompok-kelompok. Pemerintah berbicara dan mendengarkan secara langsung kepada orang atau rakyat negara lain. Diplomasi seperti ini dilakukan untuk menerobos hambatan-hambatan yang kemungkinan ditemui dalam hubungan antarpemerintah.

Karena itu, kata Signitzer dan Coombs, ”Para aktor dalam diplomasi publik tidak dapat dibatasi lagi hanya dilakukan oleh para diplomat profesional, tetapi juga bisa dilakukan oleh sejumlah orang secara individu, kekelompok, dan institusi yang terlibat dalam aktivitas komunikasi interkultural dan internasional untuk kepentingan hubungan politik antardua negara.”

Bu Sri, Bu Keni, dan guru lain dari Indonesia yang ikut proyek Bridge barangkali tidak memahami semua itu. Namun, mereka melakukan apa yang dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ketika berkunjung ke Australia, beberapa hari lalu. Mereka sama-sama memperkenalkan Indonesia, baik bahasa maupun budaya, dan segala hal tentang Indonesia. Tujuannya, agar orang Australia semakin mengenal Indonesia.

Sebab, ”Kita bukan sekadar tetangga. Kita bukan sekadar kawan. Tetapi, kita adalah mitra strategis,” begitu rumusan Pak SBY ketika pidato di depan anggota Parlemen Australia, beberapa hari lalu.

”Di sini senang, di sana senang,” tutur Bu Sri, seperti lagu yang ia ajarkan kepada para muridnya.

Trias Kuncahyono, dari Sydney, Australia

Sumber: Kompas, Senin, 22 Maret 2010